— Bagian 1 · Pengarang: —
Disusun dari indeks kitab digital SantriOnline.
Bagian 1
Pengarang:
Al Imam Al Ghazali
Penerjemah:
Achmad Sunarto
Setting & Layout:
Ika Murjayani
Design Sampul:
Team Design Sampul Mutiara Ilmu Surabaya
Penerbit:
MUTIARA ILMU
Surabaya
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Kitab Bidayatul Hidayah, begitu namanya yang terkenal telah kami terjemah ke dalam bahasa Indonesia.
Kitab ini amat penting. Menjadi dasar-dasar ilmu tasawuf yang diajarkan di Madrasah-madrasah dan Pondok-pondok Pesantren. Pelajaran wajib, ketika sang murid/santri mulai belajar. Entah sudah berapa juta dulu hingga sekarang, para ustadz yang ketika belajar dahulu membaca kitab ini.
Demikianlah, terjemahan ini kami sajikan kepada pembaca yang budiman. Semoga Allah meridlai usaha kami dan mencatatnya sebagai amal saleh. Dan kepada para pembaca yang telah sudi memberi pembetulan dan teguran, sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih, semoga Allah memberi pahala yang setimpal. Amin.
Rembang, 28 Oktober 2015
Penerjemah :
Achmad Sunarto
| Mukaddimah ....................................................................... | 3 | | Daftar isi ....................................................................... | 5 | | Pengantar Penyusun ............................................................... | 7 | | Bab 1 Mematuhi Perintah Allah ................................................... | 15 | | 1. Tata cara bangun dari tidur .................................................. | 18 | | 2. Tata cara masuk kamar kecil .................................................. | 20 | | 3. Tata cara berwudlu ........................................................... | 23 | | 4. Tata cara mandi .............................................................. | 32 | | 5. Tata cara bertayamum ......................................................... | 34 | | 6. Tata cara pergi ke masjid .................................................... | 36 | | 7. Tata cara masuk ke dalam masjid .............................................. | 38 | | 8. Amalan disepanjang siang dan malam ........................................... | 56 | | 9. Adab mempersiapkan diri untuk shalat ......................................... | 63 | | 10. Menjelang tidur ............................................................. | 69 | | 11. Adab melaksanakan shalat .................................................... | 76 | | 12. Adab imam dan makmum ........................................................ | 85 | | 13. Adab di hari Jum'at ......................................................... | 89 | | 14. Adab berpuasa ............................................................... | 95 | | Bab 2 Menjauhi Larangan ......................................................... | 100 | | A. Menjauhi larangan secara lahiriyah ........................................... | 100 | | 1. Memelihara mata .............................................................. | 102 | | 2. Memelihara telinga ........................................................... |
| c. Ghibah (mengumpat) | 109 | | d. Debat dan banyak bicara | 112 | | e. Memuji diri | 114 | | f. Melaknat | 115 | | g. Mendoakan jelek sesama makhluk | 115 | | h. Mencela, sinis dan menghina | 116 | | 4. Memelihara Perut | 117 | | 5. Memelihara Farji (kemaluan) | 119 | | 6. Memelihara Tangan | 120 | | 7. Memelihara Kaki | 120 | | B. Menjauhi maksiat hati | 126 | | 1. Larangan Ujub, Takabur dan Fakhru | 129 | | 2. Nasehat Nabi kepada Mu'adz | 131 | | باب ˆ Pergaulan Dengan Allah Dan Sesama Makhluk | 139 | | 1. Sopan santun bermunajat kepada Allah | 139 | | 2. Sopan santun seorang yang berilmu (Guru) | 140 | | 3. Sopan santun seorang murid | 141 | | 4. Sopan santun anak kepada orang tua | 143 | | 5. Tata cara pergaulan dengan orang awam | 144 | | 6. Tata cara pergaulan dengan sahabat dekat | 144 | | a. Memilih sahabat | 144 | | b. Tata cara bersahabat | 149 | | 7. Tata cara bergaul dengan kenalan | 153 | | Penutup | 162 | | Biografi Imam Ghazali | 164 | | Biografi Penerjemah | 168 |
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ حَقَّ حَمْدِهِ وَٱلصَّلَوٰةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ رَسُولِهِ وَعَبْدِهِ وَعَلَىٰ ءَالِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ بَعْدِهِ، وَبَعْدُ.
Wahai orang yang mencintai ilmu yang dengan susah payah mencarinya! Ketahuilah:
Sesungguhnya engkau, dalam mencari ilmu, apabila berniat untuk bersaing mencari popularitas, kebanggaan atau untuk mengungguli teman-teman sebayanya dan supaya mendapat simpati dari orang banyak, maka engkau sebenarnya telah berusaha menghancurkan agamamu, merusak dirimu sendiri, dan menjual kebahagiaan akhirat dengan kesenangan dunia. Ibarat seorang pedagang, maka transaksi yang telah engkau buat itu sia-sia dan perdagangan yang engkau tangani itu tidak membawa keuntungan. Sedangkan orang yang mengajarmu (gurumu) itu dianggap membantumu melakukan kemaksiatan yang juga akan merasakan kerugian. Guru yang demikian itu laksana orang yang menjual senjata pedang kepada penjahat, Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ أَعَانَ عَلَىٰ مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كَانَ شَرِيكًا لَهُ فِيهَا.
"Barangsiapa yang menolong orang lain melakukan perbuatan maksiat, walaupun hanya dengan sepatah kata, maka orang tersebut dianggap ikut melakukan kemaksiatan bersamanya."
Bidayatul Hidayah
Selamat Bidayatul Hidayah 8
Tetapi, apabila niat dan tujuanmu dalam mencari ilmu itu untuk mencari petunjuk, bukan untuk supaya pandai berbicara atau berpidato, maka bergembiralah engkau, sebab ketika engkau berjalan para malaikat telah membeber sayapnya dan rela kau injaknya, dan ikan-ikan di laut memohonkan ampunan untukmu dari Allah swt.
Engkau terlebih dahulu harus mengetahui, bahwa hidayah yang merupakan buah ilmu itu ada permulaan (dasar) dan kesudahan (puncak)nya, ada zhahir dan ada batinnya. Engkau tidak akan dapat sampai ke puncak hidayah sebelum menapaki dasar hidayah itu sendiri dan tidak dapat pula menyelami batin atau bagian dalam hidayah sebelum engkau tuntas menyempurnakan segala aturan yang berkenan dengan zhahir hidayah.
Oleh karena itulah, dalam kitab ini saya memberikan penjelasan kepadamu mengenai Dasar Hidayat, agar engkau dapat melatih nafsumu dan menguji hatimu. Apabila engkau merasakan, bahwa hatimu cenderung kepada dasar-dasar hidayat, dirimu mau mengikutinya dan menerimanya, maka ada harapan engkau bisa sampai pada puncak hidayat dan engkau akan mampu memasuki lautan ilmu yang sangat luas. Tetapi apabila engkau merasakan, bahwa hatimu tidak tertarik untuk mengenali dasar-dasar hidayah dan engkau bermalas-malasan mengamalkannya, maka ketahuilah, bahwa kecenderunganmu mencari ilmu itu semata-mata karena dorongan nafsu. Engkau dengan demikian, telah benar-benar tunduk kepada kemauan syetan yang terkutuk yang menipumu dengan berbagai macam cara untuk menjerumuskanmu kedalam jurang kehancuran. Dalam hal ini, tujuan syetan sebenarnya adalah mendorongmu supaya engkau melakukan perbuatan jelek dengan kedok melakukan kebaikan. Engkau tentu saja tidak menyadarinya, bahkan engkau merasa berbuat baik. Dengan demikian, syetan berhasil menipu kamu dan
berhasil pula menjadikanmu golongan orang yang amal perbuatannya sia-sia, orang yang amal perbuatannya salah, tetapi menganggapnya benar dan baik. Allah berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا. (الكهف: ١٠٣-١٠٤)
"Katakanlah hai Muhammad! Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi (sia-sia) amal perbuatannya? Mereka itu adalah orang-orang yang telah sesat perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al Kahfi: 103)
Ketika itu syetan selalu membisikan kepadamu tentang keutamaan ilmu dan derajat orang-orang yang berilmu. Dia bahkan mengingatkan kamu riwayat-riwayat dan hadits-hadits tentang keutamaan mencari ilmu, tetapi dia berusaha melupakanmu akan hadits Rasulullah saw.:
مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا.
