Menggali Asal-usul Maulid Nabi: Perspektif Ulama dan Hikmahnya

21 Agu 2026, 23.05

Thumbnail Menggali Asal-usul Maulid Nabi: Perspektif Ulama dan Hikmahnya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu momen yang senantiasa dinanti dan dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia, tradisi ini telah mendarah daging, diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan yang kaya makna, mulai dari pembacaan shalawat, pengajian, kajian sirah Nabi, hingga berbagi makanan kepada sesama. Semuanya adalah ekspresi tulus dari rasa cinta dan penghormatan yang mendalam kepada junjungan alam semesta, Nabi Muhammad SAW.

Namun, di balik semaraknya perayaan ini, seringkali muncul pertanyaan fundamental yang menarik untuk ditelusuri: siapa sebenarnya yang pertama kali mengadakan Maulid Nabi? Pertanyaan ini bukanlah hal baru, melainkan telah menjadi topik kajian para ulama selama berabad-abad. Salah satu ulama besar yang memberikan perhatian pada pembahasan ini adalah Imam Jalaluddin as-Suyuthi, seorang mujtahid dan ahli hadis terkemuka dari abad ke-9 Hijriah, yang karyanya menjadi rujukan penting bagi umat Islam.

Menelusuri Jejak Sejarah Peringatan Maulid

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang kita kenal saat ini, memang tidak ada pada masa Nabi Muhammad SAW sendiri, para sahabat, maupun tabi'in. Tradisi ini mulai berkembang pada masa-masa berikutnya sebagai bentuk ekspresi kecintaan umat terhadap Rasulullah SAW dan upaya untuk menghidupkan kembali semangat ajaran beliau. Sejarah mencatat bahwa perayaan Maulid secara terbuka dan meriah mulai dikenal luas pada abad ke-6 Hijriah, terutama pada masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah di Mesir, dan kemudian semakin populer pada masa Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, khususnya di wilayah Syam.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah mengkaji fenomena ini dengan cermat. Mereka melihat bahwa esensi dari peringatan Maulid adalah kebaikan dan ketaatan, yakni mengingat sirah Nabi, memperbanyak shalawat, mengkaji akhlak mulia beliau, serta meneladani sunah-sunahnya. Oleh karena itu, sebagian besar ulama Aswaja memandang peringatan Maulid sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik) selama tidak melanggar syariat, tidak bercampur dengan kemungkaran, dan dilakukan dengan niat yang lurus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pandangan Imam as-Suyuthi, sebagaimana disebutkan dalam sumber, menunjukkan bahwa para ulama telah berupaya memberikan landasan ilmiah dan syar'i terhadap tradisi ini. Meskipun detail spesifik penjelasan beliau tentang siapa yang pertama kali mengadakan Maulid tidak disebutkan di sini, penting untuk dipahami bahwa kajian beliau dan ulama lainnya bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif agar umat dapat melaksanakan tradisi ini dengan benar dan sesuai tuntunan agama. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya para ulama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus memberikan ruang bagi ekspresi keimanan yang positif.

Pelajaran dan Refleksi dari Peringatan Maulid Nabi

Dari tradisi peringatan Maulid Nabi, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga. Pertama, Maulid adalah momentum untuk memperbarui dan memperkuat kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Cinta ini bukanlah sekadar perasaan, melainkan harus termanifestasi dalam ketaatan terhadap perintahnya dan menjauhi larangannya, serta meneladani akhlak mulianya dalam setiap aspek kehidupan.

Kedua, Maulid mendorong kita untuk senantiasa mengkaji sirah Nabi. Dengan memahami perjalanan hidup beliau, perjuangan dakwahnya, kesabaran, kebijaksanaan, dan kepemimpinannya, kita akan menemukan teladan sempurna yang relevan sepanjang masa. Ini adalah bentuk literasi keagamaan yang sangat penting, agar iman kita tidak hanya berdasarkan taklid buta, melainkan juga didasari ilmu dan pemahaman yang mendalam. Untuk terus memperkaya wawasan keislaman kita, kunjungi SantriOnline yang menyajikan berbagai artikel dan kajian bermanfaat.

Ketiga, peringatan Maulid juga mengajarkan kita tentang adab dalam beragama. Meskipun ada perbedaan pandangan mengenai hukum peringatan Maulid di kalangan umat Islam, sikap yang paling bijaksana adalah saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah. Para ulama Aswaja selalu menekankan pentingnya moderasi (wasathiyah) dan toleransi, tidak mudah menghakimi, serta berpegang pada prinsip keilmuan yang kokoh. Perbedaan pendapat dalam masalah furu' (cabang) seharusnya tidak merusak persatuan umat, melainkan menjadi khazanah kekayaan intelektual Islam.

Menjaga Spirit Maulid dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada akhirnya, esensi dari peringatan Maulid Nabi bukanlah sekadar perayaan seremonial semata, melainkan sebuah pengingat akan risalah agung yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Risalah ini adalah rahmat bagi seluruh alam, yang mengajarkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, persatuan, dan ketakwaan. Tanggung jawab kita sebagai umat adalah untuk senantiasa menghidupkan spirit Maulid ini dalam setiap tarikan napas kehidupan, menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan utama dalam berinteraksi dengan sesama, beribadah kepada Allah, dan membangun peradaban yang berakhlak mulia.

Semoga dengan memahami sejarah dan hikmah di balik peringatan Maulid, kita semakin teguh dalam meneladani Rasulullah SAW, memperbanyak shalawat, dan menjadi bagian dari umat yang senantiasa mencintai ilmu, beradab mulia, serta bertanggung jawab dalam menjaga kemaslahatan umat.

Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.

Dirangkum dari: Bincang Syariah