Terjemah Akidatul Awam

Jalur aqidah dasar yang diperluas menjadi unit belajar bertahap: mulai dari tauhid dan syahadat, lalu sifat Allah, sifat rasul, sam'iyyat, hingga adab mencintai Nabi dan menjaga iman.

Bagian 1 dari 3 88 halaman

— Bagian 1 · Oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad —

Disusun dari indeks kitab digital SantriOnline.

Bagian 1

Oleh KH. Muhyiddin Abdusshomad


Khalista

LTN NU Jember

[Arabic calligraphy symbol at top of page]

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Penerbit

Khalista

"Khalista" Surabaya

Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) NU Cabang Jember

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Muhyiddin Abdusshomad Aqidah Ahlussunnah wal jama'ah, Terjemah dan Syarh 'Aqidah al'Awam/KH. Muhyiddin Abdusshomad; Editor Muhammad Faisol, M.Ag, dkk.. ~ Surabaya : Khalista, 2009 xvi + 72 hlm.; 14,5 x 21 cm. ISBN 978-979-1353-10-6 1. Ahlussunnah wal Jamaah I. Judul

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al'Awam

Penulis

KH. Muhyiddin Abdusshomad

Editor

Muhammad Faisol, M.Ag, dkk.

Tata Letak:

Tim Khalista

Desain Kulit:

Bambang S.

Penerbit:

"Khalista" Surabaya

Telp./Fax. (031) 8415832

Bekerjasama dengan

Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) NU Cabang Jember

Cetakan I, Muharram 1430 H/Januari 2009 M

Cetakan II, Rajab 1430 H/Juli 2009 M

ISBN 978-979-1353-10-6

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam v

Dalam beberapa kurun waktu terakhir ini, akselerasi perkembangan terknologi informasi sungguh luar biasa. Beragam informasi yang terjadi di belahan dunia lain begitu mudah diakses, dan masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Termasuk informasi tentang paham dan aliran keagamaan. Indonesia pun menjadi ladang yang subur bagi berkembangnya beraneka ragam paham dan aliran keagamaan. Hal ini sangat memungkinkan lantaran Indonesia merupakan negara demokrasi, yang membuka diri bagi masuk dan berkembangnya aliran keagamaan selama tidak bertentangan dengan Pancasila.

Tentunya itu adalah tantangan besar bagi kita selaku warga yang menganut paham Ahlussunnah wal Jama'ah. Sebab, paham dan aliran keagamaan yang "baru" tidak hanya berbeda secara ideologi dengan kita, tapi sudah sampai kepada tahap berhadap-hadapan. Jelas paham-paham yang baru itu potensial menggerus ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah lantaran ditopang oleh SDM yang memadai dengan memanfaatkan segala kemajuan teknologi. Sementara kita tidak mempunyai cukup keterampilan untuk memanfaatkan teknologi, selain itu hanya pasif dan manual dalam mengembangkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah.

Adalah menjadi tugas kita semua, khususnya para kiai di kalangan Nahdliyyin untuk salalu menjaga dan melestarikan aqidah Ahlissunnah wal Jama'ah di belantara aliran dan budaya bangsa yang plural ini.

Terkait dengan itu, penulis menganggap perlu menerjemahkan kitab "Aqidah al'Awam" ini. Kitab ini berisi uraian tentang pokok-pokok keyakinan dalam Islam yang biasa disebut dengan "aqaid limapuluh". Aqaid limapuluh inilah yang menjadi dasar berpijak kaum nahdliyyin. Untuk mempermudah dalam memahami kitab ini, Penulis memberikan syarh (penjelasan) yang dinukil dari berbagai kitab, baik terbitan lama maupun baru.

vi Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Materi berbentuk sya'ir atau nazham yang digubah sangat indah oleh pengarangnya (Sayyid Al-Marzuqi). Sya'ir tersebut biasa dilantunkan oleh santri sebagai dzikir menjelang shalat lima waktu berjama'ah. Indah dan khidmat sekali. Dan ini membuka ruang nostalgia penulis kembali menguat: saat sekian tahun lamanya penulis menjadi santri KH. Umar. Penulis masih ingat betapa beliau begitu telaten dan bersemangatnya ketika mengajarkan Aqidah al-'Awam kepada para santri (termasuk penulis), setiap setelah shalat zhuhur. Sembari menunggu santri berkumpul untuk mengaji, sya'ir itu dikumandangkan begitu menyentuh. Tidak hanya itu, sya'ir tersebut juga dilantunkan usai shalat Jum'at oleh para Jama'ah.

Selanjutnya penulis berharap buku ini dapat memberikan konstribusi di dalam melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, betapapun kecilnya. Semoga pahala dari usaha ini disampaikan kepada para guru tercinta, wabil khusus al-maghfurlah KH. Umar bin Moh. Ikrom (PP. Raudlatul Ulum Sumberweringin) dan al-maghfurlah KH. Kholil Nawawie (PP. Sidogiri). Kedua beliaulah yang menorehkan bibit Aswaja di hati penulis, menyiram dan merawatnya sampai berbentuk pohon. Kalaupun pohon itu sekarang berbuah, itulah hasil dari sebuah persemaian yang kedua beliau rawat sejak lama. Allahummaghfir lahum wa nafa'ana bi'ulumihim, Amin.

Akhirnya penulis tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada KH. Agoes Ali Masyhuri yang telah memberikan kata pengantar, juga kepada teman-teman LBM PCNU Jember yang telah mengedit tulisan ini.

Kritik dan saran selalu kami harapkan untuk perbaikan pada terbitan-terbitan berikutnya.

$$\text{وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ}$$

Jember, <ins>Muharram</ins> 1430 H Januari 2009 M

KH. Muhyiddin Abdusshomad

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al'Awam vii

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى اَشْرَفِ الْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

Ketika Ananda KH. Muhyiddin Abdusshomad menunjukkan kepada saya terjemah dan syarh Kitab 'Aqidah al'Awam, agar lebih mudah dipahami. Maka saya merasa senang sekali dan bersyukur kepada Allah SWT. Karena Kitab Aqidatul Awam ini merupakan salah satu kitab yang dikaji di berbagai Pondok Pesantren sejak zaman dahulu yang di dalamnya memuat uraian tentang aqidah Ahl Sunnah wal Jama'ah yang jelas, singkat dan padat. Dan manfaatnya begitu terasa bagi yang mempelajarinya dalam menguatkan keimanan.

Saya turut berdoa semoga terjemah dan syarah Kitab Aqidatul Awam ini semakin besar manfaatnya bagi umat islam, khususnya bagi warga Nahdhatul Ulama yang mereka itu adalah pengibar panji-panji Ahl Sunnah wal Jamaah di bumi Nusantara.

