— Keterangan: —
Keterangan:
Makna hasad adalah mengharap hilangnya nikmat (orang lain). Itu hukumnya haram. Dalam sebuah hadits disebutkan:
"إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُـلُ النَّـارُ الْحَطَـبَ أَوْ الْعُشْبَ"
"Hati-hati dan takutlahlah kamu untuk bersikap hasad karena hasad akan menghabiskan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar atau rumput." <sup>(1)</sup>
"الْحَسَدُ" tidak sama dengan "الْغِبْطَةُ" karena ghibthah maknanya adalah menginginkan keadaan yang sama dengan orang yang dia iri kepadanya tanpa mengharapkan hilangnya nikmat darinya. Namun, terkadang kata "الْحَسَدُ" digunakan dalam pengertian "الْغِبْطَةُ" sebagaimana dalam sabda Rasulullah ﷺ : "لَا حَسَدَ إِلَّا فِـي اثْنَتَـيْنِ" maknanya, tidak ada ghibthah (iri hati ingin sama dengannya).
"لَا تَحَاسَدُوا" asal makna "التَّحَاسُدُ" adalah "الْخِدَاعُ" dan "الْخِدَاعُ" yaitu penipuan. Dalam bahasa Arab dikatakan, "خَابَعَ الصَّيْدَ" maknanya si
- Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Bab Adab, Pasal: Hasud, no. 4903
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 138
pemburu melakukan penipuan karena ia mengintai dan menyiasati buruannya.
"لَا تَبَاغَضُوا" dimaknai, "janganlah kamu melakukan sebab-sebab kebencian" karena masalah cinta dan benci merupakan nilai yang ada di dalam hati, di luar kemampuan manusia untuk menghasilkan dan melakukannya sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam pengaduannya kepada Allah:
(اللَّهُمَّ هَذَا قَسْمِي فِيمَا أَمْلِكُ فَلَا تُؤَاخِذْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ)
"Ya Allah, inilah pembagianku dalam hal yang aku miliki (menggilir kepada istri-istriku). Maka, janganlah Engkau menyiksa aku pada sesuatu yang Engkau miliki, tapi aku tidak memiliki (kemampuan mengendalikan hati)." <sup>(1)</sup>
Arti "التَّدَابُرُ" bermusuhan atau memutuskan hubungan karena masing-masing saling membelakangi.
"وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ" contohnya seperti, seseorang mengatakan kepada orang yang membeli suatu barang dalam masa khiar (boleh jadi membeli atau tidak), "Kamu batalkan jual-beli itu, saya akan menjual kepada kamu barang seperti itu atau lebih baik dengan harga yang sama." Contoh kedua seperti berikut, dua orang (penjual dan pembeli) sudah sepakat dan setuju dengan harga suatu barang, tinggal melakukan transaksi kemudian orang ketiga menawarkan yang lebih baik atau memberikan harga yang lebih murah. Hal seperti itu haram karena sudah ada kesepakatan harga. Kalau belum ada kesepakatan harga, orang lain menawarkan barang tidak jadi masalah.
Makna "كُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا" bergaul dan bersikaplah kamu semua seperti orang-orang bersaudara dengan rasa cinta, lemah lembut,
- Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Bab: Nikah, Pasal: Menggilir Istri-istri, no. 2134
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 139
kasih sayang dan saling membantu dalam kebaikan dibarengi kejernihan hati dan saling menasehati.
"لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ" arti "يَخْذُلُهُ" tidak membantu dan tidak menolong. Jadi yang dimaksud dalam hadits adalah, apabila seseorang meminta tolong kepada kawannya dalam menolak kezaliman maka ia wajib menolong jika mampu dan tidak ada uzur syar'i. Sementara makna "لاَ يَحْقِرُهُ" tidak boleh sombong kepadanya atau mengecilkannya. Imam al Qadhi Iyadh berkata: sebagian ulama meriwayatkan dengan bacaan "وَلاَ يَحْقِرُهُ" artinya tidak boleh berkhianat dengan janji sumpahnya. Akan tetapi yang lebih dikenal adalah yang pertama.
Mengenai ungkapan Rasulullah ﷺ "Takwa ada di sini." Beliau berisyarat ke dadanya tiga kali. Dalam riwayat lain dikatakan:
"إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ"
"Sesungguhnya Allah tidak memandang tubuh atau bentuk kamu, tetapi Allah memandang hati kamu." <sup>(1)</sup>
Maksud ungkapan di atas adalah bahwa perbuatan-perbuatan yang lahir tidak menghasilkan ketakwaan, melainkan dengan yang terjadi di hati berupa mengagungkan Allah, takut kepada-Nya dan merasa diawasi oleh-Nya. Pandangan Allah adalah penglihatan-Nya kepada segala sesuatu secara menyeluruh. Dan yang dimaksud dengan pandangan Allah dalam hadits adalah perhitungan dan pembalasan dari Allah bertumpu pada apa yang ada di dalam hati.
Ungkapan "Cukup bagi seseorang dianggap buruk jika ia menghinakan saudaranya seagama." mengandung peringatan yang pedas karena Allah ﷺ tidak menghinakan seseorang pun padahal Dia telah menciptakannya, memberi rizkinya, membaguskan
- Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Bab: Berbuat Baik, Silaturrahim dan Adab-Adab, Pasal: Haramnya Menzalilimi Orang Muslim, no. 2564
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروبضة 140
penciptaannya dan menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan semua hamba termasuk dia. Kemudian Allah menyebut dia seorang hamba yang muslim dan mukmin. Bahkan Allah telah mengangkat rasul-Nya, Muhammad ﷺ dari jenis manusia. Oleh karena itu, barangsiapa yang meremehkan seorang muslim maka ia telah meremehkan sesuatu yang diagungkan oleh Allah ﷻ. Termasuk masalah meremehkan orang muslim adalah tidak memberi salam kepadanya ketika bertemu atau tidak menjawab salamnya. Dan termasuk hal ini adalah tidak mengarahkan dia agar masuk surga atau tidak membantunya untuk selamat dari neraka.
Adapun keingkaran orang yang paham agama terhadap perbuatan orang awam atau orang fasik, itu tidak termasuk meremehkan orang muslim. Sebab, hal itu dikarenakan perbuatan orang awam atau orang fasik tersebut. Kapan saja si awam atau orang fasik meninggalkan perbuatannya maka wajib dihormati dan diangkat derajatnya.
Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة |41



