— Keterangan —
Keterangan
Sebagian ulama mengomentari ungkapan (إن أحدكم ... يُجْمَعُ بَطْنِ أُمِّهِ) bahwa sperma jatuh ke rahim dengan cara terpisah kemudain Allah mengumpulkannya di rahim dalam masa tersebut.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ☪ dalam menafsirkan hadits ini, beliau mengatakan ketika air mani jatuh di rahim kemudian Allah menghendakinya menjadi anak manusia, nuthfah tersebut
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 25
menelusuri kulit wanita ke bawah setiap kuku dan rambut dan kemudian menetap selama empat puluh malam, kemudian menjadi darah di dalam rahim. Itulah yang dimaksud dengan pengumpulannya, yaitu di masa terbentuknya segumpal darah.<sup>(1)</sup>
Yang dimaksud dengan "diutuslah satu malaikat" adalah malaikat yang ditugasi untuk urusan rahim.
"إن أحدكم ليعمل ......" zahir hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut melaksanakan perbuatan yang sah dan baik yang membawanya menjadi dekat ke surga sehingga jarak antara dia dan masuk surga tinggal satu hasta. Sesuatu yang menghalanginya masuk surga ialah ketentuan terdahulu yang baru terungkap di akhir hayatnya. Oleh karena itu, semua amal perbuatan akan dilakukan sesuai dengan ketentuan terdahulu (di Lauh Mahfuzh). Akan tetapi, ketika ketentuan-ketentuan terdahulu itu tersembunyi dari kita, sementara perbuatan di akhir nampak sebagaimana diriwayatkan dalam hadits "Seluruh amal perbuatan tergantung kepada akhirnya"<sup>(2)</sup>. Maksudnya, hal ini nampak kepada kita dilihat dari sisi bahwa kita bisa mengamatinya pada sebagian orang dan di waktu-waktu tertentu.
Adapun hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya seseorang melakukan perbuatan ahli surga dalam pandangan manusia padahal ia termasuk penghuni neraka.." maka amal perbuatan yang dilakukan orang tersebut hakekatnya tidak benar karena adanya riya' (ingin dilihat) atau sum'ah (ingin didengar).
Oleh karenanya, hadits ini memberi pengertian bahwa yang harus dijadikan pegangan dalam beramal adalah menyandarkan diri kepada kemurahan dan kasih sayang Allah tanpa menoleh kepada amal perbuatan dan ketenangan batin dengan amal itu.
- Dirwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim
- Shahih Bukhari, Al-Qadar, bab: Amal ditentukan dengan yang terakhir, no. 6607
مكتب الدعوة بحي الروضة 26 Syarah Empat Puluh Hadits
Ungkapan "Demi Dzat yang tidak ada ilah selain Dia, sesungguhnya seseorang di antara kamu sungguh melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dia dan surga tinggal satu hasta, namun ketentuan di Lauh Mahfuzh menetapkan (untuk celaka) kemudian melakukan pebuatan ahli neraka (sampai mati) maka akhirnya ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang di antara kamu melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dia dan neraka tinggal satu hasta, namun ketentuan di Lauh Mahfuzh menetapkan (akan bahagia) kemudia ia melakukan perbuatan ahli surga (sampai mati) maka akhirnya ia masuk surga" hal ini dilihat dari sisi kemungkinannya untuk terjadi meskipun sedikit. Bukan hal itu umum terjadi, melainkan merupakan kasih sayang dan luasnya rahmat Allah ﷺ karena yang terbanyak adalah perubahan orang menjadi baik. Sebaliknya, sedikit yang berubah dari baik menjadi buruk. Bahkan, segala puji bagi Allah, hal itu sangat sedikit. Itulah kemurahan Allah ﷺ. Ada riwayat mengatakan, "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku." Dalam riwayat lain "... mengalahkan murka-Ku."
Hadits di atas mengandung pengertian adanya ketetapan takdir sebagaimana pendapat Ahlus-Sunah bahwa seluruh yang terjadi di alam ini terjadi dengan qadha (ketentuan di zaman azali) dan qadar (perwujudan di alam nyata) Allah; yang baik, yang buruk, yang manfaat atau yang mudarat. Allah berfirman:
$$\text{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ}$$
"Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, (tapi) merekalah yang akan ditanyai."
(QS. 21: 23)
Allah tidak dapat ditentang pada apa yang diperbuat sekehendak-Nya di dalam kekuasaan-Nya.
Imam Sam'ani berkata: "Jalan untuk mengetahui bab ini (qadha dan qadar) adalah dengan cara mengompromikan (dalil-dalil) Al-Qur'an dan Sunnah, bukan dengan ukuran logika akal semata.
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 27
Barangsiapa yang berpaling dari hal tersebut, ia akan sesat, bingung, tidak mencapai kepuasan dan hatinya tidak akan sampai kepada ketenangan batin karena masalah takdir merupakan rahasia khusus Allah ﷺ yang dipasang tabir; tidak dapat diungkap oleh akal dan pengetahuan hamba-hamba-Nya. Allah telah menutup pengetahuan tentang takdir dari seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak dapat diketahui oleh malaikat, nabi ataupun rasul. Ada yang mengatakan, rahasia takdir ini dapat tersingkap bagi mereka setelah masuk surga. Sementara sebelum itu, tidak bisa tersingkap.
Banyak hadits yang melarang meninggalkan beramal dengan alasan sudah menjadi ketetapan takdir yang tercatat. Akan tetapi yang menjadi kewajiban adalah melaksanakan tugas kapan saja ada perintah dari syari'at. Setiap orang akan mudah melaksanakan apa yang ditakdirkan baginya dan tidak akan melakukan yang lain. Barangsiapa yang ditakdirkan menjadi orang beruntung maka ia akan mudah melakukan amal-amal kebaikan. Sebaliknya, orang yang ditakdirkan celaka maka ia akan dimudahkan melakukan perbuatan-perbuatan buruk sebagaimana dalam hadits. Dan Allah ﷺ berfirman:
﴿ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ۚ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ ﴾
"Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah ... maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. 92: 7 . 10)
Ulama berkata: "Catatan di sisi Allah, Lauh Mahfuzh dan Qalam (pena/pencatat) semuanya termasuk yang wajib diimani. Adapun bagaimana cara dan gambarannya, itu diserahkan kepada Allah. Manusia tidak dapat meliput ilmu Allah ﷺ selain sesuatu yang diberikan oleh-Nya."
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 28
الحديث الخامس
Hadits Kelima
Amal Munkar dan Bid'ah Itu Batil
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : "مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ" رواه البخاري (رقم: ٢٦٩٧) ومسلم (١٧١٨)
وفي رواية لمسلم : "مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ"
Dari Ummul-Mukminin Ummu Abdillah Aisyah , ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami ini, dan tidak termasuk dari ajaran kami maka ia (amalnya) tertolak (tidak diterima)."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain berbunyi: "Barangsiapa yang beramal suatu perbuatan yang tidak ada (dalil) dalam agama kami maka ia tertolak."
❀ ❀ ❀



