Terjemah Akidatul Awam

Jalur aqidah dasar yang diperluas menjadi unit belajar bertahap: mulai dari tauhid dan syahadat, lalu sifat Allah, sifat rasul, sam'iyyat, hingga adab mencintai Nabi dan menjaga iman.

Bagian 2 dari 3 88 halaman

— Bagian 2 · Allah SWT adalah Dzat yang Maha Menciptakan, mak… —

Bagian 2

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Menciptakan, maka Ia pasti mengetahui segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Allah SWT mengetahui dengan jelas akan semua perkara yang tampak ataupun yang samar, tanpa ada perbedaan antara keduanya. Allah SWT berfirman:

$$\text{إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ (الأعلى، ٧)}$$

Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. (QS. al-A'la : 7).

Kebalikan sifat ini adalah al-jahlu (الجهل), yang berarti bodoh. Bahwa mustahil Allah SWT bodoh atau tidak mengetahui pada apa yang diciptakan.

Allah SWT Maha Hidup, dan hidup Allah SWT adalah kehidupan abadi, tidak pernah dan tidak akan mati. Allah SWT berfirman:

$$\text{وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ}$$ $$\text{بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (الفرقان، ٥٨)}$$

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. al-Furqan : 58).

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al'Awam 23

Kebalikan dari sifat ini adalah al-mautu (الموت), yang berarti mati. Yakni mustahil Allah SWT mati.

سَـبِّـحِ السَّـمِـيعَ وَالْمُبْصِـرَ كَـلَّـمْ فَقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ

لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَنْتَظِـمُ حَيَـاةُ الْعِلْمِ كَـلَامٌ اسْتَمَـرْ

Allah SWT juga Maha Mendengar, Melihat, dan Berbicara Dia mempunyai tujuh sifat yang teratur Yaitu sifat Qudrat, Iradat, Sama', Bashar Hayat, Ilmi dan Kalam yang berlangsung terus

11. Sama' (Mendengar)

Allah SWT Maha Mendengar. Namun pendengaran Allah SWT tidak sama dengan pendengaran manusia yang bisa dibatasi ruang dan waktu. Allah SWT mendengar dengan jelas semua yang diucapkan hamba-Nya. Allah SWT Maha mendengar segala sesuatu baik yang bersifat lahir ataupun bathin. Firman Allah SWT:

إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (الدخان: ٦)

Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. ad-Dukhan : 6).

Kebalikan dari sifat ini adalah al-shamamu (الصمم) yang berarti tuli. Yakni bahwa mustahil Allah SWT itu tuli.

12. Bashor (Melihat)

Allah SWT Maha melihat segala sesuatu. Baik yang tampak ataupun yang samar. Bahkan andaikata ada semut yang hitam berjalan di tengah malam yang gelap gulita, Allah SWT dapat melihatnya dengan jelas.

24 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الشورى: ١١)

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri berpasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak berpasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. as-Syura : 11).

Kebalikan sifat ini adalah al-'ama (الْعَمَى) yang berarti buta, yakni mustahil Allah SWT itu buta.

Allah SWT Maha berfirman, namun firman Allah SWT tidak sama seperti perkataan manusia yang terdiri dari suara dan susunan kata-kata. Firman Allah SWT, tanpa suara dan kata-kata.

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا (النساء: ١٦٤)

Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (QS. an-Nisa' :164).

Kebalikan sifat ini adalah al-bakamu (الْبَكَمُ), yang berarti bisu. Yakni bahwa mustahil Allah SWT itu bisu.

Tujuh sifat ini adalah tergolong sifat Ma'ani. Sedangkan tujuh sifat setelahnya adalah sifat Ma'nawiyyah. Yakni, 14) Qodiron (Allah Maha Berkuasa ), 15) Muridan (Allah Maha Berkehendak), 16) Aliman (Allah Maha Mengetahui), 17) Hayyan (Allah Maha Hidup), 18) Sami'an (Allah Maha Mendengar), 19) Bashiran (Allah Maha Melihat), dan 20) Mutakalliman (Allah Maha Berbicara).

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 25

Jika diperinci, maka dua puluh sifat wajib bagi Allah SWT terbagi menjadi empat bahagian.

  1. Sifat Nafsiyah, yakni sifat untuk mcnegaskan adanya Allah SWT, di mana Allah SWT menjadi tidak ada tanpa adanya sifat tersebut. Yang tergolong sifat ini hanya satu, yakni sifat wujud.

