— Bagian 2 · اَلْكَسْرُ الْكُوبَ 'Saya telah memecahkan gelas… —
Bagian 2
Bab ini yang menunjukkan الْمُطَاوَعَةُ <sup>16</sup>, contoh:
اَلْكَسْرُ الْكُوبَ 'Saya telah memecahkan gelas' : اِنْكَسَرَ الْكُوبُ 'gelas telah pecah'.
Catatan الْكُوبَ pada kalimat pertama adalah maf'ul bihi dan yang kedua adalah fa'il.
Berikut beberapa contoh tambahan:
| 'Saya telah membuka pintu' | فَتَحْتُ الْبَابَ |
|---|---|
| 'Pintu telah terbuka' | اِنْفَتَحَ الْبَابُ |
| 'Orang-orang Muslim mengalahkan orang-orang kafir' | هَزَمَ الْمُسْلِمُونَ الْكُفَّارَ |
| 'Orang-orang kafir kalah' | اِنْهَزَمَ الْكُفَّارُ |
Perhatikan bahwa اِنْفَعَلَ adalah مُطَاوِعٌ dari فَعَلَ ; dan تَفَعَّلَ adalah مُطَاوِعٌ dari فَعَّلَ.
Contoh:
| 'Saya telah memecahkan kaca' | كَسَرْتُ الزُّجَاجَ |
|---|---|
| 'Kaca telah pecah' | اِنْكَسَرَ الزُّجَاجُ |
| 'Saya telah menghancurkan kaca' | كَسَّرْتُ الزُّجَاجَ |
| 'Kaca pecah berkeping-keping' | تَكَسَّرَ الزُّجَاجُ |
- Bila kata tanya hamzah (hamzah al-istihfam) dilekatkan di awal bab ini, maka hamzahtul wasl dihapus, contoh: أَنْكَسَرَ ؟ : أَانْكَسَرَ ؟ (a inkasara → ankasara)
| 'Apakah pintu telah terbuka?' | أَنْفَتَحَ الْبَابُ ؟ |
|---|---|
| 'Apakah mobil terbalik?' | أَنْقَلَبَتِ السَّيَّارَةُ ؟ |
<sup>16</sup> Kita telah melihat المطاوع pada Pelajaran 3.
- وَإِنْكَسَفَتِ الشَّمْسُ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَهِيمُ 'Gerhana matahari terjadi pada hari ketika Ibrahim meninggal'. Disini kalimat مَاتَ إِبْرَهِيمُ adalah mudhaf ilaihi, dan menempati kedudukan jarr, dan يَوْمَ adalah mudhaf. Berikut adalah beberapa contoh lainnya:
| 'Saya lahir pada hari ketika kakekku meninggal' | وُلِدْتُ يَوْمَ مَاتَ جَدِّي |
|---|---|
| 'Saya pergi ketika hasilnya tampak' | سَافَرْتُ يَوْمَ ظَهَرَتِ النَّتَائِجُ |
- لَوْلَا berarti 'jika bukan karena...', contoh:
| 'Jika bukan karena matahari, bumi akan binasa' | لَوْلَا الشَّمْسُ لَهَلَكَتِ الْأَرْضُ |
|---|
Partikel لَوْلَا ini disebut حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُودٍ yang menunjukkan bahwa sesuatu tidak terjadi karena keberadaan yang lainnya. Dalam contoh ini, bumi tidak binasa karena adanya matahari,
Isim yang datang setelah لَوْلَا adalah mubtada yang khabar-nya dihapus.
Kalimat kedua disebut جَوَابُ لَوْلَا. Ia adalah jumlahtul fi'liyah dan fi'il-nya adalah madhi. Huruf lam ditambahkan diawal jawab penegasan. Sedangkan jawab yang menafikan (menjadikan kalimat negatif) tidak mengambil lam di awalnya.
| 'Jika bukan karena ujian, saya tidak akan datang (hadir) hari ini' | لَوْلَا الْاخْتِبَارُ مَا حَضَرْتُ الْيَوْمَ |
|---|
Sebagai ganti mubtada, kita dapat juga menggunakan jumlatul ismiyyah dengan أَنَّ, contoh:
| 'Jika bukan karena cuaca panas, saya akan mengikuti pelajaran' | لَوْلَا أَنَّ الْجَوَّ حَارٌّ لَحَضَرْتُ الْمُحَاضَرَةَ |
|---|---|
| Jika bukan karena sakit, saya akan pergi bersammu' | لَوْلَا أَنِّي مَرِيضٌ لَسَافَرْتُ مَعَكَ |
| 'Jika bukan karena anda terburu-buru, saya pasti telah mengundangmu ke rumahku | لَوْلَا أَنَّكَ مُسْتَعْجِلٌ لَدَعَوْتُكَ إِلَى الْبَيْتِ |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
- ؟ اذَه مُيهَارْبِإ نْمَ 'Siapa Ibrahim ini?' -- ٌةَليمِج ِهِذَه ِرْيدُمْلا ُةَرَّايَس 'mobil kepala sekolah ini bagus'. Jika isim isyarah (kata penunjuk) seperti كِلْذ ، ِهِذَه ،اَذَه dll datang setelah isim alam atau mudhaf ilaihi, dia adalah na't.<sup>17</sup>Berikut beberapa contoh lainnya:
| 'Milik siapa paspor ini?' | ؟ اَذَه ِرَفَّسلا ُزاَوَج نْمَل |
|---|---|
| 'Perlihatkan kepadaku jam tangan milikmu' | ِهِذَه َكَتَعاَس يِنِرَأ |
| 'Saya khawatir tidak akan melaksanakan haji setelah tahunku ini' | اَذَه يِماَع َدْعَب َّجُحَأ َّلاَأ ىَّلَعَل |
| 'Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka,' (QS 27:28) | 18◌ۖ ْمِهْيَلِإ ُهْقِلْأَف اَذَٰه يِباَتِكِب بَهْذا |
- ُبيِلْغَّتلا menggunakan bentuk mudzakar untuk merunjuk pada kelompok yang terdiri dari isim mudzakar dan mu'annats. Contoh:
| 'Anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuanku sedang belajar' | َنوُسُرْدَي يِتاَنَبَو يِئاَنْبَأ |
|---|
Di sini kita menggunakan bentuk mudzakar meskipun kata gantinya adalah anak laki-laki dan anak perempuan. Dalam hadits berikut:
| 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda. Keduanya tidak (mengalami) gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang' | ِهِتاَيَحِل َلاَو ٍدَحَأ ِتْوَمِل ِناَفِسَكْنَي َلا ... ِناَتَيآ ُرَمَقْلاَو ُسْمَّشلا َّنِإ |
|---|
Di sini ِناَفِسَكْنَي adalah bentuk mudzakar dan kata ganti yang ditujukannya adalah ُسْمَّشلا yang berbentuk mu'annats dan ُرَمَقْلا yang berbentuk mudzakar. Berikut contoh yang lain: ِناَبيِرَق ُةَسَرْدَمْلاَو ُدِجْسَمْلا
<sup>17</sup> ُتْعَّنلا (kata sifat)
<sup>18</sup> ِهْقِلْأَ untuk ُهْقِلْأَف
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
- Tunjukkanlah kata yang menunjukkan bab اِنْفَعَلَ dan keturunannya yang terdapat dalam buku utama (Durus Lughah 4)
- Tulislah bentuk mudhari, isim al-fa'il dan masdar dari setiap fi'il berikut.
- Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan hamzatul istihfam.
- Tunjukkanlah fi'il dalam kalimat berikut yang termasuk dalam bab اِنْفَعَلَ dan keturunannya.
- Lengkapilah setiap contoh لَوْلَا berikut dengan jawab yang sesuai. 15.Gunakanlah setiap kata berikut ke dalam kalimatmu sendiri.
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab اِفْتَعَلَ. Dalam bab ini, ا (i-) ditambahkan sebelum huruf pertama, dan ت (ta) ditambahkan setelahnya, contoh: اِنْتَظَرَ : نَظَرَ (intazara) 'dia telah menunggu'. Perhatikan bahwa اِنْتَظَرَ bukan termasuk bab اِنْفَعَلَ karena ن adalah huruf pertama dari fi'il ini dan ت adalah tambahan.
