— Bagian 2 · Dalam mengarungi hidup ini, hendaklah anda dapat… —
Bagian 2
Dalam mengarungi hidup ini, hendaklah anda dapat mengatur waktu sebaik-baiknya. Lakukanlah amalan secara rutin. Cara ini akan memberikan kemudahan dalam menambal amaliah maupun ibadah sunnah yang mungkin tertinggal. Hendaknya anda berupaya agar selalu menghindari perbuatan yang menyebabkan murka Allah. Oleh sebab itu, hendaknya anda setiap hari mempunyai niat memberikan pertolongan kepada sesama muslim. Juga semaksimal mungkin menjauhi segala larangan-Nya.
Bila anda melaksanakan perintah wajib, hendaknya mendahulukan yang lebih penting, lebih wajib. Lalu disusul dengan perintah wajib lainnya. Sarana untuk taat kepada Allah jauh-jauh hari hendaknya sudah dipersiapkan, sehingga dalam perjalanan hidup sepanjang hari akan tergolong dalam kelompok orang-orang yang selalu taat. Terhindar dari segala bentuk kemaksiatan.
Dalam mengarungi perjalanan hidup sehari-hari, setiap muslim harus selalu memikirkan datangnya ajal kematian, yang dapat memutuskan segala angan dan cita-cita. Kematian akan membuka dua rahasia besar. Yakni kesusahan dikarenakan kurangnya bekal amal kebajikan ketika di dunia. Dan penyesalan dikarenakan ketika di dunia terlalu banyak mengikuti tipu daya dan bujuk rayu setan. Banyak melakukan maksiat dan lupa kepada bekal akhirat.
Setiap hari, orang muslim selayaknya tidak pernah mengosongkan kesempatan untuk berdzikir dan bertasbih. Lebih-
Terjemah Riyadhul Hidayah53
lebih membaca sepuluh kalimat yang diketengahkan berikut:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
"Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan segala puji. Dzat yang menghidupkan dan yang mematikan makhluk. Sedangkan Dia Dzat Yang Maha Hidup tidak akan mati selamanya. Berada dalam kekuasaan-Nya segala kebajikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ.
"Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Benar dalam segala kekuasaan-Nya."
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ.
"Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Yang menguasai langit dan bumi seisinya. Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun."
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
"Maha Suci Allah, yang segala puji hanyalah bagi-Nya semata. Tiada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah. Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya untuk melakukan ibadah, kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."
سُبُّوحَ قُدُّوسُ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ.
"Maha Suci Allah yang menguasai para malaikat dan ruh (malaikat Jibril)."
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ.
"Maha Suci Allah, segala puji bagi-Nya semata. Maha Suci Allah Yang Maha Agung."
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ وَالْمَغْفِرَةَ.
"Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung. Yang tiada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Hidup dan Maha Kuasa. Aku memohon ampunan dan diterimanya taubat."
اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
"Ya Allah, tiada ada sesuatu pun yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada sesuatu pula yang dapat menarik apa yang Engkau cegah. Tidak ada pula sesuatu yang dapat menolak ketentuan-Mu. Dan tidak berguna kekayaan seseorang yang kaya raya kelak disisi-Mu."
Terjemah Bidayatul Hidayah
Taman Hizbiyah
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّعَلٰٓى اٰلِ مُحَمَّدٍ وَّصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ.
"Ya Allah, curahkanlah tambahan anugerah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat. Dan curahkanlah pula keselamatan kepada mereka."
بِسْمِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَا يَضُرُّ مَعَ شَيْءٌ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
"Dengan menyebut nama Allah, yang dengan nama-Nya sesuatu yang berada di langit dan di bumi tidak akan membuat sesuatu kemadharatan. Dan Dia adalah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui."
Alangkah baiknya bila anda membaca masing-masing doa tersebut sebanyak 10 kali. Hendaknya anda selalu membaca doa tersebut, dan jangan berbicara yang tidak berguna sebelum matahari terbit. Waktu antara shalat Subuh sampai dengan matahari terbit hendaknya dikhusyu'kan untuk beribadah pada Allah swt.
Dalam suatu hadits disebutkan, keutamaan membaca doa tersebut adalah pahalanya lebih besar daripada memerdekakan 8 orang budak dari keluarga Ismail, keluarga Rasulullah saw.
---=o0o=---
Ketika matahari telah menyingsing setinggi galah, hendaknya anda melakukan shalat sunnah Isyraq dua rakaat. Hal ini dilakukan setelah hilangnya waktu Karahah, waktu makruh melakukan shalat.
Waktu Karahah berlaku sejak usainya melakukan shalat Subuh sampai matahari setinggi galah. Waktu Karahah bisa diklasifikasikan menjadi dua, yakni:
-
Waktu antara selesainya melakukan shalat Subuh sampai matahari terbit, adalah haram untuk melakukan shalat, kecuali shalat yang mempunyai sebab. Antara lain, seperti shalat jenazah dan sejenisnya.
-
Waktu antara terbitnya matahari sampai matahari menyingsing setinggi galah adalah makruh melakukan shalat.
Bila hari mulai agak siang, anda hendaklah melakukan shalat sunnah Dhuha empat rakaat, enam rakaat, maupun delapan rakaat. Shalat ini dilakukan dengan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Pelaksanaan shalat Dhuha dengan mengucapkan setiap salam dua rakaat ini adalah tuntunan dari Rasulullah saw. Pada dasarnya, semua bilangan rakaat dari shalat Dhuha ini baik. Tapi, bila anda menginginkan pahala yang banyak, maka bilangan rakaatnya pun hendaknya juga banyak. Antara terbitnya matahari sampai dengan masuknya waktu shalat Dhuhur, tidak terdapat shalat sunnah kecuali shalat Dhuha. Oleh sebab itu, shalat Dhuha amat besar pahalanya.
Adapun waktu yang tersisa -setelah dimanfaatkan untuk shalat Dhuha- hendaknya dipakai untuk:
Waktu ini hendaknya dipergunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi agama. Tentu berbagai cara bisa
Terjemah Bidayatul Hidayah
ditempuh, baik formal maupun non formal. Jangan mendalami ilmu yang mendatangkan mudharat, baik ilmu sihir maupun perdukunan.
Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa dijadikan sebagai sarana peningkatan iman dan taqwa pada Allah. Ilmu bisa dipakai sebagai sarana mengintrospeksi diri -dari segala bentuk kekurangan- hingga dapat mengantar kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ilmu yang bermanfaat juga dapat mengendalikan diri untuk lebih mencintai kehidupan akhirat yang serba abadi. Dengan ilmu yang bermanfaat itu pula, kita dapat mengetahui tipu daya setan dalam memperdaya ulama munafiq, bodoh dan tolol; ulama yang tergila-gila dengan kemewahan dunia. Setan memang telah membiusnya. Ulama seperti itu telah bangga mendapatkan kedudukan dan kehormatan di sisi penguasa. Mereka telah memperjual belikan ilmu dengan kesenangan dunia yang bersifat sementara. Kesenaugan yang diperolehnya adalah kesenangan sesaat.
Ulama yang bodoh lagi tolol itu, tidak akan segan-segan dan merasa malu memakan harta wakaf maupun anak yatim. Sepanjang hari, yang diimpikannya adalah kemewahan dan kedudukannya diantara sesama. Mereka telah lupa pada keagungan Allah. Akibatnya, mereka menjadi congkak dan sombong. Merasa dirinya serta tahu dalam segala hal. Ini semua adalah ciri para ilmuan yang tidak bermanfaat ilmunya. Pembahasan tentang ilmu yang bermanfaat ini, bisa dikaji dalam kitab Ihya 'Ulumuddin -bagian pertama.
Apabila anda ingin memiliki ilmu yang bermanfaat, hendaknya berusaha dengan maksimal. Setelah ilmu bermanfaat itu diperoleh, hendaklah diajarkan dan diamalkan pada sesama. Dengan demikian, ilmu itu akan punya nilai manfaat yang besar. Sebab, siapa memiliki ilmu yang bermanfaat lalu ilmu itu diajarkan kepada sesama, ia akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan agung di sisi malaikat dan disaksikan oleh Nabi Isa as.
Apabila mampu meraih ilmu yang bermanfaat, itu berarti anda
Terjemah Bidayatul Hidayah
telah mampu memperbaiki diri, baik lahir maupun batin. Istilah ilmu itu dengan iktikad dan keyakinan yang baik, hingga tidak ada lagi halangan untuk mempelajari khilafiah antar madzhab, seperti Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi'i. Hal ini dimaksudkan agar anda mengetahui tentang seluk beluk cabang ilmu agama yang jarang dilakukan dalam peribadatan. Disamping, tentu saja, untuk menyelesaikan permasalahan bila terjadi khilafiah diantara mereka.