Jember, <ins>Muharram 1430 H</ins> Januari 2009 M

KH. Khotib Umar

NO_CONTENT_HERE

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam ix

(Sambutan KH. Agoes Ali Masyhuri)

Subhanallah, orangnya sederhana, tapi produktif. Gaya tulisannya mengalir, santun dan enak dibaca, walaupun oleh orang-orang awam yang mayoritas tinggal di pedesaan. Hidup bisa dikatakan produktif, bila kita mampu meletakkan diri pada posisi yang jelas di tengah-tengah masyarakat. Artinya, tidak sekedar menerima dan menjadi penonton, tetapi sanggup memberi sesuatu yang bermanfaat dan tidak menjadi beban orang lain. Sejalan dengan pesan orang bijak: "Tidak ada kebaikan dalam hidup seseorang. Jika tidak ada suatu yang bernilai dari dirinya". Berangkat dari kata bijak inilah yang mendorong KH. Muhyiddin Abdusshomad menulis buku yang berjudul Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah yang makna dan cakupannya sangat luas. Terdiri dari 7 bab. Buku semacam inilah yang harus dipahami dan diamalkan oleh kaum muslimin dewasa ini, bila ingin mengambil alih sebagai penghulu dunia, memperoleh kembali wibawa yang pudar dan mendapatkan kembali hakikat kalimat tauhid. Kita sering tenggelam terhadap apa yang diusung oleh lawan-lawan Islam, lupa bahwa kita muslim yang lebih unggul di hadapan Allah. Kadang-kadang kita seperti orang tolol berusaha menyembunyikan keimanan, seolah-olah Islam identik dengan kemunduran. Tragisnya banyak orang Islam tetapi dalam amaliah dan praktek hidupnya semakin jauh dari teladan Rasulullah ﷺ. Bahkan tidak jarang semakin hari semakin dekat ke budaya Yahudi dan Kapitalistik. Si kuat memakan si lemah. Uang dan jabatan jauh lebih diutamakan dari akhlak dan syariah. Di sisi lain, ada satu hal yang mengerdilkan nilai keteladanan Rasul ﷺ karena ketidakmampuan umat Islam melihat perjalanan Rasulullah ﷺ secara lengkap dan holistik baik dimensi sosial, ekonomi, politik dsb. Itu semua bersumber karena

x Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

pemahaman aqidah yang salah sehingga tidak mampu mengakses hidayah Allah dan mendekati nilai-nilai kebenaran. Untuk mengobati penyakit dan kepedihan semacam ini, mari kita berguru kepada apa yang dilakukan oleh Nabi Agung Muhammad ﷺ di dalam membangun umat dan tatanan masyarakat. Yaitu yang pertama-tama yang dilakukan oleh Rasul ﷺ menanamkan kalimat tauhid di dalam hati pengikutnya. Sehingga dalam kurun waktu ¼ abad Islam menaklukkan separoh dari belahan dunia berkat sentuhan dakwah Rasulullah ﷺ yang menjadikan tauhid sebagai panglima. Bila kita mau berpikir rasional dan hati bersih bahwa persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan dengan pertikaian dan emosional, tapi dibutuhkan sikap arif dan bijak sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Beliau Rasulullah ﷺ mampu menciptakan tatanan masyarakat yang sejuk, sejahtera, aman, tentram, harmonis, adil, makmur, demokratis dan terbuka. Sebagaimana yang dilukiskan dalam Al-Qur'an,

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya" (QS. 3 : 159).

Di sini, Rasulullah ﷺ di dalam membangun tatanan masyarakat mengedepankan iman, kelembutan dan kasih sayang. Hal ini sesuai dengan ciri Islam Ahlussunnah Wal-Jama'ah yang mengusung dan mengembangkan karakter Tawassuth, Tawazun dan I'tidal sebagai pembeda dengan aliran yang lain. Atas rahmat dan izin Allah SWT Rasul mampu mengubah penunggang-penunggang onta dari gurun tandus menjadi kiblat pengetahuan, penakluk Bizantium dan Persia. Kerinduan terhadap kehebatan dan keberhasilan Islam dengan tauhid sebagai panglima, menggugah semangat KH.Muhyiddin Abdusshomad dengan jalan menulis

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam xi

buku berjudul Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Buku yang ada di tangan Anda adalah sebagai jawaban kongkrit di tengah-tengah umat yang dilanda berbagai krisis dan derita yang melanda manusia. Mulai dari krisis 'aqidah, ekonomi, depresi, keretakan keluarga dan bermacam-macam penyakit psikologis. Apalagi saat ini diperparah terjadinya krisis politik dan keamanan yang melanda beberapa kawasan Republik tercinta. Penting diyakini karena keyakinan melebihi ilmu pengetahuan bahwa dari aqidah yang sehat dan benar, akan menumbuhkan rasa aman, percaya diri serta membentuk kesadaran mengemban amanat Ilahi, sebagai modal dasar untuk mencapai pribadi muslim yang sebenarnya. Islam sebagai agama wahyu mengandung ajaran-ajaran yang universal dan eternal serta mencakup seluruh aspek kehidupan. Kehadiran Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ diyakini menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Itu tidak akan terwujud bila tidak dilaksanakan dalam praktek hidup dan kehidupan sehari-hari.

Kiranya sudah cukup jelas bahwa Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia akhirat, ia akan terwujud, bila ajaran Islam diamalkan dengan baik dan benar. Maka sangatlah tepat, kata iman dalam al-Qur'an pada umumnya diikuti dengan perintah beramal, sebagaimana kata shalat seringkali dikaitkan dengan membayar zakat. Di sini, seakan-akan menunjukkan bahwa tidak sempurna shalat seseorang, bila tidak mendorong cinta kasih kepada mereka yang lemah dan kekurangan. Tegasnya, ibadah ritual terasa hampa dan kehilangan makna, apabila tidak diwujudkan amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tentu saja kemampuan manusia melaksanakan suatu ajaran tergantung kepada keadaan masing-masing. Sejarah telah mengabadikan bahwa tidak ada suatu masa pelaksanaan Islam dalam masyarakat yang bebas dari segi kekurangan, bahkan pada masa yang disebut zaman keemasan. Kenyataan ini sejalan dengan apa yang disyaratkan oleh al-Qur'an yang memerintahkan kita untuk bertakwa kepada-Nya "Menurut kemampuan" (QS. 64 : 16). Ayat ini mengandung pesan kepada kita bahwa dalam

xii Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

melaksanakan ajaran Allah tidak bersikap sekedarnya saja, tetapi harus berusaha dengan sungguh-sungguh sampai kepada kemampuan tertinggi. Di sisi lain merupakan bentuk tanggung jawab moral dan merupakan kewajiban untuk menjaga dan melestarikan ajaran yang diyakininya. Orang yang menginginkan derajat tinggi dan mulia selalu menjaga tarikan nafasnya dan senantiasa memelihara setiap detik umurnya supaya tidak terbuang percuma. Bagi KH. Muhyidin Abdusshomad, tenaga, pikiran dan waktu senantiasa digunakan berjuang di jalan Allah. Mengajar santri dan menulis buku menjadi skala prioritas beliau, lebih-lebih dalam persoalan mempertahankan dan mengembangkan Aqidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah di tengah-tengah masyarakat. Jadi menurut saya KH.Muhyidin Abdusshomad telah menunaikan tugasnya sebagai pengasuh umat yang tak kenal lelah, semoga Allah memberi panjang umur dan kesehatan bagi beliau.

