Terjemah Syarah Arba'in Nawawiyah - Ibnu Daqiqil 'Ied

Jalur hadits yang diperluas dari pembahasan awal PDF: niat, Islam-Iman-Ihsan, rukun Islam, bid'ah, halal-haram, nasehat, kehormatan muslim, syubhat, dan adab menjaga hati.

Bagian 58 dari 64 173 halaman

— Keterangan: —

Keterangan:

Para pen-syarah hadits di atas menyatakan, "Ini merupakan hadits mulia dan agung. Di dalamnya, Nabi ﷺ menjelaskan kadar besarnya karunia Allah kepada makhluk-Nya. Allah menjadikan keinginan berbuat baik seorang hamba sebagai kebaikan yang utuh meskipun tidak jadi dilaksanakan. Demikian juga Allah menjadikan niat berbuat buruk sebagai kebaikan jika tidak dilakukan. Dan jika niat berbuat buruk tersebut terbukti dilakukan maka hanya dicatat satu keburukan. Sementara melaksanakan suatu kebaikan dicatat sepuluh kebaikan oleh Allah ﷻ. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi hamba-hamba-Nya. Nilai kebaikan dilipat gandakan, tapi keburukan tidak. Berniat dengan kebaikan dicatat kebaikan, sebab itu merupakan suatu perbuatan hati.


مكتب الدعوة بحي الروضة 147

Syarah Empat Puluh Hadits

Jika ada yang menanyakan, "Kalau demikian, tidak hanya berniat kebaikan yang dicatat, tetapi niat keburukan juga seharusnya dicatat karena sama-sama perbuatan hati?"

Dijawab sebagai berikut: Hal ini tidak seperti yang kamu duga. Karena, orang yang menahan diri dari berbuat buruk, itu artinya ia telah mengubah niat dari berniat melakukan keburukan menjadi berniat melaksanakan kebaikan dan ia telah melawan kehendak hawa nafsunya. Dengan alasan itulah ia diberi pahala." Dalam sebuah hadits dikatakan, "Dia telah meninggalkan perbuatan buruk karena-Ku"<sup>(1)</sup> sebagaimana disabdakan pula oleh Rasulullah ﷺ:

"عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ، قَالُوا: فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: فَلْيَعْتَزِلْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ صَدَقَةٌ"

"Setiap muslim wajib bersedekah. Mereka berkata: "Jika ia tidak mampu melaksanakan? Beliau menjawab: "Hendaknya ia menahan diri dari keburukan karena itu termasuk nilai sedekah."<sup>(2)</sup>

Adapun orang yang meninggalkan keburukan karena terpaksa atau karena tidak mampu melakukannya maka hal itu tidak dicatat sebagai kebaikan dan tidak tercakup ke dalam makna hadits ini.

At-Thabari mengatakan, hadits ini mengoreksi pendapat orang yang mengatakan "Para malaikat mencatat semua yang direncanakan seorang hamba dengan keyakinan melaksanakannya; yang baik ataupun yang buruk." Demikian pula sebagai sanggahan terhadap pendapat yang mengatakan, para malaikat hanya mencatat perbuatan-perbuatan hamba yang lahir saja.

Pengertian hadits adalah bahwa dua malaikat yang ditugasi mencatat amal perbuatan manusia mengetahui apa-apa yang dikehendaki oleh hatinya. Bisa juga demikian, Allah telah memberi jalan kepada dua malaikat tersebut untuk mengetahui gerakan hati

  1. Dirwayatkan oleh Imam Muslim dalam Bab: Iman, Pasal: Apabila seorang hamba berniat kebaikan maka dicatat.., no. 205 2)Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Bab: Adab, Pasal: Setiap Kebaikan bernilai sedekah, no. 6022

مكتب الدعوة بحي الروضة ═══════════════════════════════ 148

Syarah Empat Puluh Hadits

manusia sebagaimana Allah memberi jalan kepada para nabi untuk mengetahui hal-hal ghaib. Allah ﷺ menyatakan tentang perkataan nabi Isa ﷺ kepada kaum Bani Israil:

﴿ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ﴾ (آل عمران: من الآية٤٩)

"Dan aku beritahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu semua." (QS. 3: 49)

Nabi kita, Muhammad ﷺ, telah banyak diberi tahu tentang yang ghaib. Maka, sangat mungkin dua malaikat juga telah diberi jalan oleh Allah untuk mengatahui apa-apa yang inginkan oleh hati manusia; yang baik atau yang buruk kemudian mencatnya. Ada yang mengatakan, hal itu diketahui lewat hawa yang lahir bagi dua malaikat tersebut dari hati seseorang.

Para ulama salaf (generasi awal) berbeda pendapat dalam mana yang lebih utama, apakah dzikir di dalam hati atau dzikir terang-terangan (dengan lidah). Kedua-duanya dikatakan oleh Ibnu Khalaf yang dikenal dengan Ibnu Batthal. Pengarang<sup>(1)</sup> kitab Al-Ifshah mengatakan dalam sebuah pernyataannya, "Ketika Allah memastikan untuk menciptakan umat ini, Allah menggantikan keberadaan pendek usia mereka dengan pelipat gandaan amal perbuatan. Barangsiapa yang berkehendak melakukan kebaikan maka Allah mencatatkan baginya nilai kebaikan yang sempuma dengan sekedar menginginkan berbuat kebaikan agar tidak ada yang menduga bahwa sekedar keinginan, nilai kebaikannya tidak sama dengan yang diperbuat. Akan tetapi, dengan sekedar keinginan itu sudah dimasukkan ke dalam buku catatan amal dan dapat dilipat gandakan sesuai dengan kadar keikhlasan dan penempatan yang tepat.