"Barangsiapa yang bertambah ilmunya, tetapi amal baiknya tidak bertambah, maka dia semakin jauh dari rahmat Allah swt."
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ.
Menyucikan Hidayah
Hikmah
"Orang-orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat nanti ialah orang alim (pandai) tetapi ilmunya tidak diberi kemanfaatan oleh Allah."
Sebab itulah Rasulullah saw. selalu berdoa:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ، وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', amal perbuatan yang tidak diterima dan doa yang tidak dikabulkan."
Syetan juga berupaya melupakan kamu akan hadits Rasulullah saw.:
مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ فَقُلْتُ مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوْا كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلَا نَأْتِيْهِ وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَنَأْتِيْهِ.
"Pada malam aku diisra'kan, aku telah bertemu dengan sekelompok orang yang lidah mereka dipotong-potong dengan gunting api, aku lalu bertanya, siapakah kalian ini?" Mereka menjawab: "Kami adalah orang-orang yang suka mengajarkan atau memerintahkan orang-orang supaya berbuat baik, tetapi kami sendiri tidak melakukannya, dan kami melarang orang-orang berbuat kejahatan, tetapi kami mengerjakannya."
Oleh karena itu, berhati-hatilah engkau terhadap tipu daya syetan, dan janganlah engkau terperangkap oleh tipunya, yang
kadang-kadang dengan membisikan ajaran agama.
Celakalah orang yang bodoh, karena tidak mau mencari ilmu, dan lebih celaka lagi adalah orang yang berilmu, tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya.
Kemudian ketahuilah, bahwa orang yang mencari ilmu itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu:
Pertama, orang mencari ilmu dengan niat untuk bekal akhirat, hanya ingin mendapat ridha Allah swt. dan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Orang yang mencari ilmu dengan niat yang demikian ini termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
Kedua, orang mencari ilmu dengan niat untuk kepentingan duniawi, untuk memperoleh kemuliaan, kedudukan dan l.arta, padahal dia telah menyadari dan merasa didalam hati kecilnya akan kejelekan niatnya dan kehinaan maksudnya, maka orang yang demikian itu termasuk golongan orang-orang yang sedang dalam keadaan bahaya.
Apabila dia mati sebelum bertaubat, maka dikhawatirkan mati su'ul khatimah dan persoalannya tersebut kepada Allah swt. Tetapi kalau dia mendapatkan petunjuk dari Allah swt., hingga mau bertaubat sebelum datang ajalnya dan mengamalkan ilmu yang diperolehnya serta meluruskan atau membetulkan perbuatan-perbuatan jahat yang telah terlanjur dia lakukan, maka dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung; karena taubatnya. Sebab orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa.
Ketiga, orang yang telah dikuasai oleh syetan, yaitu orang yang mencari ilmu semata-mata untuk kepentingan hawa nafsunya. Dia menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai alat mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, mengejar kebanggaan diri dengan pangkat, kedudukan dan pengaruh. Dia
ovain Hidayah
Seruan Hidayahmenggunakan ilmunya itu untuk memenuhi kebutuhan materinya. Meskipun demikian, dia karena perdaya syetan masih merasa baik, dan mengaku mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt. karena menyerupai para ulama. Berpakaian seperti pakaian ulama sungguhan dan berkata seperti mereka, padahal dia sangat rakus terhadap dunia. Orang yang demikian itu termasuk golongan yang binasa, bodoh dan tertipu oleh syetan dan kecil sekali kemungkinannya mau bertaubat, sebab dia telah merasa menjadi orang yang baik. Dia telah lupa akan firman Allah swt.:
يَايُّهَا الَّذِينَ عَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَالَا تَفْعَلُونَ.
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As Shaf: 2)
Orang yang ketiga ini tergolong orang-orang yang telah disinggung oleh Rasulullah saw. dalam haditsnya:
أَنَا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ:
فَقِيلَ: مَا هُوَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: عُلَمَاءُ السُّوءِ.
"Ada sekelompok orang selain Dajjal, yang paling aku takutkan atas kalian semua, kekhawatiran ini lebih dari kekhawatiranku terhadap Dajjal." Lalu ada salah seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: "Siapakah mereka itu ya Rasulullah?" Beliau lalu menjawab: "Mereka itu adalah ulama-ulama jahat."
Beliau bersabda yang demikian ini, karena tujuan dajjal sudah jelas, yaitu menyesatkan manusia, sedangkan para ulama jelek menganjurkan orang-orang yang berpaling dari kecintaan kepada dunia dengan ucapannya yang manis, tetapi mereka itu sebenarnya mendorong orang-orang mencintai dunia dengan sikap dan tingkah
laku serta keadaan sehari-harinya yang hidup mewah. Dalam pepatah disebutkan:
لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ.
"Ingatlah bahwa tingkah laku seseorang itu lebih berkesan daripada ucapannya."
Dan memenang tabiat manusia pada umumnya itu lebih mudah tertarik dan meniru perbuatan seseorang daripada mengikuti ucapannya. Akibatnya, kerusakan yang disebabkan oleh tingkah laku dan perbuatan ulama jelek itu lebih banyak daripada kebaikan yang dianjurkan melalui ucapannya.
Orang yang bodoh sebenarnya belum berani menumpuk harta kekayaan, kecuali setelah mereka melihat keberanian ulama jelek yang juga menumpuk kekayaan. Ini adalah akibat ulama yang tidak mempraktekkan ilmunya, sehingga menyebabkan orang-orang berani melakukan berbagai kemaksiatan. Hal seperti inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah saw.
Tragisnya, nafsu para ulama jelek ini masih saja terus memberi harapan-harapan, membisikkan kepada mereka, bahwa mereka banyak memberikan jasa kepada umat manusia, sehingga layak mendapat anugerah dari Allah swt. bahkan mereka mengaku sebagai hamba-hamba Allah yang baik.
Wahai para penuntut ilmu! Usahakanlah dirimu termasuk golongan yang pertama. Hati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk golongan yang kedua, karena banyak sekali orang uang lalai yang telah menemui ajalnya sebelum bertaubat, sehingga rugilah dia. Dan usahakanlah semaksimal mungkin tidak menjadi golongan ketiga yang menyebabkan engkau terjerumus kejurang kebinasaan yang sulit diselamatkan dan tidak dapat diharapkan
Permulaan Hidayah14
kebahagiaannya di hari kemudian.
Jika engkau bertanya, apa yang dimaksud dengan Permulaan Hidayah dan Akhir Hidayah?
Ketahuilah, bahwa permulaan hidayah ialah ketaqwaan secara lahiriyyah. Sedangkan akhir hidayah ialah ketaqwaan secara batiniyyah. Dan ketahuilah bahwa tidak akan ada seseoeang yang dapat mencapai kebaikan (surga), kecuali dengan taqwa, dan petunjuk ini hanya dimiliki orang-orang yang bertaqwa. Adapun arti taqwa itu ialah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Salam buku ini saya uraikan dua unsur taqwa secara lahiriyyah dengan ringkas dan saya tambahkan satu pembahasan lagi tentang hubungan manusia dengan sesama, agar kitab ini lebih sempurna. Hanya kepada Allahlah, kami mohon pertolongan.
Penyusun
Abu Hamid Al-Ghazali
Ketahuilah, sesungguhnya perintah Allah itu ada yang wajib dan ada yang sunah. Perintah Allah yang wajib itu ibarat kapital (modal perdagangan), dengan adanya modal inilah perdagangan dapat berjalan. Maksudnya, dengan menjalankan perintah wajib inilah akan selamat, terhindar dari siksaan. Sedangkan perintah yang sunah itu ibarat keuntungan. Dengan keuntungan ini dapat diperoleh beberapa derajat kelebihan. Maksudnya dengan menjalankan perintah sunnah ini kesenangan dan kebahagiaan dapat dicapai. Rasulullah saw. bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ الْمُتَقَرِّبُونَ بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِمْ وَلَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَلِسَانَهُ الَّذِي يَنْطِقُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا.
