Hikmah Ilahi: Ketika Bayi Berbicara Membela Kebenaran

25 Jul 2026, 23.05

Thumbnail Hikmah Ilahi: Ketika Bayi Berbicara Membela Kebenaran

Dalam perjalanan kehidupan, umat manusia sering kali dihadapkan pada situasi yang membingungkan, di mana kebenaran seolah tertutup kabut fitnah dan logika manusia terasa buntu. Namun, pada titik-titik krusial inilah, Allah SWT dengan keagungan dan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, kerap menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang melampaui nalar dan kebiasaan. Salah satu manifestasi kekuasaan Ilahi yang paling menakjubkan adalah ketika Allah memilih bayi yang baru lahir untuk berbicara, membersihkan nama baik seseorang, dan menegakkan kebenaran yang hakiki.

Peristiwa ini bukan sekadar cerita dongeng, melainkan bagian dari sejarah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan Hadis, menjadi pelajaran berharga bagi setiap mukmin. Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kebenaran, seberat apa pun ujian yang menimpanya, pada akhirnya akan selalu menemukan jalannya, terutama dengan campur tangan Allah Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Kisah Nabi Isa AS dan Juraij Al-Rahib: Bukti Kekuasaan Ilahi

Dua kisah paling masyhur yang menunjukkan fenomena bayi berbicara untuk membela kebenaran adalah kisah Nabi Isa 'alaihissalam dan ahli ibadah bernama Juraij Al-Rahib. Kisah Nabi Isa AS terekam jelas dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Maryam. Ketika Sayyidah Maryam AS dituduh berbuat keji oleh kaumnya setelah melahirkan Nabi Isa tanpa suami, beliau hanya menunjuk kepada bayinya. Atas izin Allah, bayi Isa yang masih dalam buaian itu pun berbicara dengan fasih, membersihkan nama ibundanya dan menyatakan kenabiannya.

Firman Allah SWT mengisahkan: "Maka Maryam menunjuk kepada (bayi) itu. Mereka berkata: 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak yang masih dalam buaian?' Dia (Isa) berkata: 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikanku seorang Nabi.'" (QS. Maryam: 29-30). Ucapan bayi Isa ini menjadi mukjizat luar biasa yang membuktikan kesucian Sayyidah Maryam dan kebenaran risalah yang akan diemban Nabi Isa kelak.

Kisah kedua adalah tentang Juraij Al-Rahib, seorang ahli ibadah Bani Israil yang dikisahkan dalam Hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Juraij difitnah berzina dengan seorang wanita pelacur hingga memiliki anak. Ketika ia dihadapkan pada tuduhan keji itu, Juraij memohon kepada Allah, kemudian mendekati bayi yang dituduhkan sebagai anaknya. Dengan izin Allah, bayi itu berbicara dan menyatakan siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, sehingga membersihkan nama Juraij dari fitnah keji tersebut. Kedua kisah ini adalah bukti nyata bahwa kekuasaan Allah tak terbatas, mampu membalikkan keadaan dan menegakkan kebenaran dengan cara yang paling ajaib sekalipun.

Fitnah dan Kebenaran dalam Perspektif Islam

Fenomena fitnah, yakni tuduhan palsu atau kabar bohong yang merusak reputasi seseorang, adalah ujian berat yang kerap menimpa umat manusia sepanjang sejarah. Islam sangat mengecam fitnah karena dampaknya yang merusak, baik bagi individu maupun tatanan sosial. Rasulullah SAW bersabda, "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa menyebarkan fitnah.

Dalam menghadapi fitnah, umat Islam diajarkan untuk senantiasa berpegang pada prinsip tabayyun, yaitu melakukan verifikasi dan klarifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, tidak mudah menelan mentah-mentah atau menyebarkan berita tanpa dasar. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6). Kisah-kisah bayi berbicara ini menjadi pengingat bahwa bahkan ketika semua bukti dan logika manusia tampak memberatkan, Allah SWT memiliki cara-Nya sendiri untuk menyingkap kebenaran dan membela hamba-Nya yang terzalimi.

Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Cinta Ilmu, Adab, dan Tanggung Jawab Umat

Dari kisah-kisah penuh hikmah ini, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja):

  1. Cinta Ilmu dan Akidah yang Kuat: Kisah-kisah ini memperkuat akidah kita tentang kemahakuasaan Allah SWT yang melampaui segala batas. Sebagai santri dan umat Islam, kita wajib mendalami dan memahami kisah-kisah dalam Al-Qur'an dan Hadis bukan sekadar sebagai cerita, melainkan sebagai sumber ilmu, hikmah, dan penguat keimanan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita untuk senantiasa mencari ilmu dan memperkokoh keyakinan pada keesaan dan kekuasaan Allah.
  2. Adab Menjaga Lisan dan Kehormatan: Pelajaran penting lainnya adalah tentang adab dalam menjaga lisan dan kehormatan sesama. Fitnah adalah dosa besar yang merusak tatanan masyarakat. Kita diajarkan untuk selalu berhati-hati dalam berbicara, menjauhi ghibah (menggunjing), dan fitnah. Prinsip husnuzon (berprasangka baik) dan tabayyun harus selalu dipegang teguh. Kisah Juraij mengingatkan kita betapa mudahnya seseorang terjerat fitnah dan betapa pentingnya kesabaran serta tawakal kepada Allah dalam menghadapinya.
  3. Tanggung Jawab Umat dan Moderasi: Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang damai dan berlandaskan kebenaran. Ketika fitnah merajalela, tugas kita adalah menjadi agen perdamaian, penyebar kebenaran, dan penengah yang bijaksana. Pendekatan Aswaja mengajarkan moderasi (wasathiyah) dalam segala hal, termasuk dalam menyikapi berita dan tuduhan. Kita tidak boleh mudah terprovokasi atau ikut menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Sebaliknya, kita harus menjadi pelopor dalam menjaga persatuan umat dan membela kebenaran dengan cara yang santun dan beradab.
  4. Keutamaan Karamah Auliya: Kisah Juraij juga menjadi salah satu bukti adanya karamah, yaitu kemuliaan luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, sebagai bagian dari akidah Aswaja. Ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa menolong wali-wali-Nya dan membela mereka dari kezaliman.

Pada akhirnya, kisah-kisah ini adalah pengingat abadi bahwa kebenaran akan selalu menang, meskipun harus melalui jalan yang tak terduga. Kemahakuasaan Allah SWT adalah jaminan bagi setiap hamba yang beriman dan bertawakal. Mari kita jadikan setiap ujian sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya, memperkokoh iman, dan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai ilmu, adab, dan tanggung jawab keumatan.

Dirangkum dari: Bincang Syariah