— Bagian 1 · مكتبة روضة المحبين —
Disusun dari indeks kitab digital SantriOnline.
Bagian 1
مكتبة روضة المحبين
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
Judul Asli : Key to Durus al-Lughat-al-Arabiyyah Li Ghairi Natiqina Biha Part I
Penulis : DR. V. Abdur Rahim
Sumber : http://www.kalamullah.com
Judul Terjemahan : Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah 2
Alih Bahasa : Ummu Abdillah al-Buthoniyah
Editor : Budi Marta Saudin
Design Sampul : MRM Graph
Disebarluaskan melalui:
مكتبة رَوْضَةُ الْمُحِبِّيْنَ
Website: <ins>http://www.raudhatulmuhibbin.org</ins>
e-Mail: <ins>redaksi@raudhatulmuhibbin.org</ins>
© Februari, 2009
TIDAK untuk tujuan KOMERSIL
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala Puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikut mereka hingga hari kiamat. Amma ba'du.
Alhamdulillah, atas kemudahan dari Allah, terjemahan dari panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah jilid 2 dapat kami persembahkan kepada pembaca yang budiman. Panduan ini terdiri dari tiga bagian, yaitu penjelasan kaidah-kaidah yang digunakan dalam setiap bab pelajaran pada buku aslinya, arti perintah dalam latiah pada setiap bab, dan daftar kata atau istilah yang baru. Dalam panduan ini juga mulai diperkenalkan kepada beberapa ungkapan Bahasa Arab yang digunakan dalam bacaan.
Agar penggunaan buku Durusul Lughah lebih efektif, berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan:
- Membaca terlebih dahulu percakapan atau bahan bacaan pada setiap bab pelajaran..
- Mempelajari kaidah-kaidah yang digunakan dengan merujuk kepada Panduan, kemudian menganalisa pola penggunaan tata bahasa (gramatical analysis) dalam bacaan berdasarkan kaidah yang telah dipelajari.
- Mengerjakan setiap latihan. Disarankan untuk memiliki kunci jawaban untuk mengecek pemahaman terhadapa setiap pembahasan, yang dapat diketahui dengan melihat jumlah dan jenis kesalahan yang dilakukan dalam setiap latihan.
Jazakumullah khairan kepada berbagai pihak yang telah membantu terealisasinya buku Panduan ini. Semoga Allah menjadikannya, bagi kami dan antum, sebagai tabungan di akhirat kelak.
Berbagai kritik maupun saran untuk perbaikan Panduan ini sangat kami hargai, yang dapat anda sampaikan melalui <ins>redaksi@raudhatulmuhibbin.org</ins>.
27 Februari 2009
Maktabah Raudhah al-Muhibbin Taman Baca Pencinta Ilmu
Pelajaran 1 ……………………………………………………. 2 Pelajaran 2 ……………………………………………………. 6 Pelajaran 3 ……………………………………………………. 9 Pelajaran 4 ……………………………………………………. 14 Pelajaran 5 ……………………………………………………. 17 Pelajaran 6 ……………………………………………………. 21 Pelajaran 7 ……………………………………………………. 25 Pelajaran 8 ……………………………………………………. 30 Pelajaran 9 ……………………………………………………. 31 Pelajaran 10 …………………………………………………... 36 Pelajaran 11 …………………………………………………... 40 Pelajaran 12 …………………………………………………... 44 Pelajaran 13 …………………………………………………... 46 Pelajaran 14 …………………………………………………... 47 Pelajaran 15 …………………………………………………... 50 Pelajaran 16 …………………………………………………... 53 Pelajaran 17 …………………………………………………... 58 Pelajaran 18 …………………………………………………... 62 Pelajaran 19 …………………………………………………... 66 Pelajaran 20 …………………………………………………... 68 Pelajaran 21 …………………………………………………... 70 Pelajaran 22 …………………………………………………... 73 Pelajaran 23 …………………………………………………... 74 Pelajaran 24 …………………………………………………… 77 Pelajaran 25 …………………………………………………… 81 Pelajaran 26 …………………………………………………… 84 Pelajaran 27 …………………………………………………… 88 Pelajaran 28 …………………………………………………… 94 Pelajaran 29 …………………………………………………… 100 Tujuh Kelompok Klasifikasi Fi'il ..…………………………… 104 Pelajaran 30 …………………………………………………… 106 Pelajaran 31 …………………………………………………… 109
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
Kebutuhan terhadap buku panduan dalam Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lainnya terhadap buku saya yang berjudul Durus al-Lughah al-Arabiyyah telah lama dirasakan. Panduan dalam Bahasa Inggris (yang sekarang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia<sup>pent.</sup>) akhirnya dapat terealisasikan, alhamdulillah.
Setiap bab pelajaran meliputi tiga bagian. Pada bagian pertama menjelaskan semua kaidah-kaidah tata bahasa yang terdapat dalam bab pelajaran. Bagian kedua arti dari pertanyaan yang terdapat di bagian latihan. Dan bagian ketiga memuat kosa kata.
Semoga dengan hadirnya panduan ini, akan memberikan manfaat yang besar kepada pembacanya yang ingin belajar Bahasa Arab sendiri.
Saya akan sangat senang menerima semua masukan dari para pembaca, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Saran dan pertanyaan dapat dikirimkan kepada saya c/o. Islamic Foundation Trust , 78, Perambur High Road, Chennai – 600 012.
Penulis,
DR. V. Abdur Rahim
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- إِنَّ
Dalam bahasa Arab, ada dua jenis kalimat:
a) Kalimat nominal اَلْجُمْلَةُ الإِسْمِيَّةُ dimana kata pertama adalah kata benda - isim-.
Contoh: الْكِتَابُ سَهْلٌ 'buku (ini) mudah'. Isim yang mengawali kalimat disebut mubtada الْمُبْتَدَأُ sedangkan bagian kedua dalam kalimat disebut khabar الْخَبَرُ.
b) Kalimat verbal اَلْجُمْلَةُ الْفِعْلِيَّةُ dimana kata pertama adalah kata kerja atau fi'il.
Contoh: "Bilal (telah) keluar" خَرَجَ بِلاَلٌ
Partikel إِنَّ digunakan di awal kalimat nominal – al-jumlah-al-ismiyyah. Contoh:
إِنَّ الْكِتَابَ سَهْلٌ الْكِتَابُ سَهْلٌ
Perhatikan, isim setelah إِنَّ adalah manshub ( fathah ) Setelah penambahan إِنَّ, mubtada tidak lagi disebut mubtada tetapi disebut isim inna, dan khabar disebut khabar inna.
إِنَّ Menunjukkan penekanan. Dapat diartikan sungguh, sesungguhnya.
Perhatikan yang berikut:
- Jika mubtada memiliki satu dhammah, maka berubah menjadi fathah setelah إِنَّ.
Contoh: إِنَّ الْمُدَرِّسَ جَدِيدٌ الْمُدَرِّسُ جَدِيدٌ إِنَّ آمِنَةَ طَالِبَةٌ آمِنَةُ طَالِبَةٌ
-
Jika mubtada memiliki dua dhammah (dhammatain), maka berubah menjadi fathatain. Contoh: إِنَّ حَامِداً مَرِيضٌ حَامِدٌ مَرِيضٌ
-
Jika mubtada adalah dhamir, maka dhamir berubah ke dalam bentuk manshub-nya. Contoh: إِنَّكَ غَنِيٌّ أَنْتَ غَنِيٌّ
Untuk bentuk manshub dari semua dhamir, lihat latihan 3 pada buku Durus Lughah 2. Perhatikan bahwa dhamir untuk orang pertama tunggal dan jamak memiliki dua bentuk: إِنَّا / إِنَّنَا : إِنِّي / إِنَّنِي
http://www.raudhatulmuhibbin.org 2
- لَعَلَّ . Ini juga merupakan partikel seperti إِنَّ . Disebut salah satu saudara إِنَّ . Secara tata bahasa, bertindak seperti إِنَّ. Maknanya menunjukkan harapan atau kekhawatiran/dugaan. Contoh:
"Cuaca baik" اَلْجَوُّ جَمِيلٌ ← "saya harap cuaca baik" لَعَلَّ اَلْجَوَّ جَمِيلٌ
"Guru sakit" اَلْمُدَرِّسُ مَرِيضٌ ← "saya kira guru sedang sakit" لَعَلَّ اَلْمُدَرِّسَ مَرِيضٌ
Pada bab pelajaran ini, kita hanya mempelajari contoh-contoh "saya harap"
- ذُو Kata ini memiliki arti memiliki atau mempunyai. Contoh: ذُو مَالٍ "memiliki harta' yakni kaya, ذُو خُلُقٍ "memiliki akhlak" yakni berakhlak baik. ذُو عِلْمٍ "memiliki ilmu" yakni terpelajar (berilmu)
ذُو merupakan mudhaf dan kata yang mengikutinya adalah mudhaf ilaihi, oleh karena itu bentuknya majrur ( kasrah ).
Bentuk muannats dari ذُو adalah ذَاتُ . Contoh:
بِلَالٌ ذُو عِلْمٍ، وَ أُخْتُهُ ذَاتُ خُلُقٍ
Bilal terpelajar dan saudarinya berakhlak baik.