اِمْتَحَنَ : مَحَنَ (imtahanna) 'dia telah memeriksa'.
ت Tambahan berubah menjadi د atau ط sebagaimana yang dijelaskan berikut ini:
a) Jika huruf pertama adalah د، ذ، ز maka ت ekstra berubah menjadi د. Contoh:
اِدَّعَى 🡪 دَعَى 'dia mengklaim' untuk اِدْتَعَى (idta'â 🡪 idd'â)
اِذْدَكَرَ 🡪 ذَكَرَ 'dia telah mengingat' untuk اِذْتَكَرَ. Dengan asimilasi ذ kepada د, bentuk اِذْدَكَرَ juga menjadi اِدَّكَرَ (idztakara 🡪 idzakara 🡪 iddakara)
اِزْدَحَمَ 🡪 زَحَمَ untuk اِزْتَحَمَ (iztahama 🡪 izdahama)
b) Jika huruf pertama adalah ت، ص، ض، ط، ظ ekstra berubah menjadi ط, contoh:
اِصْطَبَرَ 🡪 صَبَرَ 'dia memiliki kesabaran' untuk اِصْتَبَرَ (ishtabara 🡪 ishthabara)
اِضْطَرَبَ 🡪 ضَرَبَ 'dia dalam keadaan gelisah' untuk اِضْتَرَبَ (idhtaraba 🡪 idhtharaba)
اِطَّلَعَ 🡪 طَلَعَ 'dia mengetahui' untuk اِطْتَلَعَ (ithtala'a 🡪 ittala'a)
اِظْطَلَمَ 🡪 ظَلَمَ 'dia bertoleransi terhadap kesalahan.' untuk اِظْتَلَمَ
Jika huruf pertama adalah و, maka ia berasimilasi dengan ت ekstra, contoh:
اِتَّحَدَ 🡪 وَحَدَ 'ia bersatu' untuk اِوْتَحَدَ (iwtahada 🡪 ittahada)
اِتَّقَى 🡪 وَقَى 'dia takut', 'dia melindungi diri' untuk اِوْتَقَى (iwtaqa 🡪 ittaqa)
Mudhari: حرف المضارعة mengambil harakat fathah, contoh: يَنْتَظِرُ : اِنْتَظَرَ 'dia menunggu' – يَبْتَسِمُ : اِبْتَسَمَ 'dia tersenyum' – يَسْتَمِعُ : اِسْتَمَعَ 'dia mendengarkan'
يَخْتَارُ : اِخْتَارَ 'dia memilih' untuk يَخِيْرُ.
Amr: Setelah penghapusan حرف المضارعة, fi'il dimulai dengan huruf sukun, maka ditambahkan hamzahtul washl di awal. Contoh: اِنْـتَـظِـرْ : نَـتَـظِـرُ (ttantazir-u : ntazir : intazir).
Masdar: Ia berada dalam pola اِفْتِعَالٌ (ifta'âl-un), contoh: اِنْـتِـظَـارٌ 'menunggu', اِجْتِمَاعٌ 'pengumpulan', اِخْتِيَارٌ 'pilihan'. اَلْتِقَاءٌ 'pertemuan' untuk اِلْتَقَى.
Ismul Fa'il dan Ismul Maf'ul: Keduanya dibentuk dengan mengganti حرف المضارعة dengan مُ (mu). Huruf kedua mengambil harakat kasrah dalam ismul fa'il dan fathah dalam ismul maf'ul. Contoh: مُمْتَحِنٌ 'dia memeriksa', مُمْتَحَنٌ (mumtahin-un) 'pemeriksa' : مُمْتَحَنٌ (mumtahan-un) 'orang yang diperiksa'. Dalam fi'il mudha'af dan ajwab keduanya baik ismul fa'il dan ismul maf'ul memiliki bentuk yang sama. Contoh: يَشْتَقُّ 'dia menyimpulkan' مُشْتَقٌّ yang mewakili مُشْتَقِقٌ untuk isimul fa'il dan مُشْتَقَقٌ untuk ismul maf'ul.
Dengan cara yang sama يَخْتَارُ 'dia memilih' : مُخْتَارٌ yang mewakili مُخْتَيِرٌ untuk ismul fa'il dan مُـخْـتَـيَـرٌ untuk ismul maf'ul.
Ismul makan waz zaman: Ia sama dengan ismul maf'ul, contoh: مُجْتَمَعٌ 'masyarakat', secara harafiah berarti 'tempat berkumpul' -- اَلْمُلْتَزَمُ 'tempat memegang'. Ini adalah nama yang diberikan untuk bagian di Ka'bah yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu, karena sunnahnya adalah memeluk tempat tersebut.
-
Sebagaimana dalam bab أَفْعَلَ, hamzatul washl dihilangkan dalam bab ini jika hamzah al-istihfam dilekatkan di awal kata kerja ini. Contoh: ؟ أَنْـتَـظَرْتَنِي 'Apakah anda menungguku?'(di wkt lampau<sup>pent</sup>) untuk ؟ أَانْـتَـظَرْتَنِي (?a-intazarta-nî : ?antazarta- nî). Dalam al-Qur'an أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ "Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?" (QS Ash-Shafaat [37]:153).
-
Kita telah mempelajari إِذَا berarti 'jika' atau 'ketika'. Pada Pelajaran 14 (Buku 3) ia juga digunakan untuk menunjukkan rasa kaget atau terkejut. Ketika mendengar suara ketukan di pintu, anda keluar mengharapkan kedatangan seorang teman, namun ternyata anda mendapati seorang polisi di depan pintu. Untuk menunjukkan sesuatu yang tidak seperti yang diharapkan ini anda menggunakan إِذَا الْفُجَائِيَّةُ. Contoh: خَرَجْتُ فَإِذَا شُرْطِيٌّ بِالْبَابِ 'Saya keluar dan terkejut mendapati seorang polisi di pintu'. Jika seseorang melempar tongkatnya, tidak ada yang terjadi kecuali posisi tongkat itu berubah dari vertikal menjadi horisontal. Namun ketika Musa ﷺ menjatuhkan tongkatnya, sesuatu di luar dugaan terjadi, tongkat itu berubah menjadi ular. Al-Qur'an menggunakan إِذَا الْفُجَائِيَّةُ untuk menggambarkan kejadian ini.
فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ
"Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Dan ia mengeluarkan tangannya, maka ketika itu juga tangan itu menjadi putih bercahaya (kelihatan) oleh orang-orang yang melihatnya." (QS Al-A'raaf [7] : 107-108)
Ada dua hal yang harus diperhatikan di sini:
a. فَ biasanya dilekatkan di awal إِذَا.
b. Mubtada yang datang setelah إِذَا الْفُجَائِيَّةُ dapat berbentuk nakirah. Contoh:
| 'Saya masuk kamar dan terkejut mendapati ular di atas tempat tidur' | دَخَلْتُ الْغُرْفَةَ فَإِذَا حَيَّةٌ عَلَى السَّرِيرِ |
|---|
- Kata kerja ظَنَّ mengambil dua obyek yang pada asalnya adalah mubtada dan khabar. Contoh:
| 'Saya kira ujian (sudah) dekat.' | أَظُنُّ الْإِمْتِحَانَ قَرِيبًا : الْإِمْتِحَانُ قَرِيبٌ |
|---|
Di sini الْإِمْتِحَانَ adalah obyek pertama, dan قَرِيبًا adalah obyek kedua.
| 'Saya kira kepala sekolah akan datang besok' | أَظُنُّ الْمُدِيرَ يَجِيءُ غَدًا : الْمُدِيرُ يَجِيءُ غَدًا |
|---|
Di sini الْمُدِيرَ adalah obyek pertama, dan يَجِيءُ غَدًا adalah obyek kedua.
