— Bagian 3 · Di sini, setiap manusia yang ketika hidup di dun… —
Bagian 3
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. al-A'raf : 8-9).
Di sini, setiap manusia yang ketika hidup di dunia selalu menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, beramal sholeh untuk kebaikan seluruh manusia, akan merasakan air dari telaga Nabi Muhammad ﷺ (haudhun nabi). Dalam beberapa hadits diceritakan bahwa luas dan panjang telaga itu sama. Setiap sisi panjangnya satu bulan perjalanan. Airnya berasal dari telaga al-Kautsar, di tengahnya terdapat dua pancuran dari surga. Airnya lebih putih dari susu dan lebih dingin dari es, lebih manis daripada madu, dan lebih wangi dari minyak kasturi. Cangkir-cangkirnya sebanyak bintang di langit. Orang yang meminum airnya, tidak akan haus selama-lamanya.
Setelah melalui proses padang mahsyar, umat manusia akan melewati sirath. Yakni jembatan yang membentang di atas neraka sebagai
satu-satunya jalan menuju ke surga. Karena itu, setiap orang pasti akan melewatinya. Dan setiap orang yang akan masuk surga pasti akan melewatinya. Firman Allah SWT:
وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا. (مريم، ٧١).
Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam : 71).
Kemampuan menyeberang juga sangat tergantung dari amal perbuatan selama di dunia. Siapa saja yang istiqomah di atas jalan yang diridhai Allah SWT, ia akan dapat menyeberangi sirath tersebut kemudian masuk surga Allah dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Namun bila kehidupan dunia selalu diisi dengan keburukan dan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, akan tergelincir ke dalam neraka, dan siksa yang amat pedih akan mengisi hari-harinya.
Setelah berada di padang mahsyar dan berjalan di atas sirath, tahap terakhir adalah pilihan antara surga dan neraka. Di akhirat Allah SWT hanya menyediakan dua tempat sebagai akhir dari perjalanan manusia. Tidak ada pilihan ketiga, juga tidak ada ada suatu tempat di antara surga dan neraka (al-manzilah bainal manzilataini).
Surga adalah rumah kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman. Diperuntukkan bagi orang-orang yang melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ، جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ (البينة : ٧-٨)
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 49
50 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
Sesungguhnya orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS. al-Bayyinah: 7-8).
Di dalamnya terdapat segala kenikmatan dan keindahan, yang tidak pernah terbayangkan di dalam angan dan perasaan manusia di dunia. Tentang nikmat surga ini, al-Qur'an menggambarkannya:
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ. (محمد، ١٥).
(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. (QS. Muhammad : 15).
Sedangkan nikmat teragung bagi penduduk surga adalah tatkala mereka melihat Allah SWT secara langsung. Dzat yang Maha Rahasia, yang tidak dapat dibayangkan dan dilihat selama hidup di dunia, akan dapat dilihat secara jelas. Lama atau sebentarnya seseorang melihat Allah SWT tergantung seberapa banyak amal kebajikan yang dilakukan di dunia. Dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman:
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 51
وَجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۞ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (القيامة : ٢٢–٢٣)
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari (akhirat) itu berseri-seri. Kepada Tuhan-Nyalah mereka melihat. (QS. al-Qiyamah : 22-23).
Hadits Nabi Muhammad ﷺ:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا
(صحيح البخاري ، رقم ٦٨٨٣)
Dari Jarir bin Abdullah RA, dia berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda, 'sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian secara nyata. (Shahih al-Bukhari [2883]).
Selain menyediakan surga bagi hamba yang taat dan patuh, Allah SWT juga menciptakan neraka sebagai balasan bagi orang-orang yang senantiasa menghiasi kehidupan dunianya dengan perbuatan durhaka kepada Allah SWT. Mereka menjadi bahan bakar api neraka yang menyala-nyala. Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (التحريم : ٦)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrim: 6).
Setiap orang yang masuk neraka, akan mendapatkan siksa yang sangat pedih akibat dari perbuatannya di dunia. Mengenai pedihnya siksa neraka al-Qur'an menceritakan:
52 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا.
(النساء، ٥٦).
Sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. an-Nisa' : 56).
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 53
خَاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِبِ مِمَّا عَلَى مُكَلَّفٍ مِنْ وَاجِبِ
Bagian berikut ini adalah penutup, dalam menerangkan kewajiban yang tersisa yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf
نَبِيُّـــــنَا مُـحَـمَّدٌ قَدْ أُرْسِلاً لِلْعَـــــالَمِيْنَ رَحْمَـةً وَفَضْلاً
Nabi kita, Nabi Muhammad, sungguh telah diutus oleh Allah SWT atas seluruh alam, sebagai rahmat dan diutamakan (atas semua rasul)
Syarh:
Nabi Muhammad ﷺ diutus oleh Allah SWT sebagai nabi terakhir yang membawa rahmat untuk seluruh alam. Tidak hanya untuk manusia tetapi untuk seluruh makhluk Allah SWT yang ada di jagat raya ini. Dalam al-Qur'an ditegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (الأنبياء: ١٠٧)
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. al-Anbiya' : 107).
