Terjemah Syarah Arba'in Nawawiyah - Ibnu Daqiqil 'Ied

Jalur hadits yang diperluas dari pembahasan awal PDF: niat, Islam-Iman-Ihsan, rukun Islam, bid'ah, halal-haram, nasehat, kehormatan muslim, syubhat, dan adab menjaga hati.

Bagian 2 dari 64 173 halaman

— Penjelasan: —

Penjelasan:

Ini sebuah hadits yang agung. Ia mencakup seluruh tugas dan perbuatan, baik lahir maupun batin. Semua ilmu syari'at kembali kepadnya dan memancar darinya; dimana hadits ini menghimpun seluruh ilmu yang ada dalam sunnah Rasul. Hadits ini seperti induk sunnah sebagaimana surat Al-Fatihah dinamai Ummul-Qur'an karena mengandung seluruh makna Al-Qur'an.

Hadits ini menjadi dalil atas (bolehnya) memperbagus pakaian dan penampilan dan menjaga kebersihan ketika menghadap para ulama, orang-orang besar dan para pemimpin; dimana malaikat Jibril datang kepada Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada manusia dengan prilaku dan ucapannya.

Dari hadits ini dapat diambil pengertian bahwa Islam dan Iman adalah dua hakekat yang berbeda secara bahasa ataupun menurut syari'at. Hal ini menjadi dasar dalam memahami nama-nama yang berbeda. Dalam penggunaan syari'at terkadang menjadi luwes; dimana satu sama lain bisa saling mewakili atau yang satu mencakup yang lain.

Dalam ungkapan hadits (فَجِئْنَا لَـهُ يُسَائِلُ وَيُـصَدِّقُ), mereka merasa heran terhadap si penanya; ia bertanya kemudian membenarkan jawaban padahal sesuatu yang dibawa oleh Nabi ﷺ tidak dapat diketahui kecuali dari beliau. Sementara si penanya tersebut tidak


مكتب الدعوة بحي الروضة 13

Syarah Empat Puluh Hadits

termasuk orang-orang yang dikenal biasa bertemu dengan Nabi ﷺ atau mendengar dari Nabi ﷺ. Lebih dari itu, orang ini telah bertanya seperti orang yang tahu dan ingin mengecek kebenaran kemudian ia membenarkan. Oleh karenanya, mereka merasa heran dari sikap tersebut.

Ungkapan Rasulullah ﷺ (أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِـهِ وَكُتُبِـهِ) menunjukkan bahwa Iman kepada Allah adalah membenarkan eksistensi Allah dengan segala sifat keagungan, kesempurnaan dan kemahasucian dari sifat-sifat kekurangan. Jelasnya, bahwa Allah Esa, Maha Benar, Tempat Mengadu, Tunggal, Pencipta seluruh makhluk, Melakukan segala yang dikehendaki dan Bertindak di dalam kerajaan-Nya sekehendak-Nya.

Beriman kepada para malaikat adalah membenarkan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia. Mereka tidak pernah mendahului Allah dengan perkataan dan mereka senantiasa melaksanakan perintah Allah.

Beriman kepada rasul Allah adalah membenarkan bahwa mereka jujur dan benar dalam memberitakan apa yang datang dari Allah. Mereka diperkuat dengan mukjizat (kejadian-kejadian di luar kebiasaan) yang menunjukkan kebenaran mereka. Mereka telah menyampaikan risalah dan tugas dari Allah ﷺ dan telah menjelaskan segala yang diperintahkan Allah kepada para mukallafin<sup>(1)</sup>. Semua para rasul wajib dihormati dan tidak boleh dibeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain.

Beriman kepada hari akhir adalah membenarkan akan terjadinya hari kiamat dan apa yang terjadi berikutnya, seperti hidup lagi setelah kematian, bangkit dari kubur, kumpul di mahsyar, diperhitungkan dan ditimbang amal, melewati jembatan, dan adanya surga dan neraka. Surga adalah tempat menerima

  1. Maksudnya adalah orang-orang yang sudah mencapai batas usia bertanggung jawab atas semua perbuatannya

مكتب الدعوة بحي الروضة

Syarah Empat Puluh Hadits 14

pahala bagi orang-orang yang berbuat baik dan neraka adalah tempat balasan bagi orang-orang yang berbuat jahat. Dan hal-hal lain yang ada dalil shahih dari sunnah Rasul.

