Bahasa Arab Dasar 4

Jilid penutup seri inti yang membawa santri ke bentuk fi'il turunan, fungsi objek lanjut, jenis dhamir, dan struktur yang lebih dekat dengan bacaan kitab menengah.

Bagian 3 dari 4 94 halaman

— Bagian 3 · Di sini kita tidak dapat mengatakan أَعْطَيْتُهَ… —

Bagian 3

'Dimana majalah kepala sekolah?' أَيْنَ مَجَلَّةُ الْمُدِيرِ ؟
'Saya memberikan kepadanya' أَعْطَيْتُهُ إِيَّاهَا

Di sini kita tidak dapat mengatakan أَعْطَيْتُهَا هَا jika kedua dhamir adalah milik orang yang sama. – sebagaimana dalam contoh ini – dhamir mukhathab (kata ganti orang kedua) harus dipisahkan. Akan tetapi jika keduanya milik dari orang yang berbeda, kita dapat menggunakan dhamir mutashil atau dhamir munfashil, meskipun lebih baik menggunakan dhamir muttashil. Contoh:

'Dimana bukuku?' أَيْنَ كِتَابِي ؟
'Saya telah memberikannya kepadamu' أَعْطَيْتُـكَـهُ / أَعْطَيْتُكَ إِيَّاهُ
  1. Salah satu pola mashdar adalah فَعِيلٌ (fa'îl-un), contoh: رَنِّ الْجَرَسِ 'Bel berdering', رَنِينٌ 'dering' -- صَفَرَ 'dia bersiul', صَفِيرٌ 'siulan'.

  2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  3. Tunjukkanlah semua dhamir yang terdapat dalam pelajaran utama (Buku Durus Lughah) dan sebutkanlah termasuk kategori apa dhamir tersebut.

  4. Tunjukkanlah semua dhamir nashab munfashil yang terdapat di pelajran utama, dan sebutkanlah alasan mengapa ia berbentuk munfashil.

  5. Tulislah kembali kalimat-kalimat berikut dengan menempatkan dhamir nashab pada setiap fi'il.

  6. Tulislah kembali kalimat-kalimat berikut dengan menggunakan إِلَّا sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.

  7. Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut dengan jenis dhamir yang disebutkan di dalam kurung.

  8. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan menggunakan dua dhamir nashab sebagaimana yang ditunjukkan di dalam contoh.

  9. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan menggunakan dua dhamir nashab sebagaimana yang ditunjukkan di dalam contoh.

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

  1. Latihan pengucapan: Setiap siswa mengatakan kepada yang lainnya يُرِيدُ فُلَانٌ كِتَابَكَ، أَفَأُعْطِيهِ إِيَّاهُ؟ 'Si fulan menginginkan bukumu, bolehkah saya memberikan kepadanya?' Dan yang lain berkata نَعَمْ، أَعْطِهِ إِيَّاهُ 'Ya, berikan kepadanya' atau لَا، لَا تُعْطِهِ إِيَّاهُ 'Tidak, jangan berikan kepadanya'.

  2. Tulislah mashdari setiap fi'il berikut dalam pola fa'il.

  3. Berikanlah bentuk jamak dari اَلْخَاتَمُ dan اَلدَّرَجُ.

  4. Tulislah bentuk mudhari dan amr setiap fi'il berikut ini.

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

  1. مَفْعُولٌ مُطْلَقٌ (obyek mutlak/absolut). Ia adalah mashdar dari fi'il yang terdapat di dalam kalima yang digunakan bersama fi'il untuk maksud penekanan. Ia berbentuk manshub. Contoh:
'Bilal memukulku dengan sebuah pukulan' ضَرَبَنِي بِلَالٌ ضَرْبًـا

Kalimat ضَرَبَنِي بِلَالٌ menyampaikan maksud (pembicara), namun anda dapat mengatakan ini meskpun Bilal tidak benar-benar memukul anda, namun hanya mengangkat tangannya (dengan maksud memukul<sup>pent</sup>) atau hanya menepuk tubuh anda dengan pelan. Namun anda dapat mengatakan ضَرَبَنِي بِلَالٌ ضَرْبًـا ketika Bilal benar-benar memukul anda.

Maf'ul mutlaq memiliki empat kegunaan:

a) Memberikan penekanan sebagaimana yang baru kita lihat. Berikut contoh lainnya:

"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS An-Nisa : 164) وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

b) Untuk menunjukkan jumlah. Contoh:

'Buku itu dicetak dua kali' طُبِعَ الْكِتَابُ طَبْعَتَيْنِ
'Saya lupa dan hanya melakukan satu kali sujud' نَسِيتُ وَ سَجَدْتُ سَجْدَةً وَاحِدَةً

c) Untuk menunjukkan jenis perbuatan. Contoh:

'Dia mati dengan mati syahid' مَاتَ مَوْتَ الشُّهَدَاءِ
'Tulislah dengan jelas' اُكْتُبْ كِتَابَةً وَاضِحَةً

d) Sebagai pengganti dari fi'il. Dalam keadaan ini hanya mashdar yang digunakan. Contoh: شُكْرًا --صَبْرًا 'Bersabarlah!'. Disini mashdar adalah pengganti amr صَبْرًا-- شُكْرًا 'terima kasih'. Disini mashdar adalah pengganti mudhari' أَشْكُرُ 'Saya berterima kasih'.

Kata yang mewakili Mashdar

  1. Kata كُلُّ، بَعْضُ، أَيُّ dengan mashdar sebagai mudhaf ilaihi-nya. Contoh:
'Saya mengenalnya dengan sangat baik' أَعْرِفُـهُ كُلَّ الْمَعْرِفَةِ
'Kepala sekolah menghukumku dengan hukuman' أَخَذَنِي الْمُدِيرُ بِبَعْضِ الْمُؤَاخَذَةِ
"Seperti apa tidurmu?" أَيَّ نَوْمٍ نِمْتَ ؟
"Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (QS 26 : 227) وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
  1. Jumlah, dengan mashdar sebagai tamyiz-nya<sup>25</sup>.
'Buku tersebut dicetak tiga kali' طُبِعَ الْكِتَـابُ ثَلَاثَ طَبَعَـاتٍ
"maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera" (QS 24:2) فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ
"maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera" (QS 24:4) فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً
  1. Sebagai sifat dari mashdar (mashdar-nya sendiri dihapus), contoh

فَهِمْتُ الدَّرْسَ جَيِّدًا 'Saya memahami pelajaran tersebut dengan baik.' Ini untuk

فَهِمْتُ الدَّرْسَ فَهْمًا جَيِّدًا yang secara hafariah berarti 'Saya memahami pelajaran

dengan pemahaman yang baik'.

  1. Ismul mashdar (اسم المصدر) : Ia adalah kata yang memiliki makna yang sama

dengan mashdar, akan tetapi memiliki huruf yang lebih sedikit darinya. Contoh:

كَلَامٌ 'berbicara' adalah ismul mashdar dan تَكْلِيمٌ adalah mashdar; قُبْلَةٌ

'mencium' adalah ismul mashdar, dan تَقْبِيلٌ adalah mashdar.