  1. Dia adalah seorang mentri yang keterangan lengkapnya, Aunuddin Abu al-MuZhaffar, Yahya bin Hubairah bermadzhab hambali. Ia wafat pada tahun 560 H. dan di antara tulisan-tulisannya, "الواضح من معاني الصحاح" sebagai syarah hadits-hadits dua kitab shahih yang dikumpulkan oleh Al-Humaidi

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 149

Dalam hadits di atas dinyatakan, "إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ" dengan menggunakan kata nakirah atau indefinitif yang menunjukkan lebih mencakup ketimbang kata makrifah atau definitif. Dengan demikian, hal ini menuntut pengertian pelipat gandaan nilai pahala dengan sebanyak yang mungkin terjadi. Perkiraan mendapat janji Allah yang agung digambarkan bahwa jika seseorang bersedekah dengan sebutir gandum maka hal ini dihitung dalam karunia Allah dengan perkiraan jika satu sebutir gandum tersebut ditanam di tanah yang paling subur dengan perawatan dan pemeliharaan yang baik sehingga dipanen dengan hasil yang baik. Kemudian hasil tersebut ditanam kembali dengan perawatan seperti semula dan seterusnya ditanam ulang pada tahun kedua, ke tiga, ke empat dan seterusnya hingga hari kiamat. Maka, satu biji gandum, biji sawi atau biji saga tersebut akan menjadi sebesar gunung besar yang tinggi. Jika ada sedekah sebesar biji sawi dengan penuh keimanan maka dilihat keuntungan sesuatu yang dibeli pada waktu itu dan diperkirakan kalau dijual di pasar yang paling besar dan laris di suatu negeri maka barang tersebut akan menjadi barang yang paling laris yang kemudian nilainya berlipat-lipat ganda hingga hari kiamat. Oleh karenanya, sedekah sebesar biji sawi tadi akan menjadi sebesar dunia dan seisinya. Dan demikian pula seluruh amal-amal kebaikan yang diperbuat dengan penuh keikhlasan berada dalam pemeliharaan Allah ﷺ.

Termasuk contoh karunia Allah ﷺ dalam pelipat gandaan pahala dengan berpindah-pindah tangan seperti, jika seseorang bersedekah satu dirham kepada seorang fakir kemudian disedekahkan lagi kepada orang fakir lain yang lebih membutuhkan, selanjutnya desedekahkan lagi kepada orang ke tiga, ke empat, ke lima dan seterusnya .. maka Allah akan menghitung bagi yang bersedekah pertama dengan perhitungan satu dirham berbanding sepuluh. Ketika disedekahkan lagi kepada orang ketiga maka nilai sepuluh dari satu dirham akan berpindah kepada yang bersedekah kedua, sementara yang bersedekah pertama akan mendapat nilai 10 x 10, yaitu seratus nilai. Jika disedekahkan lagi kepada orang ke tiga, ke empat, ke lima dan


Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 150

seterusnya maka nilai 1 x 10 bagi orang bersedekah terakhir dan bagi orang yang sebelumnya mendapat nilai 10 x 10, bagi yang sebelumnya mendapat 100 x 10 dan demikianlah seterusnya sampai menjadi kelipatan yang tidak diketahui selain oleh Allah ﷻ.

Contoh lain, apabila Allah ﷻ menghisab hamba-Nya yang muslim di hari kiamat maka kebaikan-kebaikannya akan berbeda-beda; ada yang tinggi nilainya dan ada juga yang kurang. Allah ﷻ akan menghitung seluruh kebaikan dengan harga yang tinggi karena karunia dan kemurahan Allah tidak pantas untuk dibicarakan oleh orang yang merasa puas dengan adanya perbedaan harga antara dua kebaikan. Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾

"Dan Kami akan memberi balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka telah kerjakan." (QS. 16: 97)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

﴿إِذَا قَالَ الْعَبْدُ فِي سُوقٍ مِنْ أَسْوَاقِ الْمُسْلِمِينَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ... رَافِعًا بِهَا صَوْتَهُ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِذَلِكَ أَلْفَيْ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَيْ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ﴾

"Apabila seorang hamba membaca ... لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ di suatu pasar kaum muslimin dengan suara keras maka Allah akan mencatat baginya dua juta kebaikan, menghapus dua juta keburukan dan membangunkan baginya gedung di surga." <sup>(1)</sup>

Yang kami sebutkan ini hanya sekedar apa yang kita ketahui; bukan hanya itu karunia Allah ﷻ karena karunia Allah tidak dapat disangkal oleh orang yang ingkar dan tidak dapat dihitung oleh siapapun juga.

  1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Bab: do'a, Pasal. Apa yang dibaca ketika masuk pasar, no. 2437

Syarah Empat Puluh Hadits مكتب الدعوة بحي الروضة 151

الحديث الثامن والثلاثون

Bagian 58 dari 64