"Allah swt. telah berfirman (dalam hadits Qudsi) orang-orang yang berusaha mendekat kepada-Ku itu tidaklah dapat berhasil kecuali dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang telah Aku wajibkan. Seorang hamba secara terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang sunah sesudah menjalankan yang wajib, pasti Aku
Catatan Berharga Hidayah
mencintainya. Apabila Aku telah mencintai salah seorang hamba-Ku, maka aku menjadi pendengarnya, penglihatannya, ucapannya, tangannya yang dibuat menyentuh dan juga kakinya yang dipakai untuk berjalan."
Wahai orang yang menuntut ilmu, engkau tidak akan dapat melaksanakan perintah-perintah Allah, kecuali dengan menyadarkan hati dan seluruh anggota tubuh disetiap saat, mulai pagi hingga sore, agar senantiasa bersama dengan Allah.
Ketahuilah, bahwa Allah swt. itu Maha mengetahui hatimu, mengawasi zhahir dan batinmu, mengetahui gerak langkahmu baik ketika bersama orang banyak maupun ketika sendirian. Pendek kata, dalam keadaan apapun, engkau selalu diawasi oleh Allah. Semua yang ada di langit dan di bumi, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak itu tidak bisa lepas dari perhatian Allah. Dia berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ.
"Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Al Mu'minun: 19)
Dan firman-Nya lagi:
فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى.
"Sesungguhnya Allah mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (QS. Thaha: 7)
Dengan demikian, maka engkau harus bisa menjaga tingkah laku zhahir dan batin dihadapan Allah swt. Merendahkan diri dihadapannya, seperti layaknya seorang hamba yang hina banyak melakukan kesalahan dihadapan raja yang gagah perkasa. Berusahalah engkau sekuat tenaga menjaga diri, sehingga Allah tidak
Terjemah Bidayatul Hidayah 17
melihatmu menjalankan perbuatan yang Dia larang dan usahakan pula engkau dapat menjalani apa yang dia kehendaki. Engkau tentu tidak akan dapat berbuat yang demikian itu, kecuali jika engkau mau membagi waktumu dan engkau susun bacaan-bacaan mulai pagi hingga sore. Oleh karena itu perhatikanlah perintah-perintah Allah swt. baik yang sunnah yang ditetapkan untukmu, mulai bangun dari tidur sampai engkau akan tidur lagi.
---=o0o=---
Tazimah Bidayatul Hidayah
Apabila engkau hendak bangun tidur, maka usahakan bangun sebelum fajar terbit. Dan jadikanlah dzikir kepada Allah baik dihati maupun dilisan sebagai kegiatan yang pertama, sesudah itu bacalah doa:
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ ٱلْمُلْكُ لِلَّهِ وَٱلْعَظَمَةُ، وَٱلسُّلْطَانُ لِلَّهِ وَٱلْعِزَّةُ وَٱلْقُدْرَةُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ. أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ ٱلْإِسْلَامِ وَعَلَى كَلِمَةِ ٱلْإِخْلَاصِ وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى مِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُتَبِّعَنَا فِي هَذَا ٱلْيَوْمِ إِلَى كُلِّ خَيْرٍ، وَنَعُوذُ بِكَ أَنْ نُجَرِّحَ فِيهِ سُوءًا أَوْ نُجَرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ. اللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا وَبِكَ أَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوتُ وَإِلَيْكَ ٱلنُّشُورُ وَنَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا ٱلْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا فِيهِ.
Terjemah Bidayatul Hidayah 19
"Segala puji milik Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan kembali. Kami telah memasuki waktu pagi dan sejak dahulu kerajaan, keagungan dan kekuasaan itu sepenuhnya milik Allah. Kami telah memasuki waktu pagi dengan tepat pada fitrah Islam, keikhlasan dan mengikuti agama Nabi Muhammad saw., agama Nabi Ibrahim pula. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu, agar engkau membangunkan kami pada hari ini dalam ke-adaan dapat melakukan segala kebaikan dan kami mohon perlindungan kepada-Mu supaya kami tidak menjalankan kejahatan. Ya Allah, kami memasuki waktu pagi dan sore karena-Mu. Kami hidup dan mati juga karena-Mu, dan kepada-Mulah kami akan dikembalikan. Kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini dan segala kebaikan sesuatu yang ada pada hari ini. Kami minta perlindungan kepada-Mu dari kejelekan hari ini dan dari kejelekan segala sesuatu yang ada pada hari ini."
Apabila engkau hendak memakai pakaian, maka hendaklah diniati untuk mematuhi perintah Allah, yaitu untuk menutup aurat. Janganlah sekaki-kali engkau memakai pakaian itu dengan niat untuk pamer kepada orang-orang, kalau ini yang terjadi, maka engkau akan menderita kerugian.
---=o0o=---
20 Terjemah Bidayatul Hidayah
Apabila engkau hendak masuk ke kamar kecil, maka dahulukan kakimu yang kiri, dan ketika keluar, maka dahulukan kaki kananmu. Janganlah engkau membawa apa saja yang terdapat tulisan nama Allah dan nama Rasulullah. Dan janganlah engkau masuk ke kamar kecil dengan kepada terbuka dan telanjang kaki atau tidak bersandal. Kemudian ketika memasukinya, maka bacalah doa:
بِسْمِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الرِّجْسِ النَّجِسِ الْخَبِيْثِ الْمُخْبِثِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.
"Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dari kotoran najis, syetan yang keji, jahat, dan suka menyuruh orang berbuat jahat, yaitu syetan yang terkutuk."
Kemudian ketika keluar bacalah doa:
غُفْرَانَكَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّيْ مَا يُؤْذِيْنِيْ وَأَبْقَى عَلَيَّ مَا يَنْفَعُنِيْ.
"Ya Allah, berikanlah ampunan-Mu kepada kami, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan segala yang mengganguku dan mengekalkan segala yang bermanfaat bagiku."
Seyogyanya engkau menyiapkan terlebih dahulu segala yang diperlukan untuk istinja' sebelum engkau buang air. Hindarilah beristinja' dengan air di tempat buang air. Engkau hendaknya menuntaskan kencing dengan cara berdehem dan melurut kemaluan bagian bawah dengan jari-jari tangan kiri.
Apabila engkau hendak buang air besar dan kecil, sedangkan engkau berada di tanah lapang, maka hendaklah mencari tempat yang jauh dari pandangan orang dan bertabirlah dengan sesuatu.
Janganlah engkau membuka aurat sebelum sampai pada tempat buang air. Dan ketika hendak buang air, janganlah menghadap kearah kiblat, matahari atau bulan dan jangan pula membelakanginya.
Janganlah engkau kencing di tempat yang sering ditempati berkumpul oleh orang-orang. Hindarilah kencing di air yang tidak mengalir, dibawah pohon yang dapat berbuah, didalam lubang, diatas tanah keras dan arah bertiupnya angin untuk menjaga percikannya. Rasulullah saw. bersabda:
$$\text{إِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ.}$$
"Sesungguhnya sebagian besar siksaan dikubur itu karena air kencing, (karena kurangnya hati-hati menjaga najis air kecing)."
Pada waktu engkau buang air besar, maka berjongkoklah dengan menjijingkan kaki sebelah kiri, dan janganlah sekali-kali engkau kencing dengan berdiri kecuali karena terpaksa.