'Dia berbicara kepadaku dengan perkataan yang keras'. كَلَّمَنِي كَلَامًا شَدِيدًا
  1. Keluarga mashdar: Ia adalah: a) Mashdar dari fi'il mujarrad, sedangkan fi'il yang digunakan dalam kalimat adalah mazid. Contoh:
'Saya membeli mobil itu (secara) langsung' اِشْتَرَيْتُ هٰذِهِ السَّيَّارَةَ شِرَاءً مُبَاشِرًا

Di sini شِرَاءً adalah mashdar dari fi'il mujarrad شَرِيَ يَشْرِي 'membeli',

sedangkan mashdar dari اِشْتَرَى يَشْتَرِي adalah اِشْتِرَاءٌ. Berikut contoh dari Al-Qur'an (89:20)

<sup>25</sup> Tamyiz تَمْيِيزٌ adalah kata untuk menetapkan sesuatu yang samar-samar. Tamqyiz dari bilangan dapat

berupa majrur atau manshub. Contoh: ثَلَاثَةُ كُتُبٍ، عِشْرُونَ كِتَابًا

"...dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan" وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Di sini حُبًّا adalah mashdar dari fi'il mujarrad حَبَّ يَحِبُّ (a-i) yang sangat jarang digunakan, sedangkan mashdar dari mazid أَحَبَّ يُحِبُّ adalah إِحْبَابٌ dan mashdar ini sangat jarang digunakan.

b) Mashdar bab mazid yang berbeda dari bab dari fi'il. Contoh: تَبَسَّمْتُ ابْتِسَامًا

'Saya tersenyum'. Di sini ابْتِسَامًا adalah mashdar dari fi'il ابْتَسَمَ yang termasuk ke dalam bab افْتَعَلَ sedangkan fi'il تَبَسَّمَ termasuk ke dalam bab تَفَعَّلَ dan keduanya memiliki makna yang sama. Di dalam Al-Qur'an (73:8):

"dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan" وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

Di sini kata تَبَتَّلَ termasuk dalam bab تَفَعَّلَ, sedangkan mashdar dari bab فَعَلَ.

  1. Isim Isyarah (kata petunjuk) dengan mashdar sebagai badal-nya. Contoh:
'Apakah engkau menerimakuku dengan cara penerimaan ini?' أَتَسْتَقْبِلُنِي هٰذَا اسْتِقْبَالًا

Di sini هٰذَا adalah maf'ul mutlaq oleh karena itu dia adalah فِي مَحَلِّ النَّصْبِ, dan اسْتِقْبَالًا adalah badal-nya.

  1. Dhamir yang mengacu pada mashdar, contoh:
'Saya bekerja keras dengan cara yang orang lain tidak pernah melakukannya' اجْتَهَدْتُ اجْتِهَادًا لَمْ يَجْتَهِدْهُ غَيْرِي

Di sini dhamir ـهُ menggantikan اجْتِهَادًا.

  1. Sinonim dari mashdar. Contoh:
'Saya menjalani kehidupan yang bahagia' عِشْتُ حَيَاةً سَعِيدَةً

Di sini حَيَاةً adalah sinonim dengan عِيشَةً yang diturunkan dari عَاشَ.

  1. Terdapat berbagai jenis mashdar.

a) Salah satu di antaranya adalah مَصْدَرُ الْمَرَّةِ. Mashdar ini menunjukkan berapa kali suatu perbuatan terjadi; satu kali, dua kali, tiga kali.... Ia berada dalam pola فَعْلَةٌ (fa'lat-un). Contoh:

'Saya memukulnya sekali dan dia memukulku dua kali' ضَرَبْتُهُ ضَرْبَةً وَضَرَبَنِي ضَرْبَتَيْنِ
'Buku ini telah dicetak beberapa kali' طُبِعَ هٰذَا الْكِتَابُ طَبَعَـــاتٍ

طَبَعَـــاتٍ (tabâ-at-un) adalah plural dari طَبْعَةٌ.

Dalam abwab mazid, masdhdar al-marrah dibentuk dengan menambahkan ة pada

mashdar aslinya. Contoh: تَكْبِيرٌ : تَكْبِيرَةٌ 'mengucapkan: "Allahu Akbar" satu kali',

إِطْلَالٌ 'mengintip', إِطْلَالَةٌ 'mengintip satu kali'. Contoh:

"Kita mengucapkan 'Allahu Akbar' empat kali dalam shalat jenazah" نُكَبِّرُأَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فِي الصَّلاَةِ عَلَى الْمَيِّتِ
"Saya mengintip ke jendela dua kali" أَطْلَلْتُ مِنَ النَّافِذَةِ إِطْلَالَتَيْنِ

b) Bentuk lain dari mashdar adalah مَصْدَرُ الْهَيْـــــــئَـــةِ (mashdar of manner). Ia berada pada pola فِعْلَةٌ (fi'lat-un). Contoh: جِلْسَةٌ 'cara duduk', مِشْيَةٌ 'cara berjalan'. Kita katakana:

"Jangan berjalan seperti wanita" لَا تَمْشِي مِشْيَةَ النِّسَاءِ
'Duduklah sebagaimana duduknya siswa" إِجْلِسْ جِلْسَةَ طَالِبِ عِلْمٍ

Perhatikan bahwa huruf pertama berharrakat fathah dalam mashdar al-marrah, dan kashrah dalam mashdar al-hai'ah.

Mashdar al-hai'ah tidak dibentuk dari bab mazid.

c) Jenis lain dari mashdar yaitu mashdar mîmî ( الْمَصْدَرُ الْمِيمِيُّ ). Ia berada dalam pola مَفْعَلٌ (maf'al-un) dan مَفْعِلٌ / مَفْعِلَةٌ (maf'il-un / maf'ilat-un), contoh: مَمَاتٌ 'kematian', مَعْرِفَةٌ 'pengetahuan', مَغْفِرَةٌ 'ampunan'. Dalam bab mazid, ia sama dengan isim maf'ul, contoh: مَمْزُوقٌ 'merobek', مُخْرَجَةٌ 'mengeluarkan', مُنْقَلَبٌ 'kembali'. Dalam Al-Qur'an:

'maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.' (QS Saba'[34] : 19) فَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ وَمَزَّقْنَاهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4


  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini. 3a. Tunjukkanlah semua contoh maf'ul mutlaq yang terdapat dalam (buku) pelajaran utama, dan tunjukkanlah tanda-tandanya masing-masing. 3b. Tunjukkanlah kata yang mewakili mashdar dalam contoh maf'ul mutlaq.
  2. Sebutkanlah contoh maf'ul mutlaq yang terdapat dalam kalimat berikut, dan sebutkanlah tanda-tandanya masing-masing.
  3. Tunjukkanlah kata-kata yang mewakili mashdar dalam contoh-contoh maf'ul mutlaq berikut.
  4. Lengkapilah kalimat … سَجَدْتُ dengan tiga contoh maf'ul mutlaq. Dalam contoh pertama harus menunjukkan jumlah, kedua jenis kegiatan dan yang ketiga harus menandakan penekanan.
  5. Sebutkanlah semua kata yang mewakili mashdar dalam maf'ul mutlaq.
  6. Berikanlah tiga contoh mashdar yang berfungsi sebagai pengganti dari fi'il.
  7. Bentuklah mashdar al-marrah dari setiap fi'il berikut.
  8. Bentuklah mashdar al-hai;a dari setiap fi'il berikut.

