— Bagian 1 · DR V. Abdur Rahim —
Disusun dari indeks kitab digital SantriOnline.
Bagian 1
DR V. Abdur Rahim
PM
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
ii
Judul Asli : Key to Durus al-Lughat-al-Arabiyyah Li Ghairi Natiqina Biha Part III
Penulis : Dr. V. Abdur Rahim
Judul Terjemahan : Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah 4
Alih Bahasa : Ummu Abdillah al-Buthoniyyah
Design Sampul : MRM Graph
Disebarluaskan melalui:
[Logo image showing "RM" with Arabic text "مكتبة راضية المحبين" (Raudhatul Muhibbin Library)]
Website: <ins>http://www.raudhatulmuhibbin.org</ins>
e-Mail: <ins>redaksi@raduhatulmuhibbin.org</ins>
© Januari, 2009
TIDAK untuk tujuan KOMERSIL
iii
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala Puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ε, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikut mereka hingga hari kemudian. Amma ba'du.
Alhamdulillah, setelah setahun lebih setelah Panduan Durus Lughah al-Arabiyyah 3 dipulbikasikan, kali ini anda dapat kembali melanjutkan pelajaran berikutnya dari penjelasan kitab Durusul Lughah al-Arabiyyah jilid 4. Sebagaimana telah disinggung pada pengantar Panduan 3 yang lalu, Pannduan jilid 4 ini memuat setengah bagian akhir dari buku aslinya yang berbahasa Inggris (yakni bab 18 – 34) yang kami sesuaikan dengan buku utama Durusul Lughah al-Arabiyyah 4.
Sebagaimana pada terjemahan Panduan Jilid 3 sebelumnya, pada panduan ini kami tidak lagi menterjemahkan kata secara menyeluruh. Misalnya kata جَلَسَ 'dia duduk' tidak lagi kami terjemahkan dengan 'dia (lk) (telah) duduk, karena kami yakin sepenuhnya setelah melewati dua bagian pelajaran sebelumnya, para pembaca sudah maklum bahwa kata kerja (fi'il) tersebut di atas berbentuk lampau (madhi) yang digunakan untuk orang ketiga tunggal laki-laki (dhamir mudzakar mufrad), dan merupakan pola dasar yang digunakan secara umum yang darinya kata-kata bentuk lain diturunkan. Demikian pula halnya, tidak semua kata kami tuliskan harakatnya secara lengkap, khususnya bagi kata-kata yang telah sering kali diulang dari Buku Pertama.
Berbagai kritik maupun saran untuk perbaikan Panduan ini dapat anda layangkan kepada kami ke <ins>redaksi@raudhatulmuhibbin.org</ins>.
Penerbit online:
Maktabah Raudhah al-Muhibbin Taman Baca Pencinta Ilmu
iv
| Halaman Judul | ii | | Catatan Maktabah | iii | | Daftar Isi | iv | | Pelajaran 1: kalimat transitif, intransitif, dst. | 1 | | Pelajaran 2 : Bab فَاعَلَ dll. | 9 | | Pelajaran 3 : Bab تَفَعَّلَ | 14 | | Pelajaran 4 : Bab تَفَاعَلَ | 18 | | Pelajaran 5 : Bab اِنْفَعَلَ | 28 | | Pelajaran 6 : Bab اِفْتَعَلَ | 33 | | Pelajaran 7 : Bab اِفْعَلَّ | 39 | | Pelajaran 8 : Bab اِسْتَفْعَلَ | 42 | | Pelajaran 9 : الْفِعْلُ الرُّبَاعِيُّ | 48 | | Pelajaran 10: Jenis-Jenis Dhamir | 54 | | Pelajaran 11: مَفْعُولٌ المُطْلَقُ (obyek mutlak/absolut). | 59 | | Pelajaran 12: الْمَفْعُولُ لِأَجْلِهِ atau الْمَفْعُولُ لَهُ | 64 | | Pelajaran 13: التَّمْيِيزُ | 66 | | Pelajaran 14: الحَالُ | 69 | | Pelajaran 15: الإِسْتِثْنَاءُ | 73 | | Pelajaran 16: نُونُ التَّوْكِيدِ | 79 | | Pelajaran 17: الْمَمْنُوعُ مِنَ الصَّرْفِ | 84 |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Fi'il bisa berupa transitif atau intransifitif. Fi'il transitif (الْفِعْلُ الْمُتَعَدِّي) membutuhkan subyek yang melakukan pekerjaan, dan obyek yang dikenai pekerjaan, contoh:
'Tentara membunuh mata-mata' قَتَلَ الْجُنْدِيُّ الْجَاسُوسَ Disini tentanra yang melakukan pembunuhan, maka kata الْجُنْدِيُّ adalah fa'il (subyek), dan yang dikenai pekerjaan membunuh adalah mata-mata, maka kata الْجَاسُوسَ adalah maf'ul bihi (obyek). Berikut contoh lainnya:
'Ibrahim (alaihis salam( membangun Ka'bah' بَنَى إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ الْكَعْبَةُ
Fi'il intransitif (الْفِعْلُ اللَّازِمُ) hanya membutuhkan subyek yang melakukan pekerjaan. Pekerjaan itu dibatasi pada subyek, dan tidak mempengaruhi yang lainnya, contoh:
'Guru (itu) bahagia'. فَرِحَ الْمُدَرِّسُ 'Para siswa keluar' خَرَجَ الطُّلَّابُ
Subyek untuk fi'il tertentu mempengaruhi yang lain secara tidak langsung. Hal itu terjadi dengan bantuan kata depan, contoh: 'Saya melihat kepadanya', 'Kami percaya kepada Tuhan'. Hal ini juga terjadi dalam Bahasa Arab, contoh:
| 'Guru itu marah dengan siswa yang malas' | غَضِبَ الْمُدَرِّسُ عَلَى الطَّالِبِ الْكَسْلَانِ |
|---|---|
| 'Saya membawa pasien ke rumah sakit' | ذَهَبْتُ بِالْمَرِيضِ إِلَى الْمُسْتَشْفَى |
| 'Saya memandang ke gunung' | نَظَرْتُ إِلَى الْجَبَلِ |
| 'Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan dari golongaku' (al-hadits) | فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي |
| 'Saya ingin melihat syllabus sekolahmu' | أُرِيدُ أَنْ أَطَّلِعَ عَلَى مَنْهَجِ مَدْرَسَتِكَ |
| 'Saya tidak suka bersafar minggu ini' | لَا أَرْغَبُ فِي السَّفَرِ هَذَا الْأُسْبُوعَ¹ |
<sup>1</sup> Perhatikan bahwa رَغِبَ فِي الشَّيْءِ berarti menyukai sesuatu dan رَغِبَ عَنِ الشَّيْءِ berarti tidak menyukai sesuatu.
Obyek dari fi'il ini disebut الْمَفْعُولُ غَيْرُ الصَّرِيحِ (obyek tak langsung). Ia adalah majrur karena adanya kata depan (harf jarr), akan tetapi ia berada dalam posisi nasb ( فِي مَحَلِّ نَصْبٍ)
- Bagaimana membuat fi'il intransitif الْفِعْلُ اللَّازِمُ menjadi transitif الْفِعْلُ الْمُتَعَدِّي ?
Fi'il lazim dapat dibuat menjadi fi'il muta'addi dengan mengubahnya menjadi:
a) Bab fa''ala (فَعَّلَ), contoh نَزَلَ (nazala) 'dia turun' : نَزَّلَ (nazzala) 'dia menurunkan'.
'Saya turun dari mobil, kemudian menurunkan anak itu'
نَزَلْتُ مِنَ السَّيَّارَةِ ثُمَّ نَزَّلْتُ الطِّفْلَ
Proses merubah fi'il lazim menadi fi'il muta'addi dengan menggandakan huruf kedua disebut التَّضْعِيفُ (penggandaan).
b) Bab ?af'ala (أَفْعَلَ), contoh: جَلَسَ (jalasa) 'dia duduk' : أَجْلَسَ (?ajlasa) 'dia mendudukkan(nya)'
'Saya duduk di barisan pertama dan mendudukkan anak itu disebelahku'
جَلَسْتُ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ، وَأَجْلَسْتُ الطِّفْلَ بِجَانِبِي
Hazah yang dilekatkan di awal fi'il pada bab أَفْعَلَ disebut هَمْزَةُ التَّعْدِيَةِ (hamzah transitif)
Beberapa fi'il tertentu dapat dirubah menjadi kedua abwab ini, contoh: نَزَّلَ: نَزَلَ dan أَنْزَلَ. Sebagian besar fi'il dapat dirubah ke dalam salah satu dari keduanya. Seseorang harus mempelajarinya dari buku-buku dan kamus.