Syariat Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya berlaku bagi orang Arab saja, tetapi untuk seluruh umat manusia. Beda halnya dengan syariat nabi sebelumnya yang hanya berlaku pada waktu dan untuk umat tertentu. Ajaran Islam juga rahmat bagi seluruh alam, dengan adanya kepedulian dari agama untuk menjaga lingkungan hidup, tidak boleh merusak dan mengganggu semua makhluk Allah yang ada di muka bumi.
Salah satu bentuk rahmat Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad ﷺ adalah ditangguhkannya siksa bagi orang-orang yang
54 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
melanggar aturan Allah SWT, hingga nanti di akhirat. Tidak seperti yang dialami umat nabi sebelumnya, yang langsung menerima adzab di dunia atas pelanggaran yang mereka lakukan. Seperti yang menimpa kaum Nabi Luth AS, Nabi Nuh AS dan lainnya.
Selain itu, umat Islam wajib meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah makhluk Allah SWT yang paling mulia. Para ulama menegaskan bahwa di antara dua puluh lima rasul Allah SWT yang wajib diketahui, ada lima yang paling utama, yang mendapat gelar ulul azmi yaitu Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Nuh AS (Sumber: QS. Al-Ahqof : 85 dan QS. Al-Ahzab : 7). Dan Nabi Muhammad ﷺ ada di urutan pertama dari kelima nama tersebut.
Kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ karena keistimewaan syariat yang beliau bawa. Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ adalah menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Sesuai dengan fitrah manusia, dan tidak membebani mereka dengan sesuatu di luar kemampuannya. Akhlak dan kepribadian yang beliau miliki juga menjadi salah satu penyebab keutamaan Nabi Muhammad ﷺ. Keluhuran akhlak nabi Muhammad ﷺ ditegaskan langsung dalam al-Qur'an pada surat al-Qalam ayat 4.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم، ٤).
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. al-Qalam: 4).
Dalam sebuah hadits:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي. (سنن الترمذي، ٣٨٣٠).
Dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik kepada keluarga (istrinya). Dan saya adalah orang yang paling baik di antara kamu dalam memperlakukan istriku." (Sunan al-Tirmidzi, 3830).
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al'Awam 55
أَبُوهُ عَبْدُ اللهِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهَاشِمٌ عَبْدِ مَنَافٍ يَتَّصِلُ
وَأُمُّــــــــــهُ آمِنَـــــــــةُ الزُّهْرِيَّةُ أَرْضَعَتْــــــــهُ حَلِيْمَـــــــةُ السَّعْدِيَّةُ
Ayahnya Nabi ﷺ ialah Abdullah bin Abdul Muththolib bin Hasyim bin Abdi Manaf yang nasabnya bersambung
Ibunya ialah Siti Aminah az-Zuhriyyah dan yang menyusuinya adalah Halimatus Sa'diyah
Garis keturunan Nabi Muhammad ﷺ adalah dari golongan suku Quraisy. Yakni suatu kelompok yang sangat disegani di tanah Makkah. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdulmuththalib bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah. Sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahb bin Abdimanaf bin Zuhrah bin Kilab. Jadi, nasab ayah dan ibu Nabi ﷺ bertemu pada kakeknya yang bernama Kilab. Sedangkan yang menyusui Nabi ﷺ bernama Halimah binti Abi Dzuaib al-Sa'diyyah.
مَوْلِـــــدُهُ بِمَكَّـــــةِ الْأُمِّيَّـــةِ وَفَـــــاتُهُ بِطَابَــــةِ الْمَدِيْنَـــةِ
أَتَمَّ قَبْلَ الْوَحْيِ أَرْبَعِيْـــــنَا وَعُمْرُهُ قَدْ جَاوَزَ السِّتِّيْـــنَا
Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah yang aman dan meninggal dunia di Thaibah yaitu Madinah
Umur Nabi ﷺ genap 40 tahun sebelum menerima wahyu, sedangkan usia Nabi ﷺ (pada saat wafatnya) melebihi 60 tahun (yakni 63 tahun)
56 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
وَسِبْعَــةٌ أَوْلَادُهُ فَمِــنْهُمُ ثَلَاثَةٌ مِــنَ الذُّكُــوْرِ تُفْهَمُ
قَاسِمٌ وَعَبْدُ اللهِ وَهُوَ الطَّيِّــبُ وَطَــاهِــرٌ بِنَتِّهِ ذَا يُلَقَّــبُ
أَمَّــا إِبْرَاهِيْمُ مِنْ سُــرِّيَّــةٍ فَــأُمُّهُ مَــارِيَّــةُ الْقِبْــطِيَّــةُ
Nabi Muhammad mempunyai tujuh putra, di antara mereka adalah tiga anak laki-laki yang harus dimengerti
Yaitu Qasim dan Abdullah yang menyandang gelar al-Thayyib (yang baik) dan al-Thahir (yang suci)
Lalu Ibrahim yang lahir dari budak perempuan (Nabi ﷺ), yaitu ibunya yang bernama Mariyah al-Qibthiyyah