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

  1. اَلْمَفْعُولُ لَهُ atau اَلْمَفْعُولُ لِأَجْلِهِ Ini adalah mashdar yang memberitahukan kepada kita alasan melakukan suatu perbuatan.
'Saya tidak keluar karena takut hujan' لَمْ أَخْرُجْ خَوْفًا مِنَ الْمَطَرِ
'Saya hadir karena suka terhadap tata bahasa' حَضَرْتُ حُبًّا لِلنَّحْوِ

Di sini mashdar خَوْفًا memberitahukan kepada kita alasan tidak pergi keluar, dan mashdar حُبًّا memberitahukan kepada kita alsan menghadiri kelas (pelajaran). Mashdar ini menunjukkan perbuatan mental seperti takut, cinta, nafsu, rasa hormat, dan sebagainya. Ia berbentuk manshub.

Masdar maf'ul lahu kebanyakan disertai tanwin, akan tetapi juga dapat berupa mudhaf. Contoh:

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan." (17:31) وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ
'Nabi ﷺ melarang kaum Muslimin membawa al-Qur'an ke negeri musuh karena takut musuh akan membakarnya.' نَهَى النَّبِيُّ ﷺ أَنْ يُسَافَرَ بِالْقُرْآنِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ مَخَافَةَ أَنْ يَنَالَهُ الْعَدُوُّ
  1. هَلَّا Partikel ini digunakan dalam jumlah ismiyyah. Digunakan dengan mudhari untuk meminta atau mendesak seseorang melakukan sesuatu, dan dengan madhi untuk menegur seseorang karena meninggalkan suatu perbuatan. Contoh:
'Bukankah kamu seharusnya menemui kepala sekolah?', yakni 'engkau harus menemuinya' هَلَّا تَشْكُوهُ إِلَى الْمُدِيرِ
'Apakah tidak sebaiknya engkau mengadukannya kepada kepala sekolah?, yakni 'engkau harus mengadukannya' هَلَّا شَكَوْتَهُ إِلَى الْمُدِيرِ

Dalam kalimat pertama disebut حَرْفُ التَّحْضِيضِ (huruf yang berfungi untuk desakan), dan yang kedua حَرْفُ التَّنْدِيمِ (huruf teguran), Kata أَلَا، لَوْلَا، لَوْمَا، هَلَّا juga digunakan sebagai tahdhidh dan tandim. Dalam Al-Qur'an (24:12)

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (QS 24 : 12) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ
  1. رَغْبَةً فِي الْعِلْمِ، لَا رَهْبَةً مِنَ الْإِمْتِحَانِ 'karena kecintaan terhadap ilmu', bukan 'karena takut akan ujian'. لَا ini adalah kata sambung. Ia dugnakan dalam kalimat yang menegaskan atau kalimat yang mengandung amr. Contoh:
'Bilal pergi, bukan Hamid' خَرَجَ بِلَالٌ لَا حَامِدٌ
"Tanyalah kepala sekolah, bukan guru" إِسْأَلِ الْمُدِيرَ لَا الْمُدَرِّسَ
'Makanlah apel, bukan pisang' كُلِ التُّفَّاحَ لَا الْمَوْزَ

🖎 Latihan:

  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
  2. Tunjukkanlah semua contoh maf'ul lahu yang terdapat dalam perjalanan utama.
  3. Tunjukkanlah semua contoh maf'ul lahu dalam kalimat-kalimat berikut.
  4. Isilah bagian yang kosong dari setiap kalimat berikut dengan kata yang terdapat di dalam kurung dan membuatnya menjadi maf'ul lahu.
  5. Berikanlah bentuk mufrad dari kata-kata berikut.
  6. Latihan pengucapan: Setiap siswa menggunakann أَبِي وَدِينِي di dalam kalimat.
  7. Latihan pengucapan: Setiap siswa menggunakan هَلَّا di dalam dua kalimat, satu dalam bentuk tahdhidh dan yang lain dalam bentuk tandim.

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

  1. التَّمْيِيزُ ini adalah isim yang digunakan untuk mengkhususkan atau menggambarkan sesuatu yang tidak tentu dalam kata sebelumnya, dalam seluruh kalimat. Contoh:
'Saya minum seliter susu' شَرِبْتُ لِتْرًا حَلِيبًا

Kata لِتْرًا (liter) mengacu pada jumlah, akan tetapi maknanya tidak sempurna kecuali kata seperti air, susu, minyak, dan sebagainya disebutkan.

'Ibrahim lebih baik daripada saya dalam tulisan tangan' إِبْرَاهِيمُ أَحْسَنُ مِنِّي خَطًّا

Ada banyak hal dimana sesuatu mungkin lebih baik dari yang lainnya. Dalam contoh ini, kata خَطًّا megkhususkan aspek tertentu tersebut.

Tamyiz berbentuk manshub. Terdapat dua jenis tamyiz:

a) تَمْيِيزُ الذَّاتِ Ini datang setelah kata yang menunjukkan kuantitas. Ada empat jenis kuantitas:

  1. الْعَدَدُ (bilangan). Contoh:
"Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang," (QS 12:4) يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا

Tamyiz bilangan adalah manshub setelah 11 sampai 99. Setelah 3 sampai 10 adalah jamak dan majrur

  1. الْمِسَاحَةُ (ukuran linear)
'Saya membeli satu meter sutra' اشْتَرَيْتُ مِتْرًا حَرِيرًا
  1. الْكَيْلُ (ukuran kapasitas)
'Berikan saya dua liter susu' أَعْطِنِي لِتْرَيْنِ حَلِيبًا
  1. الْوَزْنُ (timbangan berat)
'Saya memiliki satu kilogram jeruk' عِنْدِي كِيلُوغْرَامٌ بُرْتُقَالاً

Kata-kata yang menunjukkan kuantitas juga dianggap sebagai tamyiz:

1. Kata كَمْ 'berapa banyak' menunjukkan jumlah<br/>'Berapa orang anak perempuanmu?' كَمْ بِنْتًا لَكَ؟
2. 'Tidak ada awan di langit sebesar telapak tangan' مَا فِي السَّمَاءِ قَدْرُ رَاحَةٍ سَحَابًا

Di sini kata قَدْرُ رَاحَةٍ 'seukuran telapak tangan mewakili kata yang menunjukkan ukuran linear.

3. 'Apakah anda memiliki satu sak tepung?' هَلْ عِنْدَكَ كِيسٌ دَقِيقًا

Di sini kata كِيسٌ sak mewakili kata yang menunjukkan ukuran kapasitas.

4. 'Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya' فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Di sini kata مِثْقَالَ ذَرَّةٍ 'seberat dzarrah' mewakili kata yang menunjukkan ukuran berat.

Tamyiz adz-dzat dapat juga berupa majrur, baik karena huruf jarr مِنْ , atau karena menjadi mudhaf ilaih. Contoh: اِشْتَرَيْتُ مِتْرًا حَرِيرًا dapat pula menjadi اِشْتَرَيْتُ مِتْرًا مِنْ حَرِيرٍ atau اِشْتَرَيْتُ مِتْرَ حَرِيرٍ. Akan tetapi kaidah ini tidak berlaku untung tamyiz bilangan, yang juga memiliki kaidahnya sendiri.

b) تَمْيِيزُ النِّسْبَةِ : digunakan untuk mengkhususkan atau menggambarkan topik tak tentu yang terkandung dalam seluruh kalimat.

'Siswa ini baik dalam hal akhlaknya.' حَسُنَ الطَّالِبُ خُلُقًا

Tamyiz ini dapat dibentuk baik sebagai fa'il atau maf'ul bihi dari kalimat kalimat tersebut.