Bentuk jamak dari ذُو adalah ذَوُو , dan ذَاتُ adalah ذَوَاتُ . Contoh:
هٰذَا الطَّالِبُ ذُو خُلُقٍ هٰؤُلَاءِ الطُّلَّابُ ذَوُو خُلُقٍ
هٰذِهِ الطَّالِبَةُ ذَاتُ خُلُقٍ هٰؤُلَاءِ الطَّالِبَاتُ ذَوَاتُ خُلُقٍ
- أَمْ Artinya "atau", tetapi hanya digunakan dalam kalimat tanya. Contoh:
"Apakah anda seorang dokter atau insinyur?" أَطَبِيبٌ أَنتَ أَمْ مُهَنْدِسٌ ؟
"Apakah dia dari Prancis atau Jerman?" أَمِن فَرَنْسَا هُوَ أَمْ مِنَ الْأَلْمَانِيَا ؟
"Apakah anda melihat Bilal atau Hamid?" أَبِلَالٌ رَأَيْتَ أَمْ حَامِدٌ ؟
Perhatikan, partikel أَ mendahului salah satu dari dua hal yang dipertanyakan sedangkan أَمْ mendahului yang lainnya. Oleh karena itu, salah jika mengatakan:
http://www.raudhatulmuhibbin.org 3
أَأَنْتَ مُدَرِّسٌ أَمْ طَبِيبٌ ؟
أَذَهَبْتَ إِلَى مَكَّةَ أَمْ جِدَّةَ ؟
Yang benar adalah:
أَمُدَرِّسٌ أَنْتَ أَمْ طَبِيبٌ ؟
أَإِلَى مَكَّةَ ذَهَبْتَ أَمْ إِلَى جِدَّةَ ؟
Dalam selain kalimat tanya, أَوْ digunakan untuk kata 'atau'. Contoh:
"Ambillah ini atau itu." خُذْ هَذَا أَوْ ذَاكَ
"Saya melihat dua atau tiga." رَأَيْتُ ثَلَاثَةً أَوْ أَرْبَعَةً
"Bilal atau Hamid (telah) keluar." خَرَجَ بِلَالٌ أَوْ حَامِدٌ
- مِائَةٌ "seratus", أَلْفٌ "seribu"
Perhatikan dalam kata مِائَةٌ, huruf alif tidak dilafalkan. Kata tersebut dilafalkan مِئَةٌ
Di negara-negara tertentu juga ditulis seperti ini, tanpa alif.
Setelah angka-angka tersebut, ma'dud-nya berbentuk majrur tunggal. Contoh:
"Seratus buku" مِائَةُ كِتَابٍ
"Seribu riyal" أَلْفُ رِيَالٍ
هَذَا التِّلْفَازُ بِأَلْفِ رِيَالٍ Disini أَلْفِ berbentuk majrur karena kata depan بِـ.
أَلْفٌ dan مِائَةٌ juga memiliki bentuk yang sama dengan ma'dud muannats. Contoh:
أَلْفُ مُسْلِمَةٍ وَ مِائَةُ طَالِبَةٍ
- غَالٍ "mahal". هَذَا الْكِتَابُ غَالٍ "Buku ini mahal." Disini غَالٍ bukan berbentuk
majrur. Dia berbentuk marfu. Bentuk aslinya adalah غَالِيٌ. Huruf yâ beserta
dhammah dihilangkan, dan nun pada tanwin telah di transfer ke kata yang
mendahuluinya (ghâli-yu-n ——► ghâli-n). Berikut beberapa kata yang sejenis dengan
ini:
مُحَامٍ 'pengacara' untuk مُحَامِيٌ. Contoh: أَنَا مُحَامٍ "Saya seorang pengacara"
قَاضٍ 'hakim' untuk قَاضِيّ . Contoh: أَبِي قَاضٍ "Ayahku seorang hakim"
وَادٍ 'lembah' untuk وَادِيّ . Contoh: هَذَا وَادٍ "ini adalah lembah"
Anda akan belajar lebih banyak mengenai kelompok isim ini, Insya Allahu ta'ala.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Tandailah pernyataan yang benar dengan ini (√) dan yang salah dengan ini (x).
- Pelajarilah bentuk-bentuk kata ganti dengan menggunakan إِنَّ.
- Tulislah kembali kalimat berikut menggunakan إِنَّ.
- Bacalah yang berikut.
- Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan إِنَّ dan beri tanda vokal (harakat) pada huruf terakhir dalam setiap kata.
- Bacalah contoh berikut dan buatlah kalimat dengan bantuan kata-kata yang terdapat dalam latihan dengan menggunakan أَ dan أَمْ .
- Pelajarilah penggunaan ذُو.
- Gantilah kata ذُو ke dalam bentuk jamak mudzakar, muannats mufrad dan jamak sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Tulislah kembali kalimat-kalimat berikut dengan menggunakan لَعَلَّ .
- Bacalah contoh dan isilah bagian yang kosong dengan غَالٍ dan غَالِيَةٌ .
- Bacalah kalimat berikut dan kemudian tulislah dengan mengganti angka-angka dengan kata-kata.
- Gunakan setiap kata berikut dalam sebuah kalimat.
<ins>🕮 Kosa-kata Baru:</ins>
| Pandai | ذَكِيّ | Belum menikah | عَزَبٌ | dolar | دُولَارٌ | Halaman (buku) | صَفْحَةٌ |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bodoh | غَبِيّ | Yahudi | يَهُودِيّ | Seratus | مِائَةٌ | Orang yang berhasil dalam ujian | نَاجِحٌ |
| Akhlak | خُلُقٌ | Yahudi (j) | يَهُودٌ | Seribu | أَلْفٌ | Mahal | غَالٍ |
| Menikah | مُتَزَوِّجٌ | kamus | مُعْجَمٌ | Riyal | رِيَالٌ | Lengan baju | قُمٌّ |
Dalam bab pelajaran ini, kita mempelajari yang berikut:
- لَيْسَ . Artinya 'tidak'. Digunakan dalam al-jumlah al- ismiyyah. Contoh:
اَلْبَيْتُ جَدِيدٌ ⟵ لَيْسَ الْبَيْتُ بِجَدِيدٍ "Rumah (itu) tidak baru"
Perhatikan بِـ, ditambahkan kepada khabar dan karenanya dia berbentuk majrur.<sup>1</sup>
Setelah penambahan لَيْسَ , mubtada disebut isim laisa dan khabar disebut khabar laisa.
Bentuk muannats dari لَيْسَ adalah لَيْسَتْ . contoh:
زَيْنَبُ مَرِيضٌ ⟵ لَيْسَتْ زَيْنَبُ بِمَرِيضٍ "Zainab tidak sakit"
اَلسَّيَّارَةُ قَدِيمَةٌ ⟵ لَيْسَتِ السَّيَّارَةُ بِقَدِيمَةٍ "Mobil (itu) tidak tua' (itu bukan mobil tua).
Perhatikan, pada contoh kedua, sukun dari لَيْسَتْ . telah berubah menjadi kasrah karena terdapat –al (laisat l-bintu 🡪 laisat-i-l-bintu). Lihat panduan Durus Lughah 1 pelajaran 12.
Bentuk-bentuk لَيْسَ dengan kata ganti lainnya disebutkan pada latihan 3 buku Durus Lughah.
Dalam لَسْتَ بِمُهَنْدِسٍ , kata ganti تَ adalah isim laisa, dan بِمُهَنْدِسٍ adalah khabar laisa. Kita juga dapat mengatakan أَنَا لَسْتُ بِمُهَنْدِسٍ. Disini أَنَا adalah mubtada.dan kalimat لَسْتُ بِمُهَنْدِسٍ adalah khabar. Kalimat ini dibentuk dari isim laisa dan khabar laisa sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya.
Perhatikan yang berikut:
لَسْتُ بِمَدْرِسٍ ⟵ أَنَا مَدْرِسٌ
لَسْتُ مِنَ الْهِنْدِ ⟵ أَنَا مِنَ الْهِنْدِ
<sup>1</sup> Kita dapat juga mengatakan لَيْسَ الْبَيْتُ جَدِيدًا. Disini khabar tidak mempunyai بِـ dan bentuknya manshub. Anda akan mempelajarinya nanti, insya Allah.
Jika khabar laisa berupa anak kalimat dengan kata depan seperti مِنَ الهِنْدِ tidak memerlukan بِـ. Oleh karena itu tidak dikatakan لَسْتُ بِمِنَ الهِنْدِ.
Kita telah melihat pada buku 1, jika mubtada adalah nakirah dan khabar adalah anak kalimat dengan kata depan, maka mubtada diletakkan setelah khabar. Contoh: لِيَ إِخْوَةٌ "saya memiliki saudara laki-laki". Dengan لَيْسَ kalimat ini menjadi لَيْسَ لِيَ أُخْوَةٌ "saya tidak memiliki saudara laki-laki". Disini أُخْوَةٌ adalah isim laisa dan لِيَ adalah khabar laisa.
-
Jika إِنَّ ditambahkan ke dalam kalimat seperti لِيَ إِخْوَةٌ, maka dia menjadi إِنَّ لِيَ إِخْوَةً. Disini إِخْوَةً berbentuk manshub karena dia adalah isim inna dan لِيَ adalah khabar inna.
-
بِلَالُ بْنُ حَامِدٍ "Bilal anak Hamid". Dalam bentuk kalimat seperti ini, alif pada بْنُ dihilangkan dalam tulisan, dan kata yang mendahuluinya kehilangan tanwin.
-
مِنَ الْأَخُ ؟ secara harafiah bermakna "Siapa anda?", Ini adalah cara yang sopan untuk menanyakan kepada seseorang siapa dirinya.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Tandailah pernyataan yang benar dengan (√) dan yang salah dengan (x).
- Pelajarilah isnaad لَيْسَ untuk kata ganti yang lain.
- Tulislah kembali kalimat berikut menggunakan لَيْسَ.
