— Bagian 4 · Adapun pemberian Allah yang telah diberikan kepa… —
Bagian 4
Adapun pemberian Allah yang telah diberikan kepada kita antara lain: Dengan ringan dan mudah kita dapat melakukan amal-amal shalih yang mengantarkan kita untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin; kenikmatan yang kekal abadi kelak di akhirat. Disamping itu, kita dengan tabah dan sabar meninggalkan segala kesenangan dan keinginan hawa nafsu selama mengarungi hidup dan kehidupan di dunia. Yang demikian ini merupakan puncak pemberian dari Allah swt.
Oleh karena itu, hendaklah kita berusaha jangan sampai hati dan hawa nafsu mudah terkena bujuk rayu setan, tergelincir kepada ahli kebathilan, yakni mereka yang tidak mau melakukan amal kebajikan. Hendaklah kita senantiasa mengikuti orang-orang yang teguh dan tabah hati, serta kuat akal didalam mengabdikan diri kepada Allah, yaitu mereka para Nabi dan para shalihin.
Kalau sekiranya kita tidak mau menanam amal kebajikan sewaktu di dunia, maka jangan mengharapkan buahnya di akhirat. Sebab, sesungguhnya dunia merupakan tempat bercocok tanam yang hasilnya dapat diketam di akhirat kelak. Allah swt. telah menegaskan, bahwa barangsiapa yang ingin bertemu dengan keridhaan-Nya,
Terkemali Bidayatul Hidayah 125
hendaknya memperbanyak amal shalih.
Karena itu, semoga orang-orang yang dengan tekun tetap melakukan shalat, puasa, memperbanyak mujahadah dan kuat menghadapi cobaan, tantangan iman dan taqwa selalu mendapatkan ampunan dari sisi-Nya. Semoga pula, seluruh amalnya diterima disisi-Nya.
Selanjutnya, informasi yang telah disampaikan diatas, merupakan seruan bagi kita untuk menjaga anggota badan dari segala perbuatan maksiat, yang dapat menhancurkan seluruh amal kebajikan. Adapun perbuatan yang dilakukan anggota badan yang nampak itu merupakan realisasi dari apa yang terkandung didalam hati. Hati merupakan sentral dari segala perbuatan, tindakan dan perilaku umat manusia.
Untuk memelihara hati dari noda maksiat, sebagian ulama menyampaikan pendapatnya bahwa hati dapat menjadi baik jika melakukan lima perkara, yakni:
a. Tahan lapar.
b. Membaca Al-Qur'an dengan memahami artinya.
c. Betadharru' hingga mencucurkan airmata di tengah malam, dikala seluruh insan lelap tidur.
d. Melakukan shalat (sunnah) malam.
e. Bergaul dengan para shalihin.
Hati, yang kalau bahasa Arab disebut dengan Qalbun adalah berupa segumpal daging. Meski bentuknya kecil, tetapi derajat dan kedudukannya sangatlah agung. Karena keagungannya, sampai dikatakan:
"Apabila hati baik, maka seluruh badan pun baik. Tetapi, kalau hati rusak, maka seluruh tubuh pun menjadi rusak pula."
Karena itu, hendaklah kita selalu berusaha memperbaiki hati dengan sungguh-sungguh, agar seluruh amal perbuatan yang dilakukan anggota badan menjadi baik. Hingga, kebahagiaan lahir batin dapat
126 Terjemah Bidayatul Hidayah
dicapai dengan baik.
Perlu diingat, bahwa sebaik-baik aktivitas hati, senantiasa merasa bahwa dalam segala tindakan dilihat dan diawasi Allah. Baik dalam keadaan apapun dan dimana saja kita berada. Hendaklah dalam segala tindak laku dan usaha semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah, karena menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya.
Perlu diketahui bahwa sifat hati yang tercela banyak sekali ragamnya. Untuk membersihkannya butuh waktu yang cukup lama. Pada dasarnya, manusia mempunyai empat sifat yang terkumpul dalam hati, yakni: sifat sabu'iyyah (binatang buas), bahimiyyah (kebinatangan), setaniyah dan rabbaniyyah (ketuhanan).
Oleh karenanya, untuk mengobatinya tidaklah mudah. Sebab, manusia banyak yang lalai introspeksi diri. Banyak manusia yang terlena kemewahan duniawi dan lupa akhirat. Hati mereka penuh dengan penyakit. Obatnya telah habis, namun masih belum juga sembuh. Tentang penyakit hati dan cara pengobatannya, anda bisa membaca dibuku Ihya' Ulumuddin dalam bab Rubu'ul Muhlikat dan Rubu'ul Munjiyat.
Ada tiga penyebab utama dari penyakit hati itu, yakni:
-
Hasud (dengki). Merasa iri hati dan benci bila ada orang yang mendapat kenikmatan. Dan merasa senang bila ada orang terkena musibah.
-
Riya' (pamer), melakukan suatu aktivitas bukan karena Allah, tetapi mengharapkan adanya sanjungan dan pujian dari sesama.
-
Ujub (memuji diri). Menganggap bahwa dirinyalah yang paling mulia dalam segala hal.
Oleh karenanya, bersihkan diri dari sifat tersebut. Bila kita tidak dapat membersihkan hati dari tiga sifat tersebut, tentu untuk mengobati penyakit hati yang lain pun akan mengalami kesulitan.
Meskipun dalam menuntut ilmu itu sudah ikhlas, tapi jangan
Tasawuh: Bidayatul Hidayah 127
menganggap hal itu sudah terlepas dari noda dan dosa. Apalagi kalau sifat hasud, riya dan ujub masih menempel pada diri kita. Rasulullah saw. pernah bersabda:
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ.
"Tiga hal yang dapat merusak amal, yakni: bakhil (kikir) yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti dan mengagumi diri sendiri."
Tiga perkara tersebut dalam hadits ini, merupakan perusak moral seseorang. Juga, bisa merusak mental dan harga dirinya.
Hasud merupakan cabang dari Syukh, sedangkan Syukh jeleknya melebihi bakhil. Sebab, bila bakhil hanyalah untuk mempertahankan miliknya agar tidak dimiliki pihak lain; namun, syakhih -mereka yang syukh- adalah orang yang tidak rela kalau ada nikmat Allah yang dicurahkan kepada pihak lain. Padahal, nikmat Allah itu disediakan untuk seluruh hamba-Nya.
Adapun orang yang hasud, adalah mereka yang tidak senang kalau ada pihak lain mendapat nikmat dari Allah. Ia juga mengharapkan agar nikmat itu pindah ke tangannya. Sifat yang demikian itu merupakan puncak dari keburukan dan kejahatan moral. Tentang hal ini, Rasulullah saw. bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.
"Jagalah dirimu dari sifat hasud. Sebab, hasud akan meruntuhkan amal kebajikan, sebagaimana api memakan kayu bakar."
Sifat hasud ini sama sekali tidak menguntungkan, baik akhirat maupun di dunia. Di akhirat, jelas ia akan menerima siksa yang amat
Terjemah Bidayatul Hidayah
pedih. Sedangkan di dunia, dia tidak bisa lepas dari melihat kenyataan adanya nikmat Allah yang diberikan pada orang lain. Nikmat itu bisa berupa: ilmu pengetahuan, kekayaan, dan kedudukan. Karenanya, orang yang hasud, tentu, akan merasa tersiksa melihat kenyataan tersebut.
Perlu diketahui bahwa manusia tidak akan mencapai hakekat iman, sebelum mencintai sesama muslim bagai mencintai dirinya sendiri. Rasa kasih sayang itu bisa ditunjukkan, baik ketika seseorang itu menerima nikmat atau musibah dari Allah. Bukankah sesama muslim itu ibarat satu bangunan yang kokoh, yang satu dengan lainnya saling kuat menguatkan? Juga bagaikan tubuh bila ada anggotanya yang sakit, semua tubuh merasakannya?
Adapun yang dimaksud dengan riya', adalah semua aktivitas yang dilakukan, agar mendapat pujian dan sangjungan dari mereka. Riya' merupakan syirik sirri (rahasia). Gila kehormatan seperti itu adalah termasuk hawa nafsu yang diikuti. Karena gila kehormatan inilah banyak manusia mendapat kerusakan. Sebab, pada dasarnya yang merusak umat manusia itu adalah manusia itu sendiri. Bukan yang lain.