Jika fi'il muta'addi ditransfer kedalam salah satu dari abwab di atas, dia menjadi transitif ganda, dan mengambil dua obyek, Contoh:
| 'Saya belajar Bahasa Arab' Disini kata دَرَسَ memiliki satu obyek yaitu اللُّغَةَ. | دَرَسْتُ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ |
|---|---|
| "Saya mengajarimu Bahasa Arab' Disini ia memiliki dua obyek, yaitu كَ dan اللُّغَةَ. | دَرَّسْتُكَ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ |
| 'Guru mendengarkan Al-Qur'an' | سَمِعَ الْمُدَرِّسُ الْقُرْآنَ |
|---|---|
| 'Para siswa membacakan Al-Qur'an kepada guru' (Secara harafiah: 'Para siswa membuat guru mendengarkan Al-Qur'an) | أَسْمَعَ الطُّلَّابُ الْمُدَرِّسَ الْقُرْآنَ |
- أَرَى (?arâ) 'Dia memperlihatkan' adalah bab ?af'ala (بَابُ أَفْعَلَ) dari رَأَى 'dia melihat;. Asalnya adalah أَرْأَى (?ar?â) tetapi hamzah kedua telah dihapus. Bentuk mudhari adalah يُـرِي (yurî), dan bentuk amr adalah أَرِ (?ari). Berikut bagaimana bentuk amr di-isnad-kan kepada dhamir lain pada dhamir mukhathab (kata ganti orang kedua).
| أَرِنِي هٰذَا الْكِتَابَ يَا عَلِيُّ | أَرُونِي هٰذَا الْكِتَابَ يَا إِخْـوَانُ |
|---|---|
| أَرِيـنِي هٰذَا الْكِتَابَ يَا مَرْيَمُ | أَرِيـنَـنِي هٰذَا الْكِتَابَ يَا أَخَوَاتُ |
- Kita baru saja melihat sebuah fi'il ditransfer menjadi bab fa''ala (فَعَّلَ) dan menjadi transitif, contoh نَزَّلَ dari نَزَلَ. Jika fi'il tersebut pada asalnya adalah bentuk transitif dengan satu obyek, maka dia menjadi transitif ganda dengan dua obyek, contoh: دَرَّسَ dari دَرَسَ.
Bab ini juga menandakan pekerjaan ekstensif atau intensif. Dalam Bahasa Arab, yang pertama disebut الْتَكْثِيرُ dan yang kedua disebut الْمُبَالَغَةُ.
a) Perbuatan ekstensif adalah yang dilakukan dalam jumlah besar atau dilakukan berulang-ulang. Contoh:
| "Orang jahat itu membunuh laki-laki itu" Tetapi: "Orang jahat itu membantai penduduk desa' | قَتَلَ الْمُجْرِمُ الرَّجُـلًا<br/>قَتَّلَ الْمُجْرِمُ أَهْلَ الْقَرْيَةِ |
|---|---|
| 'Saya pergi keliling negeri ini', tetapi: | جُلْتُ فِي هٰـذَا الْبَلَدِ |
| 'Saya telah bepergian keliling dunia.' | جَوَّلْتُ فِي مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا |
| 'Saya membuka pintu', tetapi: | فَتَحْتُ الْبَابَ |
| 'Saya membuka pintu-pintu ruang kelas' | فَتَّحْتُ أَبْوَابَ الْفُصُولِ |
| 'Laki-laki itu menghitung hartanya' | عَدَّ الرَّجُلُ مَالَهُ |
|---|---|
| 'Laki-laki itu menghitung-hitung hartanya' | عَدَّدَ الرَّجُلُ مَالَهُ |
b) Perbuatan intensif adalah sesuatu yang dikerjakan secara keseluruhan dan dengan kekuatan besar, contoh:
| 'Saya memecahkan gelas', tetapi: | كَسَرْتُ الْكُوبَ |
|---|---|
| 'Saya menghancurkan gelas' | كَسَّرْتُ الْكُوبَ |
| 'Saya memotong tali' , tetapi: | قَطَعْتُ الْحَبْلَ |
| 'Saya memotong-motong tali' | قَطَّعْتُ الْحَبْلَ |
Perhatikan bawha dalam perbuatan ekstensif التَّكْثِيرُ mempengaruhi sejumlah obyek, atau satu obyek berulang-ulang, sedangkan perbuatan intensif الْمُبَالَغَةُ mempengaruhi hanya satu obyek sekali dengan kekuatan besar.
- إِيَّاكَ وَالْكِلاَبَ berarti 'Hati-hati terhadap anjing!" Ini disebut التَّحْذِيرُ tahdzir (peringatan). Perhatikan bahwa isim setelah waw adalah manshub. إِيَّاكَ adalah untuk mufrad mudzakkar. Untuk jamak mudzakar adalah إِيَّاكُمْ, untuk mufrad muanntas adalah إِيَّاكِ dan untuk jamak muannats adalah إِيَّاكُنَّ.
Berikut ini adalah hadits:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
"Berhati-hatilah terhadap hasad, karena hasad memakan amal kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar."
- إِنَّمَا أَنَا مُدَرِّسٌ berarti 'Saya hanyalah seorang guru', yakni saya seorang guru dan bukan yang lainnya. إِنَّمَا adalah إِنَّ ditambah مَا . مَا ini disebut مَا الْكَافَّةُ , yakni ma pelindung karena ia melindung إِنَّ dari merubah isim berikutnya menjadi manshub. Kita katakan:
| "Sesungguhnya amal itu hanya dengan niat' | إِنَّـمَـا الأَعْـمَـلُ بِالنِّـيَـاتِ |
|---|
Disini الْأَعْمَـلُ adalah marfu dan bukan manshub. Tidak seperti إِنَّ kata أَنَّمَا juga digunakan dalam jumlatul fi'liyah. Contoh; 'Dia hanya berdusta' إِنَّمَا يَكْذِبُ
$$\text{إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ}$$
" Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian," (QS At-Taubah [9] : 19)
- وَاللهِ 'Demi Allah' adalah sumpah.<sup>2</sup> Dalam Bahasa Arab disebut الْقَسَمُ, dan kalimat yang mengikuti qasam disebut jawabul qasam (جَوَابُ الْقَسَمِ). Apabila jawabul qasam diawali oleh madhi dan merupakan penegasan, maka ia harus mengambil kata penekanan لَقَدْ. Contoh:
| 'Demi Allah, saya sangat senang' | وَاللهِ لَقَدْ فَرِحْتُ كَثِيرًا |
|---|
Namun jika fi'il madhi adalah bentuk ingkar (negatif), maka ia tidak mengambil huruf yang menunjukkan penekakan. Contoh:
| 'Demi Allah, saya tidak melihatnya' | وَاللهِ مَا رَأَيْتُـهُ |
|---|
-
Fi'il أَمْسَـى adalah saudara كَانَ. Artinya 'Ia (lk) berada di waktu petang', contoh: 'Cuaca baik di waktu petang; أَمْسَى الْجَوُّ لَطِيفًا. Disini الْجَوُّ adalah isim-nya dan لَطِيفًا adalah khabar. Lihat أَصْبَحَ dalam Pelajaran 17 (Buku Panduan 3).
-
إِنَّ بِي صُدَاعًا شَدِيدًا 'Saya menderita sakit kepala berat'
| 'Kamu sakit apa, Zainab?'³ | مَاذَا بِكِ يَا زَيْنَبُ ؟ |
|---|
<sup>2</sup> waw yang digunakan untuk sumpah adalah huruf jarr (kata depan), itu sebabnya isim yang mengikutinya adalah majrur. Hal ini jangan dipertukarkan dengan waw al-tf (وَاوُ الْعَطْفِ) yang berarti 'dan'.
<sup>3</sup> Lihat Pelajaran 2.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Perhatikan bahwa kata yang menunjukkan penyakit adalah dalam pola فُعَالٌ (fu'âl).
Contoh ضُدَاعٌ 'sakit kepala', زُكَامٌ 'demam', دُوَارٌ 'vertigo', سُعَالٌ 'batuk'.
-
Salah satu pola masdar adalah فَعَالٌ (fa'âl), contoh: ذَهَابٌ 'pergi' dari ذَهَبَ -- نَجَاحٌ 'sukses' dari نَجَحَ.