Adapun mengenai istinja', maka berusahalah memakai alat bersuci batu lalu dibilas dengan air. Tetapi apabila engkau mau menggunakan salah satunya, maka lebih baik memakai air. Jika memilih memakai batu, maka pakailah batu sebanyak tiga yang suci dan dapat mengusap kotoran. Gosokkan batu pada tempat keluarnya kotoran sebanyak tiga kali. Dan jika dengan tiga butir batu belum juga bersih, maka gunakanlah lima sampai tujuh batu atau berapa saja sampai benar-benar bersih dan suci. Jumlah batu itu disunatkan ganjil. Membersihkan atau
mensucikan tempat keluarnya kotoran itu hukumnya wajib. Ketika istinja' harus menggunakan tangan kiri, sesudah itu bacalah doa:
اَللّٰهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الْفَوَاحِشِ.
"Ya Allah, sucikanlah hatiku dari sifat munafiq dan peliharalah kemaluanku dari perbuatan jelek."
Apabila engkau telah selesai beristinja', maka bersihkanlah tanganmu dengan menggunakan pasir atau sabun, lalu basuhlah dengan air agar benar-benar bersih.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Apabila engkau telah selesai istinja' (cebok), maka janganlah meninggalkan bersiwak; sebab bersiwak itu dapat membersihkan mulut, menyenangkan Allah dan membencikan syetan. Satu kali shalat dengan bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh kali shalat tanpa bersiwak. Rasulullah saw. bersabda:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ وَمَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ وَمَسْخَطَةٌ لِلشَّيْطَانِ.
"Siwak itu menyucikan mulut, menyebabkan turunnya ridha Allah dan menyebabkan syetan marah-marah."
صَلاَةٌ بِسِوَاكٍ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِينَ صَلاَةً بِلاَ سِوَاكٍ.
"Satu kali shalat dengan bersiwak itu lebih utama daripada tujuh puluh kali shalat tanpa bersiwak."
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ فِي كُلِّ صَلاَةٍ.
"Andaikata aku tidak takut memberatkan umatku, pasti aku perintahkan kepada mereka agar bersiwak setiap hendak melakukan shalat."
أُمِرْتُ بِالسِّوَاكِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيَّ.
"Aku telah diperintahkan oleh Allah agar bersiwak, sehingga aku khawatir siwak itu akan diwajibkan kepadaku."
Terjemah Bidayatul Hidayah
Sesudah engkau bersiwak (menggosok gigi), maka duduklah dengan menghadap kiblat ditempat yang sedikit tinggi agar engkau tidak terkena percikan air yang jatuh ke tanah (lantai yang tidak suci), lalu bacalah:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنَ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنَ.
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ya Allah saya berlindung kepadamu dari gangguan syetan dan saya berlindung kepadamu pula dari kehadiran mereka disisiku."
Kemudian basulah kedua tanganmu sebelum memasukkannya kedalam wadah tempat air wudlu, dan bacalah doa:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْيُمْنَ وَالْبَرَكَةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشُّؤْمِ وَالْهَلَكَةِ.
"Ya Allah, saya mohon kepadamu kekuatan menjalani ketaatan dan barokah, dan saya berlindung dari kesialan dan kebinasaan."
Sesudah itu berniatlah untuk menghilangkan hadats atau niat supaya diperbolehkan melakukan shalat. Dan niatmu itu tidak boleh berlalu sebelum membasuh wajah agar sah wudlumu. Maksudnya, niat wudlu itu dilakukan bersamaan membasuh muka. Lalu ambillah air untuk berkumur sebanyak tiga kali dengan bersungguh-sungguh memutar air didalam mulut sampai kebagian atas tenggorokan, kecuali jika dalam keadaan berpuasa, (kalau sedang berpuasa, mala berkumurnya harus biasa-biasa saja), ketika hendak berkumur bacalah doa:
اَللّٰهُمَّ اَعِنِّىْ عَلٰى تِلَاوَةِ كِتَابِكَ وَكَثْرَةِ الذِّكْرِ لَكَ وَثَبِّتْنِىْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِ.
"Ya Allah, buatlah saya, sehingga mudah bagiku membaca Al-Qur'an dan memperbanyak dzikir kepadamu. Dan kuatkanlah saya dengan ucapan yang kokoh (.....) di dunia dan di akhirat."
Kemudian ambilah air lagi untuk dihirup dengan hidung sebanyak tiga kali, dengan membaca doa:
اَللّٰهُمَّ اَرِحْنِىْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَاَنْتَ عَنِّىْ رَاضٍ.
"Ya Allah, ciumkanlah saya bau surga, sedangkan engkau ridha kepadaku."
Lalu semprotkanlah keluar air tersebut dengan membaca:
اَللّٰهُمَّ اِنِّىْ اَعُوْذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَسُوْءِ الدَّارِ.
"Ya Allah, saya berlindung kepadamu dari bau neraka dan dari kejahatan tempat tinggal saya."
Kemudian ambillah air untuk membasuh wajah mulai, dari permukaan dahi sampai ke ujung dagu bagian depan, dari telinga sebelah kanan sampai telinga sebelah kiri. Dalam membasuh wajah ini air harus merata keseluruh wajah sampai pada bagian antara bagian atas telinga dan tepi pelipis, yakni tempat ditepi dahi. Air itu harus sampai pula membasahi empat tempat tumbuhnya bulu di wajah, yaitu tempat tumbuhnya kedua alis, tempat tumbuhnya kumis, bulu-bulu mata dan bulu yang tumbuh dipermulaan jenggot
Terjemah Bidayatul Hidayah
(jambang). Air tersebut wajib pula membasahi tempat tumbuhnya jenggot yang tipis, tidak wajib menyampaikan air ke tempat tumbuhnya jenggot yang lebat. Doa ketika membasuh wajah ini ialah:
اَللّٰهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ بِنُوْرِكَ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ اَوْلِيَآئِكَ، وَلَا تَسَوِّدْ وَجْهِيْ بِظُلْمَاتِكَ يَوْمَ تَسْوَدُّ وُجُوْهُ اَعْدَآئِكَ.
"Ya Allah, putihkanlah wajah saya dengan nur-Mu pada hari wajah-wajah kekasihmu menjadi bersinar putih, dan jangan engkau hitamkan wajah saya dengan kegelapan-Mu pada hari wajah-wajah musuh menjadi hitam."
Jangan lupa membiasakan membasahi jenggot yang lebat.
Sesudah itu basuhlah tangan kananmu dan tangan kirimu kedua siku sampai kebagian tengah bahu, sebab perhiasan surga itu dipasang sampai batas akhir anggota wudlu yang biasa dibasuh. Ketika membasuh tangan kanan ini bacalah doa:
اَللّٰهُمَّ اَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِيْنِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرًا.
"Ya Allah berikanlah catatan amal saya ditangan kananku, dan hisablah saya dengan hisab yang mudah."
Sedangkan doa yang dibaca ketika membasuh tangan kiri ialah:
اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ تُعْطِيَنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ اَوْ مِنْ وَّرَآءِ ظَهْرِيْ.
Bimbingan Hidayah"Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepadamu agar tidak menerima catatan amal saya dengan tangan kiriku atau dari belakang punggungku."
Sesudah itu usaplah, kepala (rambutmu), dengan cara membasahi kedua telapak tangan terlebih dahulu, lalu mempertemukan ujung jari-jari kedua tangan dan meletakkannya ke kepala bagian depan terus dijalankan ke bagian belakang kepala, lalu dikembalikan lagi ke depan. Ini dihitung sekali. Dan engkau melakukannya sebanyak tiga kali, sama dengan bilangan membasuh anggota-anggota wudlu lainnya. Dan bacalah doa:
اَللّٰهُمَّ غَشِّنِيْ بِرَحْمَتِكَ وَأَنْزِلْ عَلَيَّ مِنْ بَرَكَاتِكَ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّكَ اَللّٰهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ.
"Ya Allah, kerudungilah saya dengan rahmat-Mu, turunkanlah barokah-Mu kepada saya dan naungilah saya dibawah naungan arasy-Mu, ketika pada hari itu telah tiada naungan selain naungan-Mu. Ya Allah, haramkanlah api neraka menyentuh rambut dan kulit saya."
