— Bagian 3 · مَنْ رَاحَ إِلَى الْجُمُعَةِ فِي السَّاعَةِ الْأ… —
Bagian 3
مَنْ رَاحَ إِلَى الْجُمُعَةِ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً. وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ. وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً. وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَاجْتَمَعَتِ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ الْمِنْبَرِ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ.
"Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum'at di awal permulaan waktu, maka seakan berkorban unta. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum'at pada waktu yang kedua, maka seakan berkorban sapi. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum'at pada waktu ketiga, maka seakan berkorban (bersedekah) seekor kambing. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum'at yang keempat, maka seakan berkorban seekor ayam jantan. Barangsiapa mendatangi (shalat) Jum'at yang kelima, maka seakan berkorban sebutir telur. Bila imam telah naik mimbar untuk berkhutbah, maka tidak ada bagian (keutamaan pahala) lagi buatnya. Buku catatan amal telah ditutup dan para malaikat (yang bertugas mencatat amal) berkumpul disebelah mimbar untuk mendengarkan khutbah."
Terjemah Bidayatul Hidayah
Tasawuh - Hidayatul Hidayah 91
Diterangkan, bahwa kelak di hari kiamat seseorang akan dapat melihat langsung kepada Allah swt. Jarak antara orang itu dengan Allah tergantung dari jarak mendatangi shalat Jum'at sewaktu di dunia. Kalau datang shalat Jum'at pada waktu, maka akan melihat Allah swt. dari jarak yang lebih dekat.
e. Apabila seseorang telah memasuki masjid, maka carilah shaf (barisan) yang paling awal, paling depan.
f. Apabila para jamaah telah banyak yang datang, dan telah mengambil tempat masing-masing, jangan melangkahkan kaki guna mendapatkan shaf awal melewati barisan mereka.
g. Jangan berjalan di muka orang yang sedang shalat. Carilah tempat yang aman dari gangguan orang lewat dikala sedang shalat, yakni, memilih tempat dekat tiang atau tembok. Dengan demikian shalat yang dilakukan akan lebih khusyu'.
Jangan duduk di masjid sebelum shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, yakni dengan empat rakaat satu kali salam, yang setiap rakaatnya setelah membaca surat al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat al-Ikhlas lima puluh kali. Jadi dalam empat rakaat membaca dua ratus kali surat al-Ikhlas.
Dalam suatu hadits Nabi saw. telah diterangkan, siapa shalat sunnah Tahiyyatul Masjid seperti yang telah diterangkan diatas, maka dia tidak akan dicabut nyawanya oleh Allah sebelum melihat tempat persemayamannya di surga.
Jangan sekali-kali anda meninggalkan shalat Tahiyyatal Masjid, sekalipun imam telah naik ke mimbar melakukan khutbah. Didalam melakukan shalat sunnah ini, pada rakaat pertama disunnahkan membaca surat al-An'am, rakaat kedua membaca surat Al Kahfi, pada rakaat ketiga membaca surat Thaha dan pada rakaat keempat membaca surat Yasin. Kalau tidak mampu membaca surat-surat tersebut, boleh memilih diantara surat Yasin, surat Alif lam mim Sajdah, surat ad-Dukhan atau surat Tabarak. Kalau tidak mampu
Terjemah Ridayatul Hidayah
membaca surat-surat diatas dalam shalat sunnah Tahiyyatul Masjid, maka hendaklah dibaca disepanjang hari Jum'at tersebut.
Surat-surat tersebut mempunyai keistimewaan dibanding surat-surat lainnya. Bagi mereka yang tidak kuasa membaca surat-surat diatas, hendaklah memperbanyak membaca surat al-Ikhlas disepanjang malam dan siang hari Jum'at, disamping juga memperbanyak membaca shalawat Nabi saw.
Dikala imam telah siap melakukan khutbah di mimbar, sedang seseorang sedang melakukan shalat sunnah, hendaklah mempercepat shalatnya. Disamping itu, hendaklah berhenti dari segala kegiatan, seperti berdzikir, membaca tasbih atau al-Qur'an dan sebagainya. Selanjutnya, dengarkanlah dan jawablah apa yang dikumandangkan muadzin. Disamping itu, setelah menjawab adzan kemudian dengarkanlah dan renungkanlah maksud dan arti khutbah yang disampaikan khatib. Jadikan khutbah tersebut sebagai nasehat. Dikala khatib sedang khutbah, jangan sekali-kali bicara dengan orang lain. Rasulullah saw. memberi peringatan kepada kita:
إِنَّ مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ "أَنْصِتْ" فَقَدْ لَغَا وَمَنْ لَغَا فَلَا جُمْعَةَ لَهُ.
"Barangsiapa berbicara dengan temannya dikala imam sedang berkhutbah -sekalipun hanya mengucap- "diamlah", maka dia tidak akan mendapat pahala Jum'at yang sempurna."
Sebab kata "diamlah" termasuk ucapan juga, yang mengandung makna dan memberikan keterangan pada pihak lain. Karenanya, apabila hendak memberikan peringatan kepada orang lain, lebih baik menggunakan isyarat saja. Tidak usah diucapkan, sekalipun hanya ucapan "diamlah" dan sejenisnya.
Seusai melakukan shalat Jum'at, duduklah dulu dan jangan berbicara. Bacalah surat Al-Fatihah tujuh kali, surat al-Ikhlas, surat
Pesewah Bidayatul Hidayah 93
Al Falaq dan surat An-Naas masing-masing tujuh kali pula. Amalan ini dapat menjadi perantara diampuninya dosa yang diperbuat selama satu minggu. Yakni, mulai hari Jum'at tersebut sampai hari Jum'at berikutnya. Juga, dapat dijadikan penangkal godaan setan.
Setelah membaca surat-surat diatas, hendaklah dilanjutkan dengan membaca empat kali doa:
اَللّٰهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ
يَا وَدُوْدُ اَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ
عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
"Ya Allah Yang Maha Kaya, Yang Maha Terpuji dan Yang Maha Pemula, Yang Maha Mengembalikan (sesuatu) dan Yang Maha Penyayang, serta Maha Penyinta. Cukupilah diriku dengan apa saja yang telah Engkau halalkan dan jauhkan dari apa saja yang Engkau haramkan. Berilah aku pertolongan dengan banyak melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Mu. Demikian juga cukupkanlah diriku dengan anugerah-Mu, sehingga tiada menyekutu sesuatu terhadap-Mu."
Setelah itu, lakukanlah shalat sunnah ba'dal Jum'at dua, empat atau enam rakaat. Setiap dua ratus kali salam. Rakaat-rakaat yang telah dibahas diatas berdasarkan ajaran Rasulullah saw. sekalipun disampaikan Rasulullah dalam keadaan yang berlainan.
Tetap tinggal di masjid setelah melakukan amaliah diatas, adalah lebih utama, apalagi sampai datang waktu Maghrib atau Ashar. Maksud berdiam diri tersebut diisi dengan i'tikaf, dzikir dan lain sebagainya dari berbagai jenis ibadah. Jadi dengan cara ini berarti telah berusaha mendapatkan waktu ijabah yang masih rahasia yang terdapat di hari Jum'at. Yakni, dengan memperbanyak amaliah ibadah. Sebab pada dasarnya, waktu ijabah tersebut sangat dirahasiakan Al-
94 Terjemah Bidayatul Hidayah
lah, dan waktunya antara fajar menyingsing sampai matahari terbenam. Karena itu pantas sekali disepanjang hari Jum'at menyibukkan diri beribadah dengan disertai kekhusyu'an dan ketawadlu'an.
