Rumah di Ujung Pulau
Bab 8
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar lebih nyaring dari biasanya. Jarum panjang baru saja melewati angka dua, menandakan dini hari sudah semakin larut. Rumah pesantren yang biasanya riuh oleh doa dan langkah kaki santri kini membeku dalam sunyi. Aku sengaja membiarkan pintu kamarku sedikit terbuka, menunggu suara yang sejak tadi tertangkap telingaku dari arah ruang kerja Ayah.
Langkahku terasa ringan di atas lantai kayu yang dingin. Aku tidak berniat menguping, setidaknya itu alasan yang kupakai untuk membenarkan tindakanku sendiri. Namun, suara Ayah yang biasanya tenang dan lembut justru terdengar tajam, memotong keheningan malam dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Aku berdiri di balik pilar ruang tamu, menatap celah pintu ruang kerja yang terbuka tipis. Ayah tidak sedang berbicara dengan tamu. Beliau sedang berbicara di telepon, namun gestur tubuhnya yang menegang menunjukkan bahwa topik pembicaraan ini bukan hal sepele. Ayah menghempaskan punggungnya ke kursi rotan, napasnya memburu.
"Haris tidak punya tempat di sini lagi. Dia membawa masalah yang cukup untuk menghancurkan nama baik pesantren ini belasan tahun lalu. Jangan sebut-sebut nama itu di depanku," ucap Ayah dengan nada rendah yang bergetar. Tangannya mencengkeram gagang telepon begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Namanya Haris. Nama yang sama dengan pria pemilik bengkel elektronik di desa sebelah, pria yang merupakan ayah dari Pratama. Jantungku berdesir, sebuah kaitan samar tiba-tiba terasa begitu nyata. Aku teringat bagaimana Ayah selalu meremehkan ketertarikan Pratama pada teknologi, seolah ada kebencian yang mendalam pada setiap barang elektronik yang dibawa pemuda itu ke lingkungan kami.
Setelah panggilan itu berakhir, Ayah bangkit dan berjalan menuju laci meja kerjanya. Beliau mengeluarkan sebuah kotak kayu tua yang permukaannya sudah kusam. Aku mundur selangkah, menahan napas saat mendengar bunyi kunci yang beradu dengan kayu. Ayah mengeluarkan tumpukan foto lama, lalu menyisihkannya satu per satu. Fokusnya tertuju pada sebuah foto hitam putih yang agak menguning di bagian pinggirnya.
Aku tidak bisa menahan rasa penasaran yang mendesak dadaku. Ketika Ayah akhirnya beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air, aku memberanikan diri mendekat. Ruang kerja itu berbau kertas tua dan tinta kering. Di atas meja, foto itu tergeletak begitu saja. Aku mendekatinya, jemariku gemetar saat menyentuh tepi kertas yang kasar. Itu foto masa muda. Ada beberapa pria berdiri di depan sebuah bangunan tua, dan di sana, dengan wajah yang lebih muda namun tatapan mata yang tetap keras, berdiri seorang pria yang aku kenali sebagai Pak Haris. Dan tepat di sampingnya, seorang pria lain yang tampak jauh lebih muda, dengan senyum yang kaku, adalah Ayahku sendiri.
Mataku tertuju pada detail di latar belakang foto itu. Itu adalah ukiran kayu pada meja perpustakaan pesantren yang sampai sekarang masih ada. Aku tertegun. Mengapa mereka berdua ada di sana, di tempat yang sama, dengan ekspresi yang menyiratkan persahabatan yang retak?
Udara dini hari mendadak terasa mencekik. Aku menarik jemariku seolah foto itu terbuat dari bara panas. Bunyi langkah kaki yang menyeret di lantai kayu dari arah dapur membuatku tersentak. Dengan gerakan secepat kilat, aku mundur ke balik tirai beludru saat Ayah kembali memasuki ruangan.
Beliau tidak menyadari kehadiranku, atau mungkin beliau terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tidak memedulikan sekeliling. Ayah duduk kembali di kursi kerjanya, menatap foto yang sama dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada gurat penyesalan, namun lebih dominan rasa tidak suka yang pekat. Beliau tidak menyimpan foto itu ke dalam kotak, melainkan membaliknya, menyembunyikan wajah-wajah muda itu dari pandangan dunia.
Aku menunggu sampai Ayah mematikan lampu meja dan melangkah menuju kamarnya. Hanya setelah suara pintu kamarnya terkunci rapat, aku berani melangkah keluar dari persembunyian. Ruangan itu kini benar-benar gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar. Aku mendekati meja kerja Ayah, jemariku meraba permukaan kayu yang dingin hingga menemukan benda yang tadi ditinggalkan.