Mempelajari faham madzhab lain hukumnya Fardhu Kifayah. Sedangkan mendalami faham dari madzhab tertentu adalah Fardhu 'Ain. Oleh sebab itu, tidaklah dibenarkan anda mempelajari madzhab lain, sebelum mendalami faham dari madzhab yang dianut.
Apabila nafsu amarah telah mempengaruhi anda agar tidak melakukan amalan-amalan berupa wirid, maka itu pertanda bahwa anda telah terkena bujuk rayu setan yang terkutuk. Setan telah memasukkan benih penyakit dalam hati. Dan bila itu terjadi, maka sulitlah untuk mengobatinya. Bentuk penyakit yang akan mucul adalah cinta kemewahan, pangkat, dan kedudukan. Bila itu terjadi maka para setan akan bersuka ria menyambutnya, mereka -para setan itu-telah berhasil membujukmu. Oleh sebab itu, janganlah bangga dan senang bila mendapat sanjungan dan pujian dari sesama manusia, jangan pula terlalu mendamba dan mencintai kemewahan dunia.
Seseorang yang mengidentitaskan diri sebagai muslim, tentu mau mengamalkan amalan-amalan yang telah dikemukakan di atas. Dengan demikian, maka sedikit demi sedikit, nafsu yang bersemayam dalam jiwa dapat ditundukkan, minimal dapat dijinakkan. Dengan melatih diri dalam melakukan kebajikan, perasaan berat dan bosan akan sirna, dan perasaan cinta pada ilmu yang bermanfaat pun akan dapat direalisasikan. Hanya orang yang berlatih secara rutin dan tekun yang bisa dikatakan sebagai orang yang mendambakan ilmu yang bermanfaat.
Bila anda melakukan ibadah secara rutin dan ikhlas, itu artinya
mencari ilmu hanya untuk keridhaan Allah, mencari kehidupan akhirat. Dan ini merupakan ibadah yang utama. Niat mencari ilmu dengan penuh keikhlasan lebih utama bila dibanding dengan melakukan ibadah sunnah. Bila anda punya niat ikhlas -dalam melaksanakan sesuatu- akan mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin, dunia akhirat. Sebaliknya bila dilakukan dengan niat yang kurang ikhlas; niscaya anda akan terjerumus pada jurang kehinaan. Mereka inilah yang termasuk dalam kategori orang-orang bodoh nan tolol, meskipun dimata umat, mereka mendapat gelar ilmuwan.
Apabila anda dapat melaksanakan apa yang tersebut di atas dengan baik, maka hendaklah diimbangi dengan beribadah kepada Allah secara aktif. Bentuknya macam-macam, bisa berdzikir, membaca Al-Qu~'an, maupun melaksanakan shalat sunnah. Juga, lakukanlah amalan-amalan yang pernah dilakukan para ulama terdahulu, yang shalih, yang mulia dalam pandangan agama. Ini semua, tidak lain, agar anda dapat mencapai derajat yang tinggi nan luhur.
Berupayalah untuk selalu memberikan pertolongan pada sesama. Pertolongan itu hendaknya diutamakan kepada sesama muslim, yang shalih, dan para ahli fiqih. Berhidmatlah pada para ahli tasawuf, ulama dan perbanyaklah sedekah. Berilah makan dan minum pada fakir miskin itu, jenguklah mereka yang sedang sakit, dan antarkan jenazah sampai ke liang lahat.
Itulah amal kebajikan yang diridhai Allah swt. Dalam beberapa riwayat disebutkan, amalan-amalan itu lebih utama bila dibanding dengan amalan sunnah lainnya. Sebab amalan itu lebih punya arti bagi sesama, lebih memiliki nilai solidaritas yang tinggi.
Bila anda dapat melakukan tiga hal tersebut diatas -atau salah
satunya- maka pilihlah yang terakhir ini. Pergunakanlah waktumu untuk mencari kebutuhan hidup. Bekerjalah untuk mendapatkan rizki yang halal, sebagai sarana ibadah.
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mencari nafkah secara halal. Dengan demikian, maka anda telah menyelamatkan kaum muslimin dan agama Islam. Apabila anda bekerja dengan dasar ikhlas, maka anda termasuk dalam Ashhabul Yamin, mereka yang bahagia di sisi Allah.
Tentu saja, bagian keempat ini boleh dilakukan, bila benar-benar tidak bisa melakukan pada salah satu dari tiga bagian tersebut diatas. Tapi usahakan anda dapat melakukan salah satu dari tiga bagian di atas. Hal ini memang bukan alasan. Sebab, mereka yang bisa melakukan amalan pertama, kedua atau ketiga adalah mereka yang bisa digolongkan masuk surga yang pertama. Itulah imbalan bagi mereka yang telah menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah.
Dari kacamata agama, mereka yang menyibukkan diri mencari nafkah secara halal, adalah termasuk rendah golongannya. Ini, kalau kita ukur dengan tiga tingkatan terdahulu. Adapun mereka yang terkena bujuk setan -dalam kacamata agama- adalah mereka yang sama sekali tidak punya keutamaan. Aktivitas yang mencemarkan nama baik agama, menyakiti sesama adalah sekedar contoh saja. Setiap muslim hendaknya mampu memelihara diri agar jangan sampai terjerumus pada kehancuran.
Dalam kacamata agama, manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan:
-
Mereka yang selamat. Adalah mereka yang selalu memenuhi perintah wajib, dan menjauhi segala kemaksiatan.
-
Mereka yang mendapat laba. Adalah mereka yang melakukan perintah wajib plus sunnah. Dengan melakukan yang sunnah, mereka selalu dapat mendekatkan diri pada Allah, sekaligus menjauhi segala kemaksiatan.
Terjemah Bidayatul Hidayah
- Mereka yang merugi. Adalah mereka yang meremehkan segala urusan peribadatan kepada Allah, baik yang wajib maupun yang sunnah.
Bila anda tidak dapat mencapai tingkat yang kedua -mereka yang mendapat laba- maka berusahalah untuk mendapatkan tingkat pertama mereka yang selamat. Dan janganlah sampai meraih tingkat ketiga -mereka yang merugi- sebab anda dapat mendapatkan kerugian yang besar di akhirat. Kerugian ini, merupakan imbalan dalam hal meremehkan atau mengabaikan perintah wajib dan sunnah.
Dalam pandangan kita, manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga juga:
-
Mereka yang bagai malaikat. Dalam segala tindak tanduknya, mereka menyerupai malaikat Kiramil Barorah, malaikat yang mulia nan suci. Mereka suka menolong di saat orang memerlukan bantuannya. Pertolongan yang diberikan dilandasi kasih sayang, dan bermaksud meringankan beban orang lain. Mereka mencari keridhaan Allah, bukan yang lain.
-
Mereka yang bagai binatang. Mereka ini punya perilaku seperti binatang. Tidak bermanfaat terhadap sesamanya. Bahkan, kejelekan perbuatannya yang justru menimpa orang lain. Mereka itu, tentu tidak mungkin bisa bergaul dengan orang tipe pertama. Juga kebanyakan orang enggan bergaul dengan mereka. Sebab itu hanya akan menimbulkan kerugian saja.
-
Mereka yang bagai binatang buas. Mereka -dalam pergaulan-diibaratkan bagai binatang buas atau beracun dan tidak dapat diharapkan kebaikannya. Bahkan, sangat diakui tindak kejahatannya.
Apabila anda tidak dapat mencapai tingkat pertama, maka hendaknya jangan sampai masuk pada tingkat kedua. Apalagi masuk pada tingkat ketiga, itu sangatlah berbahaya. Tingkatan ketiga ini hendaknya dijauhi, sebab ia hanya menimbulkan kemudharatan.
Dan bila anda telah mencapai tingkat pertama, maka jangan rela
terjerumus pada jurang kehinaan. Jangan sampai setelah mencapai tingkat A'lal 'iliyyin merosot pada tingkat Asfala Safilin. Anda tentu akan mendapatkan keselamatan yang timbal balik, tidak rugi dan merugikan. Tidak untung dan tidak pula memberikan keberuntungan. Tidak ada laba atau pun rugi - dalam bergaul terhadap sesama.
Adapun upaya untuk mencapai tingkat malaikat, sepanjang hari, hendaknya anda isi dengan aktivitas yang bermanfaat. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi. Semua itu tidak pernah lepas dari pertolongan orang lain. Sebab manusia adalah makhluk sosial, saling membutuhkan bantuan.