ظَنَّ dapat diikuti oleh أَنَّ atau أَنْ. Contoh:
a.
| 'Saya kira (bahwa) ujian tersebut mudah' | أَظُنُّ أَنَّ الْإِمْتِحَانَ سَهْلٌ |
|---|
Di sini الْإِمْتِحَانَ adalah isim inna, dan سَهْلٌ adalah khabar inna. Dalam al-Qur'an:
| "bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." (QS 41:22) | وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِّمَّا تَعْمَلُونَ |
|---|
b. يُوسُبُ أَحْمَدُ 'Ahmad akan gagal' : مَا ظَنَنْتُ أَنْ يُوسُبَ أَحْمَدُ 'Saya tidak berpikir Ahmad akan gagal'. Dalam al-Qur'an:
| "ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya," (QS 18:35) | قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا |
|---|
- Kita katakan دَخَلْتُ الْبَيْتَ / مَسْجِدًا / غُرْفَةً akan tetapi (kita katakan): دَخَلْتُ فِي الْإِمْتِحَانِ / الْإِسْلَامِ, yakni jika apa yang kita masuki tersebut adalah tempat seperti rumah, masjid, jangan gunakan فِي dan yang lainnya gunakan فِي. Dalam al-Qur'an:
وَدَخَلَ جَنَّتَهُ "Dan dia memasuki kebunnya" (QS 18:35). Akan tetapi:
| "karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu." (QS 49:14) | وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ |
|---|
Kita mendapat penggunaan keduanya dalam:
| "Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku." | فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي |
|---|
- Kita telah mempelajari اسْمُ الْفَاعِلِ dalam Pelajaran 4 Buku 3. Sekarang kita mempelajari pola فَعَّالٌ (fa''âl-un) yang menunjukkan intensitas dalam ismul fa'il. Contoh: غَافِرٌ 'yang mengampuni', dan غَفَّارٌ 'yang banyak mengampuni'-- رَازِقٌ 'yang memberikan rizki' dan رَزَّاقٌ 'yang banyak memberikan rizki'—آكِلٌ 'yang makan' dan أَكَّالٌ 'yang banyak makan'.
Ada empat bentuk lain yang menunjukkan intensitas:
a. فَعِيلٌ contoh: عَلِيمٌ 'yang banyak mengetahui', سَمِيعٌ 'yang banyak mendengar'.
b. فَعُولٌ contoh غَفُورٌ 'yang banyak mengampuni, شَكُورٌ 'yang banya bersyukur', عَبُوسٌ 'yang banyak mengerutkan (dahi), أَكُولٌ 'yang banyak makan'.
c. فَعِلٌ contoh: حَذِرٌ 'sangat berhati-hati'.
d. مِفْعَالٌ contoh: مِعْطَاءٌ 'yang banyak memberi'.
Keempat pola ini disebut صِيغُ مُبَالَغَةِ اسْمِ الفَاعِلِ yakni pola yang menunjukkan intensitas dari isim fa'il.
-
لَا بُدَّ مِنَ الاخْتِبَارِ 'harus menjalani tes'. Secara harafiah berarti 'tidak ada jalan menghindari tes'. Di sini لَا adalah لَا النَّافِيَةُ لِلْجِنْسِ yang telah kita pelajari pada Pelajaran 4. Jika mashad mu'awwal digunakan مِن dapat dihapus, contoh: لَا بُدَّ أَنْ تَكْتُبَ لَهُ 'anda harus menulis (surat) kepadanya)', لَا بُدَّ أَن نُسَـــــافِرَ 'kita harus melakukan safar', لَا بُدَّ أَنْ تَتَعَلَّمُوا عَنْ تَشْغِيلِ الحَاسُوبِ 'anda harus belajar bagaimana menjalankan komputer'.
-
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
-
Tunjukkanlah kata yang menunjukkan bab اِفْتَعَلَ dan keturunannya yang terdapat dalam buku utama (Durus Lughah 4)
-
Tulislah bentuk mudhari, isim al-fa'il dan masdar dari setiap fi'il berikut.
-
Ubahlah fi'il berikut ke dalam bab اِفْتَعَلَ.
-
Ubahlah fi'il berikut ke dalam bab اِفْتَعَلَ.
-
Ubahlah fi'il berikut ke dalam bab اِفْتَعَلَ.
-
Tulislah bentuk asal yang darinya setiap kata kerja (fi'il) berikut ini diturunkan sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh, dan sebutkan bab-nya.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan bab اِفْتَعَلَ sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
- Tunjukkanlah fi'il yang termasuk ke dalam bab أَفْعَلَ dan turunannya yang terdapat di dalam kalimat-kalimat berikut.
12.Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan bentuk ظَنَّ yang diisyaratkan di dalam kalimat. Tulislah kembali dengan menggunakan أَنَّ setelah ظَنَّ.
-
Berikanlah bentuk jamak setiap isim berikut.
-
Berikanlah bentuk mudhari dari setiap fi'il berikut.
-
Buatlah bentuk intensif dari isimul fa'il berikut dengan pola فَعَّالٌ، فَعِيلٌ، فَعُولٌ dari kata-kata kerja yang diberikan bersamanya.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab اِفْعَلَّ. Dalam bab ini ا (i-) diletakkan di awal huruf pertama, dan huruf ketiga digandakan (if'alla). Bab ini hanya digunakan untuk warna dan cacat atau kekurangan, contoh: اِحْمَرَّ 'ia menjadi merah' اِحْوَجَّ 'ia menjadi bajingan'.
Bentuk mudhari dari اِحْمَرَّ adalah يَحْمَرُّ, dan ismul fa'il adalah مُحْمَرٌّ. Dia tidak memiliki isimul maf'ul. Mashdarnya adalah اِحْمِرَارٌ.
Bab ini memiliki bentuk lain dengan penambahan alif setelah huruf kedua, yakni اِفْعَالَّ (if'âlla), contoh: اِحْمَارَّ 'ia menjadi merah' اِدْهَامَّ 'ia menjadi hijau tua'.
Bentuk mudhari dari اِحْمَارَّ adalah يَحْمَارُّ. Ismul fa'ilnya adalah مُحْمَارٌّ, dan mashdarnya adalah اِحْمِيرَارٌ.
Perhatikan bahwa fi'il seperti اِشْتَدَّ bukan dari bab اِفْعَلَّ akan tetapi dari bab اِفْتَعَلَ dari شَدَّ : ت dalam اِشْتَدَّ adalahh tambahan, akan tetapi kedua dal (د) adalah huruf asli, karena huruf-huruf (kata tersebut) adalah: ش، د، د. Dalam menentukan bab kita harus menemukan huruf asli (dari kata tersebut). Dalam kasus tertentu bentuk-bentuknya dapat menipu.
- Kata رَأَى يَرَى memiliki dua arti: (a) melihat, dan (b) berpikir, mengira, memutuskan. Dalam pengertian yang pertama disebut رَأَى الْبَصَرِيَّةُ (ra'aa penglihatan mata), dan pengertian yang kedua disebut رَأَى الْقَلْبِيَّةُ (ra'aa penglihatan hati). Yang pertama hanya mengambil satu obyek, contoh: رَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ. Yang kedua mengambil dua obyek, contoh:
| 'Saya pikir Hamid adalah seorang ulama | أَرَى حَامِدًا عَالِمًا : حَامِدٌ عَالِمٌ |
|---|---|
| 'Saya mengira anda lemah' | أَرَاكَ ضَعِيفًا : أَنتَ ضَعِيفٌ |
| "Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi). (QS 70:6-7) | إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا وَنَرَاهُ قَرِيبًا |
- عَسَى adalah fi'il yang menunjukkan harap dan cemas seperti لَعَلَّ, contoh:
| "Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka." (QS 9:102( | عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ |
|---|---|
| "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu," (QS 2:216) | وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ |
عَسَى dapat digunakan untuk fi'il lengkap atau tidak lengkap<sup>19</sup>
a. Fi'il yang tidak lengkap (الفِعْلُ النَّاقِصُ) adalah saudara-sadara كَانَ yang mengambil isim dan khabar, contoh:
| "mudah-mudahan Allah mema'afkannya" (QS 4:99) | عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ |
|---|
Di sini اللَّهُ adalah isim-nya, dan mashdar mu'awwal أَنْ يَعْفُوَ adalah khabarnya.