Aku membalik foto tersebut. Benar, di balik kertas yang mulai rapuh itu, tertulis sebuah tanggal dan lokasi yang membuat lututku lemas. Lokasi itu adalah ruang arsip lama yang pernah menjadi saksi bisu skandal dana koperasi pesantren bertahun-tahun silam, sebuah cerita yang hanya menjadi desas-desus di kalangan warga desa tanpa pernah ada yang berani memastikan kebenarannya. Sekarang, kepingan puzzle itu berjatuhan di hadapanku.
Pak Haris bukan sekadar orang asing yang kebetulan memiliki bengkel, ia adalah bagian dari sejarah kelam yang Ayah kubur dalam-dalam. Dan Pratama, pemuda dengan laptop tua dan mimpi-mimpi tentang pendidikan digital, adalah anak dari orang yang Ayah anggap sebagai pengkhianat. Pantas saja Ayah begitu sinis setiap kali mendengar nama itu. Pantas saja setiap kali aku mencoba membela Pratama saat ia berusaha menjelaskan konsepnya di pesantren, Ayah selalu memotong pembicaraan dengan dalih bahwa teknologi hanyalah perusak adab.
Beliau tidak takut pada teknologinya. Beliau takut pada siapa yang mewariskannya. Aku membawa foto itu ke sudut ruangan yang lebih terang, mengamatinya lebih teliti. Ada bekas goresan pada kayu meja di latar belakang foto, pola yang sama dengan ukiran yang sering kupandangi di ruang perpustakaan.
Itu bukan kebetulan. Itu adalah tanda bahwa mereka pernah bekerja sama dalam sebuah proyek besar sebelum semuanya berantakan. Pertanyaan yang kini menggantung di kepalaku terasa lebih berat daripada buku-buku yang kubaca setiap hari. Apakah Pratama tahu siapa ayahnya sebenarnya?
Apakah ia datang ke Karang Asta dengan agenda tersembunyi untuk membersihkan nama ayahnya, atau ia hanyalah korban dari sejarah yang bahkan tidak ia mengerti? Aku teringat wajah Pratama saat ia menatap layar laptopnya yang rusak di bengkel. Tatapannya bukan tatapan seorang pendendam. Ia terlihat seperti orang yang hanya ingin membangun sesuatu dari nol, tanpa peduli pada bayang-bayang masa lalu yang sebenarnya sedang mengejarnya.
Malam semakin larut, namun pikiranku justru semakin terjaga. Aku tidak bisa membiarkan kebenaran ini terkubur atau menjadi senjata yang menghancurkan masa depan orang lain. Jika Ayah memilih untuk membenci, aku tidak harus mengikutinya. Jika sejarah ini memang sudah lama membusuk, mungkin sudah saatnya ada yang berani membersihkannya tanpa harus menumpahkan lebih banyak darah.
Aku melipat foto itu, menyimpannya di saku piyama, dan melangkah keluar dari ruang kerja Ayah dengan perasaan yang telah berubah total. Besok, saat matahari terbit di atas pesisir, segalanya akan tampak berbeda. Aku tidak akan lagi sekadar mengamati dari jauh. Aku akan mencari cara agar Pratama bisa memperbaiki laptopnya, bukan karena aku peduli pada mesin itu, melainkan karena aku tahu bahwa di dalam mesin itu tersimpan kunci untuk membuka kotak pandora yang selama ini dijaga ketat oleh Ayah.
Aku akan menjadi mata dan telingaku sendiri. Aku akan menelusuri ke mana aliran uang itu sebenarnya pergi di masa lalu, dan aku akan memastikan bahwa jika Pratama memang tidak bersalah, ia tidak akan menanggung dosa yang tidak pernah ia perbuat. Langkahku menembus lorong pesantren yang sunyi, menuju kamarku sendiri. Aku menutup pintu, menyalakan lampu kecil di meja tulis, dan mulai mengeluarkan buku catatanku.
Untuk pertama kalinya, aku menuliskan nama Haris dan Mahfud di lembar yang sama, lalu menarik garis penghubung yang rumit di antara keduanya. Aku tahu, apa yang kulakukan ini adalah pengkhianatan kecil terhadap perintah Ayah untuk tidak mencampuri urusan orang luar. Namun, melihat kebenaran yang tertahan di balik foto tua itu, aku sadar bahwa diam bukanlah bentuk adab yang tepat jika kebenaran justru sedang ditindas. Aku akan membantu Pratama.
Aku akan memastikannya tetap berjuang dengan laptopnya, dan aku akan menjadi orang pertama yang akan melindunginya saat Ayah mulai menyadari bahwa masa lalu yang beliau kubur telah bangkit kembali melalui tangan anaknya sendiri.



