Rumah di Ujung Pulau
Bab 9
Bau besi tua dan oli bekas menyengat tajam di hidung saat aku melangkah masuk ke dalam pasar loak di pinggiran Karang Asta. Sore ini, langit berwarna jingga tembaga, memantul di genangan air sisa hujan semalam. Di tanganku, motherboard yang kukirimkan dari paket misterius itu terasa berat dan dingin, seolah menyimpan rahasia yang tidak ingin kubuka. Aku harus memastikan komponen ini bisa dipasang tanpa merusak sirkuit lainnya.
Aku berhenti di sebuah lapak yang tumpukan barang elektroniknya tampak lebih tertata dibanding yang lain. Pemiliknya, seorang lelaki tua, sedang sibuk menyolder kabel radio. Aku tidak mencari barang baru. Aku mencari presisi. Mataku menyapu deretan suku cadang hingga langkahku terhenti di depan sebuah kotak kardus berisi papan sirkuit bekas dari berbagai model laptop lama. Namun, sebelum aku sempat meraih salah satu komponen, sebuah bayangan menutupi cahaya dari lampu gantung lapak tersebut.
"Mencari sesuatu yang spesifik, Pratama?"
Suara itu tenang, namun ada nada yang membuat bulu kudukku berdiri. Aku menoleh dan mendapati Fikri Alwan berdiri di sana, mengenakan kemeja rapi yang tampak mencolok di tengah debu pasar loak. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang biasa berkeliaran di tempat pembuangan barang elektronik. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya menatapku dengan sorot yang sulit kubaca.
"Hanya mencari komponen pengganti untuk pekerjaanku," jawabku singkat. Aku berusaha menjaga jarak. Fikri tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip sebuah kalkulasi daripada keramahan.
"Laptop itu, kan? Seri yang cukup tua untuk masa sekarang. Mengapa masih dipertahankan?" Fikri melangkah lebih dekat, mengabaikan ketidaksukaanku. "Aku dengar proyek pendidikanmu sedang mengalami kendala teknis yang cukup serius. Aku bisa membantu memberikan dana tambahan jika kau butuh suku cadang yang lebih mutakhir, atau bahkan perangkat baru yang jauh lebih stabil."
Aku menggeleng pelan. "Terima kasih, tapi aku hanya butuh komponen ini. Aku lebih suka memperbaikinya sendiri agar aku paham setiap detail dari sistem yang aku bangun."
Fikri tertawa pelan, suara yang tidak mencapai matanya. "Idealismemu itu menarik, tapi kadang hanya membuang waktu. Aku tahu detail laptop itu lebih banyak dari yang kau kira. Bahkan, komponen yang sedang kau cari itu sebenarnya sangat langka di pasar lokal." Ia berhenti sejenak, menatap motherboard di tanganku dengan tatapan tajam. "Kau yakin bisa menemukannya di sini?"
Aku mengabaikannya dan kembali fokus pada kotak kardus di depanku. Aku tidak butuh bantuan uangnya, dan aku tidak butuh campur tangannya dalam pekerjaanku. Aku hanya ingin laptop ini menyala kembali. Sambil mengaduk tumpukan sirkuit, jemariku menyentuh sebuah papan kontrol yang tampak sudah kusam. Begitu aku menariknya keluar dari tumpukan debu, jantungku seolah berhenti sejenak. Di sudut papan sirkuit itu, terdapat ukiran inisial kecil yang sangat kukenal, tanda yang biasa digunakan oleh teknisi di bengkel pesantren untuk menandai aset milik lembaga. Bagaimana mungkin komponen ini ada di sini?
Aku memutar papan sirkuit itu di bawah cahaya lampu neon pasar yang berkedip-kedip. Inisial 'DH' dengan guratan kaligrafi sederhana yang khas benar-benar terukir di sana. Itu adalah tanda aset milik bengkel Pesantren Darul Hikmah. Tanganku sedikit gemetar. Mengapa komponen yang seharusnya berada dalam inventaris pesantren bisa terdampar di tumpukan barang rongsokan pasar loak? Aku melirik Fikri. Lelaki itu masih berdiri di sana, menatapku dengan senyum yang semakin tipis, seolah-olah ia sedang menonton sebuah pertunjukan yang hasilnya sudah ia ketahui sejak awal.
"Kau tampak pucat, Pratama. Ada masalah dengan barang itu?" tanya Fikri. Suaranya datar, namun ada kesan meremehkan yang terselip di sana.
Aku tidak menjawab. Pikiranku berpacu cepat. Selama ini, akses ke bengkel pesantren sangat dibatasi. Hanya pengurus senior yang memegang kunci gudang, dan setiap keluar-masuk barang harus melalui catatan administrasi yang sangat ketat. Jika komponen ini sampai ke pasar loak, berarti ada seseorang di dalam pesantren yang sengaja mengeluarkan aset tersebut tanpa izin. Atau, yang lebih buruk, ada sistem yang sengaja dibocorkan untuk mematikan operasional pendidikan yang sedang kuperjuangkan.