Ingat bahwa khabarnya harus mashdar mu'awwal. Isimnya dapat pula berupa dhamir:
| 'Mudah-mudahan saya menikah tahun ini' | عَسِيتُ أَنْ أَتَزَوَّجَ هَذَا العَامَ |
|---|
Di sini ـتُ adalah isimnya.
b. Fi'il lengkap (الفِعْلُ التَّامُ) diikuti oleh fa'il, contoh: دَخَلَ المُدَرِّسُ. Jika عَسَى digunakan sebagai fi'il lengkap, segera diikuti oleh mashdar mu'awwal, contoh:
| "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk..." (QS 18:23 | عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي ²⁰ |
|---|
Di sini mashdar mu'awwal أَنْ يَهْدِيَنِ adalah fa'il-nya.
Dalam عَسِيتُ أَنْ أَرْسُبَ 'saya khawatir saya akan gagal' عَسَى tidak lengkap, dan dalam عَسَى أَنْ أَرْسُبَ adalah lengkap.
- بَعْدَ مَا دَخَلَ المُدَرِّسُ 'Setelah masuknya guru'. Di sini مَا bersama dengan fi'il yang mengikutinya memiliki makna mashdar. Maka بَعْدَ مَا دَخَلَ المُدَرِّسُ berarti بَعْدَ دُخُولِ المُدَرِّسِ. Itulah sebabnya mengapa مَا ini disebut مَا المَصْدَرِيَّةُ (maa mashdariyyah). Fi'il yang mengikuti maa mashdariyyah dapat berupa madhi atau mudhari. Berikut contoh dalam bentuk mudhari:
| 'Saya akan memperlihatkan kepadamu majalah itu setelah keluarnya guru' | سَأُرِيكَ المَجَلَّةَ بَعْدَ مَا يَخْرُجُ المُدَرِّسُ |
|---|
<sup>19</sup> Lihat Pelajaran 10 Buku 3. <sup>20</sup> أَنْ يَهْدِيَنِي = أَنْ يَهْدِيَنِ
Di sini بَعْدَ مَا يَخْرُجُ الْمُدَرِّسُ memiliki makna بَعْدَ خُرُوجِ الْمُدَرِّسِ.
Berikut beberapa contoh lain:
| "(bagi mereka) akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan." (QS 38:26) | لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ |
|---|---|
| "...Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (QS 3:106) | فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ |
-
Kita telah mempelajari pada Buku 2 (Pelajaran 11) bahwa khabar yang datang setelah أَمَّا harus mengambil فَ, contoh: أَخِي يَدْرُسُ بِالْمَدْرَسَةِ أَمَّا أَنَا فَأَدْرُسُ بِالْجَامِعَةِ. Dalam ayat فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ tidak terdapat فَ, karena khabar telah dihapus sebagaimana yang jelas dari konteksnya. Khabar yang dihilangkan adalah فَيُقَالُ لَهُمْ "dan dikatakan kepada mereka". Berikut adalah terjemahan makna ayat: "Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?" (QS 3:106).
-
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk dalam bab اِفْعَالَّ dan اِفْعَلَّ dan turunannya yang terdapat dalam pelajaran utama (yakni buku durus lughah 4 –pent).
-
Tulislah bentuk mudhari, mashdar dan ismul fa'il dari setiap fi'il berikut.
-
Tulislah bentuk mudhari, mashdar dan ismul fa'il dari setiap fi'il berikut.
-
Sebutkanlah bab setiap fi'il berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk dalam bab اِفْعَالَّ dan اِفْعَلَّ dan turunannya yang terdapat dalam kalimat berikut.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan رَأَيَ الْقَلْبِيَّةَ.
8a. Ubahlah عَسَى النَّاقِصَةُ menjadi عَسَى التَّامَّةُ pada kalimat berikut.
8b. Ubahlah عَسَى التَّامَّةُ menjadi عَسَى النَّاقِصَةُ pada kalimat berikut.
8c. Gunakanlah عَسَى ke dalam dua kalimatmu sendiri, harus berupa naqis pada kalimat pertama, dan taammah pada kalimat kedua.
-
Berikanlah bentuk mudhari pada setiap fi'il berikut.
-
Apakah arti kata الْوَجْنَةُ dan apakah bentuk jamaknya?
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Bab اِسْتَفْعَلَ. Dalam bab ini اِسْتَ dilekatkan di awal huruf pertama (istaf'ala), contoh: اِسْتَغْفَرَ 'dia memohon ampunan', اِسْتَيْقَظَ 'dia bangun', اِسْتَعَدَّ 'dia bersiap-siap', اِسْتَحَمَّ 'dia mandi', اِسْتَقَالَ 'dia mengundurkan diri', اِسْتَلْقَى 'dia berbaring'.
Bentuk mudhari : يَسْتَفْعِلُ, contoh: يَسْتَغْفِرُ، يَسْتَحِمُّ، يَسْتَقِيلُ، يَسْتَلْقِي.
Bentuk Amr : Ia diwali dengan huruf sukun, karenanya dia mengambil hamzatul washl, contoh: اِسْتَغْفِرْ : تَسْتَغْفِرُ (tastaghfir-u : staghfir : istaghfir) – اِسْتَقِلْ : تَسْتَقِيلُ
-- اِسْتَحِمَّ : يَسْتَحِمُّ – اِسْتَلْقِ : تَسْتَلْقِي (Ini memiliki harakat fathah di akhirnya untuk menghindari اِلْتِقَاءُ السَّاكِنَيْنِ).
Mashdar : Berada dalam pola اِسْتِفْعَالٌ (istif'âl-un), contoh: اِسْتِغْفَارٌ. Dalam fi'il ajwaf ة pengganti ditambahkan di akhir, contoh: اِسْتِشَارَ-- اِسْتِشَارَةٌ : اِسْتِقَالَ : اِسْتِقَالَةٌ 'ia berkonsultasi' : اِسْتِشَارَةٌ. Dalam fi'il naqis, huruf terakhir ي berubah menjadi hamzah, contoh: اِسْتِلْقَاءٌ untuk اِسْتَلْقَى.
Ismul fa'il dan ismul ma'ful : Huruf kedua berharakat kashrah dalam ismul fa'il dan fathah dalam isimul maf'ul, contoh: مُسْتَغْفِرٌ 'yang memohon ampun' dan مُسْتَغْفَرٌ ' yang dimintai ampunannya' (mustaghfir/mustaghfar).
Ismul makan waz zaman : Ini sama dengan ismul maf'ul, contoh: مُسْتَقْبَلٌ 'yang akan datang', مُسْتَوْصَفٌ 'klinik', مُسْتَشْفَى 'rumah sakit'.
Bab ini menunjukkan, di antara hal-hal lainnya, makna mencari (meminta/memohon<sup>–pent</sup>), contoh: غَفَرَ 'dia mengampuni' : اِسْتَغْفَرَ 'dia memohon ampun', طَعِمَ 'dia makan' : اِسْتَطْعَمَ 'dia meminta makanan', هَدَى 'dia menunjuki' اِسْتَهْدَى 'dia meminta petunjuk'
- أَدْرُسُ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ لِكَيْ أَفْهَمَ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ 'Saya belajar Bahasa Arab agar supaya saya memahami Al-Qur'anul Karim'. لِكَيْ adalah partikel infinitive, dan لِكَيْ أَفْهَمَ الْقُرْآنَ
berarti لِأَفْهَمِ الْقُرْآنَ. Ia digunakan dengan mudhari yang merubahnya menjadi manshub.
لِامُ التَّعْلِيلِ<sup>21</sup> dilekatkan di awalnya yang kadang-kadang dapat dihapus, contoh:
| "supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau," (QS 20:33) | كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا |
|---|
Di sini كَيْ adalah untuk لِكَيْ.
