Terjemah Syarah Arba'in Nawawiyah - Ibnu Daqiqil 'Ied

Jalur hadits yang diperluas dari pembahasan awal PDF: niat, Islam-Iman-Ihsan, rukun Islam, bid'ah, halal-haram, nasehat, kehormatan muslim, syubhat, dan adab menjaga hati.

Bagian 36 dari 64 173 halaman

— Keterangan: —

Keterangan:

Makna "Aku haramkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku haramkannya di antara kalian" adalah tidak pantas dan tidak boleh bagi-Ku berbuat zalim, sebagaimana firman Allah:

﴿ وَمَا يَنۢبَغِي لِلرَّحۡمَٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدٗا ﴾

"Dan tidak sepantasnya bagi Allah Yang Maha Pengasih menjadikan anak" (QS. 19: 92)

Perbuatan zalim tidak mungkin terjadi pada Allah ﷻ. Sebagian ulama mengomentari hadits ini, tidak boleh bagi seseorang memohon kepada Allah untuk memenangkan perkara bagi dirinya dan mengalahkan lawannya kecuali dengan kebenaran dengan dalil hadits qudsi di atas. Maka, Allah ﷻ tidak akan menzalimi hamba-Nya meskipun ada manusia yang menduga demikian. Demikian pula Allah ﷻ mengharamkan saling menzalimi di antara manusia.


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 94

Ungkapan "Semua kamu sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk .." merupakan peringatan bahwa kita itu fakir dan tidak mampu untuk mendapatkan manfaat bagi diri kita atau menolak bahaya kecuali ada pertolongan dari Allah ﷻ untuk hal tersebut. Kenyataan ini kembali kepada makna ungkapan "لا حول ولا قوة إلا بالله" . Perlu dipahami oleh hamba bahwa apabila ia mendapatkan kenikmatan maka itu adalah dari sisi Allah ﷻ dan ia wajib bersyukur kepada-Nya. Dan setiap kali kenikmatan bertambah maka hendaknya semakin meningkat dalam memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Yang dimaksud dengan ungkapan "mintalah petunjuk kepada-Ku!" adalah bahwa seorang hamba hendaknya memohon petunjuk kepada Rabbnya maka Allah pasti memberi petunjuk kepadanya. Andaikata jika seorang hamba diberi petunjuk tanpa memohon maka tidak mustahil ia akan berkata, "Aku diberi sesuai dengan pengetahuanku". Kemudian makna ungkapan "Semua kamu lapar .." adalah bahwa Allah telah mencipkan makhluk dengan keadaan fakir dan membutuhkan makanan. Maka, setiap yang membutuhkan makanan, ia pasti akan lapar hingga Allah yang menggiring rizki kepadanya dan memberi kemudahan untuk menggunakan alat yang tersedia. Oleh karenanya, janganlah orang kaya menduga bahwa rizki yang ada di tangannya, bahkan suapan yang siap untuk dimasukan ke mulut, itu diberikan oleh seseorang selain Allah ﷻ. Dalam ungkapan itu juga terdapat pelajaran tata krama dan kesopanan bagi orang yang fakir. Seakan-akan Allah berkata: "Janganlah kalian mencari makan dari selain Aku! Karena orang-orang yang kalian minta bantuannya, sebenarnya Aku juga yang memberi makan kepada mereka. Oleh karenanya, mintalah makan kepada-Ku, pasti Aku beri."

Ungkapan "Kamu semua berbuat salah di malam dan di siang hari" mengandung teguran yang membuat orang beriman merasa malu sebagaimana mengandung pengertian bahwa Allah ﷻ menciptakan


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 95

malam untuk dijadikan waktu berbakti dan beribadah dengan ikhlas; dimana amal-amal ibadah di malam hari pada umumnya aman dari gangguan ria dan kemunafikan. Oleh karena itu, tidakkah seorang mukmin merasa malu jika ia tidak menggunakan waktu malam untuk melakukan ketaatan sesuai dengan tujuan diciptakannya, sehingga kemudian melakukan kesalahan dan bermaksiat kepada Allah di malam hari itu? Adapun siang hari diciptakan Allah ﷺ untuk disaksikan oleh manusia (manusia di siang hari dalam keadaan sadar dan tidak tidur). Maka oleh karena itu, sepantasnyalah setiap orang cerdik patuh juga kepada Allah ﷺ dan tidak melakukan kesalahan di tengah masyarakat.

Bagaimana pantas bagi seorang mukmin berbuat salah dalam sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sementara Allah ﷺ telah menyatakan "dan Aku mengampuni seluruh dosa" sebelum menyuruh kita beristighfar agar tidak ada yang merasa putus asa karena berbuat dosa besar.

