Terjemah Syarah Arba'in Nawawiyah - Ibnu Daqiqil 'Ied

Jalur hadits yang diperluas dari pembahasan awal PDF: niat, Islam-Iman-Ihsan, rukun Islam, bid'ah, halal-haram, nasehat, kehormatan muslim, syubhat, dan adab menjaga hati.

Bagian 51 dari 64 173 halaman

— Hadits Ketiga Puluh —

Hadits Ketiga Puluh

Hak-Hak Allah

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ جُرْثُومِ بْنِ نَاشِرٍ رضي الله عنه، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلَا تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوهَا وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلَا تَبْحَثُوا عَنْهَا"

[حديث حَسَنٌ، رواه الدَّارَقُطْنِيُّ (١٨٤/٤) وغيره.]

Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, Jurtsum bin Nasyir رضي الله عنه، dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah ﷻ telah menetapkan kewajiban-kewajiban. Maka, janganlah kamu menyia-nyiakannya. Allah telah menetapkan batasan-batasan (hukum). Maka janganlah kamu melampauinya. Allah telah menetapkan keharaman beberapa perkara. Maka, janganlah kamu melanggarnya. Dan Allah diam (tidak menerangkan) banyak perkara sebagai kasih sayang kepada kamu semua, bukan karena lupa. Maka, janganlah kamu mencari-cari permasalahan."

(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni 4/184 dan yang lain.)

❀ ❀ ❀

Keterangan:

Larangan jangan mencari-cari dalam masalah yang tidak diterangkan oleh Allah ﷻ ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi:


Syarah Empat Puluh Hadith مكتب الدعوة بحي الروضة 118

"رَبِّيَ مَا تَرَكْتُكُمْ ، فَأَيْمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ ، كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ"

"Biarlah aku meninggalkan apa-apa yang telah kusampaikan untukmu (cukup bagi kalian apa-apa yang aku telah sampaikan). Sesungguhnya yang membuat binasa umat sebelum kamu adalah banyaknya pertanyaan dan pertentangan mereka kepada nabi mereka."<sup>(1)</sup>

Sebagian ulama mengatakan, orang-orang Bani Israil bertanya kemudian dijawab dan mereka memohon kemudian diberi, sehingga hal itu menjadi fitnah dan menyebabkan kehancuran mereka.

Para sahabat nabi telah memahami hal demikian sehingga mereka banyak menahan diri kecuali dalam hal-hal yang mendesak. Oleh karena itu, mereka sangat menginginkan ada orang-orang yang datang bertanya kepada Rasulullah ﷺ sehingga mereka dapat mendengarkan jawaban dan menghafalnya.

Ada sebagian orang yang berlebihan dalam hal ini sehingga mengatakan, tidak boleh bertanya masalah-masalah berkaitan dengan masalah baru kepada para ulama kecuali yang telah terjadi. Sebagian orang salaf mengatakan dalam masalah ini, biarlah (tidak perlu ditanyakan) hingga terjadi. Akan tetapi, karena kekhawatiran atas hilangnya ilmu, para ulama meletakkan prinsip-prinsip masalah dan cabang-cabangnya dan mempersiapkan masalah-masalah yang perlu dibahas.

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum masalah yang belum ada ketentuannya dalam syari'at, apakah hal itu dilarang, dibolehkan atau bersikap tawakuf (tidak menentukkan hukum). Tiga pendapat ini dijelaskan dalam kitab-kitab usul fikih.

  1. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Bab: Haji, Pasal: Kewajiban Haji Satu Kali, no. 1337.

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 119

الحديث الحادي والثلاثون

Hadits Ketiga Puluh Satu

Zuhud yang Hakiki

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ ﷺ، قَالَ: جَاءَ رَجُـــلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَـــلٍ إِذَا عَمِلْتُـــهُ أَحَبَّنِـــي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ:

"ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ."

[حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ (رقم: ٤١٠٢) وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ]

Dari Abul Abbas, Sahal bin Sa'ad As-Sa'idi ﷺ, ia berkata: Seseorang datang kepada Nabi ﷺ kemudian berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan jika aku lakukan, aku dicintai Allah ﷺ dan disenangi manusia." Rasulullah ﷺ bersabda:

"Zuhudlah <sup>(1)</sup> kamu di dunia, pasti Allah mencintaimu. Dan zuhudlah kamu dari sesuatu yang ada pada orang, pasti orang-orang mencintai kamu."

(Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 4102 dan yang lain dengan beberapa sanad yang baik.)

⚜ ⚜ ⚜

  1. Yang dimaksud dengan zuhud adalah sikap tenang dengan yang diberikan oleh Allah dan tidak tergoda untuk mengambil yang bukan haknya.