Ketika anda mencari rizki, sebaliknya didasari niat agar bisa lebih khusyu' melakukan ibadah pada-Nya. Tentu untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi. Oleh sebab itu, bila anda berdagang, hendaknya dilakukan dengan penuh kejujuran. Demikian pula pekerja-pekerja lainnya.
Apabila anda hidup ditengah-tengah masyarakat tidak bisa memelihara ajaran agama, maka uzlah -mengisolir diri- adalah lebih baik. Dengan uzlah anda akan mencapai kebahagiaan hidup dan akan selamat dari gangguan manusia. Tapi bila tidak tahan uzlah atau ragu-ragu, sebaliknya tinggalkan. Sebab, bila dipaksakan akan mengundang murka Allah. Bila dalam uzlah tidak bisa memperbanyak ibadah kepada Allah, lebih baik jangan dikerjakan. Tidur saja di rumah. Memang, daripada bergaul dengan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan, lebih baik tidur di rumah. Bila dalam pergaulan tidak mendatangkan manfaat, sebaiknya anda jauhi.
Dalam kacamata agama, bila seseorang bisa menyelamatkan ajaran agama, namun ia tidak memiliki amal kebajikan, maka ia dipandang hina. Oleh sebab itu, bila anda tidur, dengan niat untuk menyelamatkan agama, menjauhi maksiat dalam pergaulan, maka itu termasuk ibadah pada Allah. Sebaliknya, bila tidur itu disebabkan malas bekerja, maka hal itu sudah termasuk perbuatan maksiat dan menjadi musuh agama.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Hidayatul Hidayah 83
Usahakan mempersiapkan diri untuk shalat Dhuhur, sebelum matahari condong ke barat. Lakukanlah Qailulah -tidur sebentar di siang hari-. Hal ini sangat baik dilakukan oleh mereka yang mempunyai kebiasaan bangun malam, baik untuk shalat tahajud, maupun baca buku. Qailulah sangat menolong bagi seseorang yang bisa bangun malam, agar tidak terlalu mengantuk. Qalilulah juga sangat membantu bagi mereka yang melakukan makan sahur.
Ketika waktu Dhuhur datang, hendaknya segera bangun, ambil air wudhu, dan pergi ke masjid. Kemudian lakukanlah shalat sunnah Tahiyatul masjid dua rakaat.
Dan ketika matahari sudah condong ke barat, lakukanlah shalat sunnah Aqibaz Zawal empat rakaat. Shalat ini bisa dilakukan oleh Rasulullah saw., bahkan dalam salah satu riwayat, disebutkan:
"Waktu menjelang matahari condong ke barat adalah waktu dimana pintu-pintu langit terbuka. Oleh sebab itu, aku berharap bila pada saat itu amal shaleh bisa terangkat."
Adapun shalat sunnah Aqibaz Zawal -yang juga disebut: shalat Qabliyah Dhuhur- hukumnya sunnah Muakkad. Adapun pahala amalan shalat ini, disebutkan dalam salah satu riwayat:
$$ \text{إِنَّ مِنْ صَلَاهُنَّ فَأَحْسَنَ رُكُوعَهُنَّ وَسُجُودَهُنَّ} $$
$$ \text{صَلَّى مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ إِلَى} $$
$$ \text{اللَّيْلِ.} $$
"Barangsiapa melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum Dhuhur -dengan penuh kekhusyu'an dan kesempurnaan-
Terjemah Bidayatul Hidayah
maka, tujuh puluh ribu malaikat memerintahkan rahmat dan ampunan baginya -kepada Allah- sampai dengan datangnya waktu malam."
Lalu, lakukanlah shalat Dhuhur dengan berjamaah. Sesuai melakukan shalat dan wirid lanjutkan dengan shalat sunnah Ba'diyah Dhuhur, dua rakaat. Shalat sunnah Ba'diyah Dhuhur itu hukumnya sunnah Muakkad.
Adapun waktu luang antara shalat Dhuhur dan Ashar, hendaknya dimanfaatkan untuk mendalami ilmu pengetahuan, menolong sesama atau baca Al-Qur'an. Bisa juga dimanfaatkan untuk mencari rizki, bekerja. Dan ketika waktu Ashar tiba, lakukanlah shalat qabliyah Ashar, empat rakaat. Shalat ini hukumnya sunnah, sebagai sabda Rasulullah saw.:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ.
"Allah mencurahkan rahmat kepada orang yang melakukan shalat empat rakaat sebelum Ashar."
Adalah Rasulullah saw. yang selalu mendoakan mereka yang melakukan shalat qabliyah Ashar. Sebaiknya setiap muslim mengambil bagian dari doa Rasulullah itu. Dengan demikian ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Seusai melakukan shalat Ashar, maka ada waktu luang sampai datangnya waktu shalat Maghrib. Waktu luang antara Ashar dan Maghrib itu, hendaknya anda gunakan untuk memperbanyak amal shalih. Gunakanlah waktu itu dengan membaca Al-Qur'an, dzikir dan tasbih. Jangan waktu luang itu digunakan untuk berbicara yang tidak ada manfaatnya, yang terbuang sia-sia.
Di dalam menanti waktu shalat, sebaiknya diisi dengan mawas diri. Perhitungkanlah antara perbuatan maksiat dengan ibadah yang
Tariqnah Bidayatul Hidayah 65
dilakukan. Juga, isilah dengan bacaan-bacaan yang telah diajarkan Rasulullah saw. Isilah waktu sebaik-baiknya, hingga tidak ada lagi waktu yang tidak diisi dengan amaliah dan ibadah. Jika hal ini bisa dilaksanakan, pasti akan mendapatkan kesuksesan dalam segala cita-cita, mendapat kemanfaatan yang besar.
Bila waktu tidak diatur dengan baik, pasti semua yang dilakukan menjadi acak-acakan. Sebab tidak ada waktu untuk melakukan sesuatu. Sehingga kemungkinan menunda sesuatu jadi lebih besar. Banyak waktu yang terlewatkan sia-sia. Padahal, menyia-nyiakan waktu sama dengan menyia-nyiakan umur yang tidak berguna. Ibarat bemiaga, umur adalah investasinya. Seseorang akan mendapat keuntungan bila pandai mengolah investasinya.
Bernafas adalah karunia yang sangat besar nilainya. Apabila pernafasan berhenti, tidak ada yang bisa menggantikannya. Ia akan mati, dan tidak mungkin akan hidup kembali. Oleh sebab itu manfaatkan pernafasan itu sebaik mungkin. Oleh sebab itu gunakanlah hidup ini untuk menuntut ilmu pengetahuan sebagai bekal pengabdian pada-Nya. Pengabdian sebagai realisasi dari rasa syukur atas anugerah dan nikmat yang telah dicurahkan dari-Nya.
Di alam kubur nanti, teman setiap orang hanyalah ilmu dan amal shalihnya. Anak, istri, kerabat, kekayaan akan hilang begitu saja. Ketika seseorang meninggal dunia, ia akan diantara tiga perkara. Dua perkara akan kembali tanpa permisi, sedang yang satu akan menjadi teman setia. Harta dan keluarga akan kembali tanpa permisi. Harta dibagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya, bahkan sering menjadi sengketa. Tidak jarang pula, baik suami maupun istri, yang telah berikrar sehidup semati ketika sedang memadu cinta, kembali tanpa permisi. Dan janji pun tinggallah janji. Waktumu adalah usiamu, umurmu adalah modalmu, dan disitulah perdaganganmu. Setiap nafasmu adalah mutiara berharga yang tidak ada gantinya bila telah dilepas dan tidak bisa kembali.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Jangan merasa bangga tatkala kekayaan dunia semakin bertambah padahal umur terus berkurang. Perasaan ini muncul dari orang-orang yang tolol, yang tidak dapat memfungsikan akal pikiran sebagaimana mestinya. Jangan pula bertambahnya harta kekayaan menyebabkan tersia-sianya umur. Bukankah harta kekayaan akan menjadi milik para ahli waris? Oleh sebab itu apa keuntungannya bila harta kita bertambah tetapi umur berkurang.
Bila matahari sudah berada di ambah petang. Ketika senja memerah darah telah tiba, bersegeralah pergi ke masjid mempersiapkan diri untuk shalat Maghrib. Perbanyaklah bacaan tasbih dan istighfar. Karena keutamaan waktu ini seperti keutamaan waktu sebelum matahari terbit. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا.
"Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam." (QS. Thaha: 130)
Sebelum matahari terbenam, hendaknya membaca 4 surat dalam Al-Qur'an, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah saw. Adapun surat tersebut adalah, surat Asy Syams, Adh Dhuha, Al Falaq dan An Naas.
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِنْدَ إِقْبَالِ لَيْلِكَ وَإِدْبَارِ نَهَارِكَ وَحُضُورِ صَلَوَاتِكَ وَأَصْوَاتِ دُعَاتِكَ أَنْ تُوْبَ عَلَيَّ تَوْبَةَ مُحَمَّدٍ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا
Terjemah Bidayatul Hidayah 67
"Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ketika malam tiba dan ketika siang telah pergi. Ketika waktu shalat tiba dengan dikumandangkannya adzan, agar Engkau berkenan mencurahkan wasilah, keutamaan dan derajat tinggi kepada Nabi Muhammad. Dan tempatkanlah beliau di suatu tempat yang terpuji, yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya, Engkau tidak mengingkari janji yang telah Engkau janjikan."
Sesuai menjawab adzan dan iqamat, segeralah melakukan shalat Maghrib berjamaah dengan khusyu'. Kemudian melakukan shalat sunnah ba'diyah Maghrib dua rakaat. Jika masih ada kesempatan, lakukanlah shalat sunnah Awwabin, shalat taubat empat rakaat.
Dalam ajaran Islam, sangat dianjurkan beri'tikaf sambil menunggu datangnya waktu shalat Isya'. Bila anda mengiri waktu antara Maghrib dan Isya' dengan shalat, maka lakukanlah. Amalan ini mengandung keutamaan besar, yang tak terhitung nilainya.
Shalat Awwabin empat rakaat yang dilakukan setelah shalat sunnah Ba'diyah, adalah ketegasan dari ayat Nasyiatul Lail. Sebab Maghrib adalah permulaan malam.
Suatu hari, Rasulullah saw. ditanya oleh seorang sahabat tentang pengertian firman Allah swt.:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ
"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya." (QS. As Sajdah: 16)
Maksudnya adalah, melakukan shalat sunnah antara Maghrib dan Isya', jawab Rasulullah saw. Menurut Rasulullah, shalat sunnah pada saat itu dapat menjadi perantara mendapatkan ampunan segala dosa yang
Terjemah Bidayatul Hidayah
dilakukan sepanjang hari, baik yang dilakukan pada siang maupun malam hari.
Seusai menjawab adzan Isya', segeralah melaksanakan shalat Qabliyah Isya' empat rakaat ini. Ini dimaksudkan untuk memelihara waktu antara adzan dan iqamat. Dalam suatu hadits disebutkan, bahwa doa antara adzan dan iqamat sangat dikabulkan. Sesuai melakukan shalat Isya', segeralah melakukan shalat sunnah Ba'diyah dua rakaat. Setiap rakaat, setelah membaca surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat Alif Lam Min Sajdah dan Tabarak, atau surat Yasin dan ad-Dukhan.
Tata cara shalat tersebut diatas adalah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Lalu dilanjutkan dengan shalat sunnah empat rakaat plus witir tiga rakaat dengan satu kali salam boleh juga dengan dua kali salam.
Umumnya, ketika melakukan shalat witir, sesudah membaca surat Al-Fatihah, Rasulullah saw. selalu membaca surat Sabbihisma rabbikal a'laa. Pada rakaat dua dilanjutkan dengan membaca surat Al-Kafirun. Pada rakaat ketiga dibaca surat Al-Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. Bila melakukan shalat sunnah witir, lebih dari tiga rakaat, maka setelah membaca surat Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat-surat yang lain. Shalat witir dilaksanakan pada malam hari. Dan ia digunakan sebagai penutup shalat malam, baik tahajut maupun hajat.
Di waktu malam hari, disamping diisi dengan shalat sunnah, sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak tadarus Al-Qur'an, mendalami ilmu dan mengkaji kitab. Jangan diisi dengan hiburan atau minuman, sehingga hal itu menjadi akhir perbuatanmu sebelum tidur. Sebab amal kebajikan yang mendapat penilaian di sisi Allah hanya yang terakhir kali. Bila amal terakhir berupa kebaikan, maka seluruhnya menjadi baik. Demikian juga sebaliknya.
Bila anda hendak tidur, bentangkanlah tikar ke arah kiblat. Aturlah tempat tidur dengan rapi. Dan berikanlah badanmu dengan meletakkan pipi kanan di bawah, seperti mayit ketika dibaringkan di liang lahat.
Tidur itu ibarat mati. Dan bangun tidur itu sama dengan bangkit dari kubur. Oleh sebab itu, bila Allah mencabut nyawa di malam itu, anda telah siap. Sebagai bekal untuk bertemu Allah, tentu saja sebelum tidur hendaknya anda bersuci dan berdzikir pada-Nya. Dengan demikian, bila nanti nyawa dicabut, sudah dalam keadaan suci.
Dengan demikian, tidur pun ada tata caranya:
a. Ketika permulaan tidur berbaring di atas lambung kanan, menghadap ke arah kiblat.
b. Mulai tidur dalam keadaan suci dari hadas dan berdzikir kepada Allah.
c. Menulis wasiat dibawah kepala.
d. Ingatlah bahwa anda akan diletakkan di liang lahat sendirian, tidak ada teman kecuali amalmu, dan tidak akan dibalas kecuali dengan usahamu.
e. Sebelum tidur bertaubat dari dosa dan berniat tidak akan mengulangi maksiat yang telah dilakukan sepanjang siang. Niat akan berbuat baik kepada sesama muslim, bila masih diberi umur panjang. Selalu ingat, bahwa di kubur nanti tidak ada teman yang setia melainkan amal shalih. Dalam kubur hidup seseorang diri tanpa teman. Hanya amal shalih teman yang abadi, sehingga ia harus rajin mencari dan melakukannya.
f. Jangan masuk pembaringan sebelum benar-benar merasa ngantuk. Jangan pula tidur di tempat yang serba mewah. Jangan tidur, kecuali kalau mendatangkan manfaat. Seperti untuk mempersiapkan diri
Terapi Menyeluruh Hidayah
Terjemah Bidayatul Hidayah
melakukan shalat sunnah maupun amal lainnya. Lebih baik bangun daripada tidur. Sebab, tidur yang tanpa tujuan berarti menyia-nyiakan umur. Sedangkan tidur dengan niat menjauhkan diri dari maksiat, sekalipun menyia-nyiakan umur, namun lebih selamat dan menyelamatkan agama.
Dalam sehari semalam terdapat dua puluh empat jam. Karenanya jangan sampai tidur melebihi delapan jam dalam sehari. Seandainya seseorang setiap hari tidur delapan jam, sedangkan umur yang tersedia hanya enam puluh tahun, maka ia telah menyia-nyiakan sepertiga umur. Berarti dua puluh tahun umur tersia-siakan.
g. Sebelum masuk pembaringan sebaiknya menggosok gigi terlebih dahulu. Dan mempersiapkan air untuk berwudhu apabila nanti bangun. Upayakan bangun untuk melakukan shalat malam atau shalat sebelum shalat Subuh.
Shalat dua rakaat setelah bangun tidur, adalah salah satu perbendaraan kebaikan. Perbanyaklah perbendaraanmu untuk hari dimana kamu membutuhkannya. Bila kamu mati, maka perbendaraan dunia tidak kamu perlukan.
h. Ketika akan tidur atau terjaga kemudian akan tidur lagi, disunnahkan membaca doa:
بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِاسْمِكَ أَرْفَعُهُ
فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي. اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ
عِبَادَكَ، اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَحْيَا وَأَمُوتُ وَأَعُوذُ بِكَ
اللَّهُمَّ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ
أَخَذَ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ. اقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَأَغْنِنِي مِنَ الْفَقْرِ. اللَّهُمَّ أَنْتَ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَتَوَفَّاهَا لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا إِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا وَإِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ أَيْقِظْنِي فِي أَحَبِّ السَّاعَاتِ إِلَيْكَ وَاسْتَعْمِلْنِي بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَيْكَ حَتَّى تُقَرِّبَنِي إِلَيْكَ زُلْفَى وَتُبَعِّدَنِي عَنْ سَخَطِكَ بُعْدًا أَسْأَلُكَ فَتُعْطِينِي وَأَسْتَغْفِرُكَ فَتَغْفِرَ لِي وَأَدْعُوكَ فَتَسْتَجِيبَ لِي.