- Tulislah kembali kalimat berikut menggunakan لَيْسَ sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Jawablah pertanyaan berikut dalam bentuk negatif dengan menggunakan لَيْسَ.
- Jawablah pertanyaan berikut dalam bentuk negatif dengan menggunakan لَسْتُ.
- Jawablah pertanyaan berikut dengan menggunakan إِنَّ sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
| Pertemuan | لِقَاءٌ | Sungai | نَهْرٌ |
|---|---|---|---|
| Saya senang bertemu denganmu | أَنَا مَسْرُورٌ بِلِقَائِكَ | Telegram | بَرْقِيَّةٌ |
| Baik | جَيِّدٌ | Bank | مَصْرِفٌ |
| Saku | جَيْبٌ | Kantor pos | مَكْتَبُ الْبَرِيدِ |
Pada bab pelajaran ini, kita mempelajari yang berikut:
- Perbandingan sifat comparative dan superlative (perbandingan tingkat 'lebih' dan tingkat 'paling'<sup>-pent.</sup>). Kata sifat dengan perbandingan 'lebih' dengan bentuk pola أَفْعَلُ seperti' أَجْمَلُ 'lebih indah', أَحْسَنُ 'lebih baik', أَصْغَرُ 'lebih kecil', أَكْبَرُ 'lebih tua (besar)'. Sebagaimana yang telah kita pelajari kata dengan pola ini merupakan مَمْنُوعٌ مِنَ الصَّرْفِ sehingga tidak memiliki tanwin.
أَفْعَلُ Diikuti oleh مِنْ 'daripada'. Contoh:
"Hamid lebih tinggi daripada Bilal" حَامِدٌ أَطْوَلُ مِنْ بِلَالٍ
أَفْعَلُ sama untuk mudzakar dan muannats. Contoh:
"Bilal lebih tinggi daripada Aminah" بِلَالٌ أَطْوَلُ مِنْ آمِنَةَ
"Aminah lebih tinggi daripada Bilal" آمِنَةُ أَطْوَلُ مِنْ بِلَالٍ
"Anak-anak laki-laki lebih tinggi daripada anak-anak perempuan". الْأَبْنَاءُ أَطْوَلُ مِنَ الْبَنَاتِ
"Anak-anak perempuan lebih tinggi daripada anak-anak laki-laki". الْبَنَاتُ أَطْوَلُ مِنَ الْأَبْنَاءِ
Perhatikan contoh berikut dimana مِنْ diikuti oleh kata ganti (dhamir).
"Kamu lebih baik dariku"<sup>2</sup> أَنْتَ أَحْسَنُ مِنِّي
"Saya lebih pendek darimu" أَنَا أَقْصَرُ مِنْكَ
"Mereka lebih tua dari kita"<sup>3</sup> هُمْ أَكْبَرُ مِنَّا سِنًّا
<sup>2</sup> Perhatikan bahwa pada مِنِّي huruf nun memiliki shaddah. Tidak ada shaddah pada kata ganti yang lain. مِنْهُمْ ، مِنْكَ ، مِنْهَا ، مِنْهُمْ: tetapi مِنِّي memiliki shaddah karena dibentuk dari مِنْ dan أَنَا.
<sup>3</sup> سِنٌّ Berarti umur. أَكْبَرُ مِنْ Secara harafiah berarti lebih besar dalam hal umur.
أَفْعَلُ Juga digunakan untuk perbandingan tingkat 'paling' (perbadingan superlative). Dalam keadaan ini, diikuti oleh isim dalam bentuk majrur.
"Ibrahim adalah murid yang terbaik di sekolah" إِبْرَاهِيمُ أَحْسَنُ طَالِبٍ فِي الْمَدْرَسَةِ
"Al-Azhar adalah universitas tertua di dunia." الْأَزْهَرُ أَقْدَمُ جَامِعَةٍ فِي الْعَالَمِ
"Fatimah adalah siswa yang paling tua di kelas" فَاطِمَةُ أَكْبَرُ طَالِبَةٍ فِي الْفَصْلِ
Istilah Bahasa Arab untuk kedua tingkat perbandingan ini adalah أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ
- وَلَكِنَّ : "tetapi", adalah salah satu saudara إِنَّ, dan bertindak seperti إِنَّ.
"Bilal rajin tetapi Hamid malas" بِلَالٌ زَكِيٌّ وَلَكِنَّ حَامِدًا كَسْلَانُ
"Saudaraku menikah sedangkan saya bujang" أَخِي مُتَزَوِّجٌ وَلَكِنِّي عَزْبٌ
"Mobilku tua tetapi ia kuat" السَّيَّارَتِي قَدِيمٌ وَلَكِنَّهَا قَوِيَّةٌ
- كَأَنَّ adalah salah satu saudara إِنَّ, dan oleh karena itu isim yang mengikutinya berbentuk manshub. Artinya 'kelihatannya' (atau sepertinya).
"Kelihatannya laki-laki (itu) sakit" كَأَنَّ الْإِمَامَ مَرِيضٌ
"Siapa perempuan itu? مَنْ هَذِهِ الْفَتَاةُ ؟ كَأَنَّهَا أُخْتُكَ Kelihatannya dia adalah saudaramu"
"Kelihatannya mobil ini miliknya" كَأَنَّ السَّيَارَةَ لَهُ
"Sepertinya anda berasal dari India." كَأَنَّكَ مِنَ الْهِنْدِ
- Angka dari 11 sampai 20 dengan ma'dud mudzakar. Angka-angka ini adalah suatu kesatuan yang terdiri dari dua bagian. Ma'dud-nya adalah mufrad manshub. Contoh:
"Sebelas bintang" أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا
"Sembilan belas buku" تِسْعَةَ عَشَرَ كِتَابًا
Kita akan mempelajari angka-angka ini dalam empat pembahasan. a) Angka 11 sampai 12. Disini, kedua bagian angka sejenis dengan ma'dud. Contoh:
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
'Sebelas siswa laki-laki' أَحَدَ عَشَرَ طَالِبًا
'Sebelas siswa perempuan' إِحْدَى عَشْرَةَ طَالِبَةً
'Dua belas siswa laki-laki' إِثْنَا عَشَرَ طَالِبًا
'Dua belas siswa perempuan' إِثْنَتَا عَشْرَةَ طَالِبَةً
b) Angka dari 13 sampai 19 Disini, bagian kedua dari angka sejenis dengan ma'dud, sedangkan bagian pertama tidak. Contoh:
ثَلاَثَةَ عَشَرَ طَالِبًا ثَلاَثَ عَشْرَةَ طَالِبَةً
Mudzakar muannats muannats mudzakar
Sebagaimana yang anda lihat, ثَلاَثَةَ عَشَرَ طَالِبًا ma'dud-nya طَالِبًا adalah
mudzakar, maka bagian kedua dari angka عَشَرَ adalah mudzakar, sedangkan
bagian pertama ثَلاَثَةَ muannats yang ditunjukkan dengan akhiran ة.
Dalam ثَلاَثَ عَشْرَةَ طَالِبَةً ma'dud طَالِبَةً adalah muannats, maka bagian kedua
angka عَشْرَةَ juga muannats sedangkan bagian pertama ثَلاَثَ adalah mudzakar
yang ditunjukkan dengan tidak adanya akhiran ة.
Pada bab pelajaran ini, kita hanya belajar angka-angka dengan ma'dud mudzakar. Kita akan mempelajarinya kembali dengan ma'dud muannats pada Pelajaran 6.
c) Angka-angka berikut adalah mabni.<sup>4</sup> Dengan kata lain, angka-angka tersebut tidak berubah untuk menunjukkan fungsinya di dalam kalimat. Hal ini akan menjadi jelas dengan membandingkan angka 3 sampai 10 dengan angka-angka ini:
'Saya mempunyai tiga riyal' عِنْدِي ثَلاَثَةُ رِيَالاَتٍ
'Saya ingin tiga riyal' أُرِيدُ ثَلاَثَةَ رِيَالاَتٍ
<sup>4</sup> Kata إِثْنَا dan إِثْنَتَا dalam إِثْنَا عَشَرَ dan إِثْنَتَا عَشْرَةَ adalah mu'rab. Dalam posisi majrur dan manshub,
keduanya menjadi إِثْنَيْ dan إِثْنَتَيْ. Contoh:
'Saya memiliki dua belas riyal'
'Puplen ini seharga tiga riyal' هَذَا الْقَلَمُ بِثَلَاثَةِ رِيَالَاتٍ
'Saya memiliki tiga belas riyal' عِنْدِي ثَلَاثَةَ عَشَرَ رِيَالًا
'Saya ingin tiga belas riyal' أُرِيدُ ثَلَاثَةَ عَشَرَ رِيَالًا
'Pulpen ini seharga tiga belas riyal' هَذَا الْقَلَمُ بِثَلَاثَةَ عَشَرَ رِيَالًا
Perhatikan, اِثْنَا dan اِثْنَتَا dimulai dengan hamzatul wasl dan dihilangkan dalam pengucapan ketika didahului oleh kata lain.
d) Angka 20 adalah عِشْرُونَ. Bentuknya sama untuk ma'dud mudzakar dan muannats. Contoh:
عِشْرُونَ طَالِبَةً ، عِشْرُونَ طَالِبًا
Kita juga akan belajar mengenai angka-angka sejenisnya.
- Bilangan bertingkat (Ordinal).
Kata untuk pertama adalah أَوَّلٌ. Angka bertingkat dari 2 sampai 10 dibentuk dari pola ثَالِثٌ: فَاعِلٌ 'ketiga', رَابِعٌ 'keempat', خَامِسٌ 'kelima', سَادِسٌ 'keenam'.
