— Bagian 2 · Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut: —
Bagian 2
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Kita telah mempelajari pembentukan kalimat pasif dari kata fi'il salim. Sekarang kita mempelajari pembentukan kalimat pasif dari fi'il ajwaf.
Madhi : قَالَ (qâla) menjadi قِيلَ (qîla) '(telah) dikatakan' ; بَاعَ (bâ'a) menjadi بِيـــعَ (bî'a) '(telah) dijual' ; زَادَ (zâda) menjadi زِيدَ (zîda) '(telah) ditambah'.
Mudhari: يَقُولُ (yaqûlu) menjadi يُقَالُ (yuqâlu) 'dikatakan' ; يَبِيـــعُ (yabî'u) menjadi يُبَـــاعُ (yubâ'u) 'dijual' ; يَزِيدُ (yazîdu) menjadi يُزَادُ (yuzâdu) 'ditambah'
Berikut beberapa contoh:
| 'Dikatakan bahwa tanah ini telah dijual dengan harga satu juta riyal' | يُقَالُ إِنَّ هَذِهِ الأَرْضَ بِيعَتْ بِمَلْيُونِ دُولَارٍ |
|---|---|
| 'Disini telah dijual koran-koran dan majalah-majalah' | هُنَا بِيعَ الصُّحُفُ وَ الْمَجَلَّةُ |
- Sebelumnya kita telah mempelajari pembentukan اِسْمُ الْفَاعِلِ dari fi'il salim. Sekarang kita mempelajari pembentukannya dari kata kerja selain fi'il salim<sup>20</sup>.
a) Fi'il mudha'af: حَجَّ : حَاجٌّ (hâjj-un) 'haji' untuk حَاجِجٌ (hâjij-un). Kasrah pada huruf kedua dihilangkan untuk asimilasi (dengan huruf berikutnya).
b). Ajwaf wâwî<sup>21</sup>: قَالَ يَقُولُ : قَائِلٌ (qâ'il-un) 'orang yang berkata' untuk قَاوِلٌ (qâwil-un)
Ajwaf yâ'i : زَادَ يَزِيدُ : زَائِدٌ (zâ'idun) 'lebih' untuk زَايِدٌ (zâyid-un)
c) Naqis wâwî: نَجَـــا يَنْجُـــو : نَاجٍ (النَّاجِي) (nâji-n / al-nâjiy) 'yang lolos dari musibah' untuk (nâjiw-un)
Naqis yâ'i : سَاقٍ (السَّاقِي) : يَسْقِي سَقَى (sâqi-n / al-sâqiy) 'pemberi minum'
- Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari pembentukan اسم المفعول dari fi'il salim. Sekarang kita mempelajari pembetukannya dari kata kerja selain fi'il salim.
<sup>20</sup> Untuk fi'il salim dan yang bukan salim silahkan lihat Panduan 2, Pelajaran 26 sampai 29.
<sup>21</sup> Ajwaf wâwî adalah fi'il yang memiliki waw sebagai huruf kedua, contoh: قَالَ يَقُولُ dan ajwaf yâ'i memiliki ya pada huruf kedua, contoh: زَادَ يَزِيدُ . Ini juga berlaku untuk fi'il naqis.
[Logo: RM with Arabic text below]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
a) Fi'il mudha'af: اسم المفعول dari fi'il mudha'af adalah biasa, contoh: مَسْرُورٌ : سَرَّ
'senang' ; مَعْدُودٌ : عَدَّ 'terhitung' ; مَصْبُوبٌ : صَبَّ 'tertuang' ; مَحْلُولٌ : حَلَّ '(solusi)
terpecahkan'.
b) Ajwaf wâwî: مَقُولٌ : قَالَ يَقُولُ <sup>22</sup> (maqûl-ul) '(sesuatu) yang dikatakan' untuk
مَقْوُولٌ (maqwûl-un). Disini, huruf kedua telah dibuang.
Contoh lain: مَلُومٌ : لَامَ يَلُومُ (malûm-un) 'tercela' untuk مَلْوُومٌ (malwûm-un)
Ajwaf yâ'i : مَزِيدٌ : زَادَ يَزِيدُ (mazîd-un) 'lebih' untuk مَزْيُودٌ (mazyûd-un). Disini
huruf kedua dihilangkan, dan waw dari telah berubah menjadi ya..
Contoh lain: مَكِيلٌ : كَالَ – يَكِيلُ 'terukur' (makîl-un) untuk مَكْيُولٌ (makyûl-un).
c) Naqis wâwî: مَدْعُوٌّ : دَعَا يَدْعُو (mad'ûw-un) 'yang diundang/didakwahi'. Ini
(bentuknya) biasa. Dituliskan dengan satu waw yang mengandung shaddah. Jika
dituliskan seperti ini مَدْعُوْوٌ , anda dapat melihat dua waw; yang pertama adalah waw
مفعول dan yang kedua adalah huruf ketiga (dari fi'il).
Contoh lain: مَتْلُوٌّ : تَلَا يَتْلُو (matlûw-un) 'yang dibaca'.
Naqis yâ'i : مَبْنِيٌّ : بَنَى يَبْنِي (mabaîy-un) '(sesuatu) yang telah dibangun'. Disini
waw dari مفعول telah dirubah menjadi ya. Berikut contoh lain: مَشْوِيٌّ : شَوَى يَشْـوِي
(masywîy-un) 'yang dipanggang' untuk مَشْوُوْيٌ (masywûy-un).
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Bentuklah kalimat pasif dari fi'il ajwaf berikut seperti yang ditunjukkan dalam contoh.
- Tunjukkanlah fi'il ajwaf pada kalimat berikut.
- Bentuklah <ins>اسم الفاعل</ins> dari fi'il mudha'af berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
<sup>22</sup> اسم المفعول diperoleh dari bentuk pasif dari fi'il. Itulah sebabnya mengapa di buku utama (Durus lughah –pent.) digunakan bentuk pasif. Namun dalam Panduan ini bentuk aktif diberikan karena lebih mudah untuk dipahami.
_________________________________________________________________ 28
-
Bentuklah اِسْمُ الْفَاعِل dari fi'il ajwaf waw berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اِسْمُ الْفَاعِل dari fi'il ajwaf ya'i berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اِسْمُ الْفَاعِل dari fi'il naqis wâwii berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اِسْمُ الْفَاعِل dari fi'il naqis ya'i berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اِسْمُ الْفَاعِل dari setiap fi'il berikut dan sebutkan bentuk asalnya, dan keterangan lainnya sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اسم المَفْعُول dari fi'il ajwaf wâwi berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اسم المَفْعُول dari fi'il ajwaf ya'i berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اسم المَفْعُول dari fi'il naqis wâwii berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اسم المَفْعُول dari fi'il naqis ya'i berikut sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Bentuklah اسم المَفْعُول dari setiap fi'il berikut dan sebutkan bentuk asalnya, dan keterangan lainnya sebagaimana yang ditunjukan dalam contoh.
-
Tunjukkanlah semua contoh اِسْمُ الْفَاعِل dan اسم المَفْعُول yang terdapat di dalam pelajaran utama, dan sebutkan fi'il dari mana kata tersebut diturunkan, dan juga jenis fi'ilnya.
-
Tunjukkanlah اِسْمُ الْفَاعِل / اسم المَفْعُول dalam setiap kalimat berikut dan sebutkan bentuk asalnya, fi'il asal kata tersebut diturunkan, dan jenis fi'il tersebut.
-
Pelajarilah penggunaan fi'il berikut.
-
Tulislah bentuk mudhari dari setiap fi'il berikut.
-
Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
-
Tulislah bentuk mufrad dari setiap isim berikut.
[Decorative ornamental design with repeating geometric pattern]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Pada bagian ini kita mempelajari pembentukan isim makan (tempat) dan zaman (waktu) اِسْمًا الْمَكَانُ وَ الزَّمَانُ. Keduanya memiliki bentuk yang sama, apakah berbentuk مَفْعَلٌ (maf'al-un) atau مَفْعِلٌ (maf'il-un), contoh: مَلْعَبٌ 'waktu/tempat bermain', مَكْتَبٌ 'waktu/tempat menulis'. مَطْبَخٌ 'waktu/tempat memasak', مَغْرِبٌ 'waktu/tempat terbenam (matahari), شَرِقٌ 'waktu/tempat terbit (matahari)'.