Dalam suatu hadits disebutkan:
إِنَّ الشَّهِيدَ يُؤْمَرُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى النَّارِ، فَيَقُولُ:
يَا رَبِّ أُسْتُشْهِدْتُ فِي سَبِيلِكَ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى:
بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ إِنَّكَ شُجَاعٌ، وَقَدْ قِيلَ ذَلِكَ
وَكَذَلِكَ أَعْرِفُكَ وَكَذَلِكَ يُقَالُ لِلْعَالِمِ وَالْحَاجِّ
وَالْقَارِئِ.
"Besok pada hari kiamat, ada orang yang mati syahid diperintahkan untuk dibawa ke Neraka. Lalu ia protes: "Ya Allah,
mengapa aku dimasukkan ke Neraka? Bukankah aku sudah berperang membela agama-Mu, dan aku mati di medan juang?" Lalu, Allah pun menjawab: "Niatmu bukan begitu. Kau lakukan itu agar disebut sebagai pemberani, pahlawan. Maka kepahlawanan itulah yang merupakan pahala bagimu dikala gugur dalam peperangan."
Demikian pula bagi orang alim, yang menunaikan ibadah haji, dan yang membaca Al-Qur'an."
Tiga sifat dilarang oleh Islam. Oleh karenanya wajib untuk dijauhi. Tiga sifat tersebut adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Para dokter pun akan kesulitan menyembuhkannya. Penyakit ini ada dalam hati, yang merasa lebih dibandingkan lainnya.
Orang yang dihinggapi penyakit ini, biasanya muncul sikap ke-aku-annya. Seringkali mereka berucap: "Itulah aku, kalau tanpa aku, kalau bukan aku ...." Ucapan ini sama dengan yang diucapkan Iblis, tatkala ia membangkang perintah Allah agar sujud pada Adam as.
Waktu Iblis mengatakan:
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ.
"Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan ia Kau ciptakan dari tanah." (QS. Al A'raaf: 12)
Ciri-ciri takabur itu, antara lain, adalah merasa lebih tinggi -dalam segala hal- dibanding yang lain. Di dalam majlis, mereka merasa malu kalau pendapatnya dibantah, apalagi bila tidak dipakai. Juga ketika memberi nasehat dan ditolak, mereka marah-marah.
Sesungguhnya anggapan kita terhadap orang lain itu lebih rendah, sebenarnya hanyalah menunjukkan kebodohan sendiri. Kita
Terjemah Bidayatul Hidayah
adalah manusia biasa, yang serba dha'if dan khilaf. Untuk itu, hendaknya kita punya tenggang rasa, menghormati terhadap sesama. Untuk itu, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Bila melihat anak kecil, hendaklah dilihat, bahwa akan itu belum berbuat dosa sama sekali. Tetapi, diri kita tentu telah berbuat banyak dosa. Dengan demikian, maka, anak kecil itu lebih baik dari kita.
b. Bila melihat orang tua, hendaklah mempunyai perasaan bahwa mereka lebih dulu, dan lebih utama melakukan ibadah kepada Allah. Maka, tentu, orang tua tersebut lebih mulia dan lebih baik dibanding kita.
c. Bila melihat ilmuan, hendaknya dipandang, bahwa ia lebih pandai dibanding kita.
d. Dan bila melihat orang bodoh, hendaknya dilihat bahwa mereka melakukan maksiat dan kedurhakaan, karena kebodohannya semata. Tetapi, kita yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah, masih juga melakukan kemaksiatan. Tentu, siksa Allah lebih besar dibanding siksa-Nya pada mereka yang bodoh itu.
e. Kalau melihat orang kafir, hendaknya kita merasa tidak mengerti secara pasti. Sebab boleh jadi esok pagi dia masuk Islam. Lalu berbuat amal kebajikan yang menyebabkan dosanya terampuni. Adapun diri kita, bisa jadi kejahatan yang menutup usia, yang akhirnya menjadi orang yang merugi.
Dan bila kita punya perasaan seperti diatas, niscaya sifat takabur akan sirna. Dalam pandangan Allah, kemuliaan seseorang, adalah mereka yang mendapat keberakhiran yang baik, khusnul khatimah. Padahal, tentang khusnul khatimah itu sendiri, tak seorang pun tahu.
Oleh karenanya, maka takabur itu tentulah tidak perlu kita miliki. Apa artinya takabur, bila nasib yang akan menimpa kita tidak diketahui
secara pasti.
Bukankah Allah punya sifat Muqallibat-Qulub, memutar balikkan hati manusia? Allah memang berkehendak memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki. Juga, berkenan menyesatkan mereka yang dikehendaki-Nya pula.
Banyak sekali hadits Rasulullah saw. yang membahas tentang takabur, hasud, dan ujub. Tetapi cukup satu saja yang ditampilkan di sini. Hadits itu diriwayatkan oleh Abdillah bin Mubarrak, dalam bentuk pitutur. Rasulullah saw. yang memberikan nasehat kepada Mu'adz. Inilah kisahnya.
Suatu hari Mu'adz bin Jabal didatangi Khalid bin Ma'dan: "Wahai Mu'adz, beritahulah aku satu hadits yang kamu dengar langsung dari Rasulullah saw.?" Mendengar perintah seperti itu, Mu'adz menangis tersedu-sedu. Ia rindu pada Rasulullah saw. dan ingin segera bertemu. Sebab, bila Mu'adz membaca hadits yang akan disampaikan ini, seakan ia telah bertemu dengan junjungannya itu. "Seakan beliau hadir langsung memberikan nasehatnya."
"Aku memang pernah mendengar sebuah hadits," kata Mu'adz. Kepada Khalid, Mu'adz menuturkan: "Wahai Mu'adz, aku akan memberimu nasehat. Jika kau berpegang teguh padanya, maka kau akan mendapatkan manfaat disisi-Nya. Jika kamu mengabaikan atau mempermudahnya, maka di hari kiamat kelak akan terputus hujjahmu di hadapan Allah."
"Wahai Mu'adz, sesungguhnya, sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, Dia telah menciptakan tujuh Malaikat. Setelah Allah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi, para Malaikat itu dilantik. Mereka ditugaskan untuk menjaga setiap pintu langit. Para malaikat Hafazhah yang bertugas mengontrol dan mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka
Terjemah Bidayatul Hidayah
membawa amal perbuatan manusia sejak pagi sampai sore. Amal tersebut bersinar, bagai matahari. Setelah amal tersebut dibawa naik sampai ke langit dunia (langit I), para malaikat Hafazhah pun memuji dan menyanjungnya. Mereka -para malaikat itu- juga menghitung-hitung amal itu sebagaai suatu amal yang banyak."
"Namun, setelah amal itu dilihat oleh malaikat penjaga langit I, spontan ia berkata kepada Malaikat Hafazhah: "Amal ini tidak perlu dilanjutkan ke atas. Akulah yang mengawasi tentang ghibah (mengumpat). Allah telah memerintahkan kepadaku untuk melarang keras, bahwa amal seseorang yang suka dengan ghibah, sama sekali tidak boleh melewati tempatku ini. Apalagi sampai dinaikkan."
Malaikat Hafazhah datang membawa amal kebajikan dan amal shalih seorang manusia. Para Malaikat Hafazhah itu memuja dan memuji amalan tersebut. Mereka juga menghitung-hitung, sebagai amal kebajikan yang dapat dihaturkan kepada Allah, dapat sukses melewati langit dunia. Sesampainya di langit kedua, maka malaikat yang bertugas mengatakan kepada Malaikat Hafazhah: "Amal ini sampai disini saja. Jangan kau teruskan ke atas. Pukulkanlah amal ini pada pemiliknya! Dia beramal dengan tidak ikhlas, memamerkan diri, pembohong dan menginginkan kenikmatan duniawi! Akulah malaikat yang diberi tugas mengawasi kebohongan. Allah memerintahkan agar melarang amal seperti ini tidak dibawa naik. Amal seperti ini tidak diperkenankan melewati tempatku ini, sebab, si empunya amal, dikala berkumpul dengan sesama manusia, ia merasa tinggi hatinya."
Malaikat Hafazhah datang dengan membawa amal seseorang dengan sinar yang berkilau. Ia berasal dari amal sedekah, shalat dan puasa. Para malaikat Hafazhah merasa kagum dibuatnya. Di langit I dan II, ia lepas sensor. Namun setelah sampai langit yang III, ia dihentikan. "Pukulkanlah amal ini pada pemiliknya. Ia takabur
sewaktu berkumpuk dengan sesama manusia. Aku tugaskan untuk mengontrol masalah takabur. Allah memerintahkan kepadaku, Kalau orang yang takabur tidak boleh dinaikkan." Kata Malaikat penjaga langit ke III pada malaikat Hafazhah.
