Bolehkah Mencetak Buku Anak dengan Karakter Berfitur Tidak Lengkap?
27 Sep 2026, 23.04

Dunia literasi anak merupakan ladang subur untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan sejak dini. Namun, ketika kreativitas bertemu dengan batasan syariat, seringkali muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar yang membutuhkan jawaban dari para ahli agama. Salah satu pertanyaan yang relevan dan sering diajukan adalah mengenai hukum mencetak buku anak yang karakter manusianya digambarkan dengan fitur tidak lengkap, seperti kepala dan anggota badan yang terpisah, mata tertutup, atau tanpa hidung dan telinga.
Pertanyaan ini diajukan oleh seorang penulis yang telah bekerja sama dengan ilustrator untuk membuat buku anak-anak bertema kelainan darah. Ilustrasi yang dibuat memang sengaja menampilkan karakter manusia dengan fitur yang tidak sempurna sebagai bagian dari narasi cerita. Tentu saja, niat mulia untuk mengedukasi anak-anak tentang kondisi medis tertentu patut diapresiasi. Namun, sebagai seorang Muslim yang bertanggung jawab, penting untuk memastikan bahwa karya yang dihasilkan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Inti Berita: Panduan Ulama tentang Penggambaran Karakter
Menanggapi pertanyaan serupa, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) memberikan panduan yang komprehensif. Secara umum, Islam memiliki pandangan yang hati-hati terhadap penggambaran makhluk bernyawa, terutama yang berbentuk utuh dan menyerupai ciptaan Allah SWT secara sempurna. Kehati-hatian ini bertujuan untuk mencegah praktik syirik, yaitu menyekutukan Allah, serta menghindari kesan menyaingi kekuasaan Allah sebagai satu-satunya Pencipta.
Namun, dalam konteks ilustrasi, terutama untuk tujuan edukasi anak-anak, ada nuansa yang perlu diperhatikan. Banyak ulama berpendapat bahwa penggambaran makhluk bernyawa yang tidak sempurna atau tidak utuh secara anatomi, seperti karakter kartun dengan fitur yang disederhanakan, tidak memiliki bayangan (dua dimensi), atau sengaja dibuat tidak menyerupai makhluk hidup seutuhnya, cenderung lebih longgar hukumnya. Hal ini karena objek tersebut tidak memenuhi kriteria 'kesempurnaan' yang dikhawatirkan dapat mengarah pada penyembahan atau peniruan ciptaan Allah secara mutlak.
Dalam kasus buku anak yang karakternya memiliki kepala dan anggota badan yang terpisah, mata tertutup, serta tanpa hidung atau telinga, kondisi 'tidak sempurna' ini justru menjadi poin penting. Fitur-fitur yang tidak lengkap tersebut dapat menjadi argumen kuat yang membolehkan pencetakan buku tersebut, karena tidak menyerupai makhluk hidup seutuhnya dan tidak berpotensi menimbulkan fitnah atau syirik. Niat baik untuk edukasi juga menjadi pertimbangan penting dalam melihat kemaslahatan yang lebih luas.
Konteks Umum: Hikmah di Balik Larangan Tashwir
Pembahasan mengenai penggambaran makhluk bernyawa dalam Islam, yang dikenal dengan istilah tashwir, memang memiliki sejarah panjang dan beragam pandangan di kalangan ulama. Hikmah utama di balik larangan tashwir yang sempurna adalah untuk menjaga kemurnian tauhid. Pada masa jahiliyah, patung-patung dan gambar-gambar menjadi media penyembahan berhala, sehingga Islam datang untuk membersihkan akidah umat dari segala bentuk kesyirikan.
Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, serta kebutuhan akan media visual untuk edukasi dan dakwah, para ulama kontemporer banyak yang memberikan kelonggaran, terutama untuk gambar dua dimensi, karikatur, atau ilustrasi yang tidak sempurna. Mereka membedakan antara gambar yang dibuat untuk tujuan penyembahan atau pengagungan yang berlebihan, dengan gambar yang digunakan untuk keperluan pendidikan, informasi, atau hiburan yang tidak melanggar syariat.
Penting untuk diingat bahwa tujuan utama syariat adalah membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Oleh karena itu, dalam konteks literasi anak, di mana gambar dan ilustrasi memegang peran vital dalam menarik minat dan mempermudah pemahaman, pendekatan yang moderat dan bijaksana sangat diperlukan. Selama gambar tersebut tidak mengarah pada penyembahan, tidak vulgar, dan tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka kemaslahatan edukasi dapat lebih diutamakan.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Mencintai Ilmu dan Adab
Kasus seperti ini mengajarkan kita pentingnya mencintai ilmu dan adab dalam berkreasi dan berinteraksi dengan syariat. Sebagai umat Islam, khususnya para santri dan pegiat dakwah, kita didorong untuk senantiasa mencari ilmu dari sumber yang sahih dan bertanya kepada para ulama yang mumpuni ketika menghadapi persoalan baru. Ini adalah bagian dari adab seorang Muslim dalam menjaga agamanya.
Sikap moderat dan toleran dalam memahami khazanah fiqih juga menjadi ciri khas Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita tidak mudah menghukumi sesuatu secara hitam-putih tanpa memahami konteks dan tujuan syariat. Kreativitas dalam dakwah dan pendidikan sangat dianjurkan, selama tetap dalam koridor syariat dan membawa kemaslahatan. Buku anak-anak, misalnya, adalah media yang luar biasa untuk menanamkan nilai-nilai akhlak mulia, kisah-kisah teladan, dan pengetahuan Islami sejak dini.
Sebagai santri dan umat Islam, kita diajarkan untuk senantiasa mencari ilmu dan bimbingan dari para ulama yang mumpuni, sebagaimana yang terus diupayakan oleh SantriOnline dalam menyajikan informasi keislaman yang sahih dan relevan. Dengan begitu, kita bisa berkreasi tanpa ragu, mendidik generasi penerus dengan cara yang menarik, namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip agama yang luhur.
Refleksi ini juga mengingatkan kita akan tanggung jawab besar para penulis, ilustrator, dan penerbit Muslim. Setiap karya yang dihasilkan memiliki potensi untuk membentuk karakter dan pandangan generasi mendatang. Oleh karena itu, memilih tema, narasi, dan gaya visual yang mendidik, positif, dan sesuai syariat adalah sebuah amanah yang harus diemban dengan penuh kesadaran.
Penutup
Kesimpulannya, dalam semangat moderasi dan kebijaksanaan Islam, penggambaran karakter dengan fitur tidak lengkap dalam buku anak-anak cenderung diperbolehkan, terutama jika tujuannya adalah edukasi dan tidak mengarah pada penyimpangan akidah. Ini adalah contoh bagaimana Islam mendorong kreativitas dan ilmu pengetahuan, sembari tetap menjaga kemurnian tauhid dan akhlak mulia.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



