— Bagian 5 · bagaimana ilmu ini bisa mengangkat kedudukanmu d… —
Bagian 5
bagaimana ilmu ini bisa mengangkat kedudukanmu dan meningkatkan penghasilanmu, bagaimana engkau bisa sampai memperoleh jabatan?, maka ketahuilah, bahwa engkau telah tertipu oleh syetan. Syetan telah berhasil menyesatkanmu dan melupakanmu terhadap urusan akhiratmu. Kalau dugaanmu seperti itu, maka cobalah mencari apa yang engkau duga dapat memberi manfaat kepadamu dan dapat mengantarkanmu menduduki jabatan mulia. Sungguh engkau tidak akan dapat memperoleh kedudukan dan kemuliaan yang murni yang engkau inginkan dan akhiratpun engkau akan kehilangan nikmat surga yang kekal di sisi Tuhanmu sekalian alam.
---=o0o=---
Terjemah Bidayatul Hidayah
Imam Al Ghazaliy adalah imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazaliy yang digelari Hujjat al Islam Zain ad Din ath Thusiy, seorang pakar ilmu fiqih dari aliran madzhab, dilahirkan di Thus tahun empat ratus lima puluh Hijriyah.
Diceritakan bahwa orang tuanya adalah seorang yang saleh yang tidak mau makan kecuali dari hasil tangannya sendiri. Dia bekerja memintal bulu domba lalu menjualnya di tokonya sendiri. Ketika kematian datang menjemputnya, dia berpesan tentang dia dan saudara lelakinya yang bernama Ahmad kepada seorang sahabatnya yang merupakan seorang ahlu tasawwuf dan suka melakukan kebajikan, dimana dia berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku kesulitan yang sangat besar tentang pelajaran menulis dan aku akan sangat senang untuk menemukan apa yang terlewat dariku di dalam kedua orang anakku ini. Dan tidaklah mengapa bagimu jika kamu menghabiskan semua yang aku tinggalkan untuk mereka berdua dalam hal ini." Ketika dia meninggal dunia, mulailah sang sufi mengajar mereka berdua sampai habis warisan yang secuil yang telah ditinggalkan oleh bapak mereka berdua, maka dia berkata kepada mereka: "Ketahuilah oleh kalian berdua bahwa sesungguhnya aku benar-benar telah membelanjakan apa yang menjadi hak kalian berdua untuk kalian berdua sementara aku hanyalah seorang lelaki miskin. Tidak ada hartaku yang dengannya aku dapat membantu kalian berdua. Hendaknya kalian berdua berlindung kepada sebuah madrasah karena sesungguh-nya kalian berdua adalah penuntut ilmu sehingga kalian akan mendapatkan kekuatan yang akan membantu kalian di atas waktu kalian." Kemudian keduanya melakukan hal itu dan itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan tingginya tingkatan mereka, Al Ghazaliy menceritakan hal tersebut dengan mengatakan: "Kami menuntut ilmu karena selain Allah swt. lalu aku menolak agar itu hanya karena Allah swt."
Diceritakan bahwa orang tua Al Ghazaliy sering mengunjungi para ahli fiqih, duduk-duduk bersama mereka, meluangkan diri untuk melayani mereka, menemukan kebaikan dalam diri mereka dan membelanjakan apa yang mungkin baginya untuk mereka. Jika dia mendengar ucapan mereka, dia menangis dan tertunduk dan selalu memohon kepada Allah swt. agar dia diberi rizki berupa seorang anak yang dapat memberi tuntunan dan menjadikannya seorang pakar ilmu fiqih. Maka Allah swt. mengabulkan do'anya. Adapun Imam Abu Hamid merupakan seorang yang paling ahli ilmu fiqih di masanya dan merupakan pemuka orang segenerasinya. Adapun Imam Ahmad merupakan seorang pemberi tuntunan yang dapat melunakkan gendang telinga ketika mendengar wejangannya dan menggetarkan sanubari para hadirin dalam pertemuan dzikimya.