Didalam masjid jangan sekali-kali memandangi majlis yang kurang ada manfaatnya. Apalagi majlis orang yang menceritakan sesuatu atau membaca dongeng. Tetapi, datangilah majlis ilmu pengetahuan atau majlis lain yang membawa manfaat. Hal yang demikian akan membawa ketaqwaan kepada Allah dan mengurangi kecintaan terhadap kemewahan duniawi. Sebab, sesungguhnya ilmu pengetahuan yang tidak menyebabkan berkurangnya kecintaan terhadap kemewahan dunia dan tidak menambah ketaqwaan kepada Allah hanya akan mengantar seseorang ke jurang kehinaan. Sehingga, tidak perlu dipelajari apalagi didalami, bahkan lebih baik tidak usah tahu sama sekali.
Daripada memiliki ilmu yang tidak bermanfaat, lebih baik tidak berilmu. Oleh karena itu mintalah perlindungan kepada Allah swt. dengan memperbanyak doa sepanjang hari. Disamping itu, perbanyaklah pula doa ketika imam naik mimbar, dikala iqamat dan dikala umat manusia tergesa-gesa berdiri melakukan shalat Jum'at. Usahakanlah, jangan sampai di hari Jum'at melupakan bacaan doa dan amal kebajikan lainnya, agar mendapatkan waktu ijabah yang sangat rahasia.
Di hari Jum'at, hendaklah memperbanyak shadaqah sesuai dengan kemampuan sekalipun hanya sedikit. Hal ini agar dapat mengumpulkan pahala shalat, puasa, shadaqah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bertasbih, beri'tikaf dan memelihara shalat.
Disamping yang kami bahas tadi, hari Jum'at dijadikan sebagai hari khusus dalam setiap minggunya. Khusus untuk memperbanyak amalan akhirat yang mungkin dapat dijadikan penawar dosa yang dapat diperbuat selama seminggu.
Tidaklah pantas, bila anda hanya melaksanakan puasa Ramadhan saja, tanpa diimbangi dengan puasa sunnah. Puasa sunnah akan mengantar kita ke suatu derajat yang tinggi, yakni surga yang paling tinggi: Firdaus. Mereka yang tidak melaksanakan puasa sunnah, kelak akan merasa susah. Sebab ia kelak akan melihat kemewahan dan tingginya kedudukan mereka yang memperbanyak puasa sunnah di dunia.
Mereka berada ditingkatan yang tinggi, yang dapat dilihat oleh orang lain sebagaimana mereka melihat bintang "Duriyyah", bintang yang cermerlang di langit. Dalam kenyataan memang demikian. Mereka mendapat kedudukan yang serba mewah dan tinggi, karena amal kebajikan yang telah diperbuat sewaktu di dunia. Mereka memang pantas menempati surga dalam keridhaanAllah.
Adapun hari-hari besar yang disunahkan berpuasa, sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah saw. selaku pembawa syariat Islam ialah: Hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak dan melakukan ibadah haji. Hari Asyurah (tanggal 10 Muharram). Mulai tanggal satu bulan Dzulhijjah dan tanggal satu bulan Muharram. Mulai tanggal satu bulan Rajab dan Sya'ban sampai dengan tanggal sepuluh.
Adapun memperbanyak amaliah puasa sunnah pada bulan-bulan yang mulia, yakni: Bulan Dzulhijjah, Dzulqa'dah, Muharram dan Rajab adalah sangat utama.
Sedangkan kesunnahan puasa di setiap bulannya ialah pada permulaan bulan, yakni tanggal satu di setiap bulan (qamariyah). Ditengah bulan, yakni tanggal tiga belas, empat belas, lima belas setiap bulan. Tanggal ini biasa disebut dengan "Ayyamil Bidl". Dan diakhir setiap bulan.
Risalah Bidayatul Hidayah 95
96 Terjemah Bidayatul Hidayah
Adapun kesunnahan puasa di setiap minggunya ialah pada hari Senin, Kamis dan Jum'at. Dosa-dosa yang diperbuat selama seminggu dapat diampuni Allah karena melakukan puasa di hari Senin, Kamis dan Jum'at (yang disambung dengan Kamis atau Sabtu, tidak hanya hari Jum'at saja). Sedangkan dosa (kecil) yang diperbuat selama sebulan dapat diampuni Allah karena melakukan puasa sunnah dipermulaan bulan, tengah-tengah bulan dan akhir bulan. Sedangkan dosa yang diperbuat selama satu tahun dihapus lantaran melakukan puasa di bulan-bulan mulia seperti yang telah disebutkan diatas, demikian pula lantaran hari-hari mulia yang juga telah dijelaskan di muka.
Jangan mempunyai anggapan bahwa yang disebut dengan ibadah puasa hanyalah meninggalkan makan dan minum, dan tidak menggauli istri sepanjang siang. Tetapi, harus pula meninggalkan pula perbuatan dosa atau tidak pantas dalam pandangan agama. Dalam masalah ini Rasulullah saw. telah bersabda:
$$\text{كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ.}$$
"Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapat pahalanya, kecuali lapar dan dahaga."
Untuk menyempurnakan ibadah puasa. Hindarkan diri dari segala yang tidak dicintai Allah swt. Bagi yang melakukan puasa harus menjauhi lima perkara yang dapat merusak (keutamaan dan pahala) puasa. Lima perkara itu ialah:
a. Memelihara mata dari melihat sesuatu yang tidak dicintai oleh Allah, atau melihat barang maksiat.
b. Menjaga lisan dari berbicara yang tiada maknanya.
c. Memelihara telinga dari suara yang diharamkan Allah. Sebab, orang
Terjemah Bidayatul Hidayah 97
yang mendengarkan barang haram itu hukumnya maksiat sebagaimana orang yang mengucapkannya.
Orang yang berpuasa hendaklah menjaga anggota badan dari segala perbuatan yang dilarang agama, seperti mencegah makanan dan minuman yang masuk ke perut. Disamping itu harus memelihara farji.
Rasulullah saw. telah bersabda:
خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْكَذِبُ وَالْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالصَّبِينُ الْكَاذِبَةُ.
"Ada lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa, yakni bohong, mengumpat, mengadu domba, bersumpah palsu dan melihat sesuatu disertai syahwatnya."
Disamping itu Rasulullah saw. mempertegas dengan sabdanya:
إِنَّمَا الصَّوْمُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَفْسُقْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ.
"Sesungguhnya puasa adalah penangkal api neraka. Maka apabila seseorang diantara kamu sedang melakukan puasa, hendaklah menjauhi diri dari percakapan dan perbuatan yang kotor (tidak senonoh) yang tidak disertai ilmu. Apabila ada seseorang yang menyerang untuk mengajak bertengkar, maka katakanlah kepadanya: "Aku sedang berpuasa."
d. Berhati-hati didalam berbuka. Hendaklah mencari makanan dan minuman yang halal, jangan sampai kemasukan yang haram.
e. Jangan memperbanyak makan dan minum dikala berbuka,
Terjemah Bidayatul Hidayah
sekalipum dengan barang yang halal. Apalagi melebihi kebiasaan makan dan minum dikala tidak berpuasa. Kalau yang demikian dilakukan, maka tidak ada bedanya antara puasa atau tidak. Apalagi kebiasaan makan di setiap harinya dua kali, maka dikala berpuasa hendaklah satu kali. Demikian seterusnya.
Tujuan puasa adalah mengurangi syahwat, memperkuat taqwa, serta mengurangi kekuatan. Kalau seseorang di malam hari makan dua kali lipat, sebagai pengganti makan siang, lalu apa artinya dia berpuasa. Puasanya tidak akan mendatangkan faedah, dan tidak sempurna pahalanya. Tindakan seperti ini menyebabkan seseorang malas beribadah. Padahal perut yang dipenuhi dengan barang-barang halal akan dimurkai Allah, apalagi yang haram. Makan terlalu kenyang mendatangkan kemurkaan Allah swt.
Setelah mengetahui maksud dan tujuan puasa, hendaklah memperbanyak untuk melakukannya. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan yang ada. Sebab puasa merupakan fundamen dari segala amal ibadah dan merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada keridhaan Allah.