  2. Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah SWT. Sifat Salbiyah ini ada lima sifat yakni, 1) Qidam, 2) Baqo', 3) Mukhalafatuhu lil hawaditsi, 4) Qiyamuhu binafsihi, dan 5) Wahdaniyyah.

  3. Sifat Ma'ani, adalah sifat yang pasti ada pada Dzat Allah SWT. Terdiri dari tujuh sifat, 1) Qudrat, 2) Iradah, 3) Ilmu, 4) Hayat, 5) Sama', 6) Bashar dan 7) Kalam.

  4. Sifat Ma'nawiyyah, adalah sifat yang mulazimah (menjadi akibat) dari sifat ma'ani, yakni 1) Qadiran, 2) Muridan, 3) Aliman, 4) Hayyan, 5) Sami'an, 6) Bashiran, 7) Mutakalliman.

Kadang kala ada pertanyaan, "mengapa sifat Allah yang wajib diketahui oleh orang mukallaf hanya dua puluh sifat? Bukankah sifat-sifat Allah yang terdapat dalam al-Asma' al-Husna ada sembilan puluh sembilan?"

Perlu diketahui bahwa Ahlussunnah Wal Jama'ah tidak membatasi sifat-sifat Allah menjadi dua puluh sifat. Ahlussunnah Wal Jama'ah menetapkan sifat dua puluh karena sifat dua puluh itu adalah sifat Dzat Allah yang menjadi syarat ketuhanan (syarthul uluhiyyah). Sedangkan sifat-sifat Allah yang lain adalah shifat af'al (sifat yang berkaitan dengan perbuatan) Allah. Dan shifat al-af'al Allah itu jumlahnya banyak serta tidak terbatas.

وَجَـــائِزٌ بِفَضْـــلِهِ وَعَدْلِـــهِ تَرْكُ لِكُلِّ مُمْـــكِنٍ كَفِعْلِهِ

Dan adalah boleh dengan anugerah Allah SWT dan keadilannya, ialah meninggalkan segala yang mungkin seperti halnya Dia melakukannya

26 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Sifat jaiz Allah SWT ada satu, yakni:

فَعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ أَوْ تَرْكُهُ

Allah berhak untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan (tidak mengerjakan)nya.

Tidak ada satu pun kekuatan yang dapat memaksa-Nya. Allah SWT memiliki hak penuh untuk mengerjakan atau mewujudkan suatu perkara. Sebagaimana juga Allah SWT mempunyai pilihan bebas untuk tidak menjadikannya. Firman Allah SWT:

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (النحل: ٤٠)

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "Kun (jadilah)", maka jadilah ia. (QS. an-Nahl : 40).

Tidak satupun dari makhluk Allah SWT yang dapat memaksa Allah SWT untuk melaksanakan atau meninggalkan sesuatu. Karena Allah SWT adalah Dzat yang Maha Memaksa dan Maha Kuasa, tidak bisa dipaksa atau dikuasai. Sedangkan usaha dan doa manusia hanya sekedar perantara untuk mengharap belas kasih Allah SWT dalam mengabulkan apa yang diinginkan manusia. Manusia berusaha dan Allah yang menentukan. Jika Allah telah menghendaki sesuatu, maka Allah juga akan menjadikan manusia mendapatkan kemudahan-kemudahan untuk mencapai apa yang dikehendaki-Nya. Keputusan akhir mutlak ada pada kekuasaan Allah SWT. Sabda Nabi SAW:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ (رواه ابن ماجه، سنن ابن ماجـــه جزء ١ ص ٤١)

Bekerjalah engkau, setiap orang dimudahkan jalannya sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan. (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Juz 1, hal. 41)

بِالصِّدْقِ وَالْبَلِيْغِ وَالْأَمَانَةِ أَرْسَلَ أَنْبِيَـا ذَوِي فَـطَانَةٍ

Allah SWT mengutus beberapa nabi yang memiliki kecerdasan, dengan perkataan yang benar, menyampaikan perintah Allah SWT dan amanah

Syarh:

Allah SWT mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi. Nabi adalah seorang manusia yang menerima wahyu dari Allah SWT, namun tidak ada perintah untuk disampaikan kepada kaumnya. Sedangkan rasul, selain menerima wahyu ia juga diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya. Maka bisa dikatakan bahwa setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.

Sebagai utusan Allah SWT, mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dibekali Allah SWT dengan keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk Allah SWT yang lain. Begitu pula mereka diberikan sifat-sifat kesempurnaan sebagai penguat atas risalah yang dibawa.