-
Bentuk jamak dari طَرِيقٌ adalah طُرُقٌ ; dan bentuk jamak طُرُقٌ adalah طُرُقَاتٌ. Ini disebut جَمْعُ الْجَمْعِ (jamak dari jamak). Beberapa isim memiliki جَمْعُ الْجَمْعِ. Contoh : يَدٌ 'tangan' 🡪 أَسَاوِرُ 🡪 أَسْوِرَةٌ 🡪 'gelang' سِوَارٌ --- أَمَاكِنُ 🡪 أَمْكِنَةٌ 🡪 'tempat' مَكَانٌ
آيَادٌ 🡪 أَيْدٍ
Sebagian besar جَمْعُ الْجَمْعِ memiliki arti jamak. Tetapi dalam beberapa kasus ia memiliki arti yang berbeda, contoh: أَيْدٍ berarti 'tangan-tangan', tetapi آيَادٌ berarti 'karunia -- بَيْتٌ berarti 'rumah', tetapi بَيُوتَاتٌ berarti 'keluarga terhormat'.
- دَرَى 'Dia (telah) mengetahui', أَدْرَى 'dia membuatnya (lk) mengetahui', yakni 'dia memberitahukan-(kepada)-nya'.
| 'Dan apa yang menginformasikan kepadamu kalau dia berdusta?' = 'Bagaimana kamu tahu dia berdusta?' | وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهُ يَكْذِبُ ؟ |
|---|
Dalam Al-Qur'an (97:1-3):
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
" Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
Ungkapan ini telah digunakan di dalam Al-Qur'an kurang lebih sebanyak tiga belas kali.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
- Arti dari syair berikut:
وَلَمْ أَرَ كَالْمَعْرُوفِ : أَمَّا مَذَاقُـــهُ فَحُلْوٌ، وَأَمَّا وَجْهُـــهُ فَجَمِيْلُ
'Aku tidak pernah melihat sesuatu seperti amal baik, rasanya seperti manisan dan wajahnya sangat indah'<sup>4</sup>
Umum:
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
Fi'il transitif (اَلْفِعْلُ الْمُتَعَدِّي) dan intransitif (اَلْفِعْلُ اللَّازِمُ):
Pisahkanlah fi'il transitif dan intrasitif dalam kalimat-kalimat berikut.
Ubahlah **fi'il intransitif menjadi transitif:
- Gunakanlah setiap fi'il berikut ini ke dalam dua kalimat: pada kalimat pertama sebagaimana adanya, dan kalimat kedua setelah merubahnya menjadi bab ?af'ala.
- Gunakanlah setiap fi'il berikut ke dalam kalimat: pada kalimat pertama sebagaimana adanya, dan yang kedua setelah merubahnya menjadi bab fa''ala.
- Dengan proses apa fi'il yang digarisbawahi dalam kalimat berikut dirubah ke dalam bentuk transitif?
Fi'il أَرَى (dia menunjukkan/memperlihatkan):
-
Latihan pengucapan: Salah seorang siswa mengatakan kepada yang lainnya أَرِنِي كِتَابَكَ dan yang lain menjawabnya dengan سَأُرِيْكَهُ بَعْدَ قَلِيْلٍ atau لَا أُرِيْكَــــهُ.<sup>5</sup>
-
Latihan pengucapan: Guru berkata kepada seorang siswa أَأَرَيْـــتِـــنِي دَفْـــتَـــرَكِ؟ 'Apakah kamu telah menunjukkan bukumu kepadaku?' Dia menajwab نَعَمْ، أَرَيْتُكَهُ 'Ya, Saya telah menunjukkan kepadamu'<sup>6</sup>.
Bab fa'aala menunjukkan pekerjaan ekstensif (اَلتَّكْثِيْرُ) dan intensif (اَلْمُبَالَغَةُ):
Garisbawahilah fi'il yang termasuk dalam bab fa''ala dalam ayat berikut dan jelaskan maknanya.
<sup>4</sup> Kata جَمِيْلٌ seharusnya memiliki tanwin, tetapi telah dihapuskan untuk alasan metris (keserasian)
<sup>5</sup> Siswi berkata kepada siswi lainnya أَرِيْـــنِي كِتَابَكِ. Yang lain menjawab سَأُرِيْكِهِ بَعْدَ قَلِيْلٍ / لَا أُرِيْـــكِـــهُ.
<sup>6</sup> Guru berkata kepada siswi: أَأَرَيْـــتِـــنِي دَفْتَرَكِ؟ (?a ?araitinî daftaraki)
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan أَمْسَى.
إِنَّ بِيَ صُدَاعًا :
-
Tulislah i'rab dari إِنَّ بِيَ صُدَاعًا.
-
Jawablah setiap pertanyaan berikut dengan menggunakan nama-nama penyakit yang disebutkan di dalam kurung.
-
Berikanlah masdar setiap fi'il berikut.
-
Gunakanlah setiap kata berikut dalam kalimatmu sendiri.
-
Latihan pengucapan: Setiap siswa berkata kepada temannya sesuatu seperti سَيَرْجِعُ غَدًا الْمُدِيرُ. Dan dia menjawab dengan mengatakan وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهُ يَرْجِعُ غَدًا.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab فَاعَلَ (fa'ala): Dalam bab ini, alif ditambahkan setelah huruf pertama, contoh: قَابَلَ 'dia bertemu', سَاعَدَ 'dia menolong, حَاوَلَ 'dia mencoba', رَاسَلَ 'dia menulis (surat), شَاهَدَ 'dia menyaksikan, لَاقَى 'dia bertemu'.
Mudhari : Karena fi'il terdapat dalam empat huruf, حرف المضارعة mengambil dhamah, contoh: يُلَاقِي ، يُحَاوِلُ ، يُسَاعِدُ ، يُقَابِلُ (yu-qâbil-u)
Amr : Setelah menghapus حرف المضارعة dan harakat akhir dari تُقَابِلُ kita mendapatkan قَابِلْ (tu- qâbil-u : qâbil). Ya dihapus dari fi'il nâqis. Maka bentuk amr dari تُلَاقِي adalah لَاقِ.
Masdar : Bab ini memiliki dua masdar:
a) Satu mengikuti pola مُفَاعَلَةٌ (mufâ'alat-un), contoh: مُسَاعَدَةٌ : سَاعَدَ 'pertolongan' -- مُقَابَلَةٌ : قَابَلَ 'pertemuan' -- مُحَاوَلَةٌ : حَاوَلَ ' hal mencoba'.
Dalam fi'il naqis, -aya- dirubah menjadi –â-, contoh: مُلَاقَـاةٌ : لَاقَى (mulâqât-un) dari bentuk asalnya مُلَاقَـيَـةٌ (muâqayat-un) -- مُبَارَاةٌ : بَـارَى 'kontes, pertandingan' (mubârât-un) dari bentuk asalnya مُبَارَيَةٌ (mubârayat-un).
b) Yang lain dalam pola فِعَالٌ (fi'âl-un), contoh: جِهَادٌ : جَاهَدَ 'berjuang' -- نِـفَاقٌ : نَـافَقَ 'bersifat munafik'. Dalam fi'il naqis, ya dirubah menjadi hamzah, contoh: : نَادَى نِدَاءٌ 'memanggil' (nidâ'-un) untuk bentuk asal نِدَايٌ (nidây-un).
Ismul Fa'il : مُرَاسِلٌ : مُرَاسِل (mur āsil-un) 'orang yang mengirim surat' – : مُشَاهِدٌ مُشَاهِد 'orang yang menyaksikan' – مُلَاقٍ : مُلَاقِي (mulāqi-n) 'orang yang menemui' – مُنَـادٍ : مُنَـادِي (munādi-n) 'orang yang memanggil'.
Ismul maf'ul : Ini sama seperti ismul fa'il kecuali huruf kedua berharakat fathah. Contoh: مُرَاقِبٌ : مُرَاقَب (murāqib-un) 'orang yang mengawasi' : مُرَاقَبٌ (murāqab-un) 'orang yang diawasi' – مُخَاطِبٌ : مُخَاطَب (mukhātib-un) 'orang yang berbicara' : مُخَاطَبٌ (mkhātab-un) 'orang yang diajak bicara' -- يُبَارِكُ 'dia memberkahi' : مُبَارَكٌ (mubārak-un) 'keberkahan' – مُنَادٍ : مُنَادِي (munādi-n) 'orang yang memanggil' : مُنَادَى (munāda-n) 'orang yang dipanggil'.
Isim makan wa zaman: sama dengan ismul maf'ul, contoh: مُهَاجِرٌ 'dia hijrah' مُهَاجَرٌ (muhājar-un) 'tempat hijrah'.
