Bab 1 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Jangan Bawa Laptop Itu Ke Laut

Progress Baca

Bab aktif

Bab 1

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Bab Sebelumnya Bab Berikutnya Simpan Bab

Rumah di Ujung Pulau

Bab 1

Gratis

"Jangan bawa laptop itu ke laut, atau jangan pernah kembali ke rumah ini selamanya."

Suara itu berat, serak oleh debu timah dan uap solder yang bertahun-tahun meresap ke dalam paru-paru Ayah. Pak Haris membanting kunci bengkel tepat di atas meja kayu jati yang sudah terkelupas pernisnya. Bunyi denting logam itu terasa seperti lonceng kematian bagi rencana yang sudah kususun selama berbulan-bulan di dalam kepala. Aku terpaku. Di depanku, Pak Haris berdiri dengan bahu yang tegak, membelakangi jendela yang menampilkan bias cahaya biru pucat dari langit subuh yang belum benar-benar terjaga.

Aku menatap kunci bengkel itu. Logamnya dingin, tergeletak di samping laptop tuaku yang tertutup rapat. Laptop itu adalah kompas bagiku, sebuah mesin tua yang kupacu untuk belajar lebih jauh tentang pendidikan, teknologi, dan bagaimana cara memanusiakan ilmu. Namun, di mata Ayah, benda itu hanyalah kotak logam tidak berguna yang lebih sering mematikan lampu rumah daripada menerangi masa depan.

"Ayah, ini bukan soal main-main," ucapku dengan suara yang sengaja kurendahkan. Aku mencoba menatap matanya, namun Ayah segera memalingkan wajah menuju rak perkakas. Tangannya meraih obeng besar dan mulai memutar baut mesin cuci yang sudah berhari-hari mangkrak di sudut ruangan. Aroma logam panas, sisa minyak pelumas, dan bau tembaga yang terbakar memenuhi udara di antara kami.

"Belajar? Kau pikir belajar itu hanya duduk di depan layar sambil mengetik hal-hal yang tidak menghasilkan nasi di piring?" Ayah tidak menoleh. "Dulu, aku percaya pada mimpi-mimpi seperti itu. Aku pernah merasa punya cukup ilmu untuk mengubah hidup, sampai akhirnya aku sadar bahwa dunia tidak butuh pemimpi yang hanya bisa mengetik. Dunia butuh teknisi, butuh orang yang tangannya berlumur oli dan keringat, bukan orang yang tangannya bersih tapi dompetnya kering."

Aku terdiam. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Cerita tentang masa lalunya di Darul Hikmah adalah rahasia yang terkunci rapat, namun setiap kali aku menyebut nama pesantren itu, Ayah akan berubah menjadi orang lain. Ada ketakutan yang ia bungkus dengan kemarahan. Ada luka yang ia samarkan dengan sinisme terhadap dunia pendidikan yang dianggapnya penuh fitnah.

Di ambang pintu dapur, Ibu berdiri mematung. Wajahnya pucat, cahaya lampu minyak yang ia bawa membuat bayangannya panjang dan gemetar di lantai semen. Ibu tidak bicara. Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang meminta agar aku mengalah, agar aku menyimpan laptop itu ke dalam lemari, dan kembali memegang obeng seperti yang dilakukan Ayah setiap pagi.

"Aku hanya ingin memberikan manfaat yang lebih luas, Yah," lanjutku, kali ini suaraku sedikit bergetar. "Pesantren butuh orang yang paham bagaimana mengelola data agar pengajaran tidak lagi manual. Aku ingin mengabdi di sana, bukan sebagai beban, tapi sebagai bagian dari sistem yang mereka bangun."

Ayah berbalik tiba-tiba. Matanya tertuju pada laptopku. Sorotnya bukan sekadar tidak setuju, ada kebencian yang mendalam di sana. Seolah-olah laptop itu adalah saksi bisu dari kekalahan yang pernah ia alami bertahun-tahun silam. "Pesantren itu tidak butuh teknologi. Mereka butuh orang yang tahu cara menjaga adab, bukan orang yang sibuk dengan kabel dan layar. Kau pergi ke sana, membawa benda itu, sama saja kau membawa api ke dalam rumah jerami. Kau akan hancur, Pratama. Dan aku tidak akan ada di sana untuk memungut kepingan dirimu."

Ia kembali sibuk dengan mesin cuci itu. Suara benturan logam terdengar makin keras, seperti ketukan palu hakim yang menutup persidangan. Aku tahu, tidak ada ruang untuk negosiasi lagi. Ayah telah membangun tembok yang terlalu tinggi untuk aku panjat hanya dengan kata-kata.

Aku mendekat ke meja, jemariku menyentuh kunci bengkel yang dingin itu. Tanganku gemetar. Jika aku mengambil kunci ini, aku akan tetap di sini, menjadi teknisi yang tidak pernah bermimpi, namun mendapatkan restu Ayah. Jika aku meninggalkannya, aku akan kehilangan sandaran rumah, namun aku akan mendapatkan kesempatan untuk menata hidup sesuai dengan panggilan yang selama ini membakar hatiku.

Ibu melangkah mendekat. Ia menyentuh pundakku dengan tangan yang kasar karena deterjen. "Nak, dengarkan Ayahmu. Dunia di luar sana tidak seindah yang kau bayangkan di dalam buku-buku itu," bisik Ibu dengan nada yang sangat lirih. "Tetaplah di sini. Kita bisa menabung sedikit demi sedikit dari hasil bengkel. Jangan korbankan ketenangan keluarga demi ambisi yang belum tentu berbuah."

