Bab 6 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Tatapan di Balik Kerudung

13 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 6

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Rumah di Ujung Pulau

Bab 6

Gratis

Terik matahari siang ini terasa lebih tajam menyengat bahu ketika aku melintasi jalanan desa menuju pasar. Debu putih dari jalanan kapur beterbangan, menempel tipis di ujung gamis hitamku. Langkahku terhenti sejenak di depan bangunan TPQ yang dindingnya sudah mulai mengelupas. Suara riuh anak-anak mengaji sudah reda, digantikan oleh kesunyian yang diselingi suara gesekan logam. Di depan pintu utama, seorang pemuda tengah berjongkok, membelakangiku. Ia tampak serius mengutak-atik kabel listrik yang menjuntai semrawut dari tiang tua di samping bangunan.

Aku mengenali punggung itu. Itu adalah pemuda yang tempo hari tertangkap basah oleh tatapanku di bawah temaram lampu jalan. Ia mengenakan kemeja katun tipis yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengannya yang kotor terkena noda oli atau debu mesin. Di sampingnya, tergeletak sebuah laptop tua dengan casing yang tergores di sana-sini. Mataku menyipit. Itu bukan sembarang laptop, melainkan seri langka yang dulu sempat kubaca ulasannya di majalah teknologi tahunan milik perpustakaan pesantren. Sangat tidak lazim melihat benda seharga itu berada di tangan seorang pengajar ngaji di desa terpencil ini.

Aku tidak berniat menyapa, namun kakiku justru mengambil jalan yang lebih dekat ke arahnya. Saat aku mendekat, pemuda itu menoleh. Matanya yang tajam sempat menatapku sejenak, lalu ia berdiri dengan gerakan yang terasa sedikit canggung.

"Maaf, jalannya agak terganggu," ucapnya. Suaranya datar, tanpa ada nada merayu yang biasa kudengar dari pemuda desa lain jika berpapasan denganku. Ia mengusap tangannya ke celana sebelum menyeka keringat di dahi.

"Sedang memperbaiki apa?" tanyaku dingin, sengaja tidak membalas sapaan itu dengan ramah. Aku melirik tumpukan kabel yang ia pegang.

"Aliran listrik untuk proyektor. Anak-anak butuh media visual agar lebih mudah memahami urutan wudu dan shalat. Teknologi seharusnya menjadi perpanjangan tangan guru, bukan menggantikannya," jawabnya lugas.

Aku tertegun mendengar jawabannya. Biasanya, orang-orang di sini akan menjawab dengan basa-basi tentang niat ibadah tanpa isi. "Bagus sekali. Tapi bukankah lebih baik memastikan listriknya stabil dulu daripada memaksakan alat yang mungkin rusak karena tegangan di sini tidak rata?" balasku dengan nada sedikit menyindir. Aku ingin melihat apakah ia tipe orang yang mudah tersinggung atau justru memiliki argumen yang lebih dalam.

Ia terdiam sejenak, menatap kabel di tangannya, lalu beralih menatapku dengan sorot mata yang tenang. "Saya sudah mempertimbangkan itu. Setiap alat punya batas kemampuannya sendiri, begitu pula dengan manusia. Pendidikan memang soal adab, tapi adab juga berarti menghargai sarana yang ada agar bermanfaat bagi orang banyak."

Aku tidak menyangka ia akan merespons setenang itu. Aku hendak membalas lagi, namun perhatianku teralihkan. Saat ia hendak berjongkok kembali, sebuah buku catatan kulit tua yang terselip di saku belakang celananya terjatuh ke atas debu. Bukunya terbuka, memperlihatkan sketsa rancangan sirkuit yang rapi.

Aku terdiam sejenak menatap buku yang terbuka itu. Debu jalanan menempel pada kertas-kertasnya yang tampak padat dengan catatan teknis. Pratama bergerak cepat, tangannya yang penuh noda oli segera meraih buku tersebut sebelum aku sempat membaca lebih jauh tentang sketsa yang ia buat. Ada gurat kecemasan yang samar di wajahnya, seolah ia baru saja kehilangan perisai. Ia membersihkan sampul kulit itu dengan telapak tangannya secara berulang, berusaha memastikan tidak ada bagian yang rusak atau kotor. Aku masih berdiri di sana, mengamati gerak-gerik canggung itu dengan saksama. Baginya, mungkin itu hanya catatan kerja, namun bagi seorang santri yang terbiasa hidup dengan kerapian arsip pesantren, aku bisa melihat betapa vitalnya isi buku itu baginya.

