Mengenang John Esposito: Cendekiawan Muslim yang Menjembatani Pemahaman Islam di Barat

16 Jul 2026, 23.02

Thumbnail Mengenang John Esposito: Cendekiawan Muslim yang Menjembatani Pemahaman Islam di Barat

In Memoriam: John Esposito, Sosok Perekat Ukhuwah dan Ilmu

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kabar duka menyelimuti dunia akademis internasional dengan berpulangnya Profesor John Esposito pada usia 86 tahun. Cendekiawan terkemuka yang mendedikasikan hidupnya untuk studi Islam dan hubungan antaragama ini wafat pada Rabu, 15 Juli, karena komplikasi pascaoperasi jantung. Kepergiannya meninggalkan warisan berharga berupa karya-karya monumental yang telah banyak mencerahkan pemahaman tentang Islam di tengah masyarakat Barat.

Profesor Esposito, yang merupakan seorang Katolik dari keluarga Italia di Brooklyn, New York, awalnya memiliki cita-cita menjadi seorang pastor Fransiskan. Namun, takdir membawanya pada jalur yang berbeda, menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam studi Islam di dunia. Perjalanan intelektualnya yang unik ini menjadi inspirasi tentang bagaimana ketulusan dalam mencari ilmu dapat melampaui batas-batas identitas awal, mengantarkannya pada pemahaman mendalam tentang peradaban Islam.

Dedikasi Seumur Hidup untuk Pemahaman Islam yang Otentik

Sepanjang kariernya, Profesor Esposito menjabat sebagai profesor agama, hubungan internasional, dan studi Islam di Universitas Georgetown, Washington D.C. Beliau adalah pendiri dan direktur Prince Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding di universitas tersebut sejak tahun 1993 hingga akhir hayatnya. Pusat ini menjadi mercusuar bagi dialog antaragama dan studi komparatif, mencerminkan komitmen beliau terhadap harmoni global.

Karya-karya Profesor Esposito sangat banyak, meliputi penulisan, penyuntingan, dan kontribusi pada sekitar 55 buku tentang Islam. Salah satu karyanya yang paling banyak dikutip adalah “Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think,” yang ditulis bersama cendekiawan Muslim AS, Dalia Mogahed. Buku ini, yang didasarkan pada survei Gallup berskala besar, menyajikan narasi tandingan yang kuat terhadap penggambaran negatif Muslim di media Barat, terutama pasca peristiwa 11 September. Melalui karyanya, beliau konsisten menantang stereotip dan narasi yang salah tentang umat Islam, berupaya menyajikan wajah Islam yang otentik dan moderat.

Atas dedikasinya yang luar biasa, Profesor Esposito menerima tujuh gelar doktor kehormatan dari berbagai institusi di seluruh dunia. Beliau tidak hanya membangun jembatan pemahaman, tetapi juga vokal dalam mengkritik penindasan terhadap kelompok Muslim di berbagai negara, termasuk Prancis, India, dan Tiongkok. Keterlibatannya juga meluas pada isu-isu politik penting di dunia Muslim, seperti advokasi hak-hak Palestina dan kampanye untuk membebaskan mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan.

Pentingnya Dialog dan Peran Cendekiawan dalam Era Modern

Kisah hidup Profesor Esposito adalah pengingat akan pentingnya dialog antarperadaban dan peran krusial para cendekiawan dalam membentuk opini publik yang berimbang. Di era globalisasi ini, di mana informasi mudah tersebar namun juga rentan terhadap disinformasi, kehadiran sosok seperti beliau sangatlah vital. Beliau menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang 'yang lain' adalah kunci untuk mengatasi prasangka dan membangun masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis.

Perjalanan beliau menjadi seorang ahli Islam berawal dari keharusan mempelajari agama-agama dunia saat menempuh gelar PhD di bidang teologi Katolik. Pertemuannya dengan cendekiawan Muslim Palestina-Amerika, Ismail al-Faruqi, menjadi titik balik yang mengarahkan minatnya secara mendalam pada studi Islam. Ini mengajarkan kita bahwa terkadang, jalan hidup yang paling bermakna justru ditemukan di persimpangan yang tak terduga, membuka cakrawala baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Dalam konteks keumatan, karya Profesor Esposito juga menegaskan urgensi bagi umat Islam untuk secara aktif terlibat dalam diskursus global, menyajikan keindahan dan kebenaran ajaran Islam dengan cara yang bijaksana dan mudah dipahami oleh khalayak luas. Beliau menjadi contoh nyata bagaimana seorang non-Muslim pun dapat menjadi duta yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan Islam yang moderat dan penuh rahmat.

Pelajaran Berharga dari Perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah

Dari perjalanan dan dedikasi Profesor John Esposito, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga yang sejalan dengan nilai-nilai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pertama, adalah pentingnya cinta kepada ilmu (hubb al-ilm). Esposito menunjukkan bahwa mencari kebenaran adalah sebuah perjalanan tanpa henti, yang melampaui batas-batas identitas awal. Ketekunan beliau dalam mempelajari Islam secara mendalam, dari nol, hingga menjadi rujukan dunia, adalah teladan bagi setiap santri dan umat untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu.

Kedua, adab dalam berinteraksi dan berdakwah. Pendekatan beliau yang berbasis riset, dialog, dan penyajian fakta untuk menantang stereotip, alih-alih konfrontasi, sangat selaras dengan prinsip dakwah bil hikmah wal mau'idhatil hasanah (dakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik). Beliau membangun jembatan, bukan tembok, dalam upaya menciptakan saling pengertian antarumat beragama. Ini adalah cerminan dari akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu berinteraksi dengan sesama manusia secara santun dan penuh kasih sayang, meskipun berbeda keyakinan.

Ketiga, tanggung jawab keumatan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin). Karya-karya Esposito membantu umat Islam di Barat untuk merasa lebih dipahami dan dihormati, sekaligus mengedukasi masyarakat luas. Ini mengingatkan kita akan tugas kolektif untuk membersihkan nama Islam dari fitnah dan kesalahpahaman, serta menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan. Kontribusi beliau, meskipun bukan seorang Muslim, secara tidak langsung mendukung misi dakwah yang diemban oleh umat Islam.

Warisan Abadi untuk Generasi Mendatang

Kepergian Profesor John Esposito adalah kehilangan besar bagi dunia akademis dan upaya dialog antarperadaban. Namun, warisan intelektual dan semangatnya untuk membangun jembatan pemahaman akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau, serta menjadikan segala upayanya dalam menyebarkan pemahaman yang adil tentang Islam sebagai amal jariyah yang tak terputus. Semoga kita semua dapat meneruskan estafet perjuangan beliau dalam menyebarkan ilmu, adab, dan kasih sayang demi terwujudnya masyarakat yang lebih damai dan harmonis.

Dirangkum dari: Middle East Eye