Amalan membaca tasbih, shalat, puasa, haji dan umrah, dibawa oleh malaikat Hafazhah dengan cahaya terang dan suara gemuruh. Langit I, II, dan III bisa dilewati dengan sukses. Tapi, begitu memasuki langit ke IV, ia diberhentikan oleh malaikat penjaga. "Amal ini tidak bisa dilanjutkan ke atas, kembalikan dan pukulkan kepada pemiliknya. Ia beramal dengan ujub. Allah melarang meluluskan amal orang yang ujub, juga untuk sampai ke atas.
Malaikat Hafazhah pun membawa amal kebajikan manusia yang sangat baik. Ibaratnya, pengantin baru yang sedang di kirab. Amal ini dapat dibawa ke atas -sampai ke langit IV- dengan sukses. Namun, sesampainya di langit V, ia dihentikan oleh malaikat penjaganya. Bahkan, malaikat Hafazhah disuruh memukul amal itu kepada pemiliknya. Juga dipukulkan dibahunya. Ternyata, pemilik amal tersebut berbuat hasud terhadap orang yang menandingi amal kebajikan yang diperbuatnya. Baik amal tersebut berupa menuntut ilmu, ibadah dan lain sebagainya. Bahkan ia tidak rela terhadap ibadah orang lain. Ia selalu hasud dan menyakiti hati. "Aku ini yang diperintahkan oleh Allah agar mengoreksi orang yang dihasud. Allah telah memerintahkan kepadaku untuk melarang amal yang hasud dibawa naik, melewati tempatku ini. Pukulkanlah amal itu pada pemiliknya."
Ada lagi malaikat Hafazhah naik membawa amal manusia yang berupa amal shalat, puasa, zakat, haji, umrah dan jihad di jalan Allah. Amal yang bercahaya itu bagaikan matahari. Ketika mau memasuki langit VI, ia bertahan. Tidak boleh naik, bahkan -oleh malaikat penjaganya- disuruh memukulkan kepada pemiliknya. Pemilik amal ini, ternyata tidak punya rasa belas kasihan terhadap
Terjemah Ridhyatul Hidayah
sesama. Bahkan, ketika ada orang yang terkena musibah, ia malah gembira. "Aku mengawasi tentang kasih sayang. Oleh karena Allah, aku diperintahkan mengawasi amal orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap sesama. Ia tidak boleh melewati tempatku ini." ucap malaikat penjaga langit IV pada malaikat Hafazhah.
Malaikat Hafazhah naik lagi. Kali ini ia membawa amal seseorang yang berasal dari puasa, shalat, zakat, nafkah, jihad dan wira'i. Suaranya bergerumuh, sinarnya terang benderang. Oleh karena kebaikan dari amal tersebut, 3000 malaikat pun mengawalnya. Dengan rasa optimis, Malaikat Hafazhah naik kelangit ketujuh. Langit I sampai VII dilewati dengan mulus, tanpa rintangan. Ternyata, sesampai ke langit ke VII, amal ini dihentikan oleh malaikat penjaganya. Bahkan, Malaikat Hafazhah disuruh memukulkan amal itu kepada pemiliknya, dan dikelupas hatinya. "Akulah yang diberi tugas oleh Allah agar menahan dan melarang amal perbuatan seseorang dibawa ke langit yang lebih tinggi. Sebab, yang dilakukannya bukanlah semata-mata karena keridhaan Allah. Tetapi, dengan maksud agar mendapat pangkat Fuqaha (ilmuwan), dan sanjungan. Amal ini adalah amal riya'. Bukan Lillaahi Ta'ala. Allah tidak mau menerima amal seperti itu." Kata malaikat penjaga memberi penjelasannya.
Sekali lagi, Malaikat Hafazhah membawa amal kebaikan seseorang, yang berasal dari shalat, zakat, puasa, haji, umrah, bermoral, pendiam, dzikir dan sebagainya. Oleh karena lengkap dan baiknya amal tersebut, maka malaikat yang berada di tujuh langit dan tujuh bumi mengiringinya. Malaikat Hafazhah dan para pengiringinya sukses, bisa menghadap pada Allah. Kepada Allah, amal kebajikan itu diserahkan. Amal seorang hamba yang penuh ikhlas. Setelah Allah memeriksanya, ia pun berfirman: "Wahai para Malaikat (Hafazhah), kamu mengetahui dan melihat amal hamba-Ku. Sedangkan aku senantiasa mengetahui apa yang
Hidayah135
terjadi dihatinya. Dan ketahuilah, bahwa hamba-Ku ini melakukan amal kebajikan bukan karena mencari keridhaan-Ku, tapi karena yang lain. Oleh karenanya, hamba yang beramal ini tetap Aku laknati." Oleh sebab itu pula, para malaikat itu berikrar: "Ya Allah, semoga latnat-Mu tetap kepada si empunya amal ini. Kami juga ikut melaknatinya. Juga, Malaikat penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, ikut pula melaknatinya."
Mendengar penuturan dari Rasulullah saw. ini, Mu'adz bin Jabal menangis sejadi-jadinya. "Wahai Rasulullah saw., engkau adalah utusan-Nya, maka engkau jelas selamat. Tapi bagaimana dengan aku?" Tanya Mu'adz pada Rasul. "Jalan yang dapat menyelamatkanmu, ikuti aku, sekalipun amalku ini masih ada kekurangan," jawab Rasulullah saw. dengan bijak. Untuk itu -masih kata Rasulullah saw.- wahai Mu'adz, perhatikan ini:
a. Jagalah lisanmu. Jangan sampai membicarakan keburukan saudaramu, sesama muslim, khususnya yang ahli (membaca) Al-Qur'an.
b. Dosamu kau tanggung sendiri. Jangan sampai dosamu kau bebankan pada orang lain.
c. Jangan menyanjung dan memuji diri sendiri. Jangan pula mencemooh atau mencela sesama manusia.
d. Jangan bertinggi hati dan meremehkan orang lain.
e. Jangan mencampurkan amal akhirat dengan amal dunia, seperti menuntut ilmu demi kemanfaatan dunia.
f. Ketika bergaul dengan orang, jangan takabur, agar mereka dapat menjaga keburukanmu.
g. Jangan berbisik, sehingga dapat menimbulkan syak wasangka orang lain.
h. Meskipun kau kaya dan berilmu, tapi jangan merasa besar,
Terjemah Bidayatul Hidayah
dan menganggap orang lain di bawahmu. Hal ini, kalau sampai terjadi -dirimu akan terputus dari kebaikan dunia wal akhirat.
i. Jangan mencaci maki orang lain. Hal ini akan menyebabkanmu dikeroyok anjing neraka Jahannam di hari kiamat kelak.
Ingatlah firman Allah:
وَالنَّشِطَاتِ نَشْطًا.
"Dan (malaikat-malaikat) yang mencabut nyawa dengan lemah lembut." (QS. An Nazi'at: 2)
"Tahukah kau, apakah Nasythath itu?" Tanya Rasulullah saw. pada Mu'adz.
"Aku tidak mengerti, apakah Nasythath itu, wahai Rasulullah saw.?" Mu'adz balik bertanya.
"Nasythath itu adalah anjing-anjing neraka, yang menggerogoti daging-daging manusia, hingga tinggal tulang belulang belaka." Jawab Rasulullah saw. memberikan penjelasan.
"Ya Rasulullah saw. siapa yang kuat merasakan, dan selamat dari itu?"
"Itu mudah, bagi orang yang dimudahkan Allah. Kau tidak perlu prihatin," jawab Rasulullah saw. Kalau kau ingin selamat, masih kata Rasulullah saw., sayangilah apa yang kau dan orang lain sayangi. Sebaliknya apa yang tidak kau senangi, jangalah diberlakukan pada orang lain. "Wahai Mu'adz, jika kau dapat melakukan yang demikian ini, maka dirimu akan selamat."
Dari kisah tersebut diatas, Khalid bin Ma'dan berkomentar: "Sepengetahuanku, tidak ada orang yang paling sungguh-sungguh dalam membaca Al-Qur'an, seperti Mu'adz. Hadits Rasulullah saw. tersebut dibacanya berulang-ulang, seperti dia membaca Al-Qur'an.