Khusus bagi Rasul, sebagai kesempurnaan dari risalah yang disampaikan, Allah SWT menganugerahkan empat sifat kesempurnaan, yang pasti dimiliki oleh seorang rasul Allah SWT. Yakni:

1. Shidiq (jujur)

Setiap rasul pasti jujur dalam ucapan dan perbuatannya. Pujian Allah SWT kepada Nabi Ibrahim:

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 27

28 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا (مريم : ٤١)

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur lagi seorang Nabi. (QS. Maryam : 41).

Setiap rasul pasti jujur dalam pengakuan atas kerasulannya. Dan apa yang disampaikan pasti benar adanya, karena memang bersumber dari Allah SWT. Sebagaimana dalam al-Qur'an:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (النجم: ٣–٤)

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm : 3-4).

2. Tabligh (menyampaikan)

Setiap rasul pasti menyampaikan apa yang diterima dari Allah SWT. Jika Allah SWT, memerintahkan rasul untuk menyampaikan wahyu, seorang rasul pasti menyampaikan wahyu tersebut kepada kaumnya. Dalam al-Qur'an disebutkan:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّيْ وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (الأعراف: ٦٢)

Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-A'raf : 62).

3. Amanah (bisa dipercaya)

Secara bahasa amanah berarti bisa dipercaya. Sedangkan yang dimaksud di sini ialah, bahwa setiap rasul itu dapat dipercaya dalam setiap ucapan dan perbuatannya, karena rasul tidak mungkin melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama, begitu pula hal yang melanggar etika. Setiap rasul

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 29

tidak mungkin terperosok ke dalam perzinahan, pencurian, menkonsumsi minuman keras, berdusta, menipu dan lain sebagainya. Rasul tidak mungkin memiliki sifat hasud, riya', sombong, dusta dan sebagainya.

4. Fathonah (cerdas)

Dalam menyampaikan risalah Allah SWT, tentu dibutuhkan kemampuan dan strategi khusus agar risalah yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Karena itu, seorang rasul pastilah orang yang cerdas. Kecerdasan ini sangat berfungsi terutama dalam menghadapi orang-orang yang membangkang dan menolak ajaran Islam. Dalam al-Qur'an disebutkan:

قَالُوا يَانُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (هود: ٣٢)

Mereka berkata: "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (QS. Hud : 32).

Bermujadalah di sini merupakan kemampuan menjelaskan ajaran Nabi tersebut dengan argumen yang bisa diterima oleh kaumnya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kecerdasan (fathonah)

وَجَائِزٌ فِي حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضٍ يَغِيرُ نَقْصٍ كَخَفِيفِ الْمَرَضِ

Adalah boleh bagi para rasul mengalami kejadian yang dialami manusia Tanpa mengurangi derajat mereka seperti sakit yang ringan

Syarh:

Walaupun sebagai seorang utusan Allah SWT yang memiliki sifat kesempurnaan melebihi makhluk Allah SWT yang lain, namun hal itu tidak akan melepaskan mereka dari fitrah kemanusian yang ada dalam

dirinya. Seorang rasul tetaplah sebagai seorang manusia biasa yang berprilaku sebagaimana manusia yang lain.

Para rasul Allah SWT memiliki sifat serta melakukan aktivitas sebagaimana manusia kebanyakan. Sudah tentu yang dimaksud adalah prilaku dan sifat-sifat yang tidak mengurangi derajat kenabian mereka di mata manusia. Seperti makan, minum, tidur, sakit dan semacamnya. Sedangkan prilaku yang dapat merendahkan derajat kerasulannya, mereka tidak pernah melakukannya. Dan inilah yang membedakan mereka dengan manusia yang lain.

عِصْمَتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلَائِكَـــةِ وَاجِبَـــــةٌ وَ فَاضِلُوا الْمَلَائِكَةَ

Mereka wajib terpelihara dari perbuatan dosa (ma'shum) seperti halnya Malaikat dan keutamaan mereka melebihi para Malaikat

Syarh:

Sebagaimana para malaikat, yang selalu patuh kepada perintah Allah SWT, dan tidak pernah sekalipun melanggar larangan Allah SWT, maka para nabi dan rasul Allah SWT juga demikian. Mereka adalah orang-orang yang dijaga Allah SWT dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa. Para nabi dan Rasul adalah orang yang selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya.