'Maaf, saya tidak sengaja,' kataku datar, meski sebenarnya rasa ingin tahu mulai menggerogoti pikiranku. Aku ingin bertanya, mengapa seseorang yang mengaku mengajar mengaji justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan sirkuit dan kabel daripada kitab-kitab kuning yang biasanya menjadi rujukan di tempat ini.

Pratama mengangguk singkat, lalu memasukkan kembali buku itu ke dalam tas sampingnya dengan posisi yang lebih aman. Ia tidak segera kembali pada pekerjaannya. Ia justru berdiri tegak, memandangku dengan sorot yang tidak lagi tampak canggung. 'Buku itu hanya catatan harian tentang bagaimana mengintegrasikan data dengan kebutuhan di lapangan,' ujarnya pendek. Ia seolah bisa membaca keraguan yang tertulis di wajahku.

Aku mengalihkan pandangan ke laptop tuanya yang tergeletak di atas kotak kayu. Mesin itu tampak tidak berdaya, teronggok seperti barang rongsokan di tengah terik yang memantul dari jalanan kapur. Aku teringat pada percakapan ayahku semalam tentang pendatang yang membawa kegelisahan baru di desa ini. Apakah pemuda di depanku ini adalah bagian dari kegelisahan itu, atau justru hanya seseorang yang kebetulan memiliki ambisi besar di tempat yang salah?

'Teknologi sering kali memberi janji kemudahan, tapi di Karang Asta, orang-orang lebih menghargai tangan yang langsung menyentuh tanah dan telinga yang mendengarkan keluh kesah,' ucapku lagi, sengaja menguji prinsipnya. Aku ingin melihat apakah ia benar-benar memahami apa yang ia hadapi.

Pratama tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir tidak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan teliti. 'Tangan yang menyentuh tanah dan teknologi tidak harus saling meniadakan. Mereka bisa bekerja sama jika kita tahu cara meletakkan adab di setiap sambungan kabelnya.' Ia kemudian kembali berjongkok, namun kali ini ia melakukannya dengan kehati-hatian yang berbeda. Ia memeriksa kembali setiap sambungan dengan presisi yang membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.

Aku tidak punya alasan untuk terus berdiri di sana. Matahari mulai condong ke barat, dan panggilan untuk salat Ashar akan segera berkumandang dari menara masjid yang jauh. Aku berbalik, melangkahkan kaki menjauh dari TPQ, namun pikiranku masih tertinggal pada sosok yang tadi berjongkok dengan buku catatan di saku belakangnya. Aku menyadari bahwa di balik kesederhanaan pakaiannya yang berdebu, ada sebuah rencana besar yang sedang ia susun. Sebuah rencana yang bisa jadi akan mengubah dinamika pesantren, atau justru menghancurkannya jika orang-orang yang tepat tidak mengetahui kebenarannya.

Saat aku hampir sampai di persimpangan pasar, aku sempat menoleh sekali lagi. Pratama masih di sana, menyatu dengan kabel-kabel dan debu, tampak begitu terisolasi sekaligus begitu fokus. Aku tidak tahu apa yang ia tulis di buku itu, namun satu hal yang pasti, ia bukan pengembara biasa yang hanya lewat. Ia membawa sesuatu yang lebih berat daripada tas atau laptop tua, sesuatu yang disembunyikan di balik sikap pendiamnya.

Langkahku memelan. Aku merasa perlu memastikan apakah catatan itu benar-benar berisi rencana pendidikan atau sekadar tumpukan angka-angka yang tidak berarti. Namun, di saat yang sama, aku teringat peringatan ibuku tentang menjaga jarak dengan urusan orang asing. Aku terus berjalan, meninggalkan debu-debu Karang Asta yang beterbangan di belakangku, sambil memikirkan bagaimana cara agar aku bisa kembali mendekat tanpa harus menarik perhatiannya secara berlebihan.

Ketika aku hampir mencapai gerbang pesantren, aku mendengar suara langkah kaki dari belakang. Aku tidak menoleh, namun naluriku mengatakan bahwa ia sedang memperhatikan langkahku, sama seperti aku yang selalu memperhatikan geraknya. Aku masuk ke halaman pesantren dengan perasaan yang tidak menentu. Rahasia itu terasa semakin berat, dan aku tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, aku harus memutuskan apakah aku akan membiarkannya terus berjuang sendirian dengan laptopnya atau ikut campur sebelum semuanya terlambat.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.