Aku memasukkan motherboard yang kubawa dan papan sirkuit milik pesantren itu ke dalam tas kecilku dengan gerakan kasar. Aku tidak ingin berdebat dengan Fikri di tempat terbuka seperti ini. Aku butuh ruang untuk berpikir dan memverifikasi temuanku.
"Aku harus pergi," kataku sambil memutar badan. Fikri tidak menghalangi jalanku, namun saat aku melangkah melewatinya, ia berbisik cukup pelan agar hanya aku yang mendengar, "Hati-hati dengan apa yang kau temukan, Pratama. Terkadang, kebenaran di balik barang rongsokan jauh lebih kotor daripada yang terlihat di permukaan."
Aku mempercepat langkah meninggalkan pasar. Udara sore yang tadinya terasa sejuk kini berubah menjadi sesak. Aku berjalan menyusuri gang sempit menuju motor tuaku yang terparkir di ujung jalan. Bunyi knalpot yang menderu pelan di tengah hiruk-pikuk pasar menjadi satu-satunya pelarian bagiku. Aku memacu motor melewati jalanan berbatu menuju rumah kecilku di pinggiran desa.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke ruang kerjaku yang berantakan. Mejaku dipenuhi dengan catatan, kabel-kabel yang terkelupas, dan buku-buku panduan teknis yang sudah usang. Aku mengeluarkan motherboard dari paket misterius itu dan meletakkannya bersebelahan dengan komponen yang kutemukan di pasar. Saat aku memeriksa soket dan tata letak jalurnya, kecurigaanku semakin menguat. Keduanya memiliki kode produksi yang identik, namun satu sudah usang dan satunya lagi tampak seperti stok lama yang baru saja dikeluarkan dari kemasan.
Aku duduk di kursi kayu, menyandarkan punggung yang terasa pegal. Keheningan rumah mulai terasa menekan. Aku teringat pada Nabil, murid yang sangat berbakat dengan perangkat keras tetapi belakangan ini sering menghilang dari jadwal mengajar. Aku teringat pada Kiai Mahfud yang selalu memandangku dengan tatapan waspada setiap kali aku membahas perihal digitalisasi pesantren. Jika memang ada orang dalam yang terlibat, apakah itu berarti aku sedang melawan arus yang lebih besar dari yang aku bayangkan?
Aku mengambil obeng dan mulai membongkar casing laptopku yang sudah terbuka sejak beberapa hari lalu. Sambil bekerja, aku mencoba memutar memori tentang kapan terakhir kali aku melihat komponen serupa di bengkel pesantren. Itu terjadi setahun lalu, sebelum aku mulai membangun platform pendidikan mandiri. Waktu itu, aku sempat mengusulkan agar bengkel itu dioptimalkan untuk perbaikan perangkat santri, namun ditolak mentah-mentah dengan alasan keamanan data.
Aku memasang motherboard yang dikirimkan misterius itu. Suara klik saat komponen terkunci di tempatnya terasa seperti sebuah keputusan besar. Aku menyambungkan baterai dan menekan tombol power. Layar laptop itu berkedip sebentar sebelum muncul logo sistem operasi. Laptop itu menyala. Namun, keberhasilanku justru meninggalkan rasa pahit. Laptop ini hidup, namun ia hidup di atas fondasi komponen yang seharusnya tidak ada di tanganku.
Aku membuka file log terakhir yang sempat kusimpan. Di sana, aku menemukan jejak akses yang mencurigakan ke server pendidikan yang kubangun. Seseorang telah mengunduh sebagian besar data kurikulum yang kususun selama berbulan-bulan. Tanganku terhenti di atas keyboard. Aku menyadari bahwa perbaikan laptop ini bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari sebuah babak yang jauh lebih berbahaya. Aku telah dipermainkan, dan sekarang aku memegang bukti fisik dari pengkhianatan yang terjadi di dalam lingkup pesantren itu sendiri.
Aku menatap keluar jendela. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat. Di kejauhan, lampu masjid mulai menyala, namun tidak memberikan rasa damai seperti biasanya. Aku tahu, besok pagi aku harus kembali ke pesantren. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang aku anggap sebagai mentor atau setidaknya rekan kerja, mungkin adalah orang yang sama yang sedang berusaha menghancurkan mimpiku dari dalam. Aku tidak akan bertanya secara langsung, karena itu hanya akan membuat mereka menutup celah lebih rapat. Aku akan menunggu, mengamati, dan memastikan bahwa setiap kepingan puzzle ini tersusun dengan adab, meski hati harus berdarah demi menjaga amanah yang dititipkan kepadaku. Laptop ini sekarang berfungsi, namun aku merasa seolah-olah aku baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci selamanya.