'Bilal baik dalam hal akhlaknya' حَسُنَ بِلاَلٌ خُلُقًا
'Akhlak Bilal baik' (fa'il) حَسُنَ خُلُقُ بِلاَلٍ
'Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air' (QS 54 : 12)<br/>'Dan kami memacarkan mata air bumi.'<br/>(maf'ul bihi) وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا<br/>وَفَجَّرْنَا عُيُونَ الْأَرْضِ

Tamyiz ini selalu berbentuk manshub dan tidak dapat menjadi majrur²⁶.

²⁶ Terdapat beberapa pengecualian yang dapat anda pelajari nanti.

  1. Salah satu pola mashdar adalah فُعْلٌ (fu'l-un). Contoh: شَرِبَ 'dia minum' : شُرْبٌ 'minum' -- شَكَرَ 'dia bersukur (berterima kasih) : شُكْرٌ 'syukur (terima kasih).

  2. Kita telah mempelajari فِعْلُ التَّعَجُّبِ (kata kerja takjub) pada Buku 2 (Pelajaran 9). Contoh:

'Alangkah indahnya bintang-bintang!' مَا أَجْمَلَ النُّجُومَ !

Fi'il ini memiliki bentuk lain. Bentuknya أَفْعِلْ بِهِ. Contoh:

'Betapa banyaknya bintang-bintang!' مَا أَكْثَرَ النُّجُومَ ! = أَكْثِرْ بِالنُّجُومِ!
'Alangkah miskinnya dia' مَا أَفْقَرَهُ ! = أَفْقِرْ بِهِ !

Kedua bentuk ini digunakan di dalam Al-Qur'an:

'Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!' (QS 2:175) فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
'alangkah tajam penglihatan dan pendengaran-Nya' (18:26) أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ

Kata بِهِ telah dihapus setelah أَسْمِعْ untuk menghindari pengulangan.

🖎 Latihan:

  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  2. Tunjukkanlah semua contoh tamyiz yang terdapat di dalam pelajaran utama dan sebutkanlah jenisnya masing-masing.
  3. Tunjukkanlah tamyizi pada kalimat berikut dan sebutkanlah jenisnya.
  4. Lengkapilah setiap kalimat berikut dengan tamyiz yang sesuai.
  5. Ubahlah tamyiz menjadi bentuk majrur dalam kalimat berikut.
  6. Tulislah mashdar setiap fi'il berikut dengan pola .
  7. Latihan pengucapan: Setiap siswa mengucapkan زَمِيلِي أَحْسَنُ الطُّلَّابِ ..... menggunakan tamyiz yang sesuai.
  8. Tulislah kembali setiap kalimat berikut dengan menggunakan kedua bentuk .
  9. Gunaknlah مِلْءَ dalam lima kalimat dengan pola أُرِيدُ مِلْءَ كَفَّةٍ سَكَّرًا 'Saya ingin segenggam gula'/

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

  1. الحَالُ : Ini adalah isim yang digunakan untuk mengekspresikan keadaan sahibul hal ketika sebuah perbuatan tengah berlangsung. Contoh:
'Bilal datang (dengan) mengendarai (berkendaraan) جَاءَ بِلَالٌ رَاكِبًا

Di sini بِلَالٌ adalah sahibul hal yaitu orang yang disebutkan keadaannya, رَاكِبًا adalah hal dan جَاءَ adalah perbuatan. Hal adalah jawaban dari pertanyaan كَيْفَ 'bagaimana'. Dalam menjawab pertanyaan كَيْفَ جَاءَ بِلَالٌ؟ 'bagaimana Bilal datang?'Seseorang menjawab: رَاكِبًا. Berikut beberapa contoh:

'Anak itu datang kepadaku sambil menqangis dan kembali sambil tertawa' جَاءَتْنِي الطِّفْلَةُ بَاكِيَةً وَرَجَعَتْ ضَاحِكَةً
'Saya menyukai daging panggang, ikan goreng dan telur rebus'. أُحِبُّ اللَّحْمَ مَشْوِيًّا وَالسَّمَكَ مَقْلِيًا<br/>وَالْبَيْضَ مَسْلُوقًا

Hal adalah manshub.

Sahibul hal adalah salah satu dari yang berikut:

a) Fa'il: Contoh:<br/>'Orang itu berbicara kepadaku sambil tersenyum' كَلَّمَنِي الرَّجُلُ بَاسِمًا
b) Na'ibul fa'il, contoh:<br/>'Adzan terdengar jelas' يُسْمَعُ الْأَذَانُ وَاضِحًا
\c) Maf'ul bihi, contoh:<br/>'Saya membeli ayam (yang telah di-sembelih' اِشْتَرَيْتُ الدَّجَاجَةَ مَذْبُوحَـةً
d) Mubtadal, contoh:<br/>'Anak itu ada di dalam kamar (sedang) tidur' الطِّفْلُ فِي الْغَرْفَةِ نَائِمًا
e) Khabar, contoh:<br/>'Inilah bulat (sdang) terbit' هذا هِلَالٌ طَالِعًا

Sebagian besar sahibul hal adalah ma'rifah sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh di atas. Ia dapat berbentuk nakirah jika:

a) Disifati oleh kata sifat.

[Logo with Arabic calligraphy] Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

'Siswa yang rajin itu datang kepadaku (untuk) meminta izin' جَائِنِي طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ مُسْتَأْذِنًا

b) Atau dia berupa mudhaf dari mudhaf ilaihi yang berbentuk nakirah, contoh:

'Anak guru itu bertanya dengan marah kepadaku' سَأَلَنِي ابْنُ مُدَرِّسٍ غَاضِبًا

Jika salah satu dari persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka hal :

a) harus mendahului sahibul hal yang berbentuk nakirah. Contoh:

'Seorang siswa datang kepadaku sambil bertanya' , atau: جَائِنِي سَائِلًا طَالِبًا

b) harus berupa jumlah ismiyyah yang dihubungkan dengan kalimat utama dengan waw hal. Contoh:

'Anak itu datang kepadaku sambil menangis' جَائِنِي وَلَدٌ وَهُوَ يَبْكِي
'Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya' (QS 2 : 259) أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا

Kadang-kadang sahibul hal dapat berupa nakirah meskipun tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, sebagaimana dalam sebuah hadits:

'Nabi ﷺ shalat sambil duduk, dan beberapa orang di belakangnya shalat dengan berdri.' صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ قَاعِدًا وَصَلَّى وَرَاءَهُ رِجَالٌ قِيَامًا

Hal dapat berupa sebuah kata ( الحَالُ المُفْرَدُ ) atau kalimat ( الحَالُ الجُمْلَةُ ).

a) الحَالُ المُفْرَدُ Kita telah melihat beberapa contohnya. Berikut contoh lainnya:

'Pak Guru memasuki ruangan membawa banyak buku' دَخَلَ المُدَرِّسُ الفَصْلَ حَامِلًا كُتُبًا كَثِيرَةً

b) الحَالُ الجُمْلَةُ . Kalimat dapat berupa jumlah ismiyyah atau jumlah fi'liyyah. Contoh:

Jumlah fi'ilyyah:

'Saya duduk mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari radio'.Di sini *fi'ilnya* adalah *mudhari*. جَلَسْتُ أَسْتَمِعُ إِلَى تِلَاوَةِ القُرْآنِ الكَرِيمِ مِنَ الإِذَاعَةِ
'Saya masuk universitas setelah saudara laki-lakiku lulus.' Di sini *fi'ilnya* adalah *madhi*. اِلْتَحَقْتُ بِالجَامِعَةِ وَقَدْ تَخَرَّجَ أَخِي

Jumlah ismiyah:

'Saya menghafal Al-Qur'an ketika masih kecil.' حَفِظْتُ الْقُرْآنَ وَأَنَا صَغِيرٌ
'Orang yang terluka datang dengan berlumuran darah'. جَاءَ الْجَرِيحُ دَمُهُ يَتَدَفَّقُ

الْحَالُ الْمُجْمَلَةُ harus mengandung kata ( الرَّابِطُ ) yang menghubungkannya dengan kalimat pertama. Kata ini dapat berupa dhamir atau waw atau keduanya. Contoh:

a. 'Saudari-saudari itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَتِ الْأَخَوَاتُ يَضْحَكْنَ

Di sini ن dalam يَضْحَكْنَ adalah dhamir yang menghubungkan hal dengan sahibul hal.

b. 'Saya masuk ke Makkah ketika matahari terbenam'. دَخَلْتُ مَكَّةَ وَ الشَّمْسُ تَغْرُبُ

Di sini hal tidak memiliki dhamir yang menghubugkannya dengan sahibul hal. Satu-satunya kata penghubung adalah waw.

c. 'Para siswa kembali dengan kelelahan'. رَجَعَ الطُّلَّابُ وَهُمْ مُتْعَبُونَ

Hal sejalan dengan sahibul hal dalam jumlah dan jenisnya. Contoh:

'Siswa itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَ الطَّالِبُ ضَاحِكًا
'Kedua siswa itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَ الطَّالِبَانِ ضَاحِكَيْنِ
'Para siswa itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَ الطُّلَّابُ ضَاحِكِينَ
'Siswi itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَتِ الطَّالِبَةُ ضَاحِكَةً
'Kedua siswi itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَتِ الطَّالِبَتَانِ ضَاحِكَتَيْنِ
'Para siswa itu datang (sambil) tertawa'. جَاءَتِ الطَّالِبَاتُ ضَاحِكَاتٍ
  1. Salah satu pola mashdar adalah فَعِلٌ (fa'il-un). Contoh: لَعِبَ 'dia bermain': لَعِبٌ 'bermain'.

  2. Berikut ini dua pola jamak taksir:

a) فِعَالٌ (fi'al-un) contoh: bentuk jamak dari نَائِمٌ dan نَائِمَةٌ adalah نِيَامٌ -- bentuk jamak dari قَائِمٌ dan قَائِمَةٌ adalah قِيَامٌ.

b) فُعُولٌ (fu'ûl-un), contoh: bentuk jamak dari قَاعِدٌ dan قَاعِدَةٌ adalah قُعُودٌ -- bentuk jamak dari جَالِسٌ dan جَالِسَةٌ adalah جُلُوسٌ.

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

'(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring' (QS 3 : 191) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ
'Rasulullah ﷺ keluar dan para wanita sedang duduk' خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَإِذَا نِسْوَةٌ جُلُوسٌ
  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  2. Tunjukkanlah semua contoh hal yang terdapat dalam pelajaran utama.
  3. Tunjukanlah hal dan sahibul hal dalam kalimat-kalimat berikut.
  4. Lengkapilah setiap kalimat berikut dengan hal yang digunakan dalam contoh setelah membuat perubahan seperlunya.
  5. Tunjukkanlah jumlah hal dan rabit dalam setiap kalimat berikut.
  6. Latihan pengucapan: Setiap siswa berkata: جَلَسْتُ أَقْرَأُ / أَكْتُبُ / أُفَكِّرُ 'Saya duduk (sambi) membaca/menulis/berpikir'.
  7. Berikanlah mashdar setiap fi'il berikut dengan pola fa'il-un.
  8. Tulislah bentuk mudhari setiap fi'il berikut.
  9. Berikanlah bentuk jamak dari بَيْتٌ (dalam bentuk 'bait sya'ir) dan فَمٌ.
  10. Berikanlah bentuk mufrad dari أَرْحَامٌ dan سَكَارَى.

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

  1. 'Semua siswa lulus kecuali Khalid
نَجَحَ الطُّلَّابُ كُلُّهُمْ إِلَّا خَالِدًا

Ini adalah contoh الإِسْتِثْنَاء (pengecualian). Istitsna memiliki tiga elemen:

a) الْمُسْتَثْنَى : yakni hal yang dikecualikan, dan dalam contoh di atas adalah خَالِد

b) الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ : yakni sesuatu dimana pengecualian dibuat, dan dalam contoh di atas adalah الطُّلَّاب .

c) أَدَاةُ الإِسْتِثْنَاء : yakni seusatu yang digunakan untuk membuat pengecualian, dalam contoh di atas adalah إِلَّا . إِلَّا adalah حَرْفٌ harf. Terdapat juga partikel yang lain, yaitu:

-- غَيْرُ dan سِوَى . Ini adalah isim.

-- مَا عَدَا dan خَلَا -- . Ini adalah fi'il.

Jenis-jenis istitsna:

  1. Jika mustatsna dari jenis yang sama dengan mustatsna minha, maka istitsna disebut sebagai مُتَّصِلٌ . Dalam contoh di atas خَالِد adalah siswa. Berikut adalah contoh lainnya.
'Saya telah mengunjungi semua negeri Eropa, kecuali Yunani. زُرْتُ الْبِلَادَ الْأُورُبِّيَّةَ كُلَّهُمْ إِلَّا الْيُونَانَ
  1. Jika mustatsna seluruhnya berbeda jenisnya dengan mustatsna minha, maka istitsna disebut sebagai مُنْقَطِعٌ. Contoh:
'Para tamu telah tiba kecuali bagasinya.' وَصَلَ الضُّيُوفُ إِلَّا أَمْتِعَتَهُمْ

Jelas bahwa'bagasi' sangat berbeda jenisnya dengan 'tamu'. Makna kalimat di atas adalah para tamu telah tiba, akan tetapi bagasi atau barang-barang mereka belum. Dalam Al-Qur'an, Ibrahim υ berkata mengenai berhala:

"karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam" (QS 26 : 77) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Sangat jelas bahwa 'Tuhan Semesta Alam' tidak sama dengan berhala.

