Terjemah Syarah Arba'in Nawawiyah - Ibnu Daqiqil 'Ied

Jalur hadits yang diperluas dari pembahasan awal PDF: niat, Islam-Iman-Ihsan, rukun Islam, bid'ah, halal-haram, nasehat, kehormatan muslim, syubhat, dan adab menjaga hati.

Bagian 22 dari 64 173 halaman

— Keterangan —

Keterangan

Yang dimaksud dengan "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir" di sini adalah iman yang sempurna yang dapat menyelamatkan dari azab Allah ﷻ dan mengantarkan kepada keridhaan-Nya "maka hendaknya ia berkata baik atau diam" karena


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 64

orang yang benar-benar beriman kepada Allah, pasti merasa takut ancaman dan mengharap pahala dari-Nya. Dengan demikian, ia akan sungguh-sungguh dalam melakukan perintah dan meninggalkan yang dilarang. Dan yang paling penting baginya menahan seluruh anggota badan yang akan diminta pertanggungjawabannya, sebagaimana firman Allah ﷺ:

﴿ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴾

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawab." (QS. 17: 36)

Di ayat lain, Allah berfirman:

﴿ مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴾

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. 50: 18)

Bencana lidah sangat banyak. Oleh karenanya, Rasulullah ﷺ bersabda:

« رَجُلٌ يُكَبُّ النَّاسُ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ »

"Tidaklah menjungkalkan banyak orang ke neraka di atas batang hidung mereka kecuali hasil (yang diucapkan) lidah mereka."<sup>(1)</sup>

Dan beliau bersabda pula:

« كُلُّ كَلَامِ ابْنِ آدَمَ عَلَيْهِ إِلَّا ذِكْرَ اللهِ وَأَمْرٌ بِمَعْرُوفٍ وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ »

"Seluruh ucapan manusia akan menjadi pertanggungan jawabnya kecuali berupa zikir kepada Allah, menyeru kepada kebaikan dan melarang kemunkaran."<sup>(2)</sup>

  1. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/236-237 dan Imam Tirmidzi, bab Iman no. 2616
  2. Diriwatkan oleh Imam Tirmidzi, bab Zuhud, no. 2412 dari Ummu Habibah ra. Abu Isa berkata: Hadits ini derajatnya hasan gharib. Kami tidak mengetahuinya selain dari sanad hadits Muhammad bin Yazid bin Khunais.

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 65

Barangsiapa yang mengetahui hal itu dan mengimaninya dengan sebenarnya, pasti ia bertaqwa kepada Allah ﷺ pada lidahnya dan tidak akan berbicara kecuali yang baik atau diam.

Sebagian ulama berkata: "Seluruh adab-adab kebaikan bersumber dari empat hadits, di antaranya hadits berikut:

(مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ)

Sebagian ulama yang lain mengatakan, jika seseorang ingin berkata maka hendaknya ia berpikir. Kalau yang akan dikatakan itu baik dan mengandung pahala, katakanlah! Akan tetapi, jika tidak baik maka ia harus menahan diri untuk berbicara, baik itu hal yang haram, makruh atau mubah. Atas dasar pemahaman ini, maka dianjurkan untuk meninggalkan berkata-kata yang mubah agar tidak terjerumus kepada yang haram atau makruh. Hal itu memang banyak terjadi, sementara Allah ﷺ berfirman:

﴿ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴾

"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)." (QS. 50: 18)

Para ulama berbeda pendapat apakah seluruh yang diucapkan itu dicatat meskipun·dalam masalah yang mubah, atau hanya yang mengandung pahala atau dosa saja yang dicatat. Ibnu Abbas ﷺ dan yang lain cendrung kepada pendapat kedua. Menurut pendapat ini, ayat di atas khusus untuk ucapan yang akan diberi balasan.

Ungkapan Rasulullah ﷺ "hendaknya memuliakan tetangganya.. hendaknya memuliakan tamunya" mengandung pelajaran tentang hak tetangga dan tamu, agar berbuat baik kepada mereka, dan mendorong untuk menjaga anggota badan. Allah ﷺ telah berpesan kepada kita dalam Al-Qur'an untuk berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا زَالَ جِبْرِيلُ ﷺ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 66

"Jibrilsenantiasa berpesan kepadaku masalah tetangga sehingga aku menduga bahwa tetangga itu akan mendapat warisan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjamu orang termasuk ajaran Islam dan perangai para nabi dan orang-orang saleh. Sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu merupakan kewajiban, tapi mayoritas ulama berpendapat hal itu hanya termasuk akhlak yang mulia.

Pengarang kitab "Al-Ifshah" mengatakan bahwa hadits ini mengandung pengertian, seseorang hendaknya meyakini bahwa memuliakan tamu merupakan ibadah yang tidak ada pengurangan pahala bila tamunya orang kaya atau yang disuguhkannya hanya sedikit. Untuk memuliakan tamu hendaknya dengan segera menyambutnya dengan wajah ceria dan ungkapan yang santun. Sementara yang menjadi penting dalam menghormati tamu adalah dengan menghidangkan makanan. Oleh karena itu, seyogyanya orang yang kedatangan tamu bersegera menghidangkan sesuatu yang ia punya tanpa harus memaksakan diri.

Selain itu pengarang kitab "Al-Ifshah" mengomentari ungkapan Rasulullah ﷺ "hendaknya ia berkata baik atau diam" bahwa sabda beliau ini menunjukkan, berbicara baik adalah lebih baik ketimbang diam dan diam lebih baik ketimbang bicara buruk. Pengertian ini diambil dari sabda beliau yang menggunakan lam amr "لِيَقُلْ خَـيْـرًا" dan didahulukan sebelum perintah diam "لِـيَـصْـمُتْ". Termasuk ucapan baik adalah menyampaikan pesan dari Allah dan Rasul-Nya, mengajari kaum muslimin, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemunkaran berdasarkan ilmu, mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa dan berkata santun kepada orang lain. Dan perkataan yang utama adalah mengatakan yang hak dengan konsisten dan lurus di hadapan orang yang ditakuti tetapi ada harapan kebaikan padanya.


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة يحي الروضة 67

الحديث السادس عشر

Hadits Keenam Belas

Menahan Amarah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﷺ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ : أَوْصِــــنِي" قَــــالَ: "لَا تَغْضَبْ!" فَرَدَّدَ مِرَارًا. قَالَ: "لَا تَغْضَبْ!"

[رواه البخاري رقم: ٦١١٦]

Dari Abu Hurairah ﷺ bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi ﷺ "Berilah nasehat kepadaku!" Rasulullah ﷺ menjawab:

"Engkau jangan cepat marah!"

Kemudian ia mengulangi pertanyaan tersebut berkali-kali. Dan Rasulullah ﷺ menjawabnya dengan ungkapan,

"Engkau jangan cepat marah!"

(HR. Bukhari no. 6116)


❀ ❀ ❀


Bagian 22 dari 64