Polanya adalah مَفْعَلٌ (maf'al-un) dalam keadaan berikut:
a) Jika berupa fi'il naqis tanpa melihat vokal pada huruf kedua. Contoh: جَرَى يَجْرِي : مَجْرَى 'aliran'; لَهَا يَلْهُو : مَلْهًى tempat hiburan.
b) Jika huruf kedua dari fi'il yang bukan naqis memiliki fathah atau dhammah dalam bentuk mudhari, contoh: مَلْعَبٌ : لَعِبَ يَلْعَبُ 'tempat bermain'; مَشْرَبٌ : شَرِبَ يَشْرَبُ 'tempat minum'; مَطْبَخٌ : طَبَخَ يَطْبُخُ 'pintu/jalan masuk'; مَدْخَلٌ : دَخَلَ يَدْخُلُ 'dapur'.
Polanya adalah مَفْعِلٌ (maf'il-un) pada keadaan berikut:
a) Jika fi'il berbentuk mitsâl (fi'il yang mempunyai huruf 'illat pada huruf pertama) tanpa melihat (tanda) vokal pada huruf kedua, contoh: مَوْقِفٌ : وَقَفَ يَقِفُ 'tempat parkir mobil'; مَوْضِعٌ : وَضَعَ يَضَعُ 'tempat'.
b) Jika huruf kedua dari fi'il selain mitsâl dan naqis berharakat kasrah dalam bentuk mudhari, contoh: مَجْلِسٌ : جَلَسَ يَجْلِسُ 'ruang duduk (majelis)'; مَنْزِلٌ : نَزَلَ يَنْزِلُ 'tempat turun'.<sup>23</sup>
Ta marbutho (ة) dapat ditambahkan pada kedua pola, contoh: مَنْزِلَةٌ 'posisi', مَدْرَسَةٌ 'sekolah'.
<sup>23</sup> Pengecualian dari kaidah ini adalah مَسْجِدٌ dari يَسْجُدُ, مَشْرِقٌ dari يَشْرُقُ, مَغْرِبٌ dari يَغْرُبُ. Menurut kaidah di atas, semuanya harusnya mengikuti pola maf'al-un.
- Buatlah isim zaman dan isim makan dari kata kerja berikut.
- Tunjukkanlah isim zaman dan isim makan dalam bagian berikut dengan menyebutkan pola dari masing-masing dan fi'il asal diturunkannya kata tersebut.
- Tunjukkanlah isim zaman dan isim makan yang terdapat dalam pelajaran dengan menyebutkan pola masing-masing dan fi'il asal diturunkannya kata tersebut.
[Decorative border pattern]
Pada bagian ini kita mempelajari pembetukan kata benda alat اِسْمُ الآلَةِ. Ini menunjukkan alat untuk pekerjaan yang ditunjukkan pada fi'il, contoh:
فَتَحَ 'Dia membuka' : مِفْتَاحٌ 'alat untuk membuka', yakni kunci.
رَأَى 'Dia melihat' : مِرْآةٌ 'alat untuk melihat', yakni cermin.
وَزَنَ 'Dia menimbang' : مِيزَانٌ<sup>24</sup> 'alat untuk menimbang', yakni timbangan.
Ada tiga pola untuk اِسْمُ الآلَةِ, yaitu:
a) مِفْعَـــالٌ (mif'âl-un), contoh: مِنْشَارٌ 'gergaji' ( نَشَرَ 'dia menggergaji'), مِحْرَاثٌ 'bajak' ( حَرَثَ 'dia membajak')
b) مِفْعَلٌ (mif'al-un), contoh: مِصْعَدٌ 'lift' ( صَعِدَ 'dia naik'), مِثْقَبٌ 'bor' (ثَقَبَ 'dia membor').
c) مِفْعَلَةٌ (mif'alat-un), contoh: مِكْنَسَةٌ 'sapu' ( كَنَسَ 'dia menyapu'), مِقْلَاةٌ 'penggorengan (asalnya مِقْلَيَةٌ dari قَلَى 'dia menggoreng'), مِكْوَاةٌ 'setrika' (asalnya مِكْوَيَةٌ dari كَوَى 'dia meyetrika).<sup>25</sup>
<sup>24</sup> Perhatikan, مِيزَانٌ asalnya adalah مِوْزَانٌ (miwzân 🡪 m îzân). Sistem pengucapan/pelafalan Bahasa Arab tidak memungkinkan kombinasi iw. Kombinasi apapun yang terjadi, berubah menjadi î, yakni bunyi w dihilangkan dan sebagai gantinya i dipanjangkan.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Bentuklah isim alah dengan pola mif'âl-un dari kata kerja berikut.<sup>26</sup>
- Bentuklah isim alah dengan pola mif'al-un dari kata kerja berikut.
- Bentuklah isim alah dengan pola mif'alat-un dari kata kerja berikut.
- Tunjukkanlah isim alah pada hadits-hadits berikut dan menyebutkan pola masing-masing.
- Sebutkanlah nama dari setiap kata jadian berikut.<sup>27</sup>
- Sebutkanlah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
[Decorative ornamental border]
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Ma'rifah dan Nakirah, yakni kata tertentu (المعرفة) dan kata tak tentu (النكرة).
Bacalah yang berikut: "Seorang lak-laki datang kepadaku dan berkata dia lapar. Dia adalah orang asing. Saya memberinya (laki-laki itu) uang." Disini kata seorang laki-laki adalah nakirah karena dia tidak dikenal oleh anda dan pendengar anda. Tetapi laki-laki itu adalah ma'rifah karena telah disebutkan.
Dalam Bahasa Arab, tujuh kategori isim berikut adalah ma'rifah (المعرفة):
-
Dhamir (kata ganti) seperti أَنَا، أَنْتَ، هُوَ.
-
Isim alam (menunjukkan arti nama baik nama orang atau tempat) seperti أَحْمَدُ، اَهِنْدُ، مَكَّةُ.
<sup>25</sup> Harus diperhatikan bahwa kata seperti مِقْلاَةٌ، مِكْوَاةٌ memiliki pola mif'alah dan tidak mif'âl. Menurut sistem phonetic Bahasa Arab, kombinasi aya dan awa dirubah meubah menjadi â, sehingga miqlayat-un menjadi miqlât-un, dan miswafat dari يَصْفُو صَفَا 'menyaring' menjadi misfât-un.
<sup>26</sup> Nomor ini bukan pertanyaan
<sup>27</sup> Anda telah mempelajari empat jenis kata jadian (المُشْتَقَّات) yaitu: اسم الفاعل، اسم المفعول، اسم الآلة، اسم المكان والزمان
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Isim isyarah (kata penunjuk) seperti أُولَئِكَ، ذَلِكَ، هَذَا.
-
Isim maushul (perantara dengan kalimat sesudahnya) seperti الَّذِي، الَّذِينَ، الَّتِي، مَا، مَنْ.
-
isim yang didahului oleh ال seperti الْكِتَابُ، الرَّجُلُ.
-
isim dengan isim ma'rifah sebagai mudhaf ilaih-nya, seperti كِتَابُهُ، كِتَابُ حَامِدٍ، كِتَابُ هَذَا، كِتَابُ الَّذِي خَرَجَ، كِتَابُ الْمُدَرِّسِ.
Isim yang memiliki isim nakirah sebagai mudhaf ilaih-nya juga berbentuk nakirah seperti كِتَابُ طَالِبٍ 'buku seorang pelajar', بَيْتُ مُدَرِّسٍ 'rumah seorang guru'.
- Munada yang dikhususkan oleh nida, contoh: يَا رَجُلُ 'Wahai laki-laki', يَا وَلَدُ 'Wahai anak'. Perhatikan bahwa رَجُلُ dan وَلَدُ adalah nakirah. Tetapi menjadi ma'rifah karena mereka adalah yang dimaksudkan oleh orang yang memanggil. Namun jika isim nakirah tidak dikhususkan oleh yang memanggil, maka ia tetap berbentuk nakirah meskipun jika dia berupa munada, sebagaimana orang buta berkata يَا رَجُلاً خُذْ بِيَدِي 'Wahai laki-laki peganglah tanganku'. Jelas bahwa dia tidak memaksudkan orang tertentu.
Perhatikan bahwa يَا رَجُلُ dalam munada adalah mabni dan memiliki akhiran –u (dhommah) sedangkan pada يَا رَجُلاً ia berbentuk manshub.
Nakiroh menjadi ma'rifah dengan adanya munada sebagaimana yang kita lihat. Sedangkan ma'rifah tidak terpengaruh dengan adanya nida', contohnya : بِلاَلٌ adalah ma'rifah dan tetap ma'rifah pada يَابِلاَلُ
- تَعَـالَ 'kemarilah/datanglah!' Fi'il ini hanya digunakan dalam bentuk amr. Dalam madhi dan mudhari digunakan fi'il جَاءَ يَجِيءُ atau أَتَى يَأْتِي, contoh:
| 'Bilal datang kepadaku kemarin' | جَاءَ بِلاَلٌ أَمْسِ |
|---|---|
| 'Jangan datang kepadaku besok!' | لاَ تَأْتِي غَدًا |
Disini تَعَـالَ disandarkan pada kata ganti orang kedua (dhamir mukhathab):
_________________________________________________________________ 33
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
تَعَالَيْنَ يَا أَخَوَاتِ (ta'âlai), تَعَالَيْ يَا خَدِيجَةُ (ta'âlau), تَعَالَوْا يَا إِخْوَانِ (ta'âlaîna) تَعَالَيَا يَا وَلَدَانِ (ta'âlayâ).
Namun fi'il تَعَالَى digunakan dalam madhi dan mudhari dengan makna 'dia naik, dia bangkit, dia ditinggikan'. Amr تَعَالَ asalnya berarti 'datanglah', 'naiklah' maka dia bisa berarti 'datang'.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan berikut ini. 2a. Sebutkanlah tiga contoh nakirah. 2b. Sebutkan tiga contoh masing-masing ketujuh kategori ma'rifah. 2c. Sebutkan semua isim nakirah yang terdapat dalam pelajaran utama (bacaan pada buku durul lughah<sup>pent</sup>.) 2d. Sebutkan semua isim ma'rifah yang terdapat di dalam pelajaran utama dan sebutkan katagorinya masing-masing. 2e. Manakah diantara kedua kata berikut yang menjadi ma'rifah karena nida: يَا مَالِكُ يَا وَلَدُ 2f. Bacalah hadits berikut dan tunjukkanlah isim nakirah dan ma'rifah yang terdapat di dalamnya, dan sebutkan kategori setiap isim ma'rifah. 2g. Ubahlah setiap isim nakirah berikut menjadi ma'rifah dengan menggunakan metode yang disebutkan didepannya.<sup>28</sup>
- Tunjukkanlah yang berikut pada pelajaran utama: a) Dua contoh mudhaf dengan isim ma'rifah sebagai mudhaf ilaihi, dan dua contoh mudhaf dengan isim nakirah sebagai mudhaf ilaih. b) Tiga contoh dari اسْمُ الْفَاعِلِ. c) Sebuah contoh nasab.
- Siswa berlatih dua keterampilan bahasa berikut: a) Setiap siswa berkata kepada kawannya: أَعْطِنِي قَلَمَكَ/كِتَابَكَ/دَفْتَرَكَ 'berikan pulpen/buku/buku tulis –mu...'
<sup>28</sup> Kata الإِضَافَةُ berarti kata mudhaf. Tentu saja anda harus menggunakan mudhaf ilaih yang sesuai dengannya.
Kata تَجْلِيَةٌ secara lafazh berarti 'menghias'. تَجْلِيَةُ الْكَلِمَةِ بِأَلْ berarti 'menghias kata dengan al-', yakni, menggunakan al dengan kata. Kata dengan al- disebut الْمُحَلَّى بِأَلْ 'dihias dengan al'.
Kata النِّدَاءُ berarti 'memanggil'. Dalam tata bahasa ia berarti menggunakan يَا dengan isim, contoh: يَا بِلاَلُ.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
b) Setiap siswa berkata kepada kawannya menunjuk kepada kawan lainnya: أعطه
كتابك/ دفترك 'berikan dia buku/buku tulis-mu…'
- Pelajarilah fi'il berikut.
- Sebutkanlah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
- Apakah lawan dari فوق ?
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Penghapusan nun pada mutsanna dan jamak mudzakar salim.
Anda telah melihat dalam Buku I bahwa isim kehilangan tanwin ketika ia menjadi mudhaf. Contoh:
كِتابٌ kitâb-un : كِتابُ حامِدٍ kitâb-u Hâmid-in (bukan: kitâb-un Hâmid-in).
Dengan cara yang sama, nun dari mutsanna dan jamak mudzakar salim juga dihilangkan ketika mereka menjadi mudhaf. Contoh:
| (bintâni : bintâ Bilâl-in)'Dimana dua anak perempuan Bilal?' | أَيْنَ بِنْتَا بِلالٍ : أَيْنَ البِنْتَانِ |
|---|---|
| (bintaini : bintai Bilâl-in) 'Saya melihat dua anak perempuan Bilal' | رَأَيْتُ بِنْتَيْ بِلالٍ : رَأَيْتُ بِنْتَيْنِ |
| (bintaini : bintai Bilâl-in) 'Saya mencari dua anak perempuan Bilal'. | أَبْحَثُ عَنْ بِنْتَيْ بِلالٍ : أَبْحَثُ عَنْ بِنْتَيْنِ |
| (mudarrisûna :mudarrisû l-hadits) 'Guru hadits (telah) datang.' | جَاءَ مُدَرِّسُوا الحَدِيثِ : جَاءَ المُدَرِّسُونَ |
| (mudarriûna : mudarrisi l-hadtis) 'Saya bertanya (kepada) guru hadits.' | سَأَلْتُ مُدَرِّسِي الحَدِيثِ : سَأَلْتُ المُدَرِّسِينَ |
| (mudarrisîna : mudarrisî l-hadits) 'Saya memberi salam kepada guru hadits' | سَلَّمْتُ عَلَى مُدَرِّسِي الحَدِيثِ: سَلَّمْتُ المُدَرِّسِينَ |
- Kita telah mempelajari pada Buku I bahwa mutsanna dari هَذَا adalah هَذَانِ dan هَذِهِ adalah هَاتَـانِ. Contoh: هَذَانِ مَسْجِدَانِ، وَهَاتَانِ مُدَرِّسَـتَانِ. Sekarang kita mempelajari mutsanna dari ذَلِكَ adalah ذَانِكَ (dzânika), dan تِلْكَ adalah تَانِكَ (tânika). Contoh:
| 'Ini dua guru dan itu dua siswa' | هَذَانِ مُدَرِّسَانِ وَ ذَانِكَ طَالِبَانِ |
|---|---|
| 'Ini dua dokter (pr) dan itu dua suster.' | هَاتَـانِ طَبِيبَـتَانِ وَ تَـانِكَ مُمَرِّضَتَانِ |
Dalam keadaan nashab dan jar mereka menjadi ذَيْنِكَ dan تَيْنِكَ (dzâinika, tainika). Contoh:
| 'Bukalah dua pintu itu dan dua jendela itu' | إِفْتَحْ ذَيْنِكَ الْبَابَيْنِ وَ تَيْنِكَ النَّافِذَتَـيْنِ |
|---|---|
| 'Siapa yang tinggal di dua villa itu? (الْفِلَّةُ villa) | مَنْ يَسْكُنُ فِي تَـيْنِكَ فِلَّتَيْنِ ؟ |
- كِـلَا berarti 'keduanya', dan bentuk muanntas-nya adalah كِلْتَـا. Ia selalu mudhaf dan mudhaf ilaihi-nya adalah مُـثَـنَّى. Contoh:
| 'Kedua siswa berada di dalam perpustakaan.' | كِـلَا الطَّالِبَيْنِ فِي الْمَكْتَبَةِ |
|---|---|
| 'kedua mobil itu berada di depan rumah' | كِلْتَا السَّيَّارَتَيْنِ أَمَامَ الْبَيْتِ |
كِـلَا dan كِلْتَـا diperlakukan sebagai kata mufrad, maka predikatnya adalah mufrad. Contoh:
| 'Kedua siswa telah lulus' ( bukan تَخَرَّجَا ) | كِـلَا الطَّالِبَيْنِ تَخَرَّجَ |
|---|---|
| 'Kedua jam itu indah.' | كِلْتَا السَّاعَتَـيْنِ جَمِيلَةٌ |
Di dalam Al-Qur'an (18:33) ﴿وَكِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا﴾ "Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya,"
'Kami berdua bahagia' كِـلَانَا مَسْرُورٌ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
كِـلَا dan كِلْتَـا tetap tidak berubah dalam kedudukan nashab dan jar jika mudhaf ilaihi-nya adalah isim dhohir . Contoh:
| 'Saya mengenal kedua laki-laki itu' | أَعْرِفُ كِلَا الرَّجُلَـيْنِ |
|---|---|
| 'Saya mencari kedua laki-laki itu' | بَحَثْتُ عَنْ كِلَا الرَّجُلَـيْنِ |
Tetapi mereka mabni seperti مُثَـنَّـى jika mudhaf ilaihi-nya adalah dhamir, contoh:
| 'Saya melihat keduanya' | رَأَيْتُ كِلَيْهِـمَا |
|---|---|
| 'Siapa yang anda tanyai, Zainab atau Aminah?' | مَنْ سَأَلْتَ؟ |
| 'Saya menanyai keduanya' | زَيْنَبَ أَوْ آمِنَةَ؟ سَأَلْتُ كِلْتَيْهِمَا |
Dengan cara yang sama, بَحَثْتُ عَنْ كِلَيْهِمَا / عَنْ كِلْتَيْهِمَا 'Saya mencari keduanya'.
-
Anda mengetahui bahwa 'bukuku' dalam Bahasa Arab adalah كِتَابِي . Perhatikan bahwa ya berharakat sukun. Tetapi ia menjadi fathah jika didahului oleh alif atau ya sukun. Contoh: 'kedua anak perempuanku' بِنْتَايَ, (bintâ-ya) 'saya mencuci kedua kakiku' غَسَلْتُ رِجْلَيَّ (rijlay-ya).
-
Bentuk amr dari أَتَى يَأْتِي adalah إِيتِ (îti). Asalnya adalah إِئْتِ (i'ti). Jika dua hamzah bertemu, yang pertama memiliki harakat (tanda vokal) dan yang kedua tidak, hamzah kedua dihilangkan, dan harakat dari hamzah pertama mendapat kompensasi pemanjangan (bacaan), contoh: أُأْ 🡪 آ ; إِأْ 🡪 إِي ; أُأْ 🡪 أُو .
Menurut kaidah ini, إِئْـتِ menjadi إِيتِ Tetapi jika kata tersebut didahului oleh kata yang lain, hamzah pertama dihilangkan karena ia adalah hamzatul washal, dan hamzah kedua dikembalikan karena tidak ada lagi pertemuan dua hamzah. Oleh karena itu bentuk amr-nya menjadi وَأْتِ 'dan datanglah', atau 'maka datanglah'. Ia seharusnya ditulis وَاْأْتِ ، فَاْأْتِ dengan hamzatul washal, tetapi ia dihilangkan maka kedua alif tidak muncul berdampingan.
- Anda telah belajar pada Buku II (Pelajaran 26) bahwa هَا هُوَ ذَا berarti 'Ini dia!'
Bentuk mutsanna-nya adalah هَا هُمَا ذَانِ (hâhumâdzâni). Bentuk muanntas-nya adalah هَا هُمَا تَانِ (hâhumâtâni). Bentuk jamak mudzakar-nya adalah هَا هُمْ أُولَاءِ (hâhum'ulâ'i) dan bentuk jamak muannats adalah هَا هُنَّ أُولَاءِ (hâhunna'ulâ'i).
| Dimana Bilal?'<br/>'Ini dia!' | عَنْ بِلَالٍ؟ هَا هُوَ ذَا |
|---|---|
| 'Dimana Bilal dan Hamid?'<br/>'Ini mereka berdua!' | عَنْ بِلَالٍ وَ حَامِدٍ؟ هَا هُمَا ذَانِ |
| 'Dimana Bilal dan kedua saudaranya?'<br/>'Ini mereka!' | عَنْ بِلَالٍ وَ أَخَوَيْهِ؟ هَا هُمْ أُولَاءِ |
| 'Dimana Maryam?'<br/>'Ini dia!' | عَنْ مَرْيَمَ؟ هَا هِيَ ذَا |
| 'Dimana Maryam dan Aminah?'<br/>'Ini mereka berdua!' | عَنْ مَرْيَمَ وَ آمِنَةُ ؟ هَا هُمَاتَـــانِ |
| 'Dimana Maryam dan kedua saudarinya?' 'Ini mereka!' | عَنْ مَرْيَمَ وَ أُخْتَـــاهَا؟ هَا هُنَّ أُولَاءِ |
| 'Dimana Ibrahim?'<br/>'Ini aku!' | عَنْ إِبْرَاهِيمَ ؟ هَاأَنَاذَا |
| 'Dimana Ibrahim dan teman-teman sekelasnya?' 'Ini kami!' | عَنْ إِبْرَحِيمَ وَ زُمَلَاؤُهُ ؟ هَا نَحْنُ أُولَاءِ |
| 'Dimana Fatimah?'<br/>'Ini aku!' | عَنْ فَاطِمَةُ ؟ هَا أَنَاذِي |
| 'Dimana Fatimah dan teman-teman sekelasnya?' 'Ini kami!' | عَنْ فَاطِمَةُ وَ زُمَيْلَاتُهَا ؟ هَا نَحْنُ أُولَاءِ |
🖎 Latihan:
-
Jawablah pertanyaan berikut ini.
-
Tunjukkanlah isim mutsanna dan jamak mudzakar salim yang terdapat dalam pelajaran utama, yang nun-nya dihilangkan.
-
Baca dan pahamilah contoh-contoh isim mutsanna dan jamak mudzakar salim yang nun-nya telah dihilangkan.
-
Bacalah contoh-contoh berikut, kemudian tulislah angka-angka ke dalam kata.
-
Ada dua kelompok kata pada yang berikut ini. Jadikanlah yang pertama menjadi mudhaf dan yang kedua mudhaf iliaihi sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Ubahlah kata yang bergaris bawah dalam setiap kalimat berikut menjadi mutsanna sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Buatlah setiap kata berikut menjadi mudhaf dan dhamir mutakallim mufrad sebagai mudhaf ilaihi-nya sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Buatlah kata yang bergaris bawah dalam kalimat berikut menjadi mudhaf dan dhamir mufrad mutakalim sebagai mudhaf ilaihi sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Jawablah pertanyaan berikut dengan menggunakan كِلَا dan كِلْتَا.
-
Isilah bagian yang kosong pada setiap kalimat berikut dengan kata penunjuk jauh (اسم الإشارة للبعيد) yang sesuai.
-
Berikan bentuk mudhari setiap fi'il berikut.
-
Berikanlah bentuk jamak dari setiap isim berikut.
-
Berikanlah bentuk mufrad dari setiap isim berikut.
[Decorative ornamental divider]
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Jenis kalimat dalam Bahasa Arab. Kita telah mempelajari dalam Buku II (Pelajaran 1)
bahwa ada dua jenis kalimat dalam Bahasa Arab: kalimat nominal الجُمْلَةُ الاِسْمِيَّةُ dan
kalimat verbal الجُمْلَةُ الفِعْلِيَّةُ. Kalimat nominal diawali oleh isim, contoh: 'Rumah itu
indah' الْبَيْتُ جَمِيلٌ, sedangkan kalimat verbal diwalai oleh fi'il, contoh: 'Guru telah
masuk' دَخَلَ الْمُدَرِّسُ.
Berikut beberapa rincian lebih lanjut mengenai kedua jenis kalimat ini:
Al-Jumlatul Ismiyah (kalimat nominal) Awal dari kalimat nominal adalah salah satu dari yang berikut:
a) Isim atau dhamir, contoh: هٰذِهِ مَدْرَسَةٌ ، أَنَا مُجْتَهِدٌ ، اللهُ غَفُورٌ
b) Masdar mu'awwal (الصَّدَرُ الْمُؤَوَّلُ): yakni Klaus (kalimat) yang berfungsi sebagai
masdar.<sup>29</sup> Contoh: 'Engkau berpuasa itu lebih baik bagimu' أَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ
<sup>29</sup> Berikut beberapa contoh masdar mu'awwal:
Disini Klaus أَنْ تَصُومُوا berfungsi sebagai mashdar (infinitif) karena berarti الصَّوْمُ'berpuasa'.
c. Huruf yang menyerupai fi'il, contoh: 'Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang' إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
Huruf yang menyerupai fi'il (الحُرُوفُ المُشَبَّهَةُ بِالفِعْلِ) adalah إِنَّ dan saudari-saidarinya, seperti: لَيْتَ ، لَعَلَّ ، لَكِنَّ.
Al-Jumlatul Fi'liyyah (Kalimat Verbal) Awal jumlatul fi'liyyah adalah salah satu dari yang berikut:
a. Fi'il lengkap (الفِعْلُ التَّامُّ), contoh: 'Matahari terbit' طَلَعَتِ الشَّمْسُ.
Fi'il lengkap adalah fi'il yang membutuhkan fa'il, seperti دَخَلَ، خَرَجَ، نَامَ، جَلَسَ dan lain-lain.
b. Fi'il yang tidak lengkap (الفِعْلُ النَّاقِصُ), contoh: 'Cuaca dingin' كَانَ الجَوُّ بَارِدًا. Fi'il naqis adalah fi'il yang membutuhkan isim dan khabar, contoh: 'Air menjadi salju'<sup>30</sup> صَارَ المَاءُ ثَلْجًا.
Dalam posisi rafa**: 'Bahwa engkau belajar Bahasa Arab adalah lebih baik'** <ins>أَنْ تَدْرُسَ العَرَبِيَّةَ</ins> أَفْضَلُ (Disini ia adalah mubtada = دِرَاسَةُ العَرَبِيَّةِ أَفْضَلُ).
'Islam berarti bahwa engkau beriman kepada Allah' الإِسْلاَمُ <ins>أَنْ تُؤْمِنَ بِـاللهِ</ins> (Disini ia adalah khabar = الإِسْلاَمُ الإِيمَانُ بِاللهِ)
'Adalah penting bahwa engkau menulis alamatmu dengan jelas.' يَنْبَغِي <ins>أَنْ تَكْتُبَ عُنْوَانَـكَ</ins> بِوُضُوحٍ (Disini ia adalah fi'il = يَنْبَغِي كِتَابَةُ العُنْوَانِ بِوُضُوحٍ)
Dalam posisi nasab**:**
'Saya ingin keluar' أُرِيدُ <ins>أَنْ أَخْرُجَ</ins>. (Disini ia adalah maf'ul bihi = أُرِيدُ الخُرُوجَ).
Dalam posisi jar**:**
'Datanglah sebelum engkau keluar' تَعَالَ قَبْلَ <ins>أَنْ تَخْرُجَ</ins> (Disini ia adalah maf'ul bihi = تَعَالَ قَبْلَ الخُرُوجِ)
'Jangan pergi sampai saya kembali!' لاَ تَذْهَبْ إِلَى <ins>أَنْ أَرْجِعَ</ins> (Disini ia dahului oleh huruf jar = لاَ تَذْهَبْ إِلَى رُجُوعِي)
<sup>30</sup> Lihat Buku II pelajaran 25.
- 'Bilal mulai menulis' طَفِقَ بِلَالٌ يَكْتُبُ. طَفِقَ adalah fi'il naqis. Dalam kalimat ini, بِلَالٌ adalah isim-nya, dan kalimat يَكْتُبُ adalah khabar. Fi'il pada khabar harus berbentuk mudhari. Fi'il أَخَذَ dan جَعَلَ juga digunakan dengan cara yang sama dengan makna yang sama. Contoh:
'Guru mulai menerangkan pelajaran' أَخَذَ الْمُدَرِّسُ يَشْرَحُ الدَّرْسَ.
'Saya mulai makan' جَعَلْتُ آكُلُ. Disini dhamir تُ adalah isim-nya, dan kalimat آكُلُ adalah khabar.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan berikut ini. 2a. Tunjukkanlah semua kalimat isim yang terdapat dalam pelajaran utama, dan sebutkan jenis awal setiap kalimat. 2b. Tunjukkanlah semua kalimat fi'il yang terdapat dalam pelajaran utama. dan sebutkan jenis awal setiap kalimat. 2c. Ubahlah masdar dalam setiap kalimat berikut menjadi masdar mu'awwal. 2d. Gantilah masdar mu'awwal dalam ayat ini dengan masdar sesuai. وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى 2e. Berikanlah tiga contoh kalimat nominal yang dimulai dengan huruf yang serupa fi'il. 2f. Berikanlah tiga contoh kalimat verbal yang diawali dengan fi'il lengkap. 2g. Berikanlah tiga contoh kalimat verbal yang diawali dengan fi'il naqis.
- Gunakanlah setiap fi'il naqis berikut ke dalam kalimat, طَفِقَ، جَعَلَ، أَخَذَ.
- Berikanlah bentuk mudhari setiap fi'il berikut. تَحَرَّكَ، عَثَّ، سَئِمَ.
Pada bagian ini kita mempelajari lebih jauh mengenai al-jumlatul ismiyah (kalimat nominal).
Sebagaimana yang telah anda ketahui, al-jumlatul ismiyah terdiri dari mubtada dan khabar. Mubtada adalah isim yang diterangkan, dan khabar adalah yang menerangkannya. Contoh: 'Bulan itu indah' اَلْقَمَرُ جَمِيلٌ. Dalam kalimat ini, anda hendak berbicara mengenai 'bulan' (اَلْقَمَرُ), maka ia adalah mubtada. Dan informasi yang anda berikan mengenainya adalah 'indah' (جَمِيلٌ) maka ia adalah khabar. Keduanya mubtada dan khabar adalah marfu. (al-qamar-u jamil-un)
<ins>M u b t a d a</ins>
Jenis-jenis mubtada. Mubtada dapat berupa: a. Isim atau dhamir, contoh:
| 'Allah Tuhan kami' | اللهُ رَبُّنَا | 'Dilarang duduk disini' | اَلْجُلُوسُ هُنَا مَمْنُوعٌ |
|---|---|---|---|
| 'Membaca itu adalah bermanfaat' | اَلْقِرَاءَةُ مُفِيدَةٌ | 'Kami adalah pelajar | نَحْنُ طُلَّابٌ |
b. Masdar mu'awwal, contoh:
| 'Dan berpuasa adalah lebih baik bagimu'³¹ | أَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَـكُمْ |
|---|---|
| 'Dan engkau memaafkan adalah lebih dekat kepada takwa'³² | أَن تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى |
Mubtada biasanya adalah berbentuk ma'rifah**.**
| 'Muhammad ﷺ adalah Rasul Allah | مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم رَسُولُ اللهِ | مُحَمَّدٌ adalah ma'rifah karena ia merupakan ismul alam. |
|---|---|---|
| 'Saya adalah seorang guru' | أَنَـــا مُدَرِّسٌ | أَنَـــا adalah ma'rifah karena ia merupakan dhamir. |
| 'Ini adalah sebuah masjid | هَذَا مَسْجِدٌ | هَذَا adalah ma'rifah karena ia merupakan ismul isyarah |
<sup>31</sup> QS Al-Baqarah [2] : 184) <sup>32</sup> QS Al-Baqarah [2] : 237)
_________________________________________________________________ 42
| 'Yang menyembah selain Allah adalah musyrik' | اَلَّذِي يَعْبُدُ غَيْرَهُ اللهُ مُشْرِكٌ | اَلَّذِي adalah ma'rifah karena ia adalah ismul maushul. |
|---|---|---|
| 'Al-Qur'an adalah kitab Allah' | اَلْقُرْآنُ كِتَابُ اللهِ | اَلْقُرْآنُ adalah ma'rifah karena diawali tanda –al. |
| 'Kunci menuju Surga adalah Shalat' | مِفْتَحُ الْجَنَّةِ الصَّلاَةُ | مِفْتَحُ adalah ma'rifah karena mudhaf ilaih-nya ma'rifah. |
Mubtada dapat berupa nakirah dalam keadaan berikut:
a. Jika khabar adalah syibhul jumlah (شِبْهُ الْجُمْلَةِ)<sup>33</sup> yaitu salah satu dari kedua hal berikut:
-
Kalimat yang dimulai dengan kata depan, seperti: فِي الْبَيْتِ، عَلَى الْمَكْتَبِ، كَالْمَاءِ
-
Zarf (الظَّرْفُ)<sup>34</sup>, seperti: الْيَوْمَ، غَدًا، تَحْتَ، فَوْقَ، عِنْدَ
Dalam keadaan ini, khabar harus mendahului mubtada'. Contoh:
'Ada seorang laki-laki di dalam ruangan' فِي الْغُرْفَةِ رَجُلٌ. (رَجُلٌ فِي الْغُرْفَةِ bukanlah sebuah kalimat).
Disini, isim nakirah رَجُلٌ adalah mubtada, dan frasa فِي الْغُرْفَةِ adalah khabar.
Contoh berikutnya: 'Saya memiliki seorang saudara laki-laki' لِي أَخٌ (secara harfiah berarti 'ada seorang laki-laki bagiku'). Disini isim nakirah أَخٌ adalah mubtada.
'Ada sebuah jam di bawah meja' تَحْتَ الْمَكْتَبِ سَاعَةٌ. (سَاعَةٌ تَحْتَ الْمَكْتَبِ bukan merupakan kalimat). Disini سَاعَةٌ adalah mubtada, dan zarf تَحْتَ adalah khabar.
Contoh lainnya: 'Kami mempunyai sebuah mobil' عِنْدَنَـا سَيَّارَةٌ (secara harfiah berarti 'ada sebuah mobil bersama kami')
b. Jika mubtada adalah kata tanya seperti مَنْ 'siapa', مَا 'apa', كَمْ 'berapa'. Isim ini adalah nakirah. Contoh:
<sup>33</sup> Syibul jumlah secara lafazh berarti 'yang menyerupai kalimat'
<sup>34</sup> Kata seperti تَحْتَ 'di bawah', فَوْقَ 'di atas', عِنْدَ 'bersama' dalam Bahasa Arab bukan merupakan kata depan. Kata depan seperti فِي، عَلَى، إِلَى، مِنْ، بـِ، كـَ adalah harf, tetapi kata seperti تَحْتَ، فَوْقَ، عِنْدَ adalah isim mu'rab (harakat akhir berubah), seperti هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ، مِنْ فَوْقِـهِ، مِنْ تَحْتِـهِ. Dan isim majrur mengikuti salah satu dari kata tersebut adalah mudhaf ilaih, contoh: 'dibawah air' تَحْتَ الْمَـاءِ.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
'Ada apa denganmu?' ؟كـــب امـــ (Disini ام adalah mubtada dan frasa kata depan كـب adalah khabar).
'Siapa yang sakit?' ؟ضيِرم نم (Disini نم adalah mubtada dan ضيِرم adalah khabar)
'Berapa siswa di dalam kelas?' ؟ِلصفلا يف ابلاط مَک (Disini مَک adalah mubtada dan ِلصفلا يف adalah khabar).
Ada banyak keadaan lain dimana mubtada dapat berupa nakirah, dan anda akan mempelajarinya nanti, insya Allah.
Susunan Mubtada dan Khabar
Biasanya mubtada mendahului khabar, contoh: 'Anda seorang guru' .سِّردم تنأ
Namun susunan ini juga bisa dibalik, contoh: 'Apakah anda seorang guru? ؟تنأ سردمأ,
'Ini aneh' اذه بيِجع untuk بيِجع اذه.
Akan tetapi mubtada harus mendahului khabar jika ia adalah kata tanya. Contoh:
؟ضيِرم نم – ؟كِب ام .
Dan khabar harus mendahului mubtada jika:
a) Ia adalah kata tanya, contoh: ؟كما ام. Disini مسا adalah mubtada dan ام adalah khabar.
b) Ia adalah syibhul jumlah, dan mubtada adalah nakirah, contoh:
| 'Ada beberapa orang laki-laki di dalam masjid' | ٌلاجِر دجسملا يف |
|---|---|
| 'Ada sebatang pohon di depan rumah' | ٌةرجش تيبلا مامأ |
Mubtada atau khabar dapat dihilangkan, contoh dalam menjawab pertanyaan ؟كما ام
seseorang dapat berkata: .دـماـح Ini adalah khabar dan mubtada telah dihilangkan.
Kalimat utuhnya adalah .دماـح يما
Serupa dengan itu, dalam menjawab pertanyaan 'Siapa yang tahu?' مَنْ يَعْرِفُ؟, seseorang dapat berkata: 'Saya' أَنَـا. Ini adalah mubtada, dan khabar telah dihilangkan. Kalimat seutuhnya adalah أَنَـا أَعْرِفُ.
Jenis-jenis khabar
Ada tiga jenis khabar: mufrad, jumlah dan syibhul jumlah.
a) Mufrad adalah sebuah kata (bukan kalimat), contoh: 'Orang mu'min adalah cermin bagi orang mu'min'<sup>35</sup> الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ.
b) Jumlah adalah kalimat, dapat berupa al-jumlatul ismiyah atau al-jumlatul fi'liyah. Contoh: 'Ayah Bilal adalah seorang menteri' بِلَالٌ أَبُوهُ وَزِيرٌ. Secara lafadz berarti, 'Bilal, ayahnya adalah seorang menteri'. Disini بِلَالٌ adalah mubtada dan al-jumlatul ismiyah أَبُوهُ وَزِيرٌ adalah khabar, dan kalimat ini terdiri dari mubtada (أَبُوهُ) dan khabar (وَزِيرٌ).
Contoh lainnya:
'Siapa nama kepala sekolah?' الْمُدِيرُ مَـــااسْمُـــهُ؟ Secara lafadz berarti ' Kepala sekolah, siapa namanya?' Disini الْمُدِيرُ adalah mubtada dan al-jumlahtul ismiyah مَـــااسْمُـــهُ adalah khabar, dimana اسْمُهُ adalah mubtada dan مَا adalah khabar.
'Para siswa masuk' الطُّلَابُ دَخَلُوا. Disini الطُّلَابُ adalah mubtada dan al-jumlatul fi'liyah دَخَلُوا 'mereka masuk' adalah khabar.
Berikut contoh lainnya:
'Dan Allah menciptakanmu' وَاللهُ خَلَقَكُمْ. Disini اللهُ adalah mubtada dan al-jumlatul fi'liyah خَلَقَكُمْ 'Dia menciptakanmu' adalah khabar.
c) Syibhul jumlah, sebagaimana yang telah kita lihat, dapat berupa frasa kata depan atau zarf:
<sup>35</sup> Maknanya adalah seorang mu'min cermin bagi mu'min lainnya, sebagaimana cermin menunjukkan menunjukkan seseorang cacat yang terdapat di wajahnya, seorang mu'min menunjukkan kekurangan saudara mu'minnya yang mungkin tidak diketahuinya. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitabul Adab:57/
'Segala puji bagi Allah' الْحَمْدُ لِلَّـهِ. Disini الْحَمْدُ adalah mubtada dan frasa kata depan لِلَّـهِ (لِ + اللهِ) adalah khabar) dan ia menempati kedudukan rafa (فِي مَحَلِّ رَفْعٍ).
'Surga berada di bawah bayang-bayang pedang'³⁶ الْجَنَّةُ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ. Disini الْجَنَّةُ adalah mubtada dan zarf تَحْتَ adalah khabar. Sebagai zarf ia adalah manshub, dan sebagai khabar ia berada dalam posisi rafa (فِي مَحَلِّ رَفْعٍ).
Kesesuaian antara mubtada dan khabar Khabar sejalan dengan mubtada dalam hal bilangan dan jenisnya, contoh:
a) Dalam bilangan: الْمُدَرِّسُ وَاقِفٌ، وَالطَّالِبُ جَالِسٌ، بَابَا الْفَصْلِ مُغَلَّقَـانِ، وَنَافِذَتَانِ مَفْتُوحَـانِ. Disini kita melihat, jika mubtada berbentuk mufrad maka khabar juga mufrad. Jika mubtada adalah mutsanna maka khabar juga mutsanna.
b) Dalam jenis: حَامِدٌ مُهَنْدِسٌ، وَزَوْجَتُهُ طَبِيبَةٌ، وَإِبْنَاهُمَا تَاجِرَانِ وَبِنْتَاهُمَا مُدَرِّسَتَانِ. Disini kita melihat, jika mubtada adalah mudzakar maka khabar juga mudzakar, dan jika mubtada adalah muanntas maka khabar juga muannats.
Susunan mubtada dan khabar
| سبب التقدم/التأخيرPenyebab sebelumdan sesudah khabar | مُقَدَّم / مُؤَخَّرSebelum atausesudah khabar | معرفة / نكرةma'rifah ataunakirah | المبتدأMubtada |
|---|---|---|---|
| Ini adalah susunan<br/>asal | sebelum khabar | ma'rifah | اللهُ غَفُورٌ |
| Ini adalah pilihan | setelah khabar | ma'rifah | عَجِيبٌ كَلَامُهُ |
| karena m adalah<br/>nakirah dan k adalah<br/>syibhul jumlah | mutada harus<br/>setelah khabar | ma'rifah | عِنْدَكَ سَيَّارَةٌ |
| karena m adalah<br/>nakirah dan k adalah<br/>syibhul jumlah | mutada harus<br/>setelah khabar | nakirah | أَفِي اللهِ شَكٌّ ؟ |
| karena mubtada<br/>adalah kata tanya | mubtada harus<br/>sebelum khabar | nakirah | مَنْ غَائِبٌ؟ |
³⁶ Ini diambil dari hadits, lafadz hadits adalah: اعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ 'Ketahuilah bahwa Surga berada di bawah bayang-bayang pedang'. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitabul Jihad.
| karena khabar adalah kata tanya | mubtada harus sebelum khabar | ma'rifah | مَنْ أَنْتَ ؟ |
|---|---|---|---|
| ini adalah bentuk asal | setelah khabar | ma'rifah karena maknanya صِيَامُكُمْ | وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ |
🖎 Latihan:
- Gunakanlah setiap isim berikut ini dalam kalimat sebagai mubtada.
- Gunakanlah setiap isim berikut ini dalam kalimat sebagai khabar.
- Gunakanlah kata sebagai mubtada dalam lima kalimat, khabar adalah mufrad pada bagian pertama, kedua zarf, ketiga frasa kata depan, keempat al-jumlatul fi'liyah, dan kelima al-jumlatul ismiyyah.
- Berikanlah tiga kalimat dengan khabar masing-masing berupa zarf.
- Berikanlah tiga kalimat dengan khabar masing-masing berupa frasa kata depan.
- Gunakanlah setiap isim berikut ke dalam sebuah kalimat sebagai mubtada dengan khabar adalah al-jumlatul ismiyah. Buatlah isim yang terdapat di dalam kurung sebagai mubtada pada al-jumlatul ismiyyah tersebut.
- Tunjukkanlah semua jumlatul ismiyah yang terdapat dalam pelajaran utama dimana pada masing-masing kalimat tersebut mubtada dihilangkan.
- Tunjukkanlah semua jumlatul ismiyah yang terdapat dalam pelajaran utama, dan sebutkan jenis khabar pada setiap kalimat tersebut.
🗎 Pelajaran 12
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Zarf (الظَّرْف) dari maf'ul fihi (الْمَفْعُولُ فِيهِ).
Zarf adalah isim yang menunjukkan waktu atau tempat terjadinya perbuatan, Contoh:
a)
| 'Saya keluar di malam hari' | خَرَجْتُ لَيْلًا |
|---|---|
| 'Saya harus berangkat besok' | سَأُسَافِرُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ |
| 'Saya tidur setelah kamu tidur' | نِمْتُ بَعْدَ نَوْمِكَ |
Ini disebut zarf zamani (ظَرْفُ الزَّمَانِ), yakni keterangan waktu.
b)
| 'Saya berjalan 1 mil' | مَشَيْتُ مِيلًا |
|---|---|
| 'Saya duduk di ruang (bersama dengan) kepala sekolah' | جَلَسْتُ عِنْدَ المُدِيرِ |
| 'Saya tidur dibawah pohon' | نِمْتُ تَحْتَ شَجَرَةٍ |
Ini disebut zarf makani (ظَرْفُ المَكَانِ), yakni keterangan tempat.
Zarf adalah manshub.
Sebagian zuruf<sup>37</sup> adalah mabni. Berikut beberapa contoh: أَيْنَ yang berakhiran fathah, أَمْسِ yang berakhiran kasrah, حَيْثُ dan قَطُّ yang berakhiran dhammah, هُنَا dan مَتَى yang berakhiran sukun<sup>38</sup>.
| مَتَى | 'Kapan anda keluar?' | مَتَى خَرَجْتَ ؟ |
|---|---|---|
| أَيْنَ | 'Dimana anda belajar?' | أَيْنَ تَدْرُسُ ؟ |
| أَمْسِ | 'Saya hadir kemarin' (secara harafiah berarti 'saya tidak ghaib kemarin') | لَمْ أَغِبْ أَمْسِ |
| قَطُّ | 'Saya tidak pernah mencoba (merasakan) buah ini' | لَمْ أَذُقْ هٰذِهِ الفَاكِهَةَ قَطُّ |
| هُنَا | 'Duduklah disini!' | اِجْلِسْ هُـنَـا |
| حَيْثُ | 'Duduklah dimana anda inginkan' | اِجْلِسْ حَيْثُ شِئْتَ |
Berikut ini contoh i'rab dari zuruf mabni:
Pada kalimat لَمْ أَغِبْ أَمْسِ kata أَمْسِ adalah zarfu zaman, adalah mabni dan dalam posisi nashab (فِي مَحَلِّ نَصْبٍ).
Dalam kalimat أَيْنَ تَدْرُسُ ؟ kata أَيْنَ adalah zarfu makan, ia adalah mabni berakhiran fathah dan dalam posisi nashab (فِي مَحَلِّ نَصْبٍ).
Kata yang berfungsi sebagai zuruf**.**
<sup>37</sup> Zuruf (الظُّرُوفُ) bentuk jamak dari zarf
<sup>38</sup> Karena kedua kata ini berakhiran alif yakni sakin ( مَى sebenarnya adalah مَتَـا )
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Sebuah kata dapat menyerupai zarf dan mengambil akhiran nashab meskipun pada asalnya ia bukan kata yang menunjukkan waktu atau tempat. Hal itu terjadi pada jenis-jenis kata berikut:
a) Kata seperti كُلُّ، بَعْضُ، نِصْفُ، رُبْعُ ketika memiliki kata (yang berarti) tempat/waktu sebagai mudhaf ilaihi-nya, contoh:
| 'Kami bersafar (melakukan perjalanan) sepanjang hari' | سَافَرْنَا كُلَّ النَّهَارِ |
|---|---|
| Saya tetap tinggal di rumah sakit selama sebagian hari' | بَقِيتُ فِي الْمُسْتَشْفَى بَعْضَ يَوْمٍ |
| 'Saya menunggumu seperempat jam' | اِنْتَظَرْتُكَ رُبْـعَ سَـاعَةٍ |
| 'Saya berjalan setengah kilometer' | مَشَيْتُ نِصْفَ كِيلُومِتْرٍ |
Dalam kalimat-kalimat di atas, kata-kata كُلَّ، بَعْضَ، رُبْـعَ، نِصْفَ adalah manshub karena berfungsi sebagai zuruf. Tetapi kata-kata yang sebenarnya menunjukkan waktu atau tempat adalah mudhaf ilaihi-nya.
b) Adjektif (kata sifat) dari zarf setelah zarf dihilangkan, contoh: جَلَسْتُ طَوِيلاً untuk جَلَسْتُ وَقْتًا طَوِيلاً 'Saya duduk untuk waktu yang lama'. Pada kalimat pertama adalah manshub karena berfungsi sebagai zarf.
c) Ismul Isyarah yang badal-nya adalah kata yang menunjukkan waktu atau tempat, contoh: 'Saya datang minggu ini' جِئْتُ هَذَا الأُسْبُوعَ. Disini هَذَا adalah mabni, dan dalam posisi nashab.
d) Bilangan yang mewakili kata tempat/waktu, contoh:
| 'Saya tinggal di Baghdad selama empat hari' | مَكَثْتُ فِي بَغْدَادَ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ |
|---|---|
| 'Kami telah berjalan sejauh seratus kilometer' | سِرْنَا مِائَةَ كِيلُومِتْرٍ |
Disini أَرْبَعَةَ adalah manshub karena ia mewakili kata yang menunjukkan waktu (أَيَّامٍ), dan مِائَةَ adalah manshub karena ia mewakili kata yang menunjukkan tempat (كِيلُومِتْرٍ).
[Logo image showing "RM" in stylized Arabic calligraphy]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
Dengan cara yang sama, kata 'berapa banyak' كَمْ berfungsi sebagai zarf jika ia mewakili kata waktu/tempat.
| 'Berapa lama anda tinggal?' (Berapa hari/jam) anda tinggal?' | كَمْ لَبِثْتَ ؟ |
|---|---|
| 'Berapa (kilometer) anda telah berjalan?' | كَمْ مَشَيْتَ ؟ |
- Harf لَوْ digunakan untuk mengekspresikan syarat yang tidak terpenuhi di masa lalu.
Contoh:
| 'Kalau saja engkau berusaha keras, engkau pasti lulus' | لَوْ اجْتَهَدْتَ لَـنَجَحْتَ |
|---|
Ini artinya engkau tidak berusaha keras, sehingga akibatnya engkau tidak lulus.
Dalam Bahasa Arab disebut حَرْفُ امْتِنَاعٍ لاِمْتِنَاعٍ yang berarti bahwa harf ini menjelaskan sesuatu yang tidak terjadi disebabkan oleh hal lain.
Sebagaimana yang anda lihat, kalimat ini terdiri dari dua bagian. Bagian kedua disebut jawab. Dalam contoh di atas, لَـنَجَحْتَ adalah jawab.
Jawab mengambil lam (di awal). Lam ini sebagian besar dihilangkan apabila jawab berbentuk negatif. Contoh:
| 'Kalau saja saya tahu engkau sakit, saya pasti tidak akan terlambat' | لَوْ عَرَفْتُ أَنَّكَ مَرِيضٌ مَا تَأَخَّرْتُ |
|---|
Berikut beberapa contoh tentang لَوْ.
| 'Kalau saja engkau mendengar ceritanya, engkau pasti akan menangis." | لَوْ سَمِعْتَ قِصَّتَهُ لَبَكَيْتَ |
|---|---|
| 'Kalau saja engkau hadir kemarin, saya tidak akan mengadu kepada kepala sekolah | لَوْ حَضَرْتَ أَمْسِ مَا شَكَوْتُكَ إِلَى الْمُدِيـــرِ |
| 'Makanan ini rusak. Kalau saja orang-orang memakannya, mereka pasti akan sakit' | هٰذَا الطَّعَامُ فَاسِدٌ. لَوْ أَكَلُوا أُنَاسٌ لَمَرِيضُوا |
| 'Kalau saja saya tahu perjalanan itu hari ini, saya pasti tidak akan terlambat' | لَوْ أَرَفْتُ أَنَّ الرِّحْلَةَ الْيَوْمَ مَا تَـــأَخَّرْتُ |
- Dalam قَبْلُ مِنْ kata قَبْلُ adalah mabni. قَبْلُ dan بَعْدُ menjadi mabni ketika mudhaf ilaih setelahnya dihilangkan. Kita dapat mengatakan:
| 'Saya sekarang seorang guru, dan sebelumnya seorang kepala sekolah' | أَنَا الآنَ مُدَرِّسٌ وَ كُنْتُ مُدِيرًا مِنْ قَبْلُ ذٰلِكَ |
|---|
Disini, ذَلِكَ adalah mudhaf ilaihi. 'Sebelum itu' maksudnya 'sebelum menjadi seorang
guru'. Ketika mudhaf ilaihi disebutkan, قَبْلِ adalah mur'ab, dan mendapatkan akhiran jar
(-i) setelah kata depan مِنْ. Namun apabila mudhaf ilaihi dihilangkan ia menjadi mabni
dan kita katakan كُنْتُ مُدِيرًا مِنْ قَبْلُ yang dapat diartikan: 'dan sebelumnya saya
seorang
كَانَ بِلَالٌ مَعِي إِلَى السَّاعَةِ الْعَاشِرَةِ، وَلَمْ أَرَهُ بَعْدَ ذَلِكَ
'Bilal bersamaku sampai jam sepulu, tetapi saya tidak melihatnya setelah itu'.
Jika kita menghapus mudhaf ilaihi, kita katakan: وَلَمْ أَرَهُ مِنْ بَعْدُ 'Tetapi saya tidak
melihatnya lagi kemudian. Dalam Al-Qur'an (30:4):
"Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)"
لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ
🖎 Latihan:
Umum: Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut: Zarf
- Tunjukkanlah zuruf yang terdapat dalam pelajaran utama, dan tentukankanlah apakah ia zurufuz zaman atau zuruful makan.
- Tunjukkanlah zuruf mabni yang terdapat dalam pelajaran utama.
- Tunjukkanlah pada pelajaran utama, kata yang berfungsi sebagai zuruf.
- Tunjukkanlah zuruf pada kalimat-kalimat berikut, dan tentukanlah apakah ia zurufuz zaman atau zuruful makan.
- Tunjukkanlah zuruf pada ayat berikut, dan tentukanlah apakah ia zurufuz zaman atau zuruful makan.
- Buatlah tiga kalimat yang masing-masing terdapat bilangan yang berfungsi sebagai zarf.
- Buatlah tiga kalimat yang masing-masing isim isyarah berfungsi sebagai zarf.
- Gunakanlah setiap zuruf berikut kedalam kalimat.
Harf لَوْ.
- Tulislah masing-masing kalimat berikut dengan menggunakan لَوْ.
- Lengkapilah kalimat-kalimat berikut.
- Gunakanlah لَوْ dalam dua kalimat. Jawab pada kalimat pertama berupa penegasan dan pada kalimat kedua berupa negatif.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 3
-
Berikanlah bentuk mudhari setiap fi'il berikut.
-
Berikanlah bentuk mufrad dari kata زُوَّار dan شَدَاد.
-
Berikanlah bentuk jamak dari نَفْس dan جَرِيح.
-
Berikanlah lawan dari ضَرَّ.
-
Gunakanlah setiap kata berikut ke dalam kalimat.
[Decorative border pattern]
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- لَامُ الْأَمْرِ : Anda telah belajar pada Buku 2, contoh: 'tulislah!' اُكْتُبْ. Bentuk amr ini digunakan untuk perintah (atau meminta) orang kedua. Untuk memerintahkan (atau meminta) orang ketiga, bentuk لِيَكْتُبْ digunakan. Artinya 'hendaklah dia menulis' atau 'dia harus menulis'. Contoh:
| 'Hendaklah setiap siswa menuliskan namanya di kertas ini' | لِيَكْتُبْ كُلُّ طَالِبٍ اسْمَهُ فِي هٰذِهِ الْوَرَقَةِ |
|---|---|
| Hendaklah setiap siswi duduk di tempatnya' | لِتَجْلِسْ كُلُّ طَالِبَةٍ فِي مَكَانِهَا |
Bentuk ini digunakan juga untuk dhamir jamak mutakallim, contoh: لِنَأْكُلْ (li-na'kul) 'mari kita makan'
Lam yang digunakan dalam bentuk ini disebut لَامُ الْأَمْرِ. Ia digunakan dengan mudhari majzum.
لَامُ الْأَمْرِ berharakat kasrah, akan tetapi ia berharakat sukun setelah ثُمَّ dan فَ، وَ, contoh:
| 'Hendaklah setiap siswa duduk dan menulis' (li-yajlis wa l-yaktub, bukan wa li-yaktub) | لِيَجْلِسْ كُلُّ طَالِبٍ وَلْيَكْتُبْ |
|---|
| '(Kalau begitu) mari kita keluar' (fa l-nakhruj, bukan fa-li-nakhruj) | فَلْنَخْرُجْ |
|---|---|
| 'Hendaklah kita membaca sesuatu lalu tidur' (li-naqra' tsumma l-nanam, bukan li-naqra tsumma li-nanam) | لِنَقْرَأْ ثُمَّ نَنَمْ |
- Kita telah mempelajari dalam Buku 2 (Pelajaran 15). Berikut sebuah contoh: 'Jangan duduk disini!' لَا تَجْلِسْ هُنَا. Disana kita belajar penggunaan لَا النَّاهِيَة hanya dengan orang kedua (mukhaththab). Sekarang kita belajar untuk orang ketiga. Contoh:
| 'Jangan keluar seorang pun dari kelas' (Tidak seorang pun keluar dari kelas' | لَا يَخْرُجْ أَحَدٌ مِنَ الْفَصْلِ |
|---|
Perhatikan perbedaan kedua kalimat berikut:
| 'Taksi tidak memasuki universitas' (la tadkhulu) | لَا تَدْخُلُ سَيَّارَةُ الْعَجْرَةِ الْجَامِعَةَ |
|---|---|
| 'Taksi tidak boleh memasuki unviersitas' (la tadkhul) | لَا تَدْخُلْ سَيَّارَةُ الْعَجْرَةِ الْجَامِعَةَ |
لَا dalam kalimat pertama adalah لَا النَّافِيَة, dan pada kalimat kedua adalah لَا النَّاهِيَة.
Fi'il setelah لَا النَّافِيَة adalah مَرْفُوْع dan setelah لَا النَّاهِيَة adalah مَجْزُوْم.
- الْجَزْمُ بِالطَّلَبِ: Mudhari yang didahului oleh amr atau nahy<sup>39</sup> adalah majzum. Contoh:
| 'Bacalah sekali lagi, niscaya engkau akan mengerti' | اِقْرَأْهُ مَرَّةً أُخْرَى تَفْهَمْهُ |
|---|---|
| 'Jangan malas, niscaya engkau akan lulus' | لَا تَكْسَـــلْ تَنْجَحْ |
Ini disebut الْجَزْمُ بِالطَّلَبِ, yakni mudhari yang menjadi majzum karena amr atau nahy.
Kata طَلَب artinya permintaan dan digunakan untuk menyertakan amr dan nahy karena keduanya menunjukkan permintaan.
Mudhari majzum yang datang setelah amr atau nahy disebut جَوَابُ الطَّلَبِ.
<sup>39</sup> Nahy النَّاهِي adalah bentuk negative dari amr, contoh: 'Jangan duduk disini!' لَا تَجْلِسْ هُنَا.
- وَأَرْأَسَـــاهُ : Ini digunakan untuk mengekspresikan rasa sakit, dan ia disebut النُّدْبَةُ.
Dari رَأْسِي 'kepalaku' dhamir ya dihilangkan dan akhiran ـاهُ (âh) ditambahkan. Jika seseorang ingin mengekspresikan sakit di tangannya, ia berkata: يَدَاهُ : يَدَاهُ ( يَدِي ) وَأَيْدَاهُ yad-î 🡪 yadâh). Juga digunakan untuk mengekspresikan kesedihan. Untuk berduka cita atas kepergian بِلاَل kita katakan وَابِلاَلاَهُ 'Aduh Bilal!'
- Kita telah belajar mudhari majzum pada Buku 2 (Pelaran 15, 21) dan disana kita telah diperkenalkan dengan tiga dari empat partikel (harf) yang menyebabkan jazm dalam mudhari. Harf tersebut adalah لَمَّا dan لَمْ، لاَ النَّاهِيَةُ. Dan kita telah mempelajari harf ke empat dalam pelajaran ini: لاَمُ الأَمْرِ. Keempat harf ini disebut جَوَازِمُ الْمُضَارِعِ. Berikut beberapa ayat yang mengandung جَوَازِمُ ini.