لِكَيْ digabungkan dengan لَا النَّافِيَة dalam tulisan. Contoh:
| 'Bersungguh-sungguhlah agar supaya kamu tidak gagal' | اِجْتَهِدْ لِكَيْلَا تَرْسُبَ |
|---|---|
| 'Tulislah nomor teleponku dalam diari agar engkau tidak lupa' | اُكْتُبْ رَقْمَ هَاتِفِي فِي الْمُفَكِّرَةِ لِكَيْلَا تَنْسَى |
Berikut beberapa contoh lain dari لِكَيْ:
| 'Teman-temanku pergi ke pasar untuk membeli keperluan' | ذَهَبَ زُمَلَائِي إِلَى السُّوقِ لِكَيْ يَشْتَرُوا الْحَوَائِجَ |
|---|---|
| 'Maryam, bangunlah lebih awal agar engkau ketinggalan kereta'²² | يَا مَرْيَمُ، اِسْتَيْقِظِي مُبَكِّرَةً لِكَيْلَا يَفُوتَكِ الْقِطَارُ |
- إِذَنْ adalah salah satu partikel nasb. Ia mendahului mudhari dan mengubahnya menjadi manshub. Artinya 'kalau begitu'. Ia digunakan hanya dalam menjawab sebuah pernyataan. Jika teman anda memberitahu anda:
| 'Kepala sekolah akan kembali hari ini dari luar negeri' | يَرْجِعُ الْمُدِيرُ الْيَوْمَ مِنَ الْخَارِجِ |
|---|
Anda akan menjawab dengan mengatakan:
| 'Kalau begitu kita akan menjemputnya di bandara. | إِذَنْ نَسْتَقْبِلَهُ فِي الْمَطَارِ |
|---|
Perharikan bahwa fi'il setelah partikel إِذَنْ adalah manshub.
إِذَنْ merubah mudhari menjadi manshub hanya apabila tiga syarat berikut terpenuhi:
a) إِذَنْ harus berada di awal kalimat, dan tidak boleh didahului oleh kata lain.
b) Fi'il harus segera mengikutinya. Diperbolehkan diantarai oleh لَا النَّافِيَة atau sumpah (qasam).
c) Fi'il harus menunjukkan (masa) yang akan datang.
<sup>21</sup> Untuk لامُ التَّعْلِيلِ lihat Buku 2 (Pelajaran 17) <sup>22</sup> Dalam Bahasa Indonesia kita katakan "Saya ketinggalan kereta". Dalam Bahasa Arab, kita katakan: "Kereta meninggalkanku" فَاتَنِـي الْقِطَارُ.
Dalam contoh yang dinukil di atas, ketiga syarat terpenuhi. إِذَنْ berada di awal kalimat, langsung diikuti fi'il نَسْتَقْبِلُهُ, dan ia menunjukkan waktu yang akan datang. Akan tetapi jika kita katakan نَحْنُ إِذَنْ نَسْتَقْبِلُهُ fi'il harus berbentuk marfu' karena إِذَنْ tidak berada di awal kalimat. Demikian juga jika kita katakan إِذَنْ فِي الْمَطَارِ نَسْتَقْبِلُهُ fi'il harus berbentuk marfu' karena karena fi'il tidak langsung mengikuti إِذَنْ. Namun demikian, kita dapat mengatakan إِذَنْ وَاللهِ نَسْتَقْبِلُهُ فِي الْمَطَارِ 'kalau begitu demi Allah kita akan menjeputnya di bandara', dan juga إِذَنْ لَا نَسْتَقْبِلُهُ فِي الْمَطَارِ 'kalau begitu kita tidak akan menjeputnya di bandara'. Fi'il dalam kedua kasus ini adalah manshub.
Berikut ini beberapa contoh di mana fi'il tidak menunjukkan waktu yang akan datang:
| 'Bus tiba di bandara jam dua' | تَصِلُ الْحَافِلَةُ إِلَى الْمَطَارِ السَّاعَةَ الثَّانِيَةَ |
|---|---|
| 'Jika demikian saya khawatir akan ketinggalan penerbangan'²³ | إِذَنْ أَخَافُ أَنْ تَفُوتَنِيَ الرِّحْلَةُ |
Di sini أَخَافُ adalah marfu' karena ia tidak menunjukkan waktu yang akan datang.
-
Kita telah melihat bahwa fi'il dalam bentuk madhi dibentuk menjadi negatif dengan مَا, contoh: مَا أَكَلْتُ 'saya tidak makan'. Akan tetapi jika kita menafikan dua fi'il madhi sekaligus, maka kita gunakan لَا, contoh: لَا أَكَلْتُ وَلَا شَرِبْتُ 'Saya tidak makan dan tidak minum' فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى "Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur'an) dan tidak mau mengerjakan shalat," (S 75:31)
-
Kita telah melihat waw al hal (وَاوُ الْحَالِ) di awal jumlatul ismiyyah (kalimat isim). Contoh:
| 'Saya memasuki masjid ketika Imam sedang membaca al-Fatihah' | دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ الْفَاتِحَـــةَ |
|---|
Ia juga dapat mengawali jumlatul fi'liyyah (kalimat verbal) dengan fi'il dalam bentuk madhi, akan tetapi ia harus diikuti oleh قَدْ, contoh:
| 'Saya memasuki masjid ketika Imam telah selesai membaca al-Fatihah' | دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَقَدْ قَرَأَ الْإِمَامُ الْفَاتِحَـــةَ |
|---|
Berikut contoh lainnya:
| 'Kami keluar kelas ketika guru telah selesai menerangkan pelajaran' | خَرَجْنَا مِنَ الْفَصْلِ وَقَدْ شَرَحَ الْمُدَرِّسُ الدَّرْسَ |
|---|
<sup>23</sup> Yakni ketinggalan pesawat –pent.
| 'Dokter datang setelah pasien meninggal' | جَاءَ الطَّبِيبُ وَقَدْ مَاتَ الْمَرِيضُ |
|---|---|
| 'Saya tiba di bandara setelah pesawat tinggal landas' | وَصَلْتُ الْمَطَارَ وَقَدْ أَقْلَعَتِ الطَّائِرَةُ |
- Fi'il جَعَلَ memiliki empat arti:
a. Membuat, yakni membuat sesuatu terjadi atau menjadi sesuatu. Dalam pengertian ini, ia mengambil dua obyek:
| 'Saya akan membuat ruang ini menjadi toko' | سَأَجْعَلُ هٰذِهِ الْغُرْفَةَ دُكَّانًا |
|---|
Di sini الْغُرْفَةَ adalah obyek pertama dan دُكَّانًا adalah obyek kedua.
| "Allah menjadikan khamr haram" | جَعَلَ اللهُ الْخَمْرَ حَرَامًا |
|---|---|
| "Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita" (QS 71:16) | وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا |
| "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat," (QS 11:118) | وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ |
b. Mengira, menganggap.
| 'Apakah anda menjadikanku kepala sekolah?' | أَجَعَلْتَنِي مُدِيرًا ؟ |
|---|
Yakni apa kamu mengira aku kepala sekolah?
| "Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan" (QS 43:19) | وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمٰنِ إِنَاثًا |
|---|
Yakni mereka meyakini bahwa malaikat-malaikat itu adalah perempuan.
c. Membuat, yakni menciptakan. Dalam pengertian ini, ia hanya mengambil satu obyek, contoh:
| "Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang," (QS 6:1) | الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ |
|---|
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
d. Memulai. Dalam pengertian ini, ia bertindak seperti كَانَ, dan memiliki isim dan khabar. Khabarnya adalah jumlahtul fi'liyyah dengan fi'il dalam bentuk mudhari. Contoh:
| 'Hamid mulai memukulku' | جَعَلَ حَامِدٌ يَضْرِبُنِي |
|---|
Di sini حَامِدٌ adalah isimnya dan يَضْرِبُنِي adalah khabarnya.
- Bentuk jamak dari مَاشٍ 'jalan setapak' adalah مُشَاةٌ. Ia berada dalam pola فُعَلَةٌ (fu'alat-un). Maka (musyât-un) asalnya adalah مُشَيَةٌ (musyayat-un), di mana –aya-berubah menjadi –â-. Berikut contoh lainnya: قَاضٍ 'hakim' 🡪 قُضَاةٌ – حَافٍ 'telanjang kaki' 🡪 حُفَاةٌ – عَارٍ 'telanjang' 🡪 عُرَاةٌ – وَالٍ 'penguasa' 🡪 وُلَاةٌ.