Ungkapan "Wahai hamba-Ku, seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kamu dari jenis manusia ataupun jin .." mengandung pengertian bahwa ketakwaan orang-orang bertakwa merupakan kasih sayang Allah kepada mereka dan tidak akan menambah sesuatu apapun dalam kerajaan Allah ﷺ.

Adapun ungkapan "Seandainya orang pertama dan orang terakhir dari kamu sekalian; dari jenis manusia ataupun jin berkumpul di satu tempat .." merupakan peringatan bagi semua makhluk untuk memperbesar permintaan dan memperluas permohonan. Hendaknya seseorang yang memohon tidak membatasi diri karena apa yang ada di sisi Allah tidak habis dan tidak mengurang sedikit pun. Sekali-kali jangan ada yang menduga bahwa apa yang di sisi Allah ﷺ mengurang dengan diberikan kepada hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 96

"يَدُ اللهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ رَبُّكُمْ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ"

"Tangan Allah penuh (dengan pemberian) yang tidak akan mengurang dengan didermakan siang dan malam. Tidakkah kamu melihat pemberian Allah sejak diciptakannya langit dan bumi? Hal itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan kanan-Nya"<sup>(1)</sup>

Yang menjadi rahasia hal itu adalah bahwa kekuasaan Allah senantiasa berlaku dalam mewujudkan sesuatu dan tidak mungkin ada kekurangan dan kelemahan; karena hal-hal yang mungkin terjadi tidak terhingga dan tidak ada habis-habisnya.

Ungkapan "kecuali sebagaimana menguranginya air yang menempel pada jarum setelah dimasukkan ke dalam lautan" adalah suatu perumpamaan yang dapat disaksikan untuk mendekatkan kepahaman. Sedang yang dimaksud adalah bahwa yang ada di sisi Allah ﷻ tidak mengurang sedikit pun.

Ungkapan "Itulah amal-amal kalian yang Kami perhitungkan. Barangsiapa mendapatkan kebaikan maka hendaknya memuji Allah" memberi pengertian bahwa hendaknya seseorang tidak menyandarkan amal ketaatannya kepada dirinya, akan tetapi kepada taufik dari Allah ﷻ, kemudian memuji-Nya atas hal demikian.

Ungkapan "dan barangsiapa mendapatkan selain itu" tidak dikatakan "barangsiapa mendapatkan keburukan", artinya orang yang mendapati amalnya kurang baik maka jangan mencela selain dirinya sendiri. Dan memang hanya diri sendiri yang berhak dicela, tidak yang lain.

  1. Diriwayтkan oleh al Bukhari, Bab Tauhid, Pasal: Arasy Allah di atas Air, no. 7419

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 97

الحديث الخامس والعشرون

Hadits Kedua Puluh Lima

Orang Kaya Menggondol Pahala

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ﷺ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ قَالُوا لِلنَّبِيِّ ﷺ: يَا رَسُولَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ، قَالَ:

"أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلَّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلَّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلَّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةً، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً"

قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ: أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟

قَالَ: "أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟" فَكَـذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ"

[رواه مسلم (رقم: ١٠٠٦)]

Diriwayatkan dari Abu Dzar ﷺ, bahwa ada beberpa orang dari sahabat Rasulullah ﷺ berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah ﷺ, orang-orang kaya memperoleh banyak pahala. Mereka melaksanakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, tapi mereka mampu bersedekah dengan kelebihan hartanya." Rasulullah ﷺ bersabda:


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 98

"Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu semua sesuatu yang kamu bisa bersedekah? Sesungguhnya pada setiap bacaan tasbih ada nilai sedekah, setiap bacaan takbir bernilai sedekah, setiap bacaan hamdalah bernilai sedekah, setiap bacaan tahlil bernilai sedekah, menyuruh kepada kebaikan bernilai sedekah, melarang kemunkaran bernilai sedekah, dan pada kelamin kamu (besenggama) ada nilai sedekah."

Mereka berkata: "Wahai Rasul, apakah jika seseorang dari kami melampiaskan syahwatnya, ia akan dapat pahala? Rasulullah ﷺ menjawab:

"Bagaimana pendapat kamu, seandainya dia menyalurkan syahwatnya itu pada yang haram (bukan isterinya), bukankah ia berdosa? Demikian pula ketika ia menyalurkannya pada yang halal (isterinya) maka ia mendapat pahala."

(HR Muslim no. 1006)

❀ ❀ ❀

Bagian 36 dari 64