Terjemah Bidayatul Hidayah
"Dengan menyebut nama-Mu ya Tuhanku, aku meletakkan badanku, dan mengangkatnya untuk bangun. Karena itu, berilah aku curahan ampunan. Ya Allah, hindarkan diriku dari api neraka di hari Engkau membangkitkan seluruh makhluk mati. Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu aku hidup dan mati. Dan aku berlindung dari sesuatu yang dapat membuat kejelekan, serta dari kejelekan binatang yang Engkau menguasainya. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang selalu menunjukkan ke jalan yang lurus. Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Awal, tiada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkau Dzat Yang Akhir, yang tiada sesuatu sesudah-Mu. Engkau Dzat yang Batin, tiada sesuatu yang dapat berdampingan dengan-Mu. Engkau Dzat Yang Lahir, tiada sesuatu yang di atas-Mu. Karena itu, curahkanlah kekayaan kepadaku, hingga dengannya aku dapat membayar hutang dan terhindar dari kefakiran."
"Ya Allah, Engkau telah menciptakan diriku dan yang akan mematikannya pula. Hanya untuk berbakti kepada-Mu hidup dan matiku. Bila Engkau berkehendak mematikannya, maka berilah ampunan lebih dahulu. Bila Engkau berkehendak menghidupkannya, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang beramal shalih. Ya Allah, aku memohon ampunan dan kesegar-bugaran kepada-Mu baik di dunia, dalam agama dan di akhirat. Ya Allah, bangunkanlah diriku pada waktu yang sangat engkau cintai, sehingga dapat melakukan amal yang engkau ridhai. Ya Allah, jauhkanlah diriku dari kemurkaan-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu anugerah dan ampunan. Berilah curahan ampunan dari sisi-Mu dan kabulkanlah doaku."
Lalu, lanjutkan dengan membaca ayat Kursi dan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah. Juga membaca surat al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas. Tidak ketinggalan pula membaca surat Tabarak.
Setelah membaca surat-surat tersebut, maka persiapkanlah diri
Terjemah Bidayatul Hidayah 73
untuk tidur dengan pulas. Permulaan tidur hendaklah diusahakan masih dalam keadaan berdzikir kepada Allah dan suci dari hadas. Barangsiapa yang melakukan amaliah seperti ini, maka ruhnya ketika tidur dinaikkan ke 'Arsy dan baginya ditulis pahala seperti pahala orang yang beribadah sunnah semalam suntuk.
Setiap muslim hendaknya sabar dan tahan uji dalam melaksanakan amaliah sesuai yang telah dijadwalkan diatas. Apabila perasaan malas timbul dalam hati, hendaklah dapat mengambil ta'bir dari seseorang yang sedang sakit. Dengan sabar dan tahan uji ia menelan pil yang sangat pahit karena punya harapan agar cepat sembuh. Demikian pula ibadah. Harus tahan uji dan sabar, karena mempunyai harapan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Anda hendaklah selalu berfikir dan merenungkan, bahwa umur yang tersedia relatif sangat pendek dan sedikit bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Sekalipun ia diberi umur seratus tahun misalnya, itu pun masih sedikit bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang serba abadi. Hendaklah membayangkan dan memikirkan pula kehinaan dan kepayahan seseorang yang memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Kita bekerja selama sebulan atau setahun dengan harapan bisa menikmati hasilnya selama dua puluh tahun. Lalu, bagaimana halnya dengan seseorang yang malas beribadah. Padahal ia menginginkan kebahagiaan yang kekal di akhirat. Perbandingan ini diharapkan dapat menggugah kesadaran setiap orang yang menamakan dirinya sebagai muslim untuk memperbanyak pengabdian kepada Allah, mencapai kebahagiaan abadi diatas ridha-Nya. Beribadah dengan tekun tanpa mengesampingkan pekerjaan yang menjadi sarana penguatnya.
Setiap muslim hendaklah menghindarkan diri dari lamunan yang tiada arti, yang mengakibatkan kemalasan melakukan amal kebajikan. Jangan sekali-kali mempunyai keyakinan bahwa umumya masih panjang, sehingga segala sesuatu yang dapat dilakukan nanti
Terjemah Bidayatul Hidayah
dapat ditunda sampai dengan waktu tertentu. Dalam mengarungi hidup dan kehidupan penuh keyakinan bahwa ajal setiap saat siap menghampiri, sehingga lebih rajin melakukan amal shalih. Mempersiapkan bekal yang akan digunakan untuk menjemput datangnya ajal. Yakni meningkatkan pengabdian kepada Allah.
Semboyan "Hari ini aku harus memperbanyak pengabdian kepada Allah, sebab mungkin nanti malam ajal menghampiri." Setiap saat harus dikumandangkan dalam hati setiap muslim. Ketika malam tiba, seharusnya mempunyai perasaan dan kesadaran bahwa besok pagi barangkali ajal menghampiri. Cara ini akan lebih mempermudah peningkatan ibadah, bahwa terasa ringan untuk beramal kebajikan. Kematian tidak akan datang pada umur maupun waktu tertentu, tapi kapan saja bisa terjadi. Ia datang secara tiba-tiba dan menimpa siapa saja. Tidak pandang muda maupun tua, miskin maupun kaya, rakyat jelata maupun penguasa. Karenanya, setiap muslim hendaklah selalu mempersiapkan diri dalam segala keadaan, kapan saja dan di mana saja. Cara ini paling tepat untuk menyambut datangnya kematian, sehingga dapat selamat dari bahaya keberakhiran yang jelek (su'ul khatimah).
Mempersiapkan diri -untuk menyambut datangnya ajal- lebih baik daripada menyambut kehidupan dunia yang diliputi kebahagiaan semu. Kebahagiaan larihiah belaka. Setiap muslim mengetahui bahwa kebahagiaan dunia bersifat sangat sementara, sedangkan kehidupan akhirat abadi sepanjang masa. Barangkali hidup dunia tinggal sehari, bahkan mungkin tinggal satu menit. Rasa bahwa ajal akan menghampiri hendaklah ditanamkan dalam hati, sehingga setiap saat timbul tenggelam di lubuk sanubari. Ini berarti memberikan komando untuk selalu melakukan pengabdian kepada Allah swt.
Hawa nafsu memang musuh utama bagi orang yang hendak tekun melakukan ibadah kepada Allah. Karenanya, anda harus dapat memaksa diri dan memerangi kehendak hawa nafsu, yakni dengan
Bidayatul Hidayah 75
bersabar dan tahan uji didalam melaksanakan peribadatan dan pengabdian kepada Allah. Lakukanlah ibadah sedikit demi sedikit, tetapi kontinyu. Dengan demikian hawa nafsu seseorang akan lebih condong kepada kebiasaan tersebut, sehingga dengan mudah pula melakukan ibadah kepada Tuhan, sekalipun ibadah tersebut berat dirasa.
Kalau seseorang telah mampu menjadikan ibadah sebagai kebiasaan dengan baik selama lima puluh tahun, misalnya, tentu suatu saat hawa nafsu akan memberontak, tidak mau lagi diajak ke arah kebaikan. Tetapi kalau nafsu itu terus menerus terlatih diajak melakukan kebajikan, tentu dengan sendirinya dapat teratasi. Sehingga, dikala ajal menghampiri diri dapat mendapatkan kebahagiaan. Kalau seseorang mendapatkan kebahagiaan dikala mendapati ajal, maka berarti mendapatkan kebahagiaan untuk sepanjang masa. Kebahagiaan yang luar biasa, karena maut menghampirinya dengan mudah.
Sebaliknya, manakala manusia membiasakan diri memperturutkan kemauan hawa nafsu, merasa malas melakukan ibadah kepada Allah, maka sudah tentu kesusahan yang sangat akan ditimpakan dan didapati dikala ajal menghampiri diri. Seorang penyair berkata: "Di waktu pagi kamu semua memuji perjalanan malam, dan ketika mati kabar akan datang padamu."
Ketika ajal telah menemui seseorang, dia akan dapat membuktikan segala informasi tentang yang ghaib, yang terdapat di alam akhirat. Sesuatu yang ghaib itu dapat mereka yakini secara pasti. Keridhaan Allah pun dapat dibuktikan. Semuanya pasti akan menjadi kenyataan.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Ketika anda telah selesai menghilangkan hadas, dan telah membersihkan segala kotoran yang menempel di badan, pakaian, tempat shalat, dengan aurat tertutup, berdirilah menghadap kiblat. Lakukanlah shalat.
Bagi lelaki, batas auratnya mulai dari pusat sampai lutut. Sedangkan bagi perempuan seluruh badan, kecuali telapak tangan dan muka.