Partikel-partiel yang merubah mudhari menjadi manshub disebut نَوَاصِبُ الْفِعْلِ الْمُضَارِعِ. Ini ada empat, dan kita telah mempelajari semuanya. Mereka adalah:
a. أَنْ Contoh:
| "Dan Allah hendak menerima taubatmu," (QS An-Nisaa : 27) | وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ |
|---|
Partikel ini disebut حَرْفٌ مَصْدَرِيَّةٌ وَنَصْبٍ وَاسْتِقْبَالٍ, yakni mashdar yang merubah mudhari menjadi manshub dan menunjukkan waktu yang akan datang.
b. لَنْ Contoh:
| Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku." (QS Al-Kahfi : 67) | قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا |
|---|
Partikel ini disebut حَرْفٌ نَفْيٍ وَنَصْبٍ وَاسْتِقْبَالٍ, yakni partikel negative yang merubah mudhari menjadi manshub dan menunjukkan waktu yang akan datang.
c. كَيْ Contoh:
| "Agar kami banyak bertasbih kepada-Mu" | كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا |
|---|
Partikel ini disebut حَرْفٌ مَصْدَرِيَّةٌ وَنَصْبٍ وَاسْتِقْبَالٍ, yakni mashdar yang merubah mudhari menjadi manshub dan menunjukkan waktu yang akan datang.
d. إِذَنْ. Contoh:
| "Saya akan mengunjungimu besok insya Allah." | سَأَزُورُكَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ |
|---|---|
| "Kalau begitu aku akan menunggumu" | إِذَنْ أَنْــتَــظِرُكَ |
Partikel ini disebut حَرْفُ جَوَابٍ وَجَزَاءٍ وَنَصْبٍ وَاسْتِقْبَالٍ, yakni partikel jawaban yang merubah mudhari menjadi manshub dan menunjukkan waktu yang akan datang.
🖎 Latihan:
-
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk ke dalam bab اِسْتَفْعَلَ dan turunannya yang terdapat dalam pelajaran utama.
-
Tulislah bentuk mudhari, amr dan mashdar setiap fi'il berikut.
-
Tunjukkanlah fi'il yang termasuk ke dalam bab اِسْتَفْعَلَ dan turunannya yang terdapat dalam kalimat-kalimat berikut.
-
Isilah bagian yang kosong dari setiap kalimat berikut dengan كَيْ atau لِكَيْلَا, dan buatlah perubahan yang diperlukan.
6a. Gunakanlah إِذَنْ ke dalam tiga kalimatmu sendiri.
6b. Latihan pengucapan Setiap siswa mengatakan sesuatu dan temannya menjawab dengan menggunakan إِذَنْ.
-
Buatlah bentuk ingkar dari kedua fi'il pada kalimat berikut.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan merubah anak kalimat nominal (al-jumlahtul ismiyyah) menjadi kalimat verbal (al-jumlatul fi'liyyah).
-
Sebutkanlah pengertian جَعَلَ dalam setiap kalimat berikut.
-
Laatihan pengucapan: Setiap siswa bertanya kepada temannya : مَتَى اسْتَيْقَظْتَ؟ وَمَنْ أَيْقَظَكَ ؟
-
Tulislah bentuk mudhari untuk setiap kata fi'il berikut.
-
Sebutkanlah bab dari setiap fi'il yang terdapat dalam hadits Abu Dzar.
-
Tulsilah bentuk mufrad dari الْحَوَائِجُ dan الشُّرُوطَةُ, dan bentuk jamak dari الْفَقَا.
-
Tulislah bentuk asli dari تَظَالَمُوا yang terdapat di dalam hadits.
-
Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut dengan pola عَارٍ / عُرَةٌ.
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- اَلْفِعْلُ الرُّبَاعِيُّ (fi'il ruba'i) adalah fi'il yang memiliki empat huruf, contoh: تَرْجَمَ 'dia menterjemahkan', بَعْثَرَ 'dia menghamburkan', هَرْوَلَ 'dia berjalan cepat', بَسْمَلَ 'dia membaca basmalah'.
Sebagaimana fi'il tsulatsi, fi'il ruba'i dapat berupa mujarrad atau mazid.
Fi'il ruba'i mujarrad hanya memiliki empat huruf tanpa tambahan huruf lainnya, seperti تَرْجَمَ yang terdiri dari huruf-huruf ت، ر، ج، م. Fi'il ruba'i mujarrad hanya memiliki satu bab, yaitu فَعْلَلَ (fa'lala). Bentuk mudhari-nya adalah يُفَعْلِلُ, contoh: يُتَرْجِمُ. Karena kata kerja ini terdiri dari empat huruf, maka حرف المضارعة berharakat dhammah. Mashdar-nya berada dalam pola فَعْلَلَةٌ (fa'lalat-un), contoh: تَرْجَمَةٌ. Ismul fa'il adalah مُتَرْجِمٌ 'penterjemah', di mana huruf ketiga berharakat kasrah, dan ismul maf'ul berkarakat fathah, contoh: كِتَابٌ مُتَرْجَمٌ 'buku yang diterjemahkan.
Ar-Ruba'i mazid memiliki tiga abwab, yaitu:
a. تَفَعْلَلَ, di mana ta- (ت) dilekatkan di awal huruf pertama (tafa'lala). Contoh: تَرَعْرَعَ 'dia tumbuh', تَمَضْمَضَ 'dia berkumur-kumur'.
Bentuk mudhari-nya adalah يَتَرَعْرَعُ dan mashdarnya adalah تَرَعْرُعٌ.
b. اِفْعَلَّلَ, di mana i- (ا) dilekatkan di awal huruf pertama dan huruf keempat digadankan (diberi syaddah) (if'alalla). Contoh: اِطْمَأَنَّ 'Dia merasa yakin', اِشْمَأَزَّ 'Dia membenci'.
Bentuk mudharinya adalah يَطْمَئِـنُّ, dan mashdarnya adalah اِطْمِئْـنَانٌ.
Dalam al-Qur'an:
| "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS 13:27) | أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ |
|---|
c. اِفْعَنْلَلَ, di mana i- (ا) dilekatkan di awal huruf pertama, dan -n (ن) ditambahkan setelah huruf kedua (if'anlala), contoh: اِفْرَنْقَعَ. Bentuk mudhari-nya adalah يَفْرَنْقِعُ
dan mashdar-nya adalah اِنْفِرَاقٌ. Kalimat اِنْفَرَقَ النَّاسُ berarti 'manusia (telah) bubar'.
- "Ini seorang laki-laki" adalah هَذَا رَجُلٌ dan "Ini laki-laki tersebut" هَذَا الرَّجُلُ. Namun kalimat ini juga bisa berarti 'Laki-laki ini'. Pendengar mungkin mengira maksud anda adalah 'Laki-laki ini...' dan menunggu khabar. Untuk menghindari kerancuan ini, dhamir yang sesuai dimasukkan di antara mubtada dan khabar, contoh: هَذَا هُوَ الرَّجُلُ
'Inila laki-laki tersebut' هَؤُلاَءِ هُمُ الْمُجْرِمُونَ 'Inilah para penjahat tersebut', هَذِهِ هِيَ
السَّيَّارَةُ 'Inilah mobil tersebut', هَؤُلاَءِ هُنَّ الْمُسْلِمَاتُ 'Ini lah para wanita Muslimah.'
Dhamir yang digunakan disebut ضَمِيرُ الْفَصْلِ (dhamir yang membedakan)
Kerancuan juga muncul dalam kalimat di mana mubtada adalah isim alam dan khabar-nya adalah kata sifat atau isim yang berawalan –al, contoh; حَامِدٌ اللاَّعِبُ yang dapat berarti "Hamid si pemain' atau 'Hamid adalah pemain (itu). Jika kita bermaksud (mengatakan) 'Hamid adalah pemain (itu)' kita katakan حَامِدٌ هُوَ اللاَّعِبُ.