"Kedua" adalah ثَانٍ, asalnya adalah ثَانِي seperti غَالٍ dalam pelajaran 1. Dengan ال menjadi الثَّانِي.
- أَلَيْسَ كَذَلِكَ "Bukankah begitu?" Jika siswa ditanya: أَنْتَ طَالِبٌ، أَلَيْسَ كَذَلِكَ؟
jawabannya adalah بَلَى. Kita akan belajar lebih banyak tentang بَلَى pada pelajaran 6.
- أَيُّهُمَا "Yang mana diantara dua" Contoh:
فِي الْفَصْلِ طَالِبَانِ مِنْ فَرَنْسَا، أَيُّهُمَا أَخُوكَ؟
"Ada dua orang siswa dari Prancis di dalam kelas. Yang mana diantara keduanya saudara laki-lakimu?"
- Dua bentuk jamak taksir مَفَاعِلُ dan مَفَاعِيلُ seperti فَنَادِقُ dan فَنَاجِرُ disebut مُنْتَهَى الْجُمُوعِ.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan berikut.
- Berilah tanda pada jawaban yang benar dengan (√) dan yang salah dengan (x) .
- Bacalah contoh berikut mengenai أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ .
- Dengan bantuan kata-kata yang diberikan dalam latihan, buatlah kalimat perbandingan tingkat lebih (comparative degree).
- Gantilah kata sifat pada kalimat berikut ke tingkat perbandingan paling sebagaimana yang dijelaskan di dalam contoh.
- Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan وَلَكِنَّ sebagaimana yang dijelaskan dalam contoh.
- Tulislah kembali kalimat berikut dengan menggunakan كَأَنَّ sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Pelajarilah angka dari 11 sampai 20.
- Bacalah kalimat berikut dan tulislah dengan mengganti kata-kata bilangan ke dalam bentuk angka.
- Pelajarilah bilangan bertingkat.
- Isilah bagian yang kosong dengan bentuk bilangan bertingkat dari angka yang diberikan di dalam kurung. Perhatikan bahwa bentuk muannats dari أَوَّلٌ adalah أُولَى
- Guru bertanya kepada setiap siswa dengan pertanyaan yang mengandung أَلَيْسَ كَذَلِكَ , dan para siswa menjawab dengan بَلَى .
- Guru bertanya kepada setiap siswa pertanyaan yang mengandung أَيُّهُمَا .
| Asrama | مُهْجَعٌ | Bintang | كَوْكَبٌ |
|---|---|---|---|
| Tim ( kelompok ) | فَرِيقٌ | Saudara kandung | شَقِيقٌ |
| Dalam mimpi | فِي الْمَنَامِ | Jendela, (j): نَوَافِذُ | نَافِذَةٌ |
| Umur, gigi | سِنٌّ | Bulan | شَهْرٌ |
| Pemain | لَاعِبٌ | Lapang, luas | وَاسِعٌ |
| Terkenal | شَهِيرٌ | Harga | ثَمَنٌ |
| Malas (bentuk muannats dari كَسْلَانُ | كَسْلَى |
Pada bagian ini, kita mempelajari:
- Kata kerja dalam bentuk lampau fi'il mâdhi. Contoh: ذَهَبَ "dia (lk) (telah) pergi", رَجَعَ "dia (lk) (telah) kembali".
Sebagian besar kata kerja dalam bahasa Arab hanya memiliki tiga huruf yang dikenal dengan nama fi'il tsulatsi mujarrad.
Bentuk dasar kata kerja dalam bahasa Arab adalah fi'il mâdhi. Sebagaiaman yang kita lihat pada Buku 1, ذَهَبَ berarti 'dia (telah) pergi'. Akan tetapi jika diikuti oleh subjek, maka kata ganti 'dia' (dalam terjemahan ke dalam bahasa Indonesia -pent)dihilangkan. Contoh: ذَهَبَ بِلَالٌ berarti "Bilal (telah) pergi" dan bukan "Bilal dia (telah) pergi".
Dengan cara yang sama, ذَهَبَتْ berarti "dia (pr) (telah) pergi". Namun apabila subyek mengikuti, maka kata ganti 'dia (pr)' ditiadakan. Contoh: ذَهَبَتْ آمِنَةُ "Aminah (telah) pergi".
Pada ذَهَبَ 'dia (lk) (telah) pergi' dan ذَهَبَتْ 'dia (pr) (telah) pergi' subyek yang terdapat dalam kalimat ini disebut dhamir mustatir ضَمِيرٌ مُسْتَتِرٌ (dhamir yang tersembunyi).<sup>5</sup>
Pada bentuk dasar madhi, suffiks (akhiran) ditambahkan untuk menunjukkan dhamir. Proses ini disebut isnâd (الإِسْنَادُ). Pada pelajaran ini, kita mempelajari isnâd dari kata kerja madhi untuk kata ganti berikut:
"Dia (lk) pergi" ذَهَبَ : subyeknya adalah dhamir mustatir.
"Dia (pr) pergi" ذَهَبَتْ : subyeknya adalah dhamir mustatir. Huruf ta (ت) adalah tanda yang menunjukkan muannats.
"Mereka (lk) telah pergi" ذَهَبُوا : subyeknya adalah waw. Huruf alif setelah waw tidak dilafalkan (dzahab-û).
<sup>5</sup> Dhamir Mustatir yaitu dhamir yang tidak tampak sebagai dhamir , akan tetapi keberadaannya hanya diperkirakan terdapat pada fi'il madhi, mudhari dan amr.<sup>-pent</sup>.
"Mereka (pr) telah pergi" ذَهَبْنَ : subyeknya adalah nun. (dzahab-na)
"Anda (lk) telah pergi" ذَهَبْتَ : subyeknya adalah ta (dzahab-ta)
"Saya telah pergi" ذَهَبْتُ : subyeknya adalah tu. (dzahab-tu).
Perhatikan perbedaan antara bentuk mudzakar dan muannats.
أَيْنَ بِلَالٌ وَ حَامِدٌ وَ خَالِدٌ ؟ – ذَهَبُوا إِلَى السُّوْقِ أَيْنَ آمِنَةُ وَ فَاطِمَةُ وَ زَيْنَبُ ؟ – ذَهَبْنَ إِلَى الْمَدْرَسَةِ
- Untuk mengubah kata kerja madhi dalam bentuk negatif digunakan partikel مَا. Contoh:
'Saya telah pergi ke pasar' ذَهَبْتُ إِلَى السُّوْقِ .🡪
'Saya tidak pergi ke pasar' مَا ذَهَبْتُ إِلَى السُّوْقِ .
'Sang Imam tidak keluar dari masjid' مَا خَرَجَ الْإِمَامُ مِنَ الْمَسْجِدِ
'Bilal masuk tetapi dia tidak duduk' دَخَلَ بِلَالٌ وَلَكِنَّهُ مَا جَلَسَ
-
Perbedaan antara نَعَمْ dan بَلَى : Kata بَلَى digunakan untuk menjawab pertanyaan negatif. Jika seorang Muslim ditanya ؟ أَلَسْتَ بِمُسْلِمٍ 'Bukankah kamu seorang Muslim?'. Jawabannya adalah: بَلَى، أَنَا مُسْلِمٌ 'tentu , saya seorang Muslim'. Tetapi jika non Muslim ditanyai dengan pertanyaan yang sama, dia menjawab نَعَمْ، لَسْتُ بِمُسْلِمٍ. Maka dalam menjawab pertanyaan negatif, نَعَمْ berarti 'tidak' dan بَلَى berarti tentu .
-
لِأَنَّ : 'karena', contoh:
'Saya tidak keluar rumah karena udara dingin' مَا خَرَجْتُ مِنَ الْبَيْتِ لِأَنَّ الْجَوَّ بَارِدٌ .
'Ibrahim pergi ke rumah sakit karena ia sakit' ذَهَبَ إِبْرَاهِيمُ إِلَى الْمُسْتَشْفَى لِأَنَّهُ مَرِيْضٌ .
Perhatikan bahwa لِأَنَّ dibentuk dari لِ 'untuk' dan أَنَّ yaitu saudara إِنَّ . Maka kata benda yang mengikutinya manshub.
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan berikut ini.
- Tandailah pernyataan yang benar dengan (√) , dan yang salah dengan (x).
- Isilah bagian yang kosong dengan kata ذَهَبَ dengan isnad yang benar.
- Benarkanlah kalimat berikut.
- Jawablah pertanyaan berikut dalam bentuk nefatif dengan menggunakan ـ.
- Pelajarilah penggunaan أَنَّ.
- Jawablah pertanyaan berikut menggunakan نَعَمْ atau بَلَى.
🕮 Kosa-kata Baru:
| Tidak apa-apa | لَا بَأْسَ |
|---|---|
| teh | شَيٌّ |
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- Fa'il (subyek) dari kalimat verbal. Kita telah mempelajari dalam Bahasa Arab terdapat dua jenis kalimat, kalimat nominal (kalimat isim – al-jumlah-al-ismiyah) dan kalimat verbal (kalimat fi'il –al-jumlah al-fi'liyyah). Kalimat isim diawali dengan isim, dan kalimat fi'il diawali dengan fi'il. Subyek dari kalimat fi'il disebut fa'il (الفَاعِل). Contoh:
'Bilal telah pergi'. ذَهَبَ بِلَالٌ
Fa'il berada dalam posisi marfu. Fa'il juga dapat berupa dhamir. Contoh:
ذَهَبُوا Dzahab-û 'mereka (lk) telah pergi': fa'ilnya adalah waw.
ذَهَبْتَ Dzahab-ta 'anda (lk) telah pergi': fa'ilnya adalah ta.
ذَهَبْنَا Dzahab-nâ 'kami telah pergi': fa'ilnya adalah nâ.
Perhatikan di dalam ذَهَبَ طُلَّابٌ 'para pelajar (lk) telah pergi', kata ذَهَبَ tidak memiliki waw diakhirnya, karena ذَهَبُوا berarti 'mereka (lk) telah pergi', dan jika kita katakan ذَهَبُوا طُلَّابٌ maka artinya 'mereka para pelajar (lk) telah pergi'. Hal ini tidak benar karena tidak boleh ada dua fa'il untuk sebuah kata kerja.
Tetapi kita dapat berkata طُلَّابٌ ذَهَبُوا . Disini طُلَّابٌ adalah mubtada dan kalimat ذَهَبُوا 'mereka (lk) telah pergi' adalah khabar.
Hal yang sama juga berlaku untuk bentuk muannats, contoh:
ذَهَبَتِ الْبِنَاتُ 'anak-anak perempuan telah pergi' atau الْبِنَاتُ ذَهَبْنَ.
Pelajarilah kaidah berikut:
Jumlah Ismiyah الطَّالِبَاتُ ذَهَبْنَ الطُّلَّابُ ذَهَبُوا
'Anak laki-laki telah membuka pintu' فَتَحَ الْوَلَدُ الْبَابَ.
Disini الْبَابَ adalah maf'ul bihi dan karenaya dia berbentuk manshub. Berikut beberapa contoh tambahan:
"Saya telah melihat Hamid'. رَأَيْتُ حَامِدًا
"Kepala Sekolah (pr) telah bertanya kepada Zainab". سَأَلَتِ الْمُدِيرَةُ زَيْنَبَ
"Laki-laki (itu) telah minum air". شَرِبَ الرَّجُلُ الْمَاءَ
"Anak laki-laki (itu) telah bertanya kepada Ibunya". سَأَلَ الْوَلَدُ أُمَّهُ
Perhatikan, pada contoh terakhir, maf'ul bihi adalah ( أُمَّ ) dan karenanya mengambil akhiran –a, dan dhamir hû bukan merupakan bagian darinya (umm-a- hû). Berikut beberapa contoh dari jenis ini:
"Saya telah melihat rumahmu" رَأَيْتُ بَيْتَكَ (bait-a-ka)
"Sang pelajar telah membuka bukunya" فَتَحَ الطَّالِبُ كِتَابَهُ (kitâb-a-hu).
Maf'ul bihi dapat berupa dhamir, contoh:
"Saya telah melihat Bilal dan menanyainya". رَأَيْتُ بِلَالًا وَسَأَلْتُهُ
- Nun pada tanwin diikuti oleh kasrah jika kata berikutnya dimuali dengan hamzat-al-wasl, contoh:
شَرِبَ حَامِدٌ الْمَاءَ syariba hâmid-u-n-i-l-mâ'a.
Disini jika kasrah tidak ditambahkan (akan) sulit melafalkan huruf kombinasi dari –nl-. Ini disebut اِلْتِقَاءُ السَّاكِنَيْنِ 'kombinasi dua sukun'. Kapan saja kombinasi yang seperti itu terjadi, digantikan dengan memasukkan kasrah diantara keduanya. Berikut beberapa contoh tambahan:
Sa'ala bilâl-u-n-i-bna-hu. سَأَلَ بِلَالٌ ابْنَهُ
Sami'a faisal-u-n-i-l-adzân-a. سَمِعَ فَيْصَلٌ الْأَذَانَ
- Kita telah belajar sebelumnya bahwa sebagian besar kata kerja dalam Bahasa Arab hanya memiliki tiga huruf yang disebut fi'il tsulatsi mujarrad. Berdasarkan urutannya masing-masing selanjutnya kita menyebutnya huruf pertama, huruf kedua, dan huruf ketiga.
graph TD
A[كَتَبَ] --> B[huruf ketiga]
A --> C[huruf kedua]
A --> D[huruf pertama]
Perhatikan, dalam madhi huruf pertama dan kedua berharakat fathah. Huruf kedua bisa berharakat fathah atau kasrah. Contoh:
ذَهَبَ ، دَخَلَ ، خَرَجَ
شَرِبَ ، حَفِظَ ، فَهِمَ
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Berilah tanda (√) untuk pernyataan yang benar dan (x) untuk pernyataan yang salah.
- Pelajarilah penggunaan fa'il dan maf'ul bihi.
- Gambarlah satu garis di bawah fa'il dan dua faris dibawa maf'ul bihi pada kalimat berikut.
- Isilah bagian yang kosong dengan kata yang sesuai, berilah harakat pada huruf terakhir.
- Gunakanlah setiap kata berikut dalam sebuah kalimat sebagai maf'ul bihi.
- Pelajarilah yang berikut.
- Ubahlah setiap jumlah ismiyah berikut menjadi jumlah fi'liyah sebagaimana yang dicontohkan.
- Buatlah kalimat dari setiap pasang kata kerja dalam pola dari yang terdapat dalam contoh. Perhatikan bahwa kata kerja kedua memiliki tanda jamak sedangkan yang pertama tidak.
- Gunakanlah setiap kata kerja berikut kedalam kalimat.
- Pelajarilah penggunaan dhamir maf'ul bihi (dhamir yang berfungsi sebagai objek).
| Anggur | عِنَبٌ | Dia (lk) telah mematahkan | كَسَرَ |
|---|---|---|---|
| Pisang | مَوْزٌ | Dia (lk) telah mendengar | سَمِعَ |
| Buah ara | تِيْنٌ | Dia (lk) telah mengerti | فَهِمَ |
| Fajar | فَجْرٌ | Dia (lk) telah minum | شَرِبَ |
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
| Jawaban | جَوَابٌ | Dia (lk) telah menghafal | حَفِظَ |
|---|---|---|---|
| Pertanyaan | سُؤَالٌ | Dia (lk) telah memukul | ضَرَبَ |
| Ular | حَيَّةٌ | Dia (lk) telah masuk | دَخَلَ |
| Penjual bahan makanan | بَقَّالٌ | Dia (lk) telah makan | أَكَلَ |
| Tongkat | عَصَا | Dia (lk) telah mencuci | غَسَلَ |
| Kopi | قَهْوَةٌ | Dia (lk) telah membunuh | قَتَلَ |
| Toko ; (j) دَكَاكِينُ | دُكَّانٌ | Roti | خُبْزٌ |
| Papan tulis | سَبُّورَةٌ | Baik | جَيِّدًا |
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
-
ذَهَبْتِ 'anda (pr) telah pergi' (dzahab-ti)
-
Bilangan dari 11 sampai 20 dengan ma'dud muannats: Kita telah mempelajari bilangan ini dengan ma'dud mudzakar dalam Pelajaran 3. Kaidah mengenai bilangan-bilangan ini dengan ma'dud muannats telah disebutkan disana.
Sebagai ringkasannya:
(a) 11 dan 12: kedua bagian bilangan sesuai dengan jenis ma'dud, contoh:
أَحَدَ عَشَرَ طَالِبًا إِحْدَى عَشْرَةَ طَالِبَةً
إِثْنَا عَشَرَ طَالِبًا إِثْنَتَا عَشْرَةَ طَالِبَةً
Perhatikan bahwa شَ berharakat fathah dalam عَشَرَ, dan sukun dalam عَشْرَةَ.
(b) 13 sampai 19: pada bilangan-bilangan ini, bagian kedua sejenis dengan ma'dud dan bagian pertama tidak sejenis, contoh:
ثَلَاثَةَ عَشَرَ طَالِبًا ثَلَاثَ عَشْرَةَ طَالِبَةً
ثَمَانِيَةَ عَشَرَ طَالِبًا ثَمَانِيَ عَشْرَةَ طَالِبَةً
Dalam ثَمَانِيَ kata ثَمَانِيَ berharakat sukun.
- أَيُّ 'yang mana?': Kita telah mempelajari kata ini dalam Buku 1. Kata ini selalu berupa mudhaf dan kata yang mengikutinya berbentuk majrur karena berfungsi sebagai mudhaf iliahi, contoh:
'Pelajar mana yang telah keluar?' أَيُّ طَالِبٍ خَرَجَ ؟
'Buku apa yang telah engkau baca?' أَيَّ كِتَابٍ قَرَأْتَ ؟
'Pulpen yang mana yang telah engkau pakai menulis?' بِأَيِّ قَلَمٍ كَتَبْتَ ؟
Perhatikan bahwa kata أَيُّ adalah marfu' pada kalimat pertama karena menempati kedudukan mubtada, dan mansub pada kalimat kedua karena berfungsi sebagai maf'ul bihi, dan majrur di kalimat ketika karena diikuti oleh kata depan بِـ.
- أَظُنُّ 'Saya kira': أَظُنُّ أَنَّهَا ذَهَبَتْ إِلَى مَكَّةَ 'Saya kira dia (pr) telah pergi ke Mekkah'. أَنَّ adalah saudara إِنَّ dan karena itu isimnya berbentuk manshub dan khabar-nya marfu'. Contoh:
| 'Saya kira Hamid sakit'. | أَظُنُّ أَنَّ حَامِدًا مَرِيضٌ |
|---|---|
| 'Saya kira imam (itu) baru'. | أَظُنُّ أَنَّ الْإِمَامَ جَدِيدٌ |
| 'Saya kira Fatimah tidak hadir'. | أَظُنُّ أَنَّ فَاطِمَةَ غَائِبَةٌ |
| 'Saya kira kamu lelah'. | أَظُنُّ أَنَّكَ مُتْعَبٌ |
-
قَالَ : إِنَّكَ أَحْسَنُ طَالِبٍ فِي الْفَصْلِ 'Dia (lk) berkata: "Anda adalah siswa terbaik di kelas." Perhatikan, setelah قَالَ digunakan partikel إِنَّ dan bukan أَنَّ .
-
لِمَ 'mengapa?': Jika ia berdiri sendiri 'h' ditambahkan kepadanya: لِمَهْ؟ Ini disebut هَاءُ السَّكْتِ.
-
Kita telah belajar dalam Buku 1 beberapa contoh kata sifat yang berakhiran '-ân', contoh: جَوْعَانُ ، عَطْشَانُ ، غَضْبَانُ . Bentuk muannats dari kata sifat jenis ini berpola فَعْلَى . Dan bentuk jamak untuk mudzakar dan muannats mengikuti pola فِعَالٌ . Contoh:
| بِلَالٌ جَوْعَانُ | الرِّجَالُ جِيَاعٌ |
|---|---|
| آمِنَةُ جَوْعَى | النِّسَاءُ جِيَاعٌ |
-
خُذْ 'ambil!': Anda akan mempelajari bentuk perintah dari kata kerja pada pelajaran 14.
-
فَفَرِحَ بِيَ الْمُدَرِّسُ كَثِيرًا "Maka guru sangat senang denganku". Disini فَ berarti 'maka' dan بِيَ berarti 'denganku'.
Perhatikan:
| "Saya senang denganmu" | فَرِحْتُ بِكَ ؟ |
|---|
"Mereka senang dengan kita" فَرِحُوا بِنَا ؟
"Apakah kamu senang dengannya?" أَفَرِحْتَ بِهِ ؟
- Perhatikan, ذَهَبْتَ dapat dibaca empat cara dengan arti yang berbeda.
(a) ذَهَبَتْ 'dia (pr) telah pergi' (dzahab-at)
(b) ذَهَبْتَ 'anda (lk) telah pergi' (dzahab-ta)
(c) ذَهَبْتِ 'anda (pr) telah pergi' (dzahab-ti)
(d) ذَهَبْتُ 'saya telah pergi' (dzahab-tu)
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Berilah tanda (√) untuk pernyataan yang benar dan (x) untuk pernyataan yang salah.
- Jawablah pertanyaan berikut. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berdasarkan (bacaan) dalam pelajaran ini.
- Gantilah fa'il dalam kalimat berikut ke dalam bentuk muannats.
- Bunyikanlah (vokal) ت pada kalimat berikut.
- Pelajarilah yang berikut.
- Pelajarilah penggunaan نَعَمْ dan بَلَى.
- Isilah bagian yang kosong dengan pertanyaan yang sesuai dengan jawaban.
- Jawablah pertanyaan berikut menggunakan dhamir nashab sebagaimana yang dijelaskan dalam contoh.
- Lengkapilah kalimat berikut dengan menggunakan أَنَّ sebagaimana yang dijelaskan dalam contoh.
- Pelajarilah bilangan 11 sampai 20 dengan ma'dud muannats.
- Bacalah kalimat-kalimat berikut dan kemudian tulislah dengan mengganti angka dengan kata.
- Hitunglah dari 11 sampai 20 dengan setiap kata berikut sebagai ma'dud.
- Tulislah kembali kalimat berikut sebagaimana yang dijelaskan dalam contoh.
- Pelajarilah penggunaan هَاءُ السَّكْتِ
http://www.raudhatulmuhibbin.org 23
-
Tulislah bentuk majrur dan manshub dari kata-kata berikut. Perhatikan bahwa kata yang berakhiran ة tidak ditambahkan alif pada bentuk manshub sedangkan kata yang berakhiran selain itu ditambahkan alif.
-
Pelajarilah yang berikut.
18 Tulislah lima ayat pertama dalat surat-surat berikut: الرَّحْمَن ، الحديد ، النَّبَأ
| Majalah | مَجَلَّةٌ | Dia (lk) telah menyetrika | كَوَى |
|---|---|---|---|
| Apartemen | عِمَارَةٌ | Saya telah memahaminya dengan baik | فَهِمْتُهُ جَيِّدًا |
| Surat | سُورَةٌ | Semoga Allah menambahkan ilmu bagimu | زَادَكَ اللهُ عِلْمًا |
| kamar | شَقَّةٌ | Secara harafiah berarti 'apa yang Allah kehendaki' ungkapan takjub. | مَاشَاءَ اللهُ |
| Gigi | سِنٌّ | Penumpang bus, kereta api, pesawat, dll | رَاكِبٌ |
| kata | كَلِمَةٌ | Dia (lk) telah senang | فَرِحَ |
| Wahai anakku | يَا بُنَيَّ | Pembantu (pr) | خَادِمَةٌ |
| Senang | مَسْرُورٌ | Dia (lk) telah datang | جَاءَ |
| Hanya | فَقَطْ |
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- ذَهَبْتُمْ dzahab-tum 'kalian (lk) telah pergi', أَكَلْتُمْ 'kalian telah makan':
مَاذَا أَكَلْتُمْ يَا إِخْوَانُ ؟
'Apa yang telah kalian makan wahai saudaraku?'
- ذَهَبْتُنَّ dzahab-tunna 'kalian (pr) pergi'. قَرَأْتُنَّ 'kalian membaca'
أَقَرَأْتُنَّ هَذِهِ الْمَجَلَّةَ يَا أَخَوَاتُ ؟ 'Apakah kalian telah membaca majalah ini, sadariku?'
- ذَهَبْنَا dzahab-nâ 'kami telah pergi'. سَمِعْنَا 'kami telah mendengar':
مَا سَمِعْنَا الْأَذَانَ
'Kami tidak mendengar adzan'.
- رَأَيْتُمُوهُ 'kalian melihatnya'. Kita katakan:
Ra'aitu-hu 'Saya telah melihatnya'. رَأَيْتُهُ
Ra'aita-hu 'Anda telah melihatnya'. رَأَيْتَهُ
Ra'aiti-hi 'Anda (pr) telah melihatnya'. رَأَيْتِهِ
Perhatikan, dalam contoh terakhir dhamir هُ (hû)<sup>6</sup> berubah menjadi هِ (hi). Perubahan ini untuk menyesuaikan vokal. Kombinasi 'ti-hi' terdengan lebih baik daripada 'ti-ha'. Berikut beberapa contoh dari perubahan yang serupa.
بَيْتُهُ baitu-hu, tetapi فِي بَيْتِهِ baiti-hi (untuk fi bait-i-hu)
مِنْهُ min-hu, tetapi فِيهِ fi-hi
Sebagaimana yang anda lihat dalam contoh-contoh ini, dhamir nashab (kata ganti berkedudukan sebagai objek<sup>pent.</sup>) langsung ditambahkan pada kata kerja. Namun pada
<sup>6</sup> Dhammah dari هُ dibaca panjang apabila didahului oleh huruf vokal yang pendek, contoh: لَهُ (la-hû), رَأَيْتُهُ ' ra-aitu-hû. Dan dibaca pendek apabila didahului oleh huruf konsonan atau vokal panjang. Contoh: مِنْهُ min-hu, كَتَبُهُ katabu-hu. Kaidah ini juga berlaku terhadap ـهِ hi. Contoh: بِهِ bi-hi, فِيهِ fi-hi.
kasus kata kerja dengan dhamir mukhaâthab (kata ganti orang kedua) jamak mudzakar seperti رَأَيْتُمْ, 'waw' harus ditambahkan diantara kata kerja dan dhamir. Contoh:
"Kalian telah melihatnya" (ra'aitum-û-hu). رَأَيْتُمُوهُ
"Kalian telah melihat mereka" رَأَيْتُمُوهُمْ
"Kalian telah melihatnya (pr)" رَأَيْتُمُوهَا
"Kalian telah melihat mereka (pr)" رَأَيْتُمُوهُنَّ
Berikut beberapa contoh tambahan:
| غَسَلْتُمْ + هُ | 🡪 | غَسَلْتُمُوهُ | "Kalian telah mencucinya" |
|---|---|---|---|
| قَتَلْتُمْ + هُ | 🡪 | قَتَلْتُمُوهُ | "Kalian telah membunuhnya" |
| سَأَلْتُمْ + هَا | 🡪 | سَأَلْتُمُوهَا | "Kalian telah menanyainya" |
- كَانَ 'dia (lk) (di waktu yang lalu)'<sup>7</sup>. Digunakan dalam jumah ismiyah. Contoh:
| بِلَالٌ فِي الْفَصْلِ<br/>Bilal (berada) di dalam kelas. | كَانَ بِلَالٌ فِي الْفَصْلِ<br/>Bilal (di waktu yang lalu) ada di dalam kelas |
|---|---|
| الْمُدَرِّسُ فِي الْمَكْتَبَةِ<br/>Guru (berada) di dalam perpustakaan | كَانَ الْمُدَرِّسُ فِي الْفَصْلِ<br/>Guru (di waktu yang lalu) ada di perpustakaan |
| الْقَلَمُ تَحْتَ الْكِتَابِ<br/>Pulpen ada di bawah buku | كَانَ الْقَلَمُ تَحْتَ الْكِتَابِ<br/>Pulpen (di waktu dulu) ada di bawah buku |
| زَيْنَبُ فِي الْمَطْبَخِ<br/>Zainab ada di dapur | كَانَتْ زَيْنَبُ فِي الْمَطْبَخِ<br/>Zainab (di waktu yang lalu) ada di dapur |
Anda akan melihat disini khabar dalam setiap contoh adalah anak kalimat:
<sup>7</sup> كَانَ digunakan untuk menyatakan sesuatu yang telah berlangsung di waktu yang lampau. Dalam buku versi berbahasa Inggris, keduanya dibedakan dengan to be dimana dalam kalimat nominal untuk present tense digunakan is, sedangkan untuk kalimat nominal past tense digunakan was.