Sidoarjo, Muharram 1430 H Januari 2009 M

KH. Agoes Ali Masyhuri

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam xiii

[Logo/emblem of Nahdlatul Ulama organization featuring a globe with Arabic text in the center, surrounded by stars arranged in a decorative pattern]

Nahdlatul Ulama adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang didirikan oleh para ulama pesantren pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M. Pendirinya adalah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisyri Syansuri, KH. Nawawie Sidogiri, KH. Ridwan Abdullah, dan lain-lain

Tujuan Nahdlatul Ulama adalah berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlussunnah WalJama'ah dan menurut salah satu dari madzhab empat untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.

(Anggaran Dasar NU Bab IV pasal 5)

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam xv

Sekapur Sirih Penulis... v Kata Sambutan KH. Khotib Umar... vii Pengantar KH. Agoes Ali Masyhuri... ix Teks 'Aqidah al-'Awam... 1

Bab Satu Ilmu Tauhid dan Dasar-Dasarnya... 5 Pentingnya Belajar Ilmu Tauhid... 5 Pengertian ASWAJA... 7 Hukum Akal ('Aqli)... 9 Hukum Kebiasaan, Bukan Hukum Akal... 11 Alam, Tabiat Dan Hukumnya... 11

Bab Dua Pengantar 'Aqidah al-'Awam... 13 Hukum Membaca Shalawat Kepada Nabi ﷺ, Keluarga dan Sahabat.. 13

Bab Tiga Sifat-Sifat Allah... 15 Sifat Dua Puluh... 15 Lima puluh keyakinan itu terdiri dari... 15 Sifat Wujud, Qidam, Baqa' dan Mukhalatu lil-Hawadits... 16 Sifat Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyat, Hayat, Qudrah, Iradah & Ilmu.. 19 Mengapa Sifat Allah Ada Dua Puluh?... 25 Sifat Jaiz Bagi Allah SWT... 25

Bab Empat Sifat-Sifat Para Nabi... 27 Sifat-Sifat Para Nabi... 27 Sifat Jaiz Para Rasul... 29 Para Rasul Bersifat Ma'shum... 30 Sifat Mustahil Para Rasul... 30

xvi Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

25 Rasul Yang Wajib Diketahui... 31 Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi dan Rasul Terakhir... 32

Bab Lima Sifat-Sifat Malaikat... 35 10 Malaikat Yang Wajib Diketahui... 36 Tugas-Tugas 10 Malaikat... 36

Bab Enam Kitab-Kitab Allah... 39 Empat Kitab Allah yang Wajib Diimani... 39 Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa... 39 Meyakini Semua yang Disampaikan Rasul ﷺ... 39 Beriman Pada Hari Akhir... 40 Beriman Pada Nikmat dan Siksa Kubur... 41 Beriman Pada Hari Kiamat... 43 Beriman Pada Hari Kebangkitan, Padang Mahsyar dan Sirath... 45 Beriman Pada Surga dan Neraka... 49

Bab Tujuh Beberapa Kewajiban Bagi Orang Mukallaf... 53 Nabi ﷺ Diutus Kepada Seluruh Umat Manusia... 53 Keluarga Nabi ﷺ... 55 Biogarfi Nabi ﷺ... 55 Putra-Putri Nabi ﷺ... 56 Istri-Istri Nabi ﷺ... 57 Paman-Paman Nabi ﷺ... 58 Menghormati Sahabat Nabi ﷺ... 58 Isra' dan Mi'raj Nabi ﷺ... 64 Kewajiban Shalat Lima Waktu... 66 Keutamaan Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq... 67 Penutup ... 69 Daftar Bacaan... 72

أَبْدَأُ بِسْـــمِ اللهِ وَالرَّحْمَـــنِ وَبِالرَّحِيمِ دَائِمًا إِلَّا حُسَـــــانِ

فَالْحَمْدُ للهِ الْقَدِيـــــمِ الْأَوَّلِ الْآخِرِ الْبَـــاقِي بِلَا تَحَـــوُّلِ

ثُمَّ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَرْمَـــــدَا عَلَى النَّبِيِّ خَيْرِمَنْ قَدْ وُحِّدَا

وَآلِهِ وَصَحْـــــبِهِ وَمَـــنْ تَبِـــعْ سَبِيلَ دِينِ الْحَقِّ غَيْرَ مُبْتَدِعْ

وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَةْ مِنْ وَاجِبٍ للهِ عِشْرِينَ صِفَةْ

فَا للهُ مَوْجُـــودٌ قَدِيمٌ بَاقِــــي مُخَالِفٌ لِلْحَـادِثِ بِالْإِطْلَاقِ

وَقَائِـــمٌ غَنِيٌّ وَوَاحِدٌ وَحَيُّ قَادِرٌ مُرِيدٌ عَالِـــمٌ بِكُلِّ شَيْءِ

سَمِيـــعٌ الْبَصِيرُ وَالْمُتَكَلِّـــمُ لَهُ صِفَـــاتٌ سَبْعَـــةٌ تَنْتَظِمُ

فَقُدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَمْعٌ بَصَرْ حَيَـــاةُ الْعِلْمُ كَلَامٌ اسْتَمَرَّ

وَجَـــائِزٌ بِفَضْلِـــهِ وَعَدْلِـــهِ تَرْكُ لِكُلِّ مُمْكِـــنٍ كَفِعْلِهِ

أَرْسَلَ أَنْبِيَـــا ذَوِي فَطَـــانَةْ بِالصِّدْقِ وَالتَّبْلِيغِ وَ الْأَمَانَةْ

وَجَائِزٌ فِي حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ بِغَيْرِ نَقْصٍ كَتَخَفِيفِ الْمَرَضِ

عَصَمَهُمُ كَسَائِرِ الْمَلَائِكَـــةْ وَاجِبَـــةٌ وَ فَاضِلُوا الْمَلَائِكَةْ

وَالْمُسْتَحِيلُ ضِدُّهَا كُلٌّ وَاجِبْ فَاسْتَحْفِظْ لِتُحْصِنَ بِحُكْمٍ وَاجِبْ