Rasulullah saw. telah memberikan sabda yang menerangkan firman Allah dalam hadits Qudsi:
كُلُّ حَسَنَةٍ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.
"Setiap amal kebajikan pahalanya dilipat gandakan sepuluh kali, bahkan sampai tujuh ratus kali, kecuali pahala puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah buat-Ku dan hanya Akulah yang memberikan pahalanya."
Disamping hadits Qudsi diatas, Rasulullah saw. juga bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ. لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ
Bidayatul Hidayah - 99
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّمَا يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي فَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.
"Demi Dzat yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak daripada minyak Kasturi."
Didalam riwayat yang lain diterangkan pula, bahwa Allah swt. telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi:
"Sesungguhnya orang yang berpuasa meninggalkan syahwat (kesenangan), makanan dan minuman hanya karena mencari keridhaan-Ku. Karenanya, ibadah puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang memberi pahalanya."
Disamping itu Rasulullah saw. bersabda:
لِلْجَنَّةِ بَابٌ يُقَالُ لَهُ « لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ.
"Di surga nanti ada sebuah pintu yang disebut dengan pintu "Rayyan". Tidak boleh seorang pun ke surga lewat pintu itu, kecuali orang yang melakukan ibadah puasa."
Sebagai penutup pembahasan kali ini, perlulah diketahui bahwa apa yang telah diuraikan dari permulaan pembahasan sampai akhir tulisan merupakan Bidayatul Hidayah, pemula hidayah yang membahas tentang cara melakukan ketaatan kepada Allah, disamping menerangkan tentang tata cara pengabdikan diri pada-Nya. Pembahasan ini, sengaja disajikan secara detail, maka itu bisa didapatkan didalam buku Ihya' 'Ulumuddin. Juga masalah-masalah lain soal zakat dan haji misalnya, juga terbahas dalam buku itu.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Ajaran Islam telah memberikan batasan pada pemeluknya, yakni, menjauhi larangan dan menjalankan segala perintah-Nya. Oleh sebab itu, ibarat suatu benda, ia mempunyai dua sisi, yakni:
- Meninggalkan segala larangan.
- Melaksanakan segala perintah.
Meninggalkan larangan-larangan Allah memang lebih berat daripada melakukan perintah-perintah-Nya. Melakukan perintah, hampir setiap orang melakukannya. Tapi meninggalkan larangan, seperti meninggalkan syahwat, banyak yang tidak menjauhi sama sekali, kecuali para shiddiqin yang bersungguh-sungguh bisa menjauhi larangan-larangan Allah.
Rasulullah saw. telah bersabda:
اَلْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ السُّوْءَ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ هَوَاهُ.
"Orang yang berhijrah, adalah orang yang meninggalkan segala kejahatan; sedangkan orang yang berjihad (berperang), adalah mereka yang memerangi terhadap hawa nafsu."
Kedurhakaan pada Allah, tiada lain, karena sasaran anggota badan. Padahal, anggota badan merupakan kenikmatan dan amanah dari Allah. Ia harus dijaga dan dipelihara oleh setiap manusia. Karenanya, bila anggota badan yang merupakan kenikmatan dari Allah digunakan untuk mendurhakai-Nya berarti menjadi pangkal dari puncak kekufuran. Sedangkan kelalaian dan kecerobohan
terhadap amanat Allah yang ada pada diri kita, merupakan puncak kedurhakaan. Padahal, jauh sebelumnya telah diberi peringatan: "Peliharalah selalu anggota tubuhmu."
Oleh karena hal di atas, maka renungkan dan koreksilah diri. Bagaimana kita menjaga benteng-benteng tersebut? Padahal, sudah menjadi kepastian yang mutlak, bahwa kita tidak akan terlepas dan pasti mempunyai tanggung jawab yang kelak dikemudian hari akan diurus dan dituntut.
Renungkanlah, seluruh anggota badan kita kelak akan menjadi saksi yang tidak akan bohong, dan akan mengadukan segala yang kita perbuat, di pandang Mahsyar, yaitu Mahkamah Hari Kiamat, dengan suara yang lantang, kritis serta benar. Dengan demikian kita pasti akan mendapatkan teguran dan pengaduan, sehingga nampaklah segala amal perbuatan yang pernah diperbuat, sebab pada saat itu segala amal perbuatan akan dipertontonkan di muka umum.
Allah swt. menegaskan dalam firman-Nya:
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
"Pada hari (ketika) lidah, tangan, kaki mereka menjadi saksi atas mereka, terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS. An Nuur: 24)
Di ayat lainnya, Allah swt. telah menegaskan:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ.
"Pada hari kiamat kami tutup mulut mereka, tangan mereka berkatalah kepada Kami dan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yaasiin: 65)
Terjemah Bidayatul Hidayah
Terjemah Bidayatul Hidayah
Oleh karena itu, wahai manusia yang dla'if, jaga dan peliharalah seluruh anggota tubuh, terutama tujuh anggota badan dari kemaksiatan. Sebab Neraka Jahannam mempunyai tujuh pintu, yang setiap pintu diatur dan dipersiapakan bagi manusia yang berbuat kesalahan. Yang dimaksukkan ke neraka tersebut adalah mereka yang berbuat maksiat dan durhakan kepada Allah swt. dengan menggunakan tujuh anggota badannya, yaitu: Mata, telinga, lisan (mulut), perut, farji (kemaluan), tangan, kaki.
Maka, hendaklah ketujuh anggota badan tersebut dijaga dengan sebaik mungkin, jangan sampai dipergunakan untuk menuruti kehendak hawa nafsu. Menuruti kehendak hawa nafsu termasuk golongan yang dijerumuskan ke jurang neraka Jahannam.
Oleh karenanya, ketujuh anggota badan perlu sekali untuk dipelihara demi keselamatan diri. Hendaklah kita dapat merenungkan dan memperhatikannya, hingga dapat menjaga sesuai dengan yang telah digariskan oleh ajaran syariat Islam, sehingga kita benar-benar dapat suci dari segala noda dosa. Adapun cara menjaga ketujuh anggota tersebut dipersilahkan mengikuti uraian ataupun pembahasan yang terkandung dalam buku kecil ini. Maksudnya, agar kita dapat selamat dari api neraka Jahannam yang amat pedih itu dan tergolong dalam "Zumratul Muttaqin", tergolong dalam rombongan orang yang jujur dan shahih.
Mata diciptakan agar kita bisa mendapatkan petunjuk di dalam kegelapan. Dengan perantaraan mata kita dapat menyaksikan kehidupan alam, melihat segala macam yang diciptakan Allah. Dapat melihat wanita cantik dan pemuda tampan, dan masih banyak lagi, yang semua itu merupakan pertanda dari ayat-ayat keagungan dan kekuasaan Allah swt.
Karena begitu besarnya kenikmatan yang diperoleh lewat mata, maka wajib kita syukuri. Yang demikian dimaksudkan agar dapat
selamat dari segala kemadharatan ataupun kemaksiatan yang dilakukan mata, yang akibatnya sangat fatal. Hendalah kita sadar dan menyadari, serta selalu memikirkan rahasia mata dititahkan buat apa kita. Untuk apa kedua belah mata kita gunakan. Pada dasarnya, Islam telah memberikan tuntunan terhadap kita dalam menggunakan atau memanfaatkan mata. Allah swt. telah memerintahkan mata untuk digunakan:
a. Memperoleh petunjuk dalam kegelapan.
b. Untuk memperoleh pertolongan dalam menuntut segala hajat hidup didalam mengarungi kehidupan.
c. Untuk melihat dan menyaksikan segala keindahan yang telah Allah swt. ciptakan, baik keindahan yang ada di langit maupun di bumi. Selanjutnya, agar kita dapat mengambil i'tibar dan pelajaran serta pengetahuan tentang kekuasaan, keagungan dan kebesaran Allah swt.