Berikut contoh-contoh lain dari ضَمِيرُ الْفَصْلِ.
| "Dan merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Al-Baqarah [2] : 5)<br/>"itu adalah keberuntungan yang besar." (QS At-Taubah [9] : 72) | وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ<br/>ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ |
|---|
Namun penggunaan ضَمِيرُ الْفَصْلِ tidak wajib. Jika menurut anda tidak terdapat kerancuan (antara pembicara dan pendengar –pent), anda tidak perlu menggunakannya. Kita melihat di dalam al-Qur'an: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ "Kitab (Al Quraan) ini..." (QS 2 : 2), ذَٰلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ "Itulah kemenangan yang besar." (QS 9 : 89).
- Jika anda ditawari sesuatu untuk dimakan dengan perintah كُلْ هَذَا, anda dapat
memakan seluruhnya. Akan tetapi jika perintahnya كُلْ مِنْ هَذَا, maka anda hanya mengambil sebagian darinya. Dengan cara yang sama kita katakan:
مِنَ الطُّلاَّبِ مَنْ لاَ يَعْرِفُ الإِنْكِلِيزِيَّةَ "Di antara siswa ada yang tidak mengenal Inggris."
مِنْ ini disebut مِنَ التَّبْعِيضِيَّةُ (min yang menyatakan sebagian). Beritkut beberapa contoh lainnya:
| "Anda adalah salah satu siswa terbaik" | أَنتَ مِن أَحسَنِ الطُّلَّابِ |
|---|---|
| "Anda adalah siswa terbaik." | أَنتَ أَحسَنُ الطَّالِبِ |
| "dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS Al-Baqarah [2] : 3) | وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ |
| "Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah" pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS al-Baqarah [2]: 8) | وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ |
- Dalam ؟ وَهَلْ جَاءَ الْمُدِيرُ "Dan apakah kepala sekolah telah datang?". Kata sambung وَ datang terlebih dahulu, dan kemudian kata tanya هل. Kata tanya hamzah al-istihfam أ datang sebelum kata sambung وَ , contoh: ؟ أَوَجَاءَ الْمُدِيرُ . Kita tidak dapat mengatakan وَأَجَاءَ الْمُدِيرُ؟. Berikut beberapa contoh dari Al-Qur'an:
| "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi" (QS al-A'raaf [7] : 189) | أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ |
|---|---|
| "Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya" (QS Yunus : 51) | أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنتُم بِهِ |
-
Banyak ayat dimulai dengan kata إِذْ, contoh: وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ. Dalam keadaan demikian إِذْ adalah obyek dari fi'il اُذْكُرُوا 'Ingatlah' yang seringkali ditiadakan. Makna dari ayat di atas adalah "Ingatlah ketika Ibrahim berkata...".
-
Jamak dari مَيِّتٌ 'mayat' adalah مَوْتَى dengan pola فَعْلَى. Ia adalah الْمَمْنُوعُ مِنَ الصَّرْفِ , dan tidak memiliki tanwin. Berikut beberapa contoh lainnya: أَسِيرٌ 'tawanan' : أَسْرَى , جَرِيحٌ 'luka' : جَرْحَى , مَرِيضٌ 'pasien' : مَرْضَى .
-
Jika munada adalah isim dengan dhamir mufrad mutakallim (kata ganti orang pertama tunggal) sebagai mudhaf ilaih, ia memiliki lima bentuk yang berbeda:
a. يَا رَبِّي (yaa rabbii). Ini adalah bentuk aslinya.
b. يَا رَبِّ (yaa rabbi); di sini ya ي dihilangkan
c. يَا رَبِّيَ (yaa rabbiya), ya dipertahankan namun berharokat fathah.
d. يَا رَبَّ (yaa rabba), ya dihilangkan dan huruf terakhir berharokat fathah.
e. يَا رَبَّا (yaa rabbaa), ya dihilangkan dan huruf terakhir berharokat fathah dan ditambahkan alif.
Bentuk terakhir mengambil هَاءُ السَّكْتِ di akhir : يَا رَبَّاهْ (yaa rabbaah).
Saya telah menempatkan semua bentuk dalam urutan ini: . رَبِّ، رَبِّي، رَبَّ، رَبَّا، رَبِّي
Bentuk pertama رَبِّ yang paling sering digunakan di dalam Al-Qur'an.
- Kita telah melihat pada pelajaran 14 pada Buku 3, bahwa jika jawabush-sharth adalah jumlah ismiyah, dia harus mengambil ف , contoh: وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ. ف ini dapat digantikan oleh إِذَا الْفُجَائِيَّة . Conoh:
| "dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (QS Az-Zumar : 49) "dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah." (QS At-Taubah : 58) | وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُم يَسْتَبْشِرُونَ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ |
|---|
- Kita telah mempelajari fi'il mudha'af pada Buku 2 pelajaran 29. Dalam semua bentuk mudhari, kecuali dua, huruf kedua kehilangan harokat vokalnya dan beraimilasi dengan huruf ketiga, contoh: يَحُجُّ، يَحُجَّانِ، يَحُجُّونَ، تَحُجَّانِ، يَحْجُجْنَ، تَحُجُّ، تَحُجَّانِ، تَحُجُّونَ. Proses ini disebut الإِدْغَامُ . Hanya kedua bentuk yang digarisbawahi tidak mengalami idgham, karena di-isnad-kan pada dhamir mutaharrik.
Dalam mudhari majzum, keempat bentuk ini: يَحُجَّ، تَحُجَّ، أَحُجَّ، نَحُجَّ memiliki dua kemungkinan, yang pertama dengan idgham, dan yang kedua tanpa idgham. Contoh: لَمْ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
يَحُجُّ (lam yahujju) atau لَمْ يَحْجُجْ (lam yahjuju). Ingat bahwa يَحُجُّ، (yahujju) asalanya
adalah يَحْجُجُ (yahjuj-u).
Dengan cara yang sama, لَمْ تَحُجَّ atau لَمْ تَحْجُجْ --- لَمْ أَحُجَّ atau لَمْ أَحْجُجْ --- لَمْ
تَحُجَّ atau لَمْ تَحْجُجْ.
Bentuk amr dari orang kedua tunggal maskulin (dhamir mukhathab mufrad mudzakar)
juga memiliki kemungkinan ini: حُجَّ (hujja) 'kerjakanlah haji' atau اُحْجُجْ (uhjuj).
Bentuk amr dari kata ganti orang kedua jamak feminine (jamak mukhathab mu'annats)
tanpa idgham: اُحْجُجْنَ . Ia tidak dapat memiliki idgham karena di-isnad-kan pada
dhamir mutaharik.
Proses menghilangkan idgham disebut فَكُّ الْإِدْغَامِ (fakk al-idghaam).
Berikut contoh dari Al-Qur'an mengenai hal tersebut:
| "Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku" (19:20) | قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ |
|---|---|
| "Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia." (20: 81) | وَمَن يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ |
| "Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya." (39 : 36) | وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ |
| "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (3:31) | قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ |
| "dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku," (20 :27) | وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِ |
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Tunjukkanlah fi'il ruba'i dan turunannya yang terdapat dalam buku pelajaran utama (kitab Durusul Lughah al-Arabiyah), dan sebutkanlah bab masing-masing darinya.
- Tulislah bentuk mudhar dan amr setiap fi'il berikut.
- Tunjukkanlah fi'il ruba'I dan turunanya dalam kalimat berikut, dan sebutkanlah bab masing-masing kata tersebut.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
5a. Tunjukkanlah semua ontoh ضَمِيرُ الفَصْل yang terdapat dalam pelajaran utama (Durusul Lughah).
5b. Tulislah kembali setiap kalimat berikut, membuat khabar ma'rifah dengan al- dan buatlah perubahan seperlunya.
-
Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan waw al-athf ( وَاوُ العَطْف ).
-
Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut dengan pola fa'laa.
-
Sebutkanlah jenis dalam كَمَا يَتَكَلَّمُ أَهْلُ فَرَنْسَا .
-
Apa bentuk mufrad dari الجُلُودُ ?
-
Termasuk dalam bab apa fi'il berikut ini?