وَغَيْرُ إِبْرَاهِيْمَ مِنْ خَدِيْجَةٍ هُمْ سِتَّةٌ فَخُذْ بِهِمْ وَ لِيْجَةٍ
Selain Sayyid Ibrahim, putra-putri Nabi ﷺ lahir dari Sayyidah Khadijah RA, mereka semuanya ada enam, kenalilah mereka dengan penuh kecintaan
وَأَرْبَــعٌ مِنَ الْإِنَــاثِ تُذْكَــرُ رِضْوَانُ رَبِّيْ بِالْجَمِيْعِ يُذْكَرُ
Empat putri Nabi ﷺ akan disebutkan berikut ini, semoga ridha Tuhanku kepada semuanya selalu disebut
فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ وَإِبْنَاهُمَا سِبْطَانِ فَضْلُهُمَا جَلِيْ
قَرِيْبَةٌ وَبَعْــدَهَا رُقَيَّــــةٌ وَأُمُّ كُلْــثُــوْمٍ زَكَتْ رَضِيَّــةٌ
Keempat putri Nabi ﷺ tersebut adalah 1) Sayyidah Fatimah az-Zahra' yang bersuami Sayyidina Ali RA dan memiliki dua putra (yaitu Sayyidina Hasan RA dan Sayyidina Husain RA), yaitu dua cucu Nabi yang tampak keutamaannya; 2) Sayyidah Zainab; 3) Sayyidah Ruqayyah dan 4) Sayyidah Ummi Kulsum yang suci dan diridhoi
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 57
عَنْ تِسْعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى خُيِّرْنَ فَاخْتَرْنَ الرَّبَّ الْمُتَعَفِّى
عَـــائِـشَـةٌ وَحَفْـصَـــــةٌ وَسَـوْدَةٌ صَـفِيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَـةٌ رَمْـــــلَـةُ
هِنْـــدُ وَزَيْـنَـــبُ كَـذَا جُـوَيْـرِيَـةٌ لِلْـمُـؤْمِـنِـيْـنَ أُمَّـهَـاتٌ مَـرْضِـيَّـةٌ
AlMushthafa (Nabi Muhammad ﷺ) wafat dengan meninggalkan sembilan istri, mereka disuruh memilih, lalu mereka memilih Nabi ﷺ yang dapat diikuti (Mereka adalah) Aisyah, Hafshoh, Saudah, Shofiyah, Maimunah, Romlah, Hindun, Zainab dan Juwairiyah
Bagi orang-orang mukmin mereka adalah ibu-ibu yang diridai
Nabi Muhammad ﷺ wafat meninggalkan sembilan istri. Mereka adalah perempuan-perempuan yang mulia. Kesetiaan mereka telah terbukti dengan menjadi pendamping Nabi Muhammad ﷺ dalam suka dan duka. Mereka lebih memilih menjadi istri Nabi Muhammad ﷺ daripada gelimang harta dan kemewahan dunia. Di dalam al-Qur'an kisah mereka diabadikan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (٢٨) وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا(٢٩)
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. (QS. al-Ahzab : 28-29).
58 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
Mereka adalah istri-istri Nabi. Perempuan-perempuan terbaik yang menjadi ibu dari seluruh umat Islam (ummahatul mukminin). Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
$$\text{النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ (الأحزاب : ٦)}$$
Nabi itu lebih utama dari orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka. (QS. al-Ahzab : 6).
Oleh karena itulah, umat Islam wajib menghormati mereka, mendo'akan dan membacakan shalawat kepada mereka.
$$\text{عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ}$$
$$\text{نُصَلِّي عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ}$$
$$\text{وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ}$$
$$\text{وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ (صحيح البخاري، ٢١١٨)}$$
Dari Abu Humaid al-Sa'idi, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Bagaimana cara kami membaca shalawat kepadamu?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Bacalah, "Ya Allah mudah-mudahan engkau selalu mencurahkan shalawat kepada Muhammad, istri dan anak cucunya. (HR. al-Bukhari [2118]).
$$\text{حَمْـــزَةُ عَمُّهُ وَعَبَّـــاسٌ كَـذَا} \qquad \text{عَمَّـــــتُهُ صَفِيَّةُ ذَاتُ احْتِـذَا}$$
Adapun Hamzah adalah paman Nabi dan Abbas juga paman Nabi, sedangkan bibinya adalah Shofiyah yang selalu taat kepada Allah SWT.
Yang dimaksud sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang pernah melihat Nabi ﷺ dalam keadaan Islam dan meninggal dunia tetap pada keislamannya.
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 59
Sahabat adalah orang-orang yang mulia, dan selalu dalam petunjuk Allah SWT. Di antara mereka ada yang telah dijamin masuk surga. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, rela mengorbankan harta bahkan nyawa demi agama Allah SWT. Taat beribadah kepada Allah SWT dengan sepenuh hati, bersujud demi mengabdi kepada Allah SWT. Firman Allah SWT:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ (الفتح، ٢٩)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (QS. al-Fath : 29).