- Kita telah melihat lamul ibtida' pada Pelajaran 17 (Buku 3), contoh: لَبَيْتُكَ أَجْمَلُ 'Sungguh rumahmu lebih indah.' Sekarang jika kita juga ingin menggunakan إِنَّ dalam kalimat ini, lam harus dipindahkan pada khabar karena dua huruf penekanan tidak boleh terletak bersama dalam satu tempat. Maka kalimat di atas menjadi: إِنَّ بَيْتَكَ لَأَجْمَلُ 'Sungguh rumahmu lebih indah.' Setelah dipindahkan dari tempat asalnya, lam tidak lagi disebut lamul ibtda'. Sekarang ia disebut اللَّامُ الْمُزَحْلَقَةُ (lam yang digantikan).
Sebuah kalimat dengan إِنَّ dan lam lebih tegas daripada hanya dengan إِنَّ atau dengan lam. Berikut beberapa contoh:
| "Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba" (QS 29 : 41) | إِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ |
|---|---|
| "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa." (QS 37: 4) | إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ |
| " Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah)" (QS 3:96) | إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ |
| "Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." (QS 31:19) | إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
- Harf قَدْ dilekatkan pada fi'il madhi dan mudhari.
a) Dengan madhi ia menunjukkan kepastian (التَّأْكِيْدُ). Contoh:
| 'Guru telah memasuki ruang kelas' | قَدْ دَخَلَ الْمُدَرِّسُ الْفَصْلَ |
|---|---|
| 'Kamu ketinggalan banyak pelajaran' | قَدْ فَاتَـكَ دُرُوْسٌ |
b) Dengan mudhari ia menunjukkan salah satu dari yang berikut:
- Keraguan atau kemungkinan (الشَّكُّ وَالاِحْتِمَـالُ), contoh:
| 'Kepala sekolah mungkin kembali besok | قَدْ يَعُوْدُ الْمُدِيْرُ غَـدًا |
|---|---|
| 'Hujan mungkin turun hari ini' | قَدْ يَنْزِلُ الْمَطَرُ الْيَوْمَ |
- Jarang atau kurang (التَّقْلِيْلُ), yakni ia menyampaikan maksud 'kadang-kandang, Contoh:
| 'Siswa yang malas kadang-kadang lulul ujian' | قَدْ يَنْجَحُ الطَّالِبُ الْكَسْلَانُ |
|---|---|
| 'Seorang pembohong kadang berkata benar' | قَدْ يَصْدُقُ الْكَذُوْبُ |
- Kepastian (التَّحْقِيْقُ), contoh:
| " sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?" (QS 61:5) | وَقَدْ تَعْلَمُوْنَ أَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ |
|---|
- Bentuk jamak dari ذُوْ adalah ذَوُوْ. Ia adalah mabni seperti jamak mudzakar salim, yakni akhiran rafa-nya adalah waw dan nashb/jar-nya adalah ya. Contoh: Rafa:
| 'kerabat lebih berhak mendapatkan pertolonganmu' | ذَوُوْ الْقُرْبَى أَحَقُّ بِمُسَاعَدَتِكَ |
|---|
Disini ذَوُوْ adalah marfu karena ia adalah mubtada dan akhiran rafa' adalah waw (dzawu)
Nashab:
| 'Tolonglah orang-orang yang berilmu' | سَـــاعِدْ ذَوِي الْعِلْمِ |
|---|
Disini ذَوِ adalah manshub karena ia adalah maf'ul bihi dan akhiran nashab adalah ya (dzawiy)
Jarr:
| 'Saya bertanya tentang orang-orang yang memiliki hajat' | سَأَلْتُ عَـنْ ذَوِي الْحَـاجَـاتِ |
|---|
Disini ذَوِ adalah majrur karena ia didahului oleh harful jarr, dan akhiran jarr adalah ya (dzawiy).
- Kita telah mempelajari لَكِنَّ dalam Buku 2 (Pelajaran 3). Ia adalah saudari إِنَّ dan isim-nya adalah manshub. Contoh:
| 'Bilal datang tetapi Hamid tidak datang' | جَاءَ بِلاَلٌ، لَكِنَّ حَامِداً لَمْ يَجِئْ |
|---|
Nun-nya memiliki shaddah, akan tetapi ia juga digunakan tanpa shaddah yakni لَكِنْ (lakin), dan dalam keadaan ini ia kehilangan dua karakteristiknya:
a) Ia tidak mengubah isim yang mengikutinya menajdi manshub. Contoh:
| Guru datang tetapi murid-murid tidak datang' | جَاءَ الْمُدَرِّسُ، لَكِنِ الطُّلاَّبُ مَا جَاءُوا |
|---|
Disini الطُّلاَّبُ adalah marfu.
| " Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata." (QS 19:38) | لَكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ |
|---|
Perhatikan الظَّالِمُونَ bukan الظَّالِمِينَ.
b) Ia juga dapat digunakan dengan jumlatul fi'liyah. Contoh:
| 'Ali absen, tetapi Ahmad hadir' | غَابَ عَلِيٌّ، وَلَكِنْ حَضَرَ أَحْمَدُ |
|---|---|
| " tetapi mereka tidak sadar." (QS 2"12) | وَلَـكِـنْ لاَ يَشْعُـرُونَ |
- كَ dalam ذَلِـكَ، تِلْـكَ، أُولَـئِكَ dapat digantikan dengan كَ، كُمْ dan كُنَّ sesuai dengan orang yang anda ajak bicara. Contoh:
| لِمَنْ ذَلِكَ الْبَيْتُ يَا بِـلاَلُ ؟ | لِمَنْ ذَلِكُـمُ الْبَيْـتُ يَا إِخْوَانُ ؟ |
|---|---|
| لِمَنْ ذَلِكِ الْبَيْتُ يَا مَرْيَمُ ؟ | لِمَنْ ذَلِكُـنَّ الْبَيْتُ يَا أَخَوَاتُ ؟ |
| تِلْكُمُ السَّاعَةُ جَمِيلَةٌ يَا إِخْوَانِ | تِلْكَ السَّاعَةُ جَمِيلَةٌ يَا حَامِدُ |
|---|---|
| تِلْكُنَّ السَّاعَةُ جَمِيلَةٌ يَا أَخَوَاتِ | تِلْكَ السَّاعَةُ جَمِيلَةٌ يَا مَرْيَمُ |
Ini disebut تَصَرُّفُ كَافِ الْخِطَابِ dan ia adalah pilihan.
Di dalam Al-Qur'an:
| 'Itu lebih baik bagi kalian" | ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ |
|---|---|
| "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu" (54:43)<br/>Jibril berkata: "Demikianlah". (19:21) | أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَئِكُمْ<br/>قَالَ كَذَلِكَ |
| "Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (7:43) | وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ |
-
Mudhari kadang-kadang digunakan untuk amr sebagaimana dalam Al-Qur'an (51:11) يَغْفِرُ 'beriman'. Itu sebabnya mengapa يَغْفِرُ adalah آمِنُوا .Disini تُؤْمِنُونَ adalah آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ تُؤْمِنُونَ dalam ayat berikutnya adalah majzum.<sup>7</sup>
-
Salah satu pola masdar adalah فِعَالَةٌ (fi'âlat-un), contoh: عَادَ : عِيَادَةٌ 'membesuk' – قَرَأَ : قِرَاءَةٌ 'hal membaca'.
-
مَضِيٌّ 'lewat, berlalu' adalah masdar dari مَضَى. Ia mengikuti pola فُعُولٌ dan asalnya adalah مُضُوِيٌ (mudûy-un), etapi karena ya yang terakhir, waw telah diubah menjadi ya. dan dhammah dari ض karenanya diubah menjadi kasrah, dan kata tersebut menjadi مُضِيٌّ (mudiyy-un).
-
Pola jamak taksir فَعَالِلُ (fa'âlil-u) seperti دَفَاتِرُ، فَنَادِقُ, disebut مُنْتَهَى الْجُمُوعِ, dan bentuk mufrad-nya memiliki empat huruf<sup>8</sup> (فُنْدُقٌ، دَفْتَرٌ). Jika bentuk jamak dari sebuah kata dengan lebih dari empat huruf mengikuti pola ini, hanya empat huruf yang dipertahankan dalam bentuk jamak dan yang lainnya ditinggalkan. Contoh: بَرْنَـامِجُ
<sup>7</sup> Untuk الجَزْمُ بِالطَّلَبِ lihat Pelajaran 13 (Panduan 3).
<sup>8</sup> Pola jamak فَعَالِيلُ juga disebut مُثَنَّى الْجُمُوعِ contoh: دَكَاكِينُ : دُكَّانٌ – فَنَاجِينُ : فِنْجَانٌ
'program' memiliki enam huruf. Bentuk jamak-nya adalah بَرَامِجُ. Perhatikan bahwa huruf ن dan alif telah ditinggalkan.