Setelah itu, usapkanlah kedua telingamu, bagian luar dan dalamnya, dengan air yang baru diambil (bukan sisa air untuk mengusap kepala), dengan cara memasukan kedua jari telunjuk kedalam dua lubang telinga, lalu usapkanlah bagian luar daun telingamu dengan ibu jari bagian dalam dengan membaca doa:
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. اَللّٰهُمَّ أَسْمِعْنِيْ مُنَادِيَ الْجَنَّةِ مَعَ
Terjemah Bidayatul Hidayah
"Ya Allah, jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang mendengar perkataan nasehat, lalu mengikuti yang terbaik dari ucapan tersebut. Ya Allah perdengarkanlah saya suara panggilan masuk di surga bersama orang-orang yang baik."
Kemudian usaplah lehermu dengan membaca doa:
اللَّهُمَّ فُكَّ رَقَبَتِيْ مِنَ النَّارِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَسَاسِلِ وَالْأَغْلَالِ.
"Ya Allah, bebaskanlah leher saya dari sentuhan api neraka dan saya berlindung kepada-Mu dari rantai dan belenggu api neraka."
Sesudah itu basuhlah kakimu yang sebelah kanan lalu kaki sebelah kiri bersama kedua mata kaki dan menyela jari-jari kaki dengan jari kelingking tangan kiri, dimulai dari jari kelingking kaki sebelah kanan terus sampai ke jari kelingking kaki sebelah kiri. Caranya, jari kelingking tangan tersebut dimasukkan dari bawah jari-jari kaki, ketika membasuh kaki kanan ini bacalah doa:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمَيَّ عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ مَعَ أَقْدَامِ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ.
"Ya Allah, tetapkanlah kedua kakiku diatas Sirat Al Mustaqim bersama telapak kaki para hamba-Mu yang shaleh."
Dan ketika engkau membasuh kaki kiri bacalah doa:
Terjemah Bidayatul Hidayahاللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ تَزِلَّ قَدَمِي عَلَى الصِّرَاطِ فِي النَّارِ يَوْمَ تَزِلُّ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُشْرِكِينَ.
"Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tergelincirnya kakiku kedalam neraka, ketika saya berjalan diatas Sirat Al-Mustaqim, pada hari tergelincirnya kaki-kaki orang munafiq dan musyrik."
Ketika membasuh kaki kiri ini, hendaklah engkau membasuhnya sampai bagian tengah betis, sebanyak tiga kali.
Apabila engkau telah selesai berwudlu, maka angkatlah pandangan ke arah langit dengan membaca doa:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَّا أَنْتَ عَمِلْتُ سُوءًا وَظَلَمْتُ نَفْسِي أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ فَاغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ وَاجْعَلْنِي صَبُورًا شَكُورًا وَاجْعَلْنِي أَذْكُرُكَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَأُسَبِّحُكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
Terjemah Bidayatul Hidayah
"Saya bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi, bahwa Muhammad ialah hamba Allah dan Rasul-Nya. Maha suci Engkau ya Allah dengan segala puji untuk-Mu. Dan saya bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Saya telah berbuat kesalahan dan menganiaya pada diri saya sendiri, karena, itu saya mohon ampunan dari-Mu dan saya bertaubat kepada-Mu. Ampunilah dosa saya dan terimalah taubat saya. Sesungguhnya Engkau Tuhan yang menerima taubat orang-orang yang bertaubat. Ya Allah jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat. Jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang suci, golongan hamba-hamba-Mu yang baik, sabar dan selalu bersyukur. Dan jadikanlah saya orang yang selalu dzikir dan ingat kepada-Mu dan bertasbih kepada-Mu diwaktu pagi dan sore."
Barangsiapa yang membaca doa-doa tersebut diatas, maka semua kesalahan dan dosa-dosa yang telah diperbuat oleh anggota badannya keluar semua dan wudlunya disahkan oleh Allah swt. Amalan wudlu tersebut diangkat dan diletakkan dibawah Arsy, dengan senantiasa bertasbih kepada Allah, yang pahala bacaan tasbih wudlu tersebut diberikan kepada pelakunya hingga hari kiamat.
Ketika engkau berwudlu, maka hindarilah tujuh perkara, yaitu:
-
Janganlah engkau mengibaskan tangan yang menyebabkan air memercik kemana-mana.
-
Janganlah engkau menamparkan air keatas kepala dan wajah.
-
Janganlah engkau berbicara ditengah-tengah mengerjakan wudlu.
-
Janganlah engkau membasuh tiap-tiap anggota wudlu lebih dari tiga kali.
-
Janganlah terlalu banyak menggunakan air, tanpa ada keperluan, lebih-lebih hanya karena was-was. Sebab, orang yang was-was
Tazaratu Bidayatu Hidayah 31
itu sebenarnya dipermainkan oleh syetan yang bernama walahan.
-
Janganlah engkau berwudlu dengan air yang telah terkena sinar panas matahari.
-
Janganlah engkau berwudlu dengan air yang berada di tempat yang berbuat dari logam seperti kuningan.
Menjalankan tujuh perkara tersebut diatas ketika berwudlu itu hukumnya makruh.
Didalam hadits Rasulullah saw. disebutkan:
إِنَّ مَنْ ذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ وُضُوءِهِ طَهَّرَ اللَّهُ جَسَدَهُ كُلَّهُ وَمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ لَمْ يَطْهُرْ مِنْهُ إِلَّا مَا أَصَابَهُ الْمَاءُ.
"Sesungguhnya orang menyebut-nyebut nama Allah ketika berwudlu, itu jasadnya akan disucikan oleh Allah seluruhnya. Dan barangsiapa yang tidak berdzikir kepada Allah ketika berwudlu, jasadnya tidak dapat suci kecuali yang bagian yang terkena air saja."
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Apabila engkau junub, sebab bermimpi atau bersetubuh dengan istri, maka segeralah ke kamar mandi, kemudian basuhlah kedua tanganmu sebanyak tiga kali dan hilangkan kotoran-kotoran dari tubuhmu. Lalu berwudlulah, seperti berwudlu ketika hendak shalat dengan membaca doa-doa yang telah diterangkan diatas, dan akhirkanlah membasuh kedua kakimu agar tidak sia-sia (habis).
Apabila engkau telah selesai berwudlu, maka siramkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali dengan disertai niat menghilangkan hadas junub, lalu siramkan air ke bagian badan sebelah kanan sebanyak tiga kali dan sebelah kiri juga sebanyak tiga kali. Sesudah itu gosoklah bagian depan dan belakang badan, dan menyelah-nyelahi rambut dan jenggot. Usahakanlah air dapat merata sampai kelipatan-lipatan tubuh, tempat-tempat tumbuhnya bulu, baik yang tipis maupun yang tebal. Dan berhati-hatilah engkau, jangan sampai tersentuh kemaluan, kalau memang engkau telah berwudlu. Sebab apabila engkau tersentuh kemaluanmu, maka engkau harus bewudlu lagi.
Dari uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan, bahwa fardlu atau perkara yang wajib dalam mandi ialah:
-
Niat, menghilangkan najis / hadats besar
-
Meratakan air keseluruh anggota badan
Sedangkan fardlunya wudlu ialah:
-
Niat
-
Membasuh wajah
-
Membasuh kedua tanhgan hingga kedua siku
-
Mengusap (menyeka) kepala dengan air
-
Membasuh kedua kaki hingga mata kaki
-
Tertib
Adapun amalan-amalan dalam berwudlu, selain yang tersebut diatas, maka hukumnya sunah muakkad yang keutamaannya sangat banyak dan pahalanya sangat besar.
Orang yang mengabaikan sunnah-sunnah wudlu itu jelas rugi, bahkan membahayakan terhadap fardlu-fardlu wudlu yang telah dia kerjakan, sebab sunnah-sunnah wudlu itu pada dasarnya dapat menambah dan menyempurnakan amalan-amalan wudlu yang wajib.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Apabila engkau tidak dapat menggunakan air, disebabkan :
a. Tidak dijumpainya air sesudah berusaha mencarinya kesana kemari.
b. Ada udzur karena sakit.
c. Adanya halangan untuk bisa sampai pada tempat yang terdapat airnya.
d. Jumlah air hanya sedikit yang cukup untuk menghilangkan kehausanmu atau kehausan keluargamu.
e. Dikuasainya air oleh orang lain, dan dia tidak mau menjualnya kecuali dengan harga yang amat mahal.
f. Adanya luka atau sakit yang tidak boleh tersentuh oleh air.