Oleh karenanya, hendaklah kita selalu menjaga dan memelihara mata dari empat macam perkara, yaitu:
a. Jangan digunakan melihat orang yang lain yang bukan mahram.
b. Jangan digunakan melihat aneka ragam keindahan bentuk dan rupa, sehingga dapat memikat dan menimbulkan syahwat.
c. Jangan digunakan melihat dan memandang orang Islam dengan nada sinis dan meremehkan.
d. Jangan digunakan melihat kepada orang lain sehingga menimbulkan ketakutan pada mereka.
Demikianlah, mata harus dipelihara, yang senantiasa akan mengantarkan kepada moral yang baik, sesuai yang telah digariskan syariat Islam. Karenanya, sebagai orang yang mengaku diri sebagai muslim, hendaklah selalu memohon perlindungan kepada Allah swt. agar mata kita yang menjadi amanat dan karunia dari sisi-Nya dapat terjaga dan terjauhkan dari segala perbuatan maksiat dan dosa. Maksiat dan dosa dapat menarik kita ke jurang kenestapaan dan
Terjemah Bidayatul Hidayah
kebinasaan. Setelah kita dapat menjaga anggota badan yang berupa mata, maka hendaklah kita menjaga anggota yang lain, agar kita benar-benar selamat dari murka dan ancaman Allah swt.
Telinga merupakan bagian dari tujuh anggota tubuh yang harus kita pelihara. Oleh karena itu, setelah membahas masalah menjaga mata, kita juga membicarakan bagaimana memelihara telinga dari segala perbuatan maksiat yang dilarang Islam.
Tentu telah kita maklumi, telinga merupakan nikmat dan amanat dari Allah swt. yang wajib disyukuri dan dipelihara setiap manusia. Alangkah bahagianya orang yang memiliki telinga dapat digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mendengarkan kesyahduan dan kemerduan alunan musik, mendengar lagu qasidah, mendengar tuntunan dan petunjuk ajaran agama. Namun demikian, Allah memberikan telinga kepada manusia bukankah digunakan untuk endengar setiap suara. Tetapi, Islam telah memberikan ketentuan dalam penggunaan telinga tersebut, yaitu:
a. Mendengarkan firman-firman Allah swt.
b. Mendengarkan sabda Rasulullah saw.
c. Mendengarkan hikmah para kekasih Allah.
Disamping itu, hendaklah digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat mengantar kesuatu kebahagiaan yang kekal dan kenikmatan yang abadi, yang telah Allah sediakan kelak di akhirat, berupa surga.
Karena itu janganlah digunakan mendengarkan sesuatu yang bid'ah, ucapan ghibah (mengumpat), berguman, provokasi, perkataan keji, ucapan mengadu domba, mendengarkan penuturan kejelekan orang lain. Hendaklah semua itu dihindari semaksimal mungkin, apalagi bagi kita yang mengaku sebagai muslim yang tunduk dan patuh pada ajaran agama. Disamping menghindari mendengarkan perkataan-perkataan tersebut, juga harus
Terjemah Bidayatul Hidayah 105
menghindari dari mengucapkannya pula.
Andaikata telinga kita digunakan untuk mendengar sesuatu dibenci oleh Islam, yang mestinya aku mendatangkan kemanfaatan, malah berbalik menjadi suatu yang membahayakan. Dan sesuatu yang semestinya akan mendatangkan keutamaan, berbalik menjadi sesuatu yang mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. Akibatnya akan mendatangkan kerugian yang amat besar.
Janganlah beranggapan bahwa perbuatan dosa hanya menimpa orang yang berbicara saja, sedangkan yang mendengarkannya tidak mendapatkan dosa. Sebab Rasulullah saw. dengan tegas memberikan keterangan sebagai berikut:
إِنَّ الْمُسْتَمِعَ شَرِيكُ الْقَائِلِ وَهُوَ أَحَدُ الْمُغْتَابَيْنِ.
"Sesungguhnya orang yang mendengarkan adalah sekutu orang yang berbicara (dalam dosa), dan dia merupakan salah satu dari dua orang yang berbuat ghibah (mengumpat)."
Oleh sebab itu hendaklah kita selalu berhati-hati dalam mendengarkan perkataan, jangan ikut-ikutan mendengarkan sesuatu yang dilarang oleh syariat Islam. Semoga Allah memberikan perlindungan dan pertolongan kepada kita, agar dapat memelihara telinga dari sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Sehingga kita dapat selamat disepanjang masa.
Perlu pula diperhatikan, apakah maksud dan tujuan Allah swt. menciptakan lisan buat kita, sehingga kita akan sadar dari kelalaian dan dari perbuatan maksiat, disamping sebagai tanda syukur kepada-Nya.
Betapa banyak kenikmatan yang telah kita terima melalui lisan. Karenanya, hendaklah kita syukuri dengan jalan menggunakan lisan tersebut untuk:
a. Memperbanyak dzikir kepada Allah swt. yang telah menciptakannya.
b. Memperbanyak membaca Al-Qur'an.
c. Menuntun orang lain menuju ajaran agama Allah.
d. Menyatakan sesuatu yang ada didalam hati, dari segala hajat kebutuhan yang berkenaan dengan masalah agama dan urusan keduniaan kita.
Seandainya lisan kita tidak digunakan untuk sesuatu yang baik, malah dipakai untuk mengucapkan sesuatu yang tidak semestinya, berarti kita telah mengkufuri Allah swt. Perlu diketahui, sesungguhnya lisan merupakan salah satu anggota badan yang paling dominan dan paling banyak perannya dalam mengalahkan seseorang.
Seseorang dijebloskan dalam api neraka Jahannam dan dijungkir balikan merupakan akibat lisan juga. Karenanya, hendaklah kita dapat menjaga dan memelihara lisan tersebut. Hendaknya dijaga dengan sungguh-sungguh dan sekuat tenaga, sesuai dengan kemampuan yang ada. Sehingga, lisan tidak akan menjebloskan kita kedalam api neraka Jahannam yang sangat keji dan hina. Untuk itu perhatikan dan renungkan hadits Nabi saw. di bawah ini:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لِيُضْحِكَ بِهَا أَصْحَابَهُ
فَيَهْوِى بِهَا فِى قَعْرِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا.
"Sesungguhnya, seseorang yang karena mengeluarkan perkataan dengan ucapan yang mengandung maksud meremehkan kawan, maka karena ucapan itu, dia dimasukkan ke nereka Jahannam selama tujuh puluh tahun."
Disamping hadits diatas, perlu pula diperhatikan keterangan riwayat hadits di bawah ini:
"Telah diriwayatkan, bahwa sesungguhnya ada salah seorang yang gugur dalam sebuah pertempuran yang terjadi di zaman Rasulullah saw. Disitu ada salah seorang yang mengatakan: "Untung
Terjemah Bidayatul Hidayah
sekalin si orang yang mati syahid itu, mati dalam pertempuran, dia tentu masuk surga." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Darimana kamu tahu kalau dia berada dalam surga? Padahal boleh jadi ia pernah mengatakan sesuatu yang tidak memberikan manfaat kepadanya, dan pernah berbuat bakhil terhadap sesuatu yang tidak dapat memberikan kecukupan terhadap dirinya."
Berdasarkan kedua keterangan hadits diatas, dapat dimengerti bahwa lisan sangat potensial mendatangkan bahaya apalagi tidak bisa dijaga dan kebaikan dengan baik. Oleh karena itu, hendaklah kita dapat memelihara diri dari delapan perkara yang sangat besar mendatangkan bahaya bagi keselamatan jiwa, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun delapan perkara tersebut adalah:
Yang kami maksud disini adalah dusta sungguhan atau hanya main-main saja. Sebab, dusta merupakan sejelek-jelek perbuatan dosa. Janganlah kita membiasakan diri melakukan perbuatan dusta sembarangan. Sebab akan mengantar kita melakukan dusta yang sebenarnya, atau dengan kata lain, akan mengantar kita menjadi seorang pendusta. Sebab, kebiasaan bermain-main dengan dusta akan mengantar menjadi dusta sungguhan.