Setelah anda berdiri tegak, dengan kaki sedikit terlentang (tidak terlalu rapat), maka hendaklah membaca surat An-Naas, untuk minta perlindungan Allah dari segala bujuk rayu setan, sehingga bisa khusyu' dalam melaksanakan shalat. Mulai saat ini bersihkanlah diri dari segala khayalan dan fikiran yang bukan-bukan. Konsentrasikan untuk melakukan shalat dengan penuh kekhusyu'an. Ingat dan sadarlah, bahwa saat ini anda sedang berdialog langsung dengan Tuhan, sedangkan hatimu lupa kepada-Nya, dan dadamu penuh dengan godaan duniawi dan sahwat yang jelek.
Allah swt. adalah Dzat yang selalu mengetahui apa yang dirahasiakan seseorang dan melihat pula apa yang menjadi renungan hatinya. Allah akan memberikan besar kecilnya pahala seseorang yang melakukan ibadah sesuai dengan kekhusyu'annya. Demikian pula, didalam melakukan ibadah shalat, akan dinilai dari segi kekhusyu'an, ketawadlu'an dan kesopanan dalam pelaksanaan shalat tersebut.
Di dalam melakukan shalat, hendaklah berkonsetrasi, seakan melihat dan berhadapat dengan Allah, sekalipun dalam kenyataannya tidak dapat melihat-Nya dengan mata kepala. Hendaklah beriktikad bahwa Allah melihat dan menyaksikan apa saja yang diperbuat didalam ibadahnya itu. Kalau sekiranya hati tidak dapat khusyu', anggota badan tidak bisa tenang karena sedikitnya ma'rifah kepada Allah. Maka sadar dan perhitungkanlah bahwa pribadi yang demikian adalah hina. Sadar bahwa dirinya hanya seorang yang hina, sehingga
Terjemah Bidayatul Hidayah 77
mau meneladani orang yang shalih. Hendaklah orang yang melakukan ibadah mempunyai perasaan, bahwa ibadah yang dilakukan selalu diintai orang yang shalih yang berada dikalangan mereka. Oleh karenanya, maka hendaklah hati-hati didalam melaksanakan ibadah tersebut, sehingga tidak ditertawakan orang-orang shalih yang melihatnya. Kalau perasaan yang demikian telah ditanamkan dalam hati, bahkan telah menjadi kebiasaan dalam melakukan shalat, maka kekhusyu'an, ketawadlu'an hati akan datang sendirinya, dan anggota badan akan tenang dengan sendirinya.
Di dalam segala aktivitas, hendaknya selalu berkonsentrasi dan mawas diri. Kembalikan segalanya kepada diri pribadi. Jangan sesekali menuduh atau pun menyalahkan pihak lain. Katakanlah selalu kepada nafsu:
"Wahai nafsu yang jelek, tidaklah engkau merasa malu kepada Dzat yang telah menciptakanmu dan yang kamu pertuan? Mengapa kalau hanya dilihat sesama makhluk yang hina, yang tidak akan mendatangkan bahaya padamu, dan tidak pula mendatangkan manfaat, justru kamu khusyu', tenang dan baik dalam melaksanakan shalat. Padahal dalam kenyataannya, kamu tahu pasti bahwa Allah selalu melihat dan mengawasimu. Lalu mengapa kamu tidak khusyu' dan tawadlu' kepada-Nya? Apakah kamu beranggapan bahwa Allah lebih hina daripada makhluk yang hina? Kalau begitu, wahai nafsu, terlalu tolol dan terlalu besar khianatmu terhadap dirimu sendiri."
Berupayalah agar ibadah dapat khusyu', tidak terkalahkan oleh pengaruh hawa nafsu. Diantara cara mengobatinya ialah mengingatkan kepada nafsu sebagaimana telah dikupas di atas, atau dengan cara lain yang tepat. Mungkin dengan cara demikian, hati dan tunduk, mau melakukan ibadah dengan khusyu'. Ibadah shalat tidak akan sempurna tanpa adanya dasar pengertian dan pemikiran yang menuju ke arah kesempurnaan. Shalat yang dilakukan dalam keadaan pikiran kosong, kurang kosentrasi, kurang khusyu',
Terjemah Bidayatul Hidayah
hendaklah diistighfari dan ditebus dengan membayar kifarat. Shalat yang demikian masih memiliki cela dan cacat, yaitu kurang khusyu'.
Setelah hati merasa penuh konsentrasi untuk melakukan shalat, maka kumandangkanlah "Iqamat", sekalipun dalam melakukan shalat hanya seorang diri. Tetapi, kalau sekiranya masih dapat menanti shalat berjamaah, hendaklah dikumandangkan adzan. Kemudian setelah datang teman berjama'ah kumandangkanlah "iqamat". Baru setelah itu dirikanlah shalat dengan niat:
أُؤَدِّى (أَهْلًا) فَرْضَ الظُّهْرِ لِلَّهِ تَعَالَى.
"Aku berniat melakukan shalat Dhuhur karena mendatangi perintah Allah, dan semata-mata hanya mencari keridhaan-Nya."
Lafazh diatas hendaklah dihadirkan dalam hati, direnungkan maknanya dikala sedang melakukan "takbiratul ihram". Jangan sampai niat tersebut kabur sebelum takbiratul ihram selesai.
Dikala takbiratul ihram, angkatlah kedua tangan sejajar dengan bahu dengan jari-jari tangan yang terbuka terkumpul rapat. Usahakan jari-jari tangan yang terbuka terkumpul rapat. Usahakan jari-jari tangan sejajar dengan lubang telinga. Kalau telah siap seperti apa yang telah dikemukakan diatas, bacalah takbiratul-ihram, yaitu lafazh "Allahu Akbar". Kemudian turunkan pelan-pelan seperti keadaan semula. Maksudnya, jangan terlalu banyak bergerak. Kemudian, taruhlah tangan di bawah dada, dengan tangan kanan ditaruh ditangan kanan kiri sambil jari-jari tangan kanan memegang (bagian) lengan tangan kiri. Sesudah itu, bacalah doa Iftitah berikut ini:
اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ
Terjemah Bid'atul Hidayah 79
السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
"Allah Maha Besar dengan sempurna. Maha Suci Allah dan memuji kepada Allah sebanyak-banyaknya disepanjang pagi dan sore (sepanjang hari). Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi, dan diriku condong kepada agama Islam dan berserah diri, dan diriku bukan golongan orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk mencari keridhaan Allah yang menguasai seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Dengan hal tersebut aku diperintah, maka aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (muslim)."
Sesudah membaca doa iftitah, lanjutkanlah dengan membaca al-Fatihah. Di dalam membaca surat Al-Fatihah hendaklah memelihara bacaan, yakni dengan memelihara tasydid yang ada dan membedakan antara bacaan dlat dengan dhat. Setelah selesai membaca surat al-Fatihah maka bacalah Amin, yaitu setelah berhenti sejenak dari membaca waladldlaaliin. Untuk shalat Subuh, Maghrib dan Isya', pada dua rakaat yang pertama disunnahkan membaca surat Al-Fatihah dengan suara yang keras, kecuali bagi makmum. Bagi makmum disunnahkan mengeraskan bacaan Amin saja.
Pada shalat Subuh, setelah membaca surat al-Fatihah, lalu bacalah salah satu surat yang panjang dari surat-surat Mufashshal. Dikala shalat Maghrib, pada rakaat yang pertama dan kedua, setelah
66 Terjemah Bidayatul Hidayah
membaca Fatihah, lanjutkanlah dengan membaca surat-surat yang pendek. Sedangkan dikala melakukan shalat Dhuhur, Ashar dan Isya' pada rakaat pertama dan kedua setelah membaca al-Fatihah, lanjutkan membaca dengan surat-surat yang sedang, tidak panjang dan tidak terlalu pendek. Sebagai misal surat wassamaa'i dzatil buruj dan sejenisnya.
Dikala melakukan shalat Subuh di dalam berpergian, bacalah surat Al-Kafirun pada rakaat yang pertama dan surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua. Antara bacaan akhir surat dengan ruku' hendaklah dipisahkan dengan berhenti sejenak, jangan sampai disambung, yakni kira-kira selesai membaca lafazh Subhanallaah.
Dikala melakukan shalat, baik di saat berdiri atau pun duduk, hendaklah pandangan mata diarahkan ketempat sujud. Yang demikian lebih menenangkan hati dan lebih menarik kekhusyu'an di dalam melakukan shalat. Di saat shalat, janganlah memalingkan muka ataupun pandangan kesana kemari, kekanan kekiri. Jika melakukannya dengan sengaja, maka shalatnya batal.