Jika engkau mengalami salah satu keadaan tersebut, maka hendaklah engkau bersabar, menunggu datangnya waktu shalat. Kemudian berusahalah mencari debu yang suci yang tidak bercampur dengan benda lain. Kemudian pukulkanlah kedua telapak tanganmu keatas debu tersebut dengan merapatkan jari-jari seraya berniat melakukan sesuatu perbuatan yang dengannya diperbolehkan menjalankan shalat fardlu. Sesudah itu, usapkanlah kedua telapak tangan yang terdapat debunya itu ke wajahnya sekali saja. Dalam hal ini janganlah memaksa diri meratakan debu tersebut pada tempat-tempat yang ditumbuhi bulu tipis maupun tebal. Setelah itu lepaskanlah cicinmu dan pukulkan lagi kedua telapak tangan dengan merenggangkan jari-jari, lalu usapkanlah kedua tanganmu sehingga sampai pada kedua siku. Apabila pukulan yang kedua ini belum cukup, maka pukullah lagi tanganmu keatas debu, sehingga dapat digunakan mengusap tangan secara sempurna. Lalu usapkanlah satu telapak tangan yang sebelah pada tapak tangan yang lain, dan silangkan jari-jari tanganmu untuk mengusap celah-celah jari-jari.
Terjemah Bidayatul Hidayah 35
Kemudian kerjakanlah shalat fardlu dengan sekali tayammum (sekali tayammum untuk sekali shalat fardhu) dan kerjakanlah beberapa kali shalat sunnah dengan sekali tayammun (sekali tayammum boleh dipakai menjalankan beberapa kali shalat sunnah). Apabila engkau bermaksud mengerjakan shalat fardlu lain, maka harus bertayammum lagi, meskipun tayammum yang pertama itu belum batal.
---=o0o=---
Apabila engkau telah selesai bersuci, maka kerjakanlah shalat sunah fajar dua rakaat didalam rumahmu, kalau memang fajar telah terbit, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Rasulullah saw. Setelah itu berangkatlah menuju masjid. Janganlah engkau meninggalkan shalat dengan berjamaah, terutama dalam shalat Subuh; sebab keutamaan shalat berjamaah itu melebihi shalat sendirian dengan silsilah dua puluh tujuh derajat. Apabila engkau meremehkan keutamaan dan keuntungan seperti ini, maka apa manfaatmu dalam menuntut ilmu; sebab, buah ilmu itu hanyalah mengamalkan ilmu itu sendiri.
Apabila engkau berjalan menuju masjid, maka berjalanlah dengan tenang, tidak terburu-buru dengan membaca doa:
اَللّٰهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّآئِلِيْنَ عَلَيْكَ وَبِحَقِّ الرَّاغِبِيْنَ اِلَيْكَ وَبِحَقِّ مَمْشَايَ هٰذَا اِلَيْكَ فَاِنِّىْ لَمْ اَخْرُجْ اَشَرًا وَلَا بَطَرًا وَلَا رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً، بَلْ خَرَجْتُ اتِّقَاءَ سَخَطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ، فَاَسْأَلُكَ اَنْ تُنْقِذَنِىْ مِنَ النَّارِ وَاَنْ تَغْفِرَ لِىْ ذُنُوْبِىْ. فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ.
"Ya Allah, saya mohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang meminta kepada-Mu dan dengan hak orang-
Terjemah Bidayatul Hidayah
orang yang selalu mengharapkan karunia-Mu dan dengan berkat perjalananku ini. Sesungguhnya saya keluar tidak untuk melakukan kejahatan, tidak berlaku sombong, pamer atau supaya dikenal orang, tetapi saya pergi ke masjid ini semata-mata karena menjauhi kemurkaan-Mu, dan demi keridlaan-Mu. Saya mohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkan saya dari siksa neraka dan memaafkan semua dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa hamba kecuali engkau."
---=o0o=---
Pengantar Hayatul Hidayah
Apabila engkau hendak masuk masjid, maka dahulukan kakimu yang sebelah kanan dengan membaca doa:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ اَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam sejahtera-Mu kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ya Allah ampunilah dosa-dosa saya dan bukakanlah pintu rahmat-Mu untuk saya."
Apabila engkau melihat seseorang menjual sesuatu didalam masjid, maka berkatalah: "Semoga Allah tidak memberi keuntungan dari perdaganganmu." Dan apabila engkau melihat seseorang mencari sesuatu miliknya didalam masjid, maka katakanlah: "Semoga Allah tidak mengembalikan barangmu." Begitulah yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.
Apabila engkau telah masuk masjid, maka jangan duduk sebelum shalat Tahiyyatul Masjid sebanyak dua rakaat. Jika engkau masuk kedalam masjid dalam keadaan tidak menyandang wudlu atau memang tidak berkeinginan melakukan shalat, maka bacalah ucapan-ucapan mulia sebanyak tiga kali, atau empat kali. Ada juga yang berpendapat, bacaan tersebut dibaca tiga kali untuk orang yang berhadas dan satu kali untuk orang yang berwudlu. Apabila engkau belum melakukan shalat sunah Qabliyah Subuh, maka kerjakanlah dan sudah dianggap sebagai
Terjemah Bidayatul Hidayah
Tazkirah Hidayatul Hidayah 39
shalat Tahiyyat Masjid. Jika engkau telah selesai mengerjakan shalat tersebut, maka berniatlah i'tikaf didalam masjid dengan membaca doa yang selalu dibaca oleh Rasulullah saw. setelah beliau selesai shalat Qabliyah Subuh. Doa itu ialah:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِيْ بِهَا قَلْبِيْ وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِيْ وَتُلِمُّ بِهَا شَعْثِيْ وَتَرُدُّ بِهَا الْغَىْ وَتُصْلِحُ بِهَا دِيْنِيْ وَتَحْفَظُ بِهَا غَائِبِيْ وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِيْ وَتُزَكِّيْ بِهَا عَمَلِيْ وَتُبَيِّضُ بِهَا وَجْهِيْ وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا رُشْدِيْ وَتَقْضِيْ لِيْ بِهَا حَاجَتِيْ وَتَعْصِمُنِيْ بِهَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.
"Ya Allah, sesungguhnya saya memohon rahmat dari-Mu yang dapat memberi petunjuk kepada hati saya, dapat menyatukan golongan saya, mengkonsentrasikan pikiran saya, dapat menolak segala fitnah, membaikkan agama saya, menjaga batin saya, meninggikan derajat zhahir saya, membersihkan amal perbuatan saya, menyinarkan wajah saya. Dan saya mohon kepada-Mu rahmat yang dengan rahmat ini engkau memberikan petunjuk kepada saya, memenuhi kebutuhan saya dan memelihara saya dari segala kejelekan."
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا خَالِصًا دَائِمًا بِبَاشِرُ قَلْبِيْ وَ يَقِيْنًا صَادِقًا حَتّٰى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِيْ إِلَّا مَا
Terjemah Bidayatul Hidayah
كَيْفِيَّةُ عَلَى وَرِضَىٰ بِمَا قَسَمْتَهُ لِي.
"Ya Allah, saya mohon kepada-Mu keimanan yang murni yang memenuhi hati saya, dan saya mohon kepada-Mu pula keyakinan yang lurus, sehingga saya menyadari apa saja yang menimpa kepada saya itu merupakan sesuatu yang telah Kau putuskan dan merasa ridla terhadap pemberianmu."
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا صَادِقًا وَيَقِيْنًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَأَسْأَلُكَ رَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ مِنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang benar dan penuh keyakinan. Yang setelah beriman tidak melakukan kekufuran. Dan memohon pula kepada-Mu untuk mendapatkan keramahan-Mu di dunia dan di akhirat."