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 1

2 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

تَفْصِيلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ لُزُمْ كُلُّ مُكَلَّفٍ فَحَقِّقْ وَاغْتَنِمْ

هُمْ آدَمُ إِدْرِيسُ نُوحٌ هُودٌ مَعْ صَالِحٌ وَإِبْرَاهِيمُ كُلُّ مُتَّبِعْ

لُوطٌ وَإِسْـــمَاعِيلُ إِسْحَاقٌ كَذَا يَعْقُوبُ يُوسُفُ وَأَيُّوبُ اعْتَدَا

شُعَيْبٌ هَارُونُ وَمُوسَى وَالْيَسَعْ ذُو الْكِفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمَانُ اتَّبِعْ

الْيَـــــاسُ يُونُسُ زَكَرِيَّا يَحْيَى عِيسَى وَطَـــــهُ خَاتِمُ دَعْ عَنَّا

عَلَيْهِمُ الصَّـــــلَاةُ وَ السَّـــلَامُ وَأَلْـــهِمْ مَـــا دَامَتِ الْأَيَّامُ

وَالْمَـــــلَكُ الَّذِي بِلَا أَبٍ وَ أُمُّ لَا أَكْلٌ لَاشُرْبٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُمْ

تَفْصِيلُ عَشْرٍ مِنْهُمْ جِـــبْرِيلُ مِيكَالُ اسْـــرَافِيلُ عِزْرَائِيلُ

مُنْكَـــرٌ نَكِيرٌ وَرَقِيبٌ وَكَـــذَا عَتِيدٌ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتَذَى

أَرْبَـــــعَـــةٌ مِنْ كُتُـــبٍ تَفْصِيلُهَا تَوْرَاةُ مُوسَى بِالْهُدَى تَنْزِيلُهَا

زَبُورُ دَاوُدَ وَ الْإِنْجِـــيلُ عَـــلَى عِيسَى وَفُرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمِلَا

وَصُـــحُفُ الْخَلِـــيلِ وَ الْكَرِيمِ فِيهَا كَـــلَامُ الْحَكِيمِ الْعَلِيمِ

وَ كَـــلُّ مَا أَتَـــى بِـــهِ الرَّسُـــولُ فَحَقُّهُ التَّسْـــلِيمُ وَالْقَبُولُ

إِيـــمَانُنَا بِيَوْمٍ آخِـــرٍ وَجَبَ وَكُلُّ مَا كَانَ بِهِ مِنَ الْعَجَبِ

خَاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِبِ مِمَّا عَلَى مُكَلَّفٍ مِنْ وَاجِبِ

نَبِيُّـــنَا مُحَـــمَّدٌ قَدْ أَرْسَلَا لِلْعَـــالَمِينَ رَحْمَةً وَفَضْلَا

أَبُوهُ عَبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَهَاشِمٌ عَبْدُ مَنَافٍ يَنْتَسِبُ

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 3

وَأُمَّـــــــهُ آمِنَـــــةُ الزُّهْرِيَّـــةُ أَرْضَـــعَتْهُ حَلِيـــمَـــةُ السَّعْدِيَّـــةُ

مَوْلِـــدُهُ بِمَكَّـــــةَ الْأَمِينَـــةِ وَ فَـــاتَهُ بِطَيْبَـــةِ الْمَـــدِينَـــةِ

أَتَمَّ قَبْـلَ الْوَحْيِ أَرْبَعِـــيـــنَا وَعُمْرَةُ قَدْ جَاوَزَ السِّتِّـــيـــنَا

وَتِسْعَـــةُ أَوْلَادُهُ فَمِنْـــهُمْ ثَلَاثَةٌ مِـــنَ الذُّكُورِ تُفْهَمْ

قَاسِمٌ وَعَبْدُ اللهِ وَهُوَ الطَّيِّـــبُ وَطَـــاهِرٌ بِدَيْنٍ ذَا يُلَقَّـــبُ

أَتَـــاهُ إِبْرَاهِيمُ مِنْ مَـــرِيَّـــةَ فَـــامُهُ مَـــارِيَـــةُ الْقِبْـــطِيَّـــةُ

وَغَيْرُ إِبْرَاهِيمِ مِنْ خَدِيجَـــةَ هُمْ سِتَّةٌ فَخُذْ بِهِمْ وَ لِيجَـــةَ

وَأَرْبَـــعٌ مِنَ الْإِنَـــاثِ تُذْكَـــرُ رِضْـــوَانُ رَبِّي لِلْجَمِيعِ يُذْكَـــرُ

فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ يَعْلُوهَا عَلِي وَأَتَاهَا سِبْـــطَانِ فَضْلُهُمْ جَلِي

فَرُقَيَّـــبُ وَبَعْـــدَهَا رُقَيَّـــــةُ وَأُمُّ كُلْثُـــومٍ زَكَتْ رَحْمَـــــةُ

عَنْ تِسْعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى خَيْرُونَ فَاخْتَرْنَ النَّبِيَّ الْمُتَّقَى

عَـــائِشَةُ وَحَفْـــصَةُ وَسَـــوْدَةُ صَـــفِيَّـــةُ مَيْمُونَـــةُ وَرَمْـــلَـــةُ

هِنْـــدُ وَزَيْنَـــبُ كِلَا جُوَيْرِيَّـــةُ لِلْمُـــؤْمِنِينَ أُمَّهَاتٌ مَرْضِيَّـــةُ

حَمْـــزَةُ عَمَّةُ وَعَبَّـــاسٌ كِلَا عَمَّـــتُهُ صَفِيَّـــةُ ذَاتُ احْتِدَا

وَقَتْلُ هِجْرَتِهِ النَّبِيِّ الْإِسْـــرَا مِنْ مَكَّةَ لَيْلًا لِقُدْسٍ يُنْـــدَرَى

وَ بَعْدَ إِسْـــرَاءٍ عُـــرُوجٌ لِلسَّمَا حَتَّى رَأَى النَّبِيُّ رَبَّـــا كَلَّمَا

مِنْ عَرْشِ كَيْفٍ وَالْحِصَارِ وَافْـــتَرَضَ عَلَيْهِ خَمْسًا بَعْدَ خَمْسِينَ فَرَضَ

4 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

وَ بَلَغَ الْأُمَّةَ بِالْإِسْـــــــرَاءِ

وَ فُرِضَ خَمْسٌ بِلَا امْتِرَاءِ

فَقَدْ فَازَ صِدِّيقٌ يَتَصَدِّيقُ لَهُ

وَبِالْعُرُوجِ الصِّدْقِ وَافَى أَهْلَهُ

وَهَـــــذِهِ عَقِيدَةٌ مُخْتَصَرَةٌ

وَلِلْعَـــــوَامِ سَهْلَةٌ مُيَسَّرَةٌ

فَاطِمُ بِذَلِكَ أَحْمَدُ الْمَرْزُوقِيُّ

مَنْ يَقْتَضِي بِالصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَصَلَّى سَلَّمَا