Dimasa kecilnya Al Ghazaliy mengaji sebagian kecil dari ilmu fiqih kepada Ahmad Muhammad ar Radzikaniy kemudian setelah itu dia menuju Naisabur dan menetap di kediaman Imam Al Haramain Abu al Ma'aliy al Juwainiy, dimana dia berusaha dengan tekun dan kesungguhan hati sampai dia betul-betul menguasai bidang madzhab, khilafiyah, perdebatan, manthiq, membaca ilmu hikmah dan filsafat, mengambil hikmah dari semua itu, memahami ucapan semua pakar ilmu tersebut, memberikan sanggahan dan menggagalkan berbagai klaim yang mereka ajukan, dan untuk setiap bidang dari berbagai ilmu pengetahuan itu dia mengarang banyak kitab yang mempunyai susunan dan tematis yang sangat menawan.
Al Ghazaliy merupakan figur seorang yang sangat genius, pandangan luas, kuat daya hafalnya, jauh dari tipu daya, begitu mendalam melihat suatu pengertian dan memiliki berbagai pandangan yang betul-betul beralasan.
Ketika Imam Al Haramain al Juwainiy meninggal dunia dia keluar melangkah ke arah wazir Nidham al Mulk, dimana tempat perjamuannya merupakan tempat berkumpulnya para pakar ilmu pengetahuan. Kemudian para imam membentuk sebuah forum diskusi
di kediamannya dan di sinilah tampak pandangan Al Ghazaliy kepada mereka, dimana mereka juga mengetahui keutamaannya serta memberikan kekaguman dan ketakjuban di hati sang pemilik rumah sehingga beliau berkenan memberikan mandat bidang akademis madrasah dan Nidhamiyah di Baghdad kepadanya pada tahun 484 H. Hadirlah dia dengan membawa perbaikan yang sangat besar. Orang-orang pun mencoba mengujinya dan keluarlah ucapan-ucapannya dengan lancar sehingga kharismanya menjadi besar bahkan mengalahkan kharisma para pejabat dan menteri. Manusia pun kagum akan bagusnya perkataannya, sempurnanya keutamaan-nya, fasihnya lisan, kajiannya yang mendalam, isyarahnya yang lembut dan mereka pun menyukainya. Dia pun menunaikan tugas mengajarkan ilmu dan menyebarkannya dengan -berbagai pengajian, fatwa dan dalam bentuk kekurangan- kedudukan yang luhur, tingkatan yang tinggi, kata-kata yang enak didengar, nama yang terkenal membuat berbagai contoh dengan semua itu, dan keaktifan, sehingga menjadikan dia lebih utama ketimbang semua kedudukan yang ada. Dan diapun meninggalkan semua itu di belakang punggungnya, berangkatlah dia ke Bait Allah al Haram di Makkah al Mukarramah. Berangkatlah dia menunaikan ibadah haji pada bulan Dzul Hijjah tahun 488 H dan dia mengangkat saudaranya sebagai penggantinya untuk mengajar di Baghdad.
Dia memasuki kota Damaskus -sekembalinya menunaikan ibadah haji- pada tahun 489 H. Menetap di sana sebentar kemudian menuju Bait al Maqdis. Dia pun mengunjunginya beberapa waktu lalu kembali lagi ke Damaskus dan beri'tikaf di menara sebelah barat masjid Jami' dan disanalah dia bermukim.