Allah SWT telah menjaga para nabi dan rasul dari terjerumus ke dalam perbuatan dosa, sejak mereka masih kecil, sebelum mereka mengemban risalah Allah SWT, begitu pula setelah diangkat menjadi nabi dan rasul Allah SWT.

وَالْمُسْتَحِيْلُ ضِدُّ كُلٍّ وَاجِبِ فَاحْفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ

Sifat mustahil adalah kebalikan dari setiap sifat yang wajib, maka hafalkanlah aqaid lima puluh untuk melaksanakan hukum yang wajib

30 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 31

Sedangkan sifat mustahil bagi rasul adalah kebalikan dari sifat wajib yang empat di atas. Perincian sifat mustahil bagi para rasul tersebut adalah sebagai berikut.:

  1. Shiddiq (jujur) kebalikannya Kidzib (dusta)
  2. Amanah (dapat dipercaya) kebalikannya Khiyanat (tidak dapat dipercaya)
  3. Tabligh (menyampaikan wahyu) kebalikannya Kitman (menyembunyikan wahyu)
  4. Fathonah (cerdas) kebalikannya Baladah (bodoh)

Dengan demikian maka genaplah aqoid lima puluh yang wajib diketahui oleh umat Islam.

$$ \begin{aligned} &\text{تَفْصِيلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ لُزُمْ} \qquad \text{كُلُّ مُكَلَّفٍ فَحَقِّقْ وَاغْتَنِمْ} \end{aligned} $$

Rincian dua puluh lima rasul wajib diketahui oleh setiap orang mukallaf, maka pastikan dan ketahuilah bilangannya

Para rasul Allah SWT sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan nabi Allah SWT mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib untuk diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah SWT yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur'an. Dengan perincian sebagai berikut:

$$ \begin{aligned} &\text{تَفْصِيلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ لُزُمْ} \qquad \text{كُلُّ مُكَلَّفٍ فَحَقِّقْ وَاغْتَنِمْ}\ &\text{هُمْ آدَمُ إِدْرِيسُ نُوحٌ هُودٌ مَعْ} \qquad \text{صَالِحٍ وَإِبْرَاهِيمَ كُلٌّ مُتَّبِعْ}\ &\text{لُوطٌ وَإِسْمَاعِيلُ إِسْحَاقٌ كَذَا} \qquad \text{يَعْقُوبُ يُوسُفُ وَأَيُّوبُ اتَّخَذَا}\ &\text{شُعَيْبٌ هَارُونُ وَمُوسَى وَالْيَسَعْ} \qquad \text{ذُو الْكِفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمَانُ اتَّبِعْ} \end{aligned} $$

32 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

النَّـــــاسُ يُونُسَ ذِكْرُنَا يَحْيَى عِيسَى وَطَـــــهُ خَاتِمٌ وَدَعْ عَمَّا

عَلَيْهِمُ الصَّـــلَاةُ وَ السَّـلَامُ وَآلِهِمْ مَـــا دَامَتِ الْأَيَّامُ

Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih dan Ibrahim semuanya diikuti Luth, Isma'il, Ishaq, ya'qub, Yusuf, Ayyub yang mengikuti Syu'aib, Harun, Musa, Ilyasa', Dzulkifli, Dawud dan Sulaiman yang mengikuti Ilyas, Yunus, Zakariya, Yahya, Isa, dan Thaha (Nabi Muhammad) sebagai nabi yang terakhir, maka tinggalkanlah jalan yang sesat Shalawat dan salam sejahtera semoga selalu terlimpahkan kepada mereka dan keluarganya, selama hari-hari masih berjalan

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah SWT yang wajib diketahui. Dimulai dari Nabi Adam AS sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad ﷺ, nabi dan rasul Allah SWT yang terakhir.

Nabi Muhammad ﷺ adalah Nabi dan Rasul Terakhir

Penegasan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi dan rasul Allah SWT yang terakhir ditegaskan langsung oleh Allah SWT dan Rasul-Nya di dalam al-Qur'an dan hadits. Di antaranya adalah firman Allah SWT:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّـينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (الأحزاب : ٤٠).

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasülullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Ahzāb : 40).

Nabi ﷺ juga bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ (سنن الترمذي، ٢١٩٨)

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 33

Dari Anas bin Malik ia berkata, bahwa Rasūlullāhbersabda, "Sesungguhnya misi kerasulan dan kenabian telah selesai. Karena itu tidak ada rasul dan nabi setelah aku." (Sunan al-Tirmidzi, 2198).