Setelah membaca apa yang harus dibaca dikala sedang berdiri, setelah membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya, maka bertakbirlah dengan mengangkat tangan untuk melakukan ruku'. Adapun cara bertakbir sama dengan bertakbiratul-ihram. Hanya saja, bacaan takbir diperpanjang hingga melakukan ruku' secara sempurna. Yang demikian dimaksud, agar dalam melakukan shalat tersebut tidak terkosongkan dari dzikir kepada Allah. Selanjutnya, letakkanlah telapak tangan di bagian lutut dengan jari-jari yang terbuka dan lurus. Demikian juga keadaan punggung, diusahakan sejajar dengan kepala. Disamping itu, keadaan siku harus terpisah dengan badan. Setelah semuanya terlaksana dengan baik, maca bacalah doa ruku' tiga kali:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ.
Terjemah Bidayatul Hidayah*"Dengan Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan segala puji, milik-Nya."*
Bila seseorang melakukan shalat sendirian, tidak berjamaah, maka lebih utana bacaan ruku' tersebut dibaca dua puluh tujuh kali.
Setelah segalanya dianggap cukup di dalam melakukan ruku' bangunlah untuk melakukan i'tidal, sambil berdiri mengangkat kedua tangan seperti waktu takbiratul ihram dan membaca:
سَمِعَ اللّٰهُ لِمَنْ حَمِدَهُ.
"Allah mengabulkan (mendengarkan) pujian orang yang memuji-Nya."
Setelah beri'tidal, berdiri tegak maka bacalah:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ.
"Wahai Tuhan kami, Kepada-Mu-lah aku memuji dengan segala puji yang memenuhi langit dan bumi, serta memenuhi apa yang Engkau kehendaki sesudahnya (langit dan bumi)."
Di dalam melakukan shalat Subuh, setelah membaca doa i'tidal, dilanjutkan dengan membaca doa Qunut, yakni pada i'tidal rakaat yang kedua, setelah qunut, kemudian sujud.
Pertama kali yang dilakukan didalam sujud ialah meletakkan kedua lutut ke lantai (tempat shalat), kemudian kedua telapak tangan, dilanjutkan bagian muka (kening) yang terbuka, tidak tertutup oleh sesuatu, baru kemudian ujung hidung diletakkan ke lantai. Selanjutnya siku direnggangkan dengan tubuh, usahakan jangan sampai pada tertempel pada perut. Demikian cara bersujud bagi orang laki-laki. Sedangkan bagi wanita, janganlah melakukan
82 Terjemah Bidayatul Hidayah
seperti apa yang dilakukan orang laki-laki. Tetapi, letakkanlah kedua telapak tangan ke lantai, sejajar dengan bahu (pendek). Usahakan jangan sampai lengan tangan bertempel dengan lantai.
Selanjutnya, bacalah bacaan sujud berikut ini:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى.
"Maha Suci Tuhanku yang Maha Tinggi dan segala puji adalah bagi-Nya."
Bacaan tersebut dibaca tiga kali, atau tujuh kali dan sepuluh kali, kalau sekiranya tidak dilakukan secara berjama'ah. Tetapi kalau dilakukan secara berjama'ah, maka cukup tiga kali.
Sesudah itu diangkatlah kepala, bangun dari sujud dengan bertakbir (dan tidak dengan mengangkat tangan) sehingga duduk tegak. Duduklah diatas kaki kiri dan dirikanlah telapak kaki kanan, serta letakkanlah telapak tangan diatas dua paha dengan jari-jari yang lurus dan terbuka. Kemudian bacalah:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرْنِي
وَعَافِنِي وَاعْفُ عَنِّي.
"Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku, kasihanilah diriku, berikanlah aku rizki dan petunjuk. Berilah aku tambahan pahala sebagai penutup cela (ibadahku), berilah aku kesehatan lahir dan batin, serta berilah curahan ampunan."
Selanjutnya lakukan sujud yang kedua kalinya seperti sujud yang pertama. Setelah itu bangun dan duduklah sebentar, sebelum berdiri untuk melakukan rakaat berikutnya. Demikian dilakukan di setiap rakaatnya. Duduk tersebut dinamakan duduk istirahat. Disunnahkannya duduk istirahat ini ialah didalam rakaat yang tidak
Terjemah Bidayatul Hidayah 83
ada tahiyatnya. Untuk selanjutnya letakkanlah kedua telapak tangan ke lantai sebagai sandaran berdiri melakukan rakaat yang berikutnya. Demikian juga kedua telapak kaki dengan serempak mempersiapkan diri untuk berdiri. Sambil berdiri, bacalah takbir yang panjang, yaitu mulai bangkit sampai dengan hampir tegak lurus.
Duduk istirahat merupakan duduk yang hanya sebentar sekali, tidak boleh diperpanjang. Oleh karenanya, hati-hatilah didalam melakukan.
Setelah berdiri tegak, lakukanlah seperti rakaat pertama, yakni membaca surat "Al-Fatihah" dan lainnya. Setelah selesai dari rakaat yang kedua maka bertasyahudlah, duduk membaca tahiyat. Dikala bertasyahud, genggamkanlah tangan yang kanan, kecuali jari telunjuk. Sewaktu membaca bacaan illallaah, maka angkatlah sedikit jari telunjuk tersebut. Di sisi lain, telapak tangan kiri diletakkan di atas paha dengan jari jemari yang terbuka dan rapat, luruh ke arah depan. Di dalam tasyahud awal duduklah sebagaimana duduk antara dua sujud, yakni duduk diatas kaki kiri sambil kaki kanan didirikan tegak. Sedangkan dalam tasyahud akhir, maka hendaklah duduk Tawaruk, yakni duduk diatas tempat melakukan shalat, kaki kiri tidak dijadikan atas duduk, dan kaki kanan tetap didirikan sebagaimana dalam tasyahud awal.
Setelah membaca bacaan tasyahud akhir, lanjutkan dengan membaca doa-doa yang telah masyhur dari Rasulullah saw. seperti: "Allahumma inni a'uudzubika min 'adzabi jahannama wamin 'adzabil qabri" (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa api neraka Jahannam dan siksa kubur), dan lain sebagainya.
Adapun cara duduk Tawaruk ialah duduk diatas pantat yang kiri, sedangkan kaki kiri ditaruh dibawah kaki kanan. Sedangkan telapak kaki kanan tegak lurus dengan jari-jari kaki kanan menghadap ke arah kiblat, khususnya ibu jari.
Setelah bacaan doa sesudah tasyahud akhir dianggap cukup, maka bacalah salam: "Assalaamu 'alaikum warahmatulaahi", sambil memalingkan muka ke arah kanan dengan disertai niat keluar dari (melakukan) shalat, disamping memberi salam pada malaikat dan kaum muslimin yang berada disebelah kanan. Sesudah itu ucapkanlah salam yang kedua, dengan memalingkan muka arah kiri, dan ini hanyalah sunnah.
Perlu diingat, bahwa yang menjadi fondasi dalam melakukan shalat adalah kekhusyu'an dan ketawadlu'an dalam hati. Bagi yang sedang melaksanakan shalat, hendaklah memikirkan - sekaligus merenungkan- maksud dan arti bacaan tersebut.
Hasan Bashri Rahimahullah, mengatakan: "Orang yang melakukan shalat tanpa disertai kekhusyu'an dan ketawadlu'an, maka pantaslah ia disiksa Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ فَلَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا سُدُسُهَا وَلَا عُشْرُهَا وَإِنَّمَا يُكْتَبُ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلَاتِهِ بِقَدْرِمَا عَقَلَ مِنْهَا.
"Sesungguhnya, seorang hamba yang melakukan shalat, tidak akan mendapat pahala seperenam ataupun sepersepuluhnya. Adapun yang dicatat sebagai amal kebajikan yang mendapat pahala adalah ingatnya pada Allah dikala melaksanakan shalat itu."