عَلَى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا

وَالْآلِ وَالصَّحْبِ وَكُلِّ مُرْشِدِ

وَكُلِّ مَنْ بِخَيْرِ هُدًى يَقْتَدِي

وَأَسْأَلُ الْكَرِيمَ إِخْلَاصَ الْعَمَلْ

وَ نَفْعَ كُلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ

أَيُّهَا مُمَيَّزٌ بَعْدَ الْجُمَلْ

تَارِيخُهَا لِي حَيٌّ غَيْرُ جُمَلْ

سَمَّيْتُهَا عَقِيدَةَ الْعَـــــوَامِ

مِنْ وَاجِبٍ فِي الدِّينِ بِالتَّمَامِ

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 5

Ilmu Tauhid adalah:

عِلْمُ التَّوْحِيدِ عِلْمٌ يُقْتَدَرُ بِهِ عَلَى إِثْبَاتِ الْعَقَائِدِ الدِّينِيَّةِ مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِينِيَّةِ. (تُحْفَةُ الْمُرِيدِ : ٣٨)

Suatu ilmu yang karenanya ada kemampuan untuk mengokohkan 'aqidah-'aqidah agama dengan dalil-dalilnya yang pasti. (Al-Bajuri, Tuhfatul Murid, hlm. 38)

Ilmu ini disebut dengan Ilmu Tauhid karena di dalamnya membahas tentang keesaan Allah dan pembuktiannya. Kadangkala ilmu tauhid juga disebut ilmu Ushuluddin, karena di dalamnya dijelaskan pokok-pokok keyakinan dalam agama Islam. Ilmu ini juga dinamakan Ilmu Kalam, karena di dalam menjelaskan dan membuktikan keesaan Tuhan itu memerlukan pembicaraan yang benar.

Ilmu Tauhid adalah ilmu yang sangat penting bagi sctiap Muslim. Sebab ilmu ini menyangkut 'aqidah yang berkaitan dengan Islam. Sedangkan 'aqidah merupakan pondasi bagi kcberagamaan seseorang dan benteng yang kokoh untuk memelihara 'aqidah Muslim dari setiap ancaman keraguan dan kesesatan.

Kita seringkali mendengar terjadinya berbagai penyimpangan dalam berpikir, berkata dan bertindak. Hal itu terjadi karena jauhnya pemahaman yang benar tentang dasar-dasar 'aqidah Islam dan masalah-masalah keimanan.

6 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Prinsip-prinsip 'aqidah dalam Islam dan masalah-masalah keimanan adalah ajaran yang dibawa oleh para rasul sejak dahulu. Hal tersebut harus diyakini oleh setiap orang yang beriman, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ (الأنبياء: ٢٥)

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (QS. al-Anbiya': 25).

Telah dimaklumi dalam ajaran agama, bahwa semua amal saleh yang dilakukan oleh seseorang dengan penuh ketulusan hanya akan diterima oleh Allah SWT apabila didasari dengan 'aqidah Islam yang benar yang menjadi bahasan Ilmu Tauhid ini. Karena penyimpangan dari 'aqidah yang benar berarti penyimpangan dari keimanan yang murni kepada Allah. Dan penyimpangan dari keimanan adalah bentuk kekufuran kepada Allah SWT. Sedangkan Allah SWT tidak akan menerima amal baik yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman, berapa pun banyaknya amal yang dia kerjakan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ (البقرة: ٢١٧)

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman, maka mereka itulah yang sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. al-Baqarah: 217).

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 7

Dalam istilah masyarakat Indonesia, Aswaja adalah singkatan dari Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Ada tiga kata yang membentuk kata tersebut.

  1. Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikut.
  2. Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, maksudnya, semua yang datang dari Nabi ﷺ, berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi ﷺ. (Fath al-Bari, juz XII, hal.245).
  3. Al-Jama'ah, yakni apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rasulullah ﷺ pada masa Khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar r.a, Umar bin al-Khatthab r.a, Utsman bin Affan r.a, dan Ali bin Abi Thalib r.a). Kata al-Jama'ah ini diambil dari sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ أَرَادَ بَحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ (رواه الترمذي ٢١٩، والحاكم ١ / ٧٧–٧٨لاوصححه ووافقه الحافظ الذهبي)

Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al-jama'ah (kelompok yang menjaga kebersamaan). (H.R al-Tirmidzi (2091), dan al-Hakim (1/77-78) yang menilainya shahih dan disetujui oleh al-Hafizh al-Dzahabi).

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (471-561 H/1077-1166 M) menjelaskan:

فَالسُّنَّةُ مَا سَنَّةُ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي خِلَافَةِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ (الغنية لطالبي طريق الحق، ٨٠/١)

Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan beliau). Sedangkan al-Jama'ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi ﷺ pada masa Khulafaur Rasyidin yang empat, yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan

8 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Allah memberi Rahmat kepada mereka semua). (Al- Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, juz I, hal.80).

Lebih jelas lagi, Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (1287- 1336 H/1871-1947 M) menyebutkan dalam kitabnya Ziyadat Ta'liqat (hal, 23-24) sebagai berikut :

أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَهُمْ أَهْلُ التَّفْسِيرِ وَالْحَدِيثِ وَالْفِقْهِ فَإِنَّهُمُ الْمُهْتَدُونَ الْمُتَمَسِّكُونَ بِسُنَّةِ النَّبِيِّ ﷺ وَالْخُلَفَاءِ بَعْدَهُ الرَّاشِدِينَ وَهُمُ الطَّائِفَةُ النَّاجِيَةُ .قَالُوا وَقَدِ اجْتَمَعَتِ الْيَوْمَ فِي مَذَاهِبَ أَرْبَعَةٍ الْحَنَفِيُّونَ وَالشَّافِعِيُّونَ وَالْمَالِكِيُّونَ وَالْحَنْبَلِيُّونَ.

Adapun Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi ﷺ dan sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat (alfirqah alnajiyah). Mereka mengatakan, bahwa kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat, yaitu madzhab Hanafi, Syafi'i, Maliki dan Hanbali.

Pada hakikatnya ajaran Nabi ﷺ dan para sahabatnya tentang 'aqidah itu sudah termaktub dalam al-Quran dan as-Sunnah. Akan tetapi masih berserakan dan belum tersusun secara sistematis. Baru pada masa setelahnya, ada usaha dari ulama Ushuluddin yang besar yaitu Imam Abul Hasan al-Asy'ari yang lahir di Bashra tahun 260 H dan wafat pada tahun 324 H, juga Imam Abu Mansur al-Maturidi yang lahir di Maturid, Samarkand, Uzbekistan, dan wafat pada tahun 333 H, Ilmu Tauhid dirumuskan secara sistematis agar mudah dipahami. Kedua ulama tersebut menulis kitab-kitab yang cukup banyak. Imam al-Asy'ari misalnya, menulis kitab al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, Maqalat al-Islamiyyin dan lain-lain. Sedangkan Imam al-Maturidi menulis kitab Kitab al-Tauhid, Ta'wilat Ahl al-Sunnah, dan lain-lain. Karena jasa yang

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 9

besar dari kedua ulama tersebut, sehingga panyebutan Ahlussunnah Wal Jama'ah selalu dikaitkan dengan kedua ulama tersebut.

Sayyid Murtadha al-Zabidi mengatakan :

إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَالْمُرَادُ بِهِ الْأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيدِيَّةُ

(إتحاف السادة المتقين ج ٢ ص ٦ )

Jika disebut Ahlus Sunnah walJama'ah maka yang dimaksud adalah para pengikut Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi. (Ithaf al-Sadah al-Muttaqin, juz 2, hlm. 6)

Pesantren-pesantren di Indonesia secara umum mengajarkan Ilmu Tauhid menurut rumusan Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi dengan menggunakan kitab yang lebih sederhana dan ditulis oleh para pengikut kedua imam tersebut seperti kitab Kifayatul 'Awam, Ummul Barahin, dan lain-lain, termasuk kitab 'Aqidatul 'Awam ini.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Ahlussunnah Wal-Jama'ah bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Tetapi Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dan sesuai dengan apa yang telah digariskan serta diamalkan oleh para sahabatnya.

Membicarakan sesuatu termasuk juga Ilmu Tauhid tentu tidaklah lepas dari hukum-hukum akal. Apabila kita menerima sesuatu keterangan atau informasi, maka akal kita tentu akan menerima dengan salah satu pendapat atau kesimpulan hukum akal sebagaimana di bawah ini:

a. Membenarkan dan mempercayainya b. Mengingkari dan tidak mempercayainya c. Memungkinkan, artinya boleh jadi dan boleh tidak jadi

Putusan akal atau hukum akal yang pertama itu disebut وَاجِبٌ عَقْلِيٌّ

10 Terjemah dan Syarh 'Agidah al-'Awam

(wajib 'aqli), yang kedua disebut مُحَالٌ عَقْلِيٌّ (muhal atau mustahil) dan yang ketiga disebut جَائِزٌ عَقْلِيٌّ (jaiz atau mungkin: mungkin jadi dan mungkin tidak).

Berikut ini contoh-contoh hukum akal:

  1. Wajib menurut akal (pasti)

    Apabila ada orang yang berpendapat bahwa:

    a. 2 X 2 = 4

    b. Satu itu sama dengan sepertiga dari tiga

    c. Segala benda itu apabila tidak bergerak tentu diam, dan apabila tidak diam tentu begerak.

    d. Seperempat kali seperempat sama dengan seperenam belas. maka semua pendapat itu tentu akan diterima akal yang sehat. Dengan membenarkan dan mempcrcayainya dan itu namanya keterangan yang wajib diterima oleh akal (wajib 'aqli).

  2. Muhal menurut akal (tidak mungkin)

    Apabila ada orang yang berpendapat bahwa:

    a. 2 X 2 = 5

    b. Ada benda dalam waktu yang bersamaan tidak diam dan tidak bergerak

    c. Seperempat kali seperempat sama dengan seperdua kali tiga perempat

    maka semua pendapat itu tentu akan ditolak oleh akal yang sehat, tidak dapat dibenarkan dan tidak akan dapat dipercayainya, dan itu namanya hal-hal yang muhal atau mustahil.

  3. Jaiz (mungkin)

    Apabila ada orang berkata bahwa:

    a. Si Fulan nanti akan mempunyai seorang anak.

    b. Rumah ini akan rusak pada tahun ini.

maka semua keterangan itu tidak akan ditolak sama sekali oleh akal, dan tidak pula akan dipastikan kebenarannya dan dipercayai. Hal itu mungkin terjadi, dan mungkin pula tidak akan terjadi.

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 11

Yang demikian itu namanya hal yang mungkin atau jaiz.

Banyak orang yang telah biasa melihat api dapat membakar kertas. Jika orang berpegang teguh pada kebiasaan yang telah diketahui berulang-ulang itu, maka disepakati bahwa api itu pasti dapat membakar segala macam kertas. Dan apabila dikatakan sebaliknya, ia mengatakan muhal atau mustahil, atau ia heran dan tidak mau percaya.

Perbedaannya:

Dalam kejadian semisal di atas, arti pasti dan muhal tidaklah sama dengan arti pasti atau muhal menurut hukum akal. Itu hanyalah kepastian dari kebiasaan. Adapun menurut pendapat akal, kejadian itu masih harus disebut hal yang mungkin saja terjadi, dan mungkin dengan mengetahui beberapa sebab dan musabab atau akibat, akan berubahlah kepastian tersebut.

Maka dari itu, jelas bahwa hukum kebiasaan tidak sama dengan hukum akal.

Demikianlah, segala pengetahuan manusia tentang kebiasaan alam yang sering disebut dengan hukum alam itu, masih harus disebut "hal yang mungkin", menurut pendapat akal, karena keputusan atau kebiasaan itu, ada hanya dari memperhatikan kejadian-kejadian yang berulang-ulang saja.

Menurut akal, masih dipertanyakan apakah yang menyebabkan adanya tabiat? Apakah yang menyebabkan api dapat membakar? Dan apakah yang menyebabkan air mengalir ke tempat yang rendah? Dan apa yang menyebabkan tiap-tiap zat mempunyai sifat dan tabiat yang berlainan? Demikian seterusnya.

Alam seisinya disebut hawadits.

12 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Segala sesuatu yang dahulunya tidak ada kemudian ada, kemudian tidak ada lagi, atau segala sesuatu yang dahulunya bergerak, kemudian diam, maka benda yang serupa itu namanya barang yang mungkin belaka, dan juga dinamakan barang baru atau "hawadits", artinya barang yang dahulunya tidak ada.

Dengan berubahnya sifat, dari tidak ada menjadi ada, dari diam menjadi bergerak, maka akal dapat memutuskan dengan pendapatnya, bahwa sesuatu itu adalah barang yang mungkin belaka, bukan barang wajib atau mustahil. Jika dikatakan wajib, tentu akan terus keadaannya. Dan jika dikatakan mustahil, tentu tidak akan pernah terjadi.