Setiap orang mukallaf wajib menghormati para sahabat Nabi ﷺ khususnya Khulafaur Rasyidin yang empat, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Perlu diketahui bahwa terdapat pertalian darah antara Nabi Muhammad ﷺ dan Khulafur Rasyidin, misalnya Sayyidina 'Utsmān RA yang merupakan putra dari sepupu Nabi ﷺ yakni Arwa, sebagai putri dari bibi Nabi Muhammad ﷺ yang bernama al-Baidha' binti Abdul Muththalib. Sedangkan Sayyidina 'Ali RA adalah sepupu Nabi Muhammad ﷺ putra paman Nabi yang bernama Abu Thalib.
Di samping itu, keduanya merupakan menantu Nabi Muhammad ﷺ. Sayyidina 'Utsmān menikah dengan dua putri Rasul ﷺ secara bergantian, yakni Sayyidatuna Ruqayyah RA dan Sayyidatuna Ummu Kultsūm RA. Sedangkan sayyidina 'Ali RA menikah dengan Sayyidatuna Fāthimah RA. Begitu pula dengan Sayyidina Abū Bakr RA dan Sayyidina 'Umar RA yang merupakan mertua Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan Aisyah binta Abū Bakr RA dan Hafshah binta 'Umar RA.
60 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
Inilah salah satu alasan mengapa Nabi Muhammad sangat mencintai para sahabatnya. Nabi Muhammad ﷺ tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebag:i generasi terbaik Islam.
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ خَيْرُ كُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (صحيح البخاري رقم ٢٤٥٧)
Dari sahabat Imran bin Hushain ra ia berkata. Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-sebaik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi sesudahnya". (Shahih al-Bukhari, [2457]).
Kecintaan itu juga ditunjukkan oleh ahlul bait atau keluarga Nabi ﷺ kepada para sahabat, begitu pula para sahabat yang sangat mencintai dan menghormati keluarga nabi. Bahkan musibah perselisihan yang terjadi pada sebagian sahabat tidak dapat dijadikan tanda kalau di antara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat. Justru sebaliknya, jalinan kemesraan yang bertaut di hati mereka ibarat cinta bersambut, kasih berjawab. Indahnya pergaulan antara keluarga dan sahabat Nabi ﷺ harus diteladani oleh umat Islam. Hal ini terungkap dari tutur kata dan perbuatan mereka yang menunjukkan hal tersebut.
- Sayyidina Ali KW berkata tentang sahabat Abū Bakr RA dan Umar RA:
إِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
(الشافي ج ٢ ص ٤٢٨)
Sesungguhnya umat yang paling baik setelah Nabinya adalah Abū Bakar RA dan Umar RA. (Al-Syafi juz 2 halaman 428).
- Sayidina Ali KW juga berkata tentang Sayidina Umar RA sebagai berikut:
لَمَّا غُسِلَ عُمَرُ وَكُفِّنَ دَخَلَ عَلَيَّ وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : مَا عَلَى الْأَرْضِ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللهَ بِصَحِيفَتِهِ مِنْ هَذَا الْمُسَجَّى
بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ (معاني الأخبار ص ١١٧)
"Ketika sahabat 'Umar dimandikan dan dikafani, Sayyidina Ali RA masuk, lalu berkata, "Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina Umar)." ( Ma'ani al-Akhbar halaman 117).
Sikap Sayyidina Ali RA ini merupakan ekspresi spontan dari lubuk hati terdalam bahwa di dalam hati beliau benar-benar tertanam jalinan kasih dan tambatan sayang kepada Sayyidina Umar RA. Sebab mustahil beliau melakukannya sekedar taqiyah (pura-pura) karena takut pada Sayyidina Umar RA, sebab pada waktu itu Sayyidina Umar RA telah meninggal dunia.
- Ucapan Sayyidina Abū Bakar RA, tentang keluarga Rasulullah ﷺ:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي (صحيح البخاري رقم: ٣٧٣٠)
"Dari Aisyah RA, sesungguhnya Abū Bakar RA berkata, "Sungguh kerabat Rasūlullāh ﷺ lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri." (Shahīh Bukhārī, [3730]).
- Pada kesempatan yang lain, Abū Bakar RA juga berkata,
ارْقُبُوا مُحَمَّدًا ﷺ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ (صحيح البخاري ٣٤٣٦)
"Perhatikan Nabi Muhammad ﷺ terhadap ahli baitnya." (Shahīh al-Bukhārī [3436]).
- Dari 33 putra Sayyidina Ali RA tiga di antaranya diberi nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dari 14 putra Sayyidina Hasan RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di antara 9 putra Sayyidina Husain RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian nama ini tentu saja dipilih dari nama orang-orang yang menjadi idolanya, dan tidak mungkin diambil dari
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 61
62 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
nama musuhnya. (Lihat, Al-Hujaj al-Qath'iyyah, hal. 195). Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali RA adalah hamba Allah yang mulia dan harus dijadikan panutan. Sayyidina Ali RA adalah seorang pemberani dan sekali-kali bukanlah seorang pengecut. Sebagai pemimpin pasukan, di antara sekian banyak peperangan yang dilakukan pada zaman Rasul, beliau selalu menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau melakukan sikap pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya. Di samping itu, Sayyidina Ali adalah sosok yang bersih hatinya dan jauh dari sifat balas dendam. Sikap dan prilaku beliau telah membuktikan bahwa beliau bukan jenis manusia yang di dalam hatinya penuh dengan dendam kesumat, karena itu tidak mungkin beliau mengajarkan raj'ah yang identik dengan balas dendam.
