Bab 5 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Mengajar Anak-Anak Pesisir

12 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 5

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Rumah di Ujung Pulau

Bab 5

Gratis

Sore ini, udara di Desa Karang Asta terasa lebih berat. Aroma garam dari pantai yang berjarak dua kilometer dari sini bercampur dengan bau asap sisa pembakaran sampah di belakang rumah-rumah kapur. Aku duduk bersila di depan sebuah mainan mobil-mobilan kayu yang rodanya copot, disaksikan oleh seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang sejak tadi menatapku dengan mata bulat penuh harap. Anak ini bernama Nabil. Ia membawanya kepadaku setelah melihatku mengotak-atik kabel lampu di teras masjid tadi siang.

Aku meraih obeng kecil dari saku celana. Ujung logamnya yang berkarat sedikit menyulitkan, namun aku berhasil melonggarkan sekrup pada poros roda kayu itu. Tanganku gemetar sedikit karena perut yang belum terisi sejak pagi. Di pulau ini, keterampilan tangan adalah mata uang yang paling mudah diterima daripada ijazah atau niat baik yang muluk. Warga di sini tidak bertanya tentang visi pendidikan; mereka bertanya apakah aku bisa memperbaiki pompa air yang macet atau lampu yang redup.

"Sudah selesai," kataku seraya memberikan mobil itu kembali. Nabil menariknya sedikit, roda itu berputar lancar di atas lantai semen yang kasar. Ia tersenyum, lalu berlari pergi tanpa mengucap terima kasih, namun meninggalkan sebuah nasi bungkus yang dibungkus kertas cokelat di samping tasku. Itu adalah upah yang tak terduga.

Aku membuka bungkus nasi itu. Baunya gurih, nasi hangat dengan sedikit sambal terasi dan ikan goreng kecil. Saat aku menyuap suapan pertama, seorang pria paruh baya dengan kopiah miring mendekat. Ia adalah pengurus TPQ kecil di ujung gang yang atapnya terbuat dari asbes. Ia menatapku dari atas ke bawah, menilai pakaianku yang kusam namun bersih.

"Kamu yang tadi membetulkan saklar lampu masjid?" tanyanya. Suaranya berat, tidak ramah, namun ada rasa penasaran di sana.

"Iya, Pak. Hanya kabel yang longgar," jawabku sopan.

Ia mendengus, lalu menyalakan rokok kretek. "Anak-anak di sini perlu belajar mengaji, bukan belajar tentang kabel atau mesin. Apa gunanya itu semua kalau hati tidak dibersihkan dengan ayat-ayat?"

Aku terdiam sejenak, menelan nasi dengan susah payah. "Belajar memperbaiki sesuatu juga bagian dari menjaga amanah, Pak. Bukankah adab kepada benda juga merupakan cerminan ketertiban hati?"

Pria itu terdiam, alisnya bertaut. Ia tidak membantah, tapi juga tidak setuju. "Besok, kalau kamu memang niat tinggal di sini, datanglah ke TPQ. Bantu anak-anak membaca huruf hijaiyah. Saya tidak punya uang untuk menggaji, tapi kamu bisa menumpang tidur di ruang belakang."

Aku mengangguk mantap. Ini adalah pintu yang kubutuhkan. Saat aku bersiap membereskan tasku, Nabil kembali mendekat, kali ini membawa sesuatu yang membuat dadaku sesak. Ia menunjuk tas ranselku yang sedikit terbuka, memperlihatkan sudut laptop tua yang terbungkus stiker kusam.

"Itu mesin tik yang bisa menyala, Kak?" tanya Nabil polos. "Bisa untuk mencari tahu ke mana perginya Ayah saya?"

Aku terpaku. Pertanyaan itu terlalu tajam untuk ukuran anak sekecil dia. Sebelum aku sempat menjawab, aku merasakan hawa dingin di tengkukku. Aku menoleh ke arah jalan setapak yang membelah area pesantren di kejauhan. Di sana, di balik rimbun pohon kamboja, seorang perempuan berjilbab rapi berdiri diam. Ia sedang menatap ke arahku dengan tajam. Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, namun kehadirannya terasa mengunci pandanganku.

Aku berpaling dari tatapan Nabil, mencoba mengalihkan perhatian pada bungkus nasi yang sudah kosong. Angin laut mulai berhembus lebih kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung dan desau daun pohon kamboja yang bergesekan. Perempuan di kejauhan itu masih di sana, mematung seperti tiang kayu yang menopang langit senja. Aku tidak mengenalnya, namun ada aura otoritas yang ia pancarkan, sesuatu yang membuatku merasa sedang dinilai di bawah mikroskop. Aku segera menggendong ranselku, memastikan laptop tua itu aman di kompartemen terdalam. Beratnya terasa bertambah, bukan karena komponen elektroniknya, melainkan karena pertanyaan Nabil tentang mesin yang bisa mencari sosok ayah. Anak itu masih berdiri di sampingku, menunggu jawaban yang tidak sanggup kuberikan.