Dalam hadits yang lain Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنَا مُحَمَّدُ النَّبِيُّ الْأُمِّيُّ قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي (مسند احمد ، ٦٣١٨)

Dari Abdullah bin Amar, Rasulullahbersabda, "Saya adalah Muhammad, seorang nabi yang ummi (beliau mengucapkannya tiga kali), dan tidak ada nabi setelah saya." (Musnad Ahmad, 6318).

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ juga bersabda tentang Bani Israil:

عَنْ فُرَاتِ الْقَزَّازِ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي (صحيح البخاري، ٣١٩٨)

Dari Furat al-Qazzaz, Nabibersabda, " Bani Isra'il dulu dipimpin oleh para nabi. Setiap seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi yang lain. Namun (berbeda dengan umatku, karena) setelah aku tidak akan ada nabi lagi." (Shahih al-Bukhari, 3198).

Sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang wafatnya putra beliau yang bernama Ibrahim:

عَنْ إِسْمَاعِيلَ قُلْتُ لِابْنِ أَبِي أَوْفَى رَأَيْتَ إِبْرَاهِيمَ ابْنَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ مَاتَ صَغِيرًا! وَلَوْ قُضِيَ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ مُحَمَّدٍ ﷺ نَبِيٌّ عَاشَ ابْنُهُ وَلَكِنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ (صحيح البخاري، ٥٧٢٦)

Dari Ismail, saya berkata kepada Ibnu Abi Aufa, "Engkau telah melihat Ibrahim putra Nabi ﷺ*?" Dia menjawab, "Ya, saya melihatnya) meninggal*

34 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

ketika masih kecil (dalam usia delapan belas bulan). Andaikan Allah SWT telah menetapkan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ, niscaya Ibrahim akan hidup (tidak meninggal dunia). Tetapi (Allah SWT telah menentukan bahwa) tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ. (Shahih al-Bukhari, 5726).

Terkait dengan meninggalnya putra beliau Ibrahim, Ibn Abbas mengatakan:

Allah SWT bermaksud apabila aku tidak menjadikan dia (Muhammad ﷺ) penutup para nabi, niscaya pasti aku ciptakan seorang anak untuknya yang akan menjadi nabi sesudahnya. (Al-Shabuni, Shafwah al-Tafasir, juz II hal 529).

Rasul ﷺ juga bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

(سنن الترمذي، ٢١٤٥)

Dari Tsauban ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kelak pada umatku ada tiga puluh orang pendusta. Mereka semua mengaku dirinya sebagai nabi. (Maka janganlah percaya karena sesungguhnya) akulah akhir para nabi dan tidak ada nabi setelahku. (Sunan al-Tirmidzi, 2145).

Ini merupakan peringatan dari Rasulullah ﷺ bahwa akan ada orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah beliau. Dan dengan tegas Nabi ﷺ mengatakan agar umat Islam tidak mempercayai mereka, karena beliau adalah akhir dan penutup para nabi.

Keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat Nabi ﷺ, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, serta merta mereka menolaknya, sekaligus menyatakan perang kepada mereka.

وَالْمَلَـــكُ الَّذِي بِلَا أَبٍ وَأُمٍّ لَا أَكَلَ لَاشَرِبَ وَلَا نَوْمَ لَهُمْ

Dan Malaikat yang tanpa ayah dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur

Umar Islam wajib percaya kepada adanya malaikat sebab hal itu sudah ditegaskan dalam al-Qur'an. Sebagaimana firman Allah SWT:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ. (البقرة، ٢٨٥).

Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. (QS. al-Baqarah: 285).

Iman kepada malaikat artinya adalah meyakini bahwa Allah SWT telah menciptakan makhluk yang terbuat dari cahaya, dan tidak pernah durhaka kepada Allah SWT.

Malaikat adalah makhluk yang sangat mengagumkan. Mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak berkeluarga. Mereka dapat mengubah bentuk dirinya menjadi seperti manusia, sebagaimana terjadi pada malaikat Jibril ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 35

36 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Muhammad ﷺ. Tidak jarang ia menampakkan dirinya dalam bentuk seperti manusia.

Masing-masing malaikat diberi tugas oleh Allah SWT. Di antara mereka ada yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu, mencatat amal manusia, menjaga surga, mengikuti dan menghadiri majlis dzikir. Di antara mereka ada yang ditugaskan hanya untuk menyembah dan bertasbih kepada Allah SWT. Ada pula yang ditugaskan untuk menjaga badan manusia dan sebagainya.