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Bimbingan Hidayah# 12. ADAB IMAM DAN MAKMUM
Ada delapan syarat yang harus dipenuhi seorang imam, adapun 8 syarat itu adalah:
a. Memperingan atau mempercepat shalat, selama kekhusyu'an dan ketawadlu'an di dalam melakukan shalat tetap terpelihara dengan baik. Anas bin Malik, seorang pelayan Rasulullah saw. selama sepuluh tahun, menyatakan:
مَا صَلَّيْتُ خَلْفَ أَحَدٍ صَلاَةً أَخَفَّ وَلاَ أَتَمَّ مِنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Tidaklah aku melakukan shalat dibelakang seorang imam lebih cepat dan lebih sempurna shalatnya daripada Rasulullah saw."
b. Jangan melakukan takbiratul-ihram sebelum muadzin selesai mengumandangkan "iqamat", sebelum barisan rapi dan lurus. Sesungguhnya, meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) merupakan penyempurnaan shalat itu sendiri dan sangat dianjurkan Rasulullah saw.
c. Dikala takbiratul-ihram, hendaknya imam mengeraskan suara. Tetapi bagi makmum tidak mengeraskannya, kecuali bisa didengarkan sendiri. Alhasil, bagi makmum dalam membaca bacaan takbiratul-ihram cukup dengan suara pelan. Demikian halnya takbir intiqal, takbir perpindahan dari suatu aktivitas - dalam shalat- ke aktivitas lainnya. Seperti dari ruku' ke i'tidal dan lainnya.
Disamping itu, imam harus berniat sebagai imam didalam melakukan shalat. Yang demikian dimaksudkan agar mendapat keutamaan shalat berjamaah. Kalau tidak berniat sebagai imam,
<page_footer> Bimbingan Hidayah
Terjemah Bidayatul Hidayah
maka shalat makmum tetap sah, dan mendapat keutamaan jamaah.
d. Di dalam membaca doa Iftitah dan Ta'awudz hendaklah dengan suara pelan, sebagaimana seorang yang melakukan shalat seorang diri. Demikian juga bagi makmum. Adapun dalam membaca surat al-Fatihah dan surat sesudahnya hendaklah dengan suara keras, yakni pada rakaat yang pertama dan kedua dalam shalat Subuh, Maghrib dan Isya'. Demikian pula disunnahkan mengeraskan suara bagi orang yang melakukan shalat sendiri.
Disunnahkan pula bagi imam dan makmum membaca Amin dengan suara keras dikala melakukan shalat yang jahr, yang bacaan fatihahnya dikeraskan. Bagi makmum lebih disunnahkan dikala membaca Amin bertepatan atau bersama-sama imam, tidak mendahuluinya atau mengakhirinya.
e. Sesudah membaca al-Fatihah dan Amin, hendaklah berdiam (tenang) sebentar guna mengatur pernafasan, disamping untuk memberi kesempatan kepada makmum untuk membaca Fatihah. Hal yang demikian dilakukan dalam melakukan shalat yang bacaan surat Fatihahnya disunnahkan dengan suara keras, agar makmum dapat mendengarkan bacaan surat (sesudah Fatihah) dari imam. Sedangkan bagi makmum, tidak perlu membaca surat sesudah Fatihah, cukup mendengarkan bacaan imam saja. Tetapi kalau terpaksa tidak mendengar bacaan imam, seperti dalam shalat yang bacaannya Fatihahnya sirri (pelan), maka bagi makmum tetap disunnahkan membaca surat setelah Fatihah tersebut.
f. Jangan membaca tasbih ruku' dan sujud lebih dari tiga kali.
g. Jangan menambah bacaan tasyahud awal dari yang telah diketahui bersama. Maksudnya, setelah shalawat kepada Nabi saw., yakni membaca: "Allahumma shalli 'ala Muhammad", tidak dibenarkan menambah bacaan lagi.
h. Dalam rakaat-rakaat sesudah tasyahud awal hendaklah membaca
surat al-Fatihah saja tidak perlu membaca surat yang lain. Disamping itu, imam hendaknya dapat menjaga makmum jangan sampai merasa gelisah melakukan shalat, yakni dengan cara mempercepat shalat seperti yang telah diterangkan diatas. Jangan menambah-nambah bacaan doa dan shalawat kepada Nabi saw. dalam tasyahud akhir. Cukup membaca bacaan tasyahud yang telah dimaklumi bersama.
Bagi imam, dikala selesai melakukan shalat, membaca Salam dan memalingkan muka ke arah kanan, hendaknya berniat memberikan salam kepada para makmum, disamping niat keluar dari shalat. Makmum yang berada di belakangnya, hendaknya berniat menjawab salam imam tersebut, disamping juga berniat keluar dari shalat.
Setelah melakukan shalat, hendaklah imam duduk sebentar untuk membaca wirid sebagaimana diajarkan Rasulullah saw. Bagi imam, disunnahkan membaca wirid bersama-sama makmum, dan menghadap ke arah makmum. Tetapi bila yang menjadi makmum wanita, maka tidak disunnahkan untuk menghadap ke arah makmum. Imam hendaknya tetap menghadap ke arah kiblat. Yang demikian dimaksudkan agar kaum wanita keluar lebih dulu.
Bagi makmum, jangan sekali-kali meninggalkan tempat sebelum imam pergi atau bergeser dari tempat duduknya. Baik bergeser ke kanan maupun ke kiri. Yang demikian hukumnya adalah makruh. Sedangkan bagi imam, bergeser ke kanan adalah lebih baik, lebih utama dan lebih dicintai.
Di dalam membaca doa Qunut pada shalat Subuh, jangan mengkhususkan doa tersebut buat diri sendiri, seperti membaca: "Allaahummahdiina". Lafazh Nii yang berati "aku" hendaknya diganti dengan lafazh Naa yang berarti "kami". Mengkhususkan doa untuk diri sendiri tersebut hukumnya makruh.
Dalam membaca doa Qunut hendaknya dengan suara yang keras. Sedangkan para makmum, mengamini (membaca "Amin")
doa imam. Dalam berqunut ini tidak perlu mengangkat tangan, sebab hal ini tidak ada ajaran dari sunnah Rasul.
Makmum hendaknya juga membaca doa Qunut, yakni mulai lafazh: "Innaka taqdlii walaa yuqdlaa 'alaik", dan seterusnya sampai selesai bacaan doa Qunut tersebut. Alhasil, imam didalam berqunut hanya sampai pada bacaan sebelum lafazh: "Innaka taqdlii walaa yuqdlaa 'alaik."
Bagi seorang makmum, tidak dibenarkan berdiri menyendiri dari imam dikala melakukan shalat. Tetapi hendaklah masuk kedalam shaf atau menarik seorang makmum yang berada didepan agar ke belakang menemaninya, membuat shaf baru.
Sebagai makmum tidak boleh mendahului imam, atau tepat bersamaan dengannya. Hendaklah -dalam segala gerak- lebih akhir dari imam, mengikutinya. Janganlah makmum melakukan ruku', sebelum imam telah sempurna ruku'nya. Juga jangan terburu melakukan sujud, sebelum imam meletakkan dahi (keningnya) ke hamparan tempat sujud.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Hari Jum'at merupakan hari besar bagi kaum muslimin, terutama bagi umat Nabi Muhammad saw. Allah swt. telah memberikan saat mustajab yang dirahasiakan pada hari itu. Bila kaum muslimin mengajukan permohonan doa pada saat itu akan dikabulkan Allah. Waktu tersebut khusus diturunkan Allah pada hari Jum'at. Adapun adab kesopanan di hari Jum'at ada tujuh:
a. Bersiap siaga. Berkemas mulai hari Kamis untuk menyambut datangnya hari Jum'at, dengan membersihkan pakaian (mencucinya), memakai wangi-wangian dan menyediakannya apabila kebetulan habis. Pada Kamis malam memperbanyak membaca tasbih dan istighfar. Sebab di malam itu terdapat waktu yang utama sebagaimana waktu yang utama yang terdapat dalam hari Jum'at. Berniatlah melakukan puasa sunnah di hari Jum'at, tetapi harus disertai puasa di hari Kamis atau hari Sabtu. Sebab kalau puasa hari Jum'at saja hukumnya haram.
b. Jika fajar Subuh telah menyingsing, mandilah. Berniatlah mandi sunnah untuk menyambut shalat Jum'at. Sebab mandi Jum'at -caranya seperti mandi wajib- merupakan sunnah muakad hukumnya bagi setiap orang yang telah baligh.
c. Berhias dengan mengenakan pakaian yang serba putih, sebab warna putih sangat dicintai oleh Allah swt. Bila mungkin, gunakan wewangian atau minyak wangi yang berkualitas tinggi. Usahakanlah membersihkan badan, seperti mencukur rambut, merapikan kumis, memotong kuku, menyikat gigi, dan lain sebagainya yang termasuk katagori membersihkan badan.
d. Setelah itu pergilah ke masjid pada pemulaan awal waktu dengan berjalan pelan, jangan tergesa-gesa. Rasulullah saw. telah bersabda:



