Bab 10 Gratis Novel Religi & Keluarga

Rumah di Ujung Pulau

Pertemuan di Ruang Arsip

14 pembaca

Progress Baca

Bab aktif

Bab 10

Status

Gratis

Ukuran Font

Mode Baca

Rumah di Ujung Pulau

Bab 10

Gratis

Lampu koridor perpustakaan berkedip lemah, memancarkan warna kuning pucat yang membuat bayangan di dinding tampak menari-nari. Aku melangkah dengan sangat hati-hati, memastikan alas kakiku tidak mengeluarkan bunyi di atas lantai kayu yang mulai dimakan usia. Tanganku menggenggam erat sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang tadi sempat tertinggal di area ruang baca. Aku tahu Pratama pasti sedang mencarinya. Dia pemuda yang sangat disiplin dengan catatan-catatan teknisnya, dan kehilangan buku itu mungkin berarti kehilangan seluruh skema proyek yang sedang ia kerjakan.

Aku menemukan Pratama di sudut tersembunyi, tepat di dekat rak-rak tua yang jarang disentuh santri lain. Dia sedang duduk di lantai dengan laptop tuanya di pangkuan, cahaya layar memantul di wajahnya yang lelah namun fokus. Aku berhenti sejenak, mengamati bagaimana jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Ada ketenangan yang aneh saat melihatnya bekerja. Ia tidak terlihat seperti pemuda yang sedang dikepung fitnah atau tekanan ekonomi. Ia terlihat seperti seorang pelukis yang sedang menata warna di atas kanvas.

Aku berdeham pelan, cukup keras untuk menarik perhatiannya tanpa membuat keributan di pesantren yang sudah mulai sunyi. Pratama tersentak kecil, lalu menoleh. Saat matanya bertemu dengan mataku, ada keterkejutan yang langsung digantikan oleh senyum tipis yang tulus.

"Maaf mengganggumu, Pratama," bisikku sambil menyerahkan buku catatan itu. "Benda ini tertinggal di meja tadi sore. Aku tahu isinya penting bagimu."

Pratama menerima buku itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menatap buku itu, lalu kembali menatapku. "Terima kasih, Emily. Aku benar-benar panik mencarinya. Di sini tersimpan catatan tentang efisiensi daya yang akan aku terapkan pada perangkat pendidikan nanti."

Ia kemudian menggeser sedikit posisinya, memberi ruang di sampingnya. Aku ragu sejenak, namun aku duduk di dekat rak, menjaga jarak tetap sopan. Kami terjebak dalam percakapan singkat tentang bagaimana ilmu seharusnya disebarkan. Pratama berbicara bukan dengan gaya menggurui, melainkan dengan kerendahan hati yang membuatku merasa bahwa teknologinya hanyalah alat, sementara niatnya adalah untuk memperbaiki adab para murid. Melihat binar di matanya saat ia menjelaskan tentang pendidikan yang inklusif, aku menyadari satu hal. Ada kejujuran yang sulit disembunyikan oleh seorang pria yang bekerja demi orang lain tanpa memedulikan nasib dirinya sendiri. Tanpa sepengetahuannya, aku sempat menyisipkan selembar kertas kecil di antara halaman buku itu. Sebuah catatan tentang langkah yang mungkin bisa ia ambil untuk meredam kecurigaan orang dalam.

Suara langkah kaki yang berat terdengar dari ujung koridor. Kami berdua membeku. Itu adalah langkah kaki yang sangat familiar. Langkah yang selalu membuat siapa pun di pesantren ini merasa harus segera menundukkan kepala.

Aku menahan napas. Pratama dengan sigap menutup layar laptopnya, membiarkan kegelapan kembali menguasai sudut itu. Kami meringkuk di balik rak kayu yang berderit tipis saat tersentuh bahuku. Suara derap langkah itu semakin jelas, mantap dan berwibawa. Itu langkah Ayah. Aku bisa membedakan irama sepatunya dari jarak puluhan meter. Pratama menatapku, matanya memberi isyarat agar aku tetap diam. Aku mengangguk pelan, jantungku berdentum di balik rusuk, bukan karena rasa takut yang biasa, melainkan karena kesadaran bahwa kebersamaan singkat ini memiliki risiko yang nyata bagi reputasinya sebagai santri yang sedang berada di bawah pengawasan ketat.

Cahaya senter dari arah koridor menyapu lantai, memotong kegelapan perpustakaan seperti pedang yang mencari mangsa. Ayah berjalan perlahan, langkahnya terhenti tepat di depan rak tempat kami bersembunyi. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat. Bau minyak wangi melati yang selalu ia pakai menguar, bercampur dengan aroma debu buku tua yang menempel di rak-rak ini. Pratama sedikit menggeser kakinya, dan sebuah gesekan kecil pada kayu lantai terdengar nyaring di tengah sunyi yang mencekam. Aku memejamkan mata, memohon agar Tuhan menutupi keberadaan kami. Jika Ayah mendapati aku di sini, bersama pria yang selama ini beliau rendahkan, aku tidak bisa membayangkan kehancuran macam apa yang akan terjadi esok pagi.

"Siapa di sana?" suara Ayah memecah sunyi. Nada suaranya dingin, datar, dan menuntut jawaban. Tidak ada jawaban dari Pratama. Dia mematung. Aku merasa keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Pratama menoleh padaku, matanya tidak menunjukkan ketakutan, hanya sebuah ketenangan yang anehnya membuatku merasa sedikit lebih tenang. Dia memberikan isyarat agar aku tetap di sini, sementara dia akan mengambil tanggung jawab. Namun, aku menarik lengan bajunya, menggeleng keras. Jika dia muncul sendirian, Ayah akan menuduhnya menyelinap. Jika kami muncul bersama, kondisinya akan jauh lebih rumit, namun aku tidak bisa membiarkan dia menanggung tuduhan sendirian.

Ayah tidak bergerak lebih jauh. Beliau seolah menunggu, atau mungkin beliau tahu persis siapa yang sedang bersembunyi di balik rak-rak tua itu. Cahaya senter kembali menyorot, kali ini lebih rendah, menyapu bagian bawah rak. Pratama menarik napas dalam, ia tampak bersiap untuk berdiri dan menghadapi konsekuensi. Aku merasakan jemarinya sedikit gemetar saat ia menaruh buku catatan itu di balik tumpukan koran bekas di rak paling bawah, seolah ingin melindunginya dari jangkauan siapa pun yang akan datang setelah ini.

Kami berdua berdiri hampir bersamaan, tidak punya pilihan lain setelah bayangan Ayah muncul di celah rak. Cahaya senter itu langsung menyorot tepat ke wajah kami. Ayah berdiri tegak, memegang lampu senter dengan tangan yang stabil, sementara tangan lainnya terselip di balik sarung. Ekspresinya tidak terbaca, namun matanya yang tajam menatap kami satu per satu. Fokusnya beralih dari wajahku ke wajah Pratama, lalu ke laptop yang tertutup di pangkuan pemuda itu.

"Apa yang kalian lakukan di tempat gelap ini, di saat santri lain sudah berada di asrama?" tanya Ayah. Suaranya bergema di antara deretan buku. Aku ingin bicara, ingin menjelaskan bahwa Pratama hanya membantuku terkait beberapa referensi, namun lidahku kelu. Pratama maju selangkah, menundukkan kepala dengan sikap santun yang tak bisa disalahkan.

"Mohon maaf, Kiai. Saya sedang menyelesaikan beberapa perbaikan sistem yang sekiranya diperlukan untuk operasional perpustakaan, dan Emily kebetulan sedang mencari buku yang ia perlukan untuk tulisannya," jawab Pratama dengan suara rendah namun mantap.

Ayah tertawa kecil, sebuah tawa yang tidak sampai ke matanya. "Perbaikan sistem? Di malam hari? Dengan putriku sebagai saksi?"

Beliau melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. Aku bisa melihat gurat kekecewaan di wajah Ayah, bukan karena kesalahan teknis yang kami buat, melainkan karena beliau merasa otoritasnya sedang diuji. Aku menunduk, menatap lantai kayu yang retak. Di sudut mata, aku melihat Pratama tetap tegak, meski bahunya sedikit turun. Ia tidak berusaha membela diri secara berlebihan, dan itu adalah bentuk adab yang paling tinggi yang bisa diberikan seorang santri kepada pengasuh pesantrennya. Namun, Ayah tidak berhenti di sana. Beliau memutar senternya, menyinari area sekitar kami, seolah mencari bukti lain atas apa yang ia curigai.

"Kalian berdua tahu aturan pesantren ini bukan sekadar tulisan di papan pengumuman. Adab adalah pagar, dan kalian baru saja melompati pagar itu," ujar Ayah pelan.

Aku memberanikan diri menatap Ayah. "Ini bukan seperti yang Ayah pikirkan. Saya yang meminta Pratama untuk datang ke sini, saya yang butuh bantuannya."

Ayah menatapku tajam. "Bantuan? Sejak kapan seorang putri pengasuh pesantren membutuhkan bantuan seorang pemuda yang bahkan tidak bisa menjaga namanya sendiri dari fitnah?"

Kalimat itu menghujam jantungku. Aku melihat Pratama terdiam, rahangnya mengeras. Dia tidak marah, namun aku tahu luka itu kembali terbuka. Ayah tidak tahu bahwa pemuda di depannya ini sedang berusaha membersihkan nama keluarganya, nama yang juga pernah bersinggungan dengan sejarah hidup Ayah sendiri.

"Pratama, tinggalkan tempat ini sekarang juga," perintah Ayah tanpa memalingkan wajah dari kami. "Dan kau, Emily, kembali ke asrama. Jangan biarkan aku menemukanmu lagi di tempat ini dengan orang yang sama."

Pratama membungkuk hormat, lalu dengan tenang memungut tas laptopnya. Saat dia berbalik untuk pergi, dia sempat menatapku sekali lagi, sebuah tatapan yang memberikan pesan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Aku pun berbalik menuju pintu keluar, namun langkahku terhenti saat mendengar Ayah bergumam, "Masa lalu memang selalu menemukan jalannya untuk kembali, bukan?"

Aku tidak menoleh lagi. Aku berjalan keluar menuju udara malam yang dingin, meninggalkan perpustakaan yang kini terasa seperti saksi bisu atas sebuah awal dari sesuatu yang lebih besar dan lebih berbahaya. Di kejauhan, suara azan tengah malam sayup-sayup terdengar, seolah mengingatkan bahwa di tengah kekacauan ini, tetap ada hal yang harus tetap dijaga: niat yang bersih dan keteguhan untuk tidak berhenti melangkah.

Komentar (0)

Masuk dulu untuk ikut berkomentar

Masuk dengan Google
  • Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.