Jalinan kasih sayang antara para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad ﷺ berlangsung hingga keturunan mereka bahkan, berlanjut sampai perbesanan. Misalnya Sayyidina Umar RA menikah dengan Ummi Kultsûm RA putri Sayyidina Ali RA, Zaid bin Amr bin Utsmân bin Affân RA menikah dengan Sukainah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thâlib. Fathimah binti al-Husain bin Ali bin Abi Thalib menikah dengan Abdullah bin Amr bin Utsman bin Affan lalu mempunyai putra bernama Muhammad. (Nasabu Quraisy li al-Zubairi, juz 4, hal 120 dan 114)
Begitu pula sikap yang dicontohkan oleh Imam Ja'far al-Shâdiq RA ketika beliau ditanya tentang sikapnya kepada sahabat Abu Bakar dan Umar. Beliau menjawab:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ الْإِمَامَ الصَّادِقَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، بِأَيْنَ رَسُولُ اللهِ مَا تَقُولُ فِي حَقِّ أَبِي بَكْرٍ وَ عُمَرَ؟ فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِمَامَانِ عَادِلَانِ قَاسِطَانِ كَانَا عَلَى الْحَقِّ وَمَاتَا عَلَيْهِ فَعَلَيْهِمَا رَحْمَةُ اللهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (احْقَاقِ الْحَقِّ لِلنَّوْشِيرِيِّ، ج ١ ص ١٦)
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 63
"Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ja'far Shadiq AS, "Apa pendapat Engkau tentang Abu Bakar dan Umar? Keduanya adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Keduanya berada di jalan yang benar dan mati dengan membawa kebenaran. Mudah-mudahan rahmat Allah SWT selalu dilimpahkan kepada keduanya hingga hari kiamat." (Ihqāq al-Haq li al-Syusyturi, juz 1, hal 16).
Sebagai bukti bahwa Imam Ja'far al-Shādiq RA sangat menghormati kakeknya Sayyidina Abu Bakar Asshiddik RA, beliau berkata:
وَلَدَنِيْ أَبُوْ بَكْرٍ مَرَّتَيْنِ (عمدة الطالب ص ١٩٥)
Aku telah dilahirkan oleh Abū Bakr dua kali. (Umdah al-Thalib, hal. 195).
Silsilah yang pertama dari ibunya, yang bernama Ummu Farwah binti al-Qāsim bin Muhammad bin Abū Bakar al-Shiddiq. Dan kedua dari neneknya yakni istri al-Qāsim yang bernama Asmā' binti Abdurrahmān bin Abū Bakar al-Shiddiq. (Al-Kafi, Juz II, hal. 472).
Dengan demikian, kita harus memberikan penghormatan yang proporsional terhadap keluarga Nabi ﷺ dan para sahabatnya, sebagaimana dicontohkan oleh Imam Ja'far Shadiq RA di atas. Kita tidak boleh mencela seseorang di antara mereka.
Tentang urutan keutamaan para sahabat, Syaikh Abdul Ghani al-Nabulusi berkata:
وَصُحْبَةُ جَمِيْعِهِمْ عَلَى هُدَى تُبَـــيِّنُ مَنْزِلَتُهُمْ مُرَتَّبًا بِلَا اعْتِدَا فَلَـــهُمْ أَبُوْبَكْرٌ وَبَعْـــــدَهُ عُمَرْ وَبَعْدَهُ عُثْمَانُ ذُوْ الْوَجْهِ الْأَغَرْ ثُمَّ عَلِيٌّ ثُمَّ بَـــاقِي الْعَـــشَرَةْ وَهِيَ الَّتِيْ بِـــهَا جَـــنَّةٌ مُبَشَّرَةْ
Semua sahabat Nabi ﷺ selalu mengikuti petunjuk Allah SWT Keutaman mereka dijelaskan dalam urutan berikut tanpa melampaui batasan Mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman yang memiliki wajah yang cerah Kemudian Ali, kemudian sisa sepuluh orang sahabat yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ akan masuk surga. (Lihat, al-Quthuf al-Daniyah, hlm. 72).
64 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
Semua shahabat Nabi ﷺ, secara umum selalu mengikuti jalan kebenaran, yakni petunjuk Nabi ﷺ, sehingga kita tidak boleh mencaci mereka. Sedangkan sahabat yang paling utama menurut Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah sesuai urutan berikut ini, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, kemudian sisa sepuluh orang sahabat yang dikabarkan akan masuk surga oleh Nabi ﷺ, yaitu Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.