Para malaikat hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT kepadanya. Mereka tidak melanggar larangan Allah SWT ataupun sesuatu yang tidak diperintahkan kepadanya. Dalam al-Qur'an disebutkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ. (التحريم، ٦).

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. al-Tahrim : 6).

تَفْصِيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمْ جِـبْـرِيْـلُ مِيْكَالُ اِسْـرَافِيْـلُ عِزْرَائِيْـلُ

مُنْكَـرُ نَكِيْرُ رَزِيْـبٌ وَكَـذَا عَتِيْدٌ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتَذَى

Rincian sepuluh dari Malaikat adalah Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Mungkar, Nakir, Raqib, Atid, Malik dan Ridhwan yang mengikuti

Tugas-Tugas Sepuluh Malaikat

Malaikat-malaikat Allah SWT banyak sekali, namun yang wajib

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 37

diketahui hanya sepuluh Yakni

  1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT.
  2. Malaikat Mika'il bertugas memberikan rizki.
  3. Malaikat Izra'il bertugas mencabut arwah.
  4. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet pertanda hari kiamat.
  5. dan 6. Malaikat Munkar dan Malaikat Nakir, bertugas menjaga kuburan.
  6. dan 8. Malaikat Raqib dan Malaikat Atid, bertugas mencatat amal baik dan buruk manusia.
  7. Malaikat Ridwan, bertugas menjaga surga.
  8. Malaikat Malik, bertugas menjaga neraka.

38 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 39

أَرْبَـــعَــــةٌ مِنْ كُـتُـبٍ تَفْصِيْلُهَا تَـوْرَاةُ مُوْسَى بِالْهُدَى تَنْزِيْلُهَا

زَبُوْرُ دَاوُدَ وَ إِنْجِـــيْــــلٌ عَـــلَى عِيْسَى وَ فُرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمِلَا

Rincian empat kitab (yang wajib diketahui) adalah Taurat(nya Nabi) Musa yang diturunkan membawa petunjuk, Zabur(nya Nabi) Dawud, Injil yang diturunkan atas Isa dan Furqan (al-Qur'an) yang diturunkan kepada sebaik-baik Nabi (Muhammad ﷺ)

وَصُــــحُفُ الْخَـــلِيْلِ وَ الْكَلِيْمِ فِيْهَا كَــــلاَمُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ

Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, di dalamnya terdapat firman Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui

Iman kepada kitab Allah SWT adalah percaya dan meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab kepada para rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup manusia.

وَ كُـــلُّ مَا أَتَـى بِــهِ الرَّسُـوْلُ فَحَقُّهُ التَّسْــــلِيْمُ وَالْقَبُوْلُ

Segala sesuatu yang disampaikan oleh rasul, maka kewajibannya adalah meyakini dan menerimanya

Syarh:

Umat Islam wajib meyakini dan melaksanakan semua yang dibawa dan disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, baik berupa perintah, larangan

40 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

atau hal yang terkait dengan kabar tentang hal-hal gaib. Kabar dari Rasul itu sudah termaktub dalam al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi. Untuk memahami hadits-hadits Nabi, para ulama telah mempersiapkan perangkat-perangkat ilmu seperti ilmu musthalah hadits, ilmu rijal al-hadits, dan lain-lain, dalam rangka menyeleksi validitas suatu hadits. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ (الحشر، ٧)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr : 7).

Meyakini apa yang dibawa oleh Nabi ﷺ itu berarti bahwa umat Islam wajib melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT, kemudian tidak melakukan pencurian, perzinahan, perusakan lingkungan, aniaya, penipuan dan semacamnya, adalah bentuk dari upaya untuk melaksanakan apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Dan inilah yang disebut Islam yang sempurna (kaffah) sebagaimana difirmankan Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (البقرة: ٢٠٨)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. al-Baqarah : 208).

إِيمَانًا بِيَوْمٍ آخِـــرَ وَجَبَ وَكُلِّ مَا كَانَ بِهِ مِنَ الْعَجَبْ

Kita wajib percaya akan adanya hari akhir, dan segala keajaiban yang terjadi

pada hari itu

Maksud dari beriman kepada hari akhir adalah keyakinan yang pasti akan datangnya hari akhir dan sesuatu yang berhubungan dengannya. Dalam masalah iman kepada hari akhir, ada beberapa hal yang harus diyakini oleh seorang mukmin yakni, siksa dan nikmat kubur, hari mahsyar, hisab, surga, neraka dan semacamnya.