Berikut contoh tambahan: سَفَرْجَلٌ 'buah quince' : سَفَارِجُ -- عَنْكَبُوتٌ 'labar-laba' : عَنَاكِبُ -- عَنْدَلِيبٌ 'burung bul-bul' : عَنَادِلُ -- مُسْتَشْفَى 'rumah sakit' : مُشَافٍ.<sup>9</sup>
- Jamak dari خَطِيئَةٌ adalah خَطَايَا. Berikut beberapa contoh dalam pola ini: هَدِيَّـةٌ 'hadiah' : هَدَايَا -- مِنِيَّةٌ 'nasib, kematian' : مَـنَايَا -- زَاوِيَةٌ 'sudut, pojok' : زَوَايَا.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Tunjukkanlah fi'il yang tergolong dalam bab فَاعَلَ yang terdapat dalam pelajaran utama.
- Tulislah bentuk mudhari, amr dan masdar setiap fi'il berikut.
- Berikanlah masdar setiap fi'il berikut dengan pola فِعَالٌ.
- Berikanlah isimul fa'il setiap fi'il berikut.
- Berikanlah ismul fa'il dan ismul maf'ul setiap fi'il berikut.
- Tunjukkanlah dalam kalimat berikut fi'il yang termasuk dalam bab فَاعَلَ dan turunannya.<sup>10</sup>
- Tulislah masdar setiap fi'il berikut dalam pola فِعَالَةٌ.
- Berikanlah masdar dari هَوَى يَهْوِي dengan tetap mengingat masdar مَضَى يَمْضِي.
- Berikanlah jamak setiap isim berikut dalam pola خَطَايَا.
- Berikanlah bentuk fi'il yang darinya kata perbadingan أَوْهَنُ diturunkan, dan berikan bentuk mudhari dan masdar-nya. Juga berikan empat ayat dimana terdapat fi'il ini atau salah satu dari turunannya.
- Berikan bentuk mudhari setiap fi'il berikut.
<sup>9</sup> مُسْتَشْفَى juga memiliki jamak muanntas salim مُسْـتَـشْـفَـيَـاتٌ. <sup>10</sup> Nomor yang dihilangkan bukan berupa pertanyaan.
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab تَفَعَّلَ. Bab ini dibentuk dengan melekatkan ta di awal bab فَعَلَ (ta + fa''ala).
Contoh: تَعَلَّمَ 'dia belajar' -- تَكَلَّمَ 'dia berbicara' -- تَغَدَّى 'dia makan siang' – تَلَقَّى 'dia menerima'.
Mudhari: Karena fi'il dibentuk dari lima huruf, maka حرف المضارعة mengambil fathah.
Contoh: يَتَكَلَّمُ (ya-takallam-u), يَتَلَقَّى (ya-talaqqâ).
Bab ini diawali dengan ta, dan jika حرف المضارعة adalah ta, kedua ta datang bersamaan, dan kombinasi sulit untuk diucapkan. Itulah sebabnya mengapa salah satu ta dapat dihapus dalam tulisan. Berikut ini dua contoh dari Al-Qur'an:
| "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril" (97:4) | تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا |
|---|
Perhatikan تَنَزَّلُ untuk تَتَنَزَّلُ.
| " Dan janganlah mencari-cari keburukan orang" (49:12) | وَلَا تَجَسَّسُوا |
|---|
Perhatikan تَجَسَّسُوا untuk لَا تَتَجَسَّسُوا.
Amr : Dibentuk dengan menghapus حرف المضارعة dan harakat akhir. Contoh: تَكَلَّمْ
: تَكَلَّمُ (ta-takallam-u : takallam). Fi'il naqis membuang alif akhir (yang ditulis ya).
Contoh: تَتَغَدَّى (ta-taghaddâ) : تَغَدَّ (taghadda) 'makan siang'.
Masdar : Masdar dari bab ini pada pola تَفَعُّلٌ (tafa''ul-un), contoh: تَحَدَّثَ 'dia berbicara'
: تَحَدُّثٌ 'hal berbicara' -- تَذَكَّرَ 'dia mengingat' : تَذَكُّرٌ 'hal mengingat'. Pada fi'il naqis, karena huruf terakhir ya, dhammah pada huruf kedua berubah menjadi kasrah. Contoh: تَلَقَّى 'dia menerima' : (التَّلَقِّي) تَلَقٍّ (talaqqi-n untuk talaqquy-un).
Ismul Fa'il : Dibentuk dengan mengganti حرف المضارعة dengan mu-. Huruf kedua berharakat kasrah dalam ismul fa'il dan fathah dalam ismul maf'ul, contoh: مُتَعَلِّمٌ – مُتَعَلَّمٌ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
يَتَزَوَّجُ : مُتَزَوِّجٌ (ya-tazawwaj-u : mutazawwij-un). Berikut contoh ismul maf'ul : مُتَكَلَّمٌ
: مُتَكَلَّمٌ (mutakallam) 'orang yang diajak berbicara.'
Ismul makan was-zaman : Sama dengan ismul maf'ul. Contoh: مُتَوَضَّأٌ 'tempat
wudhu', مُتَنَفَّسٌ 'tempat bernafas'.
Bab ini diantaranya menunjukkan mutawa'ah (الْمُطَاوَعَةُ) yang berarti bahwa obyek dari
kata kerja menjadi subyek. Contoh: زَوَّجَنِي أَبِي زَيْنَبَ 'Ayahku menikahkan aku dengan Zainab'. Disini 'ayahku' adalah subyek. Terdapat dua obyek yaitu 'saya' dan Zainab . Sekarang jika bab taf''ala digunakan, 'saya' berubah menjadi subyek, dan Zainab menjadi obyek, dan kata 'ayahku' tidak memiliki peran lagi : تَزَوَّجْتُ زَيْنَبَ 'Saya menikahi Zainab'
Berikut contoh yang lain:
| "Bilal mengajariku berenang' | عَلَّمَنِي بِلاَلٌ السِّبَاحَةَ |
|---|---|
| 'Saya belajar berenang' | تَعَلَّمْتُ السِّبَاحَةَ |
- لَمَّا سَمِعْتُ الأَذَانَ ذَهَبْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ 'Keika saya mendengar adzan, saya pergi ke
masjid' Disini لَمَّا adalah zarf az-zaman berarti 'ketika'. Fi'il yang mengikutinya adalah jawab harus dalam bentuk madhi. Contoh:
'Ketika Ruqayyah meninggal dia menikahi saudarinya'
' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". (QS 6:77)
لَمَّا مُوقِيَتَ رُقَيَّةُ تَزَوَّجَ أُخْتَهَـا
<ins>فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَـذَا رَبِّي</ins>
لَمَّا ini disebut لَمَّا الْحِـيـنِـيَّـةُ (lamma untuk waktu). Ia tidak boleh dipertukarkan
dengan لَمَّا yang berarti 'belum' yang disebut لَمَّا الْجَازِمَةُ.<sup>11</sup>
- Kata نَحْنُ 'kami' terkadang membutuhkan pengkhususan, contoh: نَحْنُ الطُّلاَبُ
'kami para siswa, نَحْنُ التُّجَّارُ 'kami para pedagang', نَحْنُ مُسْلِمُونَ 'kami orang-orang
muslim'. Proses ini disebut الاِخْتِصَـاصُ dan isim yang mengikuti نَحْنُ disebut الْمَخْصُوصُ. Sebagaimana yang anda lihat isim ini manshub, karena ia adalah maf'ul bihi dari fi'il
<sup>11</sup> Lihat Buku 2 (Pelajaran 21)
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
yang semestinya أَخُصُّ 'saya mengkhususkan, saya maksudkan'. Berikut beberapa contoh:
| 'Kami orang-orang India berbicara (dalam) beberapa bahasa.' | نَحْنُ الْهُنُودُ نَتَكَلَّمُ عِدَّةَ لُغَاتٍ |
|---|---|
| 'Kami muslim tidak makan babi' | نَحْنُ الْمُسْلِمِينَ لَا نَأْكُلُ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ |
| 'Kami siswa-siswa yang berprestasi menerima ijazah' | نَحْنُ الطَّلَبَةُ الْمُتَفَوِّقِينَ حَصَّلْنَا عَلَى جَوَائِزَ |
| 'Kami ahli waris yang meninggal menyetujui hal itu.' | نَحْنُ وَرَثَةَ الْمُتَوَفَّى نُوَافِقُ عَلَى ذَلِكَ |
-
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk dalam bab تَفَعَّلَ dan turunannya yang terdapat dalam pelajaran utama.