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْفَوْزَ عِنْدَ الْقَضَاءِ وَالصَّبْرَ عِنْدَ الْقَضَاءِ وَمَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَعَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى الْأَعْدَاءِ وَمُرَافَقَةَ الْأَنْبِيَاءِ.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dapat bertemu dengan keridhaan-Mu yang mengantar kepada kebahagiaan, bersabar dalam menghadapi cobaan, dan mendapatkan tempat disisi para syuhada. Hidup yang penuh kebahagiaan lahir batin, terhindar dari musuh dan permusuhan dan dapat melaksanakan
sunnah para Nabi."
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَنْزَلَ بِكَ حَاجَتِي وَإِنْ ضَعُفَ رَأْيِ وَقَصَرَ عَمَلِي وَافْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ الْأُمُورِ وَيَا شَافِيَ الصُّدُورِ، كَمَا تُجِيرُ بَيْنَ الْبُحُورِ أَنْ تُجِيرَنِي مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقُبُورِ وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُورِ.
"Ya Allah, berilah kecukupan atas segala kebutuhanku di dunia dan di akhirat, sekalipun kemampuan akal pikiran dan amalku sangat terbatas dan lemah. Namun rahmat dari sisi-Mu selalu aku harapkan dan aku nantikan. Aku memohon kepada-Mu wahai Allah Yang Mengadili segala perkara dan wahai Dzat yang mengobati setiap hati yang gundah gulana. Selamatkanlah diriku dari simbah dosa sebagaimana engkau telah menyelamatkan samudera dari noda jamur. Selamatkan diriku dari neraka Syair dan siksa kubur, serta dari segala kecelakaan."
اَللَّهُمَّ مَا قَصَرَ عَنْهُ رَأْيِ وَضَعُفَ عَنْهُ عَمَلِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِي وَأُمْنِيَّتِي مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيهِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَإِنِّي أَرْغَبُ إِلَيْكَ فِيهِ وَأَسْأَلُكَ إِيَّاهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
sunnah Hidayah
"Ya Allah, kemampuan berpikirku dan amalku sangat terbatas dan sangat lemah sekali, sehingga niatku tidak dapat mencapai kepada kebaikan yang engkau janjikan kepada salah seorang hamba-hamba-Mu. Atau kepada suatu kebaikan yang engkau janjikan kepada salah seorang makhluk. Sedangkan aku sangat mencintai dan mengharapkan keridhaan-Mu. Karena itu aku memohon kepada-Mu, agar dapat memberikan semua itu, wahai Dzat yang menguasai seluruh alam."
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلَا مُضِلِّيْنَ حَرْبًا لِأَعْدَائِكَ وَسِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ النَّاسَ وَنُعَادِيْ بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ مِنْ خَلْقِكَ.
Ya Allah, jadikanlah diriku orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk. Yang tidak tersesat dan tidak menyesatkan. Jadikanlah aku orang yang selalu memerangi musuh-musuh-Mu dan yang selalu berbuat baik kepada kekasih-kekasih-Mu. Jadikanlah diriku orang yang mengasihi kepada seluruh umat manusia sebagaimana Engkau telah mencintai mereka. Dan jadikanlah orang yang memusuhi mereka sebagaimana Engkau memusuhi mereka yang ingkar kepada perintah-Mu."
اَللّٰهُمَّ هٰذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ الْإِجَابَةُ وَهٰذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Tasfanuh Bidayatul Hidayah 43
"Ya Allah, doa ini datang dariku, sedangkan Engkaulah yang berhak mengabulkannya. Ya Allah, doa yang aku panjatkan ini merupakan kekuatan bagiku, yang hanya kepada-Mu aku berserah diri. Sesungguhnya diriku hanya milik Allah, dan hanya kepada Nya aku akan kembali. Tiada daya kekuatan untuk melakukan ibadah, melainkan atas pertolongan Allah semata Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
اَللّٰهُمَّ كَالْحَبْلِ الشَّدِيْدِ وَالْأَمْرِ الرَّشِيْدِ أَسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُوْدِ مَعَ الْمُقَرَّبِيْنَ الشُّهُوْدِ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ الْمُوْفِيْنَ لَكَ بِالْعُهُوْدِ إِنَّكَ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ.
Ya Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Benar, selamatkanlah diriku di hari kiamat dan jadikanlah surga sebagai tempat bersemayam yang abadi bersama orang yang selalu beribadah mendekatkan diri kepada-Mu. Mereka yang selalu melakukan ibadah sunnah, yang melakukan shalat dan mereka yang selalu menempati janji. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyayang lagi Maha Mencintai. Dan sesungguhnya Engkau adalah berkuasa untuk berbuat apa saja yang Engkau kehendaki.
سُبْحَانَ مَنْ تَعَطَّفَ بِالْعِزِّ وَقَالَ بِهِ سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنْبَغِى التَّسْبِيْحُ إِلَّا لَهُ سُبْحَانَ ذِى الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ
سُبْحَانَ ذِى الْمَجْدِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ الَّذِىْ أَحْصَى كُلَّ شَىْءٍ بِعِلْمِهِ.
"Dengan mensucikan Dzat Yang Maha Menang. Yang dengan sifat kemenangan itu Allah mengalahkan orang-orang yang mengaku menang. Maha Suci Dzat Yang Maha Agung. Yang dengan keagungan itu Allah memberikan anugerah dan rahmat kepada seluruh hamba-Nya. Maha Suci Dzat yang tiada sesuatu pun patut diakui kesuciannya melainkan Dia. Maha Suci Dzat yang memiliki anugerah yang telah mencurahkan nikmat-Nya, dan Dia yang dermawan, yang banyak memberikan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya. Maha Suci Dzat yang dengan ilmu pengetahuan-Nya dapat menghitung apa saja yang ada di alam."
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ لِىْ نُوْرًا فِىْ قَلْبِىْ وَنُوْرًا فِىْ قَبْرِىْ وَنُوْرًا فِىْ سَمْعِىْ وَنُوْرًا فِىْ بَصَرِىْ وَنُوْرًا فِىْ شَعْرِىْ وَنُوْرًا فِىْ بَشَرِىْ وَنُوْرًا فِىْ لَحْمِىْ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِىْ وَنُوْرًا فِىْ عَظَامِىْ وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَىَّ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِىْ وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِىْ وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِىْ وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِىْ وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِىْ اَللّٰهُمَّ زِدْنِىْ نُوْرًا وَأَعْطِنِىْ نُوْرًا أَعْظَمْ نُوْرٍ وَاجْعَلْ لِىْ نُوْرًا بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ
Terjemah Bidayatul Hidayah
Ya Allah, jadikanlah cahaya penerang dalam hatiku dan alam kuburku. Dalam telinga, mata, kulit dan rambutku. Dalam daging dan tulang-tulangku. Dikanan kiri, muka belakang dan sisiku. Dan jadikanlah cahaya penerang yang lebih agung. Dan jadikanlah pula diriku orang yang berkilauan dihiasi dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Paling Maha Penyayang."
Seusai membaca doa sepanjang itu, bila waktu masih ada, gunakanlah untuk tafakkur, bertasbih atau membaca Al-Qur'an. Gunakanlah waktu yang tersisa untuk memperbanyak dzikir pada-Nya.
Bila adzan telah berkumandang, maka dengarkanlah ia dengan seksama. Dzikir dan doa hendaknya dihentikan sementara, untuk mendengarkan adzan itu. Tirukanlah suara adzan itu dengan suara pelan. Ketika muadzin mengucapkan: Hayya 'ala ash-shalah atau Hayya 'ala al-falah, maka sahutlah dengan ucapan: Laa haula wala qawwata illa billah.
Ketika muadzin sampai pada lafazh:
$$\text{الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ}$$
"Shalat lebih baik daripada tidur."
Maka jawablah dengan mengucap:
$$\text{صَدَقْتَ وَبَرِرْتَ وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ.}$$
"Benar dan bagus yang kau ucapkan, aku ada saksinya."
Begitu pula ketika iqamah dikumandangkan, tirukanlah ia. Ketika lafazh:
Terjemah Bidayatul Hidayah
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ.