Di sini mungkin ada yang bertanya, mengapa kita harus menghormati dan mencintai keluarga dan sahabat Nabi ﷺ tercinta? Untuk menjawab pertanyaan ini. Ada banyak hadist-hadist nabi yang memerintahkan umat Islam untuk mencintai Ahl-Bait Nabi dan para sahabatnya. Diantaranya sebagai berikut :
أَحِبُّوْنِيْ بِحُبِّ اللهِ وَأَحِبُّوْا أَهْلَ بَيْتِيْ لِحُبِّيْ (رِوَاهُ الْحَاكِمُ فِيْ الْمُسْتَدْرَكِ جُ ٣/١٥٠)
Cintailah aku karena cintamu kepada Allah, dan Cintailah Alh Baitku karena cintamu kepadaku. (HR. Hakim dalam kitab al-Mustadrok Juz 3 Halaman 150)
لِكُلِّ شَيْءٍ أَسَاسٌ وَأَسَاسُ الْإِسْلَامِ حُبُّ أَصْحَابِيْ وَأَهْلِ بَيْتِيْ (رَوَاهُ الطَّبْرَانِيْ فِيْ الْمُعْجَمِ الْكَبِيْرِ جُ ٧ وَالْبَيْهَقِيْ فِيْ شُعَبِ الْإِيْمَانِ جُ ٢ / ١٨٩)
Segala sesuatu itu ada sendinya, sedangkan sendi Islam adalah mencintai para sahabatku dan Ahl Baitku. (HR. At Thobroni di dalam kitab al-Mu'jam al-Kabir, Juz 7 dan HR. Baihaqi di dalam kitab Sya'bil Iman, Juz 2 Halaman 189)
وَقَتْلُ هِجْرَةُ النَّبِيِّ الْإِسْرَا مِنْ مَكَّةَ لَيْلًا لِقُدْسٍ يُذْرَى
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 65
حَتَّى رَأَى النَّبِيُّ رَبَّا كَلَّمَا وَ بَعْدَ إِسْرَاءٍ عُرُوْجٌ لِلسَّمَا عَلَيْهِ خَمْسًا بَعْدَ خَمْسِيْنَ فُرِضَ مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَالْحِصَارِ وَافْتَرَضَ
Dan sebelum hijrah, Nabi melakukan isra' (perjalanan di malam hari) dari Mekah ke Baitul Makdis
Dan setelah Isra' Nabi naik ke langit sampai Nabi melihat Tuhan (Allah) yang berbicara tanpa diketahui caranya dan tanpa batas
Dan difardhukan atasnya lima shalat setelah mewajibkan lima puluh shalat
Isra' mi'raj merupakan perjalanan yang istimewa sekaligus kejadian luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ. Terjadi pada malam Senin tanggal 27 Rajab tahun 621 M. Satu tahun sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah.
Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ di malam hari dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-Aqsha (Palestina). Sedangkan mi'raj adalah naik ke langit, sampai ke langit yang ketujuh bahkan ke tempat yang paling tinggi yaitu Sidrah al-Muntaha.
Dalam al-Qur'an Allah SWT berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الإسراء، ١)
Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad ﷺ) pada suatu malam dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid al-'Aqsha (Palestina) yang Kami berkati sekelilingnya untuk Kami perlihatkan ayat-ayat Kami kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. al-Isra' : 1).
Isra' dan Mi'raj terjadi setelah meninggalnya dua orang yang selalu membantu dakwah Islamiyyah, yakni Abu Thalib paman beliau dan Sayyidatuna Khadijah. istri beliau. Sekaligus sebagai perjalanan spiritual bagi Rasulullah ﷺ, karena selama dalam perjalanan, Rasulullah ﷺ banyak menyaksikan bahkan mengalami kejadian-kejadian luar biasa, pelajaran
66 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
yang sangat berguna untuk menempa jiwa beliau sebagai seorang nabi dan rasul Allah SWT.
Isra' Mi'raj terjadi di luar kemampuan akal manusia. Secara gamblang, ayat (QS. alIsra': 1), tersebut menyatakan bahwa Allah SWT telah memberangkatkan hamba-Nya untuk melakukan safari suci dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Isra' dan Mi'raj. Berdasarkan ayat ini mayorits ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ melakukan isra' mi'raj dengan ruh dan jasadnya. Syaikh 'Abdullah bin 'Umar al-Baidhawi mengatakan:
Dan diperselisihkan apakah Isra' dan Mi'raj terjadi pada waktu tidur (sekedar mimpi belaka) ataukah dalam keadaan sadar? Dengan ruh (saja) atau sekaligus ruh dan jasadnya? Mayoritas ulama berpendapat bahwa Allah SWT mengisra'kan Nabi ﷺ dengan jasadnya (dari Masjid al-Haram) ke Bait alMaqdis kemudian menaikkan beliau ke beberapa langit sampai berhenti di Sidrah alMuntaha. (Anwar alTanzil wa Asrar alTa'wil, juz I, hal 576).
وَ بَلَّغَ الْأُمَّةَ بِالْإِسْـــرَاءِ وَ فَرْضَ خَمْسَـــةٍ بِلَا امْتِرَاءِ
Nabi menyampaikan kepada umatnya tentang Isra' dan mewajibkan salat 5 waktu kepada semua umat tanpa keraguan
Syarh:
Kewajiban shalat lima waktu disampaikan oleh Allah kepada Nabi ﷺ pada saat isra'. Dari sini dapat dipahami tentang keutamaan shalat dari ibadah yang lain. Perintah shalat disampaikan langsung oleh Allah SWT, tanpa perantara siapapun. Tidak seperti ibadah lain yang diwajibkan melalui perantara Malaikat Jibril.
