Bab 2 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Gadis di Balik Rak Perpustakaan

Progress Baca

Bab aktif

Bab 2

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Rumah di Ujung Pulau

Bab 2

Gratis

Suara debu yang beterbangan di luar jendela perpustakaan terdengar lebih berisik daripada biasanya. Aku memutar ujung pena di sela jemari, menatap barisan huruf yang baru saja kutulis di atas kertas buram. Esai tentang pendidikan pesantren seharusnya bicara soal kesinambungan nilai, tapi pikiranku justru terganggu oleh hiruk-pikuk di pelataran asrama santri baru. Mereka datang dengan barang bawaan yang tidak perlu, tertawa terlalu keras, dan menyeret koper dengan roda yang berdecit menyakitkan di lantai batu.

Aku menghela napas, menutup jendela kayu jati yang sudah menipis warnanya. Bau tanah basah bercampur aroma kitab tua yang terawat di dalam sini selalu berhasil menenangkanku, namun hari ini, kesunyian itu terasa rapuh. Aku melihat ke arah sudut meja. Di sana, tumpukan buku catatan milik santriwati menanti untuk diperiksa. Sebagai putri Kiai Mahfud, perananku sering kali melampaui sekadar belajar. Aku harus menjadi pengawas, sekretaris, sekaligus penjaga tata tertib yang terkadang membuatku merasa sedang berdiri di atas garis tipis antara ruang kelas dan ruang sidang.

Dari celah jendela yang kututup setengah, aku melihat seorang pemuda berjalan melintasi gerbang utama. Ia tidak membawa koper besar dengan roda yang berisik seperti santri lainnya. Ia memanggul ransel yang tampak berat, dengan satu tas jinjing di tangan kiri. Langkahnya pelan, ragu, namun matanya terus menyapu bangunan-bangunan tua pesantren kami seolah sedang mencari sesuatu yang sudah lama hilang. Pakaiannya berdebu, kontras dengan kemeja bersih para santri yang baru tiba hari ini. Ada sesuatu dari cara ia menundukkan kepala yang membuatku berhenti menulis. Ia tidak terlihat seperti calon santri biasa yang diantar oleh orang tua dengan mobil atau sepeda motor. Ia sendirian.

Aku meraih kertas kosong di samping buku catatanku. Tanganku mulai bergerak, menuliskan beberapa kalimat tentang ketenangan yang terusik. Aku tidak menulis tentang santri-santri yang gaduh di luar sana, melainkan tentang seseorang yang membawa beban yang tak terlihat di pundaknya. Mengapa ia datang di saat matahari hampir tenggelam? Pesantren sudah menutup pendaftaran sejak pagi tadi, dan gerbang utama biasanya sudah dikunci rapat oleh pengurus menjelang waktu Magrib.

Aku baru saja hendak menuangkan tinta lagi saat pintu perpustakaan diketuk. Ketukan itu pendek, tegas, dan berulang tiga kali. Itu ketukan khas Bapak. Aku merapikan tumpukan kertas, memastikan tidak ada coretan sembarangan yang terselip, lalu bangkit dari kursi. Kaki-kakiku terasa kaku karena terlalu lama duduk dalam posisi yang sama.

"Emily, sudah selesai?" suara Bapak terdengar dari balik pintu. Nada bicaranya selalu datar, seolah setiap kata yang ia ucapkan adalah bagian dari agenda yang harus diselesaikan tepat waktu.

"Sedikit lagi, Pak," jawabku sambil melangkah mendekati pintu.

Aku membukanya. Bapak berdiri di sana, memegang sebuah map biru. Matanya yang tajam menatapku sekilas, lalu beralih ke meja belajarku. Aku merasa seolah ia bisa membaca apa yang baru saja kutulis di kertas tadi, meskipun jarak kami cukup jauh. Bapak memintaku segera ke ruang pengurus untuk rapat persiapan masa taaruf santri baru. Aku mengangguk, namun sebelum melangkah keluar, aku sempat menoleh kembali ke jendela. Pemuda dengan ransel itu masih di sana, berdiri tepat di depan ruang guru, seolah sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak tahu bahwa ia sedang berdiri di depan pintu yang salah.

Aku berjalan di belakang Bapak. Derap langkah kami di sepanjang koridor pesantren yang dingin tidak menghasilkan suara apa pun, hanya gesekan kain sarung yang sesekali beradu dengan lantai marmer. Bapak tidak menoleh, punggungnya tegak, mengirimkan pesan tanpa kata bahwa setiap detik di tempat ini memiliki hitungan yang harus dijaga. Aku berusaha menyelaraskan langkah, namun pikiranku masih tertinggal di jendela perpustakaan tadi. Pemuda itu. Mengapa ia berdiri di depan ruang guru saat semua orang sedang sibuk dengan urusan pendaftaran santri baru? Ruang itu adalah zona terbatas bagi mereka yang tidak memiliki janji temu resmi.