في المكتبة ، في المطبخ ، تحت الكتاب Tidak ada perubahan yang terjadi pada anak kalimat setelah penambahan كَانَ. Tetapi jika khabar adalah isim maka bentuknya adalah manshub setelah penambahan كَانَ. Contoh:
كَانَ بِلَالٌ مَرِيضًا → بِلَالٌ مَرِيضٌ "Bilal sakit"
Kita akan mempelajarinya pada Pelajaran 25, Insya Allah.
- Perhatikan yang berikut:
| 'Seorang laki-laki berjanggut' | رَجُلٌ ذُو لِحْيَةٍ |
|---|---|
| 'Laki-laki yang berjanggut (itu)' | الرَّجُلُ ذُو اللِّحْيَةِ |
Pada contoh pertama ذُو mensifati isim nakirah, dan dalam contoh kedua isim ma'rifah الرَّجُلُ. Kita mengetahui bahwa kata sifat dari isim ma'rifah juga berbentuk ma'rifah. Namun ذُو adalah mudhaf dan tidak dapat dimasuki ال.<sup>8</sup> Maka hal ini diatasi dengan membuat mudhaf ilaihi menjadi ma'rifah dengan menambahkan ال. Maka dalam رَجُلٌ ذُو لِحْيَةٍ mudhaf ilaihi tetap nakirah dan dalam الرَّجُلُ ذُو اللِّحْيَةِ menjadi ma'rifah (اللِّحْيَةِ). Berikut ini beberapa contoh tambahan:
| Saya mempunyai sebuah buku dengan<br/>sampul yang indah<br/>Buku dengan sampul yang indah (itu)<br/>mahal<br/>Di desa kami terdapat masjid dengan<br/>satu menara<br/>Mesjid dengan satu menara (itu) tua. | عِنْدِي كِتَابٌ ذُو غِلَافٍ جَمِيلٍ<br/>الكِتَابُ ذُو الغِلَافِ الجَمِيلِ غَالٍ<br/>فِي قَرْيَتِنَا مَسْجِدٌ ذُو مَنَارَةٍ وَاحِدَةٍ<br/>المَسْجِدُ ذُو المَنَارَةِ الوَاحِدَةِ قَدِيمٌ |
|---|
- Huruf mim dalam أَنْتُمْ ، كِتَابُكُمْ ، هُمْ ، كِتَابُهُمْ ، ذَهَبْتُمْ berharakat sukun. Dan sukun ini berubah menjadi dhamma ketika diikuti oleh hamzat al-wasl. Contoh:
<sup>8</sup> Lihat Panduan 1 Pelajaran 5, hal 14..
[Logo image with Arabic text]
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
| بَيْتُكُمْ | → | بَيْتُكُمُ الْجَدِيدُ | (bait-u-kum-u-l-jadîd-u) | | رَأَيْتُمْ | → | رَأَيْتُمُ الإِمَامَ | (a ra'aitum-u-l-imâm-a) | | كِتَابُهُمْ | → | كِتَابُهُمُ الْقَدِيمُ | (kitâb-u-hum-u-l-qadîm-u) | | سَأَلْتُمْ | → | أَسَأَلْتُمْ ابْنَهُ | (a sa'altum-u-bna-hu) |
-
أَبْشِرْ : Secara harafiah berarti 'bergembiralah atas kabar baik'. Hal ini dikatakan dalam menjawab permintaan dan menunjukkan "Jangan khawatir. Anda akan mendapatkan yang anda inginkan.'
-
ثُلُثٌ 'sepertiga': Pecahan sepertiga, seperempat, seperlima dan seterusnya sampai sepersepuluh dibentuk dari pola فُعُلٌ. Dhammah pada huruf keduaع sebagian besar dihilangkan. Namun demikian, ثُلُثٌ dan سُدُسٌ tetap memilikinya.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Berilah tanda (√) untuk pernyataan yang benar dan (x) untuk pernyataan yang salah.
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut. Pertanyaan ini tidak berhubungan dengan pelajaran ini.
- Gantilah Fa'il dalam setiap kalimat berikut ke dalam bentuk muannats.
- Isilah bagian yang kosong dari setiap kalimat berikut dengan bentuk fi'il yang benar.
- Tulislah kembali kalimat berikut menggunakan كَانَ sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Bacalah contoh dan kemudian bacalah kalimat berikut dengan memberi perhatian khusus pada sukun yang diikuti oleh hamazat-al-wasl.
- Pelajarilah penggunaan dhamir nashab.
- Bacalah contoh-contoh dan kemudian isilah bagian yang kosong dengan ذُو.
- Pelajarilah penggunaan ذَاتٌ.
- Buatlah kalimat dengan setiap kelompok kata berikut dengan menggunakan أَ dan أَمْ
- Pelajarilah bilangan pecahan.
- Gunakanlah setiap kata berikut di dalam kalimat.
| sapu | مِكْنَسَةٌ | minggu lalu | الأُسْبُوعَ الْمَاضِي |
|---|---|---|---|
| kaca mata | نَظَّارَةٌ | menara | مَنَارَةٌ |
| gambar | صُوْرَةٌ | janggut | لِحْيَةٌ |
| sabun | صَابُوْنٌ | tinggi, (suara) keras<br/>(pr: عَالِيَةٌ ) | عَالٍ |
| jus | عَصِيْرٌ | berwarna | مُلَوَّنٌ |
| sepak bola | كُرَةُ الْقَدَمِ | pagi | صَبَاحٌ |
| tangga | سُلَّمٌ | setengah | نِصْفٌ |
| roda | عَجَلَةٌ | dia (lk) telah<br/>berjalan | مَشَى |
| radio | إِذَاعَةٌ | dia (lk) telah<br/>mengambil | أَخَذَ |
| tadi malam | الْبَارِحَةَ | dia (lk) telah<br/>meletakkan | وَضَعَ |
| jeruk orange | بُرْتُقَالٌ | dia (lk) telah<br/>menemukan | وَجَدَ |
| Bola basket | كُرَةُ السَّلَّةِ | dia (lk) telah<br/>mencari | بَحَثَ عَنْ |
Bab ini adalah pengulangan pelajaran. Disini kita melihat kembali mâdi dengan isnad semua dhamir kecuali bentuk mutsanna (dual). Isnad untuk dhamir mutsanna akan dibahas secara lengkap dalam pelajaran 30.
🖎 Latihan:
- Isilah bagian yang kosong pada kalimat berikut dengan fi'il madhi ذَهَبَ dengan isnad yang benar.
- Isilah bagian yang kosong dengan fi'il madhi yang sesuai.
- Pelajarilah isnad fi'il madhi.
- Berilah garis bawah pada fa'il yang berikut.
- Pelajarlah dhamir yang tidak terpisahkan, yang melekat pada madhi.
- Pelajarilah fi'il madhi dengan isnad dhamir mustatir.
Pada bagian ini, kita mempelajari yang berikut:
- Akhiran nashab untuk jamak muannats.: Sebelumnya kita telah mempelajari bahwa akhiran normal manshub dari sebuah kata benda adalah '-a', contoh:
إِنَّ الْبَيْتَ جَدِيدٌ
قَرَأْتُ الْكِتَابَ
Sekarang kita mempelajari bahwa akhiran manshub dari isim jamak muannats adalah '-i' dan bukannya '-a'. Contoh:
'Saya melihat anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan.' وَرَأَيْتُ الْأَبْنَاءَ وَالْبَنَاتِ
Dalam kalimat ini, keduanya الْأَبْنَاءَ dan الْبَنَاتِ adalah objek dari fi'il رَأَيْتُ, dan karena
keudanya berada dalam keadaan manshub. Kata الْأَبْنَاءَ memiliki akhiran yang biasa '-a'
tetapi kata الْبَنَاتِ memiliki akhiran '-i' karena bunyi akhiran jamak muannats dalam '-ât'. Berikut beberapa contoh tambahan:
'Allah menciptakan langit dan bumi. خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
(as-samâwât-i wa l-ardh-a)
'Saya telah membaca buku-buku, surat kabar- قَرَأْتُ الْكُتُبَ، وَ الصُّحُفَ، وَ
الْمَجَلَّاتِ
-surat kabar dan majalah-majalah (al-kutub-a wa as-suhuf-a wa –l-majallât-i) Ingat bahwa akhiran untuk keadaan manshub dan majrur sama untuk beenrtuk jamak muannats. Contoh:
'Sesungguhnya para siswi ada di dalam bus-bus'. إِنَّ الطَّالِبَاتِ فِي الْحَافِلَاتِ
Disini الطَّالِبَاتِ adalah manshub karena إِنَّ dan الْحَافِلَاتِ majrur karena kata depan فِي, tetapi keduanya memiliki akhiran '-i'.