Kita yakin bahwa kematian itu pasti akan menjempur setiap manusia. Dan apabila kematian telah datang kepada seseorang, maka tidak akan bisa dimajukan atau ditunda. Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

(الأعراف: ٣٤)

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka (ajal) tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. al-A'raf : 34).

Dan setelah seseorang dikuburkan, Allah SWT mengembalikan ruh orang tersebut, kemudian datang dua malaikat yang akan menanyakan beberapa hal kepadanya. Malaikat itu bertanya kepadanya tentang Tuhan, nabi, agama, kiblat dan saudaranya.

Orang-orang yang dapat menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir adalah mereka yang selama hidupnya selalu berbuat kebaikan, banyak beribadah kepada Allah SWT, serta menolong sesama manusia. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ. (فصلت، ٣٠).

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah",

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 41

42 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang Telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fusshilat : 30).

Sedangkan orang-orang yang selama hidupnya selalu diisi dengan kedurhakaan dan tindakan yang menyengsarakan sesama, akan mendapat siksa dalam kuburnya. Dalam hal ini, siksa kubur dibagi menjadi dua.

Pertama, Adzab kubur yang berlangsung terus sampai hari kiamat. Yaitu untuk orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang selalu berbuat dosa besar. Sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur'an tentang keluarga Fir'aun:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (المؤمن: ٤٦)

Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat): "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras". (QS al-Mukmin : 46).

Kedua, Adzab kubur yang berlaku sementara. Yakni siksa kubur yang diterima oleh orang mukmin yang melakukan kemaksiatan. Ia disiksa sesuai dosa yang dilakukan di dunia. Siksa ini bisa diringankan atau bahkan dihentikan jika apa yang dia diterima sudah dianggap cukup untuk menebus dosa yang pernah dilakukan. Atau ada do'a dan permohonan ampunan (istighfar) atau kiriman pahala sodakoh, bacaan al-Qur'an dan lainnya, yang dipanjatkan oleh sanak keluarga, famili, dan teman-teman yang masih hidup.

Dari sinilah, bagi segenap kaum muslim yang masih hidup, sebaiknya senantiasa mendo'akan keluarga, terutama kedua orang tua, sahabat atau seluruh kaum muslimin yang telah meninggal dunia. Hal itu merupakan salah satu bentuk kepedulian kepada mereka, sehingga dapat menjalani kehidupan alam kubur dengan tenang dan bahagia.

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 43

Dalam hal inilah, tradisi tahlilan yang sudah berlaku umum di masyarakat Indonesia perlu terus dilakukan dan dilestarikan, karena apa yang dibaca dalam acara tersebut merupakan sesuatu yang memang sangat dibutuhkan oleh orang yang telah meninggal dunia.

Begitu pula, setiap selesai shalat lima waktu agar tidak henti-hentinya mendo'akan kedua orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia, atau dengan mengirimkan pahala bacaan surat al-Fatihah untuk mereka.

Berkaitan dengan siksa kubur, adakah dalil dalam al-Qur'an dan hadits yang menerangkan tentang siksa kubur? Keyakinan tentang adanya siksa kubur ini telah dijelaskan dalam hadits shahih berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَدْعُو : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ (رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ selalu berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, siksa api neraka, ujian dalam kehidupan dan kematian, dan dari keburukan Dajjal." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari kiamat adalah hari hancurnya seluruh alam semesta. Bumi dan seluruh alam raya serta makhluk yang ada di dalamnya akan binasa. Semua makhluk bernyawa akan menemui kematian. Bumi hancur, langit runtuh dan air laut tumpah. Semua orang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Firman Allah SWT:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (١) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (٢) وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا (٣) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (٤)

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan

44 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

manusia bertanya: "Mengapa bumi (jadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya." (QS. al-Zalzalah : 1-4).

Hari kiamat pasti akan terjadi, namun tidak seorangpun yang mengetahui waktu terjadinya kiamat. Manusia dengan segala perangkat ilmu dan tekhnologi yang dimilikinya tidak akan dapat memprediksikan kapan terjadinya hari tersebut. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana firman-Nya SWT:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (الأعراف: ١٨٧)

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakanakan kamu benarbenar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. al-A'raf : 187).