Demikianlah alam dan segala isinya ini, ternyata sebagai hawadits, barang baru, yang dahulunya tidak ada dan senantiasa berubah-ubah.

Dan semua hawadits, atau barang yang mungkin itu, tidak akan terjadi dan berubah dengan tanpa sebab yang menyebabkan.

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 13

أَبْدَأُ بِسْـــمِ اللهِ وَالرَّحْمَـــنِ وَبِالرَّحِيمِ دَائِمٍ إِحْسَـــانِ

فَالْحَمْدُ للهِ الْقَـــدِيمِ الْأَوَّلِ الْآخِرِ الْبَـــاقِي بِلَا تَحَـــوُّلِ

Saya memuji dengan menyebut Nama Allah SWT, Nama al-Rahman dan al-Rahim yang selalu berbuat kebaikan

Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Qadim (tidak ada permulaannya), Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, dan kekal tanpa ada perubahan

ثُمَّ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سَرْمَـــدًا عَلَى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا

Kemudian shalawat dan salam sejahtera semoga selamanya tercurahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai orang terbaik yang mengesakan Allah SWT

Muncul pertanyaan, apa perlunya mengucapkan salawat kepada Nabi Muhammad ﷺ padahal beliau adalah orang yang mulia dan terpilih, dengan jaminan surga dari Allah SWT?

Jawaban dari pertanyaan ini adalah, di dalam al-Qur'an disebutkan bahwa mengucapkan shalawat adalah teladan dari Allah SWT dan para Malaikat yang mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sekaligus perintah Allah SWT kepada seluruh umat Islam untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi ﷺ. Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ

وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب، ٥٦)

14 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. al-Ahzab : 56).

وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ سَبِيلَ دِينِ الْحَقِّ غَيْرَ مُبْتَدِعٍ

Begitu pula shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada keluarga serta para sahabatnya dan siapa pun yang mengikuti jalan agama yang benar tanpa berbuat bid'ah

Syarh:

Membaca shalawat kepada keluarga Nabi ﷺ itu dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَرَنَا اللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ...الحديث (رواه مسلم)

Dari Abi Mas'ud RA, Berkata Basyir bin Sa'ad, "Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kami untuk membaca shalawat kepadamu, bagaimana cara kami membaca shalawat kepada engkau", lalu ia diam. Rasulullah lalu bersabda, "Ucapkanlah Allahumma Shalli ala muhammad wa ala ali muhammad..." (HR. Muslim)

Begitu juga membaca shalawat kepada sahabat Nabi ﷺ, diterangkan dalam beberapa hadits diantaranya:

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ رَفَعَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ (سنن أبي داود، رقم ٤٥١١)

Dari Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah, sesungguhnya Nabi ﷺ mengangkat tangannya dan bersabda, "Ya Allah, jadikanlah shalawat dan rahmat-Mu atas keluarga Sa'ad bin Ubadah" (HR. Sunan Abi Dawud, 4511)

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 15

وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَةِ مَنْ وَاجِبٍ لِلّٰهِ عِشْرِينَ صِفَّةً

Setelah apa yang dikemukakan tadi, ketahuilah tentang kewajiban mengetahui dua puluh sifat yang wajib bagi Allah SWT

Aqo'id lima puluh adalah lima puluh sifat yang wajib ketahui dan diyakini oleh seorang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

اِعْلَمْ اَنَّهُ يَجِبُ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ اَنْ يَعْرِفَ خَمْسِينَ عَقِيدَةً وَكُلُّ عَقِيدَةٍ يَجِبُ عَلَيْهِ اَنْ يَعْرِفَ لَهَا دَلِيلًا اِجْمَالِيًّا اَوْ تَفْصِيلِيًّا (كِفَايَةُ الْعَوَامِ، ٣)

Ketahuilah bahwa setiap muslim (laki-laki atau perempuan) wajib mengetahui lima puluh 'aqidah beserta dalil-dalilnya yang bersifat global atau terperinci. (Kifayatul 'Awam, hlm. 3).

Keimanan kepada Allah SWT:

1. Sifat wajib bagi Allah SWT = 20
2. Sifat mustahil bagi Allah SWT = 20
3. Sifat jaiz bagi Allah SWT = 1

Keimanan kepada para rasul:

4. Sifat wajib bagi rasul = 4
5. Sifat mustahil bagi rasul = 4
6. Sifat jaiz bagi rasul = 1
Jumlah = 50

Yang dimaksud sifat wajib di sini adalah sesuatu yang pasti ada atau

16 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

dimiliki Allah SWT atau rasul-Nya, di mana akal tidak akan membenarkan jika sifat-sifat itu tidak ada pada Allah SWT dan rasul-Nya.

Mustahil merupakan perkara yang tidak mungkin ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Kebalikan dari sifat wajib, yaitu akal tidak akan terima jika sifat-sifat tersebut ada pada Allah SWT dan para rasul-Nya.

Sedangkan jaiz adalah sifat yang tidak harus ada pada Allah SWT dan rasul-Nya. Dengan pengertian bahwa ada dan tidak adanya sifat ini pada Allah SWT dan rasul-Nya bisa diterima oleh akal.

$$\text{فَا للهُ مَوْجُـوْدٌ قَدِيْمٌ بَاقِـيٌّ} \qquad \text{مُخَالِفٌ لِلْحُـلْـقِ بِالْإِطْلاَقِ}$$

Maka Allah SWT adalah Dzat yang bersifat Wujud (Ada), Qadim (tidak ada permulaan-Nya), Kekal, dan berbeda dengan makhluk secara mutlak

Syarh:

Sifat Allah SWT yang dua puluh tersebut adalah sebagai berikut:

1. Wujud (Ada)

Allah SWT adalah Tuhan yang wajib kita sembah itu pasti ada. Allah SWT, ada tanpa ada perantara sesuatu dan tanpa ada yang mewujudkan. Firman Allah SWT:

$$\text{إِنَّنِيْ أَنَا اللهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِيْ وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِيْ (طه، ١٤)}$$

"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Thaha : 14).

Adanya alam semesta beserta isinya merupakan tanda bahwa Allah SWT ada. Dialah yang menciptakan jagad raya yang menakjubkan ini.

Kebalikan sifat ini adalah sifat 'adam (العدم), yakni Allah SWT mustahil tidak ada.

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 17

Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah SWT pasti lebih dahulu sebelum makhluk. Firman Allah SWT:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الحديد ٣).

Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Hadid : 3).

Dahulu bagi Allah SWT adalah ada tanpa awal. Tidak berasal dari tidak ada kemudian menjadi ada. Sabda Nabi ﷺ:

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِﷺ ، كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ (رواه البخاري والبيهقي)

Dari Imran bin Hushain RA, Rasulullahbersabda, "Allah SWT ada (dengan keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya. (HR. al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Kebalikannya adalah huduts (حدوث), yakni mustahil Allah SWT itu baru dan memiliki permulaan.

Arti baqa' adalah bahwa Allah SWT senantiasa ada, tidak akan mengalami kebinasaan atau rusak. Dalam al-Qur'an disebutkan:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (الرحمن، ٢٦–٢٧)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. ar-Rahman : 26-27).

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta. Dia selalu ada selama-lamanya dan tidak akan binasa serta senantiasa mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya kepada-Nya seluruh kehidupan ini akan kembali. Firman Allah SWT:

18 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (الْقَصَصِ، ٨٨)

Tiaptiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala ketentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (QS. al-Qashash : 88).

Kebalikannya adalah sifat Fana (فَنَاء), yang berarti mustahil Allah SWT tidak kekal.

Allah SWT pasti berbeda dengan segala yang baru (makhluk). Perbedaan Allah SWT dengan makhluk itu mencakup segala hal, baik dalam sifat, dzat dan perbuatannya. Firman Allah SWT:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشُّورَى، ١١)

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. as-Syura : 11).

Apapun yang terlintas di dalam benak dan pikiran seseorang, maka Allah SWT tidak seperti yang dipikirkan itu. Imam Ahmad mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ (الْفَرْقُ بَيْنَ الْفِرَقِ، ٢٠)

Apapun yang terlintas di benakmu (tentang Allah SWT) maka Allah SWT tidak seperti yang dibayangkan itu. (Al-Farqu Bain al-Firaq, 20).

Karena itulah seorang mukmin tidak diperkenankan membahas Dzat Allah SWT karena ia tidak akan mampu untuk melakukannya. Justru ketika ia menyadari akan kelemahannya itu, maka pada saat itu sebenarnya ia telah mengenal Allah SWT. Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq RA. mengatakan:

الْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ الْإِدْرَاكِ إِدْرَاكُ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ

(الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمِ، ٣١)

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 19

Ketidakmampuan untuk mengetahui Allah SWT adalah sebuah kemampuan. Sedangkan membahas Dzat Allah SWT adalah kufur dan syirik (Al-Shirat al-Mustaqim, 31)

Kebalikannya adalah mumatsalatuhu lilhawadisi (مُمَاثَلَتُهُ لِلْحَوَادِثِ), yakni mustahil Allah SWT sama dengan makhluk-Nya.

وَقَائِمٌ بِنَفْسِهِ وَوَاحِدٌ وَحَيٌّ قَادِرٌ مُرِيدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ

Allah SWT adalah Dzat Yang berdiri sendiri, Tunggal, Hidup, Berkuasa, Berkehendak dan Mengetahui segala sesuatu

Syarh:

5. Qiyamuhu binafsih (berdiri sendiri)

Berbeda dengan makhluk yang masih membutuhkan sesuatu yang lain di luar dirinya, Allah SWT tidak butuh terhadap sesuatu apapun. Allah SWT tidak membutuhkan tempat dan dzat yang menciptakan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (الْعَنْكَبُوتِ، ٦)

Sesungguhnya Allah SWT benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. al-Ankabut : 6).

Allah SWT Maha Kuasa untuk mewujudkan sesuatu tanpa membutuhkan bantuan makhluk-Nya. Tetapi merekalah yang membutuhkan Allah SWT. Firman Allah SWT:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (فَاطِرٍ، ١٥)

Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir : 15).

20 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Allah SWT tidak membutuhkan apapun dari makhluk-Nya. Bahkan terhadap ibadah yang dilakukan seorang manusia, Allah SWT tidak membutuhkannya. Ketika Allah SWT mensyariatkan shalat, puasa, zakat, haji, sedekah dan lain sebagainya, maka itu bukan karena Allah SWT membutuhkannya. Tetapi karena di dalamnya ada manfaat besar yang akan dirasakan oleh orang-orang yang melaksanakan. Jadi ibadah itu bukan untuk kepentingan Allah SWT, tetapi itu adalah kebutuhan manusia sebagai hamba Allah SWT.

Kebalikan dari sifat ini adalah ihtiyajuhu li ghairihi (احتياجه لغيره) artinya mustahil Allah SWT butuh kepada makhluk.

Allah SWT satu/esa, tidak ada tuhan selain Dia. Allah SWT Maha Esa dalam Dzat, Sifat dan perbuatan-Nya. Firman Allah SWT:

$$\text{قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ}$$

(الأنبياء، ١٠٨)

Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". (QS. al-Anbiya' : 108).

Satu dalam Dzat. Artinya, bahwa Dzat Allah SWT satu, tidak tersusun dari beberapa unsur atau anggota badan dan tidak ada satupun dzat yang menyamai Dzat Allah SWT.

Satu dalam sifat artinya bahwa sifat Allah SWT tidak terdiri dari dua sifat yang sama, dan tidak ada sesuatupun yang menyamai sifat Allah SWT.

Dan satu dalam perbuatan adalah bahwa hanya Allah SWT yang memiliki perbuatan. Dan tidak satupun yang dapat menyamai perbuatan Allah SWT.

Sifat yang mustahil bagi-Nya yaitu "ta'addud" (تعدد) berbilangan, bahwa mustahil Allah lebih dari satu. Firman Allah SWT:

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 21

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (الْأَنْبِيَاءِ، ٢٢)

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak dan binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS. al-Anbiya': 22).

  1. Qudrat (Kuasa)

Allah SWT Maha Kuasa dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Kekuasaan Allah SWT meliputi segala sesuatu. Kuasa untuk mewujudkan dan meniadakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (الْحَشْرِ، ٦).

Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Hasyr : 6).

Kalau Allah SWT tidak kuasa, tentu Ia tidak akan mampu meciptakan alam raya yang sangat menakjubkan ini. Karena itu, mustahil bagi Allah SWT memiliki sifat al'Ajzu (العجز) yang berarti lemah.

  1. Iradah (Berkehendak)

Allah SWT Maha berkehendak, dan tidak seorangpun yang mampu menahan kehendak Allah SWT. Dan segala yang terjadi di dunia berjalan sesuai dengan kehendak Allah SWT. Allah SWT berfirman:

قُلْ فَمَن يَمْلِكُ لَكُم مِّنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا ۚ بَلْ كَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. (الْفَتْحِ، ١١).

Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalanghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. al-Fath : 11).

22 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Allah SWT juga berfirman:

$$\text{وَإِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ (يس، ٨٢)}$$

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82).

Lawan dari sifat ini adalah al-karahah ( الكراهة ) yang mempunyai makna "terpaksa", yakni mustahil Allah berbuat sesuatu karena terpaksa, atau tidak dengan kehendak-Nya sendiri.

Bagian 1 dari 3