"Sesungguhnya hampir didirikan shalat."
Maka jawablah dengan ucapan:
أَقَامَهَا اللَّهُ وَأَدَامَهَا وَمَاذَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ.
"Semoga Allah mendirikan dan melanggengkan selama langit dan bumi masih kekal abadi).
Setelah adzan dan iqamat dikumandangkan, baik muadzin maupun jamaah disunnahkan membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِنْدَ حُضُورِ صَلَاتِكَ وَأَصْوَاتِ دُعَاتِكَ وَأَدْبَارِ لَيْلِكَ وَإِقْبَالِ نَهَارِكَ أَنْ تُوَفِّقَ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيعَةَ وَابْعَثْهُ الْمَقَامَ الْمَحْمُودَ الَّذِي وَعَدْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ketika waktu shalat tiba dan adzan dialunkan. Ketika senja menjelang dan fajar membentang, curahkanlah wasilah dan anugroh-Mu pada Muhammad saw. dan berilah beliau derajat yang tinggi, dan tempatkanlah ia pada tempat yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya, Engkau tidak akan mengingkari janji wahai Dzat Yang Maha Penyayang diantara segala sesuatu yang punya kasih sayang."
Bidayatul Hidayah 47
Setelah melakukan shalat berjamaah, bacalah wirid berikut ini:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ اَللّٰهُمَّ اَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَكَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ يَاذَاالْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَلِيِّ الْاَعْلٰى الْوَهَّابِ. لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ اَهْلَ النِّعَمِ وَالْفَضْلِ وَالثَّنَاءِ الْحَسَنِ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.
"Ya Allah, curahkanlah rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Engkau adalah Dzat Pelamat. Dari sisi-Mu keselamatan datang dan kepada-Mu pula keselamatan kembali. Karena itu berilah kami kehidupan yang penuh keselamatan. Masukkanlah kami ke surga yang penuh keselamatan. Maha Suci Engkau wahai Dzat yang Maha Agung lagi Maha Mulia. Aku mengakui kesucian Tuhanku
Terjemah Bidayatul Hidayah
Yang Maha Tinggi lagi Maha Luhur, yang banyak memberikan anugerah. Tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji, yang telah menghidupkan dan mematikan makhluk. Dan hidup selamanya, tidak akan mati. Segala kebajikan berada dalam kekuasaan-Nya, dia menguasai segala sesuatu. Tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, Dzat yang banyak memberikan curahan nikmat dan anugerah, serta yang pantas menerima pujian yang baik. Tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah, yang aku tidak beribadah melainkan kepada-Nya. Dengan penuh keteguhan dan keikhlasan, aku memeluk agama-Nya sekalipun orang-orang kafir membencinya."
Lalu bacalah doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah:
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَاعَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا يُقَرِّبُ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنِيَّةٍ وَاعْتِقَادٍ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا يُقَرِّبُ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَعَمَلٍ وَنِيَّةٍ وَاعْتِقَادٍ وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ وَمَا قَضَيْتَ عَلَيَّ مِنْ أَمْرٍ فَاجْعَلْ عَاقِبَتَهُ رُشْدًا.
"Ya Allah, saya mohon kepada-Mu seluruh kebaikan padaku, baik seketika maupun dengan ditangguhkan, yang aku ketahui maupun yang aku tidak ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan, baik yang seketika maupun yang ditanggguhkan, yang aku ketahui maupun yang aku tidak ketahui. Berilah aku jalan menuju surga dan segala sesuatu yang mendekatkannya, baik berupa perkataan, perbuatan, niat maupun i'tikad. Aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, niat atau i'tikad. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu segala yang telah dimohon hamba dan utusan-Mu Muhammad saw., dari segala kebaikan aku berlindung kepada-Mu sebagaimana hamba dan utusan-Mu Muhammad berlindung dari segala kejahatan. Ya Allah, apa saja yang telah Engkau gariskan terhadap diriku, maka jadikanlah keberakhiran yang baik, yang mengantar kepada jalur yang lurus."
Baca pula doa Rasulullah saw. yang diajarkan pada Fatimah:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيرُ لَا
Keutamaan Bidayatul Hidayah
Terjemah Bidayatul Hidayah
تَكَلَّنِي إِلَى نَفْسِي وَلَا إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ بِمَا أَصْلَحْتَ بِهِ الصَّالِحِينَ.
"Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mulia lagi Maha Agung. Tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Dan dari siksa-Mu aku memohon keselamatan. Janganlah Engkau menyerahkan segala urusanku kepada diriku sendiri dan jangan pula Engkau serahkan kepada salah seorang makhluk-Mu sekalipun hanya sebentar. Semoga Engkau memberikan keberhasilan dalam segala urusanku, sebagaimana Engkau telah memberikan kesuksesan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih."
Pembacaan doa bisa dilanjutkan sebagaimana yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Isa as. yang oleh Rasulullah saw., diajarkan pula pada umatnya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ لَا أَسْتَطِيعُ دَفْعَ مَا أَكْرَهُ وَلَا أَمْلِكُ نَفْعَ مَا أَرْجُو وَأَصْبَحَ الْأَمْرُ بِيَدِكَ لَا بِيَدِ غَيْرِكَ وَأَصْبَحْتُ مُرْتَهَنًا بِعَمَلِي فَلَا فَقِيرَ أَفْقَرُ مِنِّي إِلَيْكَ وَلَا غَنِيَّ أَغْنَى مِنْكَ عَنِّي. اللَّهُمَّ لَا تَشْمِتْ بِي عَدُوِّي وَلَا تَسُؤْ بِي صَدِيقِي وَلَا تَجْعَلْ
Terlampaui Hidayah 31
مُصِيبَتِي فِي دِينِي؛ وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّي وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِي وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيَّ بِذَنْبِي مَنْ لَا يَرْحَمُنِي.
"Ya Allah, sungguh aku tidak dapat menolak sesuatu yang menyusahkan, dan tidak dapat mengambil manfaat dari segala sesuatu yang aku harapkan. Sebab segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Mu, tidak dalam kekuasaan yang lain. Ya Allah, sungguh diriku ibarat barang gadaian amalku. Tiada seorang pun yang lebih membutuhkan pertolongan melainkan diriku. Dan tidak ada seorang pun yang melebihi kekayaan-Mu. Ya Allah, jangan Engkau turunkan petaka atas diriku yang menyebabkan musuh-musuhku merasa gembira. Janganlah Engkau menurunkan kesusahan kepada sahabat karena aku, dan jangan pula musibah yang menimpa diriku menjadi musibah pula bagi agamaku. Janganlah Engkau jadikan niat, cita-cita dan ilmu pengetahuan yang aku miliki semata-mata hanya sebagai sarana mencari kemewahan dunia. Jangan pula Engkau kuasakan diriku kepada orang yang tidak menyayangiku, orang yang membenciku, karena banyaknya dosa yang kulakukan."
Bila masih ada waktu, sebaiknya ditambah dengan bacaan doa yang dihafal. Doa-doa itu telah kami tulis dalam kitab Ihya 'Ulumuddin pada bab Da'wat. Seusai melaksanakan shalat Subuh, sambil menanti matahari terbit, sebaiknya dimanfaatkan untuk empat hal, yakni:
-
Memperbanyak doa.
-
Memperbanyak dzikir dan membaca tasbih, hingga doa yang dipanjatkan mendapat ijabah dari Allah.
-
Memperbanyak tadarus Al-Qur'an. Sebab dengan banyak
Terjemah Bidayatul Hidayah
membaca Al-Qur'an, hati yang beku menjadi cair dan ingat kepada Allah. Dengan demikian, ia akan meningkatkan pengabdiannya pada Allah, dan menjauhi segala larangannya.
- Bertafakur. Memikirkan dosa-dosa yang telah diperbuat dan keingkaran kepada Allah yang selama ini dilakukan, baik dalam peribadatan maupun yang lain. Juga memikirkan kemungkaran yang menyebabkan kemurkaan Allah swt.