-
Tulislah bentuk mudhari, amr, ismul fa'il dan masdar dari setiap fi'il berikut.
-
Tulislan bentuk mudhari, amr dan masdar setiap fi'il berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk dlaam bab tafa''ala dan turunannya pada kalimat-kalimat berikut.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan bab tafa''ala sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
-
Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut menggunakan خُصُوصٌ yang sesuai.
Latihan pengucapan: Setiap siswa memberikan contoh الاختصاص dengan menggunakan
nama kelompok/kaumnya, conoh: نَحْنُ الْهُنُودُ، نَحْنُ الْأَفَارِقَةُ، نَحْنُ الْأَلْمَانُ، نَحْنُ الْإِنْكِلِيزُ
- Berikanlah bentuk mudhari untuk setiap fi'il berikut.
- Berikanlah bentuk mufrad setiap isim berikut.
- Berikanlah bentuk jamak setiap isim berikut.
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab تَفَاعَلَ . Bab ini dibentuk dengan melekatkan ta di awal bab فَعَلَ (ta + fa'ala).
Contoh: تَكَاسَلَ 'dia malas', تَثَاءَبَ 'dia menguap' تَفَاءَلَ 'dia optimis', تَشَاجَرَ 'mereka
bertengkar satu sama lain', تَبَاكَى 'dia pura-pura menangis'.
Mudhari: Karena fi'il dibentuk oleh lima huruf, maka حَرْفُ الْمُضَارَعَة mengambil fathah,
contoh: يَتَبَاكَى، يَتَثَاءَبُ، يَتَكَاسَلُ. Sebagaimana dalam bab تَفَعَّلَ، حَرْفُ الْمُضَارَعَة ta
dapat dihilangkan dalam penulisan. Berikut beberapa contoh dari Al-Qur'an:
| "dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." (QS 49:13) | وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا |
|---|
Disini تَعَارَفُوا adalah untuk تَتَـعَـارَفُوا.
| "dan jangan memanggil dengan gelaran" (QS 49:11) | وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ |
|---|
Disni تَنَابَزُوا adalah untuk تَتَنَابَزُوا.
| "dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran" (QS 5:2) | وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ |
|---|
Disini لَا تَعَاوَنُوا adalah untuk لَا تَـتَـعَـاوَنُوا.
Amr : Dibentuk dengan menghilangkan حَرْفُ الْمُضَارَعَة dan harakat akhir, contoh:
تَـتَـنَـاوَلُ : تَـنَـاوَلْ 'ambil!' (tatanâwal-u : tanâwal). Dalam fi'il naqis, huruf alif
terakhir (yang ditulis ya) dihilangkan, contoh: تَـتَـبَـاكَى : تَـبَـاكَ 'berpura-puralah
menangis!' (tatabâkâ : tabâka).
Masdar: Masdar dari bab ini berada pada pola تَفَاعُلٌ (tafâ'ul-ul), contoh:تَـنَـاوُلَ 'dia
mengambil' :تَنَاوُلٌ 'hal mengambil' -- تَشَاءُمَ 'dia pesimis' تَشَاؤُمٌ 'pesimis'. Dalam fi'il
naqis, dhammah pada huruf kedua berubah menjadi kasrah, contoh: تَبَاكَى : تَبَاكٍ (التَّبَاكِي)
untuk تَبَاكُيٌ (tabâkuy-un).
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Ismul fa'il dan ismul maf'ul: Ini dibentuk dengan mengganti حرف المضارعة dengan mu-, Huruf kedua berharakat fathah pada ismul fa'il dan kasrah pada ismul maf'ul, contoh مُتَنَاوِلٌ : مُتَنَاوَلٌ 'orang yang mengambil' مُتَنَاوَلٌ 'yang diambil'.
Ismul makan waz Zaman: Sama persis seperti ismul maf'ul, contoh: مُتَنَـــاوَلٌ 'tempat mengambil', مُتَنَاوَلُ أَيْدِي الأَطْفَالِ 'Obat hendaknya tidak ditinggalkan di tempat yang dapat dijangkau oleh anak-anak."
Bab ini menunjukkan diantaranya sebagai berikut:
a) Kegiatan timbal balik (saling) (مُشَارَكَةُ), contoh: سَأَلَ 'dia bertanya'
| 'Orang-orang saling bertanya satu sama lain' | تَسَاءَلَ النَّاسُ |
|---|---|
| 'Orang-orang saling tolong-menolong (bekerja sama) satu sama lain' | تَعَاوَنَ النَّاسُ |
b) Kegiatan berpura-pura (إِظْهَارُ مَا لَيْسَ فِي الْبَاطِنِ), contoh: تَمَارَضَ 'dia pura-pura sakit', تَنَاوَمَ 'dia pura-pura tidur', تَعَامَى 'dia pura-pura buta'.
2, لَيْتَ adalah saudari إِنَّ dan digunakan untuk mengungkapkan harapan yang mustahil atau sangat jauh dari kemungkinan. Contoh: لَيْتَ النُّجُومَ قَرِيبَةٌ 'Seandainya bintang itu dekat' (mustahil), لَيْتَنِي غَنِيٌّ 'Seandainya aku kaya' (jauh dari kemungkinan). Pada contoh pertama النُّجُومَ adalah ism laita dan قَرِيبَةٌ adalah khabar. Berikut beberapa contoh tambahan:
| "Seandainya masa muda kembali: | لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ |
|---|---|
| 'Seandainya ibu tidak melahirkanku' | لَيْتَ أُمِّي لَمْ تَلِدْنِي |
| 'Seandainya aku memiliki banyak uang sehingga aku dapat bersedekah'¹² | لَيْتَ لِي مَالاً كَثِيرًا فَأَتَصَدَّقَ |
<sup>12</sup> Dalam فَأَتَصَدَّقَ mudhari-nya adalah manshub karena فَ yang disebut الفَاءُ السَّـبَـبِـيَّـةُ . Ia datang setelah pengingkaran (penyangkalan) atau talab. Kita telah belajar dalam Pelajaran 15 (Panduan 3), bahwa amr, nahy dan istihfam termasuk di dalam talab. Harapan juga termasuk talab. Maka jika fi'il muhdari dihubungkan dengan talab dengan فَ ia menjadi manshub. Contoh: لاَ تَأْكُلْ كَثِيرًا فَتَنَامَ 'Jangan makan terlalu banyak agar engkau mengantukr' لَيْتَنِي غَنِيٌّ فَأُسَاعِدَ الْفُقَرَاءَ 'Seandainya aku kaya niscaya aku akan menolong orang-orang miskin.'
Disini مَالاً adalah isim dan لَرَبِي adalah khabar.
Kadang-kadang kata seru يَا dilekatkan di awal لَيْتَ, contoh:
| Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah". (QS An-Naba : 40) | يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا |
|---|
- لَا كِتَابَ عِنْدِي 'Saya tidak memiliki buku apapun'. لَا ini disebut لَا النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ (la yang menafikan seluruh jenisnya). Dalam contoh di atas la menafikan segala sesuatu yang termasuk buku. Isim dan khabar-nya harus berbentuk nakirah. Isim-nya adalah mabni dan berakhiran –a, Berikut beberapa contoh:
| 'Tidak perlu takut' | لَا دَاعِيَ لِلْخَوْفِ |
|---|---|
| 'Tidak ada paksaan dalam agama' | لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ |
| 'Tidak ada keraguan di dalamnya' | لَا رَيْبَ فِيهِ |
| 'Tidak ada tuhan selain Allah' | لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ |
لَا صَلَاةَ بَعْدَ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ
"Tidak ada shalat setelah fajar sampai matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari terbenam."
- Pada pelajaran sebelumnya kita telah mempelajari tahdzir, contoh: إِيَّاكَ وَهَذَا الرَّجُلَ 'Berhati-hatilah terhadap laki-laki ini'. Sekarang jika sesuatu yang diperingatkan darinya adalah masdar mu'awwal<sup>13</sup>, maka waw dihilangkan. Contoh:
| 'Berhati-hatilah dari tidur di dalam kelas' | إِيَّاكَ وَالنَّوْمَ فِي الْفَصْلِ |
|---|
Disini hal yang diperingatkan adalah isim النَّوْمَ dan diikuti oleh waw. Tetapi apabila
digunakan masdar mu'awwal, waw dihilangkan. Contoh: إِيَّاكَ أَنْ تَنَامَ فِي الْفَصْلِ (bukan :
وَأَنْ تَنَامَ).
إِيَّاكُمْ أَنْ تَزْنُوا 'Berhati-hatilah terhadap zina' : إِيَّاكُمْ وَالزِّنَا
إِيَّاكُنَّ أَنْ تَحْسُدْنَ 'Berhati-hatilah berhadap hasad' : إِيَّاكُنَّ وَالْحَسَدَ
<sup>13</sup> Lihat Pelajaran 11 Buku 3 untuk masdar muawwal ( الْمَصْدَرُ الْمُؤَوَّلُ )
إِيَّاكَ وَالنِّسْيَانَ 'Berhati-hatilah terhadap kelalaian' : إِيَّاكَ أَنْ تَنْسَى (perhatikan bahwa تَنْسَى adalah muannats. Bentuk mudzakar adalah تَنْسَى ).
-
Bentuk muannats dari أَعْرَجُ (a'raj-u) 'pincang' adalah عَرْجَاءُ ('arjâ'-u); dan bentuk jamak baik mudzakar dan muannats adalah عُرْجٌ ('urj-un). Kaidah ini berlaku atas semua isim dengan pola أَفْعَلُ yang menunjukkan cacat dan warna. Berikut adalah contoh isim yang menunjukkan warna: bentuk muannats dari أَحْمَرُ adalah حَمْرَاءُ , dan jamak keduanya adalah حُمْرٌ . Perhatikan الْهُنُودُ الْحُمْرُ = Indian Merah. Bentuk jamak dari أَبْيَضُ dan بَيْضَاءُ adalah بِيضٌ (bîd-un) yang asalnya adalah بُيْضٌ (buyd-un). Dhammah telah berubah menjadi kasrah karena ya yang mengikutinya.
-
Fi'il dengan waw sebagai huruf pertama memiliki dua masdar: satu dengan waw, dan lainnya tanpa waw. Bentuk kedua mengambil ة sebagai gantinya : وَصَفَ 'dia menggambarkan' : وَصْفٌ dan صِفَةٌ 'penggambaran' --- وَعَظَ : وَعْظٌ dan عِظَةٌ 'peringatan' –وَثِقَ : وُثُوقٌ dan ثِـقَـةٌ 'kepercayaan'.
-
Dalam حَجَرَةٌ huruf kedua memiliki sukun, tetapi dalam jamak حَجَرَاتٌ memiliki dhammah. Hal ini berlaku pada semua isim yang berada pada pola فُعْلَةٌ, seperti خَطْرَةٌ، فُعْلَةٌ ،غُرْفَةٌ.
-
Kata depan yang mengikuti masdar mu'awwal dapat dihilangkan. Contoh: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الْكَذِبِ 'Aku berlindung kepada Allah dari mengatakan kebohongan'. Kata depan مِنْ dapat dihilangkan jika diikuti oleh masdar mu'aawal, contoh: أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكْذِبَ . Penghapusan ini adalah pilihan, dan kita juga dapat mengatakan: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ أَنْ أَكْذِبَ .أَمَرَنَا اللهُ بِأَنْ نُصَلِّيَ . Berikut contoh yang lain: أَمَرَنَا اللهُ أَنْ نُصَلِّيَ : أَمَرَنَا اللهُ بِالصَّلاَةِ atau أَمَرَنَا بِأَنْ نُصَلِّيَ.
-
Kita telah mempelajari badal (الْبَدَلُ) pada pelajaran 1 (Panduan 3). contoh: أَيْنَ أَخُوكَ هَاشِمٌ 'Dimana saudaramu Hasyim?
Ada empat jenis badal :
- Badal keseluruhan (بَدَلُ الْكُلِّ مِنَ الْكُلِّ), contoh:
| 'Saudaramu Muhammad telah lulus' | نَجَحَ أَخُوكَ مُحَمَّدٌ |
|---|
Disini مُحَمَّدٌ adalah sama dengan أَخُوكَ.
- Badal sebagian (بَدَلُ الْبَعْضِ مِنَ الْكُلِّ), contoh:
| 'Saya telah makan ayam, setengahnya' | أَكَلْتُ الدَّجَاجَةَ نِصْفَهَا |
|---|
Disini نِصْفَ adalah sebagian dari الدَّجَاجَةَ.
- Badal umum (بَدَلُ الاِشْتِمَالِ), contoh:
| 'Saya menyukai buku ini, modelnya' | أَعْجَبَنِي هٰذَا الْكِتَابُ، أُسْلُوبُهُ |
|---|
Disini أُسْلُوبُ tidak sama dengan الْكِتَابُ, dan bukan pula sebagiannya, akan tetapi ia adalah sesuatu yang terkandung di dalamnya. Berikut contoh lainnya:
| 'Kami saling bertanya satu sama lain mengenai ujian itu, akan seperti apa jadinya?' | تَسَاءَلْنَا عَنِ الامْتِحَانِ كَيْفَ يَكُونُ ؟ |
|---|
- Badal yang tidak serupa (الْبَدَلُ الْمُبَايِنُ), contoh:
| 'Berikan buku itu, maksudku buku tulis itu' | أَعْطِنِي الْكِتَابَ الدَّفْتَرَ |
|---|
Disini, kata yang dimaksud adalah الدَّفْتَرَ, tetapi pembicara keliru menyebutnya الْكِتَابَ, kemudian ia meralatnya.
Isim yang digantikan oleh badal (الْبَدَلُ) disebut mubaddal minhu (الْمُبْدَلُ مِنْهُ). Dalam أَيْنَ ابْنُكَ بِلاَلٌ ؟ kata بِلاَلٌ adalah badal dan ابْنُكَ adalah mubadal minhu.
Badal tidak perlu sejalan dengan mubadal minhu dalam bentuk ma'rifah atau nakirah. Contoh:
| 'Saya menguasai dua bahasa, Prancis dan Spanyol' | أَعْرِفُ لُغَتَيْنِ : الْفَرَنْسِيَّةَ وَالأَسْبَانِيَّةَ |
|---|
Disini لُغَتَيْنِ adalah nakirah dan الْفَرَنْسِيَّةَ ، الأَسْبَانِيَّةَ adalah makfirah.
Badal dan badal minhu dapat berupa:
![Logo] Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
a) Keduanya adalah isim Contoh:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ
"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram." (QS Al-Baqarah [2] : 217)
b) Keduanya adalah fi'il, contoh:
وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ
"Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya" (QS Al-Furqaan [25] : 69-69)
c) Keduanya adalah berupa kalimat, contoh:
وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُم بِمَا تَعْلَمُونَ أَمَدَّكُم بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ
"Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak," (QS Asy-Syu'araa [26] : 132-133)
d) Berbeda, yang pertama berupa kalimat dan yang kedua adalah isim, contoh:
أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan," (QS Al-Ghatsiyah [88] : 17)
- يَبْدُو أَنَّهُ مَنَوَّمٌ 'Sepertinya ini membuat tidur' Dalam kalimat ini masdar mu'awwal adalah fa'il.
Anda telah mempelajari salah satu jenis masdar mu'awwal yang dibentuk dari أَنْ +
mudhari, contoh: أُرِيدُ أَنْ أَخْرُجَ 'Saya ingin keluar'. Ada jenis lain dari masdar
mu'awwal yang dibentuk dari أَنَّ + isim dan khabar-nya. Contoh:
| 'Telah sampai berita kepadaku bahwa dia sudah meninggal' | بَلَغَنِي أَنَّهُ مَـاتَ |
|---|
Disini masdar mu'awwal أَنَّهُ مَـاتَ adalah fa'il dari fi'il بَلَغَ . Berikut beberapa contoh lain:
| 'Saya senang anda menjadi muridku' (secara harafiah: 'menyenangkan bagiku bahwa engkau adalah muridku') | يَسُرُّنِي أَنَّكَ تِلْمِيذِي |
|---|---|
| 'Sepertinya anda sedang terburu-buru' | يَبْدُو أَنَّكَ مُسْتَعْجِلٌ |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
-
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk dalam bab تَفَاعَلَ dan turunannya yang terdapat dalam pelajaran utama.
-
Tulislah bentuk mudhari, amr, dan masdar dari setiap fi'il berikut.
-
Tulislah ismul fa'il dari setiap fi'il berikut.
-
Tunjukkanlah fi'ili yang termasuk dalam bab تَفَاعَلَ dan turunannya pada kalimat berikut.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan لَيْتَ.
-
Buatlah kalimat dengan bantuan kata-kata berikut menggunakan لَا النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ.
-
Gantilah isim dengan masdar mu'awwal pada setiap kalimat berikut.
-
Tulislah bentuk muannatas, dan jamak mudzakar – muannats dari setiap isim berikut.
-
Berikanlah dua bentuk masdar dari setiap fi'il berikut.