Perlu diketahui, sesungguhnya perbuatan dusta merupakan induk dari segala perbuatan dosa besar. Karenanya, kalau telah mengetahui keburukannya, hendaklah menjauhinya. Kalau masih saja kita lakukan, sudah pasti akan hilang sifat keadilan kita, dan hilang pula sifat kepercayaan manusia terhadap ucapan kita. Kalau ini terjadi, akibatnya manusia tiada akan percaya lagi terhadap ucapan atau tindakan kita selamanya.
Jika seseorang ingin mengetahui kejelekan perbuatan dusta yang keluar dari lisannya, hendaklah melihat perbuatan atau ucapan dusta yang dilakukan orang lain. Lalu merenungkan bagaimana rasanya didustai orang, dan bagaimana perasaannya terhadap orang yang berdusta tersebut. Kalau seseorang menganggap hina perbuatan dusta,
Terjemah Bidayatul Hidayah
berarti dia merasa menjadi orang terhina bila berbuat dusta.
Jika seseorang dapat mengambil kesimpulan dari masalah dusta yang dilakukan orang lain, maka hendaklah introspeksi, menjaga diri terhadap segala aib yang terdapat dalam dirinya. Sebab kita tidak dapat melihat dan mengetahui aib diri kita sendiri, tanpa cara yang demikian. Ibarat seorang yang tidak dapat melihat paras muka sendiri, maka untuk melihatnya memerlukan cermin. Karena itu, sesuatu yang kita anggap tidak baik yang timbul dari orang lain, tentu akan dianggap jelek ataupun buruk pula dari orang lain bila kita lakukan. Karena itu jangan mau kemasukan atau ditempati sifat tercela, yang menurut pandangan umum tidak baik. Demikian Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar ber-akhlaq yang baik, yang mengantarkan mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat.
b. Ingkar janji
Apabila kita tidak bisa menepati janji, lebih baik tidak berjanji. Sebab mengingkari janji merupakan larangan agama yang harus dihindari oleh setiap kaum muslimin. Kalau ingin berbuat pada orang lain, sebaiknya langsung dilaksanakan, tidak usah berjanji terlebih dahulu.
Kalau memang terpaksa berjanji, hendaklah dijaga dengan sungguh-sungguh, jangan mengingkarinya. Boleh mengingkari janji kalau dalam keadaan lemah ataupun dalam keadaan darurat (terpaksa). Sebab, mengingkari janji dengan tidak ada alasan merupakan bagian dari tanda-tanda munafik, disamping termasuk akhlaq yang jelek pula. Rasulullah saw. bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى مَنْ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.
Terjemah Bidayatul Hidayah109
"Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka dia orang munafik, sekalipun dia melakukan shalat dan puasa. Tiga perkara itu ialah: Apabila berjanji mengingkari, apabila berkata dusta, dan apabila dipercaya khianat."
c. Ghibah (mengumpat)
Kita harus pandai mengendalikan lisan, jangan sampai digunakan untuk mengumpat ataupun membicarakan kejelekan orang lain. Perlu diketahui, dosa menuturkan kejelekan orang lain adalah lebih besar daripada dosa melakukan perbuatan zina tiga puluh kali dalam pandangan ajaran Islam. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits Nabi saw.
Ghibah ialah membicarakan keadaan orang lain yang jikalau ia mendengar tidak merasa senang. Kalau kita melakukannya, berarti telah melakukan ghibah, menganiaya diri sendiri, walaupun yang dibicarakan itu benar-benar terjadi. Apa yang kita katakan merupakan kenyataan dari keadaan orang yang kita bicarakan.
Janganlah sekali-kali menggunjing orang yang ahli Al-Qur'an, atau orang lain yang dianggap riya' (pamer). Meggunjing Qurra', yaitu dalam memberikan pengertian dengan maksud dan tujuan tertentu secara samar. Sebagai misal, kita mengucapkan: "Semoga Allah memperbaiki Qurra', karena perbuatannya hanya menyusahkan dan merugikan diriku. Semoga Allah memperbaiki perbuatanku dan perbuatannya."
Ucapan diatas adalah mengandung dua keburukan, yaitu:
-
Ghibah, sebab ucapan seperti itu dapat memberikan pengertian terhadap sesuatu yang dimaksud, sehingga pendengar memahami isinya.
-
Menganggap baik dan menyanjung diri sendiri, yang menunjukkan merasa sedih dan mendoakan kepada Qurra' dengan mengucapkan: "Semoga Allah memperbaiki perbuatannya."
Pada dasarnya perbuatan itu adalah mendoakan baik kepada
Terjemah Bidayatul Hidayah
Qurra', ketika mendoakannya setiap usai shalat. Dan kalau sekiranya kita dibuat susah oleh Qurra', tentu tidak akan mau membuka cacat dan celanya. Sebab yang demikian dilarang agama.
Jelaslah sekarang, dikala seseorang mengungkapkan rasa susah lantaran cacat Qurra' berarti telah membuka dan menampakkan cacat dan cela Qurra' tersebut. Untuk mencegah perbuatan ghibah tersebut, cukuplah kiranya kita selaku kaum muslimin yang mengaku mengabdikan diri kepada Allah meninjau kembali dan merenungkan arti kandungan firman Allah swt.:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu yang memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." (QS. Al Hujaraat: 12)
Pada ayat diatas Allah swt. merupakan orang yang memakan daging saudaranya yang telah membusuk. Oleh karena itu hendaklah kita menyadari, bahwa sesungguhnya membicarakan kejelekan orang lain bahayanya besar sekali. Oleh karenanya, berusahalah dengan semaksimal mungkin untuk dapat menjauhinya. Jangan sampai membicarakan aib sesama kaum muslimin. Jika sekiranya kamu mau berfikir dan merenung sejenak, tentu akan sadar, bahwa dalam pribadi kita terdapat banyak cacat dan cela. Coba pikir dan selidikilah! Diri kita banyak cela dan cacat atau tidak, baik cacat lahir maupun batin, tentu saja ada. Adakah kita melakukan maksiat secara rahasia atau terang-terangan. Setelah kita mengetahui diri sendiri yang serba memiliki kelemahan, maka ketahuilah, bahwa orang lain pun menghadapi kesulitan untuk menjauhi kelemahannya.
Hidayah111
Begitu pula kita tidak dapat terhindar dan terlepas dari perbuatan maksiat sama sekali.
Keadaan orang lain yang banyak cacat dan cela itu adalah sama dengan keadaan kita. Demikian halnya, tentu kita tidak merasa senang kalau keburukan ataupun rahasia kita di buka orang lain. Demikian sebaliknya, orang lain pun merasa senang pula apabila cela dan cacatnya kita buka. Sebab itu hindarilah ghibah, membicarakan kejelekan orang lain. Oleh karenanya, hendaklah kita selalu ingat, jika sekiranya kita mau menutup dan merahasiakan cela orang lain, maka Allah berjanji akan menutup dan merahasiakan cacat dan cela kita, baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi sebaliknya, kalau kita sudah membuka rahasia orang lain, Allah pun akan mengungkapkan rahasia kita dimuka umum, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah akan memerintah orang-orang yang memiliki lisan yang lebih tajam untuk membeberkan rahasia kita di permukaan bumi. Di akhirat nanti akan dibuka pula rahasia itu di muka umum, disaksikan oleh seluruh makhluk.
Kalau kita telah mengoreksi diri kita sendiri apa yang ada pada lahir dan batin kita, tetapi ternyata tidak dapat menemukan cela dan cacat serta kekurangan yang ada, baik mengenai urusan dunia ataupun agama, maka ketahuilah: "Sesungguhnya kita adalah seburuk-buruk orang yang paling tolol, dan tiada aib yang lebih jelek daripada kebodohan."