Dari sudut pandang lain, istitsna berupa تَامَّ atau مُفَرَّغٌ. Jika mustatsna minha disebutkan, maka ia adalah تَامَّ (tamm), sebagaimana dalam contoh sebelumnya. Dan jika tidak disebutkan, maka dia adalah مُفَرَّغٌ (mufarragh). Contoh:

'Tidak ada yaang datang kecuali Hamid' مَا جَاءَ إِلَّا حَامِدٌ
'Saya tidak melihat seorang pun kecuali Hamid' مَا رَأَيْتُ إِلَّا حَامِدًا

Dalam istitsna mufarragh, kalimat selalu berbentuk negatif, larangan atau pertanyaan. Kalimat yang mengandung istitsna juga terdiri dari dua jenis:

a) Kalimat yang pernyataan, disebut مُوجَبٌ. Contoh:

'Bukalah jendela-jendela kecuali yang paling akhir' اِفْتَحِ النَّوَافِذَ إِلَّا الْأَخِيرَةَ

b) Kalimat negatif, larangan atau pertanyaan, disebut غَيْرُ مُوجِبٍ. Contoh:

'Para siswa tidak absen kecuali Ibrahim' (negatif) مَا غَابَ الطَّلَابُ إِلَّا إِبْرَاهِيمَ / إِبْرَاهِيمُ
'Tidak ada yang boleh keluar kecuali orang-orang yang baru' (larangan) لَا يَخْرُجْ أَحَدٌ إِلَّا الْجُدُدَ / الْجُدُدُ
'Apakah semua orang gagal kecuali yang malas?' (pertanyaan) هَلْ يَرْسُبُ أَحَدٌ إِلَّا الْكَسْلَانَ / الْكَسْلَانُ؟

<ins>Mustasna setelah illa</ins>

1) Dalam istitsna munqati :

'Setiap penyakit ada obatnya, kecuali kematian' لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ إِلَّا الْمَوْتَ

2) Dalam istitsna muttasil :

a) Jika kalimatnya adalah mu'jab, maka mustatxhna adalah manshub. Contoh:

'Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik.' يَغْفِرُ اللهُ الذُّنُوبَ كُلَّهَا إِلَّا الشِّرْكَ

b) Jika kalimatnnya ghairu mu'jab maka ada dua kemungkinan: (1) mustatxna bisa berbentuk manshub, atau (2) dapat memiliki i'rab yang sama dengan mustatsna minha. Contoh:

Negatif (النَّفْيُ)

'Para siswa tidak datang kecuali Hamid' مَا حَضَرَ الطَّلَابُ إِلَّا حَامِدًا / حَامِدٌ
'Saya tidak bertanya kepada para siswa kecuali Hamid' مَا سَأَلْتُ الطُّلَابَ إِلَّا حَامِدًا / حَامِدًا
'Saya tidak menghubungi para siswa kecuali Hamid' مَا اتَّصَلْتُ بِالطُّلَابِ إِلَّا حَامِدًا حَامِدٌ

Laranga ( النَّهْيُ )

'Tidak ada yang boleh keluar kecuali Hamid' لَا يَخْرُجْ أَحَدٌ إِلَّا حَامِدًا / حَامِدٌ
'Jangan bertanya kepada siapapun kecuali Hamid' لَا تَسْأَلْ أَحَدًا إِلَّا حَامِدًا / حَامِدًا
'Jangan hubungi sisapapun kecuali Hamid' لَا تَتَّصِلْ بِأَحَدٍ إِلَّا حَامِدٍ / حَامِدًا

Tanya ( الاِسْتِفْهَامُ )

'Apakah semua absen kecuali Hamid?" هَلْ غَابَ أَحَدٌ إِلَّا حَامِدًا /حَامِدٌ ؟
'Apakah anda melihat seseorang kecuali Hamid?' هَلْ رَأَيْتَ أَحَدًا إِلَّا حَامِدًا / حَامِدًا؟
'Apakah anda melihat seseorang kecuali Hamid?' هَلْ اتَّصَلْتَ بِأَحَدٍ إِلَّا حَامِدٍ / حَامِدًا؟

3) Dalam istitsna mufarragh**:**

Disini mustatsa tidak memiliki i'rab yang tetap. Ia mengambil i'rab yang sesuai dalam kalimat. Contoh:

'Tidak ada yang gagal kecuali Bilal' مَا رَسَبَ إِلَّا بِلَالٌ

Di sini mustatsna ( بِلَالٌ ) adalah fa'il. Untuk mengetahui i'rab yang sesuai, hapuslah إِلَّا maka akan menjadi jelas bagi anda. Contoh: jika kita menghapus إِلَّا di atas, kita mendapatkan kalimat مَا رَسَبَ بِلَالٌ, dan di sini بِلَالٌ adalah fa'il. Ini dilakukan hanya untuk mengetahui I'rab. Maknanya tentu saja bertentangan dengan makna kalimat asalnya.

Dan dalam kalimat مَا رَأَيْتُ إِلَّا بِلَالًا 'saya tidak melihat siapapun kecuali Bilal. بِلَالًا Adalah maf'ul bihi, karena jelas terlihat pada kalimat مَا رَأَيْتُ بِلَالًا .

Tidak ada masalah dengan majrur karena didahului oleh huruf jarr. Contoh:

'Saya tidak mencari siapapun kecuali Khalid' مَا بَحَثْتُ إِلَّا عَنْ خَالِدٍ
'Kami tidak belajar kecuali di Universitas Islam.' مَا دَرَسْنَا إِلَّا بِالْجَامِعَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ

Catatan: Kita telah melihat pada Pelajran 10 bahwa hanya dhamir munfashil yang digunakan setelah إِلَّا. Berikut beberapa contoh mengenainya:

'Kami tidak beribadah melainkan kepada-Nya' (bukan إِيَّاهُ ) لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ
'Pak guru bertanya kepada semua siswa kecuali anda' (bukan إِيَّاكَ ). سَعَلَ الْمُدَرِّسُ الطُّلَّابَ كُلَّهُمْ إِلَّا إِيَّاكَ

<ins>Mustatsna setelah غَيْرَ dan سِوَى</ins>.

Mustatsna setelah kata-kata ini berbentuk majrur karena ia merupaka mudhaf ilaihi. I'rab aslinya ditunjukkan oleh kedua kata ini.

نَجَحَ الطُّلَّابُ غَيْرَ حَامِدٍ. Di sini غَيْرَ adalah manshub sebagaimana حَامِدًا juga manshub dalam نَجَحَ الطُّلَّابُ إِلَّا حَامِدًا.

مَا نَجَحَ الطُّلَّابُ غَيْرَ حَامِدٍ. Di sini غَيْرَ dapat berupa manshub atau marfu' sebagaimana dapat berberntuk manshub atau marfu' dalam مَا نَجَحَ الطُّلَّابُ إِلَّا حَامِدًا / حَامِدٌ.

مَا نَجَحَ غَيْرُ حَامِدٍ. Di sini غَيْرُ adalah marfu' sebagaimana حَامِدٌ marfu' dalam مَا نَجَحَ إِلَّا حَامِدٌ.

مَا سَأَلْتُ غَيْرَ حَامِدٍ. Di sini غَيْرَ adalah manshub sebagaimana حَامِدًا manshub dalam مَا سَأَلْتُ إِلَّا حَامِدًا.

I'rab سِوَى persis seperti غَيْرَ namun dia tersembunyi karena سِوَى adalah maqsur<sup>27</sup>

<ins>Mustatsna setelah مَا عَدَا dan مَا خَلَا</ins>.

Setelah dua kata pengecualian ini maka mustasna adalah manshub. Contoh:

'Saya telah menguji para siswa kecuali tiga (orang)' اخْتَبَرْتُ الطُّلَّابَ مَا عَدَا ثَلَاثَةً

Penyair berkata:

<sup>27</sup> Lihat Pelajaran 1 Panduan III.

![Logo] Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

'Ketahuilah, segala sesuatu kecuali Allah adalah batil' أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلٌ

Di sini بَاطِلٌ seharusnya memiliki tanwin, akan tetapi telah dihapus dengan alasan irama.

  1. أَلَا adalah partikel yang digunakan untuk menarik perhatian akan sesuatu yang penting. Contoh:
'Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.' (QS 2:12) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

Partikel ini disebut حَرْفُ اسْتِفْتَاحٍ وَ تَنْبِيْهٍ yakni huruf istiftah (pembuka) dan tanbih (peringatan).