Kita bisa melihat posisi shalat dalam agama Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, sehingga menjadi ruh agama Islam. Karena itu sangat wajar, jika Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa shalat adalah unsur terpenting dalam agama Islam dan amal pertama yang dihitung kelak di akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ:
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 67
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ فَإِنْ قُبِلَتْ قُبِلَ عَنْهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ رُدَّتْ رُدَّ عَنْهُ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الطبراني)
Amal pertama kali dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka diterimalah semua amalnya, namun bila shalatnya ditolak, maka ditolak pula seluruh amalnya. (HR. Thabrani).
Berawal dari shalatlah semua perilaku yang baik dan terpuji akan bersemi. Shalat yang sempurna dan khusyu' serta dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah SWT, akan menjadikan seseorang selalu mengingat Allah SWT, karena itulah tujuan dari shalat tersebut. Firman Allah SWT:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه، ١٤)
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha : 14).
Ketika Allah SWT telah hadir dalam setiap denyut nadi dan hembusan nafas, maka dari sanalah akan tersemai segala perbuatan baik dan terpuji. Dan dengan sendirinya semua prilaku buruk dan tercela akan menjauh. Inilah yang dimaksud oleh Firman Allah SWT:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ (العنكبوت : ٤٥)
"Sesungguhnya shalat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar." (QS. al-Ankabut : 45).
قَدْ فَازَ صِدِّيقٌ بِتَصْدِيقٍ لَهُ وَبِالْمِعْرَاجِ وَالصِّدِّيقُ وَافَى أَهْلَهُ
Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq telah beruntung dengan mempercayai isra' dan mi'raj, dan kebenaran tentang mi'raj datang kepada pengikutnya
Syarh:
Setelah melakukan isra' mi'raj, Nabi Muhammad ﷺ kemudian menceritakan kejadian tersebut kepada kaum Quraisy Mekkah, namun
68 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
sedikit sekali orang yang mempercayainya bahkan menganggap Nabi mengada-ada dan membuat berita paku. Di antara orang yang langsung mempercayainya adalah Abu Bakar RA. Bahkan beliau berkata, "Jangankan peristiwa itu, lebih aneh dari itupun aku percaya, kalau Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakannya". Itulah sebabnya beliau diberi gelar asShiddiq (seorang yang selalu membenarkan Nabi Muhammad ﷺ).
Sebelum peristiwa isra' mi'raj tersebut, Nabi Muhammad ﷺ diberi gelar oleh penduduk Makkah dengan sebutan al-Amin. Yakni orang yang dapat dipercaya. Semua masyarakat Makkah percaya bahwa perkataan Nabi pasti benar, selalu jujur serta tidak pernah menipu. Namun ketika Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan cerita isra' mi'raj, kebanyakan masyarakat langsung tidak mempercayainya. Hal ini menunjukkan bahwa isra' mi'raj adalah kejadian yang sangat luar biasa sehingga mampu menimbulkan keraguan mayoritas masyarakat Arab kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Namun bagi orang beriman yang mempercayai bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Kuasa, kejadian tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Sangat mungkin sekali, sebab beliau tidak berangkat dengan kemauan sendiri, tapi Allah SWT-lah yang berkehendak. Tak ada sesuatu yang mustahil bagi Allah SWT jika Dia menghendaki, walaupun itu di luar kemampuan manusia.
Ibarat seekor semut yang "menumpang" naik pesawat terbang dari Jakarta menuju Surabaya, kemudian kembali lagi ke Jakarta. Yang pasti, kaum semut tidak akan percaya akan cerita si semut yang telah melakukan perjalanan dalam waktu sesingkat itu. Tapi hal itu sangat mungkin terjadi, sebab dia memakai kendaraan yang kecepatannya tidak pernah terbayangkan oleh kaum semut. (Fiqh Tradisionalis, 250).
Begitu pula dengan isra' mi'raj Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa itu tidak akan terbayangkan oleh akal manusia, sebab yang digunakan Nabi ﷺ adalah kendaraan yang kecepatannya di luar jangkauan serta tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia, yakni Buraq.
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 69
وَهٰـذِهِ عَقِيْدَةٌ مُخْتَصَرَةٌ وَلِلْعَـــوَامِ سَهْلَةٌ مُيَسَّرَةٌ
Ini adalah Kitab 'Aqidah yang ringkas dan mudah untuk dipelajari khususnya bagi orang kebanyakan
نَاظِمٌ تِلْكَ أَحْمَدُ الْمَرْزُوْقِيْ مَنْ يَنْتَمِيْ بِالصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ
Sedangkan yang menazhamkan 'aqidah tersebut adalah Ahmad al-Marzuqi, seorang yang nasabnya bersambung kepada Nabi ﷺ yang berkata benar dan dipercaya
Inilah 'aqidah yang wajib diyakini oleh seluruh umat Islam. 'Aqidah yang mudah untuk dipahami kemudian diamalkan. Yakni 'aqidah Ahlussunnah WalJama'ah yang merupakan tuntunan Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya kemudian diteruskan oleh ulama salafus shalih dan akhirnya sampai kepada kita.