Beriman kepada takdir adalah membenarkan hal-hal yang telah tercatat dalam ilmu ghaibnya Allah. Hal tersebut tersimpul dalam firman Allah ﷻ yang di antaranya sebagai berikut:

﴿ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ ﴾

"Padahal Allah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. 37: 96)

﴿ إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴾

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. 54: 49)

Ada beberapa hadits Nabi ﷺ dalam masalah ini, di antaranya hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas ﷺ bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ."

"Ketahuilah, seandainya seluruh umat manusia bersatu untuk memberi suatu manfaat kepada kamu maka mereka tidak dapat memberi manfaat apapun kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah untuk kamu. Demikian pula jika mereka bersepakat untuk membahayakan kamu maka mereka tidak dapat melakukannya kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah akan


مكتب الدعوة بحي الروضة 15

Syarah Empat Puluh Hadits

menimpa kamu. Pena telah diangkat (tidak dapat dituliskan lagi) dan buku catatan telah mengering (tidak dapat diubah lagi)."<sup>(1)</sup>

Menurut pendapat Salaf (kaum muslimin generasi awal) dan para ulama Khalaf (kaum muslimin generasi akhir) bahwa orang yang mempercayai masalah ini dengan keyakinan yang mantap tanpa keraguan maka ia dianggap orang beriman yang sebenarnya; baik itu disebabkan argumentasi yang pasti atau karena keyakinan yang mantap.

Ungkapan hadits "أن تعبــد الله كأنــك تــراه" yang artinya "Kamu menyembah Allah seperti kamu dapat melihat-Nya", tercapainya kondisi seperti ini kembali kepada ketekunan dan kecermatan seorang hamba dalam melaksanakan ibadah, menjaga hak-hak Allah, merasa diawasi oleh Allah dan menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah di saat melaksanakan ibadah.

Ungkapan (فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا) الأمـارة sama dengan الْعَلاَمَـة artinya tanda. Yang dimaksud dengan الأَمَة di sini adalah budak wanita yang melahirkan anak dari tuannya. Sedang رَبَّتَهَا berarti tuannya dalam riwayat lain disebutkan بَعْلَهَا. Ada riwayat menyebutkan bahwa seorang badui arab ditanya tentang unta yang ada di hadapannya, ia menjawab: "أَنَا بَعْلُهَا" artinya saya pemiliknya. Dalam bahasa Arab, seorang suami dinamai juga dengan بَعْل.

Ada perbedaan pendapat dalam pengertian ungkapan hadits " أن تَلِــدَ الأَمَــةُ رَبَّتَــهَــا". Di antaranya ada yang mengatakan bahwa kaum muslimin akan menguasai negeri-negeri orang kafir sehingga banyak tawanan dan akan terjadi budak-budak wanita melahirkan dari

  1. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Bab: 59 tentang Gambaran Hari Kiamat, hadits no. 2516 yang permulaannya berbunyi sebagai berikut. Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه ia berkata: "Aku pernah berada di belakang Rasulullah ﷺ (di atas hewan kendaraannya), kemudian beliau berkata kepadaku: 'Hai anak, Aku ajarkan kepadamu beberapa kata, yaitu: Jagalah Allah, pasti Allah menjagamu.." Imam Tirmidzi mengatakan, hadits ini derajatnya Hasan-Shahih. Dan hadits ini tercantum pada Matan Arba'in Nawawi no. 19)

مكتب الدعوة بحي الروضة Syarah Empat Puluh Hadits 16

tuannya. Maka anak itu menjadi tuan bagi budak wanita yang melahirkannya karena kedudukannya seperti ayahnya yang merdeka. Oleh karena itu, di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah bahwa kaum muslimin akan mengalahkan orang-orang musyrikin dan terjadi penaklukan dan penawanan. Pendapat lain mengatakan makna ungkapan di atas adalah akan terjadi kerusakan tatanan sosial masyarakat sehingga orang-orang yang memiliki budak perempuan dan melahirkan anak dari dirinya menjual budak tersebut. Kemudian budak tersebut berpindah-pindah dari satu pembeli ke pembeli lain yang akhirnya dibeli oleh anaknya sendiri tanpa disadari bahwa ia ibunya. Maka dengan dasar pengertian seperti itu, meratanya kebodohan tentang haramnya menjual budak wanita yang sudah punya anak dari tuannya adalah termasuk tanda-tanda hari kiamat. Pendapat ketiga mengatakan yang dimaksud ungkapan hadits di atas adalah, akan banyak terjadi sikap pembangkangan anak-anak kepada orang tua sehingga seorang anak bersikap kepada ibunya seperti sikap tuan kepada budaknya seperti merendahkan dan mencaci.

