Rumah di Ujung Pulau
Bab 7
Cahaya dari layar laptop tua ini berkedip, sekali, dua kali, lalu memudar menjadi garis horizontal putih yang tipis. Aku mengetuk keyboard dengan irama yang makin cepat, berharap ada respons, namun kursor yang biasanya berkedip tenang kini membeku. Suara dengung kipas di dalam mesin terdengar tidak wajar, menderu kasar sebelum akhirnya senyap total. Keheningan kamar kos yang sempit ini terasa menekan telingaku. Aku menekan tombol daya berkali-kali, tetapi yang tersisa hanyalah pantulan wajahku yang kusam di atas permukaan kaca yang gelap.
Aku tidak bisa bernapas lega. Di dalam hard disk yang mati itu tersimpan seluruh draf modul pendidikan yang sudah kurancang berbulan-bulan. Data riset, kurikulum digital yang kususun untuk anak-anak pesisir, hingga catatan-catatan teknis mengenai sistem distribusi energi mandiri untuk masjid. Semuanya terkunci di sana. Aku meletakkan laptop itu ke atas meja kayu yang lapuk, jemariku gemetar. Aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja. Dengan sisa keberanian dan rasa putus asa yang meluap, aku mengambil obeng kecil dari tas perkakas.
Sekrup-sekrup kecil kulepas satu demi satu, menyusunnya dengan sangat hati-hati di atas selembar kain agar tidak tercecer. Casing bagian bawah kubuka, memperlihatkan jeroan mesin yang berdebu. Bau ozon samar tercium dari arah motherboard. Saat aku mendekatkan pandangan, jantungku seolah berhenti. Sebuah komponen kapasitor terlihat menghitam dan meleleh di dekat soket daya. Ada jejak hangus yang merambat ke jalur sirkuit utama. Aku terdiam lama, menatap kerusakan itu dengan tatapan kosong. Aku tahu betul jenis kerusakan ini. Ini bukan sekadar masalah perangkat lunak yang bisa diatasi dengan perbaikan sistem atau instalasi ulang.
Aku meraih lampu meja, mengarahkannya tepat ke titik yang terbakar. Tanganku mulai mendingin meski udara malam di Karang Asta ini terasa cukup lembap. Aku mencoba mencari jalan keluar di dalam kepalaku, mengingat kembali teknik penyolderan yang pernah diajarkan Pak Haris di bengkel. Namun, aku segera sadar bahwa tanpa suku cadang yang tepat dan peralatan presisi, laptop ini tidak mungkin bisa diselamatkan di desa terpencil ini.
Aku telah berkeliling ke bengkel-bengkel elektronik di pasar kecil minggu lalu, dan tidak ada satu pun teknisi yang berani menyentuh perangkat dengan arsitektur sekompleks ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dari bagian diriku. Laptop ini bukan sekadar benda; ia adalah saksi bisu dari setiap malam panjang saat aku merancang masa depan pendidikan yang ingin kubangun. Air mata jatuh tanpa kusadari, mengenai permukaan casing yang dingin.
Aku merasa tidak berguna, seolah niat baik yang kubawa dari Sumberjati runtuh bersamaan dengan matinya mesin ini. Kesunyian malam itu terasa semakin panjang, diisi oleh suara debur ombak dari pesisir yang sayup-sayup terdengar, seolah menertawakan rencanaku yang kini ikut karam.
Aku menutup rapat mataku, mencoba meredam denyut nyeri di pelipis. Suara debur ombak di kejauhan kini terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur sisa hidup barang-barang milikku. Di atas meja, mesin itu hanya diam, membatu layaknya bangkai kapal yang tertimbun pasir pantai. Aku teringat Ayah.
Dulu, setiap kali aku mengeluhkan komponen elektronik yang sulit dicari atau mesin yang menolak untuk hidup, ia akan menyalakan rokok klobotnya, menghisapnya dalam-dalam, lalu berkata bahwa mesin hanyalah cerminan dari tangan yang merawatnya. Jika tangan itu gemetar karena ambisi yang melampaui kemampuan, maka mesin akan mogok karena ia tahu tuannya tidak sedang bekerja dengan tenang. Apakah aku sedang bekerja dengan tenang? Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada kerusakan motherboard ini.
Aku telah menghabiskan malam-malamku dengan kopi dingin dan obsesi untuk menyempurnakan kurikulum yang bahkan belum teruji di kelas.