"Mungkin lain kali, Nabil. Sekarang sudah hampir maghrib," ujarku singkat. Aku berdiri, membersihkan debu di celana kainku, lalu mulai berjalan menyusuri gang sempit menuju masjid. Langkahku berat, memikirkan bagaimana aku akan membagi waktu antara mengajar huruf hijaiyah di TPQ dan memperbaiki barang-barang rusak warga agar bisa bertahan hidup. Pria berkopiah miring tadi sudah berlalu, meninggalkan aroma tembakau yang tertinggal di udara. Aku melewati rumah-rumah kapur yang dindingnya mulai mengelupas, beberapa di antaranya memiliki jemuran baju yang bergoyang ditiup angin. Di depan salah satu rumah, seorang ibu sedang memarahi anaknya karena lupa mematikan keran air. Kehidupan di sini begitu gamblang, tanpa topeng, tanpa basa-basi yang rumit seperti di kota tempatku sempat singgah.

Sesampainya di halaman masjid, aku disambut oleh Ustaz Rasyid yang sedang menggulung tikar di serambi. Ia menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada guratan-guratan usia di wajahnya yang membuat setiap gerakannya tampak penuh perhitungan. Aku mendekat, berniat menyapa, namun ia lebih dulu memotong dengan pertanyaan yang tidak terduga. "Kamu pikir dengan memperbaiki lampu masjid, kamu bisa membeli kepercayaan orang sini, Pratama?"

Aku menghentikan langkahku. "Saya hanya ingin berguna, Ustaz. Saya tidak tahu cara lain untuk menunjukkan bahwa kehadiran saya di sini tidak membawa bahaya."

Ustaz Rasyid mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke pilar masjid yang dicat hijau. "Di pulau ini, kepercayaan adalah barang mahal. Kamu datang dengan laptop, dengan ide-ide yang mungkin terlalu besar untuk telinga warga sini. Jangan sampai kamu malah merusak apa yang sudah tenang di sini."

"Saya datang untuk belajar, bukan untuk merusak," jawabku, mencoba menjaga nada suaraku tetap rendah agar tidak memicu ketegangan lebih lanjut. Aku tahu ia menyimpan sesuatu, mungkin tentang kuitansi yang kutemukan atau tentang masa lalu ayahku yang masih menjadi teka-teki. Aku memilih untuk tidak mendebatnya lebih jauh. Aku berpamitan dengan sopan, membiarkan Ustaz Rasyid kembali larut dalam kesendiriannya di serambi masjid.

Malam benar-benar turun. Lampu-lampu jalan di desa mulai menyala, beberapa di antaranya berkedip tidak stabil,persis seperti hidupku saat ini. Aku berjalan menuju area belakang yang dijanjikan sebagai tempat tinggal sementara. Sebuah gubuk kecil berdinding bilik bambu yang terletak di balik dapur TPQ. Ruangannya sempit, hanya cukup untuk satu kasur lantai dan meja kecil. Aku meletakkan tasku dengan hati-hati. Saat aku hendak menyalakan lampu minyak, aku melihat sebuah buku catatan tua yang tertinggal di atas meja. Buku itu milik salah satu murid TPQ mungkin, atau mungkin pemilik sebelumnya. Aku membukanya. Halaman-halamannya berisi coretan tentang perhitungan zakat dan daftar nama anak-anak yang putus sekolah. Di salah satu sudut halaman, tertulis sebuah catatan dengan tulisan tangan yang sangat rapi: 'Ilmu tanpa adab adalah kesombongan yang tersembunyi.'

Aku termenung membaca kalimat itu. Sederhana, namun menghantam telak. Aku menyalakan laptop, melihat layarnya yang buram. Meskipun rusak, aku masih bisa mengakses beberapa file catatan pribadiku tentang rencana kurikulum pendidikan yang ingin kubangun. Aku menatap layar itu lama, merenungkan apakah ambisiku ini memang sebuah kemuliaan atau hanya ego yang dibungkus niat baik. Nabil, anak yang tadi kutolong, mungkin hanyalah satu dari sekian banyak korban sistem yang tidak mempedulikan masa depan mereka. Aku merasa tanggung jawab itu kini berlipat ganda.

Aku memutuskan untuk keluar sebentar, mencari udara segar di pinggir lapangan desa. Suasana sudah sepi, hanya terdengar suara deburan ombak dari kejauhan yang memecah kesunyian malam. Saat aku mendongak, aku melihat siluet seseorang di bawah pohon kamboja yang tadi kulewati. Perempuan itu masih di sana.

Ia tidak lagi menatapku dengan tajam, melainkan tampak sedang mencatat sesuatu di buku kecilnya. Cahaya bulan yang tipis menyinari separuh wajahnya, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan kerudung yang tersampir anggun di bahunya. Ia menyadari kehadiranku, namun alih-alih bersembunyi, ia justru menegakkan tubuhnya. Aku tertegun, kakiku seolah terpaku di tanah.

Emily Nadhira,nama yang kudengar dari bisik-bisik warga sebagai putri Kiai Mahfud,sedang menatapku dengan intensitas yang membuat napasku tercekat. Ia menutup buku catatannya dengan satu gerakan tegas, lalu berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan aku yang masih terpaku dalam kebingungan di tengah gelapnya malam Karang Asta.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.