Kata إِمَاءٌ; lam dibaca fathah tanpa tasydid, sebagai bentuk jamak dari عَائِل yang maknanya orang fakir.

Hadits di atas mengandung hukum makruh melakukan se-suatu yang tidak diperlukan seperti meninggikan dan memperkokoh bangunan (di luar kebutuhan). Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

"يُؤْجَرُ ابْنُ آدَمَ فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مَا وَضَعَهُ فِي هٰذَا التُّرَابِ"

"Akan diberikan pahala kepada anak Adam dalam setiap sesuatu selain yang diletakkan pada tanah ini."<sup>(1)</sup>

  1. Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Bab Gambaran Tentang Hari Kiamat, bab ke 40, no. 2483, dari sahabat Haritsah bin Mudharrib dengan redaksi " يُؤْجَرُ الرَّجُلُ فِي نَفَقَتِهِ كُلِّهَا إِلَّا التُّرَابَ، أَوْ قَالَ فِي الْبِنَاءِ". Artinya, "Seseorang akan diberti pahala dalam menafakahkan hartanya selain tanah atau (keraguan dari perawi) Beliau mengatakan, dalam membangun bangunan." Abu 'Isa berkata: Hadits ini derajatnya hasan shahih.

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 17

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, beliau tidak pernah meletakkan sebuah batu di atas batu atau ubin di atas ubin. Maksudnya tidak pernah membangun dengan bangunan yang demikian kokoh dan tinggi menjulang.

Para pengembala kambing secara khusus disebutkan dalam hadits karena mereka dianggap orang yang paling lemah di kalangan orang Badui. Maknanya, meski dalam keadaan lemah dan jauh dari kemampuan (mereka berbangga-banggaan dalam bangunan). Berbeda dengan para pemiliki unta. Mereka pada umumnya bukan orang miskin.

"فَلَبِثَ مَلِيًّا" demikianlah riwayat ini menggunakan ta'. Maksudnya bahwa Umar ؓ tertegun lama. Dalam riwayat lain digunakan "لَبِثَ" tanpa ta'. Maksudnya bahwa Nabi ﷺ berdiam lama setelah keluarnya yang bertanya. Kedua makna itu benar. "مَلِيًّا" maknanya masa yang cukup lama. Dalam riwayat Abu Dawud dan yang lain diriwayatkan bahwa masa yang lama itu adalah tiga (hari).

Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian, maksudnya kaidah-kaidah atau masalah-masalah pokok dalam agama. Demikian, hal itu dikatakan oleh Imam Muhyiddin An-Nawawi ketika menjelaskan hadits dalam kitabnya, Shahih Muslim.

Hal-hal terpenting yang terdapat dalam hadits ini adalah penjelasan tentang islam, iman dan ihsan dan tentang kewajiban beriman kepada ketetapan atas kekuasaannya Allah ﷻ. Ada beberapa keterangan sekelompok ulama yang menjelaskan Islam dan iman panjang lebar, di antaranya riwayat Imam Abul-Hasan yang dikenal dengan Ibnul-Batthal al-Maliki, ia mengatakan pendapat Ahlus-Sunnah dari umat Islam dahulu samapai sekarang bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan yang bisa bertambah dan berkurang dengan dalil firman Allah ﷻ berikut ini.

﴿لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ﴾


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 18

"Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)." (QS. 48: 4)

dan ayat-ayat lain yang berkaitan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hakekat keyakinan tidak dapat bertambah atau pun berkurang. Sedang iman menurut syari'at dapat bertambah dan berkurang dengan penambahan atau pengurangan buahnya berupa amal perbuatan. Mereka berkata, pemahaman seperti ini dapat mengompromikan antara teks wahyu secara lahir yang menjelaskan adanya penambahan iman dengan asal makna iman secara bahasa.

Yang dikatakan oleh mereka itu nampaknya jelas. Namun yang lebih jelas lagi bahwa hakekat membenarkan bisa bertambah dengan banyaknya pengamatan terhadap lahiriahnya dalil-dalil. Oleh karenanya, iman orang-orang yang benar-benar beriman lebih kuat dan lebih mantap ketimbang yang lain; dimana mereka tidak terpedaya oleh kedunguan, iman mereka tidak tergoyahkan oleh keadaan apapun bahkan hati mereka tetap terang dan bersinar meskipun situasi dan kondisi mereka tidak karuan.