Oleh sebab itu, wahai penuntut ilmu! Renungkanlah hadits
Bidayatul Hidayah 137
tersebut secara dalam. Ketahuilah, bahwa sifat buruk dalam hati adalah karena menuntut ilmu pengetahuan karena pamrih. Untuk mendapatkan sanjungan dan terkenal. Bagi orang yang bodoh, hal ini kecil kemungkinannya. Tapi bagi mereka yang pandai, itu adalah sasaran empuk. Maka, kerusakanlah akibatnya. Hindarkanlah kerusakan dengan cara bertadharru' kepada Allah, sepanjang siang dan malam.
Oleh sebab itu, mawas dirilah dalam segala urusan. Hindarkanlah hal-hal yang meyebabkan datangnya kerusakan. Sifat-sifat seperti: takabur, riya', hasud dan ujub, merupakan sebagian dari induk sifat hati yang buruk. Ibarat pohon, satu pohon bercabang tiga. Adapun pohon yang dimaksudkan adalah cinta kemewahan dunia. Karenanya, Rasulullah saw. dengan tegas bersabda:
$$حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ.$$
"Cinta dunia adalah awal timbulnya segala kesalahan."
Perlu pula diingat, bahwa dunia adalah ladang untuk mendapatkan buah di akhirat kelak. Maksudnya, barangsiapa yang menggunakan dunia sekedar memperoleh kepentingan akhirat, maka dunia adalah ladangnya. Sedangkan bila ia mengejar kepentingan duniawi, maka dunia merupakan media buat merusak diri sendiri. Karenanya berhati-hatilah dalam mencari kepentingan dunia.
Apa yang tersebut diatas adalah penjelasan tentang taqwa lahiriah, yang disebut dengan Bidayatul Hidayah. Jika sekiranya kita sudah dapat meramaikan batin hati dengan ketaqwaan, maka disitulah hijab (tabir pemisah) antara kita dengan Allah akan terbuka dengan luas. Teranglah cahaya ma'rifah, disamping sumber hikmah ibarat air memancar dari hati sanubari. Kalau itu telah ada, maka kita akan dapat melihat dengan jelas, tentang rahasia-rahasia Allah yang tersimpan di langit dan bumi. Dengan demikian, kesuksesan akan terbuka dengan cemerlang.
Segala ilmu yang telah dita'rifkan oleh para ulama -yang pada masa sahabat dan tabi'in tak disebut-sebut- seperti ilmu Fiqih, Nahwu, Sharaf dan lain sebagainya, semuanya itu seakan kita anggap mudah.
Apabila kita menuntut ilmu dengan cara berbicara, debat dan diskusi, maka kita adalah orang yang tertimpa musibah yang sangat besar. Sayang sekali, kita memang telah mengalami kesukaran yang amat sangat, yakni, mempertahankan pendapat tetapi tidak mendapatkan hasil apa-apa, kecuali hanya kerugian belaka. Bila kita tidak mau merasakan keberatan untuk melakukan kewaspadaan dan ketelitian dalam segala hal, maka, lakukanlah dengan kehendak hati. Tapi, ketahuilah, bahwa kesenangan duniawi adalah sementara sifatnya. Dan bila kita cari dengan menjual agama, maka sama sekali tidak akan selamat. Bahkan, akhirat yang selama ini kita harapkan akan menjadi hampa, hilang sama sekali.
Barangsiapa mencari kemewahan dunia dengan berkedok agama, ia telah merusak keduanya: dunia dan agama! Di akhirat tidak mendapat pahala di dunia tidak mendapat kemewahan duniawi yang langgeng. Sebaliknya, barangsiapa meninggalkan dunia dengan tujuan menegakkan agama, maka dia akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Ketahuilah, bahwa dalam keberadaanmu ini ada yang menemanimu yang tidak pernah pisah denganmu, baik ketika engkau sedang berada di rumah, bepergian, tidur atau ketika engkau terjaga, bahkan selama engkau hidup dan mati. Dia itu adalah Tuhamu, penghukum, penolong dan penciptamu. Setiap engkau menyebut-Nya, pasti dia ada bersamamu, sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi:
$$ أَنَا جَلِيسُ مَنْ ذَكَرَنِي. $$
"Aku adalah teman duduk orang yang menyebut-nyebut (berdzikir) kepada-Ku."
Dia juga setia menemanimu, ketika engkau dalam keadaan cemas dan sedih, disebabkan engkau teledor menjalankan kewajiban-kewajiban agama. Sebagaimana firman-Nya dalam hadis qudsi:
$$ أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ أَجْلِي. $$
"Aku akan selalu berada disisi orang yang cemas dan bersedih hati, disebabkan mengingat-Ku."
Apabila engkau mengenal Tuhanmu dengan sebenarnya, tentu engkau akan berusaha keras menjadikan-Nya sebagai pendamping, dan engkau akan mengesampingkan orang-orang selain-Nya. Apabila engkau tidak mampu berbuat demikian disetiap waktu, maka luangkanlah sebagian waktumu di siang hari atau malamnya, khusus untuk bermunajat kepada Tuhanmu. Ketika engkau sedang bermunajat, berarti engkau telah berhadapan dengan Allah. Karena
Hidayah
itu, engkau wajib mempelajari tata cara dan kesopanan bergaul dengan-Nya. Tata cara itu ialah :
- Menundukkan kepala.
- Merendahkan pandangan.
- Penuh konsentrasi.
- Selalu berdiam, tidak berbicara.
- Mendiamkan anggota fisik.
- Menjalankan perintah dengan cepat.
- Segera menjauhi larangan.
- Tidak memprotes keputusan Allah (takdir).
- Aktif berdzikir.
- Selalu berfikir tentang nikmat Allah.
- Memilih perkara yang haq dan meninggalkan yang batil.
- Tidak terlalu banyak mengharap atau bergantung kepada selain Allah.
- Merendah karena takut kepada Allah.
- Cemas atau bersedih karena malu kepada Allah.
- Tidak terpengaruh oleh segala macam pola bekerja, karena telah percaya dengan jaminan Allah.
- Pasrah kepada anugerah Allah dengan tanpa meninggalkan usaha yang baik.
Itulah semua tata cara atau kesopanan yang harus engkau jadikan syiarmu disepanjang malam dan hari dalam bergaul dengan Tuhan Yang menemanimu yang tidak pernah pisah denganmu disaat orang-orang meninggalkanmu.
Apabila engkau menjadi seorang yang berilmu atau guru, maka engkau harus memperhatikan sopan santun dibawah ini :
- Bertanggungjawab.
Terjemah Bidayatul Hidayah
- Sabar.
- Duduk tenang penuh wibawa.
- Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali kepada orang yang zalim dengan tujuan untuk menghentikan kezalimannya.
- Mengutamakan bersikap tawadlu' di majlis-majlis pertemuan.
- Tidak suka bergurau atau bercanda.
- Ramah terhadap para pelajar (murid).
- Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal.
- Setia membimbing anak yang bebal.
- Tidak gampang marah kepada murid yang bebal atau lambat pemikirannya.
- Tidak malu berkata: "Saya tidak tahu," ketika ditanyai persoalan yang memang belum ditekuninya.
- Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik
- Menerima alasan yang diajukan kepadanya.
- Tunduk kepada kebenaran, dengan kembali kepadanya apabila dia salah.
- Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
- Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allah.
- Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardlu kifayah sebelum selesai mempelajari ilmu fardlu 'ain.
- Memperbaiki ketaqwaannya kepada Allah zahir dan batin.
- Mempraktekkan makna taqwa dalam kehidupan sehari-harinya sebelum memerintahkan kepada murid agar para murid meniru perbuatannya dan mengambil manfaat ucapan-ucapannya.
Apabila engkau seorang murid, maka perhatikanlah adab
Terjemah Bidayatul Hidayah
kesopanan terhadap guru sebagaimana berikut ini :
-
Hendaknya memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu.
-
Tidak banyak bicara dihadapannya.
-
Tidak berbicara selagi tidak ditanya gurunya.
-
Tidak bertanya sebelum meminta izin terlebih dahulu.
-
Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain.
-
Tidak menampakkan penentangannya terhadap pendapat gurunya, apalagi menganggap dirinya paling pandai dari pada gurunya.
-
Tidak boleh berbisik kepada teman yang duduk di sebelahnya ketika guru sedang berada di majlis itu.
-
Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di depan gurunya, tetapi harus menundukkan kepala dan tenang seperti dia sedang melakukan shalat.
-
Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika dia dalam keadaan letih.
-
Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara dengannya ketika dia sudah beranjak dari tempat duduknya.
-
Tidak mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalanannya.
-
Tidak berprasangka buruk kepada guru, ketika dia melakukan perbuatan yang zahirnya mungkar, sebab dia lebih mengetahui rahasia (maksud perbuatannya). Dalam kasus ini si murid hendaknya mengingat ucapan Nabi Musa kepada Nabi Khidr as. seperti yang diterangkan dalam Al-Qur'an:
قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا.
"Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang
akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya, sesungguhnya engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar."
Nabi Musa dalam kasus tersebut menyangkal perbuatan nabi Khidr karena nabi Musa melihat dari sisi zahir apa yang dilakukan oleh nabi Khidr.
Apa engkau memiliki kedua orang tua, maka hendaknya engkau memperhatikan sopan santun bergaul dengan mereka, diantaranya ialah:
-
Mendengar ucapan mereka.
-
Berdiri ketika mereka berdiri, untuk menghormatinya.
-
Mentaati semua perintah mereka.
-
Tidak berjalan didepan mereka.
-
Tidak bersuara lantang kepadanya, atau membentak, meskipun hanya dengan kata-kata hus.
-
Memenuhi panggilannya.
-
Bersuara menyenangkan hati mereka.
-
Bersikap ramah (tawadlu') terhadap mereka.
-
Tidak boleh mengungkit kebaikannya yang telah diberikan kepada mereka.
-
Tidak boleh melirik kepada mereka atau menyinggung perasaannya.
-
Tidak boleh bermuka masam (cemberut) di hadapan mereka.
-
Tidak melakukan bepergian kecuali dengan izin mereka.
Terjemah Ridayatul Hidayah
Apabila engkau berada ditengah-tengah orang yang belum engkau kenal akrab, maka engkau hendaknya memperhatikan tata cara atau sopan santun sebagai berikut ini:
-
Tidak ikut campur dalam pembicaraan mereka.
-
Tidak seberapa mendengar atau memperhatikan cerita-cerita bohong atau ucapan-ucapan jelek mereka.
-
Melupakan kata-kata jelek mereka.
-
Berusaha tidak sering berjumpa dengan mereka.
-
Mengingatkan mereka dengan halus apabila mereka berbuat kesalahan.
Ada dua hal penting yang harus engkau perhatikan dalam persahabatan, yaitu:
a. Memilih sahabat.
b. Tata cara bersahabat.
Sebelum engkau bergaul dengan sahabat, maka engkau harus memperhatikan syarat-syarat bersahabat dan berteman, tidak sembarang orang bisa engkau jadikan teman, untuk itu janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang layak dijadikan sahabat. Rasulullah saw. bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
"Seseorang itu mengikut atau menurut agama (cara hidup) temannya, oleh karena itu hendaklah seseorang diantara kamu
Risalah Bidayatul Hidayahmelihat terlebih dahulu siapakah yang sekiranya pantas atau cocok dijadikan teman."
Jika engkau mencari teman dalam belajar atau teman dalam urusan agama atau bekerja, maka pilihlah orang yang memenuhi lima syarat yaitu:
- Orang yang berakal (cerdas). Sebab bergaul dengan orang yang bodoh hanya mengakibatkan cekcok dan keretakan yang akhirnya bermusuhan. Dia akan menyulitkan engkau sendiri. Sebenarnya musuh yang berakal itu lebih baik dari pada teman yang bodoh. Ali bin Abi Thalib berkata:
وَلَا تَصْحَبْ أَخَا الْجَهْلِ * وَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ
فَكَمْ مِنْ جَاهِلٍ أَرْدَى * حَلِيمًا حِينَ وَاخَاهُ
يُقَاسُ الْمَرْءُ بِالْمَرْءِ * إِذَا مَا الْمَرْءُ مَا شَاهُ
وَلِلشَّيْءِ عَلَى الشَّيْءِ * مَقَايِيسٌ وَأَشْبَاهُ
وَلِلْقَلْبِ عَلَى الْقَلْبِ * دَلِيلٌ حِينَ يَلْقَاهُ
"Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang bodoh, waspadalah engkau dengan orang-orang bodoh.
Banyak sekali orang yang alim menjadi hina dan rendah karena bergaul dengan orang bodoh.
Seseorang itu dianggap sama dengan seseorang ketika sedang berjalan bersama-sama.
Seperti dua pasang sandal yang sudah tentu menyamai satu
Terjemah Bidayatul Hidayah
dengan yang lainnya.
Segala sesuatu itu memiliki kesamaan dan kemiripan dengan sesuatu yang lain.
Hati seseorang itu dianggap sama dengan hati orang lain, ketika satu dengan lainnya dapat bertemu (bersahabat)."
- Orang Yang Baik Akhlaknya. Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang jelek akhlaknya, yaitu orang yang tidak dapat mengendalikan dirinya ketika marah dan juga tidak dapat menahan kemauan/ syahwatnya. Sehubungan dengan ini, Alqomah Al-Tharidy menjelang ia wafat berpesan kepada puteranya:
Wahai anakku! Apabila engkau hendak menjalin persahabatan dengan seseorang, maka pilihlah orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
-
Dapat menjagamu, apabila engkau berkhidmah kepadanya.
-
Dapat memperbaiki kamu, apabila engkau berteman dengannya.
-
Dapat membantu kamu, apabila engkau sedang memerlukan bantuan.
-
Selalu membalas jasa baikmu dengan kebaikan pula.
-
Selalu mengakui kebaikanmu.
-
Selalu menutupi kejelekanmu.
-
Dapat menghargai atau mempercayai ucapanmu.
-
Selalu memberi bantuan apabila engkau mengerjakan sesuatu.
-
Mau mengalah apabila berebut sesuatu denganmu.
Ali bin Abi Thalib berkata:
Terjemah Bidayatul Hidayah147
إِنَّ أَخَاكَ الْحَقَّ مَنْ كَانَ مَعَكَ * وَمَنْ يَضُرُّ نَفْسَهُ لِيَنْفَعَكَ وَمَنْ إِذَا رَيْبُ الزَّمَانِ صَدَعَكَ * شَتَّتَ فِيكَ شَمْلَهُ لِيَجْمَعَكَ
"Sahabatmu yang sebenarnya ialah orang yang selalu bersamamu (di waktu senang dan susah) dan orang yang sanggup mengorbankan diri demi kebaikanmu.
Dan orang yang sanggup memecahkan segala urusannya, untuk menolongmu ketika engkau sedang dilanda bencana."
- Orang Yang Shaleh. Janganlah engkau berteman dengan orang yang fasiq, yaitu orang yang terus menerus melakukan dosa-dosa besar. Sebab orang yang bertaqwa kepada Allah tidak akan melakukan perbuatan maksiat yang berdosa besar secara terus menerus, dan orang yang tidak takut kepada Allah itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan pendiriannya selalu berubah-ubah menurut keadaan dan kebutuhannya. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ.
"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."
Janganlah engkau bergaul dengan orang fasiq, sebab melihat kefasiqan secara terus menerus itu dapat menghilangkan kebencianmu terhadap kemaksiatan, lalu engkau menganggap
Terjemah Bidayatul Hidayah
enteng terhadap perbuatan maksiat itu, dan akhirnya engkau gampang melakukannya.
-
Tidak Rakus dengan Harta. Janganlah engkau bersahabat dengan orang rakus (cinta) harta kekayaan, sebab persahabatan dengan orang yang cinta dunia merupakan racun yang ganas, karena tabiat manusia selalu ingin meniru dan mengikuti tabiat orang lain, bahkan watak itu dapat menular tanpa disadari. Dengan demikian, bergaul dengan orang yang rakus terhadap harta itu akan menambah cintamu pada harta dan bergaul dengan orang tidak cinta dengan harta juga akan mengurangi kecintaan terhadap harta kekayaan.
-
Orang yang Jujur. Janganlah engkau bersahabat dengan orang pendusta, sebab engkau kemungkinan tertipu olehnya dengan kelicinan lidahnya.
Itulah lima syarat yang perlu engkau perhatikan dalam memilih teman. Tetapi apabila engkau merasa kesulitan menemukan orang yang memiliki semua sifat tersebut di lingkungan pondok pesantren atau masjid, maka engkau boleh memilih satu diantara dua perkara, yaitu:
Pertama: Uzlah, artinya mengasingkan diri, tidak bergaul dengan siapapun, karena dengan uzlah ini engkau pasti selamat.
Kedua: Bergaul menurut kondisi orang yang bersangkutan. Artinya, jika berteman untuk tujuan supaya bahagia di hari kemudian, maka yang harus engkau pertimbangkan benar adalah masalah agamanya. Jika engkau berteman dengan kepentingan dunia, maka yang harus engkau perhatikan adalah kebaikan akhlak dan jika engkau menjalin persahabatan agar hatimu tenteram, maka engkau harus memperhatikan keselamatan dari kejahatan.
Macam manusia itu dapat diumpamakan seperti benda, yaitu:
- Orang yang seperti makanan pokok, maksudnya orang yang seperti ini pasti engkau butuhkan dan tentu saja engkau harus berteman
dengannya setiap hari.
-
Orang yang seperti obat, maksudnya orang seperti ini memang perlu dipergauli tetapi jika diperlukan saja, tidak setiap hari
-
Orang yang seperti penyakit, yang selalu dihindari. Tetapi terkadang orang itu tertimpa juga oleh penyakit. Semua orang itu sebenarnya berusaha keras menghindari orang yang membahayakan seperti menghindari penyakit, tetapi kadang-kadang dia didekati dan ditemani orang yang berbahaya, meskipun dia membencinya. Untuk menghadapi orang seperti ini engkau dituntut berusaha bebas dan selamat dari padanya. Meskipun demikian, orang itu dapat memberi faedah yang besar kepadamu, kalau engkau memang mampu menghadapinya, dengan cara engkau mengamati kejelekan dan kejahatannya yang engkau benci, lalu engkau menjauhi kejahatan itu.
Orang yang beruntung itu sebenarnya orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain dan orang mukmin adalah cermin bagi orang mukmin lain. Dulu nabi Isa as. pernah ditanya oleh seseorang: "Siapakah yang mengajarkan kesopanan atau tata cara pergaulan kepadamu?" Beliau menjawab: "Tak seorangpun mengajarkan hal itu kepada saya. Tetapi jika aku mengetahui tingkah laku jelek orang yang bodoh, maka aku harus tidak bertingkah seperti itu." Beliau lalu berkata: "Andaikata orang-orang ini mau menjauhi sesuatu yang tidak mereka sukai, ketika sesuatu itu dikerjakan orang lain, pasti kesopanan mereka itu menjadi sempurna dan mereka tidak lagi memerlukan pendidik."
Setelah mengetahui cara-cara memilih teman, maka engkau harus mengetahui hak-hak persahabatan. Apabila telah terjalin persahabatan antara engkau dan temanmu, maka engkau wajib memenuhi hak-hak persahabatan. Dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban ini ada beberapa tata cara yang harus engkau perhatikan pula. Rasulullah saw. telah bersabda:
Terjemah Bidayatul Hidayah
"Perumpamaan dua orang yang bersahabat itu seperti dua tangan yang satunya membasuh yang lainnya."
Dalam satu riwayat diterangkan, bahwa pada suatu waktu Rasulullah saw. masuk ke hutan. Beliau lalu memetik dua potong kayu siwak, yang satu bengkok dan yang satu lagi lurus. Kemudian kayu yang lurus itu diberikan kepada seorang sahabat yang menyertainya. Sedangkan yang bengkok diambilnya sendiri. Sahabat itu kemudian bertanya kepada Rasulullah saw.: "Hai Rasulullah! Sebenarnya engkau lebih berhak mengambil kayu yang lurus ini daripada aku." Beliau kemudian menjawab:
مَا مِنْ صَاحِبٍ يَصْحَبُ صَاحِبًا وَلَوْ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ إِلَّا سُئِلَ عَنْ صُحْبَتِهِ هَلْ أَقَامَ فِيهَا حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ أَضَاعَهُ.
"Orang yang berteman, meskipun sesaat di waktu siang akan ditanyai tentang persahabatannya. Apakah dia dalam persahabatannya itu telah memenuhi hak-hak yang diatur oleh Allah atau menyia-nyiakannya."
Beliau bersabda:
مَااصْطَحَبَ اثْنَانِ قَطُّ إِلَّا كَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَرْفَقَهُمَا بِصَاحِبِهِ.
"Dua orang yang berteman yang paling disenangi oleh Allah adalah yang paling menyayangi temannya."
Adapun tata cara atau kesopanan dalam persahabatan ialah:
-
Lebih mengutamakan teman dalam urusan harta. Apabila tidak mampu berbuat demikian, maka hendaklah seorang teman itu memberikan kelebihan harta yang telah diperlukan.
-
Segera memberi bantuan tenaga kepada teman yang sedang memerlukannya sebelum diminta.
-
Menyimpan rahasia teman.
-
Menutupi cacat atau kekurangan yang ada pada diri teman.
-
Tidak memberitahukan kepada teman omongan negatif orang-orang tentang dirinya.
-
Selalu menyampaikan pujian orang lain kepada teman.
-
Mendengarkan dengan baik ucapan teman, ketika dia sedang berbicara.
-
Menghindari perdebatan dengan teman.
-
Memanggil teman dengan panggilan yang paling disukai.
-
Memuji kebaikan teman.
-
Berterima kasih atas perbuatan baik teman.
-
Membela kehormatan teman seperti halnya dia membela kehormatan dirinya.
-
Memberi nasehat kepada teman dengan cara yang halus dan bijaksana.
-
Selalu memaafkan kekeliruan dan kesalahan teman.
-
Selalu mendoakan baik kepada teman, ketika dia masih hidup maupun sesudah mati.
-
Tetap menjalin hubungan baik dengan keluarga teman, meskipun temannya telah meninggal dunia.
-
Tidak memberi beban tanggung jawab kepada teman, bahkan semestinya dia berusaha meringankan beban berat atau tanggung jawab teman agar dia hidup senang.
-
Menampakkan rasa senang ketika temannya sedang mendapat kesenangan dan ikut bersedih hati apabila teman mengalami kesusahan.
-
Menyamakan perasaan terhadap teman antara yang di dalam hati dan yang di luar.
-
Memberi salam terlebih dahulu kepada teman.
-
Berusaha meluaskan tempat duduk untuk temannya ketika dia masuk ke dalam majlis. Apabila tidak memungkinkan, maka hendaknya beranjak dari tempat duduknya dan mempersilahkan teman untuk duduk di tempatnya.
-
Mengantarkan teman ketika dia berdiri hendak keluar dari rumahnya.
-
Hendaknya dia diam ketika teman sedang berbicara dan tidak menimpali ucapan teman.
Kesimpulannya ialah, bahwa seseorang itu harus memperlakukan temannya dengan perlakuan yang menyenangkan, seperti dia ingin diperlakukan baik oleh orang lain. Barang siapa yang tidak bisa mencintai teman seperti halnya dia mencintai dirinya sendiri, maka persahabatan orang seperti ini tidak tulus dan akan membawa bencana di dunia dan di akhirat. Itulah tata cara atau kesopanan yang harus engkau perhatikan dalam memenuhi hak-hak persahabatan dengan orang-orang awam dan teman-teman dekat.
Dalam menghadapi orang-orang kenalan ini engkau harus lebih
Terjemah Bidayatul Hidayah
hati-hati, harus benar-benar bisa menjaga kejelekan kenalan. Kalau teman dekat itu bukan persoalan sulit, tidak perlu ada curiga terhadapnya sebab watak dan sifat sudah dikenal dengan jelas, dan dia akan membantumu. Adapun orang awam atau yang belum engkau kenal tidaklah akan mengusik hatimu, mengganggumu atau merintangimu. Tetapi orang-orang kenalan inilah yang sering membawa kejahatan, lebih-lebih kenalan yang menunjukkan persahabatan melalui kata-katanya, tetapi hakekatnya tak pernah diketahui. Oleh karena itu janganlah engkau memperbanyak kenalan. Tetapi apabila engkau terpaksa memiliki kenalan, baik di sekolah, masjid atau kampus, kota atau pasar, maka engkau harus mengetahui tata cara menghadapi mereka. Tata caranya adalah:
-
Janganlah engkau meremehkan atau menghina salah seorang dari mereka. Sebab engkau belum tahu benar tentang dia. Mungkin dia itu lebih baik dari padamu.
-
Janganlah engkau memandangnya besar atau mulia, jika mereka memiliki kekayaan, sebab yang demikian ini akan membinasakanmu. Dunia ini sebenarnya kecil tiada berarti dalam pandangan Allah, begitu pula segala isinya. Dan ketika hatimu memandang besar pemilik harta kekayaan dunia, maka jatuhlah harga dirimu dalam pandangan Allah.
-
Janganlah mengorbankan agamamu hanya untuk sekedar mendapatkan sesuatu dari kekayaan. Sebab siapa saja yang berbuat demikian dia pasti semakin hina, tidak berharga dihadapan mereka, bahkan dia akan dipermainkan mereka.
-
Apabila mereka memusuhimu, maka janganlah engkau balas permusuhan mereka. Sebab engkau tidak akan mampu menandingi mereka, bahkan agamamu akan rusak sebab permusuhan itu, sehingga engkau menderita yang berkepanjangan dan sia-sia kerjamu.
-
Janganlah engkau merasa senang jika mereka memuliakan
Terjemah Bidayatul Hidayah
kepadamu, memuji-muji dan menampakkan kecintaannya kepadamu. Sebab jika engkau meneliti hakekat semua itu engkau pasti tidak mendapati lebih dari satu persennya, dan jangan mengharapkan kebaikan mereka itu bisa lahir batin.
-
Janganlah engkau heran apabila mereka kenalan-kenalanmu itu menjelekkan kau ketika engkau sedang tidak ada dan jangan pula engkau marah kepadanya. Sebab kalau engkau mau menginsafi atau bersikap adil, engkau sendiri juga pernah berbuat seperti itu, baik kepada teman dekat, keluarga, bahkan kepada guru dan kedua orang tuamu sekalipun. Engkau telah pula berani memperkatakan orang-orang yang dekat dan telah berjasa besar kepadamu itu di belakang mereka.
-
Janganlah engkau mempunyai harapan atau keinginan mendapatkan kekayaan, jabatan dan bantuan kenalanmu. Sebab orang yang selalu ingin mendapatkan pemberian orang lain pasti akan kecewa, rugi dan menjadi orang yang hina.
-
Apabila engkau meminta kepada salah seorang kenalan sesuatu yang engkau butuhkan dan dia memenuhi, maka bersyukurlah kepada Allah dan ucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi apabila dia tidak dapat memenuhi permintaanmu, maka janganlah engkau mencemoohnya dan jangan pula menceritakan kepada orang lain, karena yang demikian itu akan menimbulkan permusuhan. Bersikaplah seperti sikap orang mukmin yang selalu memahami dan menerima alasan orang lain dan janganlah seperti orang munafik yang selalu mencari kesalahan orang lain. Kemudian katakanlah dalam hati : Dia tidak dapat memenuhi kebutuhan saya, karena kemungkinan sesuatu hal yang tidak dapat dia elakkan yang tidak saya ketahui.
-
Janganlah engkau memberi nasehat kepada seseorang dari para kenalanmu selama engkau belum melihat tanda-tanda, bahwa
Syarah Hidayahmereka akan menerima nasehatmu. Kalau tidak, mereka tidak akan mendengar nasehatmu dan mereka akan memusuhi kamu.
Apabila mereka melakukan suatu kesalahan dalam suatu persoalan, sedangkan mereka tidak mau belajar kepadamu, maka janganlah engkau menggurui mereka, sebab mereka akan mengambil ilmu darimu lalu memusuhimu. Kecuali jika kesalahan yang mereka lakukan itu suatu perbuatan maksiat yang tidak mereka sadari. Kalau memang demikian, maka katakanlah kepada mereka yang sebenarnya dengan cara yang halus. Jika mereka nampak menghargai nasehatmu, maka syukurlah kepada Allah, dan apabila engkau melihat ketidak senangan mereka terhadapmu, maka serahkanlah urusan mereka kepada Allah, lalu mintalah perlindungan kepada-Nya dari kejahatan mereka, dengan tanpa mencemooh mereka dan tidak berkata kepada mereka dengan kata-kata : kamu tidak tahu siapa saya! saya adalah si ....! Saya orang yang ahli dalam bidang ini dan itu. Sebab ucapan-ucapan seperti itu menunjukkan kebodohan dan mempunyai kesan menganggap bersih kepada diri sendiri. Sedangkan orang yang paling bodoh adalah orang yang menganggap dirinya bersih dan suka memuji-muji diri sendiri. Ketahuilah bahwa Allah swt. tidak mendorong mereka berbuat jahat kepadamu kecuali karena dosa atau kesalahanmu yang engkau lakukan sebelumnya, dan hal ini merupakan siksaan Allah swt. atas dosa dan kesalahan yang telah kamu perbuat.
- Dengarkanlah ucapan-ucapan baik mereka dan abaikan ucapan mereka yang batil. Ceritakan kebaikan-kebaikan mereka dan jangan sekali-kali membicarakan kejelekannya.
Demikian itulah tata cara atau kesopanan bergaul dengan para kenalan dan kalau kita mau melaksanakan petunjuk-petunjuk tersebut, insyaAllah akan selamat dari kejahatan dan kejelekan mereka.
Kemudian kami nasehatkan kepadamu pula : Berhati-hatilah
engkau dalam bergaul dengan para ahli hukum fiqih pada masa sekarang, lebih-lebih yang sibuk dengan urusan khilafiyah dan terlibat dalam perdebatan dan polemik. Hindarilah mereka, karena mereka selalu menantikan kehancuranmu, akibat sifat hasud yang ada dalam hati mereka. Mereka itu cepat memvonis kamu dengan asas dugaan semata dan ketika dibelakangmu berusaha menjelekkan serta mencela kamu lalu mereka dengan teman-temannya mencari-cari kesalahanmu, sehingga mereka pada suatu saat dengan terang-terangan mencaci dan menjebloskan kamu, untuk melampiaskan kemarahan dan kejengkelannya kepadamu. Pada saat itu mereka tidak mau menerima kesalahanmu dan tidak mau memaafkannya, tidak mau menutupi kekuranganmu, mereka tidak akan melupakan kesalahanmu, mereka sangat hasud kepadamu, baik karena perkara sepele atau besar, bahkan mereka mendorong teman-temannya untuk memusuhimu, mengobarkan fitnah dan berita-berita bohong. Apabila hati mereka sedang merasa lega terhadap kamu, maka lahir mereka tampak serba manis. Apabila mereka sedang marah kepadamu, maka hati mereka mendidih, sedang garang dari pada yang tampak. Jasad mereka dibungkus dengan pakaian yang bagus tetapi hati mereka seperti serigala.
Apa yang kami sebutkan ini adalah suatu kenyataan yang nampak pada sebagian besar mereka, kecuali beberapa segelintir orang saja yang dijaga oleh Allah. Barang siapa yang bersahabat dengan orang-orang seperti itu pasti rugi dan menjadi hina.
Begitulah keadaan sebagian besar orang-orang yang menampakkan persahabatan denganmu, yang ternyata perlu diwaspadai, dan perlu hati-hati dengan cara menggunakan beberapa tata cara tertentu apabila hendak mendekati atau didekati mereka. Lalu bagaimana menghadapi orang yang terang-terangan memusuhimu?
Jaksa Ibnu Ma'ruf telah berkata:
Terjemah Bidayatul Hidayah
Animah Erdayatul Hidayahفَاحْذَرْ عَدُوَّكَ مَرَّةً * وَاحْذَرْ صَدِيقَكَ أَلْفَ مَرَّةٍ
فَلَرُبَّمَا انْقَلَبَ الصَّدِيقُ * فَكَانَ أَعْرَفَ بِالْمَضَرَّةِ
Hati-hatilah engkau terhadap lawanmu sekali saja dan hati-hatilah terhadap temanmu seribu kali.
Barangkali temanmu itu akan berubah (menjadi musuhmu), sudah tentu dia akan lebih tahu bagaimana cara menyakitimu.
عَدُوُّكَ مِنْ صَدِيقِكَ مُسْتَفَادٌ *
فَلَا تَسْتَكْثِرَنَّ مِنَ الصِّحَابِ
فَإِنَّ الدَّاءَ أَكْثَرُ مَا تَرَاهُ *
يَكُونُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ
Musuh yang berasal dari teman itu perlu diwaspadai, dan janganlah engkau memperbanyak teman.
Sesungguhnya penyakit yang sering engkau lihat itu kebanyakan dari makan dan minumanmu sendiri.
Jadilah engkau seperti apa yang dikatakan oleh Hilal bin Al-'Ala dalam sya'irnya:
لَمَّا عَفَوْتُ وَلَمْ أَحْقِدْ عَلَى أَحَدٍ *
أَرَحْتُ نَفْسِي مِنْ هَمِّ الْعَدَاوَاتِ
Terjemah Bidayatul Hidayah
إِنِّي أَخِّي عَذْوِيَّ عِنْدَ رُؤْيَتِهِ *
لِأَدْفَعَ الْمُرَّ عَنِّي بِالْقَحِيحَاتِ
وَأُظْهِرُ الْبِشْرَ لِلْإِنْسَانِ أَبْيَضُهُ *
كَأَنَّهُ قَدْ مَلَأَ قَلْبِي مَسَرَّاتٍ
وَلَسْتُ أَسْلَمُ مِمَّنْ لَسْتُ أَعْرِفُهُ *
فَكَيْفَ أَسْلَمُ مِنْ أَهْلِ الْمَوَدَّاتِ
النَّاسُ دَاءٌ دَوَاهُ الْمَحْضُ تَرْكُهُمْ *
وَفِي الْجَفَاءِ لَهُمْ قَطْعُ الْأُخُوَّاتِ
فَسَالِمِ النَّاسَ تَسْلَمْ مِنْ غَوَائِلِهِمْ *
وَكُنْ حَرِيصًا عَلَى كَسْبِ الْمَوَدَّاتِ
وَخَالِقِ النَّاسَ وَاصْبِرْ مَا بَلِيتَ بِهِمْ *
أَضَمَّ بِكُمْ أَعْمَى ذَاتَ الْقَيَّاتِ
Keteladanan Bidayatul Hidayah 159
Ketika saya memaafkan seseorang dan tidak mendendam kepada siapapun, saya terasa telah menyelamatkan diri dari segala kesedihan dan permusuhan.
Saya selalu memberi penghormatan kepada musuh ketika saya melihatmu. Dengan cara ini saya menolak kejahatan mereka.
Saya selalu menampakkan kegembiraan kepada orang yang hendak saya marahi, dengan ini hati saya selalu penuh dengan kebahagiaan.
Saya sebenarnya tidak bisa selamat dari kejahatan orang yang belum saya kenal, maka bagaimana saya akan bisa selamat dari kejahatan orang yang telah saya cintai.
Manusia itu sebenarnya penyakit dan penyembuhannya adalah tidak melibatkan diri dalam urusan mereka. Tetapi menghindari mereka itu berarti memutus ukhuwah.
Karenanya yang terpenting adalah tidak mengganggu mereka, pasti akan selamat dari gangguan mereka. Berusahalah engkau mencari kedamaian dan kerukunan.
Bergaullah dengan orang-orang, tetapi bersabarlah menghadapi perangai mereka. Jadikanlah dirimu seperti tidak mendengar, bisu dan buta terhadap kesalahan mereka.
Dan jadikanlah dirimu seperti apa yang dikatakan oleh seorang filusuf:
Jumpailah kawan dan lawan dengan muka yang manis berseri, tetapi bukan karena merendah dan takut. Berusahalah dengan tegas dan tegar, tetapi bukan karena sombong, dan lemah lembutlah terhadap mereka, tetapi bukan menghinakan diri. Berusahalah engkau sederhana dalam segala hal.
Tersebut dalam sya'ir :
Terjemah Bidayatul Hidayah
Hendaklah engkau selalu sederhana dalam segala urusanmu, karena sederhana adalah jalan terbaik menuju kebahagiaan.
Janganlah engkau teledor atau gegabah, karena keduanya tindakan tercela.
Janganlah engkau memandang hebat terhadap dirimu dengan banyak memandang ke kiri dan ke kanan serta menoleh-noleh ke belakang ketika sedang berjalan dan jangan pula berhenti menjumpai mereka yang sedang berkerumun di satu tempat, kecuali jika engkau mempunyai kepentingan.
Apabila engkau sedang duduk bersama orang banyak, maka janganlah mengangkat kaki, jangan pula menyilang jari-jari tangan bermain-main (mengelus-elus) jenggot atau cincin, membersihkan gigi dengan tusuk gigi, membersihkan hidung dengan jari telunjuk dan sering meludah atau berdahak. Jangan suka menggeliat dan menguap ketika berada di hadapan orang banyak atau ketika shalat. Duduklah engkau dengan tenang, teratur dalam berbicara, mendengar ucapan orang yang sedang berbicara dengan tanpa menampakkan kekaguman yang berlebihan dan jangan meminta kepada orang yang sedang berbicara supaya mengulangi ucapannya. Janganlah engkau berbicara dengan hal-hal yang lucu dan jangan
Terjemah Bidayatul Hidayah 161
pula berbicara yang isinya mengagumi anak, ucapan, karya tulis atau hal-hal yang berkaitan dengan pribadimu.
Janganlah engkau bergaya seperti orang wanita, berdandan necis, tetapi jangan pula menggerombel seperti hamba sahaya. Jangan berlebihan memakai celak dan minyak rambut.
Berhati-hatilah dalam pergaulan dengan orang dan keluarga. Engkau jangan terbiasa menekan seseorang untuk memenuhi keperluanmu dan jangan mendorong siapapun untuk berbuat zalim. Adapun terhadap keluargamu, maka janganlah engkau memberitahu, baik kepada istri maupun anak-anak lebih-lebih orang lain tentang jumlah atau nilai harta (uang) yang sedang engkau miliki. Sebab, apabila mereka mengetahui sedikit, mereka akan mengejekmu dan apabila banyak, mereka tidak akan puas dengan pemberianmu. Bersikaplah tegas terhadap mereka tanpa kekerasan dan bersikap ramah tetapi tegas.
Janganlah engkau suka bersenda gurau dengan para pembanturmu, agar wibawamu tidak jatuh. Apabila engkau bertengkar, maka hendaklah engkau dapat mengendalikan diri dan berhati-hatilah dalam berbicara dan bertindak, supaya engkau tidak kelihatan bodoh dan gegabah dengan cara berfikir dulu sebelum melontarkan alasanmu, dan janganlah terlalu sering menuding-nuding. Jika kemarahanmu telah mereda, maka bicaralah dengan baik.
Apabila engkau didekati oleh pejabat pemerintah, maka anggaplah bahwa dirimu itu sedang berada di ujung tombak (harus selalu waspada). Hindarilah berkawan denmgan orang-orang yang dekat denganmu ketika engkau sehat dan banyak harta dan akan meninggalkanmu jika engkau jatuh sakit atau miskin, sebab orang seperti itu adalah musuhmu yang paling berbahaya.
Soal harta jangan engkau jadikan lebih mulia atau lebih berharga dari pada kehormatanmu.
Uraian ini kami kira cukup untuk kalian semua hai pemuda, yang sedang mempelajari ilmu tasawuf untuk dijadikan sebagai pedoman dasar dalam perjalananmu menuju tercapainya hidayat (petunjuk-petunjuk Allah). Dan praktekkanlah keterangan tersebut pada dirimu sendiri. Kami katakan, bahwa kitab ini telah cukup untuk dijadikan pedoman bagi pemuda yang mulai mempelajari ilmu tasawuf, karena kitab ini berisi tiga bab:
Bab I : Tata cara menjalankan perintah Allah
Bab II : Tata cara menjauhi larangan Allah
Bab III : Tata cara pergaulan dengan sesama manusia
Dengan demikian, kitab "Bidayah Al-Hiadayah" ini telah mencakup semua tata cara pergaulan yang diperlukan oleh semua orang, baik pergaulannya dengan sang Pencipta maupun dengan sesama manusia. Apabila engkau memandang kitab ini cocok untuk dirimu dan engkau merasakan, bahwa hatimu cenderung padanya dan ingin sekali mengamalkannya, maka ketahuilah bahwa hatimu telah diberi cahaya keimanan oleh Allah. Ini baru permulaan dan tentunya permulaan itu pasti ada kesudahannya yang dibaliknya terdapat banyak rahasia, masalah-masalah yang sangat halus, ilmu-ilmu yang dalam dan almukasyafah yang semuanya telah kami uraikan dalam Al-Ihya Al-Ulumuddin.
Apabila engkau melihat, bahwa hatimu merasa berat mengamalkan semua amalan dan bacaan yang telah disebutkan dalam kitab ini dan engkau mengesampingkan bidang ilmu tasawuf ini, kemudian hatimu berkata : Apa manfaat ilmu ini terhadap dirimu terutama jika engkau duduk bersama para ulama'. Kapan engkau bisa maju jika mempelajari ilmu ini,
Terjemah Bidayatul Hidayah