"Siapkan catatan risalah rapat," ujar Bapak tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. Suaranya memantul di dinding koridor, menciptakan gema yang membuat suasana terasa lebih formal dari biasanya. "Tahun ini jumlah pendaftar melampaui kapasitas. Kita harus selektif. Jangan sampai ada santri yang masuk tanpa niat yang tegak lurus pada ilmu. Pendidikan bukan sekadar penampungan." Aku hanya menjawab dengan gumaman pelan, sebuah tanda bahwa aku mendengar dan menyetujui. Namun, di dalam kepalaku, aku justru sedang merangkai metafora tentang seseorang yang datang dengan ransel berat, membawa beban yang mungkin tidak akan bisa ditampung oleh kurikulum yang Bapak susun dengan begitu kaku.

Kami sampai di depan ruang pengurus. Pintu kayu jati besar itu sudah terbuka sedikit. Aroma kopi tubruk dan kertas tua menyambut kami dari dalam. Di sana, Ustaz Rasyid dan beberapa pengurus senior lainnya sudah duduk melingkar. Mereka tampak sedang memperdebatkan data di layar laptop yang menyala terang. Aku masuk dan segera menempati kursiku di sudut, menyiapkan pena dan buku catatan. Aku mulai mencatat setiap poin musyawarah, namun jemariku terasa kaku. Setiap kali ada suara langkah kaki di koridor luar, aku secara refleks menoleh. Aku sedang menunggu sesuatu, meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang kuharapkan.

"Ada satu lagi laporan dari gerbang belakang," ujar Ustaz Rasyid memecah suasana. Ia membetulkan posisi kacamatanya. "Katanya ada seorang pemuda yang memaksa masuk. Ia bersikeras ingin mendaftar meski kuota sudah ditutup sejak dua jam lalu. Penjaga gerbang tidak tahu harus berbuat apa karena pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi." Bapak menghela napas panjang, sebuah gestur yang menandakan ketidaksabaran. Ia menaruh penanya di atas meja dengan bunyi denting yang tajam. "Bawa dia ke sini. Biar saya yang bicara. Kita tidak bisa membiarkan orang asing berkeliaran di lingkungan asrama tanpa kejelasan."

Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak melirik ke arah pintu. Hatiku berdegup dengan irama yang aneh, seolah ada kabel yang baru saja tersambung di dalam dada. Ketidaknyamanan ini bukanlah tentang rasa takut, melainkan tentang rasa penasaran yang mendesak. Aku merasa seolah sedang menulis sebuah cerita, dan karakter utama yang sedang kubicarakan di atas kertas tadi, tiba-tiba memutuskan untuk melangkah keluar dari imajinasiku menuju realita. Aku memandang buku catatanku. Baris-baris kalimat yang kutulis tadi terasa hambar dibandingkan dengan ketegangan yang terjadi di ruang ini sekarang.

"Emily, fokus," tegur Bapak dengan nada rendah namun cukup tajam. Aku tersentak, menundukkan pandangan ke arah catatan, berusaha menutupi kegugupanku. Aku berpura-pura sibuk merapikan posisi pena, padahal mataku terus mengintip ke arah pintu yang terbuka. Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah santri biasa, melainkan langkah yang berat, terseret, dan penuh keraguan. Seseorang sedang digiring menuju ruangan ini.

Aku merasakan tarikan gravitasi yang aneh. Rasa ingin tahu itu begitu kuat sehingga aku hampir menjatuhkan pena dari genggamanku. Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepala, menatap lurus ke arah pintu masuk. Di sana, di ambang pintu yang dibingkai cahaya senja yang mulai memudar, kulihat sosok itu. Pemuda tadi. Ia berdiri dengan bahu yang sedikit membungkuk karena beban tasnya. Pakaiannya yang berdebu tampak begitu kontras dengan kerapian ruang pengurus kami yang serba tertata. Ia berdiri di sana, tepat di depan ruang guru, menatap ke arah Bapak dengan pandangan yang sulit kubaca. Ada kesedihan sekaligus keteguhan yang aneh di matanya, sebuah kombinasi yang membuatku berhenti bernapas sejenak. Ia tidak tampak seperti penyusup, ia lebih mirip seseorang yang sedang berusaha pulang ke rumah yang bahkan tidak mengenalinya.