Berbeda dengan orang-orang yang masih lemah iman dan yang mirip dengan mereka. Mereka tidak seperti orang-orang yang di atas. Hal ini tidak mungkin diingkari. Dan tidak diragukan bahwa keyakinan Abu Bakar Shiddiq ﷺ tidak sama dengan keyakinan yang lain. Oleh karena itu, Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya menuturkan perkataan Ibnu Mulaikah: "Aku mendapatkan tigapuluh orang sahabat Nabi ﷺ semuanya mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada di antara mereka yang mengatakan bahwa imannya seperti imannya Jibril dan Mikail ﷺ."<sup>(1)</sup>

Adapun penggunaan iman untuk amal perbuatan, hal itu disepakati kebera-daannya di kalangan ulama dan didukung

  1. Shahih Bukhari, al-Iman, bab: Kekhawatiran Orang Mukmin Dihapus-kan Nilai Amalnya, hal. 109

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 19

oleh banyak dalil yang tidak terhingga seperti dalam firman Allah:

﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ﴾ (البقرة: ١٤٣)

"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." (QS. 2: 143)

Yang dimaksud dengan imanmu di sini adalah shalat kamu.

Sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi "الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله .." kemudian Rasulullah ﷺ menafsirkan iman dengan sabdanya " أن تؤمن بالله وملائكـــه ..", Abu Amer bin Shalah rahimahullah berkomentar, ini adalah keterangan pokok iman yaitu, keyakinan dalam hati dan keterangan pokok islam yaitu penyerahan dan ketundukan secara lahir. Dan hukum keislaman secara lahir ditetapkan dengan dua kalimat syahadat. Sementara menyertakan shalat, zakat, puasa dan haji dengan syahadat karena semua itu merupakan syi'ar Islam yang paling nampak dan paling agung, yang dengan melaksanakan semua itu islam seseorang menjadi sah.

Kemudian kata iman mencakup semua yang ditunjuk oleh kata islam dalam hadits ini dan juga mencakup semua bentuk ketaatan karena semua itu merupakan buah dari keyakinan yang ada di dalam hati sebagai pokok keimanan. Oleh karena itu, penamaan orang beriman tanpa keterangan tambahan tidak mengena kepada orang yang melakukan dosa besar atau meninggalkan sesuatu yang fardhu karena penyebutan sesuatu secara mutlak memberi pengertian kepada yang sempurna. Hal itu tidak digunakan pada yang kurang secara lahir kecuali dengan ada niat (mengecualikan). Demikian pula boleh meniadakan sifat iman dari seseorang, sebagaimana dalam sabda Rasulullah ﷺ:

"لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُـــوَ مُؤْمِنٌ"


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 20

"Tidaklah dianggap beriman orang yang berzina ketika ia berzina dan tidak pula dianggap beriman pencuri ketika ia mencuri."<sup>(1)</sup>

Kata Islam juga mencakup semua yang menjadi pokok iman yaitu keyakinan di dalam hati sebagaimana mencakup pokok ketaatan karena semua itu merupakan penyerahan. Dari keterangan yang kami jelaskan dapat dipahami bahwa iman dan islam menyatu dan berpisah. Setiap orang mukmin adalah muslim, akan tetapi tidak setiap orang muslim adalah mukmin. Kesimpulan seperti ini tepat dalam mengompromikan teks-teks Qur'an dan hadits yang banyak orang terjatuh kepada kesalahan dalam memahaminya. Dan apa yang kami kesimpulan di sini sesuai dengan pendapat mayoritas ulama ahli hadits dan lainnya. Allahu q'lam.

  1. Shahih Bukhari, Mazhalim, bab : Menganbil Barang Tanpa Seizin Pemi-liknya, no. 2475. ibnu Abbas ﷺ dalam menafsiri hadits tersebut berkata: "Iman orang tersebut dicabut karena iman bersifat suci. Apabila seseorang berbuat dosa, iman itu berpisah darinya. Apabila ia meninggalkan dosa, iman kembali lagi kepadanya." Beliau memasukan jari-jemari tangan yang satu kepada jari-jemari tangan yang lain kemudian memisahkannya.

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 21

الحديث الثالث

Hadits Ketiga

Rukun-Rukun Islam

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ﷺ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: "بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ" رواه البخاري (رقم: ٨) ومسلم (رقم: ١٦)

Diriwayatkan dari Abu Abd. Rahman, Abdullah bin Umar bin Khatthab ﷺ. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

"Islam didirikan atas lima dasar, yaitu: persaksian bahwa tidak ada ilah selain Allah dan nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan."

(HR. Bukhari dan Muslim)

❀ ❀ ❀

Bagian 2 dari 64