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:
- Jenis-jenis dhamir.
Dhamir dapat terpisah ( المُنْفَصِل ) atau menyatu ( المُتَّصِل ).
Dhamir munfashil berdiri sendiri dan tidak melekat pada kata lain. Ia juga mencul setelah إلَّا , contoh:
| 'Saya seorang Muslim' | أَنَا مُسْلِمٌ |
|---|---|
| 'Tidak ada yang memahami pelajaran itu selain anda' | مَا فَهِمَ الدَّرْسَ إِلَّا أَنْتَ |
| 'Anda lah yang saya lihat' | إِيَّاكَ رَأَيْتُ |
| 'Saya tidak melihat melainkan anda' | مَا رَأَيْتُ إِلَّا إِيَّاكَ |
Dhamir muttashil tidak berdiri sendiri, akan tetapi selalu melekat pada kata lain, contoh:
تُ dan كَ dalam رَأَيْتُكَ 'Saya melihatmu'. Di sini تُ adalah dhamir muttashil
bermakna 'Saya' dan كَ adalah dhamir muttashil yang bermakna 'anda/engkau'.
Kita mengetahui bahwa isim menunjukkan fungsinya di dalam kalimat dengan merubah akhirannya, contoh: دَخَلَ الْوَلَدُ (al-walad-u), سَأَلْتُ الْوَلَدَ (al-walad-a), قُلْتُ لِلْوَلَدِ (al-walad-i). Akan tetapi dhamir tidak berubah akhirnnya, namun berubah keseluruhannya, contoh مِنْ أَنْتَ , tetapi أَسْأَلُكَ . Maka أَنْتَ adalah bentuk marfu dan كَ adalah bentuk manshub.
Maka ada dua kelompok dhamir (berdasarkan fungsinya dalam kalimat –pent): pertama adalah untuk rafa dan yang lainnya adalah untuk nashab dan jarr.
Dan setiap kelompok dhamir memiliki dua bentuk, yakni terpisah (munfashil) dan menyatu (muttashil).
Bentuk munfashil:
Dhamir ghaib (kata ganti orang ketiga): هُوَ، هُمَا، هُمْ، هِيَ، هُمَا، هُنَّ
Dhamir mukhathab (kata ganti orang kedua): أَنْتَ، أَنْتُمَا، أَنْتُمْ، أَنْتِ، أَنْتُمَا، أَنْتُنَّ
Dhamir mutakallim (kata ganti orang pertama): أَنَا، نَحْنُ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4
Bentuk muttashil: Berikut ini adalah dhamir muttasil bentuk rafa':
-
ta mutaharrik, seperti dalam ذَهَبْتُ، ذَهَبْتُمَا، ذَهَبْتُمْ، ذَهَبْتِ، ذَهَبْتُنَّ (-tu, -tuma, -tum, -ti, -tunna)
-
alif dari mutsanna, seperti di dalam ذَهَبَا، ذَهَبَتَا، يَذْهَبَانِ، تَذْهَبَانِ، اذْهَبَا (-â)
-
waw dari jamak, seperti di dalam ذَهَبُوا، يَذْهَبُونَ، تَذْهَبُونَ، اذْهَبُوا (-û)
-
ya dari dhamir mukhathab mu'annats, seperti dalam تَذْهَبِينَ، اذْهَبِي (-î).
-
nun dari jamak mu'annats, seperti di dalam ذَهَبْنَ، يَذْهَبْنَ، تَذْهَبْنَ، اذْهَبْنَ (-na).
-
nâ dari jamak mutakallim, sepeeti dalam ذَهَبْنَا (-nâ).
Dhamir muttashil rafa tersembunyi pada bentuk berikut:
a) Bentuk madhi: pada kedua bentuk berikut: ذَهَبَتْ dan ذَهَبَ . Perhatikan bahwa ت dalam ذَهَبَتْ bukan dhamir. Ia adalah partikel yang menunjukkan bentuk muannats.
b) Bentuk mudhari: pada keempat bentuk berikut: يَذْهَبُ، تَذْهَبُ، أَذْهَبُ، نَذْهَبُ.
Bentuk munfashil: Anda belum diperkenalkan dengan bentuk ini sebelumnya. Bentuk ini tersusun dari kata إِيَّـا ditambah dhamir muttashil berbentuk nashab yang telah anda ketahui. Contoh: إِيَّاكَ (iyyâ-ka).
Orang Ketiga : إِيَّاهُ، إِيَّاهُمَا، إِيَّاهُمْ ؛ إِيَّاهَا، إِيَّاهُمَا، إِيَّاهُنَّ
Orang Kedua: إِيَّاكَ، إِيَّاكُمَا، إِيَّاكُمْ ؛ إِيَّاكِ، إِيَّاكُمَا، إِيَّاكُنَّ
Orang Pertama: إِيَّايَ، إِيَّانَا
Bentuk muttashil: Bentuk ini tidak dapat disebutkan secara terpisah. Mereka harus dilekatkan kepada fi'il atau atau salah satu saudarinya.
Orang Ketiga: سَأَلَـهُ، سَأَلَهُمَا، سَأَلَهُمْ ؛ سَأَلَهَا، سَأَلَهُمَا، سَأَلَهُنَّ
Orang Kedua: سَأَلَـكَ، سَأَلَكُمَا، سَأَلَكُمْ ؛ سَأَلَـكِ، سَأَلَكُمَا، سَأَلَكُنَّ
Orang Pertama: سَأَلْتُنِي<sup>24</sup>، سَأَلْتُنَا
Dhamir jarr hanya memiliki bentuk muttashil, dan bentuknya sama dengan dhamir nashab. Contoh: مِنْهُ، مِنْهُمَا، مِنْهُمْ، مِنْهُنَّ، مِنْكَ، مِنْكُمَا، مِنْكُمْ، مِنْكُنَّ dst.
Dhamir nashab harus berbentuk munfashil (terpisah) pada keadaan berikut:
-
Jika ia adalah maf'ul bihi, dan mengikuti fi'il. Contoh: نَعْبُدُكَ 'Kami menyembah-Mu'. Akan tetapi (jika ditempatkan di depan): إِيَّـاكَ نَعْبُدُ '(Hanya) Engkau-lah yang kami sembah'. Kita tidak dapat mengatakan: كَ نَعْبُدُ karena كَ adalah dhamir muttashil, dan tidak dapat berdiri sendiri.
-
Jika ia adalah maf'ul bihi dari mashdar. Contoh:
'Kami menunnggu kunjungan Kepala Sekolah kepada kami'
نَنْتَظِرُ زِيَارَةَ الْمُدِيرِ إِيَّانَا
Di sini إِيَّانَا adalah objek dari mashdar زِيَارَةَ. Berikut contoh lainnya:
'Pertolonganmu kepadaku mendahului pertolonganku kepadamu'
مُسَاعَدَتُكَ إِيَّايَ كَانَتْ قَبْلَ مُسَاعَدَتِي إِيَّاكَ
-
Jika ia datang setelah isim maushul, contoh: رَأَيْتُكَ وَإِيَّاهُ 'Saya melihatmu dan dia'. Di sini kita tidak dapat mengatakan رَأَيْتُكَ وَهُ karena هُ adalah dhamir muttashil dan tidak dapat berdiri sendiri. Dengan cara yang sama kita katakan إِنِّي وَإِيَّاكَ نَاجِحَانِ 'Sungguh kamu dan saya telah lulus'. Kita tidak dapat mengatakan إِنِّي وَكَ dan juga tidak dapat dikatakan إِنِّي وَأَنْتَ karena أَنْتَ adalah dhamir rafa'.
-
Jika ia datang setelah إِلَّا. Contoh:
<sup>24</sup> Bentuk muttashil dari kata ganti orang pertama tunggal hanyalah ya ي, Nun adalah نُونُ الْوِقَايَة. Lihat Buku II Pelajaran 9.
| 'Kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya' | لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ |
|---|---|
| 'Saya tidak meminta kecuali kepada-Mu' | مَا سَأَلْتُ إِلَّا إِيَّاكَ |
- Jika ia datang setelah dhamir nashab. Contoh:



