Bab 3 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Debu di Gerbang Darul Hikmah

Progress Baca

Bab aktif

Bab 3

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Bab Sebelumnya Bab Berikutnya Simpan Bab

Rumah di Ujung Pulau

Bab 3

Gratis

Ruang tunggu itu pengap oleh bau kapur sirih dan aroma kertas tua yang lembap. Aku duduk di bangku kayu panjang yang permukaannya sudah halus dimakan usia. Kakiku yang terbalut sepatu kusam sesekali mengetuk lantai semen, menciptakan irama yang terasa nyaring di tengah kesunyian gedung utama Pesantren Darul Hikmah. Di pangkuanku, ransel hitam itu terasa semakin berat, seolah isinya bertambah berkali lipat sejak aku meninggalkan stasiun pagi tadi. Aku mencoba mencari posisi nyaman, namun punggungku sudah terasa kaku akibat perjalanan panjang yang melelahkan.

Sudah tiga jam aku duduk di sini. Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan yang tertata, sementara aku hanyalah titik diam yang berharap diperhatikan. Di ujung koridor, seorang pengurus pesantren dengan kopiah miring melangkah mendekat. Ia membawa setumpuk formulir berwarna kuning gading. Wajahnya tampak lelah, garis-garis di keningnya menegaskan bahwa hari ini adalah hari yang panjang bagi siapa pun yang bekerja di sini.

"Mas yang tadi menunggu?" tanyanya tanpa basa-basi. Ia tidak menunggu jawabanku, langsung menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Saya sudah bicara dengan bagian administrasi dan Kiai. Mohon maaf, kuota santri baru sudah terpenuhi sejak minggu lalu. Tidak ada lagi kamar yang tersisa, bahkan di asrama darurat sekalipun."

Kalimat itu meluncur begitu saja, datar dan tanpa celah untuk berdebat. Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang tidak lagi tertuju padaku, melainkan pada daftar nama di tangannya. Keinginan untuk menjelaskan alasan kedatanganku, tentang laptop yang kubawa untuk membantu digitalisasi arsip, atau tentang niatku mengabdi, mendadak terasa hambar. Kata-kata itu tertahan di tenggorokan, tersangkut bersama sisa debu perjalanan yang menempel di kerongkonganku.

"Apakah tidak ada kebijakan lain untuk murid luar daerah?" tanyaku, mencoba menjaga intonasi agar tetap rendah dan sopan.

Pengurus itu hanya menggeleng kecil, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Aku ditinggalkan di sana, di antara deretan bangku kosong yang kini terasa lebih dingin. Aku berdiri, menyampirkan tas di bahu, dan berjalan pelan menuju emperan masjid yang letaknya tak jauh dari ruang guru. Di sana, aku melihat Kiai Mahfud dari kejauhan, sedang berjalan bersama beberapa orang berpeci putih. Beliau tampak berwibawa namun sulit didekati. Aku hanya bisa mematung di balik tiang beton, memperhatikan bagaimana beliau berhenti sejenak untuk menanggapi salam dari santri-santri yang berpapasan dengannya.

Aku membuka ranselku, mengeluarkan laptop tua yang layarnya mulai menunjukkan garis-garis samar saat aku mencoba menekan tombol daya. Suara kipas kecil di dalamnya berderit, bunyi yang familier sekaligus menyebalkan. Saat aku sibuk memastikan perangkat itu tidak mati total, seseorang melintas di depanku dengan langkah tergesa. Sebuah benda tipis terjatuh dari tumpukan berkas yang ia bawa, tergeletak tepat di dekat kakiku. Itu bukan sekadar kertas, melainkan kuitansi yang sudah menguning, dengan cap stempel yang tintanya hampir memudar ditelan waktu.

Aku tertegun sejenak. Jemariku yang tadi kaku karena udara pesisir yang lembap, perlahan menjangkau kertas itu. Kuitansi itu sudah kusam di bagian tepinya, menyebarkan aroma apak yang khas, aroma yang entah mengapa terasa tidak asing di indra penciumanku. Aku tidak langsung membacanya.

Mataku mengikuti sosok pria yang menjatuhkannya, seorang pria paruh baya dengan langkah pincang yang kini menghilang di balik tikungan lorong asrama. Aku kembali menatap kertas di tanganku. Tulisan tangan di sana sudah samar, namun angka-angka dan stempel koperasi pesantren masih bisa terbaca dengan cukup jelas. Ada sebuah nama yang tercantum di bagian penerima, sebuah nama yang membuat tanganku gemetar hebat.

Nama itu adalah Haris. Jantungku berdegup lebih kencang, bukan karena kelelahan, melainkan karena keterkejutan yang nyata. Mengapa kuitansi milik Ayah bisa berada di tangan seseorang di pesantren ini? Aku mencoba mengingat kembali semua cerita yang pernah Ayah sampaikan, tentang alasan mengapa ia tidak pernah ingin aku menginjakkan kaki di pulau ini.

Apakah ini adalah alasan yang sama dengan luka yang ia simpan bertahun-tahun? Aku mencoba untuk tidak berprasangka, namun kehadiran kertas ini di tengah kegagalanku mendaftar terasa seperti sebuah sinyal yang tidak bisa kuabaikan begitu saja. Aku melipat kuitansi itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam saku kemeja bagian dalam, sedekat mungkin dengan detak jantungku. Laptop di pangkuanku kembali mengeluarkan bunyi desis halus, lalu layarnya mati total, meninggalkan cermin hitam yang memantulkan wajahku yang kuyu.

Aku menghela napas panjang, menatap ke arah halaman masjid yang kini mulai sepi. Matahari sudah mulai bergeser, menyisakan bayangan tiang-tiang masjid yang memanjang di atas lantai keramik yang dingin. Aku tidak punya tempat untuk pergi, dan sekarang, aku memiliki sebuah teka-teki yang mengharuskan aku untuk bertahan. Aku tidak bisa pulang dengan tangan hampa, apalagi setelah mengetahui bahwa ada jejak Ayah di tempat yang seharusnya menjadi titik awal hidup baruku.

Aku memutuskan untuk tetap tinggal di emperan masjid itu. Aku melepaskan ransel, menggunakannya sebagai bantal seadanya. Di kejauhan, suara azan zuhur mulai berkumandang, memecah kesunyian siang dengan nada yang teduh namun menuntut. Aku mencoba untuk tetap tegak, mengikuti seruan itu, meski tubuhku sudah protes karena kurang tidur dan tekanan yang bertubi-tubi sejak keberangkatanku dari rumah.

Saat aku bersiap untuk berdiri dan berwudu, aku menyadari ada seseorang yang berdiri cukup jauh, tepat di bawah pohon besar di pinggir pelataran. Itu Ustaz Rasyid. Ia tidak mendekat, namun tatapannya tertuju lurus padaku. Pandangannya tajam, bukan jenis tatapan yang diberikan kepada orang asing yang tersesat, melainkan tatapan seorang pria yang sedang mencoba membedah isi pikiranku.

Aku membalas tatapannya dengan sopan, melakukan sedikit anggukan kepala sebagai bentuk hormat, namun beliau tidak bergeming. Ustaz Rasyid hanya menyipitkan mata, lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju kantor pengurus. Ada sesuatu dalam gestur tubuhnya yang membuat bulu kudukku meremang. Seolah-olah kedatanganku di sini bukanlah sebuah kebetulan yang tidak disadari, melainkan sesuatu yang sedang diawasi oleh seseorang yang tahu lebih banyak tentang siapa diriku dan dari mana aku berasal.

Aku memaksakan diri untuk berdiri, meski setiap sendi di kakiku terasa nyeri. Aku menuju tempat wudu, membasuh wajahku dengan air yang dingin dan jernih. Saat air membasahi kelopak mataku, aku mencoba menenangkan gejolak di dalam dada. Aku datang dengan membawa laptop dan mimpi tentang teknologi yang bisa membantu pesantren ini, namun kenyataannya aku justru terbentur pada tembok birokrasi dan bayang-bayang masa lalu yang belum terselesaikan.

Aku kembali ke emperan masjid, duduk dengan punggung bersandar pada tiang, mencoba memejamkan mata meski pikiran terus berputar. Di dalam kantong kemejaku, kuitansi itu terasa menekan dadaku, sebuah bukti fisik yang sangat nyata akan adanya keterhubungan antara masa lalu Ayah dan tempat ini. Aku tahu bahwa besok pagi, aku harus mencari tahu siapa pria yang menjatuhkan kuitansi tadi. Aku harus tahu apa hubungannya dengan Ayah.

Jika aku tidak bisa masuk sebagai santri melalui jalur resmi, mungkin aku harus menempuh jalan lain. Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban, meski itu berarti aku harus menukar kenyamananku dengan tidur di emperan masjid selama berhari-hari. Angin laut bertiup pelan, membawa aroma garam yang menembus hingga ke sudut-sudut masjid. Suasana mulai berubah menjadi lebih gelap ketika bayang-bayang senja mulai merayap naik menutupi tembok kapur pesantren.

Aku kembali mencoba menyalakan laptop, berharap ada keajaiban yang membuatnya hidup kembali, namun hanya suara kipas yang berputar lemah yang kudengar. Aku menyerah. Aku menutup perangkat itu, meletakkannya kembali ke dalam tas, lalu berbaring dengan tangan terlipat di bawah kepala. Aku menatap langit-langit emperan yang kusam, memikirkan bagaimana cara agar aku bisa diterima, atau setidaknya, bagaimana cara agar aku bisa membersihkan nama Ayah jika memang ada kesalahan di masa lalu.

Keputusasaan yang sempat kurasakan tadi siang kini mulai bertransformasi menjadi sebuah keteguhan yang aneh. Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menuntut ilmu, tetapi juga tentang pulang ke titik di mana keluargaku pernah mengalami kehancuran. Dan mungkin, justru di tempat inilah aku harus memperbaiki apa yang telah rusak, sekecil apa pun itu. Malam semakin larut, dan suara jangkrik mulai bersahutan di balik pepohonan di luar area masjid.

Aku memejamkan mata, membiarkan diriku terbuai oleh suara-suara malam di pulau ini, berharap besok akan membawa sedikit kejelasan di tengah kabut yang kini menyelimuti tujuanku.