Bab 4 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Tinta yang Belum Kering

11 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 4

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Rumah di Ujung Pulau

Bab 4

Gratis

Lampu minyak di sudut perpustakaan berkedip, melemparkan bayang-bayang panjang ke deretan lemari kayu jati yang sudah menua. Aroma kertas lama dan debu halus menusuk indra penciumanku. Di luar, suara deburan ombak dari pesisir Karang Asta terdengar samar, seperti napas panjang yang tak pernah putus. Aku duduk bersimpuh, jemariku menelusuri punggung buku-buku catatan administrasi pesantren yang tersimpan di rak paling bawah. Ini adalah wilayah yang jarang disentuh siapa pun, bahkan oleh santri senior sekalipun.

Aku tidak sedang mencari referensi kitab. Aku mencari nama. Setelah kejadian di ruang guru tadi siang, ketika Bapak menatap pemuda perantau itu dengan sorot mata yang sulit kujabarkan, rasa penasaran itu tumbuh seperti tanaman liar di kepalaku. Bapak tidak hanya menolak karena kuota penuh. Ada ketegangan yang kaku di bahunya, sebuah penolakan yang tidak biasa dari seseorang yang biasanya sangat tenang menghadapi santri baru.

Tanganku berhenti pada sebuah buku laporan keuangan bersampul kulit kusam. Aku membukanya hati-hati. Kertasnya menguning, dengan catatan tangan yang rapi namun tergesa-gesa. Mataku menyusuri deretan nama-nama penyumbang dan pengelola koperasi dari masa dua puluh tahun silam. Di sana, di antara barisan angka dan nama-nama yang kini sudah asing, mataku menangkap satu nama: Haris. Nama itu tertulis dengan tinta hitam yang mulai memudar, diikuti oleh catatan singkat tentang sebuah koperasi yang gagal dan tuntutan pertanggungjawaban yang tidak pernah tuntas.

Aku menutup buku itu pelan, berusaha mengendalikan detak jantung yang mendadak lebih cepat. Apakah ini alasan Bapak begitu berhati-hati? Apakah pemuda yang datang membawa tas berat itu adalah putra dari nama yang tertulis di buku ini? Aku teringat kembali pada wajahnya, pada sorot matanya yang seolah mencari pintu rumah yang sudah lama digembok. Jika benar demikian, maka kedatangannya ke Darul Hikmah bukanlah sebuah kebetulan.

Aku beranjak menuju kediaman Ibu. Langkahku ringan di atas lantai semen yang dingin. Di ruang tengah, Ibu sedang melipat mukena, wajahnya teduh seperti biasanya. Aku duduk di dekatnya, membiarkan keheningan mengalir sesaat sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Bu, apakah Bapak pernah bercerita tentang koperasi lama pesantren?" tanyaku, mencoba menjaga nada suaraku agar tetap wajar.

Ibu menghentikan gerakannya. Ia tidak langsung menatapku, melainkan memandang ke arah jendela yang terbuka. "Setiap tempat punya luka yang terkubur, Emily. Tidak semua yang terkubur harus digali kembali, apalagi jika akar lukanya bisa merusak ketenangan orang banyak. Mengapa kamu bertanya begitu?"

"Hanya ingin tahu, Bu. Tadi saya melihat catatan lama di perpustakaan," jawabku singkat.

Ibu meletakkan lipatan mukena itu di atas meja. Ia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kubaca, hangat namun penuh peringatan. "Belajarlah untuk membedakan antara ilmu yang bermanfaat dan rahasia yang sudah menjadi bagian dari sejarah. Ada hal-hal yang lebih baik tetap menjadi rahasia agar orang-orang bisa terus melangkah."

Aku terdiam mendengar jawaban Ibu. Ada dinding tak terlihat yang sengaja dibangun di antara kami, sebuah batas yang tidak boleh kutembus. Setelah berpamitan, aku melangkah kembali menuju kamarku di sayap kiri bangunan pesantren. Malam terasa lebih dingin dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menertawakan upayaku mencari kebenaran. Aku merangkak ke tempat tidur, menyalakan lampu meja yang redup, dan mengeluarkan secarik kertas buram yang sempat kuselipkan di saku gamisku. Kertas itu berisi salinan nama-nama dari buku keuangan yang tadi kutemukan. Aku menulisnya dengan terburu-buru, khawatir jika sewaktu-waktu seseorang memergokiku di perpustakaan.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, aku melipat kertas itu menjadi kotak kecil dan menyelipkannya di bawah bantal. Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua. Nama Haris, koperasi, dan kemarahan Bapak yang tertahan. Apakah benar pemuda yang datang sore tadi memiliki hubungan darah dengan orang yang namanya tertulis di buku itu? Jika iya, mengapa ia memilih datang kembali ke tempat yang justru pernah menelan kehormatan keluarganya? Aku menatap langit-langit kamar, membayangkan wajah pemuda itu lagi. Ada garis lelah yang nyata, namun tidak ada tanda-tanda kebencian di sana. Justru, yang kutangkap adalah sebuah ketabahan yang tidak wajar untuk seseorang yang baru saja ditolak mentah-mentah.

