Ragam Dzikir I'tidal: Memperkaya Khazanah Salat Menurut Imam Nawawi
17 Agu 2026, 23.05

Setiap Muslim yang mendirikan salat tentu akrab dengan gerakan i'tidal, yakni berdiri tegak setelah rukuk. Momen ini bukan sekadar transisi fisik, melainkan juga waktu yang mulia untuk berdzikir dan memuji Allah SWT. Umumnya, kita membaca sami'allahu liman hamidah saat bangkit dari rukuk, dilanjutkan dengan bacaan rabbana lakal hamdu mil'us samaawaati wal ardli wa mil'u maasyi'ta min syai'in ba'du ketika berdiri sempurna dalam i'tidal.
Namun, tahukah Anda bahwa khazanah Islam, khususnya dalam mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, menawarkan ragam bacaan dzikir lain yang juga sahih untuk diamalkan saat i'tidal? Keberagaman ini menunjukkan kekayaan ajaran Islam dan keluasan rahmat Allah SWT dalam memberikan pilihan bagi hamba-Nya untuk beribadah dengan penuh kekhusyukan dan kesadaran. Memahami variasi ini adalah bagian dari upaya kita mencintai ilmu dan mengamalkan sunah secara menyeluruh.
Tuntunan Imam Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar
Para ulama besar telah berjasa mengumpulkan dan menjelaskan berbagai tata cara ibadah, termasuk ragam dzikir dalam salat. Salah satu rujukan utama yang sangat dihormati dalam tradisi Aswaja adalah kitab Al-Adzkar an-Nawawiyah karya Imam Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Nawawi. Beliau adalah ulama besar dari mazhab Syafi'i yang dikenal karena keilmuan, kezuhudan, dan produktivitasnya dalam menulis.
Dalam kitabnya yang monumental tersebut, Imam Nawawi secara rinci menjelaskan berbagai bacaan dzikir yang bisa diamalkan pada setiap gerakan salat, termasuk saat i'tidal. Beliau tidak hanya menyebutkan bacaan yang umum, tetapi juga memaparkan variasi-variasi lain yang bersumber dari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Kehadiran ragam bacaan ini menunjukkan bahwa syariat Islam tidaklah kaku, melainkan luwes dan kaya, memberikan pilihan bagi umat untuk mengamalkan sesuai kemampuan dan preferensi, selama tetap dalam koridor sunah yang sahih.
Misalnya, selain bacaan yang telah disebutkan di atas, terdapat pula riwayat yang menambahkan doa-doa pujian lain kepada Allah SWT, seperti rabbana wa lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, atau bahkan dzikir yang lebih panjang yang mencakup pujian atas kebesaran dan kekuasaan-Nya. Variasi ini bukan untuk membingungkan, melainkan untuk memperkaya pengalaman spiritual seorang hamba dalam berkomunikasi dengan Tuhannya, serta menunjukkan keluasan ilmu para ulama dalam menginventarisasi dan mensyarah sunah Nabi SAW.
Konteks Umum: Kekayaan Fiqih dan Peran Ulama
Keberadaan ragam bacaan dzikir dalam salat adalah cerminan dari kekayaan fiqih Islam. Fiqih, sebagai ilmu yang membahas hukum-hukum syariat praktis, seringkali menawarkan berbagai pandangan dan cara pengamalan yang semuanya memiliki dasar dalil yang kuat dari Al-Qur'an dan Sunah. Ini adalah bukti keluasan rahmat Allah dan kesempurnaan syariat-Nya yang mengakomodasi berbagai kondisi dan pemahaman umat.
Peran ulama seperti Imam Nawawi sangat krusial dalam menjaga dan menjelaskan warisan ilmu ini. Mereka adalah pewaris para nabi yang dengan gigih mengumpulkan, meneliti, dan menyusun ajaran-ajaran Islam agar mudah diakses dan dipahami oleh generasi selanjutnya. Tanpa jerih payah mereka, mungkin kita akan kesulitan memahami detail-detail ibadah yang begitu mendalam. Oleh karena itu, merujuk kepada karya-karya ulama yang muktabar adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim yang ingin mendalami agamanya dengan benar dan otentik.
Dalam konteks Ahlus Sunnah wal Jamaah, penghargaan terhadap ulama dan warisan keilmuan mereka adalah pilar penting. Kita meyakini bahwa ulama adalah penerang jalan yang membimbing umat agar tidak tersesat dalam memahami ajaran agama. Karya-karya mereka, termasuk kitab Al-Adzkar, menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan pemahaman para sahabat dan generasi salafus shalih, memastikan bahwa praktik ibadah kita sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Pelajaran dan Refleksi Aswaja: Cinta Ilmu, Adab, dan Moderasi
Dari pembahasan mengenai ragam dzikir i'tidal ini, kita dapat memetik beberapa pelajaran berharga. Pertama, pentingnya cinta kepada ilmu. Sebagai santri dan umat Muslim, kita diajak untuk tidak cepat puas dengan apa yang sudah kita ketahui. Selalu ada ruang untuk belajar lebih dalam, merujuk kepada sumber-sumber otentik, dan memahami nuansa-nuansa dalam syariat.
Kedua, adab dalam berilmu. Menghargai perbedaan pandangan yang bersumber dari dalil yang sahih adalah bentuk adab yang mulia. Ketika mendapati ada ragam bacaan atau tata cara, sikap terbaik adalah mempelajarinya, memahami alasannya, dan tidak serta-merta menyalahkan praktik orang lain yang mungkin mengikuti pandangan ulama lain yang juga memiliki dasar kuat. Sikap ini mencerminkan kematangan beragama dan menjauhkan diri dari fanatisme buta.
Ketiga, moderasi dalam beragama. Tradisi Aswaja mengajarkan kita untuk bersikap moderat, tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan furu' (cabang) dalam fiqih. Keberagaman bacaan dzikir i'tidal adalah rahmat, bukan sumber perpecahan. Kita dapat memilih salah satu yang paling kita pahami dan yakini, sambil tetap menghormati mereka yang mengamalkan variasi lain. Ini adalah esensi dari Islam yang rahmatan lil 'alamin, yang membawa kedamaian dan toleransi.
Menyempurnakan Salat dengan Pemahaman
Memahami ragam bacaan dzikir saat i'tidal, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, adalah sebuah anugerah. Ini bukan hanya menambah perbendaharaan hafalan, tetapi juga memperdalam pemahaman kita tentang salat sebagai ibadah yang kaya makna dan fleksibel. Dengan pengetahuan ini, kita dapat melaksanakan salat dengan lebih khusyuk, lebih yakin, dan lebih menghayati setiap gerakannya sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah SWT.
Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik untuk terus belajar, mengamalkan ilmu, dan menjadi bagian dari umat yang mencintai sunah Nabi Muhammad SAW dengan penuh adab dan kebijaksanaan.
Bacaan ini bagian dari ikhtiar SantriOnline dalam membina generasi muslim Indonesia: aqidah yang kukuh, adab yang hidup, ilmu yang terus tumbuh, dan keterampilan yang siap dipakai.