  1. Salah satu bentuk mashdar adalah فَعْلٌ (fa'l-un), contoh: شَرَحَ 'dia menjelaskan' : شَرْحٌ 'penjelasan'.

  2. Bentuk jamak dari دِيْنَارٌ (diinaar-un) adalah دَنَانِيْرُ (dinaaniir-u). Perhatikan bahwa dalam bentik mufrad hanya terdapat satu ن , namun dalam bentuk jamak terdapat dua ن. Terdapat beberapa kata lain seperti دِيْوَانٌ، قِرَاطٌ، دِمَاسٌ yang bentuk jamaknya seperti دَنَانِيْرُ .

  3. Jika kahabar khana adalah dhamir, ia dapat berupa muttashil atau munfashil. Contoh:

'Apakah anda ingin menjadi seorang hakim?' – 'Tidak, saya tidak ingin menjadi (seorang hakim). أَتُرِيْدُ أَنْ تَكُوْنَ قَاضِيًا ؟ لَا، مَا أُرِيْدُ أَنْ أَكُوْنَهُ / أَكُوْنَ إِيَّاهُ

Baik أَكُوْنَهُ dan أَكُوْنَ إِيَّاهُ , keduanya adalah benar.

🖎 Latihan:

  1. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
  2. Tunjukkanlah semua contoh istitsna yang terdapat dalam buku pelajaran utama dan sebutkanlah jenisnya dalam setiap contoh tersebut (muttasil, munqati, mufarragh).
  3. Tunjukkanlah mustatsna dan mustatsna minha, dan sebutkanlah jenis istitsna-nya dalam contoh-contoh berikut.
  4. Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut dengan kata yang terdapat di dalam kurung, dan buatlah perubahan seperlunya.

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

  1. Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut dengan kata yang terdapat di dalam kurung, dan buatlah perubahan seperlunya.
  2. Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut dengan kata yang terdapat di dalam kurung, dan buatlah perubahan seperlunya.
  3. Isilah bagian yang kosong dalam setiap kalimat berikut dengan kata yang terdapat di dalam kurung, dan buatlah perubahan seperlunya.
  4. Lengkapilah setiap kalimat berikut dengan mustatsna yang sesuai.
  5. Tulislah bentuk jamak dari setiap kata berikut.
  6. Tulislah mashdar dari setiap fi'il berikut dengan pola fa'l-un.
  7. Apakah arti أُمَّةٌ ? Dan apa bentuk jamaknya?"
  8. Tulislah bentuk jamak dari setiap isim berikut dengan pola دَنَانِيرُ.

Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah – 4

Pada bagian ini kita mempelajari yang berikut:

1 'Demi Allah, saya akan mendakwahkan Islam di negaraku.'

وَاللهِ لَأَنْشُرَنَّ الْإِسْـلَامَ فِي بَـلَـدِي

Ini disebut نُونُ التَّوْكِيدِ (nun penekanan). Ia terdiri dari dua jenis:

a) Dengan nun ganda, contoh: أُخْرُجَنَّ 'keluar!'. Ini disebut نُونُ التَّوْكِيدِ الثَّقِيلَةُ .

b) Dengan nun tunggal, contoh: أُخْرُجَنْ . Ini disebut نُونُ التَّوْكِيدِ الخَفِيفَةُ. Ia lebih jarang digunakan dibandingkan dengan tsaqila.

Nun ini menunjukkan penekanan. Ia hanya digunakan dengan mudhari dan amr, dan tidak dengan madhi.

Bagaimana Menambahkan Nun?

a) Mudhari marfu' :

(1) Dalam bentuk yang empat: يَكْتُبُ، تَكْتُبُ، أَكْتُبُ، نَكْتُبُ, dhammah akhir digantikan

dengan fathah. Maka يَكْتُبُ berubah menjadi يَكْتُبَ (yaktub-u : yaktub-a-nna). Proses yang sama juga berlaku untuk ketiga bentuk yang lain.

(2) Dalam ketiga bentuk berikut ini, nun akhir beserta waw atau ya ditinggalkan. يَكْتُبُونَ، تَكْتُبُونَ، تَكْتُبِينَ. Maka يَكْتُبُونَ berubah menjadi يَكْتُبُ. Setelah penghapusan -na dari yaktubuu-na dan menambahkan –nna kita mendapatkan yaktubûnna. Karena huruf hidup panjang tidak diikuti oleh yang bukan huruf hidup dalam Bahasa Arab, maka û yang panjang dipendekkan. Sehingga kita mendapatkan yaktubunna.

Dengan cara yang sama dari تَكْتُبُونَ dibentuk menjadi تَكْتُبَنَّ (taktubûna : taktubûnna

: taktubunna). Perhatikan bahwa perbedaan antara (penggunaan nun) tunggal يَكْتُبَنَّ

dan ganda يَكْتُبَنَّ. adalah –a- pada yang pertama dan –u- pada yang kedua (yaktub-a-nna, yaktub-u-nna).

Dhamir mukhathab mufrad muannats (kata ganti orang kedua feminin tunggal) تَكْتُبِينَ menjadi تَكْتُبِنَّ. Setelah penghapusan –na dan menambahkan –nna, kita mendapatkan taktubînna.

(3) Dalam kedua bentuk mutsanna يَكْتُبَانِ، تَكْتُبَانِ nun terakhir dihapus, namun alif dipertahankan, karena penghapusannya menyebabkan bentuk mutsanna sama dengan

bentuk mufrad-nya. Perbedan penting dengan bentuk mutsanna yaitu nun berharakat kasrah dan bukannya fathah. Maka hasilnya adalah يَكْتُبَانِ، تَكْتُبَانِ. Setelah penghapusan –ni dari yaktubáni dan penambahan –nna kita mendapatkan yaktubánna. Harakat akhir –a (fathah) berubah menjadi –i (kasrah) untuk proses de-asimilasi (pemisahan).

(4) Dalam kedua bentuk jamak muannats يَكْتُبْنَ، تَكْتُبْنَ, nun terakhir dipertahankan dan ditambahkan –ánni. Sebagaimana dalam bentuk mutsanna, nun tersebut berharakat kasrah dalam bentuk jamak ini. Hasilnya adalah يَكْتُبْنَانِّ، تَكْتُبْنَانِّ. Perhatikan bahwa alif ditambahkan antara nun dhamir dan nun taukid (yaktubna : yaktubn-á-nni)

Prosesnya sama dengan *mudhari marfu'*kecuali nun pada fi'il yang lima telah dihapus dalam mudhari majzum. Berikut beberapa contoh:

'Jangan duduk di kursi ini karena ia patah' لَاتَجْلِسْ فِي هَذَا الْكُرْسِيِّ فَإِنَّهُ مَكْسُورٌ
'Saudara-saudara, jangan meninggalkan kelas sebelum pukul satu' يَا إِخْوَانُ، لَاتَخْرُجُنَّ الْفَصْلَ قَبْلَ السَّاعَةِ الْوَاحِدَةِ
'Zainab, jangan mencuci pakaianmu dengan sabun ini' يَا زَيْنَبُ، لَاتَغْسِلِينَ ثَوْبَكِ بِهَذَا الصَّابُونِ
'Saudari-saudari, jangan minum air ini' يَا أَخَوَاتُ، لَا تَشْرَبْنَانِّ هَذَا الْمَاءَ

Perhatikan bahwa dalam fi'il naqis, huruf ketiga yang telah dihilangkan dikembalikan lagi sebelum menambahkan nun. Contoh: لَا تَدْعُوْنَ : لَا تَدْعُ – لَا تَنْسَيْنَ : لَا تَنْسَ لَا تَمْشِيْنَ : لَا تَمْشِ. Hal ini juga terjadi pada bentuk amr.