Aku memejamkan mata, berusaha memanggil ingatan tentang percakapan-percakapan Bapak dengan para pengurus senior. Selama ini, Bapak memang jarang membahas masa lalu. Beliau selalu menekankan tentang masa depan, tentang santri-santri yang harus dibekali ilmu agar tidak menjadi beban masyarakat. Namun, setiap kali nama koperasi disebut dalam rapat tahunan, Bapak selalu mengalihkan pembicaraan dengan alasan teknis yang tidak memuaskan. Sekarang, potongan-potongan teka-teki itu mulai membentuk sebuah gambaran yang samar. Apakah Bapak selama ini berusaha melindungi pesantren, atau justru melindungi sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk aku?

Aku terbangun beberapa jam kemudian saat suara azan subuh sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Rasa gelisah masih menyelimuti dadaku. Aku segera merapikan seprai, lalu teringat sesuatu. Ada satu hal lagi yang sempat kusimpan. Beberapa hari yang lalu, aku menulis sebuah draf surat untuk Bapak. Surat itu berisi kekhawatiranku tentang sistem administrasi pesantren yang mulai terasa kaku dan tertutup. Aku menulisnya sebagai bagian dari refleksi pribadiku, sebuah surat anonim yang tidak pernah berniat kukirimkan, namun aku simpan di dalam laci meja rias sebagai pengingat agar aku tidak kehilangan keberanian untuk bertanya. Aku merasa surat itu penting karena di sana aku mencatat beberapa kejanggalan yang kutemukan selama membantu Bapak di ruang administrasi.

Aku beranjak dari tempat tidur, mendekati meja rias yang terbuat dari kayu jati tua. Dengan gerakan tenang, aku menarik laci kecil di bagian tengah. Laci itu berderit pelan, suara yang selalu memecah kesunyian kamarku. Aku meraba bagian dalam, menyisir setiap sudut laci, berharap jemariku menyentuh permukaan kertas kasar tempat aku menulis draf itu. Namun, laci itu kosong. Aku mengerutkan kening, mencoba memastikan kembali. Tanganku kembali meraba, menyingkirkan beberapa buku catatan kecil dan alat tulis, namun draf surat itu tidak ada di sana.

Jantungku berdegup lebih kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena kebingungan yang tajam. Surat itu tidak mungkin hilang dengan sendirinya. Aku selalu mengunci laci ini setiap kali aku meninggalkan kamar. Tidak ada orang yang memiliki akses ke kamarku kecuali aku dan mungkin Ibu saat membersihkan debu, namun Ibu tidak pernah membuka laci pribadiku. Aku terduduk di lantai, menatap laci yang kini terbuka lebar. Jika surat itu hilang, berarti ada orang lain yang memasuki kamarku dan membacanya. Dan jika orang itu adalah seseorang yang ingin menjaga rahasia tentang masa lalu pesantren, maka draf suratku bukan lagi sekadar refleksi, melainkan sebuah ancaman.

Aku teringat kembali pada kuitansi yang pernah kudengar dari desas-desus para santri senior, tentang seseorang yang pernah difitnah melakukan penggelapan dana. Apakah suratku berisi hal-hal yang menyentuh luka itu? Aku mencoba mengingat kembali setiap baris kalimat yang kutulis. Memang ada bagian di mana aku mempertanyakan integritas keuangan pesantren dan bagaimana masa lalu sering kali menjadi bayang-bayang yang tidak terselesaikan.

Jika surat itu jatuh ke tangan yang salah, terutama ke tangan mereka yang memiliki kepentingan untuk menutupi masa lalu, maka aku baru saja menempatkan diriku dalam posisi yang berbahaya. Aku menatap jendela yang mulai memutih oleh cahaya subuh. Sesuatu yang seharusnya tersimpan rapi kini telah lepas dari genggamanku. Aku bukan lagi sekadar pengamat, aku telah menjadi bagian dari rahasia itu sendiri, dan entah bagaimana, aku harus mencari tahu siapa yang telah mengambil surat itu sebelum rahasia yang lebih besar terbongkar dan menghancurkan ketenangan pesantren ini.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.