Aku berdiri, berjalan gontai menuju jendela kayu yang sudah aus dimakan rayap. Desa Karang Asta di luar sana tampak seperti lukisan tinta hitam. Hanya ada satu titik cahaya di menara masjid, sisanya hanyalah kegelapan yang menyatu dengan laut. Aku merasa asing di sini. Tanpa alat bantu digital itu, aku merasa telanjang. Bagaimana aku akan menjelaskan konsep-konsep sains kepada anak-anak TPQ tanpa visualisasi yang kususun? Apakah aku harus kembali menulis di atas kertas-kertas yang nantinya akan basah oleh keringat atau robek dimakan waktu? Aku meraba sakuku, menemukan secarik kertas berisi catatan kecil mengenai jadwal perbaikan instalasi listrik yang tertunda. Semuanya terasa sia-sia. Harapan yang kubawa dari Sumberjati seolah ikut terbakar bersama kapasitor yang meleleh itu.
Aku kembali menatap laptop tersebut. Dengan gerakan lamban, aku membersihkan debu-debu yang menempel di casing dengan ujung bajuku. Rasanya seperti sedang merawat seseorang yang sedang sekarat. Aku tidak punya pilihan lain selain membawanya besok ke tukang servis di kota kabupaten, meskipun aku tahu ongkos perjalanannya akan menguras uang makan mingguanku. Aku harus melakukannya. Jika data itu hilang, maka jejak langkahku di pulau ini pun akan ikut terhapus. Aku bukanlah siapa-siapa di sini. Bagi orang-orang seperti Kiai Mahfud, aku hanyalah perantau muda yang membawa banyak ide, namun belum tentu memiliki akar yang cukup kuat untuk berdiri. Kegagalan memperbaiki laptop ini adalah bukti fisik dari ketidakmapananku.
Aku mengambil buku catatan kulit yang diberikan oleh seseorang yang tak kukenal beberapa minggu lalu. Di dalamnya, ada beberapa sketsa kasar tentang desain rumah tahan gempa dan tata kelola air desa. Aku mulai membandingkan sketsa itu dengan sisa-sisa komponen laptop di depanku. Ada semacam ironi di sana. Aku mencoba membangun sistem yang besar dan rumit, sementara aku sendiri bahkan tidak bisa menjaga alat kerja yang paling mendasar. Aku memutuskan untuk tidur sejenak, berharap bahwa di pagi hari, otakku bisa berpikir lebih jernih. Namun, baru saja aku merebahkan punggung di atas tikar yang tipis, sebuah ketukan terdengar di pintu kayu gubukku.
Ketukan itu pelan, teratur, dan sangat sopan. Aku membeku. Siapa yang akan bertamu di jam segini? Warga desa biasanya tidak akan berkeliaran setelah isya, kecuali ada urusan mendesak atau kabar duka. Aku bangkit, merapikan sarung, lalu melangkah pelan menuju pintu. Jantungku berdegup tidak karuan. Apakah ini kiriman dari Fikri? Atau mungkin seseorang dari pihak pesantren yang akhirnya memutuskan untuk menegurku karena aktivitas malamku? Aku membuka pintu dengan hati-hati. Tidak ada siapa-siapa di depan sana. Hanya kegelapan pekat dan aroma garam yang terbawa angin malam. Aku hampir menutup pintu ketika mataku tertuju pada sebuah paket yang tergeletak di depan ambang pintu.
Paket itu terbungkus rapi dengan kertas cokelat tebal, diikat dengan tali rami yang sudah tua. Tidak ada nama pengirim, hanya namaku yang tertulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan elegan. Aku memungut paket itu. Beratnya terasa tidak wajar, seolah berisi logam atau barang padat lainnya.
Aku kembali masuk, menutup pintu dengan cepat, dan meletakkan benda itu di bawah cahaya lampu temaram. Tanganku gemetar saat melepaskan ikatan tali rami. Begitu kertas pembungkusnya terbuka, napasku tertahan. Di sana, di dalam kotak kayu kecil yang sudah dipoles, terdapat sebuah motherboard laptop yang identik dengan model yang sedang kugunakan, lengkap dengan komponen-komponen cadangan yang selama ini kucari ke mana-mana.
Sebuah catatan kecil terselip di bawah motherboard tersebut. Tulisannya singkat, namun membuatku terdiam seribu bahasa: Agar rencanamu tetap bisa berjalan, jangan menyerah pada keadaan.