- Kita telah mempelajari bahwa رَأَيْتُكَ berarti 'Saya telah melihatmu' dan رَأَيْتُهُ 'Saya telah melihatnya'. Sekarang kita mempelajari penggunaan dhamir mutakallim (kata ganti orang pertama) 'ku'. Perhatikan yang berikut:
'Engkau telah melihatku'. رَأَيْتَنِي
'Allah telah menciptakanku'. خَلَقَنِي اللهُ
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
'Guru telah menanyaiku'. مُعَلِّمِي الْمُدَرِّسُ
Dhamir mutakallim hanya berupa akhiran '-i', tetapi '-n' ditambahkan diantara fi'il dan dhamir '-i' sehingga vokal akhir dari fi'il tidak dipengaruhi karena adanya '-i'.
Sebagaimana yang anda ketahui 'engkau telah melihat' adalah رَأَيْتَ (ra'aita) untuk mudzakar dan رَأَيْتِ (ra'aiti) untuk muannats. Jika kita katakan 'ra'aita-i' atau 'ra'aiti-i' sistem phonetic Bahasa Arab membutuhkan penghilangan vokal 'a' atau 'i' sebelum dhamir '-i'. Maka fi'il pada kedua keadaan itu akan menjadi 'ra'ait-i' dan perbedaan diantara mudzakar dan muannats akan hilang. Inilah sebabnya mengapa '-n' ditambahkan antara fi'il dan dhamir '-i' (ra'aita-n-i, ra'aiti-n-i). Nûn ini disebut nûn pelindung نُونُ الْوِقَايَةِ karena ia melindungi penghilangan vokal terakhir dari fi'il.
- Bagaimana berkata dalam Bahasa Arab "Alangkah (/betapa) indah mobil ini!" Hal ini diekspresikan dalam Bahasa Arab dengan: مَا أَجْمَلَ هَذِهِ السَّيَّارَةَ!. Ini disebut فِعْلُ التَّعَجُّبِ (kata kerja takjub) dan memiliki bentuk مَا أَفْعَلَهُ. Seseorang dapat mengatakan dhamir هُ atau dhamir lainnya dalam bentuk manshub, atau menggantinya dengan isim dalam keadaan manshub. Contoh:
"Alangkah baiknya anda!" مَا أَطْيَبَكَ!
"Alangkah miskinnya dia (pr)!" مَا أَفْقَرَهَا!
"Alangkah banyak bintang-bintang (itu)!" مَا أَكْثَرَ النُّجُومَ!
"Alangkah mudahnya pelajaran ini!" مَا أَسْهَلَ هَذَا الدَّرْسَ!
- Kita telah belajar dalam Buku 1 bahwa isim setelah يَا hanya berharakat satu dhammah. Contoh: يَا حَامِدُ!، يَا بِلَالُ!، يَا أُسْتَاذُ!، يَا وَلَدُ. Sekarang, jika isim setelah يَا adalah mudhaf, maka berubah menjadi manshub. Contoh:
"Wahai puteri Bilal!" يَا بِنْتَ بِلَالٍ!
"Wahai saudari Muhammad!" يَا أُخْتَ مُحَمَّدٍ!
"Wahai anak saudaraku!" يَا ابْنَ أَخِي!
"Wahai Tuhan Ka'bah!" يَا رَبَّ الْكَعْبَةِ!
"Wahai hamba Allah!" يَا عَبْدَ اللهِ!
Panduan Durusul Lughah al-Arabiyyah - 2
"Wahai Abu Bakar!" يَا أَبَا بَكْرٍ! (perhatikan bentuk manshub dari أَبُو adalah أَبَا)
"Wahai Tuhan kami!" يَا رَبَّنَا!
- Kita telah belajar dalam Buku 1 bahwa isim setelah كَمْ (berapa banyak) adalah mufrad (tungga) dan manshub. Tetapi apabila kata كَمْ didahului oleh kata depan, isim yang mengikutinya dapat berupa manshub atau majrur. Contoh:
"Betapa riyal yang engkau punya?" كَمْ رِيَالًا عِنْدَكَ؟
"Berapa riyal harganya?" بِكَمْ رِيَالٍ / رِيَالَ هَذَا؟
Disini keduanya رِيَالًا dan رِيَالٍ dibolehkan karena kata depan بِـ. Dalam kasus yang sama kita dapat mengatakan فِي كَمْ يَوْمًا / يَوْمٍ؟ 'dalam berapa hari?'
- Ketika kata tanya (adawat al-istihfam) مَا diikuti oleh kata depan, maka huruf alif dibuang. Contoh:
بِـ + مَا → بِمَ 'dengan apa?'
لِـ + مَا → لِمَ 'untuk apa?' 'mengapa?'
مِنْ + مَا → مِمَّ 'dari apa?' Perhatikan bahwa nun dari مِنْ telah terasmiliasi kepada mim dari مَا (min +ma → mimma)
عَنْ + مَا → عَمَّ 'tentang apa?' Perhatikan bahwa nun dari telah terasimilasi kepada min مَا ('an + ma → 'amma)
- Kita telah mempelajari isim maushul (kata sambung) الَّذِي (mudzakar mufrad) dan الَّتِي (muannats mufrad). Sekarang kita mempelajari bentuk jamak. Bentuk jamak dari الَّذِي adalah الَّذِينَ dan الَّتِي adalah اللَّاتِي. Berikut beberapa contoh:
Mufrad Mudzakkar الرَّجُلُ الَّذِي خَرَجَ مِنْ مَكْتَبِ الْمُدِيرِ مُدَرِّسٌ جَدِيدٌ
'Laki-laki yang <ins>telah</ins> keluar dari kantor kepala sekolah adalah guru baru'.
Jamak Mudzakar الرِّجَالُ الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ مَكْتَبِ الْمُدِيرِ مُدَرِّسُونَ جُدَدٌ
'Para lelaki yang <ins>telah</ins> keluar dari kantor kepala sekolah adalah guru-guru baru.'
Mufrad Muannats الطَّالِبَةُ الَّتِي جَلَسَتْ أَمَامَ الْمُدَرِّسَةِ بِنْتُ الْمُدِيرَةِ
'Siswi yang telah duduk di depan bu guru adalah anak Ibu kepala sekolah)'
Jamak Muannats
الطَّالِبَاتُ اللَّاتِي جَلَسْنَ أَمَامَ الْمُدَرِّسَةِ بَنَاتُ الْمُدِيرَةِ
'Para siswi yang telah duduk di depan bu guru adalah anak-anak (pr) Ibu kepala sekolah'
- Kita telah mempelajari partikel أ yang mengubah pernyataan menjadi pertanyaan. Jika isim yang mengikutinya memiliki ال maka أ berubah menjadi آ. Contoh:
آلْمُدَرِّسُ قَالَ لَكَ؟ أَلْمُدَرِّسُ قَالَ لَكَ
'Apakah Pak guru telah berkata kepadamu?'
(âl-mudarris-u?)
آلْيَوْمَ رَأَيْتَهُ ☐ أَلْيَوْمَ رَأَيْتَهُ 'Apakah kamu telah melihatnya hari ini?' (âl-yaum-a?)
Tetapi:
أَهَذَا الطَّالِبُ سَأَلَكَ؟ ☐ هَذَا الطَّالِبُ سَأَلَكَ 'Apakah siswa ini telah bertanya kepadamu?' (a-hâdzâ?)
- Akiran ی yang dilafalkan alif ditulis alif ketika dhamir majrur atau manshub dipasangkan dengan kata. Contoh:
مَعْنَى 'arti' → مَعْنَاهُ 'artinya'.
كَوَى 'dia menyetrika → كَوَاهُ 'dia menyertikanya'
- الطُّلَّابُ الْجُدَدُ الْخَمْسَةُ 'siswa yang baru yang lima'. Disini, angka digunakan sebagai sifat maka ia diletakkan setelah ma'dud. Berikut beberapa contohnya:
'Kitab yang empat' الْكُتُبُ الْأَرْبَعَةُ
'Laki-laki yang sepuluh' الرِّجَالُ الْعَشَرَةُ
'Kitab hadits shahih yang enam' الصِّحَاحُ السِّتَّةُ
'Saudara perempuan yang lima' الْأَخَوَاتُ الْخَمْسُ
- أَإِلَى الْمُدِيرِ ذَهَبْتُمْ؟ : disini أَإِلَى الْمُدِيرِ ditempatkan di depan untuk memberikan penekanan. Perhatikan yang berikut:
'Saya telah melihat Bilal' رَأَيْتُ بِلَالٌ tanpa penekanan.
'Bilal lah yang telah saya lihat' بِلَالٌ رَأَيْتُ dengan penekanan.
Bentuk kalimat yang kedua digunakan pada keadaan ragu atau penolakan.
🖎 Latihan:
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Bacalah ayat dan pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Berilah tanda (√) untuk pernyataan yang benar dan (x) untuk pernyataan yang salah.
- Tulislah arti kata-kata ini ke dalam Bahasa Arab.
- Isilah bagian yang kosong dengan kata-kata yang sesuai.
- Bacalah contoh dan kemudian tulislah kembali kalimat berikut menggunakan فِعْلُ التَّعَجُّبِ.
- Bacalah kata-kata berikut dengan akhiran yang benar.
- Bacalah contoh dan kemudian bacalah kata-kata bentuk jamak muannats dengan akhiran yang benar.
- Tulislah kembali kalimat berikut menggunakan kata tanya hamzah أ.
- Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Pelajarilah yang berikut.
- Pelajarilah yang berikut.
- Tulislah kembali kalimat berikut setelah merubah kata yang digarisbawahi menjadi jamak sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Tulislah kembali kalimat berikut setelah merubah kata yang digarisbawahi menjadi jamak sebagaimana yang ditunjukkan dalam contoh.
- Gunakanlah setiap kata-kata berikut ke dalam kalimat.
🕮 <ins>Kosa-kata Baru:</ins>