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 120

Keterangan:

`Ketahuilah bahwa Rasulullah ﷺ telah menganjurkan hidup sederhana dan bersikap zuhud di dunia dengan sabdanya:

"كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ"

"Bersikaplah di dunia bagai orang yang asing atau pengembara"<sup>(1)</sup>

Dalan hadits lain, beliau bersabda:

"حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ، وَحُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِيْ أَوْ يُصِمُّ"

"Cinta dunia merupakan pokok segala kesalahan. Dan kecintaanmu kepada sesuatu membuat kamu buta atau tuli."<sup>(2)</sup>

Dalam hadits lain dikatakan:

"الزَّاهِدُ فِي الدُّنْيَا يُرِيْحُ قَلْبَهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَالرَّاغِبُ فِي الدُّنْيَا تَعِبَ قَلْبُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ"

"Orang yang zuhud di dunia berarti menyenangkan hatinya di dunia dan akhirat. Dan orang yang senang dunia sama dengan menyusahkan hatinya di dunia dan di akhirat."<sup>(3)</sup>


  1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Bab: Zuhud, Pasal: 24 tentang keterangan cepatnya waktu dan pendeknya harapan, no. 2333. Lengkapnya hadits di atas sebagai berikut: "dan anggaplah dirimu di lingkungan ahli kubur. Ibnu Umar berkata kepadaku: Apabila kamu berada di waktu pagi, jangan kamu pikirkan waktu sore dan apabila kamu berada di waktu sore, jangan kamu memikirkan waktu pagi. Akan tetapi, ambillah waktu sehatmu untuk waktu sakitmu (beramallah di waktu sehat sebelum datang waktu sakit), dan waktu hidupmu sebelum kematian datang karena kamu tidak tahu hai hamba Allah, dengan nama apa kamu dipanggil besok"

  2. Penggalan pertama diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalan kitab "Su'abul Iman" dari Hasan Bashri sebagai hadits mursal dengan sanad yang hasan Al-Munawi berkata dalam kitab "Faidhul-Qadir", Al-Baihaqi berkata Hadits ini tidak benar dari hadits Nabi ﷺ. Adapun penggalan kedua diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Bab: Adab, Pasal: Hawa Nafsu, no. 5130 dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/194, 6/350 dari Abu Darda sebagai hadits marfu'.

  3. Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam kitab "Al-Mu'jam Al-Ausath", Ibnu 'Adiy dan Al-Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah.


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 121

Ketahuilah bahwa orang yang berada di dunia ini bagaikan tamu dan apa yang ada di tangannya merupakan pinjaman. Sementara tamu pasti akan pergi dan sebuah pinjaman harus dikembalikan. Ali bin Abu Thalib ؓ berkata: "Dunia ini bagai hidangan yang siap disantap oleh orang baik ataupun orang buruk." Dan dia (dunia) dibenci oleh para kekasih Allah ﷻ, tetapi disenangi oleh para pencinta dunia. Orang yang bergabung kepada para pencinta dunia dalam meraih yang dicintainya maka ia akan dimurkai mereka.

Rasulullah ﷺ memberi petunjuk kepada penanya agar meninggalkan dunia dengan sikap zuhud dan menjanjikan kepadanya dengan sikap zuhud tersebut akan mendapatkan kecintaan dari Allah ﷻ berupa keridhoan-Nya; dimana cinta Allah kepada hamba-Nya berarti Allah ridha kepadanya. Demikian pula Rasulullah ﷺ memberi petunjuk kepada si penanya agar zuhud dan tidak tertarik dengan yang ada pada orang lain untuk mendapatkan kecintaan dari mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang cita-cita dan keinginannya akhirat maka Allah akan menyatukan urusannya yang berantakan, Allah akan memberikan kaya hati, dan dunia datang kepadanya dengan mudah. Dan barangsiapa yang keinginannya dunia maka Allah akan membuat urusannya semeraut dan acak-acakan, kefakiran akan selalu menghadang di depan mata dan keduniaan tidak akan datang kepadanya kecuali sesuai yang ditakdirkan baginya. Orang bahagia adalah orang yang memilih kenikmatan yang kekal abadi dan meninggalkan sesuatu yang akan binasa dan penuh sengsara."<sup>(1)</sup>

  1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Bab Gambaran Hari Kiamat, Pasal 30, no 2465

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 122

الحديث الثاني والثلاثون

Hadits Ketiga Puluh Dua

Larangan Melakukan Hal Yang Mudarat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ سَعْدِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُـــــوْلَ اللهِ ﷺ،

قَالَ: "لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ"

[ حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ (رَقْـــمْ: ٢٣٤١) وَالـــدَّارَقُطْنِيُّ (٤/٢٢٨)

وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا، وَرَوَاهُ مَالِكٌ (٢/٧٤٦) فِي الْمُوَطَّأِ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ

أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيدٍ، وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضًا ]

Dari Abu Sa'id Sa'ad bin Sinan Al Khudri رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak boleh berbuat yang membahayakan diri sendiri ataupun yang membahayakan orang lain."

Hadis ini hasan; diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 2341, Ad-Darquthni 4/228 dan oleh yang lain dengan sanad yang menyambung. Dan diriwayatkan oleh Imam Malik 2/746 dalam kitab Muattha' dengan sanad yang mursal (nama sahabat tidak disebutkan) dari 'Amr bin Yahya. dari ayahnya, dari Nabi. Beliau tidak menyebutkan nama Abu Sa'id. Hadits ini memiliki banyak sanad yang saling memperkuat.

❀ ❀ ❀

Bagian 51 dari 64