Proses ini juga sebagian besar sama dengan bentuk amr. Contoh:

اُكْتُبْ : اُكْتُبَا Uktub : Uktuba-nna
اُكْتُبَـا : اُكْتُبَـانِّ Uktubâ : Uktubâ-nni
اُكْتُبُـوْا : اُكْتُـبْـنَ Uktubû : Uktubu-nna
اُكْتُبِـيْ : اُكْتُـبِـنَ Uktubî : Uktubi-nna
اُكْتُبْنَ : اُكْتُـبْـنَـانِّ Uktubna : Uktubn-â-nni

Penggunaannya baik berupa pilihan, wajib atau mendekati wajib.

a. Pilihan. Penggunaannya merupakan pilihan dalam keadaan berikut:

(1) Dalam bentuk amr, contoh:

'Ayo, keluarlah dari mobil, nak!' إِنْزِلَنَّ مِنَ السَّيَّارَةِ يَا وَلَدُ

(2) Dalam bentuk mudhari ia menunjukkan thalab (الطَّلَبُ), yaitu amr nahi atau istifham.<sup>28</sup> Contoh:

'Jangan pernah makan ketika kamu kenyang' لَا تَأْكُلَنَّ وَأَنْتَ شَبْعَانُ
'Apakah kamu bersafar sedangkan kamu sedang sakit?' هَلْ تُسَافِرَنَّ وَأَنْتَ مَرِيضٌ ؟

Jika pembicara merasa perlu memberi penekanan maka dia dapat menggunakannya.

b. Wajib : Ia wajib digunalan dalam mudhari jika dia merupakan jawab al-qasam. Contoh:

'Demi Allah, saya akan menghafalkan Al-Qur'an' وَاللهِ لَأَحْفَظَنَّ الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ

Di sini bentuk mudhari أَحْفَظُ merupakan jawab al-qasam karena ia didahului oleh qasam وَاللهِ. Perhatikan bahwa fi'il ini tidak saja ditambahkan –nun di akhirnya akan tetapi juga diawali dengan lam (la-afhazh-anna). Lam ini disebut لَامُ تَلَقِّي الْقَسَمِ.

Namun demikian terdapat tiga syarat dalam penggunaannya dalam jawab al-qasam, yaitu:

  • Fi'il harus berupa penegasan sebagaimana dalam contoh di atas. Baik lam atau nun tidak digunakan dalam kalimat ingkar. Contoh:
'Demi Allah, saya tidak keluar' وَاللهِ لَا أَخْرُجُ
  • Fi'il harus menunjukkan waktu yang akan datang. Jika dalam waktu sekarang, hanya lam yang digunakan dan tidak nun. Contoh:
'Demi Allah, saya mencintaimu' وَاللهِ لَأُحِبُّكَ
'Demi Allah, saya mengira dia dapat dipercaya' وَاللهِ لَأَظُنُّـــهُ صِدِّيقًا
Perhatikan bahwa:
'Demi Allah, saya akan menolongnya' وَاللهِ لَأُسَاعِدَنَّـهُ
'Demi Allah, saya sedang menolongnya' وَاللهِ لَأُسَاعِدُهُ

<sup>28</sup> Untuk thalab, lihat Pelajaran 15 Panduan 3.

Lam harus dilekatkan dengan fi'il. Jika dilekatkan dengan selain fi'il, nun tidak dapat digunakan. Contoh:

'Demi Allah, ke Makkah saya akan pergi' وَاللهِ لِإلَى مَكَّةَ أَذْهَبُ

Di sini lam dilekatkan dengan إِلَى. Akan tetapi jika dilekatkan dengan fi'il, maka nun harus digunakan. Contoh:

'Demi Allah, saya akan pergi ke Makkah' وَاللهِ لَأَذْهَـبَـنَّ إِلَى مَكَّةَ

Berikut contoh lainnya:

'Demi Allah, saya akan mengunjungimu' وَاللهِ لَسَوْفَ أَزُورُكَ

Dalam Al-Qur'an:

'Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu' (QS 93:5) وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ

Ini adalah jawab al-qasam. Dan qasam-nya adalah وَالضُّحَى.

c. Mendekati wajib: Penggunaan nun mendekati wajib setelah partikel syarat إِمَّا yang dibentuk dari إِنْ ditambah مَا untuk penguatan. Nun pada إِنْ telah digabungkan dengan مَا. Berikut beberapa contoh lainnya:

'Jika kamu pergi ke Makkah, saya (pun) akan pergi' إِمَّا تَذْهَبَنَّ إِلَى مَكَّةَ أَذْهَبُ مَعَكَ
'Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .' (QS 17:23) إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
  1. أُفٍّ; ini adalah isim fi'il bermakna 'saya jengkel' atau 'saya kesal'. Ia adalah mabni.

  2. Di dalam Al-Qur'an (3:169): بَلْ أَحْيَاءٌ. Di sini mubtada dihilangkan. Kalimat selengkapnya adalah بَلْ هُمْ أَحْيَاءٌ "bahkan mereka itu hidup". Ketika بَلْ mendahului sebuah kalimat, ia disebut حَرْفُ الْابْتِدَاءِ, yakni partikel pendahuluan, ia menunjukkan penyimpangan, yakni perubahan subyek. Perubahan ini menunjukkan satu dari dua hal berikut:

a) الْإِبْطَـــالُ yakni pembatalan pernyataan sebelumnya sebagaimana dalam ayat berikut:

'Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki' (QS 3: 169) وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

بَلْ Digunakan di sini untuk membatalkan pendapat bahwa mereka telah mati dan untuk menegaskan bahwa mereka hidup.

b) الْإِنْتِقَالُ yakni transisi dari satu ide kepada ide lainnya tanpa membatalkan (ide) yang pertama. Contoh:

'Ibarahim malas, bahkan dia lalai' إبراهيم كَسْلَانُ بَلْ هو مُهْمِلٌ
'Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya) ". (QS 68 : 26-2) فَلَمَّا رَأَوْهَا قَالُوا إِنَّا لَضَالُّونَ بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ
  1. Buatlah fi'il berikut ini menjadi bentuk penegasan dengan menggunakan nun at-taukid al-tsaqilah
  2. (1) Tunjukkanlah semua contoh nun at-taukid yang terdapat dalam pelajaran utama. (2) Latihan pengucapan:

a. Setiap siswa berkata kepada yang lainnya: لَا تَفْعَلْ كَذَا dan yang lain

menjawab: وَاللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا.

b. Setiap siswa berkata kepada yang lainnya: اِفْعَلْ كَذَا dan yang lain menjawab:

لَا تَجْلِسْ ، اِجْلِسْ ، لَا تَفْتَحْ ، اِفْتَحْ. Fi'il yang sebenarnya seperti وَاللَّهِ لَأَفْعَلَنَّ كَذَا harus digunakan.

(3) Tulislah kembali kalimat berikut dalam bentuk jawab al-qasam dan buatlah perubahan seperlunya.

(4) Tulislah bentuk mudhari dan amr setiap fi'il berikut ini.

Bagian 3 dari 4