Manakala Allah menghendaki diri kita menjadi orang yang baik, niscaya Allah akan berkenan memperlihatkan seluruh cacat dan kekurangan yang terdapat pada diri kita. Maka jika kita beranggapan bahwa diri kita dalam keadaan yang baik, seperti tidak memiliki cacat dan cela, merasa puas, itu merupakan puncak kebodohan kita sendiri. Akan tetapi bila anggapan itu benar, cocok dengan angan-angan bahwa kita benar-benar dalam keadaan yang baik, maka hendaklah bersyukur kepada Allah. Sebab demikian lebih baik.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Selanjutnya, jangan sampai kebaikan yang telah kita peroleh ini rusak karena kita mencela ataupun menganggap hina orang lain, memburukburukkan, membuka cacat dan cela orang lain. Sebab, perbuatan seperti itu merupakan cela yang benar.
Tindakan bertengkar mulut, debat dan terlalu banyak bicara adalah menyakitkan orang yang diajak bicara. Juga, menganggap bodoh dan mencacinya. Tindakan seperti itu, didasari atau tidak telah menyanjung diri sendiri, dan mengira bahwa dirinya lebih bersih, pandai dan cerdik. Perilaku seperti itu dapat mengakibatkan kotornya hidup dan kehidupan.
Bila kita bertengkar lisan dengan orang yang bodoh, tentu hanya akan menimbulkan permusuhan yang senantiasa menjengkelkan hati. Sedang kalau kita bertengkar lisan dengan orang yang arif, orang yang lebih tinggi ilmu pengetahuannya, tentu kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa, melainkan dibenci oleh mereka. Kita dianggap kurang sopan atau bahkan dianggap berilmu pengetahuan rendah. Diterangkan dalam sebuah hadits Nabi saw.:
مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بُنِيَ اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ. وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ.
"Barangsiapa meninggalkan bertengkar lisan dan dia berada dalam posisi yang salah, maka Allah membangunkan rumah untuknya di surga; dan barangsiapa meninggalkan bertengkar lisan sedang dia dalam posisi yang benar, maka dibuatnya sebuah rumah oleh Allah di surga."
Karena itu waspadalah, jangan sampai terkena rayuan setan yang selalu berbisik kepada kita. Tampakkanlah hak dan kebenaran,
Terjemah Bidayatul Hidayah 113
jangan kalah dalam menegakkan kebenaran tersebut, dalam keadaan apapun. Sebab, sebenarnya setan selalu berusaha menarik orang-orang bodoh untuk dijerumuskan dalam jurang kejahatan. Oleh karena itu janganlah menjadi bahan tertawaan setan, karena setan dapat membujuk dan merayu kitsa, memerosokkan ke jurang kehinaan dan kesengsaraan. Karenanya, kebenaran perlu ditegakkan dan dipertahankan, sekalipun berat.
Menampakkan hak dan kebenaran merupakan suatu perbuatan yang baik, apabila ditujukan kepada orang yang sekiranya mau menerima dan mengikuti ajakan yang disampaikan. Yang demikian itu pun harus ditempuh dengan jalan memberikan nasehat secara halus dan dalam suatu tempat tersendiri, tidak dimuka umum. Perlu kita ketahui, memberikan nasehat kepada orang lain itu ada caranya. Ia harus dapat menempuh jalan yang bijaksana. Karenanya, nasehat membutuhkan kehalusan, baik dalam perangai maupun dalam tutur kata. Disamping itu, disampaikan bahasa yang memikat. Jika cara itu tidak dapat ditempuh, tentu nasehat tersebut akan menjadi sia-sia. Bahkan mungkin menjadi Fadlihat, yakni membuka cacat dan cela orang lain. Kalau ini sampai terjadi, maka mudarat yang ditimbulkan oleh nasehat itu lebih besar daripada manfaatnya. Sehingga maksud untuk mendatangkan kebaikan malah berbalik mendatangkan kejelekan, sebab tidak melalui cara yang baik dalam memberikan nasehat.
Lalu, bila anda bergaul dengan para ahli fiqih di zaman ini - masa dimana al Ghazali hidup bahkan sampai zaman dimana kita hidup sekarang ini- maka kebanyakan mereka suka bertengkar lisan berdebat dan bersitegang leher. Sukanya mau menang sendiri dalam segala permasalahan, tak mau mengalah. Hal yang demikian dikarenakan fanatik terhadap fatwa ulama su'. Ulama munafik yang menerangkan bahwa sesungguhnya pandai bertengkar mulut dan berdebat merupakan suatu tindakan yang utama. Beranggapan bahwa
pandai berhujjah (mengajukan argumentasi) dan provokasi merupakan suatu kecerdikan yang sangat terpuji.
Oleh karena itu, hendaklah kita dapat menjauhi dari pengaruh ulama su', sebagaimana kita lari dari ancaman harimau. Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya bertengkar lisan merupakan penyebab murka Allah dan dibenci seluruh makhluk. Karenanya, perlu berhati-hati didalam memelihara lisan.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menyinggung diri sendiri, seakan merasa bahwa dirinya tidak mempunyai dosa. Hal yang demikian dimaksudkan untuk pamer (riya') terhadap orang lain. Sedangkan merasa suci dari dosa dengan maksud untuk mengakui kenikmatan yang telah dicurahkan Allah, merupakan bagian dari syukur kepada Allah dan tidak dilarang ajaran Islam.
Didalam masalah ini, Allah swt. berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ.
"Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa." (QS. An Najm: 32)
Oleh karena adanya keterangan diatas, janganlah kita membiasakan menyanjung diri sendiri. Ketahuilah, sesungguhnya menyanjung diri dapat mengurai kedudukan dihadapan sesama umat manusia, dan menjadi penyebab mendapat murka dari sisi Allah. Selanjutnya, sekiranya kita ingin melihat dan mengetahui kalau sanjungan yang kita lakukan terhadap diri sendiri tidak akan menambah kedudukan, maka lihat dan rasakanlah terhadap teman-teman kita. Ketika mereka menyanjung diri sendiri dan menganggap baik terhadap diri sendiri dengan mengaku utama, mengaku agung dan mengaku banyak harta.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Terjemah Bidayatul Hidayah 115
Bagaimana perasaan hati kita dan ketidakcocokan pikiran kita, serta bagaimana kita mencela mereka setelah berpisah, karena ucapan ataupun perbuatan mereka yang menyanjung diri sendiri? Oleh karena itu, orang lain pun akan merasa seperti yang kita rasakan.
Tentu, mereka pun akan menganggap tidak baik, sebagaimana anggapan kita dikala melihat mereka melakukan hal serupa. Dan perasaan kurang enak tersebut apalagi telah berpisah dengan kita, tentu akan mereka lahirkan dengan ucapan.
f. Melaknat
Hendaklah kita menjauhi dan menghindarkan diri dari melaknat makhluk Allah, baik pada binatang, makanan dan lain sebagainya. Demikian pula, jangan sekali-kali kita melaknati orang lain.
Jangan pula berkata kepada orang Islam dengan mengatakan syirik, kafir atapun munafik. Sebab, yang mengetahui batin seseorang hanyalah Allah. Karenanya, janganlah sekali-kali kita masuk dalam masalah yang berada diantara hamba dan Allah.
Ketahuilah, di hari kiamat anda tidak akan ditanya: "Mengapa kamu tidak melaknat Fulan, dan mengapa kamu mendiamkannya?" bahkan seandainya kamu tidak pernah melaknak Iblis sepanjang umurmu, dan tidak menyibukkan lidah dengan menyebutnya, anda pun tidak akan ditanya tentang hal itu.
Tetapi sebaliknya, bila kita melaknati salah satu makhluk Allah, maka kita akan dituntut sebagaimana mestinya di hari kiamat. Karenanya, janganlah kita mencela makhluk Allah, sebab Rasulullah saw. belum pernah sama sekali mencela terhadap makanan hina. Kalau kiranya beliau menghendaki, dimakan, kalau tidak, cukup diam dan tidak mencela.
g. Mendoakan Jelek sesama Makhluk
Hendaklah menjauhkan lisan dari mendoakan kejelekan
116 Terjemah Bidayatul Hidayah
makhluk. Meskipun makhluk itu telah berbuat aniaya ataupun menyakitkan kita. Cukuplah persoalan tersebut diserahkan kepada pengadilan Allah swt. Allah akan memberi hukuman dan balasan terhadap makhluk yang berbuat zalim tersebut. Rasulullah saw. pernah menegaskan:
إِنَّ الْمَظْلُومَ لَيَدْعُو عَلَى ظَالِمِهِ حَتَّى يُكَافِئَهُ ثُمَّ يَكُونُ لِلظَّالِمِ فَضْلٌ عِنْدَهُ يُطَالِبُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
"Sesungguhnya orang yang dianiaya, jika mendoakan kepada orang yang menganiaya, tentu dikabulkan (oleh Allah), sehingga mengimbangi penganiayaan si zalim. Jika masih sisa, maka kelak di hari kiamat akan diminta orang yang dianiaya."
Masyarakat terlalu berlebihan dalam menceritakan kejelekan dan kekejian al-Hajjaj bin Yusuf, kemudian seorang tokoh Salaf berkata: "Sesungguhnya Allah akan membalaskan bagi al-Hajjaj orang yang menjelek-jelekkannya, sebagaimana Allah akan menyiksa al-Hajjaj bagi orang yang telah dianiayanya."
Hendaknya pandai memelihara diri, jangan sampai lisan kita dipakai mengejek, merendahkan dan mempermainkan orang lain. Baik secara sungguhan ataupun hanya main-main. Sebab, semua itu dapat mempermalukan, menghilangkan kewibawaan dan kehormatan, serta menimbulkan gelisah, bahkan menyakitkan hati orang.
Tiga perkara yang disebut diatas, merupakan sumber dari timbulnya pertengkaran, kemarahan, perpecahan dan kedengkian. Oleh karena itu, hendaknya kita dapat memelihara diri, jangan mengejek siapa saja.
Jika kita diperlukan orang lain sembarangan, tidak perlu ditanggapi. Kemudian jauhilah mereka sehingga mereka terlibat
Terjemah Bidayatul Hidayah 117
pembicaraan lainnya. Dan jadilah seperti orang-orang yang jika menemui tindakan sia-sia, mereka menjauhinya dengan mulia.
Delapan perkara yang disebut diatas merupakan pusat bahasa lisan. Kita tidak akan dapat menghindari atau menyelamatkan diri dari delapan perkara tersebut, kecuali dengan uzlah (menyendiri). Atau tidak perlu berbicara kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak.
Oleh sebab itu sahabat Abu Bakar Shidiq pernah menutup mulutnya dengan batu, agar tidak berbicara yang tidak ada gunanya, serta mengurangi bicara. Abu Bakar menunjuk mulutnya sambil berkata: "Lisanku ini yang dapat mendatangkan bahaya."
Karena itu hendaknya kita dapat memelihara dan menjaga lisan dengan sebaik mungkin. Janganlah lisan ini digunakan untuk melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, yang mengantarkan kita dalam jurang kenistaan dan kehinaan. Lisan merupakan anggota badan yang paling besar mendatangkan kerusakan bagi seseorang baik di dunia maupun di akhirat.
Islam telah memberikan ajaran pada pemeluknya dalam usaha mencari rizki yang nantinya dimasukkan ke perut. Karena itu, kita selaku umat muslim yang baik, hendaklah dapat menjaga diri jangan sampai perut terisi barang-barang yang haram dan syubhat.
Setiap muslim harus hati-hati, waspada dan teliti dalam memperoleh rizki yang halal. Apabila telah mendapat rizki yang halal, hendaklah mengekang perut jangan sampai makan berlebihan. Sebab pada dasarnya, terlalu kenyang akan mendatangkan akibat sebagai berikut: Keras hati, merusak kecerdikan dan ketangkasan, menghilangkan hafalan dan ingatan, berat untuk melakukan ibadah, malas belajar, menimbulkan dan menguatkan syahwat, membantu sahabat setan. Jika rasa kenyang itu dari barang yang halal akan menjadi sumber dari segala kejelekan, lalu bagaimana rasa yang kenyang diperoleh dari barang haram.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Mencari barang yang halal merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Sebab, bagi yang melakukan ibadah dan mencari ilmu pengetahuan, tetapi yang dimakan barang haram, adalah ibarat mendirikan gedung mewah diatas kotoran binatang. Apabila telah merasa puas dengan satu pakaian yang kasar (sederhana) untuk setiap tahunnya, dan setiap harinya makan ala kadarnya, cukup dengan sepotong roti kasar serta lauk pauk seadanya, tidak bermewah-mewahan, maka sudah tentu kita tidak akan kesulitan memperoleh barang yang halal. Sebab sesungguhnya barang yang halal itu jumlah banyak, dan cara untuk mendapatkan yang halal pun banyak.
Kita tidak diwajibkan meyakini secara pasti hakikat suatu perkara, tetapi kita wajib menjaga barang-barang yang diketahui keharamannya, atau berasumsi bahwa orang tersebut haram melalui tanda yang jelas yang menyertai suatu harta.
Adapun yang telah diketahui, maka jelas hukumnya, sedangkan harta yang diduga haram berdasarkan tanda adalah harta penguasa dan para pegawainya, harta orang yang tidak memiliki pekerjaan kecuali dari niyahah (pekerjaan menangisi orang mati), menjual minuman keras, riba, judi atau selainnya dari jenis-jenis permainan musik yang haram.
Ringkasnya, orang yang telah kita maklumi bahwa kebanyakan harta kekayaannya berasal dari barang haram. Meski, mungkin juga sebagian hartanya berasal dari barang hahal, tetap saja harta yang kita terima hukumnya haram. Sebab, pada dasarnya, haram adalah yang paling kuat dalam perkiraan.
Termasuk barang haram yang sudah jelas ialah barang yang dimakan atau digunakan yang berasal dari barang wakaf, dengan mengingkari janji orang yang mewakafkannya. Islam telah mengajari setiap muslim untuk menepati janji.
Bagi orang yang tidak terlibat dalam pendidikan agama, maka harta yang dia ambil dari lembaga pendidikan tersebut adalah haram, dan bagi orang yang maksiat sehingga kesaksiannya diragukan, maka
harta yang dia ambil dari harta wakaf atas nama ahli sufi atau selainnya adalah haram.
Untuk mengetahui barang halal dan memperolehnya, merupakan kewajiban. Sebagaimana wajibnya shalat lima waktu. Akhirnya, semoga Allah swt. menjaga kita dari makanan dan minuman serta apa saja yang haram, yang masuk ke dalam perut. Dengan demikian, keselamatan dari sisi-Nya dapat kita dapatkan. Bahagia di dalam mengarungi kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Jagalah farji dari segala yang telah diharamkan Allah, dan jadilah manusia sebagaimana yang digambarkan dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ
أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ.
"Dan orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela." (QS. Al Mu'minun: 5-6)
Perlu diketahui, kita tidak akan mampu memelihara farji dari perbuatan keji, tanpa terlebih dulu mengekang tiga perkara, yakni:
a. Mengekang mata dari memandang sesuatu yang haram.
b. Mengekang hati dari memikirkan sesuatu yang haram.
c. Mengekang perut dari makanan yang syubhat, haram dan selalu kenyang.
Ketiga hal tersebut merupakan penggerak syahwat. Ketiga anggota badan itu merupakan sumber dari segala nafsu birahi. Karenanya, sebelum memperhatikan masalah farji, yang harus lebih dulu ditanggulangi dari perbuatan maksiat adalah tiga anggota badan
128 Terjemah Bidayatul Hidayah
tersebut.
Jaga dan peliharalah tangan, jangan sampai kita gunakan untuk melakukan:
a. Memukul sesama kaum muslimin.
b. Memperoleh barang haram.
c. Menyakiti sesama makhluk.
d. Mengkhianati amanah atau titipan.
e. Menulis sesuatu yang tidak boleh diucapkan. Sebab pena merupakan alat dan pelayan bagi mulut. Karenanya jagalah sebagaimana memelihara lidah.
Jagalah kaki untuk tidak digunakan berjalan mendatangi raja (penguasa) yang zalim, tanpa ada sebab darurat (terpaksa), sebab termasuk dosa besar. Tindakan seperti itu termasuk tawadhu' dan memuliakan mereka karena kezalimannya. Dalam Al Qur'an Allah swt. telah menegaskan dengan firman-Nya:
فَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka." (QS. Huud: 113)
Jelasnya, mendatangi orang zalim tanpa uzur syara', berarti telah menambah anggota para zalim tersebut dan menguatkan pengaruhnya. Kalau mendatangi orang zalim tersebut karena mengharapkan harta kekayaan dari sisinya, maka perbuatan yang demikian adalah haram.
Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ صَالِحٍ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ.
Terirmar-Bidayatul Hidayah 121
"Siapa merendahkan diri pada orang kaya yang shahih karena kekayaannya, maka ia kehilangan dua pertiga agamanya."
Hukum ini berlaku bagi yang mendatangi orang kaya yang shalih, apalagi mendatangkan orang kaya yang zalim. Mendatangi orang kaya yang shalih karena kekayaannya dilarang oleh agama, tetapi kalau mendatangi karena keshalihannya, ingin meneladani, dibolehkan. Tentu saja mendatangi orang kaya yang zalim lebih dilarang, yang berarti diharamkan oleh agama.
Kesimpulannya, segala gerak dan tenangnya anggota badan kita adalah satu nikmat pemberian Allah. Karenanya, jangan sekali-kali gerak dan diam kita itu diarahkan untuk melakukan maksiat kepada-Nya. Hendaklah dikonsentrasikan melakukan apa saja yang menyebabkan keridhaan-Nya, dengan demikian berarti kita telah mensyukuri nikmat yang telah dicurahkan-Nya, disamping memelihara amanat-Nya.
Perlu diketahui, jika kita meremehkan masalah ketaatan kepada Allah, maka akibatnya akan menimpa diri sendiri. Tetapi jika kita betul-betul taat dan menggunakan seluruh anggota badan untuk melakukan mujahadah, pendekatan diri kepada Allah sebagai tanda syukur atas nikmat yang telah Allah curahkan, maka buah manfaatnya pun tentu kembali kepada kita, serta dapat kita rasakan dengan nyata. Sebab, Allah senantiasa tidak membutuhkan kita. Tetapi seluruh amal akan mendapatkan balasan setimpal. Sebaliknya, kita yang selalu membutuhkan Allah.
Selanjutnya, untuk memelihara diri dari ancaman Allah yang maha dahsyat, janganlah sekali-kali mengucapkan: "Allah adalah Dzat Yang Maha Dermawan dan Kasih Sayang, serta mengampuni segala dosa hamba-Nya yang durhaka."
Sebab ucapan seperti itu sering disalahgunakan. Kalimat diatas pada dasarnya adalah benar. Tetapi, karena sering disalahgunakan, maka tidak boleh dilakukan. Tindakan yang demikian tidaklah benar,
Terjemah Bidayatul Hidayah
sehingga Rasulullah saw. menamakan orang yang sering mengucapkan disebut orang dungu atau lemah akal. Sebagaimana telah ditegaskan dalam sebuah hadits:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْأَحْمَقُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.
"Yang disebut orang pandai adalah orang yang merendahkan dirinya serta senantiasa melakukan amal-amal yang dapat diambil manfaatnya setelah (dia) mati. Adapun orang yang dungu, adalah orang yang menuruti hawa nafsunya tetapi berangan-angan mendapatkan berbagai kemurahan Allah."
Ucapan seperti itu adalah ucapan orang yang mengigau dikala bermimpi. Boleh juga bagaikan orang yang ingin alim tetapi tidak mau mempelajari dan mengkaji kitab-kitab agama. Bahkan selalu bermalas-malasan, lalu berkata:
"Allah adalah Dzat yang Maha Dermawan dan Kasih Sayang serta Maha Kuasa dan dapat mendatangkan ilmu-Nya yang telah diberikan kepada para Nabi dan para wali, diberikan kepadaku tanpa kesukaran belanja dan mengkaji ilmu agama." Ibarat orang berdagang tetapi tidak mau menjajankan dagangannya. Tentu hal itu tidaklah mungkin bisa dicapai. Ingat, sepanjang masa tidak akan ada perahu berlayar di daratan! Sekalipun zaman sudah serba maju. Kalau toh ada, itu perahu mainan bukan beneran. Kemudian berkata:
"Allah Maha Dermawan dan Kasih Sayang, semua simpanan-Nya yang berupa harta kekayaan sebanyak tujuh langit dan bumi merupakan milik-Nya. Dia berkuasa memperlihatkan kepadaku akan salah satu gudang yang menyebabkan diriku kaya tanpa bekerja. Hal ini pernah Allah lakukan kepada sebagian hamba-
Hidayatul Hidayah123
Nya." Termasuk juga suatu lamunan ataupun fatamorgana dikala matahari dengan garangnya memancarkan sinar terik di tengah-tengah padang sahara.
Selanjutnya, apabila kita mendengarkan ucapan orang yang ingin pandai dan ingin kaya, tetapi tidak mau belajar dan bekerja keras, tentu itu akan menganggapnya sebagai orang yang tolol. Disamping itu orang yang menertawakannya, meski dia dalam ucapannya menggantungkan kepada sifat Maha Dermawan, Maha Kasih Sayang dan Allah Maha Kuasa itu benar. Tetapi suatu keinginan tidak disertai ikhtiar tidak mungkin dapat terwujud.
Ingatlah, orang yang mengetahui dengan pasti seluk beluk agama tentu akan menertawakan, apabila kita mengharapkan suatu ampunan dari Allah, tetapi tidak mau menempuh jalan mendapatkan ampunan tersebut. Dalam hal ini, ingatlah selalu firman Allah swt. yang berbunyi:
$$\text{وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ.}$$
"Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An Najm: 39)
Pada ayat yang lain Allah swt. juga berfirman:
$$\text{إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ.}$$
"Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan." (QS. At Tahrim: 7)
Dalam ayat yang lain, Allah swt. juga telah berfirman:
$$\text{إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ. وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ.}$$
"Sesungguh-nya, orang-orang yang baik dalam kenikmatan (kesenangan). Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka dalam neraka (Jahim)." (QS. Al Infithaar: 13-14)
Terjemah Bidayatul Hidayah
Karena itu kita tidak boleh meninggalkan mencari ilmu pengetahuan dan mencari rizki yang halal, hanya dengan mengandalkan sifat kemurahan, belas kasihan dan pemberian Allah semata. Kita wajib berusaha dan berikhtiar dalam mewujudkan hal tersebut. Demikian juga jangan sampai kita meninggalkan usaha untuk mendapatkan bekal kelak di akhirat dengan memperbanyak amal shalih. Amal shalih yang mengantar ke arah kebahagiaan akhirat ini, jangan sampai dilupakan.
Ingatlah, bahwa Tuhan yang menguasai dunia dan akhirat itu hanyalah satu, yakni Allah Yang Maha Esa. Oleh karena kasih sayang Allah menyeluruh, baik di dunia ataupun di akhirat, maka pada dasarnya ketaatan yang kita lakukan semata-mata tidak menjadikan sebab untuk menambah sesuatu dari pemberian Allah.