-
Tulislah bentuk jamak muannats salim dari setiap isim berikut.
Terdiri dari enam: إِنَّ، أَنَّ، كَأَنَّ، لَكِنَّ، لَيْتَ، لَعَلَّ. Mereka disebut dengan إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا (inna dan saudari-saudarinya). Kita telah memeplajarinya. Mereka menyerupai fi'il dalam dua hal:
a) Dalam arti, karena إِنَّ dan أَنَّ berarti'Saya tekankan' كَأَنَّ berarti 'Saya menyerupakan', لَكِنَّ berarti 'saya mengoreksi', لَيْتَ berarti 'Saya berharap (seandainya)', dan لَعَلَّ berarti 'saya harap' atau 'saya khawatir'; dan
b) Dalam fungsi gramatikalnya, karena sama seperti fi'il yang mengubah maf'ul bihi-nya menjadi manshub, dengan cara yang sama pula partikel ini mengubah isim-nya menjadi manshub.
Arti dari partikel-partikel ini:
إِنَّ، أَنَّ : Menunjukkan penekanan (التَّوْكِيدُ), contoh:
| "Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al-Ma'idah : 2) | إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ |
|---|---|
| "Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." (QS Al-Anfal : 25) | وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ |
كَأَنَّ menunjukkan penyerupaan (التَّشْبِيـــهُ), contoh:
| 'Seolah-olah ilmu itu seperti cahaya' | كَأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ |
|---|
Dapat juga menunjukkan keraguan ( الظَّنُّ ) :
| 'Sepertinya saya mengenalmu' | كَأَنِّي أَعْرِفُكَ |
|---|
لَكِنَّ menunjukkan pembetulan/koreksi (الاسْتِدْرَاكُ), contoh:
| 'Hamid pandai, tetapi ia malas' | حَامِدٌ زَكِيٌّ وَلَكِنَّهُ كَسْلَانُ |
|---|
لَيْتَ menunjukkan angan-angan ( التَّمَنِّي), contoh:
| 'Seandainya masa muda bisa kembali' | لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ |
|---|
لَعَلَّ menunjukkan harapan atau kekhawatiran (التَّرَجِّي وَالإِشْفَاقُ), contoh:
| 'Semoga Allah mengampuniku' | لَعَلَّ اللهَ يَغْفِرُلِي |
|---|---|
| 'Saya khawatir yang terluka akan mati' | لَعَلَّ الْجَرِيحَ يَمُوتُ |
Partikel-partikel ini digunakan dengan mubtada dan khawabr, dan merubah mubtada menjadi manshub. Setelah penambahan partikel ini, mubtada disebut isim inna, dan khabar disebut khabar inna.
| غَفُــورٌ | إِنَّ اللهَ | غَفُــورٌ | اللهُ |
|---|---|---|---|
| khabar inna | isim inna | khabar | mubtada |
Tidak seperti mubtada, isim inna dapat berupa nakirah jika khabar inna adalah jumlatul fi'iliyah (kalimat verbal), contoh:
| 'Seolah-olah tidak ada yang terjadi' | كَأَنَّ شَيْئًا لَمْ يَحْدُثْ |
|---|
Sama seperti khabar, khabar inna dapat berbentuk mufrad, jumlah, atau syibul jumlah, Contoh:
- Mufrad:
| "Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya." (QS Al-Imran : 199) | إِنَّ اللهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ |
|---|
- Jumlah (kalimat) a. Jumlatul Fi'liyah:
| "Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya" (QS Az-Zumar : 53) | إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا |
|---|
b. Jumlatul Ismiyah:
| "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat" (QS Luqman : 34) | إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ |
|---|
- Syibul jumlah:
a. Jarr wal majrur (الجَرُّ وَالمَجْرُورُ):
| 'Sepertinya anda berasal dari Cina' | كَأَنَّكَ مِنَ الصِّينِ |
|---|
b. Zarf:
| 'Saya berharap guru berada bersama kepala sekolah' | لَعَلَّ المُدَرِّسَ عِندَ المُدِيرِ |
|---|
Apabila khabar adalah syibul jumlah, ia dapat mendahului isim, contoh:
إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
"Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka." (QS Al-Ghasyiyah : 25-26)
Urutan asalnya adalah:
إِنَّ إِيَابَهُمْ إِلَيْنَا ثُمَّ إِنَّ حِسَابَهُمْ عَلَيْنَا
Disini, isim adalah ma'rifah (إِيَابَهُمْ , حِسَابَهُمْ), maka perubahan susunan adalah pilihan. Namun apabila isim adalah nakirah, maka hal itu adalah wajib, contoh:<sup>14</sup>
| "Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala." (QS 73 : 12) | إِنَّ لَدَيْنَا أَنكَالًا وَجَحِيمًا |
|---|---|
| "sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS 94 : 6) | إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا |
Disini keliru jika mengatakan إِنَّ أَنكَالًا لَدَيْنَا atau إِنَّ يُسْرًا مَعَ الْعُسْرِ .
Jika isim dari لَيْتَ adalah dhamir mufrad mutakallim (kata ganti orang pertama tunggal)
(ـــي), maka harus menggunakan نُونُ الوِقَايَة bersamanya<sup>15</sup>, contoh:
| 'Seandainya aku seorang anak kecil' | لَيْتَنِي طِفْلٌ |
|---|
<sup>14</sup> أَنكَالٌ berarti belenggu, bentuk jamaknya adalah أَنكَالُ
<sup>15</sup> Untuk penggunaan نُونُ الوِقَايَة silahkan liat Buku II pelajaran 9.
Dengan أَنَّ، إِنَّ، كَأَنَّ، لَكِنَّ ini merupakan pilihan. Maka kita boleh mengatakan إِنِّي atau إِنِّيَ. Demikian juga dengan ketiga partikel lainnya نون الوقاية tidak digunakan dengan لَعَلَّ. Maka kita katakan
| 'Saya khawatir saya tidak akan bertemu denganmu untuk waktu yang lama' | لَعَلِّي لَا أَرَاكَ مُدَّةً طَوِيلَةً |
|---|
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab (اِنْفَعَلَ). Dalam bab ini, اِنْ (-in) menjadi awalan فَعَلَ : infa'ala. Hamzah adalah hamzah al-washl. Kita katakan:
| 'Cangkir itu jatuh dan pecah'<br/>(wa nkasara bukan wa inkasara) | سَقَطَ فَنْجَانُ وَانْكَسَرَ |
|---|
Mudhari. Huruf mudhari (حرف المضارعة) berharakat fathah. Contoh: يَنْكَسِرُ : اَلْكَسَرُ --
يَنْشَقُّ : اِنْشَقَّ (untuk يَنْشَقِّقُ)
Amr. Setelah penghilangan huruf mudhari (حرف المضارعة), fi'il diawali dengan huruf sukun, karenanya dia membutuhkan hamzah al-washl. Contoh: نَصَرَفَ 🡪 تَنْصَرِفُ 🡪 اِنْصَرِفْ 'kembali!' (tansharif-u 🡪 nsharif 🡪 insharif).
Masdar. Ia berada dalam pola اِنْفِعَالٌ (infi'al-un), contoh: اَلْكِسَارُ : اَلْكَسَرُ 'hal mematahkan'; اِنْقِلَابٌ : اِنْقَلَبَ 'hal membalikkan'.
Huruf-huruf yang berasimilasi menjadi terpisah dalam mashdar, contoh: اِنْشِقَاقٌ : اِنْشَقَّ "terbelah" (insyaqqa : insyiqâqun).
Pada fi'il naqis, huruf terakhir ya berubah menjaadi hamzah, contoh: اِنْجِلَاءٌ : اِنْجَلَى untuk اَلْجِلَايَ.
Isim al-fa'il: Dibentuk dengan mengganti حرف المضارعة dengan mu- sebagaimana yang kita baca pada abwab. Huruf kedua berharakat kasrah pada isim al-fa'il, berharakat fathah pada isim al-maf'ul. Contoh: مُنْشَقٌّ : يَنْشَقُّ - مُنْكَسِرٌ : يَنْكَسِرُ (untuk مُنْشَقِّقٌ). Fi'il pada bab ini sebagian besar adalah intransitif, sehingga tidak dibentuk isim al-maf'ul.
Isim zaman wa makan (keterangan waktu dan tempat): Ia serupa dengan isim al-maf'ul, contoh: مُنْعَطَفٌ 'dia berbelok', مُنْعَطَفٌ 'tempat berbelok (tikungan). Kata مُنْحَنًى (munhana-n) juga digunakan seperti ini.



