← Walisongo
4

Sunan Drajat

Raden Qasim (Syarifuddin)

📅 sekitar 875–928 H / 1470–1522 M 📍 Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur

Putra Sunan Ampel yang menekankan dakwah sosial: menyantuni fakir miskin, anak yatim, dan orang sakit, dengan ajaran “pepali pitu” tujuh nasihat hidup.

Silsilah dan sanad

Putra Sunan Ampel; adik Sunan Bonang

Latar belakang dan kisah

Raden Qasim dididik di Ampel Denta lalu diutus ayahnya ke pesisir Lamongan. Tradisi menuturkan perahunya pecah dan ia diselamatkan hingga sampai di pantai Jelag, lalu membuka pemukiman di perbukitan yang kemudian dinamai Drajat. Ia mengajarkan Islam lewat kepedulian sosial: memberi makan orang lapar, pakaian bagi yang telanjang, tempat berteduh bagi yang kehujanan, dan tongkat bagi yang buta, seperti terekam dalam pepali pitu yang diwariskannya. Ia juga menciptakan tembang Pangkur dan memakai gamelan Singomengkok untuk berdakwah. Pesantren dan makamnya di Drajat masih menjadi pusat ziarah dan kegiatan sosial.

Peta lokasi dakwah

Bola dunia: lokasi dakwah Sunan Drajat di Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, bersama makam Walisongo lain di Jawa

Geser mendatar untuk memutar

Peta dakwah

Sunan Drajat — Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Titik = makam/pusat dakwah menurut tradisi ziarah; sembilan wali tersebar di pesisir utara Jawa dari Cirebon sampai Gresik. Arahkan kursor ke nama di bawah untuk melihat titiknya.

Metode dakwah

  • Dakwah sosial: santunan bagi fakir miskin, yatim, dan orang sakit.
  • Pemberdayaan: mengajarkan keterampilan dan gotong royong kepada masyarakat pesisir.
  • Nasihat singkat: pepali pitu sebagai etika yang mudah dihafal.
  • Seni: tembang Pangkur dan gamelan.

Kontribusi dan warisan

  • Ajaran pepali pitu: tujuh nasihat kepedulian sosial dan kesabaran.
  • Pesantren Drajat yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat.
  • Tembang Pangkur dan gamelan Singomengkok yang tersimpan di museum Drajat.
  • Makamnya di Drajat menjadi pusat ziarah dan kegiatan sosial.

Pelajaran untuk santri

  • Iman dibuktikan dengan memberi makan yang lapar dan menolong yang lemah.
  • Dakwah menyentuh perut dan hati sebelum akal.
  • Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.
“Wenehono teken marang wong kang wuto, wenehono mangan marang wong kang luwe.”
Dinisbatkan kepada Sunan Drajat

Sumber dan rujukan

  1. 1. Kitab Babad Tanah Jawi — naskah Keraton Mataram (abad 17–18 M) , kisah putra-putra Sunan Ampel
  2. 2. Kitab Serat Walisana — dinisbatkan kepada Sunan Giri II (naskah Jawa)
  3. 3. Kitab Atlas Wali Songo — Agus Sunyoto (2012 M), penghimpun sumber babad dan arkeologi , bab Sunan Drajat

Disebut dalam kisah ini