Manusia hanya diberi pengetahuan tentang tanda-tanda terjadinya kiamat tersebut, agar kita selalu waspada dan terus meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Umumnya tanda kiamat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, tanda-tanda kecil, yakni sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya adalah ketika Nabi ﷺ ditanya oleh malaikat Jibril tentang hari kiamat. Nabi ﷺ menjawab:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا الْمَسْئُولُ بِأَعْلَمَ مِنْ

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 45

السَّائِلُ، سَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتِ الْأَمَةُ رَبَّهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ (صحيح البخاري، ٤٨)

Dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda kepada orang yang bertanya tentang hari kiamat, "Orang yang ditanya tentang hari kiamat tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tetapi saya akan memberitahukanmu tentang tanda-tandanya. Yakni jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika pengembala onta berlomba-lomba meninggikan bangunan. (Shahih al-Bukhari [48]).

Tanda-tanda yang lain misalnya pendeknya waktu, berkurangnya amal, munculnya berbagai fitnah, banyaknya pembunuhan, pelacuran, kefasikan dan lain sebagainya.

Kedua, tanda-tanda besar, yakni keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa AS, munculnya matahari dari Barat, munculnya al-Mahdi, dabbah (binatang ajaib) dan lain sebagainya.

Hari kiamat berlansung sangat cepat, ditandai dengan tiupan sangkakala dari malaikat Israfil dan matinya seluruh makhluk hidup. Mereka tetap dalam keadaan seperti itu untuk masa tertentu sebelum akhirnya dibangkitkan dari alam kubur.

Yang dimaksud beriman kepada hari kebangkitan adalah kita berkeyakinan bahwa Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kuburan mereka kemudian dikumpulkan pada satu tempat untuk melakukan penghitungan amal. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ ، ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ. (المؤمنون: ١٥-١٦).

Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS. al-Mukminun: 15-16).

46 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Kebangkitan manusia dari alam kubur ditandai dengan tiupan sangkakala yang kedua. Setelah itu, seluruh manusia dikumpulkan di suatu tempat (Mahsyar) untuk ditimbang amal baik dan buruk yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ (ق: ٤٤)

(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. (QS. Qaf: 44).

Firman Allah SWT:

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَّا أَسْلَفَتْ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ (يونس: ٣٠)

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. (Yunus 30).

Di tengah penantian di padang mahsyar itu, masing-masing orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak ada waktu bagi seseorang untuk memikirkan orang lain. Firman Allah SWT dalam ayat lain:

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ (ابراهيم : ٢١)

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari adzab Allah (walaupun) sedikit saja?" Mereka menjawab, "Seandainya Allah memberi petunjuk

Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 47

kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (QS. Ibrahim : 21).

Kecuali Nabi Muhammad ﷺ, yang dengan keagungan dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadanya, mampu memberikan syafa'at (pertolongan) kepada seluruh umat manusia. Dalam sebuah hadits diberitakan bahwa pada saat umat manusia kebingungan karena suasana hirup pikuk yang terjadi, manusia mendatangi Nabi Adam as, meminta bantuan agar padang mahsyar bisa selesai. Namun Nabi Adam as tidak menyanggupinya. Begitu pula dengan para nabi yang lain. Akhirnya umat manusia mendatangi nabi Muhammad ﷺ untuk meminta syafaat, dan nabi Muhammad ﷺ pun memberikan syafaatnya.

Setelah itu, masing masing orang diadili di hadapan Allah SWT. Mereka tidak akan berdusta di hadapan Allah SWT.

$$\text{ٱلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰٓ أَفْوَٰهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ (يس :٦٥)}$$

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin: 65)

Diberikan kitab yang berisi catatan amal perbuatannya selama di dunia. Orang yang menerima kitab tersebut dengan tangan kanan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan mereka yang menerima kitab itu dengan tangan kiri atau dari balik punggung, akan menyesal dan susah akan siksa yang diterima.

$$\text{فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (٧) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهْلِهِ مَسْرُورًا (٩) وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَآءَ ظَهْرِهِ (١٠) فَسَوْفَ يَدْعُواْ ثُبُورًا (١١) وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا (١٢)}$$

48 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaum,ja (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Ad pun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS. al-Insyiqaq : 7-12).

Amal baik dan buruk manusia ditimbang, sebagai vonis akhir untuk menentukan apakah seseorang akan masuk surga atau terjerumus ke dalam neraka. Firman Allah SWT:

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ، وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ.

(الأعراف، 8-9).

Bagian 2 dari 3