Secara kebetulan suatu hari dia memasuki madrasah al Aminah dan menemukan sang kepala berkata: "Al Ghazaliy berkata .....-dimana sang kepala sedang mengupas perkataan Al Ghazaliy- Maka Al Ghazaliy khawatir akan timbulnya kebanggaan dalam dirinya dan dia pun kemudian meninggalkan kota Damaskus. Lalu berkelana ke berbagai negeri sehingga dia memasuki negeri Mesir dan menuju ke Iskandariyah, bermukim di sana beberapa waktu. Dikatakan, bahwa dia berkeinginan
Terjemah Bidayatul Hidayah
Tasawuh Bidayatul Hidayah 167
untuk melanjutkan perjalanan menghadap Sulthan Yusuf bin Tasyifin, raja Maroco, ketika dia mendengar berita tentang keadilannya, namun kemudian sampai pula berita tentang kematiannya. Lalu kemudian dia melanjutkan pengembaraannya ke berbagai negeri sampai dia kembali ke Khurrasan, mengajar di madrasah Nidhamiyah di Naisabur sebentar lalu kembali ke Thus. Dia menjadikan sisi rumahnya sebagai madrasah bagi para ahli fiqih, mengkaji tentang kesufian dan membagi waktunya untuk berbagai tugas seperti meng-hatamkan Al Qur'an, berdiskusi dengan para ulama, mengkaji untuk para penuntut ilmu, melanggengkan shalat, puasa dan ibadah-ibadah yang lain sampai dia beralih kepada rahmat dan keridlaan Allah swt.
Dia wafat di Thus pada hari Senin 14 Jumadil Akhir tahun 505 H dalam usia 55 tahun.
Abu al Faraji bin al Jauziy -dalam kitab An Nabat inda al Mamat-berkata: "Berkata Imam Ahmad -saudara lelaki Al Ghazaliy: "Ketika itu hari Senin, waktu subuh, saudara lelakiku- Abu Hamid- melakukan wudlu, shalat dan berkata: "Beri aku kain kafan." Kemudian dia mengambil dan menciumnya lalu meletakkan pada kedua matanya sembari berkata: "Dengan mendengar dan patuh untuk menghadap sang Raja." Kemudian dia menjulurkan kedua kakinya, menghadap kiblat dan wafat sebelum terang tanah. Semoga Allah swt. menyucikan rohnya."
Abu al Mudhaffar Muhammad Abyuwardiy -seorang pujangga termasyhur- menggambarkan tentang dirinya dalam berbagai syair, di antaranya: "Berlalu dan hilanglah suatu yang paling agung sehingga aku menjadi kelaparan karenanya. Seorang yang tiada bandingnya dalam manusia, untuk menggantikannya."
Al Ghazaliy dimakamkan di luar kebun Thabiran, yaitu pohon tebu di daerah Thus, semoga Allah swt. selalu melimpahkan rahmat kepadanya.
Semarang.
- Shahih Muslim (terjemah) diterbitkan Penerbit "Al Husaini" Bandung.
Terjemah Bidayatul Hidayah
Achmad Sunarto, lahir 28 Oktober 1957 di Demak, masa kecil dan remajanya dihabiskan di pesantren. Tercatat pada tahun 1970 pernah nyantri di Pondok Pesantren "Maslakul Huda" Kajen-Pati yang diasuh oleh KHMA. Sahal Mahfuzh dan pada tahun 1971-1984 pernah nyantri di Pondok Pesantren "Raudlatut Thalibin" Rembang yang diasuh oleh Al Maghfurlah KH. Bisri Mustofa, KHM. Cholil Bisri dan KHA. Mustofa Bisri. Penulis dan penerjemah yang serba bisa ini, adalah putra H. Abdurrahman (Almarhum) dan Hj. Maimunah (Almarhumah).
Da'wahnya lebih banyak dicurahkan melalui tulisan diberbagai penerbit. Buku hasil karyanya ± 500 judul yang tersebar luas sampai ke Singapore dan Malaysia.
Ayah empat anak ini tidak hanya pakar di bidang Kitab Kuning, namun beliau juga aktif dalam kegiatan-kegiatan ormas Islam Rembang. Menurut informasi yang terakhir beliau sedang mengerjakan Tafsir Al Qur'an dan Biografi Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah. Harapan kami (Penerbit) semoga beliau diberi kekuatan dan ma'unah oleh Allah swt. Wallaahu a'lam.