Aku menatap Ibu, lalu beralih ke Ayah yang masih memunggungi kami. Di luar, suara azan subuh mulai terdengar sayup-sayup dari masjid desa. Suara itu terasa seperti panggilan yang kontradiktif. Di satu sisi, panggilan untuk berbakti kepada orang tua, dan di sisi lain, panggilan untuk mengabdi pada ilmu.

Aku tidak menjawab. Aku melepaskan tangan Ibu dari bahuku. Dengan napas yang tertahan, aku meraih laptop tua itu ke dalam tas ranselku yang sudah kusiapkan semalam. Kemudian, aku membiarkan kunci bengkel itu tetap tergeletak di atas meja. Aku tidak menyentuhnya lagi. Biarlah kunci itu menjadi simbol dari tanggung jawab yang tidak bisa aku penuhi dengan cara yang diinginkan Ayah.

"Aku pergi ke masjid untuk salat subuh, Yah," ucapku datar.

Ayah berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia tidak berbalik, namun aku bisa mendengar napasnya yang berat dan tidak teratur. "Kalau kau melangkah keluar dari pintu itu dengan tas di punggungmu, jangan cari jalan pulang lagi saat kau sadar bahwa dunia tidak semudah yang kau tulis di dalam laptop itu."

Kalimat itu seperti tebasan pedang. Dingin dan tajam. Aku tidak membalas. Aku memanggul ranselku, merasakan beban laptop yang seolah menjadi pemberat sekaligus sayap bagiku. Aku berjalan melewati Ibu yang kini menutup wajahnya dengan ujung kerudung. Aku tidak berani menoleh lagi. Jika aku menoleh, aku takut tekad yang sudah kubangun dengan susah payah akan runtuh seketika.

Saat kakiku melangkah keluar pintu, udara pagi Sumberjati menyambutku dengan aroma garam laut yang tajam. Angin berhembus kencang, membawa debu-debu pasir dari pesisir yang seolah menampar wajahku. Langit masih kelabu, sebuah transisi antara kegelapan malam dan cahaya fajar yang belum pasti.

Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang berbatu. Setiap langkah terasa berat, bukan karena beban tas, melainkan karena bayang-bayang masa depan yang belum terpetakan. Aku tahu, setelah ini, hidupku tidak akan sama lagi. Tidak akan ada lagi bengkel yang hangat, tidak ada lagi kepastian makan tiga kali sehari dari hasil servis barang elektronik warga desa.

Di ujung jalan, aku menatap laut yang tampak tenang namun menyimpan misteri di balik ombak-ombak kecil yang pecah di bibir pantai. Laut itu luas, sama seperti ketidaktahuan yang kini menyelimuti jalanku. Apakah aku sedang menuju ke arah yang benar, atau aku hanya seorang pemuda yang keras kepala yang sedang menjemput kehancuran?

Aku mempercepat langkahku. Aku tidak akan memikirkan itu sekarang. Yang aku tahu, aku harus sampai di pelabuhan sebelum kapal pertama berangkat menuju pulau seberang. Aku harus mencapai Darul Hikmah, menuntaskan amanah ilmu yang sudah lama tersimpan di dalam catatan-catatanku. Jika rumah harus ditinggalkan untuk memahami apa arti rumah yang sebenarnya, maka biarlah perjalanan ini menjadi jawabannya.

Aku merogoh saku celanaku, memastikan tiket kertas yang sudah kubeli dari hasil tabunganku sendiri masih ada. Kertas itu lecek, namun terasa seperti secercah cahaya. Aku tidak memiliki restu Ayah, tapi aku memiliki doa yang kupanjatkan dalam diam, semoga Tuhan memaafkan ketidakpatuhanku demi sebuah tujuan yang lebih besar.

Saat aku mencapai tikungan jalan yang memisahkan rumahku dengan dunia luar, aku berhenti sejenak. Aku menoleh ke belakang, ke arah rumah kecil kami yang kini tampak sangat kecil dan rapuh di bawah bayang-bayang pohon kelapa. Lampu depan rumah masih menyala, memberikan sedikit pendar kuning yang hangat di tengah keremangan subuh. Ayah pasti masih di sana, mungkin sudah kembali mengutak-atik mesin cuci itu, atau mungkin sedang duduk termenung di kursi kayu sambil menatap kunci yang kutinggalkan.

Maafkan aku, Yah. Aku harus pergi. Bukan karena aku tidak menghormatimu, tapi karena aku tidak bisa membiarkan diriku mati perlahan di dalam bengkel itu, terjebak dalam ketakutan yang kau wariskan tanpa pernah kau jelaskan. Aku ingin membuktikan bahwa ilmu dapat menyalakan sesuatu yang tak sanggup dijangkau lampu bengkel kami.

Aku memutar tubuhku kembali ke depan. Aku melangkah semakin cepat, meninggalkan rumah, meninggalkan masa lalu, dan menuju sesuatu yang belum aku ketahui bentuknya. Di kejauhan, suara mesin kapal mulai terdengar, memecah kesunyian subuh yang mencekam. Bunyinya memantul sampai ke jalan desa, seperti ketukan dari pintu yang belum pernah kubuka. Aku melangkah sambil meremas tali ransel, meski setiap derit pagar di belakangku membuat napasku terasa semakin sempit.