Penulis nazham 'aqidah ini ialah as-Sayyid Ahmad bin as-Sayyid Ramadhan al-Marzuqi al-Hasani al-Husaini beliau dilahirkan di Simbath tahun 1205 H. Dan wafat di Makkah sekitar tahun 1281 H.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَصَلَّى سَلَّمَا عَلَى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا
Segala puji bagi Allah, dan mudah-mudahan Allah memberi shalawat dan salam sejahtera kepada Nabi Muhammad, yaitu orang yang paling baik dalam mengajar manusia
وَآلِهِ وَالصَّحْبِ وَكُلِّ مُرْشِدٍ وَكُلِّ مَنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِيْ
Begitu juga kepada keluarga dan para sahabatnya serta setiap orang yang menunjukkan kebenaran dan orang yang mengikuti jalan yang benar
70 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
Setelah dibuka dengan hamdalah dan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabainya, pada akhir bait dari kitab 'aqidah ini juga ditutup dengan hal yang sama. Selain dimaksudkan sebagai upaya mengharapkan pertolongan Allah SWT serta barokah dari Rasul, keluarga dan sahabatnya, hal ini sekaligus merupakan pengakuan akan kebesaran Allah SWT, serta puji syukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada pengarang nazham ini.
Pengakuan bahwa tanpa ada belas kasih dan pertolongan Allah SWT penulis tidak akan mampu untuk menyusun nazham yang ringkas dan dengan bahasa yang gampang untuk dipahami. Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan anugerah akal fikiran kepada manusia, sebagai salah satu nikmat yang sangat berharga yang dimiliki manusia. karena dengan akallah manusia dapat dibedakan dari makhluk Allah SWT yang lain.
وَأَسْأَلُ الْكَرِيمَ إِخْلَاصَ الْعَمَلْ وَ نَفْعَ كُلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ
Dan saya (Sayyid Ahmad alMarzuqi) memohon kepada Dzat Yang Maha pemurah, agar dikarunia ketulusan dalam beramal, dan kemanfaatan bagi semua orang yang mempelajari 'aqidah ini
Ikhlas sebagai kunci dari semua amal agar diterima oleh Allah SWT. Dan merupakan perintah Allah SWT kepada kaum muslimin yang beribadah dan beramal shalih agar selalu ikhlas. Dan Allah hanya akan menerima amal ibadah manusia yang dilaksanakan dengan ikhlas. Firman Allah SWT:
هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الْمُؤْمِنُ : ٦٥)
Dialah Yang Maha Hidup Kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah)
Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam 71
melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. al-Mukmin : 65).
أَبْيَاتُهَا مِئَةٌ بَعْدَّ الْجُمَلِ تَارِيْخُهَا لِيْ حَيُّ غَيْرُ جُمَلٍ
Adapun bait-bait 'aqidah ini adalah berjumlah 57 dengan hitungan Abajadun, sedangkan waktu selesainya adalah tahun 1258 H
سَمَّيْتُهَا عَقِيْدَةَ الْعَـــــوَامِ مِنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Kami menamakan 'aqidah ini dengan judul 'Aqidatul 'Awam yang menerangkan masalah wajib di dalam agama secara sempurna
72 Terjemah dan Syarh 'Aqidah al-'Awam
- Al-Qur'an al-Karim
- Shahih al-Bukhari
- Shahih Muslim
- Sunan Abi Dawud
- Sunan al-Tirmidzi
- Sunan al-Nasa'i
- Sunan Ibn Majah
- Musnad Ahmad bin Hanbal
- Al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, al-Imam al-Hakim
- Itsbat 'Adzab al-Qabr, al-Imam al-Baihaqi
- Al-Hushun al-Hamidiyah, al-Tharabulisi
- Benteng Pertahanan 'aqidah, KH.A. Nawawi Abdul Djalil
- Al-Durar al-Naqiyyah, Muhammad Sa'id Ba Bashil
- Kifayah al-'Awam, Syaikh Muhammad al-Fudhali
- Jala' al-Afham Syarh "aqidah al-'Awam, Muhammad Ihya' Ulum al-Din
- Umm al-Barahin, al-Imam al-Sanusi
- Risalah fi 'Ilm al-Tauhid, al-Imam al-Bajuri
- "aqidah al-Islam, Sayid Abdullah al-Haddad
- Al-Sa'adah al-Abadiyyah, Sayid al-Hasyimi
- Nur al-Zhalam Syarh "aqidah al-Awam, Syaikh Nawawi Banten
- Syarh al-Kharidah al-Bahiyyah, al-Imam al-Dardir
- Usuluddin, KH. Imam Zarkasyi
- Al-Iqtishad fi al-I'tiqad, Hujjatul Islam al-Ghazali
- Al-Shirath al-Mustaqim, Syaikh al-Harari al-Habasyi
- Syarh al-"aqidah al-Thahawiyah, Dr. Umar Kamil
- Al-Hujaj al-Qath'iyyah, Muhyiddin Abdusshomad
- Al-Jawahir al-Kalamiyyah, Thahir al-Jazairi



